BAB IV HASI PENELITIAN
4.1 Karakteristik Umum Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Kerinci pada bulan Januari 2020. Sampel pada penelitian ini adalah petani sayur yang diduga terpapar pestisida sebanyak 20 orang dan diambil darah venanya sebanyak 5 ml. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling. Dari penelitian ini yang telah dilakukan terhadap hubungan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah pada petani sayur di kabupaten kerinci didapatkan hasil semua responden berjenis kelamin laki-laki. Dari penelitian berikut didapatkan karakteristik distribusi responden berdasarkan jenis kelamin, umur, lama waktu paparan pestisida dan berapa kali penyemprotan dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Petani Sayur.
Jenis Kelamin n % Laki-Laki 20 100 Perempuan 0 0 Total 20 100
Distribusi responden berdasarkan Jenis kelamin didapatkan semua berjenis kelamin laki-laki 20 responden dengan persentase 100% dan untuk yang perempuan tidak ada. Berdasarkan tabel 4.1 diatas.
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur Pada Petani Sayur.
Umur Responden n % 21-30 2 10 31-40 4 20 41-50 8 40 51-60 5 25 61-70 1 5 Total 20 100
Distribusi responden berdasarkan umur didapatkan persentase 40% dengan sebagian besar berada pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu berjumlah 8 orang.
Berdasarkan tabel 4.2 diatas.
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Waktu Paparan Pestisida Pada Petani Sayur.
Waktu Penggunaan Pestisda n % 1-5 Tahun 5 25 6-10 Tahun 10 50 >10 Tahun 5 25 Total 20 100
Distribusi responden berdasarkan lama waktu paparan pestisida yang digunakan didapatkan persentase 50% dengan lama waktunya adalah 6-10 Tahun.
Berdasarkan tabel 4.3 diatas.
Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Berapa Kali Penyemprotan Dalam Sehari Pada Petani Sayur.
Berapa Kali Penyemprotan n % 1-3 Kali 12 60 >Dari 3 Kali 8 40 Total 20 100
Distribusi responden berdasarkan berapa kali penyemprotan dalam sehari digunakan dengan pesentase 60% yaitu 1-3 kali penyemprotan dalam sehari.
Berdasarkan Tabel 4.4 diatas.
Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Pemakaian Jenis Pestisida &
Golongan
Responden Jenis Pestisida Golongan 12 Responden Insektisida Karbamat 8 Responden Insektisida Organofosfat
Distribusi responden berdasarkan pemakaian jenis pestisida nya insektisida, terdapat 12 responden memakai golongan karbamat dan 8 responden memakai golongan organofosfat oleh petani sayur di kabupaten kerinci.
Berdasarkan Tabel 4.5 diatas.
Grafik 4.1 Hasil Kadar Cholinesterase dan Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Dalam Darah.
Berdasarkan grafik 4.1 menunjukkan hasil bahwa kadar cholin tertinggi didapatkan pada responden 3 dan kadar cholin terendah didapatkan pada responden 6 kemudian untuk kadar SGPT yang tertinggi didapatkan pada responden 15 dan kadar SGPT yang terendah didapatkan pada responden 17.
4.2 Hubungan Kadar Cholinesterase dan Dadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Dalam Darah Pada Petani Sayur di Kabupaten Kerinci
4.2.1 Uji Normalitas
Hasil uji normalitas data Shapiro –Wilk didapatkan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) data terdistribusi normal dengan P>0.05, sehingga dapat dilanjutkan dengan uji korelasi.
