• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAU TERLALU MENCINTAINYA

Dalam dokumen Tere Liye - Sunset Bersama Rosie (Halaman 99-115)

Clarice tidak sedang berbohong ketika ia bilang punya kenalan dokter spesialis kejiwaan yang hebat. Helikopter itu tidak mendarat di Denpasar.

Helikopter itu mengarah ke utara, mengarah ke situs GWK, mendekati sekitaran pantai dreamland. Di situ ada shelter. Sebutan lain untuk pusat rehabilitasi

kejiwaan. Milik sebuah yayasan. Setelah kuingat-ingat, aku pernah

mendengarnya dari kalimat-kalimat Frans saat bergurau tentang rekan kerja yang stres. Masalahnya dulu aku tidak menyadari kalau Frans berkata serius. Aku pikir semua ucapannya hanya gurauan, selingan dari penatnya pekerjaan kantor.

Shelter itu tidak besar. Tidak juga kecil. Bentuknya malah mirip resor, pilihan yang bagus untuk berakhir pekan. Nyaman. Ada lima bangunan di tanah seluas satu hektare. Satu yang paling besar terletak persis di tengah. Taman bunga terlihat indah di tengah hamparan rumput hijau yang terpotong rapi, seperti

lapangan bola ukuran mini. Aku mengusap wajah, sambil sejak lima puluh menit lalu terus memeluk kepala Jasmine, yang sibuk menatap sedih wajah kosong ibunya sambil memainkan ujung baju.

“Apa Rosie harus dibawa ke sana?” Aku mendesah pelan.

Clarice yang duduk di depanku menoleh, tersenyum, ia mengerti benar maksud pertanyaanku. Bagaimana mungkin Rosie dibawa ke pusat rehabilitasi mental? Bukankah ia hanya depresi? Tidak gila.

“Tempat itu bukan hanya untuk menangani orang-orang tidak beruntung, Tegar,” Clarice memilih istilah yang lebih halus, “Percaya atau tidak, saat Ethan meninggal dunia, aku juga menghabiskan waktu dua minggu di sini.

Menenangkan segala penat. Tempat yang bagus untuk membuat pikiran jernih, memusatkan energi, dan semacamnya. Percayalah, tempat ini sama seperti tempat relaksasi lainnya, kau seharusnya tidak terlalu risih melihatnya.”

Aku menelan ludah, menatap Rosie yang duduk di sebelah. Wanita berumur tiga puluh lima tahun itu hanya menatap kosong, tanpa ekspresi. Tangan kananku merengkuh bahunya. Rosie menoleh. Aku tersenyum, “Kau akan baik-baik saja, Ros.” Berbisik pelan.

Jasmine masih memainkan ujung bajunya.

Smith mendorong tuas kemudi ke bawah. Helikopter yang mengambang sejenak di atas halaman shelter perlahan bergerak turun.

“Berdoalah ini semua tidak akan lama. Berdoalah Rosie cepat pulih.” Clarice melepas sabuk-pengaman, tersenyum, membuka pintu.

Beberapa perawat shelter berlarian mendekati helikopter. Membantu menurunkan Rosie. Clarice sudah menelepon kenalannya bahkan sebelum

berangkat menjemput ke Gili. Aku menggendong Jasmine, membantunya turun, lantas berjalan menuju bangunan paling besar sambil menggenggam erat

jemarinya. Mata Jasmine penuh pertanyaan. Sayang, aku juga punya sejuta pertanyaan yang belum terjawab. Jadi kami melangkah dengan diam, mengikuti perawat yang memapah Rosie. Langkah-langkah kecil.

Kalau saja urusan ini lebih menyenangkan, pemandangan di tempat

rehabilitasi ini bukan main, persis terletak di tubir pantai yang berbentuk cadas setinggi tiga puluh meter, dan di bawah cadas itu, terbentang hamparan pasir dan ombak yang silih-berganti berdebam menghantam dinding jurang. Halaman shelter dipenuhi bunga-bunga indah dengan pohon cemara yang tertata rapi.

