BAB 3 METODE PENELITIAN
5.2 Tata Cara Mengajukan Permohonan Itsbat Nikah pada
Pelaksanaan suatu perkawinan atau nikah baru dapat dikatakan sebagai perbuatan hukum atau menurut hukum apabila dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku secara positif. Ketentuan hukum yang mengatur mengenai tata cara perkawinan diatur dalam Pasal 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan yang tidak dicatat dan atau tidak tercatat dianggap tidak sah dimata hukum dan juga tidak mendapat akta nikah sebagai bukti otentik sahnya suatu perkawinan.
Itsbat nikah merupakan penetapan pengadilan tentang sahnya suatu perkawinan. Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Berdasarkan penjelasan Pasal 2 disebutkan bahwa dengan perumusan pada Pasal 2 ayat (1) ini tidak ada perkawinan diluar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar 1945.
Maksud dengan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain tersebut. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 2 ayat (1) dalam penjelasannyadapat diketahui bahwa patokan untuk mengetahui suatu perkawinan sah adalah hukum masing-masing agama dan kepercayaan para pihak serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam Undang Undang Perkawinan. (Yusna Zaidah, (Jurnal Syariah Antasari) 2014: 5)
Pengadilan Agama dengan itsbat nikah mempunyai andil dan kontribusi yang sangat besar dan penting dalam upaya memberikan rasa keadilan dan kepastian serta perlindungan hukum bagi masyarakat. Mereka yang selama ini tidak memiliki Kartu Keluarga karena tidak mempunyai Buku Nikah, setelah adanya penetapan itsbat nikah oleh Pengadilan Agama mereka akan mudah mengurus Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran anak-anak mereka sehingga sudah tidak kesulitan untuk masuk sekolah. Bahkan, calon jamaah haji yang tidak
Agama untuk mengurus paspor. (Yusna Zaidah, (Jurnal Syariah Antasari), 2014:
6)
Ketentuan pencatatan perkawinan diatur dalam Pasal 2 Ayat (2) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bertujuan agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam (Pasal 5 Ayat (2) Kompilasi Hukum Islam) dan untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) sebagai instrumen kepastian hukum, kemudahan hukum, di samping sebagai bukti otentik adanya perkawinan. Pencatatan perkawinan merupakan melindungi dan menjamin terpenuhinya hak-hak sosial setiap warga negara, khususnya pasangan suami istri, serta anak-anak yang lahir dari perkawinan itu.
Menurut Pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan perkawinan menimbulkan kemaslahatan umum karena dengan pencatatan inimemberikan kepastian hukum terkait dengan hak-hak suami/isteri, kemaslahatan anak maupun efek lain dari perkawinan itu sendiri. Perkawinan yang dilakukan di bawah pengawasan atau di hadapan Pegawai Pencatat Nikah atau Kantor Urusan Agama mendapatkan Akta Nikah sebagai bukti telah dilangsungkannya sebuah perkawinan.
Akta Nikah merupakan akta autentik juga berfungsi untuk memperoleh kepastian hukum sebuah perkawinan. Kepastian hukum adalah perangkat hukum suatu negara yang mampu menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara.
Kepastian hokum diartikan dengan jaminan bagi anggota masyarakat, bahwa semuanyadiperlakukan oleh Negaraberdasarkan peraturan hukum, tidak dengan sewenang-wenang.
Berdasarkan hasil penelitian, berikut ini akan gambarkan bagan struktur organisasi Pengadilan Agama Medan yaitu:
Tabel : 3 Struktur Pengadilan Agama Medan
Sumber : Hasil Penelitian pada Pengadilan Agama Medan, Oktober 2017
Prosedur permohonan itsbat nikah samadengan prosedur gugatan, diproses di Kepaniteraan Gugatan atau Permohonan. Adapun tata caraprosedur atau mekanisme dalam pengajuan perkara permohonan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Medan adalah sebagaimana bentuk bagan di bawah berikut ini:
Tabel: 4Bagan Prosedur Pengajuan Itsbat Nikah
Sumber : Hasil Penelitian pada Pengadilan Agama Medan, Oktober 2017
Berdasarkan prakteknya, itsbat nikah ini dapat dikelompokkan dalam perkara yang tidak mengandung unsur sengketa (yurisdiksi volunter), yang mana hanya ada satu pihak yang berkepentingan dalam perkara itu. Adapun perkara
voluntair memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, masalah yang diajukan bersifat sepihak semata.Maksudnya adalah benar-benar murni untuk meyelesaikan kepentingan Pemohon tentang permasalahan perdata yang memerlukan kepastian hukum. Dengan demikian pada prinsipnya, apapun yang dipermasalahkan, tidak bersentuhan dengan hak dan kepentingan pihak lain. Kedua, permasalahan yang dimohon penyelesaiannya, pada prinsipnya tanpa sengketa dengan pihak lain.