0 20 40 60 80 100 120
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kadar Cholinesterase Kadar SGPT
4.2.2 Uji Korelasi
Tabel 4.6 Hasil Kadar Cholinesterase dan Dadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Dalam Darah Pada Petani Sayur di Kabupaten Kerinci
P Value Korelasi (r)
Kadar Cholinesterase 0,024 0,921
Kadar SGPT 0,024 0,921
Berdasarkan hasil uji korelasi didapatkan hasil tidak adanya hubungan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvi Tarsnaminase) dalam darah pada petani sayur di kabupaten kerinci. Berdasarkan table 4.6 diatas.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Jenis Pestisida Dengan Kadar Cholinesterase dan Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Dalam Darah
Pestisida umumnya merupakan bersifat racun atau kontak, oleh karena itu penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) pada petani pada saat menyemprot sangat penting untuk menghindari kontak langsung dengan pestisida. Paparan melalui inhalasi dan kulit merupakan rute utama dari pestisida. Paparan melalui inhalasi biasanya terjadi ketika mengaplikasikan produk pestisida tanpa menggunakan pelindung seperti masker. Gejala pernapasan yang dilaporkan terkait paparan pestisida antara lain, iritasi saluran napas, sakit tenggorokan, sesak napas, batuk (Ye M dkk., 2013).
Pestisida Golongan Organofosfat dan karbamat bekerja dengan cara yang sama yaitu mengikat asetilkolinesterase atau sebagai asetilkolinesterase inhibitor.
Golongan organofosfat dan karbamat setelah masuk dalam tubuh akan terikat dengan enzim asetilkolinesterase (AChE), Sehingga AChE menjadi inaktif dan terjadi akumulasi asetilkolin. Enzim ini paling sedikit terdapat pada tiga tempat, yaitu ChE yang terdapat synaps, sel darah merah dan plasma darah. Masuknya pestisida bisa melalui kulit, terhirup lewat pernafasan dan termakan lewat mulut.
Begitu racun ini terserap, segera mengikat sebagian enzim ChE yang terdapat baik dalam plasma darah, sel darah merah maupun di synaps/jaringan syaraf, sehingga enzim ChE tersebut menjadi tidak aktif artinya tugas utama enzim ChE untuk menghidrolisis Acethylcholine (Ach) mengalami kelumpuhan yang berakibat penumpukan Ach pada receptop sel otot dan kelenjar. Jenis pestisida yang banyak
digunakan menyebabkan beragamnya paparan pada tubuh petani yang mengakibatkan pestisida tersebut resisten maupun dapat terakumulasi dalam tubuh (Sherwood L. 2012).
Kontaminasi lewat kulit yaitu kontaminasi yang sering terjadi, meskipun tidak seluruhnya berakhir dengan keracunan akut. Faktor resiko kontaminasi lewat kulit dapat berpengaruh oleh daya toksisitas dermal, formulasi, konsentrasi, kondisi fisik individu yang terpapar, serta bagian kulit yang terpapar dan luasnya.
Risiko keracunan semakin besar jika nilai lethal dose 50 (LD50) semakin kecil, konsentrasi pestisida yang menempel di kulit semakin pekat karena formulasi pestisidan yang mudah diserap, yang terpapar lebih mudah menyerap pada kulit seperti area punggung tangan yang terpapar luas serta jika kondisi sistem kekebalan individu sangat lemah. Partikel dan gas semprotan yang sangat halus (misalnya, kabut asap dari fogging) dapat masuk ke dalam paru-paru, sedangkan partikel yang lebih besar dapat menempel pada selaput lendir hidung atau dikerongkongan (Wispriono, dkk, 2013). Pestisida berbentuk gas yang masuk kedalam paru-paru dan sangat berbahaya. Toksisitas droplet/gas pestisida yang terhisap ditentukan oleh konsentrasinya didalam ruangan atau di udara dan lamanya paparan kondisi fisik individu yang terpapar. Pekerjaan yang terkait dengan penyemprotan lahan pertanian fogging atau alat pembasmi serangga domestik umumnya pekerjaan yang menyebabkan terjadinya kontaminasi lewat saluran pernafasan. Kontaminasi kulit atau keracunan karena terhirup sering terjadi dibandingkan peristiwa intake atau lewat mulut (oral).
