BAB III METODE PENELITIAN
G. Keabsahan Data
Prinsip pengabsahan dalam riset ini diperlukan gunakan agar semua informasi dan hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dan diimplementasikan berdasarkan pada bukti-bukti yang jelas sesuai dengan prinsip- prinsip kebenaran dalam ilmu pengetahuan.Karena penelitian ini merupakan kebenaran dalam ilmu pengetahuan.Karena penelitian ini merupakan integrasi yang menerapkan prinsip-prinsip penelitian dasar dan terapan, empiris dan subjektif.Dalam hal ini validitas penelitian menitikberatkan pada penelitian kualitatif yang diterapkan dengan teknik triangulasi.Triangulasi merujuk pada Patton (1991:21) yang memasukkan keragaman perspektif teori dan metodologi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi atau karakteristik obyek penelitian 1. Gambaran Umum Kabupaten Maros
Secara umum luas wilayah Kabupaten Maros kurang lebih 1.619,12 Km2 dan secara administrasi pemerintahan terdiri atas 14 wilayah kecamatan dan 103 desa/kelurahan. Berdasarkan posisi dan letak geografis wilayah, Kabupaten Maros berada pada koordinat 400 45’–500 07’ Lintang Selatan dan 1090 205’ –129012’
Bujur Timur. Batas administrasi wilayahnya adalah sebagai berikut : a) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep
b) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa c) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bone
d) Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
Luas wilayah Kabupaten Maros berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 50.000 edisi I Tahun 1991 yang diterbitkan Bakosurtanal dan Peta Administrasi BPN Maros yaitu kurang lebih 213.188,69 Ha. Sedangkan menurut BPS Kabupaten Maros 2009 luas wilayah Kabupaten Maros tercatat 1.619,12 Km², meliputi 14 kecamatan
40
2. Topografi dan kemiringan tanah (slope)
Kemiringan Lereng merupakanbentuk dari variasi perubahan permukaanbumi secara global, regional atau dikhususkan dalam bentuk suatu wilayah tertentu yang digunakan dalam pengidentifikasian kemiringan lereng adalah sudut kemiringan lereng, titik ketinggian diatas muka laut dan bentang alam berupabentukan akibat gaya satuan geomorfologi yang bekerja.Secara definisi bahasanya lereng merupakan bagian dari bentang alam yang memiliki sudut miring dan beda ketinggian pada tempat tertentu; sehingga dapat ditarik suatu anila bahwa dari sudut (kemiringan) lereng merupakan suatu beda tinggi antara dua tempat, yang dibandingkan dengan daerah yang lebih rata atau datar.
Berdasarkan data hasil penelitian Laporan Geologi Terpadu Kabupaten Maros, pada peta rupabumi dengan sekala 1:50.000 (Surwanda Wijaya, dkk 1994) dapat diklasifikasikan pengelompokan sudut lereng yang terdapat di Kabupaten Maros, yaitu sebagai berikut :
a) Wilayah Sudut Lereng <3%
b) Wilayah Sudut Lereng 3-5%
c) Wilayah Sudut Lereng 5-10%
d) Wilayah Sudut Lereng 10-15%
e) Wilayah Sudut Lereng 30-70%
f) Wilayah Sudut Lereng >70%
3. Geologi dan Geomorfologi
Geomorfologi adalah pembahasan dari ilmu geologi yang menguraikan kondisi permukaan bumi yang dihubungkan sejajar dengan aspek-aspek topografi
(bentangalam, relief, morfologi dan sudut kemiringan lereng dikaitkan dengan kondisi geologi terutama litologi batuan penyusunnya), hal yang akan dibahas dalam sub pembahasan ini adalah Satuan Geomorfologi dan Kemiringan Lereng.