Shelter ini tidak terpencil, sepelemparan batu di dekatnya, rumah-rumah penduduk dengan bentuk khas berjejer rapi. Gapura berwarna keemasannya terlihat elok. Berpadu dengan kabut yang masih mengambang di sela-sela pohon.

Sepagi ini, perkampungan yang dibelah jalan raya besar tersebut lengang.

Hanya suara kayu sedang diukir yang terdengar, atau nyanyian ritual sesaji, atau senandung anak gadis yang menyiapkan keperluan rumah. Asap mengepul dari dapur-dapur. Bergabung dengan kabut. Aku menghela napas. Seharusnya ini jadi tempat berakhir pekan yang nyaman, bukan tempat rehabilitasi mental.

Clarice mengenalkanku pada dokter hebat itu.

Aku menelan ludah. Kupikir laki-laki, ternyata wanita. Kupikir tua, wajahnya terlihat serius, kacamata tebal, ekspresi muka kaku, pakaian putih, dan entahlah.

Ternyata masih muda, tidak jauh denganku. Cantik. Aku sedikit kebas melihat wajahnya. Tidak ada kacamata. Wajahnya tersenyum, berpakaian seperti layaknya wanita yang sedang menghabiskan waktu menikmati pantai di senja hari.

Namanya Ayasa. Dokter Ayasa.

Sepertinya Clarice sudah menjelaskan banyak hal sebelum kami tiba. Dokter itu tidak banyak bertanya, lembut menerima Rosie dari tangan perawat.

Membimbingnya masuk ke ruangan kerjanya. Ruangan itu luas. Dipenuhi dengan sofa pasir berbentuk seperti tumpukan batu. Sofa yang berubah bentuk saat duduk di atasnya, mengikuti bentuk tubuh.

“Anak manis, siapa namamu?” Ayasa menyentuh lembut Jasmine, memecah keheningan sesaat saat semuanya sudah masuk ruangan.

Rosie duduk di salah satu kursi. Menatap datar.

Jasmine yang duduk di pangkuanku menyeringai, tidak merasa ditanya. Aku menepuk bahunya. Jasmine menatap wajah Ayasa lamat-lamat, pelan menyebut nama.

“Kau mau segelas cokelat panas?” Ayasa bertanya.

Sebelum Jasmine menggeleng atau mengangguk, ia sudah menyuruh salah- seorang perawat menyiapkan minuman itu.

“Dan siapa pemuda ini?” Ayasa bertanya kepadaku, tersenyum, bergurau,

“Apakah ini Paman, Uncle, Om yang hebat itu?” Ayasa menatap Clarice.

Clarice tertawa kecil. Mengangguk.

Aku sedikit menyumpahi Clarice. Ia bercerita terlalu banyak.

“Aku amat prihatin dengan situasi ini.” Ayasa menangkupkan tangannya, melupakan gurauan barusan, “Dan kau, kau harus melihat semua hal

menyedihkan ini, bukan.” Ayasa menatap lembut Jasmine.

“Boleh Bibi memelukmu? Ah ya kau mau memanggil Bibi, bukan?” Ayasa turun dari sofa, mendekati Jasmine, jongkok di hadapannya.

Aku menepuk bahu Jasmine lagi. Jasmine bingung. “Boleh Bibi memelukmu, Jasmine?” Jasmine menoleh kepadaku. Ragu-ragu. Aku juga tidak mengerti.

Tangan Ayasa sudah terjulur. Aku mencium rambut Jasmine, berbisik, tidak apa- apa. Jasmine turun dari sofa. Ayasa tersenyum tulus, lantas merengkuhnya erat- erat. Mengelus rambut ikal Jasmine.

Esok-lusa aku baru tahu kalau pelukan itu salah-satu terapi yang penting, yang sekaligus membuatku yakin, Ayasa benar-benar dokter yang hebat. Jasmine memerlukan kepercayaan besar. Jasmine tidak mengerti banyak, tetapi ia tahu, ibunya akan tinggal di shelter ini. Jasmine tidak mengerti definisi depresi akut yang menimpa Rosie, tapi Jasmine tahu ibunya akan sendiri. Jasmine harus mempercayai kalau tempat ini memberikan janji kesembuhan bagi ibunya, dan pelukan Ayasa menjadi simbol yang indah.