Lama pajanan pestisida dapat dihitung berdasarkan lamanya waktu kerja dikali frekuensi penyemprotan, dan waktu kerja dengan pestisida, sedangkan frekuensi penyemprotan merupakan kekerapan melakukan penyemprotan dengan pestisida. Semakin lama waktu kerja digunakan dan semakin sering menyemprot maka besar kemungkinan untuk terpapar oleh pestisida. Petani yang bekerja dengan pestisida dalam jangka waktu cukup lama maka akan mengalami keracunan menahun. Artinya makin lama bekerja maka akan makin bertambah jumlah pestisida yang terabsorbsi dalam tubuh dan mengakibatkan menurunnya aktivitas kolinesterase. Sedangkan ukuran lama waktu bekerja dinyatakan sebagai lama waktu seseorang bekerja sebagai petani sayuran. Seseorang yang bekerja di lingkungan yang mengandung pestisida kemungkinan besar untuk terjadinya pajanan pestisida, dan semakin besar pula kemungkinan untuk terjadinya keracunan, karena disebabkan banyak kontak dan menghirupnya (Siwiendrayanti, 2012).
Keracunan pestisida yang tepat harus dilakukan pada proses medis baku dan kebanyakan harus melakukan uji di laboratorium. Namun jika seseorang yang mula-mula sehat kemudian selama atau setelah bekerja denganpestisida merasakan salah satu atau beberapa gejala penurunan kondisi kesehatan mulaigejala ringan seperti pusing, sesak nafas,diare, muntah, reaksialergi hingga gejala berat seperti pingsan atau koma, bisa dipastikan individu yang bersangkutan mengalami keracunan pestisida. Untuk pestisida yang bekerja dengan menghambatenzim cholinesterase (misalnya pestisida dari kelompok
organofosfat dan karbamat), diagnosa gejala keracunan biasa dilakukan dengan uji (test) cholinesterase(Rustia dkk., 2010).
Umumnya gejala keracunan organofosfatatau karbamat baru akan dilihat jika aktivitas kolinestrase darah menurun sampai 30%.Namun penurunan sampai 50%
pada pengguna petisida diambil sebagai batas, dan disarankan agar penderita menghentikan pekerjaan yang berhubungan dengan pestisida (Jenni dkk., 2014).
Klasifikasi tingkat keracunan berdasarkan persentase Cholinesterase dalam darah, antara lain : Kategori Normal yaitu apabila aktifitas enzim kolinesterase
>75% - 100% dalam darah normal. Kategori keracunan Ringan yaitu apabila aktifitas enzim kolinesterase >50% - 75% dalam darah normal. Responden yang diperiksa akan mengalami over exposure dan perlu dikaji ulang. Jika responden lemah disarankan untuk istirahat (tidak kontak) dengan pestisida jenis organofosfat selama 2 minggu, kemudian uji ulang sampai mencapai kesembuhan.
Kategori keracunan Sedang yaitu apbila aktifitas enzim kolinesterase >25% - 50%
dalam darah normal. Responden mengalami over oxposure yang serius, dan disarankan untuk segera menguji ulang tingkat keracunan. Jika hasilnya benar responden disarankan untuk istirahat dari semua pekerjaan yang berhubungan dengan insektisida. Bila responden mengeluh sakit segera dirujuk pada pelayanan kesehatan terdekat. Kategori keracunan Berat yaitu apabila aktifitas enzim kolinesterase 0% - 25% dalam darah normal. Jika responden mengalami over exposure yang sangat serius dan berbahaya, perlu pengujian ulang dan yang bersangkutan harus diistirahatkan dari semua pekerjaan dan perlu segera dirujuk kepada pemeriksaan medis (Depkes RI, 1992).
Hubungan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dengan pestisida yaitu akumulasi penggunaan pestisida apabila masuk kedalam hati akan menyebabkan gangguan sel atau organel hati karena kerusakan pada parenkim hati bisa menyebabkan gangguan permeabilitas membran sel hati sehingga enzim bebas keluar sel karena organ target pestisida tersebut adalah hati. Konsentrasi enzim dalam darah akan meningkat karena respon terhadap kerusakan pada hati.
