• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUNANGAN YANG BATAL

Dalam dokumen Tere Liye - Sunset Bersama Rosie (Halaman 35-43)

Selamat pagi.

Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki

pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi;

malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan.

Jasmine sudah terbangun sejak tadi.

Nathan dan Rosie selalu membiasakan anak-anaknya bangun pagi. Clarice datang lagi menjelang subuh. Membawa keperluan. Termasuk susu bubuk dan air panas untuk Lili. Jasmine terampil menyiapkan kebutuhan adiknya. Lili menggeliat beberapa menit kemudian. Mulai merengek ingin minum. Jasmine mengganti popok adiknya, cekatan memasang pampers. Tidak pernah

terbayangkan menyaksikan anak kecil berumur lima tahun itu dengan wajah kosong karena seluruh kesedihan ini melakukan semua itu di sela-sela hingar- bingar koridor rumah sakit.

Jasmine belum mengerti banyak hal, tapi ia paham, mulai hari ini ia akan lebih banyak mengurus adiknya. Anggrek terbangun, dan kembali hanya duduk

memeluk lutut. Keramaian di luar tetap tidak berkurang, meski beberapa korban yang tidak terlalu parah sudah boleh pulang, beberapa kantong mayat sudah mulai diambil keluarganya.

Sepanjang pagi, aku menghubungi petugas rumah sakit. Berbincang sebentar dengan dokter yang merawat Sakura. Memastikan Jasmine dan Lili baik-baik saja. Beberapa petugas rumah sakit masuk ke dalam ruangan, hendak mengurus mayat Nathan. Bersitegang sejenak. Rosie tidak mau melepaskan pegangannya.

Aku berbisik membujuk, “Lihatlah anak-anak, kau tidak ingin mereka lebih sedih dibandingkan kita, bukan?”

Rosie akhirnya tertunduk, pelukannya terlepas. Mayat Nathan dibawa pergi,

diurus. Aku membimbing Rosie duduk di sebelah Jasmine. Wajah cantik wanita berumur tiga puluh lima tahun itu sekarang terlihat merana. Seperti tidak ada lagi sisa-sisa keriangan di sana. Wajah yang begitu riang saat kami dulu berlarian mengejar capung-capung di pematang sawah. Wajah yang begitu tenteram

menatap sunset. Wajah yang tersipu malu saat membicarakan mimpi-mimpi hidupnya. Wajah yang pura-pura mengkal menghadapi ulah empat anaknya, terutama Sakura. Sekarang terlihat sendu. Gurat-gurat kesedihan nampak nyata.

Aku membiarkan Rosie duduk berdiam diri. Made datang. Aku membicarakan beberapa hal. Memintanya menyiapkan peti mayat. Menyiapkan banyak hal.

Siang ini ada banyak pekerjaan yang harus diurus. Tidak mungkin keluarga ini berada terus di rumah-sakit. Made mengangguk. Beranjak keluar ruangan.

Aku melirik tangan, pukul 07.30 waktu Jakarta. Itu berarti pukul 08.30 di sini.

Aku belum sempat menyesuaikan arah jarum besar jam di pergelangan tangan.

Astaga! Aku benar-benar lupa. Bukankah pukul 07.30 hari ini amat penting dalam kehidupanku? Dan persis saat aku menyadari telah melupakan agenda di hari spesial ini, tiba-tiba telepon genggamku berdengking. Siapa lagi yang akan menelepon?

SEKAR. Ia yang meneleponku.

“Kau tidak lupa kalau kita hari ini bertunangan, kan, Tegar.” Suara Sekar terdengar sedikit merajuk.

Aku bagai dicelupkan ke dalam kolam yang dipenuhi batangan-batangan es.

“Ergh.” Suaraku terputus. Kelu. Bagaimana mungkin aku lupa?

“Kau ada di mana, Tegar? Aku sudah menunggu dari tadi, maksudku Papa, Mama, dan seluruh keluarga. Kami menunggu calon tunangan prianya. Kau tahu, kami menunggu dengan wajah harap-harap cemas seperti di film-film itu.”