Perawat datang mengantarkan lima gelas cokelat panas. Sejauh ini Ayasa belum mengajak bicara Rosie, hanya mengamati selintas. Ia lebih asyik bertanya pada Jasmine, sekali-dua bertanya padaku, lebih sedikit bertanya pada Clarice.

Satu jam berlalu cepat, gelas cokelat Jasmine sudah habis.

“Baiklah, kita akhirnya tiba di bagian yang tidak menyenangkan.” Ayasa tersenyum ke arah Jasmine, “Jasmine, seperti yang kau bisa tebak, ibumu harus tinggal di sini. Bersama Bibi Ayasa. Kau bisa menitipkan ibumu ke Bibi,

bukan?”

Jasmine refleks hendak menggeleng. Aku mengusap rambut ikalnya. Jasmine menoleh padaku, menoleh, menatap lama ibunya yang masih tepekur kosong.

Menunduk.

Aku menghela napas lega.

“Terima kasih, Sayang.” Ayasa meraih jari kecil Jasmine. “Bibi janji, akan mengurus ibumu dengan baik. Tetapi Bibi tidak tahu hingga kapan ibumu harus tinggal di sini. Nah, selama ibumu tinggal di sini, kau akan terus menjadi anak yang baik. Kau akan memberitahu Kak Anggrek, Kak Sakura, Lili, dan Oma kalau ibumu tinggal bersama Bibi Ayasa. Kalian bisa mengunjunginya kapan saja, nanti Bibi Ayasa siapkan cokelat panas, lezat bukan? Tidak ada yang bisa mengalahkan cokelat milik Bibi Ayasa.” Ayasa tersenyum.

Aku menelan ludah, menatap Ayasa lamat-lamat. Ternyata ia amat pandai mengendalikan anak-anak.

Setengah jam kemudian habis untuk mengurus berkas-berkas. Mengantar Rosie menuju kamarnya. Kamar yang indah. Meski tetap saja risih memikirkan Rosie akan menginap di sini. Di shelter. Tak pernah terbayangkan.

Jasmine memeluk erat ibunya saat pulang. Rosie membalas pelukan itu.

Menatap sedih anaknya. Tidak. Jasmine tidak menangis. Jasmine hanya

menyeka ujung matanya yang berair. Setelah merajuk sebelum berangkat tadi, setelah melihat banyak potongan penjelasan, terutama dari Ayasa, setelah berpikir, Jasmine bisa merangkai sebuah penjelasan yang lebih baik.

Anak-anak yang cerdas, anak-anak yang dibiarkan berpikir dengan caranya sendiri, bisa dengan lebih mudah memahami sebuah masalah. Dan bagi Jasmine, urusan berpisah pagi ini sederhana saja, ia tidak ingin ibunya melihatnya

menangis. Ia ingin ibunya tahu kalau Jasmine baik-baik saja. Hanya itu. Maka Jasmine berusaha menahan sedan.

Smith menghidupkan helikopter. Baling-baling mulai bergerak kencang.

Clarice memeluk Ayasa. Aku bersiap naik. Ayasa mendekatiku.

“Kau mungkin tidak pernah mendapatkan pendidikan psikolog, Tegar. Kau mungkin juga tidak berbakat menjadi psikiater,” Ayasa tertawa kecil, bergurau,

“Tetapi kau dokter terbaik yang dimiliki anak-anak itu, Tegar. Kau adalah paman paling hebat, keren, dan super bagi mereka. Kalau ada orang yang bisa

membawa anak-anak itu melewati masa-masa sulit ini, maka kaulah orangnya.”

Aku menelan ludah.

“Kau penting bagi mereka. Berharga seratus kali lipat dibandingkan psikiater anak-anak ternama. Karena kau amat mencintai mereka. Itu modal hebat untuk membuat anak-anak itu kembali menjejak hari-hari mereka. Ah, sayang, aku tidak kecil lagi seperti mereka. Akan menyenangkan sekali kalau aku bisa memiliki Paman sebaik dan setampan kau.” Ayasa mengangkat bahunya, pura- pura kecewa sekali.

