3 HASIL RISET
3.2 KARAKTERISTIK UNSUR PUTUSAN PERKARA TPPU TAHUN 2017
Dalam subbab ini akan dibahas mengenai karakteristik data putusan pengadilan perkara TPPU tahun 2017. Karakteristik putusan perkara pencucian uang diperoleh berdasarkan hasil putusan perkara pencucian uang yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde) selama periode 2017. Putusan yang diteliti dalam penelitian ini berasal dari sumber surat yang dikirimkan ke semua Pengadilan di seluruh Indonesia dan website Mahkamah Agung (putusan.mahkamahagung.go.id).
Karakteristik putusan ini disusun untuk menggambarkan statistik maupun tren dari perkara pencucian uang selama tahun 2017. Berdasarkan data putusan pengadilan tindak pidana pencucian uang yang didapatkan selama tahun 2017, diperoleh sebanyak 56 Putusan Perkara Pencucian Uang, di mana 7 putusan tidak terbukti sebagai tindak pidana pencucian
uang dan 48 putusan terbukti tindak pidana pencucian uang. Dari 48 putusan tersebut yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde) selama periode 2017 terdapat 41 putusan, namun yang dapat dianalisis hanya 35 putusan.
Jika putusan dilihat dari seluruh tingkat pengadilan, terdapat 58 putusan yang dapat dianalisis, namun analisis hanya dilakukan terhadap 35 putusan tingkat paling tinggi yang tersedia (pertama/banding/kasasi) yang sudah berkekuatan hukum tetap, kecuali untuk data sebaran tingkat lembaga pengadilan (61 putusan).
Berdasarkan basis data putusan perkara pencucian uang tahun 2017 yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde), berikut sebaran tingkat lembaga pengadilan yang telah memutus perkara pencucian uang selama periode tahun 2017.
Tabel 5
Jumlah Putusan Pengadilan TPPU Berdasarkan Tingkat Lembaga Peradilan Tingkat Pengadilan Jumlah Putusan
Pengadilan Tinggi Samarinda 3
Pengadilan Tinggi Banjarmasin 1
Pengadilan Tinggi Ambon 1
Pengadilan Tinggi Banda Aceh 2
Pengadilan Tinggi Bengkulu 1
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta 2
Pengadilan Tinggi Banten 1
LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 34 Tingkat Pengadilan Jumlah Putusan
Pengadilan Tinggi DI Yogyakarta 1 Pengadilan Tinggi Palangkaraya 1 Pengadilan Negeri Tanah Grogot 2
Pengadilan Negeri Bengkulu 1
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 4 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 1 Pengadilan Negeri Jakarta Timur 1
Pengadilan Negeri Mempawah 1
Pengadilan Negeri Sampit 1
Pengadilan Negeri Banjarmasin 1
Pengadilan Negeri Jantho 1
Pengadilan Negeri Salatiga 1
Pengadilan Negeri Depok 1
Pengadilan Negeri Bekasi 3
Pengadilan Negeri Mamuju 2
Pengadilan Negeri Padang 1
Pengadilan Negeri Tanjung Selor 1
Pengadilan Negeri Palembang 1
Pengadilan Negeri Bireuen 1
Pengadilan Negeri Semarang 4
Pengadilan Negeri Yogyakarta 1
Pengadilan Negeri Ambon 1
Pengadilan Negeri Sidoarjo 1
Pengadilan Negeri Garut 1
Pengadilan Negeri Serang 1
Pengadilan Negeri Surabaya 1
Pengadilan Negeri Pontianak 1
Mahkamah Agung 13
Total 61
Tingkat penanganan perkara tindak pidana pencucian uang selama periode 2017 lebih dominan di Pengadilan Tingkat Pertama yaitu Pengadilan Negeri sebanyak 35 putusan atau 57 persen dari
61 putusan yang tersebar di 18 provinsi.
Pengadilan Tingkat Kedua sebanyak 13 Putusan atau 21 persen dari 61 putusan tersebar di 8 provinsi, serta Mahkamah
35 LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018
Agung sebanyak 13 putusan atau 22 persen dari 61 putusan.