Suara Sekar terdengar riang.

“Aku, aku ada di Bali.” Tercekat. Semua ini benar-benar membuat lupa.

Kepanikan semalam membuatku lupa kalau hari ini hari penting bagiku.

Pertunangan kami.

Suara riang Sekar mendadak hilang. Lengang.

“Eh, kau tidak tahu apa yang baru terjadi?” Aku buru-buru berusaha menjelaskan. Panik dengan kalimat-kalimat berikutnya. Terbata-bata.

Bagaimanalah Sekar akan tahu? Sepanjang hari ia dan keluarganya sibuk menyiapkan acara pertunangan. Antusias, amat bersemangat malah. Senang dengan janji-janji hidup bersama yang akhirnya ia dapatkan setelah hampir setahun tak kenal lelah membujukku.

“Ada bom di Bali. Kemarin sore. Aku buru-buru ke Bali. Penerbangan tadi malam. Rosie,” Suaraku terputus.

Rosie? Setahun terakhir, bukankah Sekar benci setiap aku mengatakan nama itu di hadapannya. Jadi bagaimana mungkin di pagi yang seharusnya aku

meminangnya, nama itu tersebutkan.

Tidak ada jawaban di telepon seberang sana.

Rosie yang duduk di sebelahku menoleh, menatap. Matanya bertanya redup.

Aku menjawab dengan anggukan. Sekar yang menelepon. Dan urusan sepertinya akan runyam.

“Apa Rosie dan keluarganya menjadi korban?” Sejenak setelah lengang, suara Sekar ternyata tidak berubah menjadi seruan marah. Suara itu, setelah aku

mengusap dahi cemas menunggu kalimatnya, suara Sekar terdengar terkendali.

Aku menelan ludah.

“Rosie baik. Suaminya yang tidak, Nathan meninggal.” Diam sesaat.

“Sakura masih belum sadarkan diri. Anggrek baik-baik saja. Juga Jasmine dan Lili. Mereka semua ada di rumah sakit. Aku bersama mereka.” Aku berusaha merangkum semua detail dalam satu tarikan napas. Menyebutkan nama-nama.

Tentu saja Sekar mengenal nama-nama itu. Lima tahun silam saat pertama kali berkenalan dengannya, Sekar berbaik-hati menjadi pendengarku yang setia.

Gadis itu pemilik salah satu tempat nyaman menghabiskan akhir pekan. Tempat untuk menenangkan diri dari segala keriuhan kota. Entah itu dengan yoga, berendam di spa, berolahraga seharian di gym yang tersedia di lokasi tersebut dan sebagainya, dan sebagainya.

Gadis itu menyenangkan. Pendengar yang baik. Aku berkenalan tidak sengaja dengannya di salah satu acara sosial perusahaan setahun selepas memasuki masa-masa tenteram. Gadis itu datang sebagai undangan. Mengenakan gaun hijau. Terlihat cantik. Serasi dengan matanya. Sungguh Sekar lebih cantik dibandingkan Rosie, itu selalu kukatakan sambil tertawa, saat begurau

menanggapi kata-kata Sakura yang selalu bilang, Bibi Sekar jelek, ya? Ya, Sekar memang cantik.

Kami cepat akrab. Pertemuan demi pertemuan. Awalnya hanya janji makan siang. Menghadiri acara tertentu. Menghabiskan akhir pekan bersama. Sekar pekerja sosial yang baik. Gadis yang pintar. Teman baik yang hebat. Tidak ada yang kurang darinya.

“Maafkan aku, membuat kacau-balau rencana besar kita. Maafkan aku lupa menelepon kau segera, Sekar.” Aku mendesis lemah setelah hening sesaat.

“Tidak apa-apa. Aku akan bilang Papa dan Mama, acaranya dibatalkan.”

Sekar berkata tidak kalah lirih.

Aku mendadak merasa amat bersalah.

