• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Itsbat Nikah Yang Sudah Disahkan di

BAB 3 METODE PENELITIAN

5.3 Kedudukan Itsbat Nikah Yang Sudah Disahkan di

Loket II atau III mencatat surat permohonan itu ke dalam register perkara permohonan. Dan selesailah proses pendaftaran sehingga pemohon dapat pulang dan menunggu panggilan sidang dari jurusita yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Agama.

Jika Pemohon yang tidak mampu untuk membayar SKUM panjar perkara dapat mengajukan permohonan untuk diizinkan berperkara secara cuma-cuma (Prodeo), dengan ketentuan mengurus surat keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat Pemohon dan diketahui kecamatan.

3. Pemanggilan Pihak Pemohon Itsbat Nikah

Setiap pelaksanaan persidangan, Pemohon atau para Pemohon wajib dipanggil untuk menghadap sidang tersebut melalui jurusita pemanggil atas perintah Ketua Majelis Hakim. Surat panggilan harus disampaikan langsung di tempat tinggal dan kepada pribadi Pemohon, apabila tidak dapat disampaikan secara langsung, jika petugas jurusita tidak berjumpa dengan Pemohon maka surat panggilandiserahkan kepada kepala Desa atau Lurah setempat, karena pemanggilan harus dilakukan secara patut dan sudah diterima oleh pihak yang bersangkutan selambat-lambatnya tiga hari sebelum sidang dibuka.

4. Persidangan

Proses pemeriksaan persidangan itsbat nikah dilakukan oleh Majelis Hakim selambat-lambatnya 30 hari setelah diterimanya berkas perkara permohonan. Dalam persidangan perkara, Majelis Hakim langsung membacakan permohonan Pemohon, jikapermohonan itu tetap dipertahankanoleh Pemohon, dilanjutkan dengan acara pembuktian, kesimpulan dan pembacaan penetapan. Pemeriksaan perkara permohonan itsbat nikah dilakukan oleh Majelis Hakim dengan persidangan yang dibuka dan tertutup untuk umum.

5. Pembacaan Putusan atau Penetapan

Setelah proses pemeriksaan perkara permohonan itsbat nikah sudah diputuskan dengan penetapan, maka dalam waktu 14 hari tidak ada upaya hukum banding yang diajukan oleh Pemohon, maka penetapan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka penyelesaian terakhir dari perkara tersebut, Pemohon sudah dapat mengambil salinan penetapan itsbat nikah tersebut melalui petugas Loket V dan petugas akan membuat surat serah terima. (wawancara: Bapak H. Jumrik, SH, Panmud Hukum Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 11 Oktober 2017)

5.3 Kedudukan Itsbat Nikah yang sudah Disahkan di Pengadilan Agama

perkawinan itu adalah merupakan syarat komulatif, yang berarti bahwa jika tidak terpenuhi salah satu syarat perkawinan tersebut, maka perkawinan dinyatakan tidak sah. Dengan demikian, ini membuka peluang untuk menguji sahnya suatu perkawinan jika terjadi keraguan pada salah satu syaratnya. Adapun pihak-pihak yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah menurut Pasal 7 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam adalah suami atau isteri, anak anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu. Dari ketentuan itu tergambar bahwa pihak yang berhak mengajukan itsbat nikah adalah pihak yang terlibat langsung dalam perkawinan sebagaimana yang diatur oleh peraturan perundang-undangan. Pihak yang dimaksud adalah suami, istri dan wali nikah. Di samping itu, ada pihak lain yang dimungkinkan terlibat dan berkepentingan dengan perkawinan tersebut, seperti orang tertentu yang mempunyai hubungan darah dengan yang diisbatkan nikahnya yaitu anak-anak, saudara dan lain-lain atau pejabat tertentu karena jabatannya seperti Pejabat Pencatat Nikah.

Dasar pelaksanaan itsbat nikah diperuntukkan pada hal tertentu saja seperti yang telah dijelaskan dalam Pasal 7 ayat (1), (2), dan (3) Kompilasi Hukum Islam.

Namun fakta dilapangan menunjukkan banyaknya perkara itsbat nikah yang masuk di lingkungan Peradilan Agama diluar ketentuan perundang-undangan.