Berdasarkan ukuran ini, tidak dibenarkan mengajukan permohonan tentang penyelesaian sengketa hak atau kepemilikan maupun penyerahan serta pembayaran sesuatu oleh orang lain atau pihak ketiga. Ketiga, tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan, tetapi bersifat experte. Hal ini berarti perkara benar-benar murni dan mutlak satu pihak atau bersifat ex-perte.
Menurut Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 14/TUADA-AG/IX/2013 Buku II Edisi Revisi Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Agama atau pedoman beracara di Pengadilan Agama, yang menjelaskan bahwa permohonan untuk kepentingan sepihak atau yang terlibat dalam permasalahan hukum yang diajukan dalam kasus itu hanya satu pihak yaitu permohonan itsbat nikah yang diajukan oleh kedua suami isteri. Tata cara mengajukan permohonansamadengan prosedur gugatan, diproses di KepaniteraanPermohonan. Adapun prosedur atau mekanisme dalam pengajuan perkara permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama berdasarkan prosedur pengajuan perkara di Pengadilan Agama Medan.
Perkara permohonan dan perkara gugatan yang diajukan ke Pengadilan Agama tata caranya, yaitu boleh secara in person dan boleh juga melalui kuasa khusus sebagaimana yang diatur pada Pasal 142 ayat (1) dan Pasal 147 R.bg.
Selain itu, dalam Pasal 142 ayat (1) R.bg juga dijelaskan bahwa gugatan diajukan secara tulisan. Sedangkan pengajuan gugatan ke Pengadilan Agama secara lisan diberi peluang yang sama dengan pengajuan gugatan secara tulisan oleh Pasal 144 ayat (1) R.Bg. pengajuan perkara in person atau kuasanya, baik secara lisan maupun tulisan sebagai mana dimaksud Pasal 144 ayat (1) R.Bg dan 142 R.Bg ayat (1) di masukkan melalui Meja I atau Loket. (Chatib Rasyid dan Syaifuddin,
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Drs. Zakian, MH sebagai Hakim Pengadilan Agama Medan mengenai pertanyaan tata cara mengajukan permohonan itsbat nikah diajukan pada Pengadilan Agama Medan, beliau mengatakan bahwa:
“Permohonan dengan ketentuan apabila itsbat nikah ini bersifat volunteerartinya perkara yang pihaknya hanya terdiri dari pemohon saja, tidak ada pihak termohon atau pihak lawan dengan ketentuan:
a. Apabila permohonan itsbat nikah yang diajukan oleh suami dan isteri secara bersama-sama, artinya antara suami dan istri bersama-sama mengajukan permohonan itsbat ke Pengadilan Agama;
b. Apabila permohonan diajukan oleh suami atau isteri yang ditinggal mati oleh suami atau isterinya, sedang Pemohon tidak mengetahui ada ahli waris lainnya selain dia.” (Wawancara dengan Bapak Drs. Zakian, MH, selaku Hakim Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 10 Oktober 2017)
Selanjutnya, wawancara dengan pihak Pemohon itsbat nikah yaitu Bapak Ahmad Usman bin Usman dan Ibu Nurainun binti Ahmad selaku para Pemohon yang sedang mengajukan permohonan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Medan, mengatakan bahwa mengajukan permohonan itsbat nikah pertama membuat terlebih dahulu permohonan melalui Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pengadilan Agama Medan dengan alasan pernikahan para Pemohon terjadi pada tahun 1977 dan sudah melahirkan 7 (tujuh) orang anak, alasan permohonan itsbat nikah yang diajukan para Pemohon karena pernikahannya tidak terdaftar di Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat, dan tujuan para Pemohon mengajukan itsbat nikah ini adalah untuk mendapatkan legalisasi pernikahan dan keperluan administrasi kependudukan, pada hal ketika berlangsung pernikahan di hadiri oleh Pejabat Pencatat Nikah, tetapi para Pemohon tetap tidak memperoleh Kutipan Akta Nikah yang disebabkan karena kelalaian petugas Pegawai Pecatat Nikah atau wakil tidak mendaftarkan sehingga surat-surat atau persyaratan- persyaratan nikah atau berkas-berkas sudah hilang. (Hasil wawancara Ahmad Usman dan Nurainun, tanggal 10 Oktober 2017)