ALT (Alanine amino transferase) atau SGPT (Serum Glutamic Pyruvictransaminas) dan AST (Aspartate amino transferase) atau SGOT (Serum Glutamic Oxsaloasetic transaminase), adalah enzim yang keberadaan kadar dalam darah dijadikan penanda bahwa adanya gangguan fungsi hati. Normal enzim tersebut berada pada sel-sel hati. Kerusakan hati menyebabkan enzim-enzim tersebut lepas ke dalam aliran darah sehingga kadar dalam darah meningkat dan menandakan adanya gangguan pada fungsi hati. Kadar normal SGPT adalah : Laki-laki : <41 dan Perempuan : <31 (Tsani RA dkk, 2017).
Dari hasil analisis data berdasarkan uji korelasi dapat diketahui bahwa nilai sig 0,921 > 0,05 artinya bahwa kadar cholinesterase dengan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah pada petani sayur di kabupaten kerinci tidak memiliki hubungan atau tidak ada pengaruh positif sebesar 0,024 nilai tersebut setelah dikonsultasi dengan tabel interprestasi angka “r” (pedoman derajat hubungan) 0.024 berada antara (0,00-0,20) yang interprestasinya termasuk dalam kategori yang lemah / tidak ada korelasi.
Perbedaan metode komparator (kaca pembanding) dan spektrofotemeter adalah untuk pemeriksaan metode komparator (kaca pembanding) cara
menentukan kadar cholinesterase ialah dengan membandingkan kedua warna dengan warna standar, sampai hasilnya cocok denagn warna standar. Sedangkan dengan cara spektrofotometer cara menentukan kadar cholinesterase diukur dengan cara mengukur absorbansi dengan melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu objek kaca atau kuvet. Pada penelitian ini pemeriksaan kadar cholinesterase menggunakan metode komparator (Septiva, 2019) .
Dari hasil pemeriksaan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah pada petani sayur di kabupaten kerinci pada saat melakukan penelitian responden yang didapatkan berjenis kelamin laki-laki semua. Dapat dilihat bahwa tidak ada hubungan tingkat keracunan pestisida responden atau mengalami keracunan ringan dan untuk kadar sgpt responden banyak yang normal. Asumsi yang dapat dibuat adalah hubungan pemakaian kadar cholinesterase dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) yang dialami oleh petani sayur belum mencapai dosis yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi hati. Sementara hati memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa.
Menurut penelitian Widarti & Nurqaidah (2018) didapatkan pada analisis kadar SGPT dan SGOT pada petani yang menggunakan pestisida tidak ada yang mengalami peningkatan atau juga bisa disebut dengan normal. Pada petani kadar SGPT dikatakan normal karena semua bahan kimia berupa nutrien dan xenobiotik (misalnya pestisida) yang terkandung dalam darah akan di metabolisme dan di biotrasformasi oleh hati. Proses biotransformasi xenobiotik (misalnya pestisida)
oleh hati yang berlangsung baik karena menurun bahkan hilangnya kadar dalam darah yang keluar dari hati sebelum mencapai organ lainnya.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar kolinesterase seluruh responden masih dalam keracunan ringan atau juga bisa disebut tidak ada hubungan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase). Petani yang mengalami gangguan hati bisa jadi dipengaruhi oleh perilaku petani dalam penggunaan APD yang tidak lengkap.
Petani yang menunjukkan keracunan ringan pestisida golongan organofosfat ataupun karbamat berdasarkan hasil uji kolinesterase sebaiknya menghentikan aktivitas menyemprot selama 2 minggu. Pada petani yang keracunan jika tidak melakukan penyemprotan selama lebih dari 2 minggu diperkirakan kadar kolinesterasenya (melalui pemeriksaan Tintometer Kit dengan perangkat uji Lovibond) telah kembali naik. Hal ini dilakukan agar memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mengembalikan kadar kolinesterase kembali normal. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Tsani Atika Ronna., dkk, (2017) bahwa hasil penelitian menunjukkan ada hubungan jumlah pestisida dengan gangguan fungsi hati pada petani di Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.