Permohonan itsbat nikah diajukan ke pengadilan agama oleh mereka yang tidak dapat membuktikan perkawinannya dengan akta nikah yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah karena tidak tercatat. Permohonan itsbat nikah yang diajukan oleh Pemohon, oleh pengadilan agama diproses sesuai ketentuan hukum acara. Dalam buku Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama 2013Edisi Revisi yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang berbunyi:

“Pengadilan Agama hanya dapat mengabulkan permohonan itsbat nikah, sepanjang perkawinan yang telah dilangsungkan memenuhi syarat dan rukun nikah secara syariat Islam dan perkawinan tersebut tidak ada halangan apapun serta tidak melanggar larangan perkawinan yang sudah diatur peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur pada Pasal 8 sampai dengan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Pasal 39 sampai dengan Pasal 44 Kompilasi Hukum Islam (KHI)”.

Isbat nikahsangat bermanfaat bagi umat Islam untuk mengurus dan mendapatkan hak-haknya yang berupa surat-surat atau dokumen pribadi yang dibutuhkan dari instansi yang berwenang serta memberikan jaminan perlindungan kepastian hukum terhadap masing-masing pasangan suami istri. Isbat nikah pada dasarnya adalah upaya untuk mem peroleh Akta Nikah. Akta Nikah merupakan akta autentik karena akta tersebut dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) sebagai pejabat yang berwenang untuk melakukan pencatatan perkawinan.

Peraturan Perundang-undangan sudah mengharuskan adanya Akta Nikah sebagai bukti perkawinan, namun tidak jarang terjadi suami istri yang telah menikah tidak mempunyai Kutipan Akta Nikah. Dari semua permohonan isbat nikah tersebut, sebagian besar karena kutipan akta nikah hilang. (Ahmad Sanusi, 2016:116)

Berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI), adanya suatu perkawinan hanya bisa dibuktikan dengan akta perkawinan atau akta nikah yang dicatat dalam register. Bahkan ditegaskan, akta perkawinan atau akta nikah merupakan satu-satunya alat bukti perkawinan. Dengan perkataan lain, perkawinan yang dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah (PPN) Kantor Urusan Agama Kecamatan diterbitkan Akta Nikah atau Buku Nikah merupakan syarat sahnya perkawinan. Tanpa akta perkawinan yang dicatat, secara hukum tidak ada atau belum ada perkawinan. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 2 ayat (1), Akta Nikah dan pencatatan perkawinan bukan satu-satunya alat bukti keberadaan atau keabsahan perkawinan. Oleh karena itu, sebagai alat bukti, tetapi bukanlah sebagai alat bukti yang menentukan sahnya perkawinan, karena hukum perkawinan agamalah yang menentukan keberadaan dan keabsahan perkawinan tersebut. Akan tetapi di Indonesia sebagai negara hukum, ketentuan pencatatan perkawinan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bertujuan agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam (Pasal 5 Ayat (2) Kompilasi Hukum Islam) dan untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) sebagai instrumen kepastian hukum, kemudahan hukum, di samping sebagai bukti otentik adanya perkawinan.

Pencatatan perkawinan merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah atau negara untuk me lindungi dan menjamin terpenuhinya hak-hak sosial setiap warga negara, khususnya pasangan suami istri, serta anak-anak yang lahir dari perkawinan itu. Terpenuhinya hak-hak sosial itu, sehingga melahirkan tertib sosial dan tercipta keserasian dan keselarasan hidup bermasyarakat.

Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil wawancara dengan Bapak Drs.

Zakian, MH selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, mengenai pertanyaan faktor penyebab suami istri atau pihak yang mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama Medan, beliau mengatakan bahwa:

Masih banyaknya itsbat nikah yang diajukan ke Pengadilan Agama Medan karena tidak adanya Kutipan Akta Nikah yang disebab beberapa faktor yaitu:

a. Kelalaian pihak suami isteri atau pihak keluarga yang melangsungkan pernikahan tanpa melalui prosedur yang telah ditentukan pemerintah.

