BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Kebijakan Publik
Asal dari kata kebijakan dan publik. Menurut Islamy (1991) dalam Wahab (2001) kebijakan public (public policy) adalah Serangkaian tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat. Pembuatan kebijakan merupakan suatu tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah dan berorientasi pada upaya pencapaian tujuan demi kepentingan masyarakat. Suatu proses kebijakan, menurut Charles O. Jones dalam Wahab (2001, h.29) sedikitnya terdapat empat golongan atau tipe aktor (pelaku) yang terlibat, yaitu: golongan rasionalis, golongan teknisi dan golongan inkrementalis serta golongan reformis.
Syafiie dalam Tahir (2014:20) mendefiniskan kebijakan publik adalah semacam jawaban terhadap suatu masalah karena akan merupakan upaya memecahkan, mengurangi dan mencegah suatu keburukan serta sebaliknya menjadi penganjur,inovasi,dan pemuka terjadinya kebaikan dengan cara terbalik dan tindakan terarah, sedangkan menurut Anderson menjelaskan bahwa kebijakan adalah suatu tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan seseorang pelaku atau sejumlah pelaku untuk memecahkan masalah Anderson
Environmental Factors
(1984) dalam Tahir (2014). Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis dasar, dalam melaksanakan pekerjaan, kepemimpinan serta cara bertindak (tentang perintah organisasi dan sebagainya).
Sementara itu, Carl Friedrich dalam Wahab (2001) menyatakan bahwa kebijakan ialah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang disusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan.
Kebijaksanaa Negara adalah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabatpejabat pemerintah (Agustino, 2006). Menurut David Easton dalam Winanrno (2012) mendefinisikan kebijakan sebagai akibat aktifitas pemerintah (the impact of government activity). Untuk mendefinisikan tentang masalah kebijakan kita harus merujuk pada definisi dari kebijakan publik itu sendiri seperti yang telah dijelaskan di atas.Masalah kebijakan merupakan sebuah kesenjangan dari implementasi sebuah kebijakan di dalam masyarakat. Terjadinya ketidakserasian antara isi dari kebijakan terhadap apa yang terjadi di lapangan merupakan masalah dari kebijakan tersebut.
Adapun berdasarkan pendapat-pendapat para ahli di atas mengenai pengertian kebijakan publik, maka dapat disimpulkan kebijakan publik merupakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang berupa tindakan-tindakan pemerintah. Kebijakan tersebut diartikan baik untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dengan mempunyai tujuan tertentu dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat. Menurut James L. Anderson dalam LAN (2008:6-8), jenis-jenis kebijakan publik dapat dikelompokkan, antara lain sebagai berikut:
C. Pedangang Kaki Lima
Peningkatan penduduk di Kota Makassar yang memiliki kecendrungan yang semakin besar. Pusat kota tersebut memiliki kegiatan dan daya tarik yang besar bagi penduduk desa untuk melakukan urbanisasi. Urbanisasi merupakan respon terhadap harapan untuk mendapatkan penghasilan dan pekerjaan yang dianggap lebih baik.
Perkembangan di Kota Makassar yang semakin terkonstruksi oleh kemajuan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri membuat level keterampilan menjadi semakin tinggi. Akibatnya, penduduk yang bermukim di sekitaran kota Makassar semakin tidak mempunyai kesempatan untuk berkerja di sektor formal, sehingga mereka memilih untuk bekerja di sektor informal. Ratna Sari, (2017)
Berdasarkan definisi tersebut, semua PKL yang menempati area publik atau tanah-tanah milik pemerintah adalah ilegal, tak terkecuali PKL Jl. KH Ramli dan Jl. KH Wahid Hasyim serta Jl. HOS Cokroaminoto. Akan tetapi, PKL diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam membangun pilar-pilar perekonomian masyarakat (quilljournal.wordpress.com).
