PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan sebagian besar penduduknya. Dengan demikian, peningkatan dan pendapatan usahatani selain menjadi penentu utama kesejahteraan petani juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu bangsa (Alfarizi et al., 2017). Petani yang terpapar pestisida akan menyebabkan peningkatan fungsi hati karena salah satu toksisitasnya, terjadinya kelainan hematologi dan peningkatan kadar SGPT dalam darah.
Rumusan Masalah
SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) merupakan enzim yang keberadaan dan konsentrasinya di dalam darah digunakan sebagai penanda adanya gangguan fungsi hati. Selain itu, karena menarik untuk dibahas dan diteliti, pengaruh kadar kolinesterase dan kadar SGPT terhadap petani sayuran di Kabupaten Kerinci belum diketahui secara jelas. Oleh karena itu penulis tertarik mengangkat topik ini untuk mengetahui analisis hubungan jenis pestisida dengan kadar kolinesterase dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) pada pedagang sayur di Kabupaten Kerinci.
Batasan Masalah
Kerosakan pada hati menyebabkan enzim hati dilepaskan ke dalam aliran darah, jadi tahap dalam darah meningkat dan menunjukkan disfungsi hati.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan referensi tambahan khususnya di bidang toksikologi bagi mahasiswa selanjutnya, serta untuk penelitian selanjutnya terkait analisis hubungan jenis pestisida dengan kadar kolinesterase dan SGPT dalam darah. petani sayuran di wilayah Kerinci. Menambah informasi dan pengetahuan kepada masyarakat dan petani sayuran dalam perlindungan dan pencegahan gangguan kesehatan akibat paparan pestisida di area perkebunan.
TINJAUAN PUSTAKA
Pestisida
- Definisi Pestisida
- Penggolongan Pestisida
- Hubungan Pajanan Pestisida dengan Kadar Kolinesterase
- Penggolongan Keracunan dan Gejala-Gejala Keracunan Pestisida
- Cara Masuk Pestisida ke Dalam Tubuh
- Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Keracunan Pestisida
- Perjalanan Pestisida Setelah Penyemprotan
- Dampak Negatif Penggunaan Pestisida Dalam Kegiatan Pertanian
Penggunaan pestisida tersebut akan menimbulkan resistensi hama dan juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan (Harahap et al., 2018). Penggunaan pestisida yang tidak terkontrol dan dipengaruhi oleh toksisitas, volume dan tingkat paparan berpengaruh nyata terhadap dampak terhadap kesehatan. Selain itu, dampak penggunaan pestisida pada tanaman akan meninggalkan residu pada tanah dan lingkungan sekitar.
Ini bisa bersifat fungitoksik (membunuh jamur) atau fungistatik (menekan pertumbuhan jamur). 7) Herbisida, berasal dari bahasa latin herba yang berarti tanaman tahunan, berfungsi membunuh gulma. Pada saat ini golongan ini masih sangat terbatas, karena beberapa sifat-sifatnya yang tidak ramah lingkungan, antara lain: sifat sangat resisten atau persisten baik di dalam tubuh maupun di lingkungan, kelarutan yang sangat tinggi dalam lemak, dan kemampuan terdegradasinya lambat. menjadi Keracunan pestisida dari dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor pertama adalah usia.
Usia Jika dilihat proporsi keracunan pestisida antara tua dan muda hampir sama, namun jika dilihat dari yang tidak keracunan, maka semakin tua usianya. Keracunan pestisida dari luar tubuh dipengaruhi oleh suhu lingkungan, dimana suhu lingkungan dapat mempengaruhinya melalui mekanisme penguapan melalui keringat petani, penyemprotan yang baik harus searah dengan arah mata angin agar kabut semprotan tidak tertiup ke arah penyemprotan. dan penyemprotan harus dilakukan pada kecepatan angin di bawah 750m/menit. Penggunaan pestisida yang tidak mematuhi peraturan dan tidak bijaksana dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Berikut ini adalah beberapa dampak negatif yang dapat timbul akibat penggunaan pestisida di bidang pertanian yang tidak mematuhi peraturan, antara lain: (1) Pencemaran udara akibat pestisida yang disemprotkan bercampur dengan udara dan terkena sinar matahari langsung.
Cholinesterase
- Definisi Cholinesterase
- Tipe-Tipe Cholinesterase
- Hubungan Kadar Cholinesterase dan Kadar SGPT (Serum Glutamic
Populasi spesies hama dapat pulih dengan cepat dari dampak pestisida beracun dan dapat menyebabkan tingkat resistensi yang lebih tinggi terhadap pestisida tertentu pada populasi baru, biasanya disebabkan oleh pestisida organoklorin. Manusia, sebagai makhluk hidup yang berada di ujung paling akhir rantai makanan, dapat mencapai efek biomagnifikasi yang paling besar. Ni Gusti Made Ayu Nariyati 14 dan menghambat aktivitas (kerja) enzim ChE dan ikatan ini bersifat irreversible artinya enzim ChE yang diikat oleh pestisida tidak dapat berfungsi normal tanpa terlebih dahulu melepaskan ikatannya.
