• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setiap kegiatan harus dilihat dari sisi efisiensi dan memaksimalkan output

Dalam dokumen ETIKA DALAM PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK (Halaman 48-52)

SEKTOR PUBLIK

3. Setiap kegiatan harus dilihat dari sisi efisiensi dan memaksimalkan output

organisasi. Sislem anggaran kinerja pada dasamya merupakan sistem yang mencakup kegiatan ponyusunan program

dan tolok ukur

kinerja sobagai

instrumen untuk mecapai tujuan dan sasaran program. Sistom

ini memeduksn indikator kinerja, standar kinerja, siandar biaya dan

benchma*

dari setiap jenis pelayanan (Yuwono dkk, 2005: 35). Setiap unit kerja harus

bisa

merencanakan anggarannya berdasarkan

tugas pokok dan

fungsi, tingkat prioritas setiap pekerjaan, tujuan dan s€saran tertentu yang disertai dengan indikator penilaian yang

jelas dan

dapat diukur sehingga masing- masing tingkat dalam sualu unit akan mempunyai tanggung jawab yang jelas.

Dengan sistem

ini,

biaya satuan untuk setiap

jenis

pelayanan harus dapat diukur sehingga dapat diketahui tingkat efisiensi

dan

efektivitas

dari

setiap pelayanan.

Struktur anggaran kinerja diawali dengan pencapaian tujuan, prcgram

dan didasari pemikiran bahwa

penganggaran

digunakan sebagai

alat manajemen. Bastian (2006b: 53) menyatakan

ada

beberapa ciri-clri pokok anggaran berbasis kin6rja yailu sebagai berikut:

1

.

Secara umum sistem ini mengandung tiga unsur pokok, yaitu:

a. Pengeluaran pemerintah diklasifikasikan menurut program

dan kegiaian

b.

Pengukuran hasil kerja

(niormance

measurcmen}

c.

Pelaporan program (ptugram eporting)

2.

Titik perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kerja, bukan pada pengawasan.

3. Setiap

kegiatan

harus dilihat dari sisi efisiensi dan

memaksimalkan

menggunakan sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian p€nyusunan

anggaran daerah harus benar-benar b€rorientasi pada

kepentingan masyarakat.

Organisasi sektor publik sebagai wujud nyata menghad api tutbulensi

yang sangat

kompl€ks menyangkut

bidang sosial, ekonomi dan

politik

sehingga menuntul manajernya selalu mengembangkan

b€rbagai pendekatan

yang

paling efektif

dan

efisien

untuk

memperbaiki organisasi

secara

lerus-menerus (contiinuous

imprcvement).

Berkaitan

dengan

hal tersebut, maka para manajer seklor publik telah mengembangkan berbagai invosi baru untuk mongatasi berbagai kondala dalam menghadapi pesatnya perubahan lingkungan dengan b€berapa pendekatan termasuk manajemen

Kneia (pefioman@ managemonf).

Pendekatan

kinerja disusun

untuk mengEtasi berbagai kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional

khususnya

kelemahan

yang disobabkan oleh tidak adanya tolok

ukur

yang dapat

digunakan

unluk

mongukur

kinorja

dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.

Anggaran

dengan

pendokatan

kinerja sangat,

menekankan pada konsep value for money dan pengau/asan atas kinerja oufpuf. Pendekatan ini

juga

mengutamakan mekanisme penentuan dan pembuatan prioritas tujuan serta pendekatan yang sistematik

dan

rasional dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, juga anggaran

kinerja didasarkan

pada

tujuan

dan

sasaran kinerja. Oleh

karena itu anggaran digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Penilaian kinerja didasarkan pada pelaksanaan value

fot

money dan efeKivitas anggaran (Mardiasmo, 2003: 84).

Pefiormance budgeting merupskan Sisiem penyusunan

dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil dan

kinerja. Kinerja tersebut harus

mencarminkan

efisiensi dan

ofektivitas pelayanan publik, yang berarti harus berorientasi pada kepentingan publik

.'

(Mardiasmo, 2000: 58). Betartt

pedormance budgeting

berorientasi pada outpul organisasi dan berkaitan sangat erat terhadap visi, misi dan rencana

strategi organisasi. Performance budgeting mengalokasikan

sumber

daya

pada progrem bukan pada unit organisasi semata dan memakai output measurement sebagai indikator kinerja organisasi. Namun lebih

jauh

lagi pendekatan

ini

mengkaitkan dengan ouFu, organisasi sebagai bagian yang integral dalam berkas anggarannya.

Tujuan

dari

penetapan

ou$ut

measuremenf yang dikaitkan dengan biaya adalah untuk dapal mengukur tingkat efisiensi dan efeKivitas. Hal ini sekaligus merupakan

alal untuk dapat

menjalankan prinsip akuntabilitas, karena yang diterima

oleh

masyarakat pada akhirnya adalah

oufput

dari

suatu proses kegiatan birokrasi.