Menurut Wirisardjono (2003) bahwa PKL adalah kegiatan sector marginal (kecilkecilan) yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pola kegiatan tidak teratur baik dalam hal waktu, permodalan maupun penerimanya.
b. Tidak tersentuh oleh peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah (sehingga kegiatannya sering dikatakan”liar”)
c. Modal, peralatan dan perlengkapan maupun omzetnya biasanya kecil dan diusahakan dasar hitung harian
Definisi-definisi tentang PKL di atas menunjukkan bahwa siapa saja berpeluang untuk menjadi PKL, kemudahan ini mendorong pesatnya jumlah PKL di kota-kota karna usaha ini cukup menjanjikan bagi mereka yang tidak tertampung di sektor formal, serta bagi mereka yang termasuk angkatan kerja yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan Mustafa (2008:9) menyatakan bahwa jenis usaha sektor ini paling berpengaruh karena kehadirannya dalam jumlah yang cukup besar mendominasi sektor yang bekerja memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, terutama golongan menengah ke bawah.
2. Penataan tempat usaha Pedagang Kaki Lima di jalan KH Ramli sampai dengan Jalan HOS Cokroaminoto (Pasar Sentral)
Kehadiran PKL di suatu kota pada dasarnya tidak direncanakan sehingga memunculkan permasalahan bagi suatu kota karena tidak tertata dengan rapi. Untuk mengembalikan ketertiban suatu kota muncul gagasan relokasi. Relokasi yaitu suatu upaya menempatkan kembali suatu kegiatan tertentu ke lahan yang sesuai dengan peruntukannya Harianto (2001). Dapat disimpulkan relokasi adalah usaha memindahkan PKL dari lokasi yang tidak sesuai ke sebuah lokasi yang dinilai layak menampung pedagang dengan memperhatikan semua aspek. Khususnya aspek ketertiban, keindahan dan kebersihan. Umumnya PKL tidak mendapatkan subsidi apapun dari pemerintah, modal yang dikeluarkan diperoleh dari meminjam sanak
family atau orang-orang terdekat. Pemerintah memandang sektor informal hanya sebagai ancaman yang harus ditertibkan bukan sebagai sektor penggerak ekonomi, maka terjadi kesalahan presepsi dalam memandang sektor informal Mubyarto (2002), sehingga pendekatkan yang diterapkan pun tidak menyentuh akar permasalahan.
Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah dalam pertumbuhan sektor informal, dengan cara menjamin serta mengatur perkembangan mekanisme pasar dan melindungi dari ancaman monopoli perusahaan besar yang bersifat formal.
Oleh karenanya, pemerintah mempertimbangkan lagi keberadaan sektor informal, jika keberadaan sektor informal mampu diberdayakan dengan baik, bisa menjadi potensi daerah dalam mengurangi angka pengangguran.
Upaya kebijakan pemerintah dalam merelokasi PKL bertujuan untuk mempergunakan badan jalan dengan semestinya selain dari itu pemerintah juga bertujuan untuk meningkatkan kesejatraan PKL. Kegiatan penataan tempat usaha merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pengelolaan PKL.
Dalam penataan tempat usaha tersebut walikota berwenang untuk menetapkan, memindahkan dan menghapus lokasi PKL dengan memperhatikan kepentingan sosial, ekonomi, ketertiban dan kebersihan lingkungan di sekitarnya Maulana (2004).
Ratnasari (2017) mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa berdasarkan hasil sensus ekonomi 2016 terdapat 132.444 usaha di Kota Makassar di mana 95,22% (126.115 usaha) adalah usaha mikro kecil menengah dan sisanya 4,78%
(6.329) adalah usaha menengah besar.
Pedagang kaki lima merupakan bagian dari sektor informal kota yang mengembangkan aktifitas produksi barang dan jasa di luar kontrol pemerintah dan tidak terdaftar (Evers dan Korf, 2002:234) selanjutnya menurut International Labour Organization (ILO) pedagang kaki lima didefinisikan sebagai sektor yang mudah dimasuki oleh pendatang baru, menggunakan sumber-sumber ekonomi dalam negeri, dimiliki oleh keluarga berskala kecil, menggunakan teknologi padat karya, ketrampilan yang dibutuhkan dipeoleh di luar bangku sekolah, tidak dapat diatur oleh pemerintah dan bergerak di pasar persaingan penuh.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pedagang kaki lima adalah setiap orang yang melakukan kegiatan usaha perdagangan atau jasa, yaitu melayani kebutuhan barang-barang atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh konsumen, yang dilakukan cenderung berpindah- pindah dengan kemampuan modal yang kecil/terbatas, dalam melakukan usaha tersebut menggunakan peralatan sederhana dan memiliki lokasi di tempat-tempat umum (terutama di atas trotoar atau sebagian badan jalan), dengan tidak mempunyai legalitas formal. Namun pengertian tentang pedagang kaki lima terus berkembang sehingga sekarang menjadi kabur artinya.