Selain itu, wawancara dengan Bapak Drs. H. Sahnan, SH., MH selaku Hakim Pengadilan Agama Medan mengenai permohonan itsbat nikah dapat bersifat kontensius, beliau mengatakan bahwa:
“apabila perkara yang diajukan dengan adanya lawan yang pihaknya terdiri dari Pemohon melawan Termohon atau Penggugat melawan Tergugat dengan ketentuan:
1) Apabila permohonan diajukan oleh salah seorang suami atau isteri, dengan mendudukkan suami atau isteri sebagai pihak Termohon;
2) Bila pernohonan diajukan oleh suami atau isteri sedang salah satu dari suami isteri tersebut masih ada hubungan perkawinan dengan pihak lain, maka pihak lain tersebut juga harus dijadikan pihak dalam permohonan tersebut;
3) Apabila permohonan diajukan oleh suami atau isteri yang ditinggal mati oleh suami atau isterinya, tetapi dia tahu ada ahli waris lainnya selain dia seperti anak-anak;
4) Apabila permohonan diajukan oleh wali nikah, ahli waris atau pihak lain yang berkepentingan.” (Wawancara dengan Bapak Drs. H. Sahna, SH., MH, Hakim Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 11 Oktober 2017)
Kemudian, terkait masalah proses permohonan itsbat nikah yang bersifat kontensius di Pengadilan Agama Medan. Model Permohonan kontensius seperti yang diajukan oleh Ibu Hj. Nurmala binti Bawai, yang mengatakana bahwa pembuatan permohonan itsbat melalui Pos Bantuan Hukum (Posbakum) yang berada di Pengadilan Agama Medan. Beliau mengajukan permohonan itsbat nikah dikarenakan suami dari Pemohon sudah meninggal dunia sehingga ditariknya anak-anak Pemohon sebagai lawan atau Termohon, dimana pernikahan Pemohon dengan suaminya terjadi pada tahun 1949 artinya pernikahan tersebut terlaksana sebelum berlaku dan lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pemohonan itsbat nikah yang diajukan untuk keperluan adminstrasi di PT. Taspen guna mengambil dan mencairkan uang duka dan dana pensiunan atas nama suaminya. (Wawancara dengan Ibu Hj. Nurmala, Pihak Pemohon Itsbat Nikah, tanggal 20 Oktober 2017)
Selanjutnya, terkait permohonan itsbat nikah sekaligus gugatan cerai yang diajukan dalam bentuk kontensiusyaitu sebagaimana yang diajukan oleh Ibu Yenni Lestari binti Sumarwan, dimana beliau mengatakan bahwa pembuatan surat itsbat nikah sekaligus cerai melalui Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pengadilan Agama Medan, dengan alasan tidak adanya Kutipan Akta Nikah dan dalam rangka penyelesaian perceraian. Alasan itsbat nikah ini diajukan adalah
pernikahan terjadi pada tahun 1989 dan tidak dapat keluarnya kutipan akta nikah dibebabkan suaminya tidak memperoleh izin untuk berpoligami. (Wawancara dengan Ibu Yenni Lestari, tanggal 13 Nopember 2017)
Hasil wawancara dengan Bapak H. Jumrik, SH sebagai Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Medan, yang mengatakan bahwa:
“Tata cara memasukkan perkara permohonan itsbat nikah atau pengesahan nikah pada Pengadilan Agama Medan memiliki proses atau tahapan yaitu sebagai berikut:
1. Membuat dan mengajukan surat permohonan
Permohonan itsbat nikah yang diajukan oleh Pemohon ke Pengadilan Agama Medan di tempat tinggal Pemohon sendiri.
Pemohon atau pihak yang datang ke Pengadilan Agama Medan dengan mengajukan permohonan itsbat atau pengesahan nikah lebih dahulu menghadap bagian informasi dan pelayanan, kemudian nantinya petugas informasi dan pelayanan akan mengarahkan pihak Pomohon untuk membuat surat permohonan itsbat nikah terlebih dahulu melalui ruangan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) yang ada di Pengadilan Agama Medan, dimana pihak Pemohon akan mendapatkan informasi tentang tata cara pembuatan surat permohonan itsbat atau pengesahan nikah.