Aku tertawa, untuk pertama kalinya bisa tertawa rileks.

Sekejap sudah loncat ke atas helikopter. Sekejap helikopter itu sudah melesat, merobek kabut di tubir cadas pantai. Pagi ini, aku menitipkan Rosie di tangan terbaik. Tidak ada janji kapan Rosie akan pulih, tetapi menyaksikan shelter ini, berkenalan dengan Dokter Ayasa, sedikit banyak gundah itu terusir di hati. Rosie akan baik-baik saja. Anak-anak juga akan baik-baik saja.

Apa kata Ayasa tadi? Kau adalah paman paling hebat, keren, dan super bagi mereka. Aku tersenyum, mendekap kepala Jasmine erat-erat. Itu selalu benar.

Belum pernah aku melihat berjuta pertanyaan dari mata Sakura seperti sekarang, siap terlontarkan kapan saja. Helikopter kembali ke Gili Trawangan lepas tengah hari. Smith dan Clarice kembali ke Denpasar setelah singgah menghabiskan segelas orange squash buatan Anggrek. Turis-turis itu senang bertemu dengan Clarice. Bergurau di halaman resor. Aku memutuskan bergabung sebentar.

Lian melaporkan kedatangan sepasang turis dari Hongkong. Baru pertama kali datang ke resor karena rekomendasi kolega di sana, berharap menghabiskan bulan madu dengan menyelam di antara tebaran terumbu karang, berenang di antara penyu dan formasi ribuan ikan, atau berjemur di hamparan pasir. Aku mengangguk, menyuruh Lian menyiapkan acara selamat datang khas resor.

Semoga perjalanan jauh spesial mereka tidak sia-sia oleh kesedihan ini.

Mitchell menawarkan diri menjadi pemimpin acara nanti malam. Aku tertawa kecil, itu berarti sial besar untuk pasangan bulan-madu itu. Dulu Mitchell benar- benar tertipu saat mengikuti acara tak-terlupakan pertamanya. Dan sejak hari itu ia bersumpah untuk membalas ke setiap turis baru lain. Mitchell mengangkat bahu, ‘Hei! Aku tidak berniat jahat pada siapa pun.’ Turis lain justru tertawa.

Tentu saja, acara yang muasalnya dibuat Nathan itu tidak pernah berniat jahat, hanya welcome games (yang sedikit berlebihan). Membuat semua turis yang pertama kali datang ke Gili Trawangan punya kenangan indah. Dijahili turis lain, seperti ospek, plonco penghuni baru.

Sepanjang sore, Sakura menatapku dua-tiga kali melewati ruang depan resor.

Ragu-ragu mendekat. Ragu-ragu menyapa. Aku hanya meliriknya sekilas. Nanti akan Uncle jelaskan, jangan sekarang. Uncle masih perlu waktu, tempat, dan suasana yang tepat. Jasmine sudah sibuk mengurus Lili, menyuapi adiknya.

Anggrek membantu Oma membereskan kamar. Sekali-dua aku mendapati Jasmine bicara dengan Sakura. Entahlah.

Mereka berempat menjelang matahari tenggelam melangkah di sepanjang bibir pantai. Anggrek mendorong kursi roda Sakura. Jasmine mengencangkan selendang Lili. Berjalan bersisian. Melihat dari gesture muka, tidak banyak yang mereka bicarakan. Aku menghela napas, membiarkan kebersamaan mereka, yang amat mengharukan.

Aku menyempatkan mengunjungi tamu dari Hongkong itu. Mereka tidak lancar berbahasa Inggris. Jadi sedikit rumit menjelaskan soal acara selamat-

datang nanti malam. Nakamura-san membantu. Lebih banyak tertawa

dibandingkan menerjemahkan. Pasangan itu terlihat takut-takut, bersitatap satu sama lain. Tetapi menurut. Bertanya patah-patah dress-code. Aku hanya bilang, apa-saja asal nyaman dipakai.