Selanjutnya dampak sosial ekonomi dapat dilihat dari kacamata positif dan negatif sehingga dapat lebih berimbang dalam memberikan penilaian. Yang bersifat positif yaitu meningkatnya kelayakan dan kenyamanan usaha, terbukanya kesempatan kerja, perubahan status PKL menjadi pedagang legal. Dampak negatif yaitu menurunnya pendapatan, meningkatnya biaya operasional, melemahnya jaringan
sosial, dan menurunnya kesempatan pedagang untuk ikut dalam kelompok- kelompok sosial non formal (Suryantika Sinaga, 2004: 134).
Keempat variabel di atas tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi dan berinteraksi secara timbale balik, oleh karena itu sering menimbulkan tekanan (tension) bagi terjadinya transaksi atau tawar menawar antara formulator dan implementor kebijakan.
Smith menggunakan model teoritisnya dalam bentuk system dimana suatu kebijakan sedang diimplementasikan, maka interaksi di dalam dan di antara keempat faktor tersebut mengakibatkan ketidaksesuaian dan akan menimbulkan tekanan atau ketegangan. Ketidaksesuaian, ketegangan dan tekanan-tekanan tersebut menghasilkan pola-pola interaksi, yaitu pola-pola yang tidak tetap yang berkaitan dengan tujuan dari suatu kebijakan.
D. Kebijakan Pemerintah dalam Penataan Pedangan Kaki Lima
Kebijakan publik itu sendiri mempunyai arti serangkaian tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat. M. Irfan Islamy (2004 h.20). Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan salah satu sektor informal yang dominan di daerah perkotaan, sebagai wujud kegiatan ekonomi skala kecil yang menghasilkan dan atau mendistribusikan barang dan jasa. Barang-barang yang dijual yaitu barang-barang convenience (berkatagori menyenangkan) seperti makanan hingga souvenir. PKL menjajakan dagangannya berkeliling atau mengambil tempat di trotoar dan emper toko.
Pertumbuhan PKL yang demikian pesat tersebut berdampak positif dan negatif. Positif, karena dapat menjadi sumber bagi pendapatan asli daerah, dapat menjadi alternatif untuk mengurangi pengangguran, dan dapat melayani kebutuhan masyarakat khususnya bagi golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Pedagang kaki lima adalah suatu usaha yang memerlukan modal relatif sedikit, berusaha dalam bidang produksi dan penjualan untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu. Usahanya dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam lingkungan yang informal.Pedagang kaki lima menurut Alam, dkk (2003:30). Ismawan (2002) menjelaskan bahwa Secara garis besar karakteristik PKL, digambarkan sebagai berikut: 1. Informalitas. Sebagian besar PKL bekerja diluar kerangka legal dan pengaturan yang ada, maka keberadaan mereka pun tak diakui oleh pemerintah setempat. 2. Mobilitas. Aspek informalitas dari PKL juga membawa konsekuensi tiadanya jaminan keberlangsungan aktifitas yang dijalani, sehingga usaha ini merupakan sektor yang relatif mudah dimasuki dan ditinggalkan. Apabila terdapat peluang maka dengan banyak pelaku yang turut serta, sebaliknya apabila terjadi perubahan peluang ke arah negatif pelakunya akan berkurang.