Kabupaten Maros terbagi dalam 4 (empat) satuan geomorfologi, sebagai berikut :
a) Satuan Pegunungan Vulkanik : menempati bagian utara, tengah dan timur puncak tertinggi Bulu Lekke (1.361 m dpl) menempati luas 30 % dari luas daerah kabupaten Maros, dinampakkan dengan relief topografi yang tinggi, kemiringan terjal, tekstur topografi yang kasar dan batuan penyusunnya dari batuan gunung api (vulkanik).
b) Satuan Perbukitan Vulkanik : Intrusi dan Sedimen : menempati daerah perbukitan yang menyebar secara setempat-setempat sekitar 15 % dari luas kabupaten Maros, diperlihatkan dengan kenampakan topografi berbukit dengan batuan penyusun ; batuan vulkanik, batuan intrusi (batuan beku), dan batuan sedimen
c) Satuan Perbukitan Karst : Satuan perbukitan ini tersebar cukup luas pada bagian tengah, timurlaut daerah Kabupaten Maros yang meliputi kecamatan Bontoa, Bantimurung, Simbang, Tanralili, Mallawa dan Camba, ciri khas pada satuan morfologi ini adalah kenampakan topografi berbukit-bukit karst dengan tekstur sangat kasar dengan batu gamping sebagai batuan penyusunnya.
d) Satuan Pedataran Alluvium : terletak dibagian barat yang tersebar dengan arah utara-selatan, menempati sekitar 25% dari luas daerah kabupaten Maros.
Tercirikan dengan bentuk morfologi topografi datar, relief rendah, tekstur halus dengan batuan dasar endapan alluvium.
4. Jenis Tanah
Hasil penelitian terdahulu berupa Pemetaan Geologi Lapangan dalam Sekala 1:250.000 yang dilakukan oleh Rab. Sukamto dan Supriatna 1982 berupa peta Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai diperoleh bahwa sifat fisik, tekstur, atau ukuran butir, serta genesa dan batuan penyusunnya maka jenis tanah di kabupaten Maros diklasifikasikan dalam: 4 (empat) tipe:
a. Alluvial Muda merupakan endapan aluvium (endapan aluvial sungai, pantai dan rawa ) yang berumur kuarter (resen) dan menempati daerah morfologi pedataran dengan ketinggian 0-60 m dengan sudut kemiringan lereng <3%. Tekstur beraneka mulai dari ukuran lempung, lanau, pasir, lumpur, kerikil, hingga kerakal, dengan tingkat kesuburan yang tinggi, luas penyebarannya sekitar 14,20% (229,91 km2) dari luas Kabupaten Maros, meliputi Kecamatan Lau, Bontoa, Turikale, Maros Baru, Moncongloe, Marusu, Mandai, Bantimurung, Camba, Tanralili dan Tompobulu.
b. Regosol adalah tanah hasil lapukan dari batuan gunungapi dan menempati daerah perbukitn vulkanik, dengan ketinggian 110-1.540 m dengan sudut kemiringan lereng >15%. Sifat-sifat fisiknya berwarna coklat hingga kemerahan, berukuran lempung lanauan – pasir lempungan, plastisitas sedang, agak padu, tebal 0,1-2,0 m. Luas penyebarannya sekitar 26,50% (429,06 km2) dari luas kabupaten Maros meliputi kecamatan Cenrana, Camba, Mallawa dan Tompobulu.
c. Litosol merupakan tanah mineral hasil pelapukan batuan induk, berupa batuan beku (intrusi) dan/atau batuan sedimen yang menempati daerah perbukitan intrusi dengan ketinggian 3-1.150 m dan sudut lereng < 70%. Kenampakan sifat fisik berwarna coklat kemerahan, berukuran lempung, lempung lanauan, hingga pasir lempungan, plastisitas sedang-tinggi, agak padu, solum dangkal, tebal 0,2-4,5 m.
