Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin dengan jenis pestisida dalam darah petani sayuran di Kabupaten Kerinci. Untuk pemeriksaan kadar kolinesterase dalam darah digunakan metode pembanding (kaca pembanding), dan untuk pemeriksaan kadar hemoglobin digunakan metode Sahli. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi penelitian yang berjudul “Hubungan Kadar Kolinesterase dan Kadar Hemoglobin Dengan Jenis Pestisida Dalam Darah Pedagang Sayur Di Kabupaten Kerinci.”
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dampak keracunan pestisida dalam jangka pendek adalah dapat menyebabkan iritasi pada selaput mata atau kulit, dan dampak keracunan jangka panjang adalah dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, seperti terganggunya sistem hormonal, kegagalan organ bahkan kematian. . Dampak keracunan pestisida terhadap kesehatan antara lain menurunnya produksi atau peningkatan sel darah merah sehingga mengakibatkan terganggunya pembentukan hemoglobin. Keracunan pestisida merupakan permasalahan serius pada masyarakat pertanian di negara berkembang, sehingga menarik untuk dibahas betapa banyak masyarakat yang tidak menyadari gejala keracunan pestisida.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk mengangkat topik ini, untuk mengetahui hubungan kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin dengan jenis pestisida dalam darah petani sayuran di wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk mengetahui hubungan kadar pestisida dengan kadar hemoglobin pada petani sayuran di wilayah Kabupaten Kerinci.
- Bagi Institusi Pendidikan
- Bagi Masyarakat dan Petani
Landasan Teori .1 Pestisida
- Karakteristik Pestisida
- Penggolongan Pestisida
- Efek Pestisida Pada Sistem Tubuh
- Mekanisme Kerja Pestisida dalam Tubuh Manusia
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keracunan Pestisida
- Cara Masuk Pestisida Ke Dalam Tubuh
- Perjalanan Pestisida Setelah Penyemprotan
- Dampak Penggunaan Pestisida Pada Kegiatan Pertanian
- Upaya Pencegahan Keracunan Pestisida
Penggunaan pestisida sebagai bahan kimia akan berdampak pada pencemaran lingkungan melalui udara, air dan tanah. Racun pernafasan merupakan zat beracun yang dapat mengganggu sistem pernafasan serangga jika terhirup oleh serangga. Racun sistemik merupakan zat beracun yang dapat masuk ke dalam sistem jaringan tanaman, sehingga jika tertelan atau tertelan akan menjadi racun bagi sasarannya (Hudayya, Jayanti, 2012).
Pestisida mengandung bahan kimia yang dapat meracuni sel-sel tubuh dan dapat mempengaruhi sistem organ sasaran. Menurut Jenni, dkk, 2014, hati berfungsi menetralkan bahan kimia beracun, pestisida yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami proses detoksifikasi di dalam hati. Paru-paru dan sistem pernapasan, pada sistem pernapasan, efek jangka panjang dari bahan kimia pestisida di paru-paru dapat menyebabkan bronkitis atau pneumonia.
Pada kasus luka bakar, bahan kimia pada paru-paru dapat berakibat fatal karena dapat menyebabkan edema paru (paru-paru terisi air), dan bahan kimia juga dapat menimbulkan reaksi alergi pada saluran pernafasan yang dapat menimbulkan suara bising jika dihirup. Jika bersifat kronis, dapat menyebabkan penumpukan bahan kimia di jaringan paru-paru, sehingga mengakibatkan fibrosis atau pneumokoniosis. Dalam kasus kronis, dampak bahan kimia pada ginjal termasuk gagal ginjal, kanker ginjal, atau kanker kandung kemih.
Efek bahan kimia tertentu dapat memperlambat fungsi otak dan menekan sistem saraf pusat, sehingga menyebabkan hilangnya kesadaran, kelelahan, dan mati rasa pada kaki dan tangan.
Hemoglobin
- Fungsi Hemoglobin
- Pembentukan Hemoglobin Darah
- Faktor yang Mempengaruhi Hemoglobin Darah
- Metode dan Pemeriksaan Hemoglobin
Hemoglobin berperan penting dalam mendistribusikan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan juga berperan dalam mengangkut karbon dioksida untuk dikeluarkan dari tubuh. Jadi, jika sel darah merah berkurang, makan akan menyebabkan kurangnya asupan oksigen ke seluruh tubuh, dan tubuh akan mengalami gejala seperti mudah lelah, letih, dan lesu. Jumlah hemoglobin dalam darah normal kurang lebih 15 gram per 100 ml darah, dan jumlah ini biasa disebut "100 persen".
Hemoglobin dalam darah berfungsi sebagai pembawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan mengembalikan karbon dioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Zat besi di Mioglobin bertindak sebagai reservoir oksigen: ia menerima, menyimpan, dan melepaskan oksigen ke dalam sel otot. Rangkaian proses ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ketersediaan komponen penyusun heme (suksinil, Co-A, GLICIN, transkripsi mRNA dan Fe) dan enzim. Jika salah satu faktor tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi proses biosintesis. terhambat atau bahkan tidak terlaksana, yang akan mengakibatkan menurunnya kandungan hemoglobin dalam eritrosit.