Pedagang kaki lima berpotensi dalam bidang pembangunan ekonomi sekaligus sebagai pengganggu ketertiban umum untuk itu dibutuhkan peran sosial dalam merumuskan kebijakan bagaimana pedagang kaki lima bisa tetap berjalan namun tidak sampai mengganggu ketertiban umum. Menurut Charles Lindblom dalam Hessel Nogi S. Tangkilisan (2004) mengatakan bahwa untuk memahami siapa sebenarnya yang merumuskan kebijakan lebih dahulu harus dipahami sifat-
sifat semua pemeran serta bagian atau peran apa yang mereka lakukan, wewenang atau bentuk kekuasaan yang mereka miliki dan bagaimana mereka saling berhubungan. Untuk itu Pemerintah harus berusaha untuk mengatasi permasalahan ini dengan bijak dan terbuka dengan menyadarkan kepada masyarakat baik terhadap pedagang kaki lima itu sendiri maupun konsumennya untuk selalu berusaha mentaati segala aturan yang ada dalam pemerintahan.
Kebijakan pemerintah yang harus diambil dalam mengatasi permasalah tersebut menurut Charles Lindblom dalam Hessel Nogi S. Tangkilisan (2004) adalah :
a.Alokasi tempat
Pemerintah tidak hanya memberikan peringatan kepada pedagang kaki lima saja yang melakukan kesalahan namun juga harus mampu memberikan solusi untuk mengatasi permasalah tersebut salah satunya adalah memberikan lahan atau tempat untuk berjualan kepada pihak pedagang kaki lima.
b.Sarana dan prasarana
Untuk dapat menjual dagangannya maka pedagang kaki lima harus bisa diberikan sarana dan prasarana yang baik sehingga baik pedagang maupun para pengunjung segan dan menikmati suasana yang menyenangkan sehingga betah dan krasan bisa ada ditempat tersebut.
c.Adanya peraturan dan larangan
Baik pedagang kaki lima maupun pengunjung tetap harus mentaati peraturan dan larangan yang dibuat oleh pemerintah dengan tujuan untuk pelaksanaan kegiatan dagang dapat berjalan secara teratur, tertib dan tidak sendiri-sendiri.
Selanjutnya Ramdhani (2005) menerangkan hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi relokasi pedagang kaki lima, yaitu : Pertama kestrategisan lokasi, yaitu konsumen mudah menjangkau lokasi usaha PKL karena adanya aksesibilitas yang mendukung. Kedua faktor visual, memberikan kesan harmonis dan asri sehingga mudah menarik minat konsumen, Ketiga hirarki pembangunan, jangkauan pelayanan yang efektif dan efisien, Keempat sewa atau penjualan tanah/ kios yang murah sehingga tidak memberatkan pedagang.
Begitupun dengan apa yang diungkapkan menurut Maulana (2004) dalam penelitiannya bahwa upaya untuk mewujudkan pemberdayaan para pedagang kaki lima, yaitu : pertama, memberikan kebijakan yang melindungi keberadaan PKL, kedua, memanfaatkan lahan yang kurang produktif menjadi lokasi berjualan PKL, ketiga merelokasi tempat-tempat berjualan para PKL, keempat melakukan penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah, untuk mengembangkan keahlian para PKL.
E.Kerangka Pikir
Kehadiran pedagang kaki lima merupakan salah satu unsur yang perlu diperhatikan dalam dunia perdagangan di Indonesia dari masa ke masa. Sebagai salah satu sektor informal, pedagang kaki lima tidak mungkin dihindari atau ditiadakan, pedagang kaki lima bagi sebuah kota tidak hanya sebagai fungsi ekonomi fungsi sosial dan budaya. Aktivitas perdagangan terutama pedagang kaki lima yang ada kota makassar berkembang sangat pesat kerena menyerap tenaga kerja yang besar dan modal usaha yang tidak terlalu besar, sehingga pedagang kaki lima ini menyebar begitu cepat.
Dengan berkembangnya ibu kota makassar membuat aktivitas di jalan semakin tinggi pula kawasan pedagang kaki lima yang ada di kawasan bahu jalan dan semakin banyak pula permasalahan yang timbul. Permasalahan-permasalahan yang sering terjadi dari hari ke hari adalah kepadatan lalu lintas, tingkat kesadaran pedagang kaki lima untuk kebersihan sekitar lapak dagangannya, pedagang kaki lima yang tidak tertib, masalah parkir yang semakin hari semakin tidak tertib, gangguan keamanan, gerobak yang tidak dimasukan ke gudang pada malam hari sehingga menganggu jalur jalan yang menganggu penggunjung yang ingin berbelanja.