Luas penyebarannya sekitar 37,60 % (608,79 km2) dari luas kabupaten Maros, meliputi kecamatan Mallawa, Camba, Bantimurung, Cenrana, Simbang, Tompobulu, Tanralili dan Mandai.
d. Mediteran merupakan tanah yang berasal dari pelapukan batugamping yang menempati daerah perbukitan karst, dengan ketinggian 8-750 m dan sudut lereng
> 70%. Kenampakan fisik yang terlihat berwarna coklat kehitaman, berukuran lempung pasiran, plastisitas sedang-tinggi, agak padu, permeabilitas sedang, rentan erosi, tebal 0,1-1,5 m. Luas penyebarannya sekitar 21,70% (351,35 km2) dari luas kabupaten Maros, meliputi kecamatan Mallawa, Camba, Bantimurung, Bontoa, Simbang, Tompobulu dan Tanralili..
5. Hidrologi
Keadaan hidrologi Kabupaten Maros, berdasarkan hasil observasi lapangan dibedakan antara lain air permukaan (sungai, rawa dan sebagainya) dan air yang bersumber di bawah permukaan (air tanah). Air dibawah permukaan yang merupakan air tanah merupakan sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sumber air permukaan di wilayah Kabupaten Maros bersumber dari beberapa sungai yang tersebar dibeberapa kecamatan, yang pemanfaatannya untuk
kebutuhan rumah tangga dan kegiatan pertanian. Sungai yang terdapat di Kabupaten Maros yakni; Sungai Maros, Parangpaku, Marusu, Pute, Borongkalu, Batu Pute, Matturungeng, Marana, Campaya, Patunuengasue, Bontotanga dan Tanralili.
a) Sumberdaya Air
Potensi sumberdaya air di Kabupaten Maros selain dipengaruhi oleh kondisi klimatologi wilayah, juga dipengaruhi oleh beberapa aliran sungai yang melintas pada beberapa kawasan. Potensi sumberdaya air tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan pertanian dan sumber air baku untuk kebutuhan lainnya.
Potensi sumberdaya air di wilayah Kabupaten Maros yang telah termanfaatkan oleh penduduk dalam kehidupan kesehariannya untuk berbagai keperluan bersumber dari air tanah dangkal (air permukaan dan air tanah dalam air tanah dangkal/permukaan dapat berupa air sungai, sumur, rawa-rawa, bendungan, mata air dan lain sebagainya, sedangkan potensi air tanah dalam dengan pemanfaatan air melalui pengeboran.
Penyediaan air minum merupakan suatu kebutuhan pokok penduduk di suatu daerah, terutama pada daerah-daerah yang potensi air tanahnya terbatas dan kualitasnya kurang memadai jika ditinjau dari aspek kesehatan. Meskipun demikian, pengadaan air minum masih terbatas dan umumnya penduduk menggunakan sumur air tanah dangkal, dalam (artesis), air permukaan dan mata air yang bersumber dari pegunungan.
B. Gambaran Umum Dan Visi Misi Badan Lingkungan Hidup Dan Kesehatan Kabupaten Maros.
1. Gambaran umum Badan Lingkungan Hidup Dan Kesehatan Kabupaten Maros.
Untuk melaksanakan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah perlu dibantu oleh Perangkat Daerah yang dapat menyelenggarakan seluruh urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah, dalam perkembangan penyelenggaraan perlu dilakukan penataan kembali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten.
Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Maros yang dibentuk dari penggambungan 2 (dua ) SKPD yaitu Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Maros.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Lingkup Pemerintah Kabupaten Maros dan Peraturan Bupati Nomor 22.2 Tahun 2013 tentang Penjabaran Tugas Pokok,Fungsi dan Tata Kerja Badan Lingkungan Hidup,Kebersihanan dan Pertamanan Kabupaten Maros sebagai perubahan nomenklatur dari Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman yang semula dibentuk dengan Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 22 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Maros.
2. Visi dan Misi
1. Visi
Berwawasan Lingkungan Kita Wujudkan Kabupaten Maros Bersih, Indah dan Hijau
2. Misi
Misi SKPD adalah rumusan umum mengenai upaya - upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi SKPD. Guna mewujudkan Visi Badan Lingkungan Hidup kebersihan dan Pertamanan telah ditetapkan dalam misi sebagai berikut :
1) Meningkatkan Perlindungan dan konservasi Sumber Daya Alam (SDA) dan pengendalian dampak lingkungan.