Surat permohonan itsbat nikah yang dibuat atau diajukan harus memuat nama, umur, tempat kediaman dan identitas Pemohon lainnya, alasan-alasan yang menjadi dasar dari diitsbatkan atau disahkannya pernikahan (posita) dan permohonan agar pernikahan tersebut dinyatakan sah oleh Pengadilan Agama (petitum).
2. Pendaftaran Surat Permohonan
Setelah Pemohon atau para Pemohon sudah selesai membuat surat permohonan itsbat nikah tersebut dan sudah dibuat rangkap 10 (sepuluh), lalu membawa surat permohonan itsbat atau pengesahan nikah itu menghadap kepada petugas Loket II atau III, dan petugas Lokat I atau III membuatkan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) yang akan dibayar melalui Bank BNI. Surat permohonan itsbat nikah baru didaftarkan pada daftar perkara Pengadilan Agama Medan, apabila Pemohon telah membayar panjar biaya perkara. Panjar biaya perkara diperkirakan berdasarkan ketentuan yang sudah ada, biaya tersebut digunakan untuk biaya pencatatan, administrasi, atas perintah pengadilan (APP), pemanggilan dan harga meterai yang digunakan.
Panjar biaya perkara itu diperhitungkan kemudian setelah perkara diputus.
Setelah Pemohon mendapatkan SKUM, lalu membawanya ke kasir untuk membayar biaya perkara dan petugas kasir membubuhkan cap lunas pada SKUM, dan memberikan nomor perkara padasurat permohonan Pemohon tersebut. Lalu Pemohon membawa dan mendaftarkan perkaranya kepada petugas Loket II atau III, dan petugas
Loket II atau III mencatat surat permohonan itu ke dalam register perkara permohonan. Dan selesailah proses pendaftaran sehingga pemohon dapat pulang dan menunggu panggilan sidang dari jurusita yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Agama.
Jika Pemohon yang tidak mampu untuk membayar SKUM panjar perkara dapat mengajukan permohonan untuk diizinkan berperkara secara cuma-cuma (Prodeo), dengan ketentuan mengurus surat keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat Pemohon dan diketahui kecamatan.
3. Pemanggilan Pihak Pemohon Itsbat Nikah
Setiap pelaksanaan persidangan, Pemohon atau para Pemohon wajib dipanggil untuk menghadap sidang tersebut melalui jurusita pemanggil atas perintah Ketua Majelis Hakim. Surat panggilan harus disampaikan langsung di tempat tinggal dan kepada pribadi Pemohon, apabila tidak dapat disampaikan secara langsung, jika petugas jurusita tidak berjumpa dengan Pemohon maka surat panggilandiserahkan kepada kepala Desa atau Lurah setempat, karena pemanggilan harus dilakukan secara patut dan sudah diterima oleh pihak yang bersangkutan selambat-lambatnya tiga hari sebelum sidang dibuka.
4. Persidangan
Proses pemeriksaan persidangan itsbat nikah dilakukan oleh Majelis Hakim selambat-lambatnya 30 hari setelah diterimanya berkas perkara permohonan. Dalam persidangan perkara, Majelis Hakim langsung membacakan permohonan Pemohon, jikapermohonan itu tetap dipertahankanoleh Pemohon, dilanjutkan dengan acara pembuktian, kesimpulan dan pembacaan penetapan. Pemeriksaan perkara permohonan itsbat nikah dilakukan oleh Majelis Hakim dengan persidangan yang dibuka dan tertutup untuk umum.
5. Pembacaan Putusan atau Penetapan
Setelah proses pemeriksaan perkara permohonan itsbat nikah sudah diputuskan dengan penetapan, maka dalam waktu 14 hari tidak ada upaya hukum banding yang diajukan oleh Pemohon, maka penetapan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka penyelesaian terakhir dari perkara tersebut, Pemohon sudah dapat mengambil salinan penetapan itsbat nikah tersebut melalui petugas Loket V dan petugas akan membuat surat serah terima. (wawancara: Bapak H. Jumrik, SH, Panmud Hukum Pengadilan Agama Medan, pada tanggal 11 Oktober 2017)
5.3 Kedudukan Itsbat Nikah yang sudah Disahkan di Pengadilan Agama