Gambar 2
Persentase Putusan Pengadilan TPPU Berdasarkan Tingkat Lembaga Peradilan
3.2.1 Karakteristik Profil Tindak Pidana Asal
Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) adalah suatu tindak pidana lanjutan (follow up crime) yang merupakan kelanjutan dari tindak pidana asal (predicate crime), sebagai sebuah upaya untuk menyembunyikan, atau menghilangkan jejak sedemikian rupa sehingga tidak dapat diketahui bahwa harta kekayaan tersebut berasal dari tindak pidana. Sedangkan tindak pidana asal (predicate crime) merupakan tindak pidana yang menghasilkan uang/harta kekayaan yang kemudian dilakukan proses pencucian uang.
Secara umum karakteristik putusan perkara pencucian uang berdasarkan tindak pidana asal didominasi oleh tindak
pidana narkotika sebanyak 9 putusan atau sebesar 26 persen dari total 35 putusan.
Di samping itu terdapat sebanyak 9 putusan perkara pencucian uang atau 26 persen berasal dari tindak pidana korupsi.
Pada peringkat ketiga terdapat 6 putusan tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih. Dari 6 putusan tersebut, 2 putusan di antaranya adalah tindak pidana pemalsuan surat, 2 putusan dengan tindak pidana di bidang kesehatan, 1 putusan dengan tindak pidana di bidang informasi dan transaksi elektronik dan 1 putusan TPPU saja tanpa ada tindak pidana asal.
Pengadilan Negeri; 35;
58%
Pengadilan Tinggi ; 13;
22%
Mahkama h Agung;
12; 20%
LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 36 Berdasarkan informasi yang didapatkan
dari pengumpulan data putusan pengadilan tahun 2017, diketahui bahwa total kerugian dari kegiatan tindak pidana asal yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang selama tahun 2017 adalah sebesar Rp52.842.543.105 (lima puluh dua miliar delapan ratus empat
puluh dua juta lima ratus empat puluh tiga ribu seratus lima rupiah). Terkait dengan kerugian yang disebabkan oleh tindak pidana yang dilakukan oleh para pelaku tindak pidana dapat ditaksir nilainya sebagai berikut dapat dilihat pada tabel 9.
Gambar 3
Jumlah Putusan Berdasarkan Tindak Pidana Asal
Tabel 6
Jumlah Kerugian Yang Ditaksir Berdasarkan Data Putusan Pengadilan TPPU Tahun 2017
Jenis Tindak Pidana Asal Jumlah Putusan Total Kerugian
Korupsi 2 Rp6.230.064.473
Penggelapan 1 Rp28.612.478.632
Penipuan 1 Rp10.000.000.000
Tindak pidana lain (> 4 tahun pidana penjara) 1 Rp8.000.000.000
Total 5 Rp52.842.543.105
9 9
6
5
1 1 1 1 1 1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
37 LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 Dari 35 putusan pengadilan tersebut,
diketahui terdapat perbedaan karakteristik dalam hubungan pelaku tindak pidana asal dengan tindak pidana pencucian uangnya, yang dibedakan menjadi 2 yakni Self Laundering dan Third- Party Laundering, dapat dilihat pada gambar 6.
Berdasarkan gambar 4 terlihat bahwa dominan pencucian uang dilakukan oleh orang yang terlibat dalam perbuatan tindak pidana asalnya (Self Laundering) sebanyak 28 putusan (80%) dan sebanyak 7 putusan (20%) dari total 35 putusan merupakan pencucian uang yang dilakukan oleh orang yang tidak terlibat
dalam perbuatan tindak pidana asalnya (Third-Party Laundering).
Gambar 4
Hubungan Pelaku TPA dengan TPPU- nya
3.2.2 Karakteristik Profil Pelaku
Pada subbab ini akan dibahas mengenai karakteristik dari profil pelaku tindak pidana pencucian uang diantaranya adalah jenis kelamin, kelompok usia serta pekerjaan/profesi dari pelaku.
Berdasarkan basis data putusan perkara pencucian uang tahun 2017 yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde) terdapat sebanyak 38 terdakwa dari 35 putusan. Berikut karakteristik profil jenis kelamin pelaku tindak pidana pencucian uang berdasarkan putusan pengadilan TPPU tahun 2017 yang menjadi basis data penelitian.
Gambar 5
Jumlah Pelaku Berdasarkan Jenis Kelamin dalam Putusan Pengadilan
Tahun 2017
Self Launderi
ng; 28;
80%
Third Party Launderi
ng; 7;
20%
76%
24%
LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 38 Berdasarkan gambar 5 terlihat bahwa laki-
laki mendominasi profil jenis kelamin pelaku tindak pidana pencucian uang pada data putusan pengadilan tahun 2017, di mana total laki-laki adalah 29 orang (76%) dan perempuan hanya 9 orang (24%).