Kekurangan zat besi dalam darah akan mengakibatkan terganggunya pengikatan zat besi untuk membentuk hemoglobin, sehingga terjadi pembentukan eritrosit dengan sitoplasma kecil dan hemoglobin lebih sedikit. Jika kadar zat besi dalam tubuh berkurang, hal ini akan mengakibatkan terbentuknya sel darah merah kecil dan penurunan kadar hemoglobin (Zarianis, 2006). B.). Faktor gender, penurunan kadar hemoglobin lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria, terutama pada saat menstruasi (Nugaharani, 2009) d.).
Penyakit sistemik tersebut adalah leukemia, talasemia. f.) Faktor wilayah, kadar hemoglobin juga dipengaruhi oleh ketersediaan oksigen di tempat tinggal.
Metode Sianmethemoglobin
- Kerangka Teori
- Hipotesis
- Jenis Penelitian
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Populasi dan Sampel .1 Populasi .1 Populasi
- Sampel
- Besar Sampel
- Kriteria Sampel .1 Kriteria Inklusi .1 Kriteria Inklusi
- Kriteria Eksklusi
- Variabel Penelitian
- Definisi Operasional 3.1 Tabel Definisi Operasinal
- Alat dan Bahan .1 Alat .1 Alat
- Bahan
- Prosedur Kerja Pemeriksaan Kadar Hemoglobin dan Cholenesterase
- Penyiapan Sampel Darah Vena
- Pengambilan Sampel Darah Vena
- PemeriksaanKadar Hemoglobin dengan Metode sahli
- Pengukuran Cholinesterase
- Analisa Data
- Karakteristik Umum Penelitian
Tidak ada hubungan antara kadar kolinesterase dengan kadar hemoglobin dan jenis pestisida dalam darah petani sayuran di kabupaten Kerinci. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan desain deskriptif yaitu untuk mengetahui hubungan kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin dengan jenis pestisida dalam darah petani sayuran di wilayah Kabupaten Kerinci. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin dengan jenis pestisida dalam darah petani sayuran di wilayah Kabupaten Kerinci.
Dari penelitian ini, 20 responden berjenis kelamin laki-laki dan dilakukan pemeriksaan kadar pestisida dan kadar hemoglobin dalam darah. Sebaran responden berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan durasi waktu penyemprotan yang digunakan adalah 60% yaitu lebih dari 1-3 kali sehari. Sebaran kadar kolinesterase dengan kadar hemoglobin dalam darah petani sayuran di Kabupaten Kerinci terlihat nilai minimum dari hasil pemeriksaan kadar kolinesterase sebesar 37,50% dan nilai maksimum kadar kolinesterase sebesar 87,50% dengan rata-rata sebesar 69,37 dan nilai standar deviasi (SD) yang diperoleh sebesar 16,46.
Terlihat juga nilai minimal hasil pemeriksaan kadar hemoglobin adalah 10,0 g/dl dan nilai maksimal kadar hemoglobin adalah 12,92% dengan mean 12,92 dan nilai standar deviasi (SD) yang diperoleh adalah 1,95. Sebaran responden berdasarkan berbagai jenis penggunaan pestisida adalah pada kelompok insektisida dimana terdapat 12 responden yang menggunakan kelompok karbamat dan 8 responden yang menggunakan kelompok organosfosfat pada petani sayuran di kabupaten Kerinci. Berdasarkan grafik 4.1 menunjukkan hasil pemeriksaan kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin, Hasil pemeriksaan kadar kolinesterase tertinggi dapat dilihat pada sampel nomor 3, sedangkan hasil pemeriksaan kadar kolinesterase terendah terdapat pada sampel nomor 6.
Untuk kadar hemoglobin, nilai pemeriksaan tertinggi terdapat pada sampel nomor 3 dan hasil tertinggi diperoleh pada responden 13.
Kadar cholinesterase dan Kadar Hemoglobin
Hubungan Kadar Cholinesteras dan Kadar Hemoglobin Dengan Jenis Pestisida Dalam Darah Pada Petani Sayur di Kabupaten Kerinci Pestisida Dalam Darah Pada Petani Sayur di Kabupaten Kerinci
- Uji Normalitas
- Uji Korelasi
Hasil uji normalitas data Shapiro-Wilk menunjukkan kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin berdistribusi normal dengan p>0,05 sehingga uji korelasi dapat dilanjutkan. Berdasarkan hasil uji korelasi diketahui bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kadar kolinesterase terhadap kadar hemoglobin darah petani sayuran di Kabupaten Kerinci.