Karena kelihatan semata-mata karena ketidaktahuan mereka terhadap peraturan dan ketentuan hukum yang ada;

b. Faktor ekonomi, masih rendahnya penghasilan masyarakat yang merasa terbebani bila mengikuti prosedur resmi tersebut;

c. Karena kelalaian petugas Pegawai Pecatat Nikah, misalnya dalam memeriksa surat-surat atau persyaratannikah atau berkas-berkas yang ada tetapi sudah hilang;

d. Pernikahan yang dilakukan sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;

e. Tidak terpenuhinya syarat-syarat untuk berpoligami terutama tidak adanya persetujuan dari isteri sebelumnya.(Wawancara dengan Bapak Drs. Zakian, MH, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 10 Oktober 2017)

Kedudukan pencatatan perkawinan menurut Bagir Manan dalam bukunya Neng Djubaidah mengatakan bahwa untuk menjamin ketertiban hukum yang berfungsi sebagai instrumen kepastian hukum, kemudahan hukum, disamping sebagai salah satu alat bukti perkawinan. (Neng Djubaidah, 2012:159). Dengan demikian, jika terjadi pasangan suami isteri yang telah melakukan perkawinan yang sah menurut agama Islam, tetapi belum dicatatkan perkawinannya, maka menurut Bagir Manan cukup dilakukan pencatatan. Jika pasangan itu diharuskan melakukan pengulangan akad nikah kembali, maka perbuatan hukum itu bertentangan dengan Pasal 2 ayat (1), akibatnya perkawinan yang baru dilakukan

menjadi tidak sah. Suatu pencatatan perkawinan jika dilakukan maka akibat hukumnya perkawinan dianggap sah apabila memenuhi dua syarat, yaitu antara lain :

1. Telah memenuhi ketentuan hukum materil, yaitu telah dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun menurut hukum Islam.

2. Telah memenuhi ketentuan hukum formil, yaitu telah dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah yang berwenang. (Faizah Bafadhal, (Jurnal Ilmu Hukum), 2014: 11)

Begitu juga sebaliknya perkawinan yang tidak dicatat (perkawinan di bawah tangan) dan tidak pula dimintakan itsbat nikahnya, maka kedudukan perkawinan itu adalah :

a) Perkawinan yang dilakukan itu tidak mendapat pengakuan negara atau tidakmempunyai kekuatan hukum karena dianggap tidak pernah terjadi perkawinan, sehingga tidak menimbulkan akibat hukum.

b) Anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya saja, sedangkan hubungan perdata dengan bapaknya tidak ada.

c) Baik isteri maupun anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tidak berhak untuk menuntut nafkah atau warisan dari bapaknya.

Sedangkan dalam prakteknya Majelis Hakim Pengadilan Agama Medan dalam memaparkan pertimbangan hukum setiap perkara-perkara permohonan isbat nikah tersebut banyak yang mengacu aturan hukum ada juga tidak mengacu pada pasal tersebut sehingga putusan yang dihasilkan dapat memenuhi tiga unsur yang harus dimiliki oleh setiap putusan yaitu keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan hukum.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. H. Sahnan, SH., MH, mengenai pertanyaan bagaimana kedudukan permohonan itsbat nikah yang sudah disahkan Pengadilan Agama, beliau mengatakan bahwa:

“apabila permohonan permohonan itsbat nikah yang diajukan oleh suami dan isteri atau pihak-pihak lain telah dikabulkan, maka implikasinya adalah terhadap status perkawinan dimana perkawinan yang dilakukan

dilahirkan dari perkawinan tersebut mendapat pengakuan berdasarkan ketentuan undang-undang yang ada di Negara Republik Indonesia, sehingga dengan sudah ditetapkannya perkawinan itu maka segala pengurusan administrasi menjadi sah dan anak-anak yang dilahirkan mendapat hak-haknya baik pengakuan hak warisan ataupun hak-hak lain dari orang tuanya” (Wawancara dengan Bapak Drs. H. Sahna, SH., MH, Hakim Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 10 Oktober 2017)

Maka dengan demikian, pencatatan perkawinan merupakan suatu persyaratan formil sahnya perkawinan di Negara Republik Indonesia yang berdasarkan ketentuan undang-undang. Persyaratan formil ini bersifat prosedur dan administratif. Sehingga Itsbat nikah adalah jalan atau upaya untuk implikasi memberikan jaminan lebih konkret dan jelas secara hukum atas hak anak dan isteri dalam suatu perkawinan dan juga apabila pasangan suami isteri tersebut bercerai. Dalam arti lain bahwa itsbat nikah sebagai suatu dasar hukum dari pencatatan perkawinan (legalisasi perkawinan) yang melahirkan kepastian hukum terhadap status perkawinan dan status anak-anak dalam perkawinan menurut ketentuan undang-undang.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, sehingga dapat ambil kesimpulan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Ketentuan pengaturan itsbat nikah dalam perundang-undangan Indonesia adalah Isbat nikah merupakan sebuah amanah dalam peraturan sebagaimana yang disebutkan pada Pasal 7 ayat (2) dan (3) Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi: a. dalam rangka penyelesaian perceraian, b. hilangnya akta nikah, c. adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan, d. perkawinan terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, e.

perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, dan selain itu pengaturan juga terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang peraturan pelaksana undang-undang perkawinan.

2. Tata cara mengajukan permohonan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Medan yaitu pertama pemohon itsbat nikah terlebih dahulu membuat surat permohonan itsbat nikah melalui ruangan Posbakum baik permohonan bentuk valunter maupun kontensius, keduapendaftaranatau memasukkan surat permohonan ke Loket II atau Loket III agar ditentukan SKUM biaya panjar perkara, ketiga pemanggilanpara pihak Pemohon Itsbat Nikah, setelah permohonan di daftar maka pemohon akan dilakukan pemanggilan untuk hadir pada persidangan, atau para Pemohon wajib dipanggil untuk menghadap sidang tersebut, keempatpersidangan dalam persidangan perkara

Pemohon, pembuktian yaitu bukti surat dan saksi, kesimpulan dan pembacaan penetapan. Kelimapembacaan putusan atau penetapan, setelah proses pemeriksaan perkara permohonan itsbat nikah sudah diputuskan dengan penetapan, maka dalam waktu 14 hari tidak ada upaya hukum banding yang diajukan oleh Pemohon, pihak Pemohon sudah dapat mengambil salinan penetapan itsbat nikah tersebut melalui petugas Loket V.

3. Kedudukan itsbat nikah yang sudah disahkan di Pengadilan Agama yaitu setiap permohonan itsbat nikah yang diajukan oleh suami dan isteri atau pihak-pihak lain telah dikabulkan Pengadilan Agama, maka implikasinyaterhadap status perkawinan dimana perkawinan yang dilakukan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum. Begitu pula anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut mendapat pengakuan berdasarkan ketentuan undang-undang yang ada di Negara Republik Indonesia, sehingga dengan sudah ditetapkannya perkawinan itu maka segala pengurusan administrasi menjadi sah dan anak-anak yang dilahirkan mendapat hak- haknya baik pengakuan hak warisan ataupun hak-hak lain dari orang tuanya dan perkawinan dilaksanakan itu mendapatkan kepastian hukum.

6.2. Saran

1. Diharapkan setelah mengetahui ketentuan pengaturan hukum yang sudah ada dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka perlu sekali dalam permohonan itsbat nikah bagi pernikahan belum terdaftar sehingga aturan yang sudah ada menjadi payung hukum dalam mengajukan permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama di seluruh Indonesia.

2. Diharapkan sengat perlu memberikan informasi atau sosialisasi terkait masalah permohonan itsbat nikah bagi mereka yang belum memperoleh Kutipan Akta Nikah, agar masyarakat tidak kebingungan pada saat melakukan permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama.

3. Semoga itsbat nikah yang sudah diputus dan penetepan dari Pengadilan Agama Medan menjadi bukti perkawinan yang sudah sah dan menadapat pengakuan menurut ketentuan undang-undang.

DAFTAR PUSTAKA A. Buku

Abdurrahman dan Syahrani. 2001. Masalah-Masalah Hukum Perkawinan di Indonesia. Bandung: Almuni.

Abdul Manan. 2008. Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta:

Kencana.

Abd.Shomad. 2012. Hukum Islam (Penormaan Prinsip Syriah dalam Hukum Islam). Jakarta: Kencan

Ahmad Rofiq. 1998. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Amir Syarifuddin. 2003. Garis-Garis Besar Fiqh. Bogor: Kencana.

Amir Syarifuddin. 2007. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media.

Amaruddin, Zainal Asikin. 2010. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta:

Rajawali Pers.

Chatib Rasyid dan Syairuddin.2009. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktik pada Peradilan Agama. Yogyakarta: UII Press.

Djamaan Nur. 1993. Fiqh Munakahat. Semarang: CV. Toha Putra.