Gambar 6
Jumlah Pelaku Berdasarkan Kelompok Umur Dalam Putusan Pengadilan
Tahun 2017
Kelompok umur dibedakan menjadi 5 (lima) tingkatan umur dengan rentang 10 tahun, diawali dengan 0-24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun, 45-54 tahun serta >54
tahun. Berikut disajikan, karakteristik profil kelompok umur pelaku tindak pidana pencucian uang berdasarkan putusan pengadilan tahun 2017 yang menjadi basis data dalam penelitian ini.
Berikut gambar dari profil pelaku berdasarkan kelompok umur:
Berdasarkan gambar 6, terlihat bahwa kelompok umur 35-44 tahun mendominasi kelompok umur dari para pelaku tindak pidana pencucian uang berdasarkan putusan pengadilan TPPU tahun 2017, dimana pada kelompok umur tersebut terdapat 14 orang (38%).
Sedangkan kelompok usia 45-54 tahun berada pada posisi kedua jumlah kelompok umur pelaku tindak pidana pencucian uang.
Pengklasifikasian profil dalam penelitian ini, berdasarkan pada klasifikasi GRIPS PPATK, hal tersebut dilakukan agar menyederhanakan sebaran profil pekerjaan yang beraneka ragam. Berikut karakteristik profil pekerjaan pelaku tindak pidana pencucian uang berdasarkan putusan pengadilan tahun 2017.
0-24 tahun; 1;
3% 25-34
tahun; 7;
18%
35-44 tahun;
14; 37%
45-54 tahun;
11; 29%
>54 tahun; 5;
13%
39 LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018
Gambar 7
Jumlah Pelaku Berdasarkan Profil Pekerjaan Dalam Putusan Pengadilan Tahun 2017
Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa profil pekerjaan pelaku tindak pidana pencucian uang yang dominan selama tahun 2017 yaitu Pengusaha/Wiraswasta sebanyak 14
terdakwa (36,8%). Selain itu pegawai swasta/karyawan juga berada pada posisi kedua dengan jumlah 12 orang (31,5%), dan PNS/ASN termasuk pensiunan berada di posisi ketiga sebanyak 5 orang (13,5%).
3.2.3 Karakteristik Putusan Berdasarkan Delik TPPU
Berdasarkan ketentuan dalam Undang- undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (PP TPPU), pelaku tindak pidana pencucian uang dapat dibedakan menjadi pelaku aktif dan pelaku pasif sebagaimana diatur dalam pasal 3, pasal 4 dan pasal 5 Undang- undang tersebut. Dalam Pasal 3 dan Pasal 4 UU TPPU disebut sebagai tindak pidana pencucian uang aktif karena adanya
perbuatan aktif untuk menyembunyikan dan menyamarkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.
Sedangkan dalam Pasal 5 ayat (1) UU TPPU dinamakan tindak pidana pencucian uang pasif karena tidak adanya perbuatan aktif untuk menyembunyikan dan menyamarkan harta kekayaan hasil tindak pidana.
LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 40 Gambar 8
Pengenaan Unsur Pasal Pencucian Uang Berdasarkan Putusan Pengadilan
TPPU Tahun 2017
Berdasarkan gambar 8 dapat diketahui bahwa pengenaan unsur pasal 3 UU PP TPPU adalah 22 putusan (65%), pasal 4 UU PP TPPU adalah 4 putusan (12%), pasal 5 UU PP TPPU adalah 7 putusan (20%), dan pasal 3 dan 5 adalah 1 putusan (3%).
3.2.4 Karakteristik Putusan Berdasarkan Variasi Pidana
Berikut gambar karakteristik putusan pengadilan dilihat dari variasi hukuman pidana penjaranya:
Gambar 9
Putusan Pengadilan 2017 Berdasarkan Variasi Hukuman Pidana Penjara
Berdasarkan gambar 9, diketahui bahwa vonis hukuman pidana penjara yang paling dominan adalah dikenakan hukuman penjara antara 1 s.d. 5 tahun sebanyak 20 putusan (57%), dan di atas 5 tahun s.d. 10 tahun sebanyak 7 putusan (20%). Dapat dilihat bahwa 2 putusan terdakwanya dikenakan hukuman mati, padahal menurut UU PP TPPU, hukuman maksimal dari TPPU adalah 20 tahun.