Dari hasil distribusi responden berdasarkan Jenis kelamin didapatkan semua berjenis kelamin laki-laki 20 responden dengan persentase 100% dan untuk yang perempuan tidak ada (Tabel 4.1). Distribusi responden berdasarkan umur didapatkan persentase 40% dengan sebagian besar berada pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu berjumlah 8 orang (Tabel 4.2). Distribusi responden berdasarkan lama waktu paparan pestisida yang digunakan didapatkan persentase
50% dengan lama waktunya adalah 6-10 Tahun (Tabel 4.3). Distribusi responden berdasarkan berapa kali penyemprotan dalam sehari digunakan dengan pesentase 60% yaitu 1-3 kali penyemprotan dalam sehari (Tabel 4.4). Distribusi responden berdasarkan pemakaian jenis pestisida nya insektisida terdapat 12 responden memakai golongan karbamat dan 8 responden memakai golongan organofosfat oleh petani sayur di kabupaten kerinci (Tabel 4.5).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian Hubungan Jenis Pestisida dengan Kadar Cholinesterase dan Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Dalam Darah Pada Petani Sayur di Kabupaten Kerinci dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Jenis Pestisida dalam darah pada petani sayur didapatkan Intesektisida dengan golongan Karbamat dan Organofosfat.
2. Kadar Cholinesterase dalam darah pada petani sayur didapatkan kadar tertinggi 87,5% dan kadar terendah 37,5% dengan rata-rata 70,0% dapat dikategorikan keracunan ringan.
3. Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam serum petani sayur didapatkan kadar tertinggi 95,6 u/l dan kadar terendah 15,4 u/l dengan rata-rata 41,3 u/l.
4. Dari uji korelasi didapatkan hasil tidak ada hubungan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah pada petani sayur di kabupaten kerinci.
6.2 Saran
Dari penelitian yang dilakukan maka disarankan untuk peneliti selanjutnya 1. Bagi institusi, agar bisa dijadikan sebagai tambahan informasi dan ilmiah untuk memperkarya Ilmu pengetahuan dibidang kesehatan khususnya pada mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik dibidang Toksikologi.
2. Bagi peneliti selanjutnya, untuk lebih memperbanyak sampel dan menggunakan alat dengan metode yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Alfarizi., D, Asyik., B, Sudarmi. 2017. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Sayuran di Desa Raman Aji Lampung Timur. FKIP Universitas Lampung.
Ariffriana., D, Yusdiani., D, Gunawan., I, 2016. Hematologi. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC
Arronvilairat, dkk. 2015. Effect of Pesticide Exposure on Immunological, Hematological and Biochemical Parameters in Thai Orchid Farmers-A Croos-Sectional Study. Int. J. Environ. Res. Public Health, 12, 5846- 5861.
Costa. 2008. Toxic effects of pesticides. In:L.J. Casarett & J. Doull, eds.
2008.Toxicology. The basic science of poisons.7th ed. New York:
Macmillan PublishingCompany: 883-930.
Departemen Kesehatan RI. Pemenriksaan Cholinesterase Darah Dengan Tintometer kit, Direktorat Jendral PPM & PLP Jakarta. 1992.
Djojosumarto P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Ganon W, 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 22 ed. Jakarta : EGC
Harahap, S, F., Atifah, Y., Hasibuan, S, I., Abubakar., 2018. Penyuluhan Penggunaan Pestisida Alami Bagi Kelompok Tani Di Desa Hutan Male Kec. Puncak Sorik Marapi Mandailing Natal. PendidikaN Kimia FKIP, Pendidikan Biologi FKIP, Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan.
Hasibuan R. 2015. Insektisida Organik Sintetik dan Biorasional. Bandar Lampung: Plantaxia. hlm. 8-72.
Hikmah, E, N., 2014. Penggunaan Obat-Obatan Penginduksi Penyaki Hati Terhadap Pasien Gangguan Hati di Rumah Sakit X Surakarta Tahun 2013.
Irianto, K., 2012. Anatomi dan Fisiologi. Bandung : Alfabeta Jenny Ria Sihombing, 2019. Analisa Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) pada petani penyemprotan pestisida di desa surbakti kecamatan simpang empat kabupaten karo. Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sari Mutiara Indonesia.