Sunset membungkus Gili Trawangan. Turis-turis berkumpul di pantai, menikmati senja. Anak-anak kecil penduduk setempat berkejaran bermain air, sekalian mandi sore. Keempat kuntum bunga Rosie ikut berdiri di sana. Lian bersama pelayan lain menyiapkan bangku-bangku di pantai. Makan malam bersama di pantai. Ada banyak menu tersedia.

Anak-anak ikut makan malam. Aku menyampaikan welcome speech, ini juga tradisi resor, sepasang turis Hongkong berpelukan bahagia. Merasa senang dengan semua sambutan. Sungguh pasangan yang bahagia. Cahaya muka mereka membuat kemilau api unggun terasa redup.

Makan malam usai, anak-anak terlihat kehilangan selera bergabung dengan mereka, padahal acara seperti ini lazimnya ditunggu-tunggu Sakura. Aku mengerti tatapan mereka. Sudah saatnya penjelasan itu datang. Melambaikan tangan kepada Mitchell. Izin pamit. Mitchell menggerakkan tangannya, serahkan padaku, tertawa.

Kemeriahan, termasuk ketegangan, mulai diskenariokan di tepi pantai.

Sementara aku mendorong kursi roda Sakura menuju halaman resor. Jasmine menggendong Lili berjalan di sebelahku. Anggrek membawa botol susu. Aku melangkah menuju hutan buatan Nathan. Malam beranjak naik, mungkin pukul 20.30, bulan semakin gompal. Ribuan formasi bintang terlihat memesona. Angin pantai lembut menyentuh pundak, menelisik daun kuping. Hutan buatan yang indah, luasnya setengah hektare, ditanami dengan pohon besar-besar, seperti hutan di kaki Gunung Rinjani.

Kunang-kunang terbang melintas.

Aku menghentikan langkah. Ada bongkahan batu besar yang berserak. Duduk di salah-satunya. Jasmine ikut-ikutan duduk, melepas selendang Lili. Anggrek duduk di batu lainnya. Meletakkan botol susu Lili. Kursi roda Sakura merapat dekat Anggrek.

Suara teriakan antusias dan setengah takut, dari pantai terdengar samar.

Sepertinya Mitchell sudah beraksi. Hening sejenak. Hanya desing kunang-

kunang di bawah redup lampu taman yang mengundang perhatian.

Anggrek lagi-lagi menggurat bebatuan dengan ujung jemarinya.

“Om tidak suka itu.” Aku memecah senyap. Anggrek mengangkat kepalanya.

Apa? “Om tidak suka lihat Anggrek melakukan pekerjaan yang tidak ada gunanya itu.” Aku menatap Anggrek tajam.

Gadis kecil itu tertunduk. Menyadari apa maksud kalimatku barusan. Takut- takut menarik tangannya. Aku menghela napas, menatap Anggrek lebih baik.

Tidak mudah menjelaskan ini semua. Aku kehabisan ide dongeng bagi mereka.

Lagipula bercerita mungkin tidak tepat. Tetapi aku harus menjelaskan banyak hal, malam ini juga. “Bulan ini usia Anggrek berapa tahun?” Anggrek

mengangkat kepalanya. Bingung. Bukannya Om selalu ingat ulang tahun kami.

Kasih hadiah yang bagus-bagus.

“Berapa tahun?” Aku bertanya dengan intonasi terkendali.

“Dua belas.” Gadis kecil itu menjawab pendek.

“Sakura?” Aku menoleh ke Sakura.

“Sembilan.”

“Jasmine?”

“Lima.”

“Dan Lili satu tahun. Kalian sungguh masih amat muda bagi kebanyakan orang.” Aku menelan ludah, berhenti sejenak. Ketiga gadis kecil itu menatapku lekat-lekat, “Tapi bagi Om, Uncle, Paman, kalian jauh lebih besar dibandingkan umur-umur itu, jauh lebih besar. Kalian mungkin tidak akan mengerti apa yang akan Paman katakan. Belum. Tetapi malam ini Paman akan menjelaskan banyak hal. Menyakitkan. Mungkin. Paman juga tidak tahu seberapa menyakitkan ini bagi kalian. Tetapi kalian harus tahu, harus siap, harus bisa melewatinya.”

