• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya Relief pada Era Sezaman

BAGIAN II BAGIAN II

3. Karya Relief pada Era Sezaman

Keterpaduan antara seni relief dan arsitektur mencapai puncaknya di Kota Roma. Sebagian melekat pada gereja- gereja tua, sebagian lain pada bangunan istana dan bangunan penting lainnya, seperti di The Arch of Titus, yaitu gerbang berbentuk lengkung yang seluruhnya dipenuhi oleh relief dasar dan The Arch of Constantine yang dipenuhi oleh relief sebagai wajah utama dari gerbang tersebut. Puncak keindahan seni relief dan arsitektur tercitra di Museum Vatican. Tidak hanya gedungnya yang megah dan besar serta taman yang hijau, tetapi gaya arsitektur klasiknya dengan pilar-pilar khas, bertaut dengan ornamen relief dan patung-patung figur juga sangat menarik. Bahkan, tidak hanya ribuan lukisan tergantung di dinding, langit-langit gedung tersebut juga dipenuhi oleh karya-karya seniman abad pencerahan, seperti Michelangelo, Raphael, Sandro Bottice Glli, dan Pietro Perugino.

Gerakan Arsitektur Modern yang berembus pada era 1960-an telah mengubah cara memandang keindahan dalam arsitektur melalui penyederhanaan dekoratifnya.

Akan tetapi, karena keindahannya, seni relief masih disukai sebagai unsur dekoratif yang disesuaikan dengan gaya bangunan modern pada kota-kota yang dibangun sekitar 1960-an.

monumen di berbagai kota yang ditujukan untuk menumbuhkan kecintaan kepada para pahlawan nasional untuk membangkitkan semangat perjuangan dalam mewujudkan kejayaan negara melalui penggalian potensi keelokan Indonesia dalam segala hal, termasuk mewujudkannya dalam sejumlah karya seni relief.

Tercatat pada tahun 1952 sebelum sayembara Perancangan Tugu Monas digelar, ternyata Presiden Soekarno telah memerintahkan pembangunan beberapa tugu yang menyerupai bentuk paku dudur, paku terbalik atau bentuk obelisk, antara lain 1) Tugu Muda di Kota Semarang, 2) Tugu Pahlawan di Kota Surabaya, 3) Tugu Alun-Alun Bunder di Kota Malang, 4) Tugu Seguntang di Kota Palembang, dan 5) Tugu Trikora di Kota Ambon (Ardhiati, 2013). Khusus seni relief yang dilekatkan di sekeliling tugu, terjejak pada Tugu Simpang Lima di Semarang karya Edhi Sunarso dan relief batu sebagai sabuk pengikat tiang Tugu Pahlawan di kota Surabaya (Ardhiati, 2013).

Sebagai puncaknya, relief yang dipahatkan, baik di atas media beton maupun batu andesit yang berlangsung sepanjang tahun 1957--1966 merupakan karya relief yang menjadi kesatuan melekat dari bangunan/arsitektur (Ardhiati, 2013).

Periode perwujudan karya tiga relief di Bandara Kemayoran tertuang di dalam prasasti sudut kanan karya relief. Prasasti yang bertahun 1957 menunjukkan hasil karya seniman SIM Seniman Indonesia Muda di Yogyakarta berdasar pada skenario cerita dari Harijadi S.

(IVAA, 2019). Dalam deskripsinya, IVAA mengungkapkan bahwa relief yang digarap pada tahun 1957 sebagai karya para guru dari Seniman Indonesia Muda (SIM), antara lain, ialah S. Soedjojono, Harijadi S., dan R.M. Soerono.

Ketiga seniman tersebut dibantu oleh para muridnya, antara lain Darmi S., Djakaria S., Marah Djibal, Sudariyo, Sudibyo, Chaidir, dan Darmo S.

Sumber dalam pengungkapan secara tekstual sangatlah terbatas, seperti yang telah disampaikan tentang eksklusifnya peran Ruang VIP Bandara Kemayoran yang tidak dapat diakses oleh publik sebagaimana diuraikan pada bagian pertama buku ini. Maka, pemahaman yang terkait dengan karya relief semula diharapkan dapat diperoleh dari keluarga para seniman yang terlibat, yaitu keluarga seniman R.M. Soerono, Harijadi S., dan S.

Soedjojono. Harapan itu terjawab melalui wawancara dengan Santu Wirono dan buku monograf karya Ireng Laras Sari sebagai putra dan putri seniman Harjadi S.

Disebutkan oleh Ireng Laras Sari, bahwa pada sekitar tahun 1958--1959, tepatnya setelah menyelesaikan relief di Bandara Kemayoran, Harijadi S. dengan kelompok seniman Selobinagun Bangirejo Yogyakarta telah ditugasi oleh Presiden Soekarno untuk mempercantik Bandara Adisucipto di Yogyakarta dengan relief batu bertajuk Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang sebagai visualisasi cerita mitos di Jawa Tengah (Sari, 2019).

Namun disayangkan, relief yang pernah menghiasi Bandara Adisucipto saat ini sudah tidak berbekas lagi (Wirono, 2019). Pengaruh karya seni relief bernuansa

“keindonesiaan” yang dipahatkan ke dalam material batu yang lebih awet, yaitu pada batu andesit, semacam batu keras yang acap kali digunakan sebagai pembuatan candi di Jawa dan Bali. Cara menoreh karya relief di atas batu andesit tersebut diusulkan oleh Harijadi S. dengan seniman Sanggar Selabintana Yogyakarta kepada Presiden Soekarno. Untuk memperoleh pembahasan yang lebih

Gambar 49.

