i
ETIKA DALAM PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Hak Cipta @ 2009 pada penulis
Hak Cipta dilindungi
undang-utrdang.Dilarang
memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruhisi
bukuini
dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dan penerbit.Penulis
:
A. RazakCetakan
I
: Desember 2fi)9. ISBN
978d)2-854G46-9Diterbitken
Oleh : Program PascasarjanaUniversitas Brawijaya Malang
I
ai
TENTANG PENULIS
A.
Razak Adalah dos€n tetap dan peneliti pada Politeknik Negeri Pontianak.Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Jurusan Akuntansi Sekolah Tinggi llmu Ekonomi Pontianak (STIE Pontianak) pada tahun 1994, dan memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi diperolsh dari Jurusan
ManajemenFakuttas
Ekonomi Universit€s Tanjungpura (Untan) pada tahun 1996, gelar Magister Menajemen (MM) Konsenfasi Manajemen Keuangan dari Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang tahun 2000, gelar Akuntan dari Pendidikan Profesi Akuntan Fakultas Ekonomi Brawijaya tahun 2007. Saatini
beliau sedang menempuh p€ndidikan Doktor (53) Sains Akuntansi di Universitas Brawijaya Malang. Pemah memperoleh dana penelitian dosen muda tahun 2006, pemah memperoleh danapenelitian TPSD tahun 2004.
Penelitian/karya ilmiah betiau
pemah dipresentasikan ditingkat nasionat TPSDdi
Surabaya tahun 2005. Beberapa tulisan beliau pernah diterbitkan Jurnal Akreditesi Nasional.t
K.ATA PENGANTAR
Proses penyusunan anggaran sektor publik melibatkan partisipasi banyak pihak, sehingga informasi keuangan sangat diperlukan, agar masyarakat umum (publik) dapat mengevaluasi anggaran yang diajukan pemerintah. Mengingat pentingnya proses penyusunan anggaran bagi sebuah organisasi sektor publik, maka diperlukan proses manajemen keuangan dan akuntansi manajemen untuk menunjang dan pengatasi persoalan tersebut.
Anggaran sebagai bentuk kebijakan yang menyangkut masalah publik dibuat dengan melibatkan seluruh masyarakat, baik DPRD, LSM, Organisasi masyarakat, Perguruan Tinggi, dan asosiasi profesi. Memperhatikan hal di atas, anggaran memainkan peranan penting dalam perenelnaan dan pengendalian
serta memiliki pengaruh terhadap manusia yang akan
melaksanakan, mepertanggungjawabkannya dan menyusunnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan sikap mental dan etika dari orang-orang yang terlibat dalam proses penwsunan anggaran.Kebahagian tersendiri bagi penulis karena dapat menyelesaikan buku teks
ini
dengan juclul'
Etika dalam Penganggaran Sektor Pubtik".
penulismenyadari
buku ini jauh dari sempuma, namun buku ini akan
terus dikembangkan,direvisi dan ditinjau ulang
ditengahmasih
berlangsungnya reformasi dibidang perencanaan dan penganggaran daerah.Penulis
menyadari,bahwa setiap hasil karya
manusia, meskipun diporsiapkan dengan sebaikapa
pun, pasti masihjauh dari
sempurna serta banyak mengandung kelemahandan
kesalahan. Semuaitu tidak
lepas dari kodrat manusia yang mempunyai keterbatasan pengelahuan serta pengalaman.Untuk
itu,
penulis sangat menghargai kritikdan
saran dari seluruh pembaca untuk perbaikan buku ini. Atas segala kesalahan dan kelemahan yang dikandung bukuini,
kami terlebih dahulu mohon dimaaftan. Semoga dalam penerbitan berikutnya buku ini dapat torus kami sempurnakan.Billahi fi sabilillhaq fastabiqul khairat, wassalamu'alaikum wr. wb.
Malang,
Desember 2009 PenulisDAFTAR ISI Kata Pengantar.
Daflar lsi Daftar Gambar
Bab I Konsep dan Pentingnya Penganggaran .. . ... . .. .
1.1.
Reformasi Anggaran1.2.
KonsepPenganggaran1
.3.
Pentingnya Anggaran Daerah ... .. . . .. ... ...1.4.
PrinsipPrinsip Pokok Dalam Penganggaran Daerah...Bab ll Analisis Value For Money dan Pelatihan Teknis Auditor lnternal
2.1
.
Value For Money 2.1.1. Ekonomi 2.1.2. Efisiensi2.1 .3. Efektivitas
2,2.
Pendidikan dan Pelatihan Teknis2.3.
Auditor lnternal Pemerintah Bab lll Penyusunan Anggaran Sektor Publik3.1.
Hakekat Otonomi Daerah3.2.
Proses Akuntansi Manajemen di Sektor Publik3.3.
Proses Penyusunan Anggaran Sektor Publik 3.4. Jenis-Jenis Penganggaran3.4.'l
.
Line ltem Budgeting 3.4.2. lncremental Budgeting3.4.3. Planning Program Budgeting System...