Mardani. 2011. Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam Modern. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Muhammad Syaifuddin, Sri Turatmiyah dan Annalisa Yahanan. 2013. Hukum Perceraian. Jakarta: Sinar Grafika.

Moh. Idris Ramulyo. 2004. Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.

Jakarta: PT.Bumi Aksara.

Nasution, S., 2007, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Bumi Aksara, Jakarta.

Neng Djubaidah. 2012. Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Dicatat Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam, Jakarta: Sinar Grafika.

Sulaiman Rasyid. 1986. Fiqh Islam. Bandar Lampung: PT. Sinar Baru Algensindo.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 2011. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Rajawali Pers.

Tim Penyusun Kamus. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

B. Artikel/Jurnal Ilmiah

Ahmad Sanusi, Pelaksanaan Itsbat Nikah (artikel), (Ahkam: Vol. XVI, No. 1, Januari 2016 Banten, Serang).

Faizah Bafadhal, Itsbat Nikah Dan Implikasinya Terhadap Status Perkawinan Menurut Peraturan Perundang-Undangan Indonesia (Jurnal Ilmu Hukum), Maret 2014, Jambi.

Yusna Zaidah, Isbat Nikah Dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam Hubungannya Dengan Kewenangan Peradilan Agama (Syariah Jurnal Hukum dan Pemikiran IAIN Antasari), 2014, Banjarmasin.

C. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1974 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam

Lampiran 1: Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas

No Nama NIDN Bidang

Ilmu

Alokasi Waktu (Jam/minggu )

Uraian Tugas

1 Riswan Munthe, SH., MH

0105058805 Hukum Pidana

12 1. Sebagai Ketua

2. Menyusun daftar pertanyaan 3. Menyiapkan

kebutuhan administrasi penelitian 4. Melakukan

pendekatan terhadap responden 5. Menjadi nara

sumber dalam kegiatan seminar penelitian 6. Diskusi dengan

Pemohon Itsbat Nikah dan hakim Pengadilan Agama Medan 2 Sri Hidayani,

SH., MH

0110058304 Hukum Perdata

12 1. Sebagai

Anggota 2. Merancang

penelitian 3. Mengadakan

tinjauan lapangan

4. Membantu ketua melakukan wawancara dengan responden 5. Melakukan

analisa tentang

keakuratan data 6. Membantu ketua

dalam penelitian lapangan 7. Koreksi

terhadap jawaban responden.

8. Mempersiapkan bahan-bahan penelitian 9. Mempersiapkan

akomodasi penelitian yang diperlukan.

10.Membantu ketua melakukan penelitian lapangan.

Lampiran 2: Biodata Ketua dan Anggota Tim Pengusul 1. Identitas Diri

A. Ketua

1 Nama Lengkap (dengan gelar)

Riswan Munthe, SH., MH

2 Jenis Kelamin Laki-laki

3 Jabatan Fungsional Asisten Ahli 4 NIP/NIK/Identitas lainnya -

5 NIDN 0105058805

6 Tempat dan Tanggal Lahir Barus/Padang Masiang, 05 Mei 1988

7 E-Mail [email protected]

8 Nomor Telepon/HP 0813 9659 0023

9 Alamat Kantor Jl. Kolam No. 1 Medan Estate 10 Nomor Telepon/Faks 061-7366878/061-7366998 11 Lulusan Yang Telah di

hasilkan

S-1 = orang S-2 = - S-3 = - 12 Mata Kuliah yang diampu Hukum Pidana I dan II, Perkembangan Hukum

Pidana, Perbandingan Hukum Pidana, Hukum Pidana Internasional, Pendidikan

Kewarganegaraan, KKL dan Klinis Hukum.

B. Riwayat Pendidikan

S-1 S-2 S-3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Bidang Ilmu Ilmu Hukum/Hukum

Pidana

Ilmu

Hukum/Hukum Pidana

Tahun Masuk 2007 2011

Judul

Skripsi/Tesis/Disertasi Pertanggungjawab

an Pidana

terhadap

Penangkapan Ikan Dengan

Menggunakan Bahan Peledak

(Studi di

Pangkalan TNI Angkatan Laut Sibolga)

Peran Penyidik TNI Angkatan Laut Terhadap Tindak Pidana Illegal Fishing di Perairan Laut

Kabupaten Tapanuli Tengah

MH.

