Kondisi II: Apabila seluruh Pemegang Saham melaksanakan haknya dalam PUT II, di mana jumlah maksimum penerimaan PUT II sebesar Rp12,4 triliun, maka dana tersebut, setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, akan
Per 31 Desember Per 30 Juni
F. GIHF
10. Kecenderungan dan Ketergantungan Usaha Kecenderungan
10. Kecenderungan dan Ketergantungan Usaha
10. Kecenderungan dan Ketergantungan Usaha Kecenderungan
Sejak tahun buku terakhir sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan memiliki kecenderungan yang signifikan dalam produksi, penjualan, persediaan, beban dan harga penjualan yang mempengaruhi kegiatan usaha dan prospek keuangan Perseroan. Perseroan juga memiliki kecenderungan, ketidakpastian, permintaan, komitmen, atau peristiwa yang tidak dapat diketahui yang dapat mempengaruhi secara signifikan penjualan bersih atau pendapatan usaha, pendapatan dari operasi berjalan, profitabilitas, likuiditas atau sumber modal, atau peristiwa yang akan menyebabkan informasi keuangan yang dilaporkan belum tentu dapat dijadikan indikasi atas hasil operasi atau kondisi keuangan masa datang.
Dampak Pandemi COVID-19 (“COVID-19”) Terhadap Operasional dan Keuangan Perseroan
Selain berdampak ke perekonomian global, pandemi COVID-19 juga berdampak ke perekonomian Indonesia. Pengaruh pandemi terhadap perekonomian Indonesia dapat terlihat dari pertumbuhan PDB tahunan yang menurun sebesar -2,07%
(year-on-year) pada tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 mengalami penurunan signifikan dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 sebesar 5,02%. Kemudian, pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2021 diproyeksikan oleh Bank Dunia sebesar 3,7% pada tahun 2021 dengan pertumbuhan ekonomi aktual pada tahun 2021 sebesar 3,69% (year-on-year) yang masih di bawah pertumbuhan rata-rata 10 tahun terakhir sebesar 5,4% (year-on-year).
Sedangkan untuk pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2022, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,2% menjadi 5,1% (year-on-year). Pertumbuhan ekonomi aktual yang sedikit lebih besar daripada proyeksinya menunjukan COVID-19 yang masih mempengaruhi perekonomian Indonesia pada tahun 2021 dan 2022.
Seterusnya, kondisi sektor transportasi udara Indonesia mengalami penurunan sebagaimana kondisi sektor transportasi udara global. Berdasarkan data BPS, sektor transportasi udara Indonesia merupakan sektor yang paling terdampak oleh pandemi, dengan penurunan PDB sektor transportasi udara sebesar -53,06% pada tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun 2019 dan -8,01% pada tahun 2021 jika dibandingkan dengan tahun 2020. Penurunan PDB pada tahun 2021 lebih kecil jika dibandingkan dengan penurunan PDB pada tahun 2020 walaupun belum dapat pulih ke kondisi sebelum pandemi.
Penurunan PDB Sektor Transportasi Udara Indonesia pada Tahun 2020 dan 2021
Dampak COVID-19 terhadap sektor transportasi udara dapat dilihat terutama dari pengaruhnya terhadap jumlah penumpang udara dari/ke Indonesia, baik untuk rute domestik maupun internasional.
Jumlah Penumpang Penerbangan dari/ke Indonesia sebagai % dari Jumlah Penumpang Penerbangan pada tahun 2019 Sebelum terjadinya COVID-19 (Januari 2019 – Februari 2020), rata-rata jumlah penumpang udara dari/ke Indonesia di tahun 2019 adalah sebesar 95% untuk rute domestik dan 101% untuk rute internasional terhadap Januari 2019. Namun, setelah terjadinya COVID-19 (Maret 2020 – Desember 2021), rata-rata jumlah penumpang udara dari/ke Indonesia menurun sangat signifikan menjadi hanya sebesar 47% untuk rute domestik dan hanya sebesar 5% untuk rute internasional terhadap Januari 2019.
-53.06%
-8.01%
2020 2021
Seperti para pelaku usaha dalam sektor transportasi udara lainnya, Perseroan juga sangat terdampak oleh pandemi COVID- 19. Dampak COVID-19 terhadap kinerja operasional Perseroan dapat dilihat terutama dari pengaruhnya terhadap jumlah penumpang atau pax carried.