Penelitian ini membahas mengenai implementasi kebijakan pemerintah dalam merelokasi pedangan kaki lima (PKL) di New Mall Kota Makassar, dari opservasi awal peneliti menemukan bahwa kebijakan pemerintah dalam merelokasi adalah usaha memindahkan PKL dari lokasi yang tidak sesuai ke sebuah lokasi yang dinilai layak menampung pedagang dengan memperhatikan semua aspek.
Penelitian ini membahas mengenai implementasi kebijakan pemerintah dalam merelokasi pedangan kaki lima (PKL) di New Mall Kota Makassar, apakah implementasi dilaksanakan berhasil atau berjalan secara lancar atau tidak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan kerangka pikir sebagai berikut.
Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam merelokasi Pedagang Kaki Lima di New Mall Kota Makassar
Faktor Pendukung : 1. Faktor Internal 2. Faktor Eksternal
Implementasi Kebijakan Menyangkut :
1. Sumber Daya 2. Komunikasi
3. Struktur Birokrasi 4. Diposisi atau Sikap
Faktor Penghambat:
1. Anggaran/baiaya 2. Koordinasi
Gambar I : Skema Kerangkar Pikir
Kebijakan relokasi pedagang kaki lima dari Jl. KH Ramli, Jl. KH Wahid Hasyim, dan Jl. HOS Cokroaminoto adalah sebuah teknik usaha yang dilakukan pemerintah kota makassar untuk memindahkan suatu objek dari satu tempat ke tempat lainnya yang di anggap layak dan lebih baik yaitu new mall kota makassar.
Relokasi Pedagang kaki lima(PKL) merupakan suatu bentuk aktivitas atau kegiatan yang dilakukan pemerintah kota Makassar guna melakukan penataan, pertiban dan pengelolaan atau pembinaan PKL dan Pemerintah juga menyediakan tempat baru yang lebih layak dan lebih baik dari sebelumnya.
Dampak secara langsung dari program yang dilakukan terhadap kelompok sasaran. Kriteria ini sangat menentukan bagi keikutsertaan dan respon warga masyarakat dalam mengimplementasikan dan mengelola hasil-hasil program tersebut. Tanpa adanya kepuasan dari pihak sasaran kebijakan, maka program tersebut dianggap belum berhasil.
Pencapaian tujuan atau hasil merupakan suatu yang mutlak bagi keberhasilan suatu pelaksanaan kebijakan. Meskipun kebijakan telah dirumuskan dengan baik oleh orang-orang yang ahli di bidangnya dan juga telah diimplementasikan, namun tanpa
Efektivitas Relokasi Pedagang Kaki
Lima
hasil seperti yang diharapkan maka dapat dikatakan bahwa program tersebut tidak berhasil atau gagal.
Pemilihan indikator hasil di atas didasarkan pada alasan bahwa indikator tersebut merupakan pengukur yang tepat dari efektivitas kebijakan apabila dilihat dari hasil setelah dilaksanakannya kebijakan.
PKL merupakan usaha sektor informal yang tak jarang menimbulkan masalah di perkotaan. Keberadaan PKL dianggap telah mengganggu ketertiban dan kebersihan kota. Begitu pula dengan PKL yang berada di kota Makassar, khususnya di Jalan KH Ramli sampai dengan Jalan HOS Cokroaminoto.
Di sisi lain, PKL dipandang sebagai penyakit kota. Keberadaan mereka di fasilitas umum dan fasilitas sosial dinilai merusak estetika kota. Apalagi mereka menempati bagian jalan. PKL seringkali juga mengganggu ketertiban, karena pembeli berkendaraan yang datang biasanya memarkirkan kendaraannya di badan jalan akibat keterbatasan tempat. Kondisi ini akan berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas.