Asetilkolin (Ach), yang dalam keadaan normal dapat dihidrolisis oleh enzim ChE, merupakan neurohormon yang terdapat di antara ujung saraf dan otot, yang berfungsi sebagai pembawa pesan kimia yang berfungsi mengirimkan impuls saraf ke reseptor sel otot dan kelenjar. Setidaknya ada 3 jenis utama kolinesterase, yaitu enzim kolinesterase yang terdapat pada sinapsis, kolinesterase pada sel darah merah, dan plasma. Kolinesterase darah seluler adalah enzim yang ditemukan di sistem saraf, sedangkan kolinesterase plasma diproduksi di hati.
Kolinesterase dalam darah umumnya digunakan sebagai parameter keracunan pestisida karena metode ini lebih mudah dibandingkan dengan pengukuran kolinesterase di sinapsis. Aktivitas kolinesterase serum dapat menurun pada gangguan sintesis hati, penyakit hati kronis, dan hipoalbumin, karena albumin bertindak sebagai protein transpor kolinesterase. Penurunan kolinesterase lebih spesifik dibandingkan albumin untuk menilai fungsi sintetik hati karena kurang dipengaruhi oleh faktor di luar hati (Azma Rosida, 2016).
Hati
- Pengertian Hati
- Fungsi Hati
- Histologi Hati
- Faktor Penyebab Ganggguan Pada Hati
- Pemeriksaan yang Dilakukan Untuk Mengetahui Gangguan Pada Hati
- Enzim Transaminase
Penyakit hati alkoholik (PHA) adalah gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol dalam jumlah tertentu dalam jangka panjang. Penyakit hati alkoholik dibagi menjadi hati berlemak (fatty liver), hepatitis alkoholik (hepatitis alkoholik) dan sirosis (sirosis). Penilaian fungsi hati melalui sintesis: (1) Albumin, mengatur tekanan onkotik (tekanan osmotik), mengangkut nutrisi, hormon, asam lemak dan produk limbah dari tubuh.
Penilaian fungsi hati dengan detoksifikasi: (1) Amonia, dapat mendeteksi gangguan hati akibat ketidakmampuan hati mengubah amonia menjadi urea. Pengukuran Aktivitas Enzim Transaminase: (1) SGOT, ditemukan setelah infark MI (miokard) akut dan kerusakan hati. 2) SGPT, untuk membedakan penyebab akibat kerusakan hati dan penyakit kuning hemilitik. Menentukan etiologi penyakit hati: (1) Penyakit hati autoimun, antibodi dan protein tertentu digunakan sebagai penanda etiologi penyakit hati autoimun seperti antibodi antinuklear (ANA) untuk hepatitis autoimun kronis.
Karena enzim-enzim ini dilepaskan ke dalam darah oleh hepatosit yang rusak, aktivitasnya, yang diukur dalam serum, dikenal luas sebagai parameter untuk mendeteksi penyakit hati (Lee et al, 2008). SGOT/AST (asparate amniotransferase) sangat penting dalam penilaian penyakit hati dan melibatkan pengukuran aktivitas enzim di hati (Kim et al., 2008). Pada penyakit hati, kadar serum dapat meningkat sepuluh kali lipat atau lebih, dan dalam jangka waktu yang lama (Kee, 2008).
Penyakit hati alkoholik merupakan salah satu aktivitas SGPT serum yang dominan pada penyakit hati kronis, dimana aktivitas SGOT umumnya lebih tinggi dibandingkan kadar SGPT (Kim et al., 2008).
Kerangka Teori
Hipotesis
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Besar Sampel
- Kriteria Sampel
- Kriteria Inklusi
- Kriteria Eksklusi
- Variabel Penelitian
- Definisi Operasional
- Alat dan Bahan
- Alat
- Bahan
- Prosedur Kerja (Pemeriksaan Cholinesterase & SGPT)
- Penyiapan Sampel Darah
- Pengambilan Sampel Darah Vena
- Pemeriksaan SGPT Metode Kinetik
- Pengukuran Cholinesterase/Pestisida
- Analisa Data
Pada penelitian ini analisis data dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis pestisida, kolinesterase dan kadar SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) dalam darah petani sayuran di kabupaten Kerinci. Dari penelitian yang dilakukan tentang hubungan jenis pestisida dengan kadar kolinesterase dan SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) dalam darah petani sayuran di kabupaten Kerinci, diperoleh hasil bahwa seluruh responden berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan hasil uji korelasi ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara jenis pestisida dengan kadar kolinesterase dan SGPT (serum glutamin piruvitarsnaminase) dalam darah petani sayuran di kabupaten Kerinci.