(dalam jutaan)
Jumlah Penumpang Garuda Indonesia (Perseroan) 2015-2021
Jumlah penumpang yang diangkut oleh Perseroan menurun dari ~19 juta penumpang pada tahun 2019 menjadi ~5 juta penumpang pada tahun 2020 untuk rute domestik dan internasional.
(dalam jutaan kg)
Jumlah Kargo Garuda Indonesia (Perseroan) 2015-2021
Jumlah kargo, atau cargo carried, Perseroan untuk rute domestik dan internasional cenderung meningkat sejak lima tahun terakhir hingga puncaknya pada tahun 2017. Perseroan mulai mengalami penurunan pada jumlah kargo pada tahun 2018 dan mengalami penurunan signifikan pada tahun 2019 sebesar ~99,5 juta ton. Penurunan tersebut disebabkan oleh penyesuaian kapasitas produksi. Jumlah kargo pada tahun 2020 juga terus menurun secara signifikan sebesar ~94,4 juta ton akibat terjadinya pandemi COVID-19.
Penurunan kinerja operasional telah mengakibatkan penurunan kinerja keuangan Perseroan secara konsolidasi. Pendapatan Perseroan mengalami penurunan masing-masing pada tahun 2020 dan 2021 sebesar 67,4% dan 10,4%. Kinerja keuangan historikal Perseroan dalam 5 (lima) tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan dan perbaikan kondisi sampai dengan tahun 2019. Namun pada tahun 2020 sampai 2021 mengalami penurunan signifikan akibat penurunan kinerja operasional yang disebabkan oleh COVID-19. Penurunan pendapatan yang sangat signifikan tersebut tidak dapat diimbangi oleh penurunan yang sama dari sisi biaya karena struktur biaya Perseroan saat ini hampir 70% nya merupakan fixed cost, yaitu biaya sewa pesawat, personel dan overhead.
Sebagai akibat dari gap antara pendapatan dan biaya yang besar sejak bulan Maret 2020, ekuitas konsolidasi Grup per Desember 2020 tercatat negatif sebesar USD1,9 miliar. Ekuitas Perseroan terus menurun hingga mencapai negatif USD6,1 miliar per Desember 2021.
23.6 23.9 24 23.6
19.7
5.3 3.4
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
296.3 341.6 371 369.3
269.8
175.4 201.9
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Selain itu, untuk menjaga saldo kas tetap positif di tengah tekanan likuiditas yang dihadapi, Perseroan melakukan penundaan pembayaran atas utang dan tagihan yang telah jatuh tempo kepada para kreditur dan vendor Perseroan. Sebagai akibat dari hal tersebut, total utang dan tunggakan konsolidasi Grup mencapai USD2,9 miliar per Desember 2020 dan USD10,1 miliar per Desember 2021.
Dalam menghadapi Pandemi COVID-19, Perseroan melakukan restrukturisasi operasional komprehensif yang bertujuan untuk merasionalisasi struktur biaya Perseroan dan restrukturisasi keuangan bertujuan untuk menyehatkan struktur permodalan Perseroan.
Berikut strategi yang dilakukan oleh Perseroan:
a. Inisiatif Penurunan Lease Rate Pesawat
Perseroan berupaya mengurangi jumlah pesawat dan juga berupaya menurunkan biaya sewa secara signifikan untuk mendekati tarif sewa yang wajar bagi perusahaan sejenis di pasaran saat ini. Adapun inisiatif ini telah dilakukan melalui negosiasi dengan para lessor dan telah dicapai melalui Homologasi PKPU dimana diperoleh penurunan biaya sewa sebesar 58% untuk biaya sewa pesawat A330-300, 14% untuk A330-900, 51% untuk A330-200, 51% untuk B777-300, 36% untuk B737-800, 38% untuk A320-200, 30% untuk A320-200Neo, dan 31% untuk ATR72-600. Hal ini menunjukkan kedepannya operasional Perseroan akan semakin efisien.
b. Inisiatif Optimalisasi Jumlah Pesawat
Selain melakukan penurunan lease rate pesawat, dilakukan pengurangan jumlah pesawat Grup dari total 196 pesawat di akhir tahun 2020 menjadi 119 pesawat di akhir tahun 2022. Dengan catatan terdapat 1 (satu) pesawat B737-800 yang akan dikembalikan kepada lessor pada akhir akibat batasan operasional mesin mengacu ke Perjanjian Perdamaian, sehingga dari 38 pesawat B737-800NG menjadi 37 pesawat B737-800NG. Adapun untuk kedepannya pengoperasian pesawat ATR72-600 akan dilakukan oleh Citilink sebagai bagian dari program efisiensi armada.