2) Meningkatkan pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, pengawasan serta penegakkan hokum.
3) Meningkatkan pengelolaan sampah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat.
4) Meningkatkan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) guna mewujudkan lingkungan yang indah dan hijau
a. Struktur organisasi,tugas pokok dan fungsi Badan lingkungan Hidup kebersihan dan pertamanan kabupaten Maros
1. organisasi Badan Lingkungan Hidup Kebersihan Dan Pertamanan Kabupaten Maros meliputi :
Badan Lingkungan Hidup, kebersihan dan pertamanan terdiridari : a. Kepala Badan;
b. Sekretariat;
c. Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan;
d. Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan PengendalianLingkungan;
e. Bidang Kebersihan;
f. Bidang Pertamanan dan Pemakaman;
g. Unit Pelaksana Teknis;
h. Kelompok Jabatan Fungsional.
Pada Bagian Kedua Sekretariat terdiri dari : a. Sub Bagian Program;
b. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum;
c. Sub Bagian Keuangan.
Pada Bagian Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan terdiri dari : a. Sub. Bidang Penataan Lingkungan;
b. Sub. Bidang pengelolaan Pencemaran air, Udara dan Tanah;
c. Sub. Bidang Pengelolaan Pencemaran Kebisingan gangguan danPenegakan Hukum.
Pada Bidang pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan terdiri dari :
a. Sub Bidang Analisis Dampak Lingkungan;
b. Sub Bidang Baku Mutu Lingkungan dan Status Lingkungan;
c. Sub Bidang Konservasi dan Keanekaragaman Hayati.
Pada Bidang Kebersihan terdiri dari :
a. Sub. BidangPemeliharaan Kebersihan;
b. Sub. Bidang Pengelolaan dan Pemanfaatan limbah/sampah;
c. Sub.Bidang Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana.
Pada Bagian Bidang Pertamanan dan Pemakaman terdiri dari : a. Sub.bidang Pemeliharaan Tanaman dan Penataan Taman;
b. Sub.bidang Pengembangan Ruang Terbuka Hijau;
c. Sub.bidang Pelayanan Pemakaman dan Penataan Makam.
2. Tugas
Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan berdasarkan asas desentralisasidan tugas pembantuan.
3. Fungsi
Untuk menyelenggarakan tugas pokok Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Daerah mempunyai fungsi:
a. perumusan kebijakan teknis dibidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan;
b. pengkoordinasian penyusunan perencanaan dibidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan;
c. pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang dibidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan;
d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.
a. Keadaan pegawai Badan lingkungan hidup kebersihan dan pertamanan kabupaten Maros
Jumlah Personil pada Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Maros sebanyak 77 Pegawai Negeri Sipil terdiri dari Eselon IIb 1 orang, Eselon IIIa 1 orang, Eselon IIIb 4 orang, Eselon IVa 16 orang dan Eselon IVb sebanyak 2 orang, dan Staf 53 orang yang terdiri dari terdiri dari golongan III, II dan I yang rata-rata mempunyai pengetahuan dibidang pemerintahan, tehknik , hukum, informatika, dan manajemen.
C. Gambaran Umum Mitra Lingkungan Hidup Green Salewangan 1) Lalar Belakang
Lembaga Mitra Lingkungan Green Salewangang (GS) adalah lembaga yang didirikan pada tanggal 19-11-2010 di Kabupaten Maros Propinsi Sulawesi Selatan. Lembaga ini didirikan atas dasar adanya kepedulian terhadap permasalahan lingkungan seperti pencemaran yang dilakukan oleh berbagai masyarakat yang belum menyadari betul akan pentingnya kesehatan lingkungan ataupun pelaku usaha di Kabupaten Maros. Dengan melihat kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan bersikap konsistensi oleh semua pemangku kepentingan, sebagaimana disebutkan dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.Dalam beberapa dasawarsa ini masyarakat Indonesia pada umumnya Masyarakat Sulawesi Selatan dan Kab. Maros pada
khusunya banyak merasakan pencemaran dan kerusakan lingkungan, sedangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga Negara.