Sakura dan Anggrek berpandangan. Jasmine menunduk.

“Kalian lihat kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah. Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor kunang-kunang hanya

bisa menyalakan ekornya semalaman, esok-pagi, saat matahari datang menerpa hutan kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi.

Tetapi mereka tidak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Mereka tidak pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu. Memberi terang sekitarnya.”

Aku menelan ludah. Entahlah, apa mereka mengerti ucapan itu. Aku juga tidak tahu persis apakah fakta tentang kunang-kunang yang kusampaikan juga benar.

“Kalian lihat lilin-lilin merah yang dinyalakan Om Lian di resor. Indah.

Cahaya kerlap-kerlip. Lilin itu membakar tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli kalau itu menyakiti kita. Lilin ini hanya hidup semalam, lantas setelah seluruh batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.

“Anggrek, Sakura, Jasmine, ayah kalian sudah pergi. Selamanya. Demi Tuhan, andaikata Paman diberikan kekuatan membalik dunia, maka Paman akan

melakukannya untuk mengembalikan ayah kalian. Tetapi itu tidak bisa dilakukan. Paman tidak bisa melakukan itu… Tidak akan pernah bisa.” Aku mendongak, entah mengapa semua kalimat ini tiba-tiba justru menusuk hatiku sendiri, menoreh luka lama.

Andaikata aku diberikan kekuatan membalik dunia, maka aku akan melakukannya, menyampaikan perasaan cinta itu jauh-jauh hari sebelum kejadian di puncak Gunung Rinjani. Sebelum semuanya terlambat.

“Anggrek, Sakura, Jasmine, ayah kalian pergi seperti lilin yang padam. Seperti kunang-kunang yang padam. Tetapi dia pergi setelah mengeluarkan cahaya yang indah. Membesarkan kalian dengan kasih-sayang. Membesarkan kalian dengan baik.” Aku menggigit bibir berusaha berkata-kata dengan intonasi terkendali.

Jasmine mulai terisak. Sakura menyeka matanya. Anggrek terdiam.

“Kalian tidak sepatutnya sedih atas kepergiannya, kalian seharusnya bangga.

Karena Ayah kalian sudah menyelesaikan banyak hal baik. Lihatlah, semua bagian resor ini adalah pekerjaan yang telah diselesaikan Nathan. Kita bisa menjejak setiap pekerjaannya. Apa yang sering Nathan bilang ke kalian, jadilah

anak yang baik. Anak anak yang membanggakan. Itu artinya Ayah kalian

berharap setelah kepergiannya, Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili tetap menjadi sama baiknya seperti sebelumnya, tetap sama membanggakannya seperti

sebelumnya.”

Jasmine sekarang sudah hampir menangis.

“Kemarilah, Jasmine. Kemari!” Aku menjulurkan tangan, Jasmine sudah tak kuasa menahan tangisnya, bergetar memeluk adiknya. Anggrek lemah

mengambil Lili dari gendongannya, dan Jasmine menghambur memelukku.

“Kau, kau amat membanggakan Nathan, Jasmine. Nathan pernah bilang, kalau suatu saat ada seorang anak gadis yang begitu baik, begitu cantik, bagai peri-peri dalam dongeng Pamannya maka itu adalah Jasmine. Kalau ada putri yang layak memakai mahkota tiara itu adalah kau, sungguh adalah kau.” Aku mengelus rambut ikal Jasmine. Ya Tuhan, aku tidak kuasa untuk menahan air-mataku tumpah.

Jasmine terisak di pelukanku.

Sakura membuang ingus. Anggrek tertunduk. Satu tetes air-matanya jatuh di pipi Lili yang tertidur. Anggrek gemetar menghapusnya.

“Tiga hari lalu, saat Paman menceritakan tentang Putri Nelayan, kita sudah bersepakat untuk melanjutkan hari dengan riang. Sakura juga sudah pulang dengan wajah riang. Kalian benar-benar anak yang hebat. Mengerti banyak hal dengan baik. Paman berpikir kita akan dengan mudah melewati ombak itu seperti menaiki kapal-cepat, melakukan manuver hebat. Paman pikir kita bisa melanjutkan hari dengan senang. Sekolah. Membantu Oma. Bermain internet.