Ukuran-ukuran

kinerja pada

sistem anggaran yang berorientasi pada

kinerja berguna pula bagi lembaga

perwakilan rakyat (DPR dan DPRD) pada saat menjalankan fungsi

penetapan kebijakan, fungsi penetapan anggaran dan fungsi

pelaksanaan pengawasan. Bagi manajemen puncak/pihak eksekutif

berguna untuk melakukan kontrol manajemen dan kontrol kualitas

dan dapet digunakan oleh masyarakat untuk memberikan

penilaian kinerja dan

akunlabilitas

pemeriniah.

Karakteristik dad sistem penganggaran yang berorientasi pada kinorja

sangat bertolak

belakang

dengan sistem

anggaran

kadisional

(Bastian,

2006a:

173)

yang

banyak diterapkan pada negara-negara dengan sistem

administrasi publik tradisional. Sebagai sistem penganggaran

yang beroriontasi kepada output dan memakai output measurcmenl hal ini tidaklah

sekedar membutuhkan indikator-indikator k6berhasilan sebagai perubahan paradigma, namun juga perubahan secara luas

pada

peiotmance mandgement

dalam oEanisasi. Alasannya adal€h karena adanya luntutan yang mendesak dalam p€r.luasan otonomi yang menyangkut

permasalahan mengonai shaing of powe1 disttibution of

income;

kemandirian sistem manajemen. Sehubungan dengan

hal

tersebut, maka

diperlukan

upaya-upaya

strategis untuk

menjawab

tuntuian

masyarakat

sekaligus

menciptakan

daya tahan

pembangunan

daerah yang

terukur secara social, ekonomi, budaya dan politik, serta lingkungan hidup.

Hal

ini

berarti reformasi panjang yang berkelanjutan membutuhkan suatu sistem administrasi publik modern atau canggih pada pertormance budgeting. Karena dalam

membangun

pertormance buclgeting lidak terlepas dari 6lemen-elemen strat6gis dan elemen-elemen

praKis.

Elemen-elemen strategic terdiri dari misi dan sasaran.

Sememara

elomen-elemen praktis

terdiri dari

program, aktivitas, target aKivitas. Dari k6dua karakter di atas dapat disimpulkan bahwa

Wfiomanb

buclgeting menunlut diterapkannya sistem administrasi publik modem, yang lebih dikenal dengan fhe new public managelrent (Hughes, 1994).

Mardiasmo

(2002:

't 1Ol menyatakan bahwa pendekatan anggaran

kinerja dominasi pemerintah akan diawasi dan dikendalikan

melalui penerEpan intemal cost,

audit

keuangan

dan audii

kinerja serta €valuasi

kinerja ekstemal. Dongan kata lain pemerintah dipaksa

bertindak

berdasarkan cost minded dan harus ofisien. Selain didorong

untuk menggunakan

dana secara ekonomis,

pemerintah

juga dituntut

untuk

mampu

mencapai

tujuan yang

ditetapkan.

Oleh karena ilu, agar

dapat mencapai tujuan tersebut maka diperlukan adanya program dan tolok ukur sebagai standart kinerja.

3.6.

Pertembengan Slstem Anggaran

Keberadaan seklor publik

tidak bisa

lepas

dari

regulasi. Seklor publik dihadapkan pada sejumlah regulasi yang selalu berkembang sesuai dengan kondisi, lingkungan dan tuniutan masyarakal yang dinamis. D€ngan

demikian,

pengembangan

seKor publik sudah dapd dipastikan

selalu dipengaruhi oloh aspek politik dan hukum. Hal ini dapat dilihat clari reformasi

anggaran (budgeting refom\ merupakan aspek mendesak

untuk

dilaksanakan dalam pelaksanaan d€sentralisasi. R€formasi

anggaEn dilakukan dalam rangka memperbaiki sistem penganggaran.

Reformasi anggaran meliputi proses penyusunan, pengesahan, pelaksanaan,

dan

pertanggujawaban anggaran. Sebagai

wujud

nyata dari

reformasi torsebut adalah memberikan dukung terhadap

partisipasi masyarakat di era otonomi daerah dengan memunculkan penggantian sisitsm penganggaran

yang lebih

mendukung

aspirasi

masyarakat. Penggantian system penganggaran tradisional

yang

dikenal

dengan melode Lineltem

dan I nc@mentallsm menuju

Pefiomance

budgeting (penganggaran kinerja)

untuk

Pemerintah

Kota

Pontianak sebagai

wujud

kepedulian pemerintah daerah pada masyarakat. Hal ini untuk memberikan ruang lingkup reformasi anggaran

yang meliputi

perubahan

struktur

anggaran

(budget structue

rcform) dan perubahan proses penyusunan APBD (buclget

prccess

rebrm,)(Mardiasmo, 2OM:28\. Berkailan dengan perubahan

slruktur

anggaran tersebut dimaksudkan untuk

menciptakan

transparansi

dan meningkalkan akuntabilitas publik U)ubtic ac@untability).

Dalam dokumen ETIKA DALAM PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK (Halaman 48-52)