Green Salewangang (GS) dalam perannya sebagai lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup sudah melakukan berbagai aktifitas baik itu skala Kabupaten ataupun Propinsi. Ada beberapa kegiatan yang pernah dilaksanakan olah lembaga ini salah satunya adalah telah menjadi mitra dengan Badan Lingkungan Hidup Propinsi Sulawesi Selatan dan Pusat Pengkajian dan pengelolaan Ekoregion Sulawesi-Maluku dalam kegiatan Pembinaan dan Penilaian Sekolah ADIWIYATA (Sekolah Peduli lingkungan) skala Propinsi Sulawesi Selatan. Selain itu kegiaatan yang pernah dilaksanakan adalah membangun penangkaran kupu-kupu dan taman pakan kupu-kupu.
2) Misi
Mewujudkan lingkungan hidup yang sehat dengan menjadi mitra yang handal dan proaktif serta terpercaya dengan layanan prima dalam mengoptimalkan manfaat lingkungan hidup
3) Tujuan green salewangang
a. Turut aktif dan kreatif membantu pemerintah dan swasta dalam melaksanakan program pelestarian lingkungan hidup dalam membangun kehidupan masyarakat yang sejahtera.
b. Menyelenggarakan pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai lingkungan hidup.
c. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia indonesia yang berwawasan luas mengenai arti pentingnya lingkungan hidup bagi kehidupan, cerdas,
beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa sehingga menjadi banga yang maju dan modern serta kesejahteraan masyarakat tercapai.
d. Membina dan meningkatkan wawasan, pengetahuan dan pola pikir, serta keterampilan masyarakat mengenai lingkungan hidup.
e. Mengkaji berbagai permasalahan dibidang lingkungan hidup dengan memberikan alternatif pemecahan.
f. Mengembangkan potensi masyarakat dan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan pada potensi daerah dan sumber daya manusia untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
Penerapan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) dibidang lingkungan hidup guna pemberdayaan sumber daya manusia indonesia
4) Struktur Organisasi
BADAN PENDIRI : MUH NURJAYA S.SOS, M.Si MUH IKBAL
SYAIFUL ARIEF
KETUA : MUH IRWAN S.KM
SEKRETARIS : FARDIANSYAH S.E BENDAHARA : MURSALIN S.ST BIDANG PENGEMBANGAN ORGANISASI
Koord : M SYADIQ TABA S.E Anggota : ABDULLAH
BIDANG ADMINISTRASI
Koord : IRFAN HIDAYAT S.E Anggota : SUWANDI AMD
BIDANG LINGKUNGAN HIDUP Koord : MUH IRWAN S.PI
Anggota : ADNAN BIDANG HUKUM LINGKUNGAN
Koord : ALRIDHO RAMDHAN Anggota : ABDUL RAHIM
D. Kerjasama bergaining pemerintah daerah dan kelompok masyarakat dalam pengawasan pengelolaan lingkungan hidup PT CS2 POLA SEHAT.
Kerjasama Bergaining adalah suatu kerjasama dimana dua organisasi yang saling menukar informasi/jasa terkait suatu permasalahan yang terjadi di lapangan, dimana informasi tersebut juga dibutuhkan oleh masing masing organisasi untuk kepentinganya, pertukaran informasi/jasa tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh organisasi yang berwenang,
Berikut hasil wawancara dengan informan kepala bidang penataan dan pengawasan lingkungan hidup kab Maros:
“Kami di BLHKP Kab Maros selalu menyambut baik semua pengaduan dari kelompok masyarakat maupun pengaduan secara individu, kami membuat sistem pengaduan karena kami ingin mendengar langsung informasi dari masyarakat guna membantu kami bekerja dalam hal pengawasan namun kami belum membuat post pengaduan,akan tetapi semua pengaduan pasti kami proses selama aduan tersebut sesuai dengan tugas dan wewenang kami di BLHKP Kab Maros”(Wawancara NJ, O5 September 2016)
Dari wawancara di atas menunjukkan adanya kerjasama yang dilakukan antara BLHKP Kab Maros dan Kelompok Masyarakat (Green Salewangang) , bentuk kerjasama yang dimaksud adalah bentuk kerjasama Bergaining, seperti yang dikatakan Sukanto (2008:18) Kerjasama Bargaining yaitu kerjasama antara
orang perorang dan atau antar kelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu.
