F. Manfaat Penelitian
I. Keaktifan belajar siswa
a. pengertian keaktifan belajar siswa
Keaktifan berasal dari kata aktif yang artinya giat,seperti giat dalam belajar, giat berusaha, mampu berintraksi, dan dalam kategori keaktifan, dapat di tinjau dari dua hal yaitu keaktifan dapat di golongkan menjadi keaktifan jasmani dan keaktifan rohani meliputi:
1.) Keaktifan indera yaitu pendengaran, penglihatan, peraba dan lain- lain, 2.) Keaktifan akal serta, 3.) Keaktifan ingatan. Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya,peserta didik juga dapat berlatih untuk berfikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan- permasalahan dalam proses pembelajaran11.
Keaktifan juga termasuk dalam sumber pembelajaran yang merupakan kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain. Maka guru perlu mencari cara untuk meningkatkan keaktifan siswa.
Keaktifan peserta didik dalam belajar secara efektif itu dapat dinyatakan sebagai berikut: 1.) Hasil belajar peserta didik umumnya hanya sampai tingkat penguasaan, merupakan bentuk hasil belajar terendah. 2.) Sumber–sumber belajar yang digunakan pada umumnya
11Nugroho Wibowo,Upaya Peningkatan Keaktifan Siswa Melalui Pembelajaran Berdasarkan Gaya Belajar Di Smk Negeri 1 Saptosari.Jurnal Electronics, Informatics, and Vocational Education (ELINVO), Volume 1, Nomor 2,hal 131
12
terbatas pada guru (catatan penjelasan dari guru) dan satu dua buku catatan. 3.) Guru dalam mengajar kurang merangsang aktivitas belajar peserta didik secara optimal. Keaktifan sendiri merupakan motor dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa di tuntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah hasil belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional.12
Aktif menurut kamus besar bahasa indonesia merupakan yang merupakan kata sifat yang berarti giat (bekerja dan berusaha) sedangkan keaktifan adalah hal atau keadaan di mana siswa dapat aktif. Menurut Sriyono,dkk keaktifan adalah pada saat guru mngajar ia harus mengusahakan murid-muridnya aktif jasmani maupun rohani keaktifan jasmani dan rohani meliputi:
1) Keaktifan indera
Murid harus di rangsang agar dapat mngunakan alat indera sebaik mungkin.
2) Keaktifan akal
Akal anak-anak aktif atau atau di artikan untuk memecahkan masalah.
3) Keaktifan ingatan
12 Fendi Lestiawan, Arif Bintoro Johan, Penerapan Metode Pembelajaran Example Nonexample Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Dasar-Dasar Pemesinan Jurnal Taman Vokasi Volume 6, Nomor 1, Juni 2018 . Hal. 98-106
13
Pada waktu mngajar anak harus aktif menerima bahan pengajaran yang di sampaikan oleh guru dan menyimpannya dalam otak.
4) Keaktifan emosi
5) Anak hendakla senantiasa mencintai pelajaranya.
Keaktifan belajar menurut Rousseeau dalam Sardiman. AM bahwa Keaktifan belajar adalah “segala pengetahuan yang di peroleh dengan pengamatan sendiri dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri baik secara rohani maupun teknis” Hal tesebut dimaksudkan bahwa keaktifan belajar dalam belajar sangatlah diperlukan adanya aktivitas tanpa adanya aktifitas, belajar tidak akan berlangsung dengan baik. Jadi dalam belajar seseorang yang belajar haruslah aktif sendiri karena tanpa adanya aktivitas yang terjadi dalam belajar maka proses belajar tidak akan terjadi.13
Keaktifan belajar siswa merupakan salah satu unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam belajar merupakan segala kegiatan yang bersifat fisik maupun non fisik siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar yang optimal sehingga dapat menciptakan suasana kelas menjadi kondusif.
13 Endah Dwi Rahmawati, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (Gi) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sosiologi Pada Siswa Kelas X 3 Sma Negeri Colomadu Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Sosialitas : Vol.2 No. 1 Tahun 2012
14
Salah satu penilaian proses pembelajaran adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
sedangkan arti kata keaktifan adalah kesibukan atau kegiatan.
Keaktifan siswa dalam hal ini dapat dilihatdari kesungguhan mereka mengikuti pelajaran. Siswa yang kurang aktif.maka guru perlu mencari cara untuk mneingkatkan keaktifan siswa, siswa di tuntuk untuk aktif.