2. Nasir Sitompul, SH., MH

Mulyadi, SH., M.

Hum.

2. Dr. Alfi Sahrin, SH., M.Hum

C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir (Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)

NO Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber JLH (Juta Rp) 1 2016 Peran Pengadilan Agama

Terhadap Pembatalan Pekawinan

DIYA UMA

Rp. 3.000.000

* Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema penelitian DIKTI maupun dari sumber lainnya.

D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir No Tahun Judul Pengabdian Kepada

Masyarakat

Pendanaan

Sumber JLH (juta Rp)

* Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema pengabdian kepada masyarakat DIKTI maupun dari sumber lainnya.

E. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/Nomor/Tahu n

1 Perdagangan Orang (Trafficking) Sebagai Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial UNIMED

07. No. 2. 2015

2 Kekuatan Sumpah Li’an Menurut Fiqh Islam

Penegakan Hukum UMA

03. No.5. 2016 3 Peran Pengadilan Agama

Terhadap Pembatalan Perkawinan

Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial UNIMED

F. Pemakalah, Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No Nama Pertemuan

Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat

1 Seminar Dialog &Penanggulangan

Pemberatasan Sikap Radikal dan Tindak Pidana Teroris.

2015, BNPT Sumut

2 Seminar Sinergitas Penanganan

Whitstleblower dan Justice

Collabarator dalam

Pengungkapan Tindak Pidana

2016, USU

Dst

G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul Buku Tahun JLH Halaman Penerbit

1 - - -

2 - - - -

Dst -

B. Anggota

1 Nama Lengkap (dengan gelar)

Sri Hidayani, SH., M.Hum

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Jabatan Fungsional Lektor 4 NIP/NIK/Identitas lainnya -

5 NIDN 0110058304

6 Tempat dan Tanggal Lahir Medan, 10 Mei 1983

7 E-Mail [email protected]

8 Nomor Telepon/HP 0813 7519 4223

9 Alamat Kantor Jl. Kolam No. 1 Medan Estate 10 Nomor Telepon/Faks 061-7366878/061-7366998 11 Lulusan Yang Telah di

hasilkan

S-1 = orang S-2 = - S-3 = - 12 Mata Kuliah yang diampu Hukum Acara PTUN, Hukum Perlindungan

Konsumen, Etika Profesi Hukum, Klinis Hukum dan KKL.

B. Riwayat Pendidikan

S-1 S-2 S-3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara Bidang Ilmu Ilmu Hukum/Hukum

Perdata

Ilmu

Hukum/Hukum Pidana

Tahun Masuk Judul

Skripsi/Tesis/Disertasi

Aspek Hukum

Terhadap Perlindungan

Konsumen Pada Pelayanan PDAM Tirtasari Kota Binjai (Study Kasus PDAM Tirtasari Kota Binjai)

Analisis Hukum Terhadap

Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam

Pemberian Kredit Perbankan Menurut

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999

Nama Pembimbing 1. Prof. Dr. Tan 1. Prof. Dr. Tan

2. Muhammad , SH.,

M.Hum M.Hum.

2. Prof. Dr. M.

Yamin, SH., M.Hum 3. Prof. Dr.

Runtung Sitepu, SH, M.Hum

C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir (Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)

NO Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber JLH (Juta Rp) 1 2016 Peran Pengadilan Agama

Terhadap Pembatalan Pekawinan

DIYA UMA

Rp. 3.000.000

* Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema penelitian DIKTI maupun dari sumber lainnya.

D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir No Tahun Judul Pengabdian Kepada

Masyarakat

Pendanaan

Sumber JLH (juta Rp)

* Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema pengabdian kepada masyarakat DIKTI maupun dari sumber lainnya.

E. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/Nomor/Tahun 1 Analisis Hukum Terhadap

Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Pemberian Kredit Perbankan Menurut UU No.

14 Tahun 1999

Jurnal Moral & Adil 06. No. 3. 2015

2 Aspek Hukum Perdata Dalam Penyiaran dan Penayangan Iklan di Televisi di TVRI SUMUT

Jurnal Penegakan Hukum FH UMA

03. No.5. 2016

F. Pemakalah, Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No Nama Pertemuan

Ilmiah/Seminar

Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat 1

2 Dst

G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir

Dokumen terkait