Karena BLHKP Kab Maros membuka sistem pengaduan sehingga dalam proses tersebut terjadi saling menukar informasi.
Kerjasama Bergaining yang dilakukan BLHKP Kab Maros sangat memudahkan masyarakat dalam menyampaikan informasi informasi yang terjadi dilapangan terkait pencemaran lingkungan. Berikut hasil wawancara kami dengan sekertaris kelompok masyarakat (Green Salewangang):
“pengaduan yang di prosesoleh BLHKP Kab Maros sangat membantu masyarakat dalam hal menjaga kelestarian lingkunganya, saya sebagai lulusan kesehatan lingkungan sangat mendukung sistem pengaduan tersebut, apa lagi BLHKP Kab Maros adalah perpanjangan tangan dari pemerintah daerah tentang lingkungan, jadi sistem Pengaduan yang dibuat oleh BLHKP Kab Maros adalah langkah yang baik ”
(Wawancara FA, O7 September 2016)
Dari wawancara diatas menunjukkan bahwa komunikasi masyarakat mengenai saling tukar informasi atau pengaduan yang dilakukan kelompok masyarakat dan BLHKP Kab Maros adalah langkah positif untuk menciptakan lingkungan yang berkualitas terjalin dengan baik, walaupun BLHKP Kab Maros belum membuat post pengaduan atau pelaporan.
Kerjasama bargaining antara pemerintah daerah dan kelompok masyarakat tidak berjalan efektif di sebabkan faktor regulasi, regulasi adalah peraturan peraturan yang dibuat oleh pemerintah maupun pemerintah daerah untuk mencapai tujuan tertentu, dalam penelitian ini peraturan yang dimaksud yaitu peraturan peraturan yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Kendala dalam melakukan kerjasama antara BLHKP Kab Maros dan kelompok masyarakat
merupakan hambatan hambatan yang didapatkan untuk mewujudkan kerjasama yang efektif antara kedua organisasi, dimana diketahui bahwa kerjasama yang terjalin antara BLHKP Kab Maros dan kelompok masyarakat (Green Salewangang) tidak efektif, berikut hasil wawancara dengan pegawai BLHKP Kab Maros, anggota sub bagian pengawas BLHKP Kab Maros;
“Kami turun langsung melakukan pengawasan di perusahaan termasuk PT CS2 POLA SEHAT melalui surat tugas yang dibuat oleh kepala BLHKP Kab Maros, tim pengawas yang dimaksud bekerja sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang telah di setujui oleh kepala bidang BLHKP Kab Maros, itu adalah dasar hukum kami sehingga tidak melibatkan kelompok masyarakat dalam melakukan pengawasan secara internal, persoalan lain mengenai lambatnya hasil yang di dapatkan dari pencemaran pengelolaan lingkungan karena kami di tim pengawas harus melalui pemeriksaan fisik dan uji laboratorium ”
(wawancara HS, 28 Oktober 2016)
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa tim pengawas yang berhak turun langsung mengawasi pengelolaan lingkungan hidup perusahaan secara internal adalah mereka yang namanya tertera dalam surat tugas yang telah disetujui oleh kepala BLHKP Kab Maros, dan secara umum nama nama yang tertera dalam surat tugas tersebut adalah orang orang BLHKP Kab Maros itu sendiri, sehingga dapat dikatakan bahwa kerjasama pengawasan pengelolaan yang baik antara BLHKP Kab Maros dan kelompok masyarakat terkendala oleh regulasi, regulasi yang dimaksud adalah surat tugas yang dikeluarkan oleh kepala BLHKP Kab Maros sebagai penanggung jawab Di BLHKP Kab Maros dan merupakan badan yang bertanggung jawab mengenai pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Maros. Sebagai industri yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan maka selayaknyalah PT CS2 POLA SEHAT membuat
kebijakan dalam melestarikan lingkungan hidup yang biasa disebut program corporate social responsibility (CSR), berikut hasil wawancara dengan ketua kelompok masyaraka (Green Salewangang):
“program program yang dibuat oleh PT CS2 POLA SEHAT terkait lingkungan hidup di desa Minasa Baji belum ada, perusahaan tersebut hanya memberi sumbangan berupa teh gelas kepada kepala keluarga tertentu bantuan lainya seperti perekrutan karyawan yang lebih di utamakan warga yang berasal dari Desa Minasa Baji.”