F.Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini di lihat dari latar belakang masalah kemudian di rumuskan dalam rumusan masalah di kaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka.Adapun fokus penelitian implementasi kebijakan pemerintah dalam merelokasi pedagang kaki lima di new mall pasar sentral kota makassar.
G.Deskripsi Fokus Penelitian a. Sumber daya
Sumber daya adalah segala sumber yang dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. Sumber daya ini mencakup sumber daya manusia, anggaran, fasilitas, informasi dan kewenangan
b. Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari komunikor kepada komunikan.
c. Struktur birokrasi
Struktur birokrasi adalah suatu pelaksana kebijakan yang memberikan ruang bagi para pelaksana melakukan berbagai koordinasi kepada semua unit terkait sehingga dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan
d. Disposisi
Disposisi adalah suatu kecendrungan perilaku atau karakteristik dari pelaksana kebijakan berperan penting untuk mewujudkan implementasi kebijakan yang sesuai dengan tujuan atau sasaran
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Adapun menjadi lokasi penelitian ini adalah New Mall Pasar Sentral Kota Makassar. Penelitian ini dilaksanakan di PD Pasar Makassar Raya kota Makassar dan khususnya di lokasi yang kini ditempati PKL yaitu di Pasar Sentral yang terletak di jalan KH Ramli sampai dengan Jalan HOS Cokroaminoto.
Pemilihan Pasar Sentral sebagai lokasi penelitian yaitu karena isu tentang relokasi PKL di pasar tersbut memang sedang hangat dibicarakan dengan fakta yang ada yaitu hanya beberapa PKL saja yang menempati kios-kios di New Makassar Mall.
Selain itu juga permasalahan yang muncul dalam proses pelaksanaan relokasi PKL di pasar sentral tersebut menjadi hal yang menarik untuk diketahui lebih lanjut dengan diadakannya penelitian di lokasi tersebut.
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan bentuk deskriptif kualitatif yang memaparkan, menafsirkan dan menganalisis data yang ada. Penelitian deskriptif yakni studi kasus yang mengarah pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa adanya di lapangan studinya. Selain itu, penelitian ini juga ditunjang dengan studi kepustakaan untuk mengetahui relevansi pengetahuan yang ditemukan di lapangan dengan pendekatan teori yang ada.
C. Sumber data
Data yang dikumpulkan terutama merupakan data pokok yaitu data yang paling relevan dengan pokok permasalahan yang diteliti. Akan tetapi, demi kelengkapan dan kebutuhan dari masalah yang diteliti maka akan dikumpulkan pula data pelengkap yang berguna untuk melengkapi data pokok. Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1) Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri yang diperoleh melalui wawancara. Sedangkan yang akan diwawancarai antara lain:
a. Pedagang Kaki Lima di Jalan KH Ramli sampai dengan Jalan HOS Cokroaminoto yang sudah pindah di tempat kios PKL yang baru yakni di New Makassar Mall
b. Kepala Pasar Sentral
c. Aparat Kantor Pengelolaan PKL, yaitu Kepala Dinas bidang Pengelolaan PKL 2) Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, yang biasanya terbentuk publikasi-
publikasi. Yaitu melalui catatan-catatan lapangan hasil observasi penelitian dan pengumpulan dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian.
D. Informan Penelitian
Informan dalam hal ini yaitu orang yang berada pada ruang lingkup penelitian, artinya yaitu orang yang dapat menyerahkan suatu informasi tentang kondisi dan situasi pada latar penelitian.
Tabel I.I Informan Penelitian
No Nama Jumlah Keterangan
1 Syamsul Bahri, S. E 1 Kepala Bagian Umum 2 Asnawi M. Aras, S. H 1 Kepala Subbagian Penagihan 3 Andi Samsuddin
Effendi
1 Kepala Seksi Ketertiban Umum
4 zulkarnaim 1 Pedagang di Blok A
5 Farid 1 Pedagang di Blok B
6 Salsa 1 Pedagang di Blok C
7 Putri 1 Pedagang di Blok C
Adapun narasumber atau informan yang ada dalam penelitian ini yaitu orang- orang yang berwenang untuk menyerahkan informasi tentang bagaimana Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima di Pasar Sentral Kota