Dalam setiap pertemuan selama dua tahun di awal perkenalan kami aku menceritakan banyak hal tentang masa lalu itu. Maka Sekar tahu setiap

detailnya. Aku ingat sekali, Sekar terdiam lama saat aku menceritakan, betapa menyakitkan menuruni lereng Gunung Rinjani malam-malam dengan semua beban berat di hati setelah mendengar kalimat Nathan.

Sekar menatapku bersimpati, berkata pelan, “Aku akan beruntung sekali kalau ada lelaki yang mencintaiku sebesar itu. Cinta yang teramat besar, meski tidak pernah terucapkan.”

Maka muncullah benih-benih perasaan suka itu. Perjalanan yang panjang memang. Tahun demi tahun yang terpotong di sana-sini oleh kunjunganku ke Lombok. Acara-acara bersama anak-anak Rosie dan Nathan. Tetapi Sekar bersabar dengan segala prosesnya.

Sekar tahu persis aku selalu dan akan tetap mencintai Rosie. Tidak akan pernah bisa menghilangkan perasaan itu. Sekar tahu persis ia hanya menjadi bayangan dari sosok Rosie, itu sering diucapkannya saat hubungan kami justru bersiap pada komitmen yang jauh lebih serius. Meski ia tahu, perasaan cinta itu

hanya jejak masa lalu yang telah selesai. Meski ia tahu aku sudah bisa berdamai dengan keinginan-keinginan itu.

Di tahun ketiga pertemanan kami, aku memutuskan mencintainya. Gadis itu sempurna bagiku. Dan aku bisa belajar mencintainya. Dengan pengertian cinta yang baru.

Di tahun keempat, Sekar memintaku memberikan komitmen hubungan jangka panjang. Tanpa lelah. Sepanjang tahun. “Akhirnya, cintaku yang teramat besar kepadamu bisa mengalahkan cintamu yang teramat besar kepada Rosie.” Sekar tertawa, tersipu saat aku akhirnya bisa bilang iya dengan lega untuk acara pertunangan kami.

Gadis itu pilihan terbaik. Aku mencintainya, meski dengan kosa-kata dan pemahaman cinta yang baru. Gadis itu sempurna, meski setahun terakhir mulai tidak menyukai lagi setiap aku menyebut-nyebut nama Rosie di depannya.

Dan pagi ini, semuanya kacau balau sudah.

“Kita masih bisa menjadwal-ulang acaranya, bukan?”

Sekar tertawa pelan, mencoba bergurau, terdengar ganjil.

“Tentu saja, Sekar. Tentu, aku akan segera kembali ke Jakarta setelah semua urusan ini selesai. Aku akan langsung datang ke rumahmu. Jadi bilang Papa- Mama, terus saja bersiap selama seminggu ini, calon menantunya akan datang kapan saja, mungkin sambil terjun-payung dari pesawat.” Aku mencoba balas bergurau, tertawa.

Sekar tertawa tanggung. Entahlah,

“Salam buat Rosie. Aku turut berduka cita.” Sekar berbisik.

Aku mengangguk.

“Jangan lupa makan, Tegar.”

Aku mengangguk lagi. Hubungan telepon terputus.

Aku mengusap wajah. Memasukkan telepon genggam ke saku.

Terdiam sejenak.

Rosie yang duduk di sebelah menyentuh pelan sikuku. Aku menoleh.

Maaf, semua kesedihan ini mengganggu acara pertunanganmu. Rosie menatapku lamat-lamat, bicara lewat tatapan mata. Sejak kecil kami terbiasa dengan percakapan hebat ini. Dulu saat kami disetrap Oma karena mencuri mangga tetangga di Gili Trawangan, ini jadi andalan untuk melakukan

persekongkolan. Sepakat untuk tidak mengaku. Atau menggunakannya untuk bicara dari kejauhan. Saling mengerti makna tatapan dan gesture wajah.

Makanya Oma lebih suka menghukum kami duduk terpisah tidak boleh saling mendekat.

Aku tersenyum. Menatap balik wajah sembap Rosie. Menggeleng. Tidak. Kau tidak pernah mengganggu acara pertunangan itu. Hanya tertunda.