(Wawancara , MR 09 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa kerjasama bergaining yang dilakukan oleh PT CS2 POLA SEHAT terkait lingkungan hidup tidak ada, karena belum pernah melakukan program program yang terkait dalam melestarikan lingkungan hidup, hal ini melanggar hukum karena ada regulasi yang mewajibkan perusahaan melakukan program yang terkait lingkungan hidup yakni undang undang No 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pada pasal 68 yaitu, setiap orang yang melakukan usaha dan/kegiatan berkewajiban: a. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, terbuka, akurat, dan tepat waktu; b. Menjaga keberlanjutan fungsi dan lingkungan hidup dan c.
Mentaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku mutu lingkungan hidup. Dari wawancara diatas dapat juga dikatakan bahwa PT CS2 POLA SEHAT tidak memiliki inisiatif dalam mencegah pencemaran lingkungan hidup, sementara perusahaan tersebut sangat berpotensi melakukan pencemaran lingkungan hidup. Berikut hasil wawancara dengan pegawai BLHKP
Kab Maros, kepala bidang baku mutu lingkungan hidup dan status lingkungan hidup :
“mengenai program program lingkungan hidup yang tidak dibuat oleh PT CS2 POLA SEHAT namun adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh PT CS2 POLA SEHAT, walaupun media online memberitakan bahwa limbah PT CS2 POLA SEHAT mencemari lingkungan hidup, tetap ada sistem yang harus di lalui, jika terjadi pencemaran lingkungan hidup yang disebabkan oleh PT CS2 POLA SEHAT maka pemerintah daerah yakni BLHKP Kab Maros hanya melakukan pembinaan, namun jika perusahaan tersebut masih terbukti mencemari lingkungan hidup yang ke 2 (dua) kalinya maka tim pengawas pengelolaan lingkungan hidup pemerintah daerah membuat berita acara dan melaporkan kepada pengawas pengelolaan lingkungan hidup (PPLH) Provinsi sulawesi selatan, kemudian PPLH Sulawesi selatan menindak lanjuti berita acara pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh PT CS2 POLA SEHAT jika dalam tindak lanjut yang dilakukan oleh PPLH sulawesi selatan terbukti mencemari lingkungan hidup, maka perusahaan tersebut dapat dapat diberi sanksi”
(Wawancara YD, O5 September 2016)
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa BLHKP Kab Maros tidak dapat memberikan sangksi terhadap industri yang mencemari lingkungan hidup mereka hanya dapat melakukan pembinaan, yang berhak memberikan sangksi yakni PPLH sulawesi selatan, dan wawancara di atas juga menunjukkan bahwa merupakan kewajiban perusahaan untuk melakukan program pelestarian lingkungan hidup, namun kenyataan yang terjadi di lapangan sangat berbeda dengan harapan pemerintah yang telah di tuangkan dalam undang undang No 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Berdasarkan beberapa wawancara di atas menunjukkan bahwa kerjasama bergaining yang terjalin tidak efektif, dimulai dari laporan atau bersifat aduan tentang pencemaran lingkungan yang diterima oleh BLHKP Kab Maros,