Junqueira, L, C., Carneiro., J, 2007. Histologi Dasar. Edisi 10. Jakarta : EGC
Karyadi, 2008. Dampak penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan terhadap kandungan residu tanah pertanian bawang merah di Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Agromedia, 26 (1): 10-19.
Kee., J., L, 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Cetakan I Edisi 6, Jakarta.
Kim., W., R, Flamm., S., L, Di Bisceglie, Boden-heimer Jr., H., C, 2008. Serum Activity Of Alanine Aminotransfarase (ALT) as an Indicator Of Health and Disease. Hepatology.
Koleva, N.G., Schneider, U.A., 2009. The impact of climate change on the external cost of pesticide applications in US agriculture. International Journal of Agricultural Sustainability, 7(3), 203-216.
Laba I Wayan, 2010. Analisis Empiris Penggunaan Insektisida Menuju Pertanian Berkelanjutan. Orasi Profesor Riset di Bogor, Pengembangan Inovasi Pertanian 3: 120-137.
Luklukaningsih., Z, 2014. Anatomi, Fisiologi, dan Fisioterapi. Nuha Medika.
beberapa muara sungai di Perairan Teluk Jakarta. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 37: 15-25.
Pasiani., dkk, 2012. Knowledge, attitudes, practices and Biomonitoring of Farmers and Residents Exposed to Pesticides in Brazil. International Journal of Environmental Research and public Health. No.9.p.3051- 3068.
Purba., I, G, 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kadar Kolinesterase Pada Perempuan Usia Subur Didaerah Pertanian.
[Tesis]. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang.
Quijano dan Rengam, 2001. Pestisida Berbahaya Bagi Kesehatan. Solo : Yayasan Duta Awam.
Rich Deborah, 2006. Are pests the Problem or Pesticides. Biology Journal, 28 (1):
6-7.
Rosida., A, 2016. Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Hati. Jurnal Berkala
Kedokteran, Vol.12.
Rustia HN, Wispriyono B, Luthfiah FN. 2010. Lama pajanan organofosfat terhadap penurunan aktivitas enzim kolinesterase dalam darah petani sayuran Kabupaten Tanggamus. Makara Kesehatan. 14 (2): 95- 101.
Sexton. Needham and Pirkle. 2004. Human Biomonitoring of Environmental Chemical. American Scientist Vol. 92. p.38-45.
Sherwood L, 2012. Fisiologi Manusia:dari Sel ke Sistem. 6 ed. Jakarta: EGC.
Shinta, D.Y,et all, 2015.The Media Varianceof Production for Anti MicrobeHomogeny from the Endofite Mushroomof Dahlia Plant Seed (Dahliavariabilis). Journal of Chemical andPharmaceutical Research,7(9S): 239-245.
Shinta, D.Y, et all, 2018. Uji Bioaktivitas Antibakteri Senyawa murni dari Jamur Endofit Sporothrixsp Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dinamika Lingkungan Indonesia. Fakultas Pertanian Universitas Riau Kampus Bina widya Panam KM 12.5 Pekanbaru. STIKES Perintis Padang, Indonesia.
Siwiendrayanti A, Suhartono, Wijayanti NE. 2012. Hubungan riwayat pajanan pestisida dengan kejadian gangguan fungsi hati ( studi pada wanita usia subur di Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes ). J Kesehat Lingkung Indones.;11(1):p.9–14.
Skrzypczak, L, K., ett all. 2015. Cholinesterase Activity In Blood And Pesticide Presence In Sweat As Biomarkers Of Children’s Environmental Exposure To Crop Protection Chemicals. Annals of Agricultural and Environmental Medicine, Vol 22, No 3, 478-482.
Subakir. 2008. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keracunan pestisida pada petani sayur di Kota Jambi. Jakarta: LIPI.
Tsani., A., R, Setiani., O, Dewanti., Y., A., N. 2017. Hubungan Riwayat Pajanan Pestisida Dengan Gangguan Fungsi Hati Pada Petani di Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. FKM UNDIP Semarang.