Dari hasil analisis data berdasarkan uji korelasi dapat disimpulkan bahwa nilai sig sebesar 0,921 > 0,05 artinya kadar kolinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah pedagang sayur di kabupaten Kerinci mempunyai hubungan yang baik. tidak ada hubungan atau tidak ada pengaruh positif sebesar 0,024. setelah melihat tabel interpretasi, angka “r” (pedoman derajat hubungan) sebesar 0,024 antara yang interpretasinya termasuk dalam kategori korelasi lemah/tidak ada korelasi. Dari hasil pemeriksaan jenis pestisida dengan kadar kolinesterase dan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah pedagang sayur di kabupaten Kerinci saat melakukan survei, respondennya semuanya berjenis kelamin laki-laki. Kadar kolinesterase darah pedagang sayur mencapai kadar tertinggi sebesar 87,5% dan terendah sebesar 37,5% dengan rata-rata sebesar 70,0% yang dapat dikategorikan keracunan ringan.
Berdasarkan uji korelasi, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara jenis pestisida dengan kadar kolinesterase dan SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) dalam darah petani sayuran di kabupaten Kerinci. Hubungan riwayat paparan pestisida dengan gangguan fungsi hati pada petani di Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Analisis kadar serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) pada petani yang menggunakan pestisida.
HUBUNGAN JENIS PESTISIDA DENGAN KANDUNGAN SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) DALAM DARAH PETANI SAYURAN.
HASI PENELITIAN
Karakteristik Umum Penelitian
Sebaran responden berdasarkan penggunaan insektisida yaitu kelompok karbamat sebanyak 12 responden dan kelompok organofosfat sebanyak 8 responden dari petani sayuran di kabupaten Kerinci. Pestisida umumnya bersifat racun atau kontak, oleh karena itu penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) oleh petani pada saat penyemprotan sangat penting untuk menghindari kontak langsung dengan pestisida. Berdasarkan penelitian Widarti & Nurqaidah (2018) ditemukan bahwa pada analisis kadar SGPT dan SGOT, tidak ada satupun petani pengguna pestisida yang mengalami pertumbuhan atau bisa juga disebut normal.
Pada petani, kadar SGPT dikatakan normal karena semua bahan kimia berupa nutrisi dan xenobiotik (misalnya pestisida) di dalam darah dimetabolisme dan dibiotransformasi oleh hati. Petani yang keracunan dan tidak melakukan penyemprotan selama lebih dari 2 minggu diperkirakan kadar kolinesterasenya (dengan menguji Tintometer Kit dengan test kit Lovibond) kembali meningkat. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pendapat Tsani Atika Ronna., dkk, (2017) bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara jumlah pestisida dengan gangguan fungsi hati pada petani di desa Sumberejo, di Kecamatan Ngablak. , Kabupaten Magelang.
Sebaran responden berdasarkan penggunaan jenis pestisida, insektisida terdapat 12 responden yang menggunakan golongan karbamat dan 8 responden yang menggunakan golongan organofosfat oleh petani sayuran di kabupaten Kerinci (Tabel 4.5). Analisis Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) pada petani penyemprotan pestisida di Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Gejala Keracunan Pestisida Pada Tanaman Hortikultura Semprotan Pestisida Petani Di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Tahun 2019 Stikes Alifah Padang.
Lampiran 1 : Hasil investigasi hubungan jenis pestisida dan kadar kolinesterase serta kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase).
Hubungan Kadar Cholinesterase dan Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic
- Uji Normalitas
- Uji Korelasi
PEMBAHASAN
Hubungan Pemeriksaan jenis pestisida dengan kadar cholinesterase dan kadar
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam serum petani sayuran diperoleh kadar tertinggi sebesar 95,6 u/l dan terendah sebesar 15,4 u/l dengan rerata 41,3 u/l.
Saran
Pengaruh paparan pestisida terhadap parameter imunologi, hematologi dan biokimia pada petani anggrek Thailand-Studi cross-sectional A Croos. Pengaruh Penggunaan Pupuk dan Pestisida Berlebihan Terhadap Kandungan Residu Lahan Pertanian Bawang Merah Di Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Dampak Perubahan Iklim terhadap Biaya Eksternal Penggunaan Pestisida di Pertanian AS.
Shinta, D.Y, dkk, 2015. Varians media produksi untuk homogenitas antimikroba bibit tanaman dahlia jamur endofit (Dahlia variabilis). Hubungan Riwayat Paparan Pestisida dengan Gangguan Fungsi Hati (Studi pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes. Kajian Ekonomi Lingkungan Terhadap Penggunaan Pestisida dan Dampaknya terhadap Kesehatan Petani di Kawasan Pertanian Hortikultura Sumber Rejo Dorp, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang 2009 , Jawa Tengah, Disertasi, Universitas Diponegoro, Semarang.
Definisi Operasional
Distribusi responden berdasarkan Jenis Kelamin
Distribusi responden berdasarkan umur
Distribusi responden berdasarkan lama waktu penggunaan pestisida
Distribusi responden berdasarkan berapa kali penyemprotan dalam sehari
Distribusi responden berdasarkan pemakaian jenis pestisida & Golongan
Hasil kadar cholinesterase dan kadar SGPT
Hasil uji SPSS
Kuesioner Penelitian
Surat Penelitian
Surat Rekomendasi dari Kesbangpol
Surat Keterangan Penelitian
Surat Keterangan Selesai Penelitian
Dokumentasi Penelitian