Senyap sejenak.

Kembalilah ke Jakarta, Tegar. Sekar menunggumu. Tidak ada lagi yang tersisa di sini. Rosie menatap redup, berkata-kata lewat matanya yang sembap.

Aku menggeleng lagi. Tidak. Aku akan menemanimu melewati semua kesedihan ini.

Rosie tertunduk. Menghela napas panjang.

Aku mendekap bahunya. Tidak berkata-kata lagi.

Kadek mendadak muncul dari bingkai pintu, berlari-lari kecil hampir menabrak suster yang baru keluar membereskan bekas ranjang Nathan.

“Sakura, Sakura sadar Mas Tegar.” Kadek belepotan memberitahu.

Apa yang Kadek bilang? Sakura sadar? Setelah hampir dua belas jam menyimak seluruh potongan kesedihan, ini menjadi berita baik pertama. Aku loncat berdiri.

“Tidak. Biar aku saja yang melihatnya. Kau tetap di sini.” Aku menyuruh Rosie yang terhuyung ikut berdiri untuk duduk kembali.

Berlari-lari kecil di sepanjang koridor. Melewati petugas cleaning-service yang sibuk membersihkan sisa-sisa darah semalam, menyiramkan pewangi yang menenteramkan. Aroma terapi. Ternyata itu ada gunanya.

Aku merangsek masuk ke ruangan tempat Sakura terbaring. Tubuh gadis kecil itu dipenuhi bebat. Kepalanya terpaksa dibotaki untuk menjahit luka. Matanya berkerjap-kerjap silau saat menyimak seluruh ruangan. Aku melangkah

mendekat. Kebat-kebit dengan perasaan cemas, ingin tahu, dan entahlah.

“Sakura, Sakura, Uncle di sini!” Aku berbisik, segera menggenggam jemarinya.

Sakura yang kepalanya sedang tertoleh menatap jendela yang menyelipkan ribuan larik cahaya matahari pagi menggerakkan kepalanya. Menatapku.

Awalnya hanya diam. Termangu. Pelan sekali memori otaknya kembali, seperti sedang menerabas hutan basah berduri, melewati lautan dalam, berusaha

mengingat.

Sekejap. Gadis kecil itu mendadak menangis.

“Uncle, sakit…. Sakit sekali.”

“It’s okey, Honey. Sakura kan kuat, jago macam Samurai.” Aku mencoba tersenyum.

Gadis itu hendak menyeka matanya. Tidak bisa. Tangannya dibebat. Aku membantunya.

“Ibu di mana?”

“Ibu baik-baik saja. Ada di ruangan sebelah, nanti juga ke sini.”

“Ayah?”

Aku menelan ludah. Terdiam. Apa yang harus kukatakan? Lantas tersenyum,

“Ayah juga baik-baik saja, ada di sebelah.”

Ya Tuhan, tidak mungkin aku bilang Nathan sudah pergi, bukan? Besok-lusa saat semuanya lebih baik, berita buruk itu lebih mudah disampaikan.

“Jasmine?”

Aku mengangguk. Baik-baik saja. “Lili?”

Aku mengangguk lagi.

Senyap. Sakura menyimak perban di seluruh tubuhnya.

“Kenapa Sakura tidak bertanya di mana Kak Anggrek yang suka mencubit?”

Aku mencoba bergurau. Gadis kecil itu menggeliat, nyengir tipis.

“Tangan Sakura tidak bisa digerakkan, Uncle.” Gadis itu mengeluh.

“Semua akan sembuh. Pasti sembuh.” Aku mengelus rambut ikal sebahunya.

Hanya Sakura yang berambut ikal, tidak lurus-hitam-legam seperti Rosie.

Gadis kecil itu lamat-lamat menatap lengan kirinya. Terdiam lagi.

“Uncle, bunga mawar birunya, apakah, apakah Ayah dan Ibu menerimanya?”

Dalam dokumen Tere Liye - Sunset Bersama Rosie (Halaman 35-43)