Ulva., F, Rizyana., P., N, Rahmi., A, 2019. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Gejala Keracunan Pestisida Pada Petani Penyemprot Pestisida Tanaman Holtikultura di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Tahun 2019, Stikes Alifah Padang.
WHO 2006. Sound Management of Pestisicedes And Diagnosis And Treatment Of Pesticide Poisoning.
Widiarti., Nurqaidah, 2018. Analisis Kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) Dan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) Pada Petani Yang Menggunakan Pestisida. Analis Kesehatan Poltekkes Makassar.
Wispriono., dkk, 2013. Tingkat Keamanan Konsumsi Residu Karbamat Dalam Buah Dan Sayur Menurut Analis Pascakolom Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.7 No.7.p.317-323.
Wudianto., R, 2010. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Jakarta. Penebar Swadaya.
Ye M, dkk. 2013. Pesticide exposure and respiratory health. Int J Environ Res Public Health;10 (12).
Yuantari, M. G. C. 2009 Studi ekonomi lingkungan penggunaan pestisida dan dampaknya pada kesehatan petani di area pertanian hortikultura Desa Sumber Rejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.
Lampiran
Lampiran 1 : Hasil pemeriksaan hubungan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase)
No Nama
Jenis
Kelamin Umur
Kadar Cholinesterase
Kadar SGPT
Jenis
Pestisida Nama Dagangan 1 BD Laki-Laki 56 62.5 15.8 Organofosfat Destar 50 SC 2 AR Laki-Laki 41 62.5 42.1 Organofosfat Mollient 75 SP
3 MJ Laki-Laki 41 87.5 35.3 Karbamat Gemafur 3 GR
4 DM Laki-Laki 47 62.5 24.4 Karbamat Curacron
5 AW Laki-Laki 66 62.5 66.6 Karbamat Sandovin 85 WP
6 HR Laki-Laki 53 37.5 35.3 Organofosfat Osada 75 SP 7 MS Laki-Laki 51 50 26.7 Organofosfat Mollient 75 SP
8 PN Laki-Laki 43 50 32.1 Organofosfat Osada 75 SP
9 ET Laki-Laki 41 50 46.2 Karbamat Curacron
10 AM Laki-Laki 48 87.5 50.7 Karbamat Kresnadan 3 GR
11 SK Laki-Laki 39 87.5 27.2 Organofosfat Destar 50 SC
12 MP Laki-Laki 37 75 45.3 Organofosfat Destar 50 SC
13 MT Laki-Laki 53 75 56.2 Karbamat Furadan 3 GR
14 EK Laki-Laki 35 87.5 28.5 Karbamat Kresnadan 3 GR
15 AT Laki-Laki 29 62.5 95.6 Karbamat Gemafur 3 GR
16 HT Laki-Laki 50 62.5 21.3 Organofosfat Mollient 75 SP
17 AR Laki-Laki 33 87.5 15.4 Karbamat Kresnadan 3 GR
18 DD Laki-Laki 45 75 54.8 Karbamat Mollient 75 SP
19 AC Laki-Laki 35 87.5 34 Karbamat Gemafur 3 GR
20 AD Laki-Laki 46 87.5 72 Karbamat Mollient 75 SP
Lampiran 2 : Hasil Uji SPSS
Umur
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
21-30 2 10.0 10.0 10.0
31-40 4 20.0 20.0 30.0
41-50 8 40.0 40.0 70.0
51-60 5 25.0 25.0 95.0
61-70 1 5.0 5.0 100.0
Total 20 100.0 100.0
Lama_Waktu_Paparan_Pestisida
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
1-5 Tahun 5 25.0 25.0 25.0
6-10 Tahun 10 50.0 50.0 75.0
>10 Tahun 5 25.0 25.0 100.0
Total 20 100.0 100.0
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
kadar_cholin .214 20 .017 .873 20 .513
kadar_sgpt .166 20 .153 .924 20 .119
Penyemprotan_Perhari
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
1-3 Kali 12 60.0 60.0 60.0
>Dari 3 Kali 8 40.0 40.0 100.0
Total 20 100.0 100.0