Kedua terdakwa yang dikenakan hukuman mati adalah terpidana kasus Narkotika di mana putusan menjadi 1 berkas antara TPPU dan Narkotika, dalam kedua putusan tersebut terdakwa dikenakan hukuman maksimal menurut UU Narkotika.
Adapun variasi hukuman selain pidana penjara adalah pidana denda yang Pasal 3;
22; 65%
Pasal 4;
4; 12%
Pasal 5;
7; 20%
Pasal 3 dan 5;
1; 3%
di bawah 1 tahun ;
2; 5%
1 s.d. 5 tahun;
20; 57%
di atas 5 tahun s.d. 10 tahun; 7;
20%
di atas 10 tahun
s.d. 15 tahun; 2;
6%
di atas 15 tahun; 2;
6%
hukuma n mati;
2; 6%
41 LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018
diterapkan kepada para pelaku pencucian uang sehingga dapat memberikan efek jera, sebagaimana tergambar dalam gambar 10.
Gambar 10
Putusan Pengadilan 2017 Berdasarkan Variasi Hukuman Pidana Denda
Berdasarkan variasi hukuman pidana denda, sebagaimana terlihat pada dan grafik di samping, yang dominan adalah hukuman pidana denda sebesar Rp0- s.d.
Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah) yakni sebanyak 29 putusan (83%), lalu sebesar Rp1.000.000.000 (satu miliar) s.d.
Rp5.000.000.000 (lima miliar) sebanyak 3 putusan (8%), dikenakan pidana denda sebesar Rp5.000.000.000 (lima miliar) s.d.
Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar) adalah sebanyak 2 putusan (6%) dan di atas Rp10.000.000.000 (sepuluh miliar) sebanyak 1 putusan (3%).
3.2.3 Karakteristik Putusan Berdasarkan Perampasan Barang Bukti untuk Negara
Selain dengan hukuman pidana penjara maupun denda, salah satu tujuan utama penggunaan pidana pencucian uang adalah untuk merampas aset yang menyebabkan kerugian negara maupun korban. Dalam putusan Pengadilan, biasanya barang bukti yang dirampas untuk negara adalah yang dianggap aset yang berhubungan dengan tindak pidana.
Berdasarkan data putusan pengadilan tahun 2017, terdapat barang bukti yang dapat dirampas untuk negara dari pelaku sebagai berikut:
Gambar 11
Perampasan Barang Bukti Berdasarkan Putusan Pengadilan TPPU Tahun 2017
0 s.d.
Rp1 miliar ; 29; 83%
Rp1 miliar s.d. Rp5 miliar ; 3;
8%
Rp5 miliar s.d. Rp10 miliar ; 2;
6%
di atas Rp10 miliar ; 1;
3%
dirampa s untuk negara;
22; 63%
tidak dirampa
s untuk negara;
13; 37%
LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 42 Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa
dalam 22 dari 35 putusan (63%), aset pelaku tindak pidana dirampas untuk negara. Dari sisa 13 putusan (37%) yang tidak dirampas untuk negara, hanya terdapat 3 putusan yang sama sekali tidak mencantumkan aset yang dirampas, sisanya ada yang dikembalikan kepada korban sebanyak 8 putusan, dan digunakan dalam perkara lain sebanyak 7 putusan. Dalam satu putusan mungkin terdapat beberapa perlakuan terhadap aset misalnya ada aset yang dirampas untuk negara dan digunakan dalam perkara lain. Contohnya dalam perkara IR,
terdapat barang bukti berupa telepon seluler yang dirampas untuk negara, selain itu terdapat barang bukti berupa mobil digunakan sebagai barang bukti dalam perkara RDN. Dalam perkara RDN, barang bukti berupa mobil tersebut dikembalikan kepada terdakwa RDN.
Kami tidak menghitung berapa jumlah putusan di mana barang bukti dikembalikan kepada terdakwa atau dirampas untuk dimusnahkan.