Grup menyesuaikan kebutuhan armada dengan potensi pasar kedepannya untuk mendapatkan operasional yang efisien.
Adapun simplifikasi tipe pesawat ini telah dicapai melalui Homologasi PKPU.
c. Inisiatif Penetapan Power-by-the-Hour (“PBH”)
PBH merupakan skema pembayaran sewa pesawat yang mengacu pada jumlah utilisasi (per Flight Hour) yang digunakan untuk masing-masing pesawat. PBH ini telah disetujui melalui hasil negosiasi dan kesepakatan yang dilakukan dengan lessor selama proses PKPU. Penetapan PBH telah tercapai melalui Homologasi PKPU, dimana berdasarkan putusan homologasi dalam Perjanjian Perdamaian, skema PBH untuk pesawat B737-800NG adalah sampai dengan Desember 2022 dan untuk pesawat A330-300 dan A330-900Neo adalah sampai dengan 30 Juni 2023, pesawat A330- 200 sampai dengan rentang 30 Juni 2023 – 31 Desember 2023 (berbeda-beda untuk setiap registrasi A330-200), dan khusus untuk B777-300ER periode PBH adalah sampai dengan 31 Desember 2023.
Setelah periode PBH Rate selesai, Perseroan akan melakukan pembayaran sewa pesawat dengan skema pembayaran sewa fix lease rate, dimana harga sewa ini sudah selesai dinegosiasikan setelah Homologasi dan mengalami penurunan.
d. Inisiatif Optimalisasi Route Network
Sebagai bagian dari restrukturisasi operasional, Grup akan fokus beroperasi hanya pada rute-rute yang menguntungkan.
Sepanjang tahun 2022 (per Juni 2022), Citilink (92 rute) akan menjalankan rute yang lebih banyak dibandingkan Perseroan (88 rute). Pasca Homologasi, Perseroan dan Citilink masing-masing akan memiliki 61 dan 58 rute.
Pengurangan jumlah pesawat tersebut akan menyebabkan penurunan pangsa pasar domestik Perseroan dan Citilink pada tahun 2022. Meskipun demikian, pangsa pasar domestik Perseroan dan Citilink diproyeksikan dapat dipertahankan di sekitar ~10% dan ~27%. Pada tahun-tahun berikutnya seiring dengan rencana peningkatan jumlah pesawat yang mengacu pada market recovery, diestimasikan pangsa pasar domestik Perseroan akan mencapai angka ~18% dan Citilink akan mencapai angka ~22%.
e. Inisiatif Peningkatan Pendapatan dari Ancillary dan Kargo
Selain pada optimalisasi bisnis utama, Perseroan juga merencanakan adanya peningkatan pendapatan ancillary dan kargo dikarenakan dinilai belum optimal. Pendapatan ancillary ditingkatkan dengan cara memenuhi standar kualitas minimum dan tetap bersaing dengan pesaing lainnya seperti merchandise, product unbundling, pemberlakuan excess baggage fee dan inisiatif lainnya.
Pendapatan kargo sebagai sumber pendapatan dari penggunaan pesawat juga akan ditingkatkan di antaranya melalui:
1) Koordinasi strategi pemasaran untuk belly capacity dari Perseroan dan Citilink di bawah payung Garuda Indonesia Cargo.
Selain itu, untuk menjaga saldo kas tetap positif di tengah tekanan likuiditas yang dihadapi, Perseroan melakukan penundaan pembayaran atas utang dan tagihan yang telah jatuh tempo kepada para kreditur dan vendor Perseroan. Sebagai akibat dari hal tersebut, total utang dan tunggakan konsolidasi Grup mencapai USD2,9 miliar per Desember 2020 dan USD10,1 miliar per Desember 2021.
Dalam menghadapi Pandemi COVID-19, Perseroan melakukan restrukturisasi operasional komprehensif yang bertujuan untuk merasionalisasi struktur biaya Perseroan dan restrukturisasi keuangan bertujuan untuk menyehatkan struktur permodalan Perseroan.