Belajar menulis, menyulam, penyelam melihat penyu, menaiki Gunung Rinjani.”

Aku berhenti sejenak, mengusap pipi Jasmine yang berlinang air-mata.

“Tapi hari ini, ternyata Paman keliru. Kalian melihat sendiri ibu kalian yang cantik meski gendut,” Aku menyeringai, tertawa, amat getir, menatap Jasmine yang suka sekali bilang ibunya gendut, “Hari ini ibu kalian harus dibawa ke rumah-sakit. Kalian pasti menyimpan berjuta pertanyaan, dugaan, tebakan, dan sayangnya apa yang kalian tebak benar, Ibu depresi. Ibu kalian kesulitan

mengendalikan pikirannya.”

“Ibu kalian hari ini dan entah hingga kapan harus menjalani terapi kejiwaan.

Rehabilitasi mental. Paman tidak tahu kapan ibu kalian akan sembuh. Mungkin minggu depan, mungkin bulan depan, mungkin juga tahun depan. Paman

sungguh tidak tahu. Tapi kapan pun ibu kalian sembuh, mulai malam ini kalian hanya berempat di sini. Kalian kehilangan ayah selamanya. Kehilangan ibu entah hingga kapan.”

“Bersedih hati, melamun, menggurat batu, piring, entahlah tidak akan membuatnya lebih baik, Anggrek. Tidak akan membuat seluruh kesedihan itu hilang…. Jasmine, kau tentu masih ingat dulu sering merajuk minta dibelikan boneka beruang besar ke Ibu. Dan Ibu menolaknya karena Jasmine sudah punya terlalu banyak boneka. Apakah dengan merajuk, teriak, protes membuat Ibu akhirnya membelikan boneka? Tidak. Jasmine akhirnya mendapatkan boneka itu justru karena tetap menurut, tetap mau menggendong Lili, tetap jadi anak yang baik. Maka semua ini juga sama. Tetaplah menjadi anak yang baik. Dan semoga Tuhan akan berbuat baik kepada kita.”

“Kita akan melalui semua ini bersama-sama. Paman akan selalu di sini

bersama kalian. Ada Oma. Ada Om Lian Ada Putri. Ada tetangga-tetangga. Ada turis-turis. Kalian memiliki mereka semua. Besok pagi saat matahari terbit kalian akan terus menjadi anak-anak yang riang, polos dan bersemangat. Karena hanya itu yang akan membuat seluruh kejadian menyakitkan ini bisa dilewati dengan mudah. Nanti, nanti setelah Sakura bisa jalan lagi, kita akan mengunjungi Ibu.

Keriangan kalian akan membuat Ibu jauh lebih cepat sembuh.”

Aku diam sejenak, menatap Sakura di atas kursi roda yang sekarang ikut mencengkeram lenganku. Menatap wajah Anggrek yang tertunduk. Jasmine yang masih memelukku.

“Tahukah kalian, dalam banyak hal justru orang dewasalah yang banyak belajar kepada anak kecil. Mencari kekuatan, inspirasi, kebahagiaan melihat kalian. Termasuk Paman, Paman sungguh tak tahu apa yang akan dilakukan jika kalian tidak ada. Paman sungguh sedih dengan ini semua. Ingin rasanya Paman menangis, dan lihatlah Paman sudah menangis.” Aku tertawa getir.

“Tetapi menatap wajah Anggrek, Om jadi tahu bahwa di sini selalu ada janji kebahagiaan. Menatap wajah Sakura, Uncle jadi tahu di sini ada semangat hidup.

Menatap wajah Jasmine, wajah Lili, Paman jadi tahu, kalau Paman akan selalu bersama kalian. Berjanjilah, Nak, kalian akan menjalani semua ini dengan riang.”

Dalam dokumen Tere Liye - Sunset Bersama Rosie (Halaman 99-115)