Menurut Sadirman, keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat di pisahkan. Keaktifan belajar merupakan hasil yang di peroleh siswa selama belajar di sekolah, yang merupakan perpaduan dari tiga ranah tersebut, yang menyangkut ranah kognitif, efektif dan psikomotor.
keaktifan belajar menurut Nana Sujhana adalah dapat di lihat dari keikutsertaan siswa dalam melaksanakan tugas belajarnya. Indikator dalam keaktifanya adalah: 1.) Keterlibat dalam dalam masalah, 2.) Bertanya kepada siswa atau guru tidak memahami persoalan yang di hadapi, 3.) Mencari informasi yang yang di perlukan untuk memecahkan suatu permasalahan, 3.) Serta menilai kemampuan diri sendiri dan hasil-hasil belajar yang di peroleh. Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. 14
b. Ciri-Ciri Keaktifan Belajar
Adapun ciri-ciri peserta didik yang aktif sebagai berikut: 1) Siswa selalu bertanya atau meminta penjelasan dari gurunya apabila ada
14 Nugroho Wibowo, UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN SISWA MELALUI PEMBELAJARAN BERDASARKAN GAYA BELAJAR DI SMK NEGERI 1 SAPTOSARI Jurnal Electronics, Informatics, and Vocational Education (ELINVO), Volume 1, Nomor 2, Mei 2016
15
materi/persoalanyang tidak dapat dipahami dan dipecahkan olehnya. 2) Siswa dalam mengemukakan gagasan dan mendiskusikan gagasan orang lain dengan gagasannya sendiri. 3) Siswa mengerjakan semua tugas mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Belajar aktif harus gesif, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah.
c. Jenis-Jenis Keaktifan Belajar
Menurut Ramayulis keaktifan mencakup keaktifan jasmani dan rohani. Kegiatan jasmani dan rohani yang dapat dilakukan disekolah menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul B.Diedrich dalam buku Ramayulis meliputi :1) Visual activities, seperti membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi,percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya. 2) Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, interview, diskusi dan sebagainya. 3) Listening activities, seperti mendengarkan uraian, percakapan diskusi, musik, pidato, ceramah dan sebagainya. 4) Writing activities, seperti menulis cerita,karangan, laporan, angket, menyalin dan sebagainya. 5) Drawing activities, seperti menggambarkan, membuat grafik, peta, patroon dan sebagainya. 6) Motor activities, seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya. 7) Mental activities, seperti menangkap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, mengambil keputusan dan
16
sebagainya. 8) Emotional activities, seperti menaruh minat, gembira, berani, tenang, gugup, kagum, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan keaktifan siswa dapat dilihat dari berbagai hal seperti perilaku yang di gunakan dalam proses pembelajaran dengan indikator : 1.) Memperhatikan (Visual Activities), 2.) Mendengarkan,3.) Berdiskusi, 4.) Kesiapan Siswa, 5.) Bertanya,6.) Keberanian Siswa dan, 7.) Memecahkan Soal (Mental Activities).
II. Model Pembelajaran Cooperative Script a. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar.npembelajaran juga merupakan sebagai aktifitas menyampaikan informasi dari pengajar kepada pelajar.15 Pembelajaran juga dikatakan sebagai proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar. Peran dari guru sebagai pembimbing bertolak dari banyaknya peserta didik yang bermasalah. Dalam belajar tentunya banyak perbedaan, seperti adanya peserta didik yang mampu mencerna materi pelajaran, ada pula peserta didik yang lambah dalam mencerna materi pelajaran. Kedua perbedaan inilah yang menyebabkan guru mampu mengatur strategi dalam
15 Albert Efendi Pohan, konsep pembelajaran daring berbasis pendekatan ilmiah.(
purwodadi-grobokan –jawa tengah:PT Sarnu Untung 2020) hal 1
17
pembelajaran yang sesuai dengan keadaan setiap peserta didik.
Oleh karena itu, jika hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat pembelajaran adalah pengaturan.
b. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah faktor yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Dengan adanya tujuan, maka guru memiliki pedoman dan sasaraan yang akan dicapai dalam kegiatan mengajar. Apabila tujuan pembelajaran sudah jelas dan tegas, maka langkah dan kegiatan pembelajaran akan lebih terarah. Tujuan dalam pembelajaran yang telah dirumuskan hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan waktu, sarana prasarana dan kesiapan peserta didik. Sehubungan dengan hal itu, maka seluruh kegiatan guru dan pes`erta didik harus diarahkan pada tercapainya tujuan yang telah diharapkan.
Tujuan merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya, seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber dan alat evaluasi.