Berikut strategi yang dilakukan oleh Perseroan:
a. Inisiatif Penurunan Lease Rate Pesawat
Perseroan berupaya mengurangi jumlah pesawat dan juga berupaya menurunkan biaya sewa secara signifikan untuk mendekati tarif sewa yang wajar bagi perusahaan sejenis di pasaran saat ini. Adapun inisiatif ini telah dilakukan melalui negosiasi dengan para lessor dan telah dicapai melalui Homologasi PKPU dimana diperoleh penurunan biaya sewa sebesar 58% untuk biaya sewa pesawat A330-300, 14% untuk A330-900, 51% untuk A330-200, 51% untuk B777-300, 36% untuk B737-800, 38% untuk A320-200, 30% untuk A320-200Neo, dan 31% untuk ATR72-600. Hal ini menunjukkan kedepannya operasional Perseroan akan semakin efisien.
b. Inisiatif Optimalisasi Jumlah Pesawat
Selain melakukan penurunan lease rate pesawat, dilakukan pengurangan jumlah pesawat Grup dari total 196 pesawat di akhir tahun 2020 menjadi 119 pesawat di akhir tahun 2022. Dengan catatan terdapat 1 (satu) pesawat B737-800 yang akan dikembalikan kepada lessor pada akhir akibat batasan operasional mesin mengacu ke Perjanjian Perdamaian, sehingga dari 38 pesawat B737-800NG menjadi 37 pesawat B737-800NG. Adapun untuk kedepannya pengoperasian pesawat ATR72-600 akan dilakukan oleh Citilink sebagai bagian dari program efisiensi armada.
Grup menyesuaikan kebutuhan armada dengan potensi pasar kedepannya untuk mendapatkan operasional yang efisien.
Adapun simplifikasi tipe pesawat ini telah dicapai melalui Homologasi PKPU.
c. Inisiatif Penetapan Power-by-the-Hour (“PBH”)
PBH merupakan skema pembayaran sewa pesawat yang mengacu pada jumlah utilisasi (per Flight Hour) yang digunakan untuk masing-masing pesawat. PBH ini telah disetujui melalui hasil negosiasi dan kesepakatan yang dilakukan dengan lessor selama proses PKPU. Penetapan PBH telah tercapai melalui Homologasi PKPU, dimana berdasarkan putusan homologasi dalam Perjanjian Perdamaian, skema PBH untuk pesawat B737-800NG adalah sampai dengan Desember 2022 dan untuk pesawat A330-300 dan A330-900Neo adalah sampai dengan 30 Juni 2023, pesawat A330- 200 sampai dengan rentang 30 Juni 2023 – 31 Desember 2023 (berbeda-beda untuk setiap registrasi A330-200), dan khusus untuk B777-300ER periode PBH adalah sampai dengan 31 Desember 2023.
Setelah periode PBH Rate selesai, Perseroan akan melakukan pembayaran sewa pesawat dengan skema pembayaran sewa fix lease rate, dimana harga sewa ini sudah selesai dinegosiasikan setelah Homologasi dan mengalami penurunan.
d. Inisiatif Optimalisasi Route Network
Sebagai bagian dari restrukturisasi operasional, Grup akan fokus beroperasi hanya pada rute-rute yang menguntungkan.
Sepanjang tahun 2022 (per Juni 2022), Citilink (92 rute) akan menjalankan rute yang lebih banyak dibandingkan Perseroan (88 rute). Pasca Homologasi, Perseroan dan Citilink masing-masing akan memiliki 61 dan 58 rute.
Pengurangan jumlah pesawat tersebut akan menyebabkan penurunan pangsa pasar domestik Perseroan dan Citilink pada tahun 2022. Meskipun demikian, pangsa pasar domestik Perseroan dan Citilink diproyeksikan dapat dipertahankan di sekitar ~10% dan ~27%. Pada tahun-tahun berikutnya seiring dengan rencana peningkatan jumlah pesawat yang mengacu pada market recovery, diestimasikan pangsa pasar domestik Perseroan akan mencapai angka ~18% dan Citilink akan mencapai angka ~22%.
e. Inisiatif Peningkatan Pendapatan dari Ancillary dan Kargo
Selain pada optimalisasi bisnis utama, Perseroan juga merencanakan adanya peningkatan pendapatan ancillary dan kargo dikarenakan dinilai belum optimal. Pendapatan ancillary ditingkatkan dengan cara memenuhi standar kualitas minimum dan tetap bersaing dengan pesaing lainnya seperti merchandise, product unbundling, pemberlakuan excess baggage fee dan inisiatif lainnya.