Museum Perjuangan Indonesia, Yogyakarta. Di dalamnya terdapat relief sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan patung pahlawan nasional karya seniman dari Seniman Indonesia Muda.

(Sumber: Kompasiana, 2018) Gambar 50.

Harijadi S. disela-sela memahat relief Bandung Bondowoso, Adisucipto Meguwo Yogyakarta, 1959. (Dok. Santu Wirono, 2019)

Gambar 52.

Harijadi S. sedang memahat relief Bandung Bondowoso, Adisucipto Meguwo Yogyakarta, 1959.

(Dok. Santu Wirono, 2019) Gambar 51.

Dua putri Harijadi S.

di depan relief Bandung Bondowoso, Adisucipto Meguwo Yogyakarta, 1959. (Dok. Santu Wirono, 2019)

Keterangan: gambar searah jarum jam

Gambar 54.

Relief Batu Candi karya Edhi Sunarso pada Tugu Simpang Lima Semarang, 1952 (Dok. Setneg RI, 2012)

Gambar 53.

Relief pada Tugu Pahlawan Surabaya, 1952 (Dok. Setneg RI, 2012)

luas, kelak sepilihan karya relief karya Harijadi S. dengan batu andesit diangkat secara terpisah dari pembahasan di buku ini.

Dapatlah dimengerti ketika era 1960-an sejumlah usulan relief batu andesit anggitan Harijadi S. dan seniman Sanggar Selabintana disetujui oleh Presiden Soekarno. Para seniman kelompok ini dinilai telah menjiwai konsepsi keindonesiaan untuk menggubah ornamen-ornamen di seluruh Hotel Indonesia Group (sekarang Natour Group), antara lain 1) Hotel Indonesia- Kempinski, 2) Hotel Samodra Beach di Pelabuhan Ratu, 3) Hotel Ambarukmo Palace di Yogyakarta, dan 4) Hotel Bali Beach di Sanur Denpasar. Pada dinding muka bangunan Hotel Indonesia di Jakarta yang kini bermitra dengan operator Hotel Kempinski itu terdapat sebuah panel

batu andesit seluas 67,76 meter persegi yang termasuk kategori relief dasar. Relief batu andesit bertajuk “Pesta Pura di Bali” dikerjakan oleh sekitar 50 orang pada rentang waktu 1962 hingga 1964 (Sari, 2019). Sementara itu, pada dinding lobi Hotel Samodra Beach di Pelabuhan Ratu terdapat sebuah relief batu menghadap ke arah

kolam dan sebuah relief kayu, karya seniman Darmo S., seluas 13 meter persegi yang bertajuk “Air Laut” yang diselesaikan pada tahun 1965 (Sari, 2019).

Sementara itu, pada lobi utama Hotel Ambarukmo Palace di Yogyakarta ada sebuah panel batu andesit seluas 44,25 meter dengan ketinggian setinggi plafon

Gambar 55.

Relief batu “Ombak Sepanjang Pantai

di dinding lobi Hotel Grand Inna Samudra Beach di Pelabuhan Ratu (Dok. Yuke Ardhiati, 2005)

Gambar: 56.

Relief dari batu andesit bertajuk

“Pesta Pura di Bali” karya Harijadi S. di Hotel Indonesia -Kempinski (Dok. Yuke Ardhiati, 2005)

hotel. Karya relief dasar bertajuk “Untung Rugi di Lereng Merapi” dilaksanakan sekitar tahun 1964 (Sari, 2019). Sebentang karya relief dari batu andesit karya Harijadi S. dipahatkan di halaman depan Hotel Bali Beach di Sanur Denpasar. Tokoh utama dari relief ini adalah sosok Presiden Soekarno yang sedang menggendong seorang anak kecil (Ardhiati, 2005).

Setelah menyaksikan corak relief batu yang diwujudkan sebagai elemen estetik luar pada bangunan Hotel Indonesia Group pada masa itu, tidak dapat dimungkiri apabila upaya mewujudkan gerakan pembangunan karakter bangsa dari Presiden Soekarno telah melekat pada konsepsi para seniman relief yang ditugasinya, yaitu memiliki pengaruh langsung dari beberapa perwujudan relief pada dinding-dinding candi di Jawa dan Bali.

Ketika keberadaan ketiga karya relief di Bandara Kemayoran itu mengemuk a kembali, publik memperbincangkannya melalui jagad maya (IVAA, 2019) meskipun secara arsip tekstual, judul serta pembahasan tentang ketiganya belum terungkap.

Namun, narasi yang disampaikan oleh keluarga Harijadi S. telah membukakan pintu pemahaman yang sangat komperhensif. Ketiga karya relief di Ruang VIP Bandara Kemayoran merupakan benang merah keindonesiaan sebagaimana gagasan Presiden Soekarno. Untuk memudahkan pembahasan, ketiga karya relief ini dinamai sesuai dengan tema yang diangkat ke dalamnya, yaitu dengan nama 1) “Balada Sangkuriang” untuk menyebut karya relief beton karya R.M. Soerono, 2) “Manusia Indonesia” untuk menyebut karya S. Soedjojono, dan 3) “Flora dan Fauna Indonesia” untuk karya Harijadi S.

Gambar 57.

Relief dari batu andesit bertajuk

“Untung Rugi di Lereng Merapi”

karya Harijadi S. di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta (Dok. Hanif Budiman, 2019)

Gambar 58.

Relief Dangkal batu andesit karya Harijadi S. di Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur (Dok. Ditkes, 2019)

FOTO SISIPAN

(foto full pemisah bagian)

Gambar 59.

Pengerjaan Relief Balada Sangkuriang