Oleh Karena itu, maka seorang guru tidak dapat mengabaikan masalah perumusan tujuan pembelajaran apabila hendak memprogramkan pengajarannya. Jika dilihat dari sisi ruang lingkupnya, tujuan pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
18
1. Tujuan yang dirumuskan secara spesifik oleh guru yang bertolak dari materi pelajaran yang akan disampaikan.
2. Tujuan Pembelajaran Umum, yaitu tujuan pembelajaran yang sudah tercantum dalam garis-garis besar pedoman pengajaran yang dituangkan dalam rencana pengajaran yang disiapkan oleh guru. Tujuan khusus yang dirumuskan oleh seorang guru harus memenuhi syarat-syarat, yaitu: Secara spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai, Membatasi dalam keadaan mana pengetahuan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi perubahan perilaku), Secara spesifik menyatakan criteria perubahan perilaku dalam arti menggambarkan stanndar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai.
c. Komponen-komponen Pembelajaran
Pembelajaran dapat dikatakan sebagai suatu sistem, karena pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang memiliki tujuan, yaitu membelajarkan siswa. Sebagai suatu sistem, tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung komponen. Proses pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen yang satu sama lain saling berinteraksi, dimana guru harus memanfaatkan komponen tersebut dalam proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang ingin direncanakan.
19
Berikut ini adalah uraian dari komponen-komponen dalam pembelajaran: 1. Guru dan Siswa Di dalam UU. RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, Bab IV Pasal 29 ayat 1 disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, memiliki hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pada pendidik di Perguruan Tinggi.
d. Pengertian model pembelajaran
Model adalah sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan.
Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Model juga dapat dipahami juga sebagai gambaran tentang keadaan sesungguhnya.
Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar. Selain itu, model pembelajaran juga bertujuan untukmencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsisebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.16
Model pembelajaran dapat diartikan sebagai tampilan grafis, prosedur kerja yang teratur atau sistematis, serta
16Fendi Lestiawan, Arif Bintoro Johan. Penerapan Metode Pembelajaran Example Nonexample Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Dasar-Dasar Pemesinan.
Jurnal Taman Vokasi Volume 6, Nomor 1, Juni 2018 hal 100
20
mengandung pikiran yang bersifat uraian atau penjelasan. Uraian atau penjelasan menujukkan bahwa suatu model pembelajaran menyajikan bagaimana suatu pembelajaran dibangun atas dasar teori-teori seperti belajar, pembelajaran, psikologi, komunikasi, sistem, dan sebagainya. Menurut Arends dalam Suprijono bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran memiliki peranan penting sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pendapat lain mengenai model pembelajaran menurut Joyce dalam Ngalimun bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku- buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran sebagai suatu.17
17 novi marliani. “peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa melalui model pembelajaran missouri mathematics project (mmp)”.Jurnal formatif 5(1): 14-25, 2015 Issn:
2088-351x
21 e. Fungsi model pembelajaran
Banyak model pembelajaran yang telah ditemukan atau dikembangkan oleh para pakar pendidikan dan pembelajara. Untuk menjadi seorang pendidik yang profesional, pengetahuan tentang model-model pembelajaran harus di miliki oleh pendidik. Sebab, model pembelajaran memiliki beberapa fungsi.
Sebagaimana yang di kemukakan oleh Sutarto dan Indrawati bahwa model pembelajaran terdiri dari 11 fungsi, yaitu:
1) Membantu dan membimbing pendidik untuk memilih teknik, strategi, dan motode pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai.
2) Membantu guru menciptakan perubahan perubahan perilaku peserta didik yang di inginlkan.
3) Membantu guru dalam menentukan cara dan sarana untuk dapat menciptakan lingkungan yang sesuai untuk melkasanakan pembelajaran.
4) Membantu menciptakan interaksi anatara guru dengan siswayang di inginkan selama proses pembelajaran.
5) Membantu guru dalam mengkontruk kurikulum, silabus atau konten dalam suatu pemeblajaran.
6) Membantu guru atau instruktur dalam memilih materi yang tepat untuk pembelajaran, penyususnan pelaksanaan pembelajaran, dan silabus.
22
7) Membantu guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai.
8) Memberikan bahan prosedur untuk mengembangkan materi dan sumber belajar yang menarik dan efektif.
9) Merangsang pembelajaran inovasi yang baru.