Pendapatan kargo sebagai sumber pendapatan dari penggunaan pesawat juga akan ditingkatkan di antaranya melalui:
1) Koordinasi strategi pemasaran untuk belly capacity dari Perseroan dan Citilink di bawah payung Garuda Indonesia Cargo.
2) Memanfaatkan pertumbuhan e-commerce Indonesia yang kuat serta mengupayakan basis produksi produk perikanan dan kelautan di Indonesia.
3) Digitalisasi bisnis kargo dengan berfokus pada inisiatif “quick win” termasuk platform komersial dan layanan track and trace.
4) Mengembangkan layanan door-to-door dan bekerja sama dengan agen dan penanganan logistic dan supply chain kargo.
f. Inisiatif Peningkatan Layanan Indonesian Hospitality di Era New Normal (Cleanliness, Healthiness, Safety, Environmental)
Perseroan akan secara konsisten melakukan strategi dan upaya-upaya dalam meningkatkan kepuasan pelanggan, diantaranya mempertahankan dan meningkatkan konsep layanan Indonesian Hospitality yang merupakan unique selling point sebagai diferensiasi dengan kompetior untuk mendorong daya saing, serta experience pelanggan sehingga pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan.
Dengan terjadinya Pandemi COVID-19 secara global, Perseroan telah melakukan penyesuaian terhadap konsep layanan penerbangan dengan pemberlakuan protokol kesehatan yang tetap mengutamakan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Perseroan melakukan penyesuaian tersebut melalui beberapa program seperti penyediaan personal health kit, prepacked food untuk meminimalisir kontak antara penumpang dan cabin crew, hygiene sticker, individually plastic wrapped cutlery (all class) serta digitalisasi layanan sebagai respon dampak Pandemi COVID-19 untuk meminimalisir media transmisi virus melalui program digital reading material dan wireless IFE.
Perseroan secara konsiten menerapkan protokol COVID-19 diantaranya melalui peniadaan beberapa layanan Inflight seperti Inflight Magazine, pillow, menu card, dan loose amenity kit, dan hot towel service untuk meminimalisir risiko transmisi virus COVID-19, penyediaan beberapa inflight material seperti special headrest cover, special greeting card, serta hand sanitizer di dalam kabin pesawat untuk mendukung hygiene protocol fulfillment campaign. Disamping itu Perseroan juga melakukan pengambangan menu berbasis Indonesian Hospitality dan healthy lifestyle.
Ketergantungan
Pemasok
Salah satu biaya terbesar dari operasional penerbangan Perseroan yang merupakan ketergantungan Perseroan adalah fuel.
Pada periode Jul-Sep 2022, biaya fuel mencapai 40% dari total biaya yang dikeluarkan Perseroan untuk kegiatan operasi.
Harga fuel cenderung berfluktuatif, bahkan pada 2022 ini mengalami kenaikan yang signifikan akibat situasi politik Rusia dan Ukraina. Sampai saat ini, pemasok fuel/avtur/bahan bakar pesawat di Indonesia hanya dilayani oleh PT Pertamina (Persero).
Pemerintah
Dalam menjalankan usahanya, Perseroan juga bergantung pada sejumlah kebijakan atau kontrak dengan Pemerintah, seperti kebijakan kuota tahunan Haji, kebijakan terkait sektor pariwisata dan kontrak perjalanan kepresidenan.
Sifat Musiman
Seperti bisnis pariwisata pada umumnya, kegiatan usaha Perseroan memiliki sifat musiman yang menyebabkan peningkatan jumlah penumpang pada bulan-bulan tertentu setiap tahunnya. Kondisi musiman kegiatan usaha Perseroan terjadi pada peak season atau pada musim liburan, antara lain pada libur dari raya Lebaran, libur sekolah, libur hari raya Natal, menjelang tahun baru dan hari-hari libur lainnya. Selain itu, Perseroan juga mengalami peningkatan pendapatan secara musiman pada periode Haji setiap tahunnya.