Dilihat dari jenis barang bukti yang dirampas untuk negara, dapat dilihat pada tabel 8:
Tabel 7
Jenis Barang Bukti yang Dirampas untuk Negara Berdasarkan Jumlah Putusan TPPU Tahun 2017
Jenis Barang Bukti Jumlah Putusan Keterangan
Uang Tunai 9 Rp149.997.836.943
47.471 Dolar AS 24.000 Won Korea 1.480 Baht Thailand 3.000 Dong Vietnam 25.476 Ringgit Malaysia
Mobil 8 Rp1.652.000.000
Motor 7 Rp258.500.000
Perhiasan 1 Belum Dinilai
Alat Elektronik 8 Belum Dinilai
Tanah dan Bangunan 4 Rp17.017.599.372
Bangunan 1 Rp7.498.619.000
Polis Asuransi 1 Belum Dinilai
Perlengkapan Kantor 1 Rp441.769.000
Dana dalam Rekening 2 Rp1.873.355.483
2.343,01 Dolar AS
43 LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa dari 35 putusan pengadilan, sebanyak 9 putusan di antaranya telah dirampas dari pelaku berupa uang tunai
yang ditaksir sejumlah
Rp149.997.836.943, 47.471 dolar AS, 24.000 Won Korea, 1.480 Baht Thailand, 3.000 Dong Vietnam, dan 25.476 Ringgit Malaysia. Selain itu terdapat uang di rekening bank senilai Rp1.875.277.459
dan 2.200 dolar AS. Alat transportasi seperti mobil dan motor juga menjadi aset yang dirampas untuk negara, di mana terdapat 8 putusan di mana mobil dirampas, dan 7 putusan di mana motor dirampas. Adapun nilai taksiran dari beberapa aset yang dirampas untuk negara tersebut belum bisa ditaksir dalam penelitian ini.
3.2.4 Karakteristik Berdasarkan Sebaran Wilayah
Berdasarkan hasil Penilaian Risiko Nasional Pencucian Uang (National Risk Assesment on Money Laundering) Indonesia Tahun 2015, diketahui bahwa terdapat beberapa wilayah yang paling berisiko terjadinya tindak pidana pencucian uang, diantaranya adalah DKI Jakarta yang merupakan wilayah paling berisiko tinggi, diikuti dengan provinsi Jawa Timur, Papua, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Bengkulu dan Bali yang berisiko menengah terjadinya TPPU di Indonesia.
Dalam riset ini juga akan dilihat keterkaitan wilayah yakni suatu provinsi dengan tindak pidana pencucian uang.
Adapun pada putusan pengadilan, keterkaitan suatu provinsi terletak pada daerah/provinsi di mana tindak pidana tersebut disidangkan. Perhitungan jumlah putusan dari setiap wilayah didasarkan kepada tingkat pengadilan negeri dari putusan, karena jika diambil tingkat tertinggi, Mahkamah Agung berada di wilayah provinsi DKI Jakarta sehingga dapat menimbulkan bias terhadap risiko wilayah DKI Jakarta. Adapun wilayah- wilayah yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang berdasarkan putusan pengadilan tahun 2017 adalah sebagai berikut
LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018 44 Gambar 12
Sebaran Tertinggi Wilayah Putusan Pencucian Uang Tahun 2017
Berdasarkan basis data putusan perkara pencucian uang tahun 2017 terdapat 16 Provinsi sebaran wilayah putusan perkara pencucian uang selama tahun 2017.
Sebagian besar putusan perkara pencucian uang tersebut berada di DKI Jakarta sebanyak 6 putusan (17,1%). Hal ini sesuai dengan gambaran wilayah berisiko tinggi berdasarkan hasil Penilaian Risiko Nasional Pencucian Uang (National Risk Assesment on Money Laundering) Indonesia, di mana pada dokumen tersebut diketahui bahwa DKI Jakarta adalah wilayah paling berisiko tinggi terjadinya tindak pidana pencucian uang.
Provinsi selanjutnya yang banyak terdapat perkara pencucian uang adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah (masing-masing 5 putusan, 14,3%; atau total 10 putusan, 28,6%); Aceh, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat (masing-masing 2 putusan, masing- masing 2,86% atau total 10 putusan, 28,6%); DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Maluku, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan masing-masing sebanyak 1 putusan atau total 9 putusan, (masing-masing 2,8%
atau total 25,7%) 3 Jawa Tengah
15%
1
DKI Jakarta 18%2
Jawa Barat 15%
45 LAPORAN RISET TIPOLOGI 2018