10) Membantu mengkmunikasikan informasi tentang teori mengajar. Membantu membangun hubungan antara belajar dan mengajar secara empiris.
f. Pengertian cooperative script
Cooperative berasal dari kata cooperate yang artinya bekerja sama, bantuan-membantu, gotong royong. Sedangkan kata dari cooperation yang memiliki arti kerja sama, koperasi persekutuan. Script ini berasal dari kata script yang memiliki arti uang kertas darurat, surat saham sementara dan surat andil sementara. Jadi pengertian dari cooperative script adalah naskah tulisan tangan, surat saham sementara. Jadi pengertian dari cooperative adalah model belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda.18
Cooperative script adalah model pembelajaran dimana siswa bekerja berpasangan dan berganti secara lisan lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Jadi,
18Hidayatulloh, Hubungan Model Pembelajaran Cooperative Scriptdengan Model Pembelajaran Cooperative Sq3r Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Volume 3 Nomor 2 Desember 2016 hal 4
23
model pembelajaran cooperative script merupakan penyampaian materi ajar yang di awali dengan pemberian wacana atau ringkasan materi ajar kepada siswa yang kemudian di beri kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak untuk memberikan ide atau gagasan baru ke dalam materi ajar yang di berikan guru, lalu siswa di arahkan untuk menunjukkan ide pokok yang kurang lengap dalam materi secara bergantian sesama pasangan masing masing.19 Sedangkan menurut Menurut Lamusu dkk model pembelajaran cooperative script akan menimbulkan ideide pokok atau gagasan baru dari siswa itu sendiri sehingga akan menambah pengetahuan siswa terhadap materi yang diajarkan, dan akan terjadi interaksi antara siswa dengan siswa kemudian siswa dengan guru. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran yang bersifat kooperatif yang dianggap lebih terstruktur, lebih preskriptif kepada guru tentang teknik kelas, lebih direktif kepada siswa tentang bagaimana bekerja dalam satu kelompok.20
Model pembelajaran Cooperative didefinisikan sebagai penggunaan pembelajaran kelompok kecil. Maka indikatornya: 1.) Siswa bekerja sama untuk memaksimalkan diri mereka sendiri, 2.) Berpartisipasi langsung dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, serta 3.) Belajar bersama satu sama lain untuk
19 Andi kaharuddin dan nining hajeniati, pembelajaran inovatif dan variatif:pedoman untuk penelitian PTK dan eksperimen, (gowa sulawesi selatan:2020) hal 29
20 Irma tiara, Sanjaya dan Rodi Edi.” Pengaruh penerapan model cooperative script terhadap hasil belajar kimia siswa kelas x sma Negeri 3 tanjung raja”E-Jurnal Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sriwijaya.2013
24
mencapai tujuan pembelajaran, memecahkan masalah, menyelesaikan tugas atau membuat produk, Model ini dianggap positif dapat mempengaruhi pemahaman materi pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif terdiri dari berbagai tipe, salah satunya yaitu model pembelajaran Cooperative Script. Model pembelajaran ini dapat diterapkan pada pembelajaran yang bersifat kognitif, karena setiap peserta didik nantinya diberikan materi ajar secara lengkap, dibagi berpasang-pasangan dan masing-masing dari mereka bergantian secara lisan mengintisarikan materi yang telah diberikan, dan pasangan lainnya mengoreksi apakah benar pernyataan yang diungkapkan oleh temannya tersebut atau tidak.
Selain itu model pembelajaran Coooperative Script dapat membuat peserta didik berpikir secara sistematis dan dapat fokus terhadap materi yang sedang dipelajari. 21
g. Teknik pembelajaran Cooperative Script
Teknik pembelajaran Cooperative Script adalah suatu metode belajar di mana siswa bekerja secara kelompok dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari.22 Aktivitas ini mendorong kerja kelompoksemakin
21 Rima Meilani dan Nani Sutarni.” Penerapan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan hasil belajar (The implementation of coopeative script learning model to improve learning outcomes)”jurnal pendidikan manajemen perkantoran Vol. 1 no. 1, agustus 2016, hal. 176-187
22 Ragillusyah Zamzani, Munoto. Pengaruh Teknik Pembelajaran Cooperative Script Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Diklat Menerapkan Dasar-Dasar Elektronika Pada Siswa Kelas X Tav Di Smk Negeri 1 Sidoarjo Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 1 Tahun, 2013, 343-350
25
efisien dan semakin cepat kemajuannya. Teknikini memberikan pengalaman tentang macam-macamketerampilan membaca, yang didorong kecepatan aktivitas dalam mencari sebuah ide pokok atau hal penting di dalam materi atau wacana, ditambah belajar Teknik Pembelajaran Cooperative Scriptn mandiri dan kecakapan ujian lain seperti membaca pertanyaan dengan hati-hati, menjawab pertanyaan dengan tepat, membedakan materi yang penting dan yang tidak. Kegiatan ini membantu siswa untuk membiasakan diri belajar pada sumber lain.