Hubungan Pemeriksaan Kadar Cholinesterase dan Kadar Hemoglobin dengan Jenis Pestisida dalam Darah
Menurut penelitian yang dilakukan Budiawan pada tahun 2014, semakin lama petani melakukan penyemprotan, maka tingkat keracunan akan semakin tinggi. Penelitian yang dilakukan Zuraida pada tahun 2012 menyatakan bahwa organofosfat dan karbamat merupakan jenis pestisida yang dapat mengikat asetilkolinesterase. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuantari pada tahun 2011 yang menyatakan bahwa toksisitas organofosfat juga dapat menyebabkan penekanan kadar kolinesterase secara ireversibel.
Hasil penelitian Marisa dkk pada tahun 2018 menyatakan bahwa kadar kolinesterase bisa rendah karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya kerusakan hati atau sirosis hati dan infeksi virus seperti hepatitis, baik akut maupun kronis. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Susilowati dkk pada tahun 2017 yang mengatakan bahwa petani yang merokok memiliki kadar kolinesterase yang lebih rendah karena kandungan dalam rokok seperti nikotin dan tar dapat mempengaruhi kadar kolinesterase, yang pada penelitian yang dilakukan oleh Ruhendi pada tahun 2017 juga mengatakan, ada hubungan antara petani yang. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Marisa dkk pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa sulfhemoglobin merupakan salah satu bentuk hemoglobin yang terikat pada atom belerang.
Menurut penelitian yang dilakukan Futri 2019, petani dengan riwayat anemia dan paparan pestisida golongan organofosfat dan karbamat memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kadar hemoglobin dibandingkan petani yang tidak memiliki riwayat anemia. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusuf dkk pada tahun 2010 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keracunan pestisida karbamat dengan kejadian anemia pada petani. Kadar kolinesterase dalam darah petani sayuran di Provinsi Kerinci rata-rata 69,3%, nilai tertinggi 87,5%, dan nilai terendah 37,5% yang tergolong keracunan ringan.
Dari hasil statistik dengan uji korelasi ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang jelas antara kadar kolinesterase dan kadar hemoglobin dengan jenis pestisida dalam darah petani sayuran di Kabupaten Kerinci.
Saran
Hubungan Kadar Hemoglobin Dengan Daya Tahan Kardiovaskular Pada Atlet Atletik FIK Universitas Negeri Makasar. Faktor yang berhubungan dengan paparan pestisida dan hubungannya dengan prevalensi anemia pada petani hortikultura di desa Gombong, kecamatan Belik, kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Analisis kadar kolesterol darah dan gangguan kesehatan pada petani kentang berdasarkan kilometer
Analisis faktor yang berhubungan dengan kadar kolinesterase pada wanita usia subur di daerah pertanian. Deskripsi Kadar Enzim Kolinesterase Darah Kelompok Tani Mekar Nadi Desa Batunya Kecamatan Baturiti. Faktor yang berhubungan dengan keracunan organofosfat, pestisida karbamat dan kejadian anemia pada petani hortikultura di Desa Tejosari Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Gejala Keracunan Pestisida Pada Petani Yang Menyemprotkan Pestisida Pada Tanaman Hortikultura Di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Tahun 2019. Kadar Hemoglobin Pada Petani Terpapar Pestisida Di Dusun Banjardowo Desa Bajardowo Kecamatan Jombang Jombang. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keracunan pestisida pada petani di Desa Srimah Tambun Bekasi Utara tahun 2011.
1 Tesis HUBUNGAN KADAR KHOLINESTERASE DAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN JENIS PESTISIDA DALAM DARAH PETANI SAYURAN DI KABUPATEN KERINCI Oleh : MAYNISA YULIANDA NIM PROGRAM DIPLOMA DIPLOMA IV/STANDA. ILMU PERINIS PADANG 2020 2 INTERPRETASI HUBUNGAN ANTARA KADAR KHOLINESTER KADAR ASE DAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN JENIS PESTISIDA DALAM DARAH PENGOLAH SAYUR DI KABUPATEN KERINCI Oleh : MAYNISA YULIANDA NIM PROGRAM STUDI DIPLOMA IV ANALIS KESEHATAN/Spesialis Psikiatri 2020 3 ABSTRAK HUBUNGAN TINGKAT KHOLINESTERASE DAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN JENIS PESTISIDA DALAM DARAH PETANI SAYURAN DI KABUPATEN SEPULUH KERINCI Oleh Maynisa Yulianda ([email protected]) Pestisida dapat menyebabkan keracunan pada tubuh. Akibat keracunan pestisida jangka pendek adalah iritasi pada selaput mata atau kulit, dan akibat keracunan jangka panjang adalah terganggunya sistem hormonal, kegagalan organ bahkan kematian. Akibat keracunan pestisida terhadap hemoglobin adalah terbentuknya sulfhemoglobin dan methemoglobin yang ikatannya dapat membuat hemoglobin tidak mampu menjalankan fungsi transpornya.