h. Kelebihan dan kekurangan pembelajaran cooperative script Model pembelajaran cooperative script memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. Beberapa kelebihan model ini adalah sebagai berikut: a.) Menumbuhkan ide-ide atau gagasan baru, daya berpikir kritis serta mengembangkan jiwa keberanian dalam menyampaikan hal-hal baru yang diyakini benar. b.) Mengajarkan siswa untuk percaya kepada guru dan lebih percaya lagi pada kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari informasi dari sumber lain, dan belajar dari siswa lain.c.) Mendorong siswa untuk berlatih memecahkan masalah dengan mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan ide siswa dengan ide temannya. d.) Membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang kurang pintar serta menerima perbedaan
26
yang ada. e.) Memotivasi siswa yang kurang pandai agar mampu mengungkapkan pemikirannya. f.) Mempermudah siswa berdiskusi dan melakukan interaksi sosial dan g.) Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.23
Kekurangan model pembelajaran cooperative script adalah sebagai berikut: (1) Beberapa siswa takut untuk mengeluarkan ide karena akan dinilai oleh teman sekelompoknya. (2) Tidak semua siswa mampu untuk menerapkan model pembelajaran cooperative script,sehingga banyak waktu yang akan tersita untuk menjelaskan mengenai model pembelajaran cooperative script. (3) Guru diharuskan untuk melaporkan setiap penampilan siswa dan setiap tugas siswa untuk menghitung hasil prestasi kelompok. (4) Kelompok yang solid dan dapat bekerjasama dengan baik sulit untuk dibentuk. (5) Penilaian siswa sebagai individu lebih sulit karena mereka berada dalam kelompok. 24
i. Langkah-langkah pembelajaran Cooperative Script
Langkah-langkah dalam pembelajaran Cooperative Script sebagai berikut:
a) guru membagi siswa untuk berpasangan,
23Didimus Tanah Boleng, Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Script Dan Think Pair –Share Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis, Sikap Sosial, Dan Hasil Belajar Kognitif Biologi Siswa SMA Multietnis Jurnal Pendidikan Sains, Vol.2, No.2, Juni 2014, Hal 76-84
24 Aisjah Juliani Noor, Norlaila, Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Cooperative Script Edu-Mat Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 2, Nomor 3, Oktober 2014, hlm 250 - 259
27
b) guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasannya,
c) guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar,
d) pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukan ide-ide pokok dalam ringkasannya, sementara pendengar menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya,
e) bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya,
f) kesimpulan guru.25
Model pembelajaran Coperative Scipt dalam proses pembelajaran memiliki manfaat. Adapun manfaat pembelajaran Coperative Script yaitu sebagai berikut:
a) Bekerja sama dengan orang lain, bisa membantu peserta didik mengerjakan tugas- tugas yang dirasakan sulit.
b) Dapat membantu ingatan yang terlupakan pada teks.
25 Andi kaharudin dan Nining Hajeniati, Pembelajaran inovatif dan Variatif pedoman untuk PenelitianPTK dan Eksperimen, (Gowa Sulawesi Selatan:Pustaka Almaida), 2020 hal 30
28
c) Dengan adanya ide – ide pokok yang ada pada materi dapat membantu ingatan dan pemahaman.
d) Memberikan kesempatan peserta didik membenarkan kesalah pahaman.
e) Membantu peserta didik menghubungkan ide – ide pokok materi dengan kehidupan nyat.
f) Memberikan kesempatan untuk mengulangi dan mengingat kembali materi.26
Manfaat tersebut disimpulkan bahwa manfaat dari model pembelajaran Cooperative Script yaitu, peserta didik bisa membantu peserta didik mengerjakan tugas yang sulit, membantu peserta didik mengingat materi dan menumbuhkan ide – ide baru sesuai pemahamannya dan ide-ide baru tersebut bisa di terapkan dalam kehidupan sehari hari.
Berdasarkan serangkaian para ahli di atas. maka model pembelajaran cooperative script adalah berbagai dimensi yang di lakukan atau yang di tunjukkan oleh guru dalam melakukan proses belajar mengajar. Dengan indikator: 1.) Siswa bekerja sama untuk memaksimalkan mereka sendiri, 2.) Berpartisipasi langsung dan terlibat secara aktif dalah hal pembelajaran. Serta, 3.) Belajar bersama satu sama lain untuk mencapai tujuan pembelajaran, 4.)