3.4.4. Zero Based Budgeting (ZBB) ... ... ...
3.4.5. Medium Term Budgeting Frame Work ..
3.5.
Performance BudgetBab lV
3.6.
Perkembangan Sistem AnggaranPengerthn dan Fungsi Anggaran
...
4.1.
Pengertian Anggaran...4.2.
Fungsi Anggaran Daerah4.2.1. Anggaran Sebagai Alat Perencanaan 4.2.2. Anggaran Sebagai Alat Pengendalian 4.2.3. Anggaran Sebagai Alat Kebijakan Fiskal
I
ii
I
1
I I
10
12 12 15 17 19 23 26 29 29 32 33 35 36 37 37 39 40 40 43 /t5 45 47 48 49 50
Anggaran Sebagai Alat Politik.
Anggaran Sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi. .. . .. .
Anggaran Sebagai Alat Penilaian Kinerja ... , .. . .. .. .
4.2.7. Anggaran Sebagai Alat Motivasi ... ...
4.2.8. Anggaran Sebagai Alat Untuk Menciptakan Ruang Publik.
4.2.9. Alat Pembelajaran
BabV:
Prinsip-Prinsip dan Sumber Anggaran Daerah...5.1 . Prinsip-Prinsip APBD... ... . .. . .
5.2. Jenis-Jenis Anggaran Daerah
5.3. Sumber-Sumber Penerimaan Daerah 5.3.1 .Pendapatan Asli Daerah 5.3.2.Dana Perimbangan 5.3.3.Pinjaman Daerah
5.3.4.Lain-Lain Penerimaan Yang sah... .. . Bab
Vl :
Siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah6.1 . Proses Anggaran... ... ...
6.2. Tahapan Persiapan & Penyusunan Anggaran 6.3. Tahap Ratifi kasi Anggaran..,... ...
6.4.
Tahap Pelaksanaan Anggaran...6.5.
Tahap Pelaporan dan Evaluasi...6.6.
Partisipasi APBD Sebagai Porspektif Politik Desentralisasi6.7.
Perencanaan Anggaran Daerah Berdasarkan Perm€ndagri No. 13 Tahun 2006. .. .. . ... ... ... .6.8.
Siklus Penyusunan APBD Berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006...Bab Vll :Birokrasi Sektor Publik.
7.1 . Konsep Organisasi Sektor Publik.
7 .2. Bvdaya Birokrasi dan Pergeserannya ... . . .
Bab Vlll: Perilaku Organisasi.
8.1
.
Pengertian Perilaku Organisasi dan Perilaku lndividu8.2.
Konsep Kepribadian, Motif dan Motivasi Dalam Sikap dan Perilaku8.2.'l . Teori-Teori Muatan/Subtansi.
8.2.2. Teori-Teori Proses 1.2.4.
4.2.5.
4.2.6.
50 51 51 51 52 52 53 53 56 57 57 58 59
59 60 80 62 62 62 63 63 67 6E 73 73 75 80
82 92 98
Bab
lX
:Teori Sikap dan Perilaku... ... ... -..9.1. P€ngertian dan Faktor Pembentuk Sikap ...
9.2. Konsep perilaku dan faktor pembentuk
9.3.
Konsep modal dan perilaku...sosial dalam konteks sikap
9.t1.
Perilaku dan kinerja birokrasi.Bab
X :
Pelayanan Publik . .. ... ... ... . 1 0.1.Pengantar p€layanan pubtik...1 o.2.Faktor penentu kualitas pelayanan publik... ...
Bab
Xl :
Etika Anggaran1 1 .3. Teori Oeontologis.. . 1 1 .4. Teori Teleologi.
1 1.5. Etika dalam Pengangg aran ...
...
DAFTAR PUSTAKA
107 107
115
119 120 126 126
135
137 137
14
146 148 151 157
I
DAFTAR GAMBAR
Gambar 6.1 : Sinkronisasi Penyusunan Rancangan APBD (UU 17l2003;UU 25t20O4; UU 32/2004; dan
uu
33/2004)...Determinan-Determinan Dasar Kinerja...
Determinan-Determinan Motivasional Perilaku Kerangka Perilaku lndividu
Model Motivasional Oasar...
Model Motivasi lntegratif...
Kecenderungan Sikap dan Reaksi Refleks Bagan Sikap...
Konsepsi Skematis tentang Sikap...
Variab€l Pengaruh p€rilaku lndividu...
Proses Persspsi
Model Motivasi lntegratif yang Memengaruhi Kinerja...
Gambar 11.1:
Gambar 1 1 .2:
Skema Pembentukan Perilaku...
Deteminant of individual Ethics...
Gambar 8.1 Gambar 8.2 Gambar 8.3 Gambar 8.4 Gambar 8.5 Gambar 9.1 Gambar 9.2 Gambar 9.3 Gambar 9.4 Gambar 9.5 Gambar 9.6
72 85 86 87 90
1U
108 110 111 116 117
125 141 143
BAB
IKONSEP DAN PENTINGNYA PENGANGGARAN
I. TUJUAN PEMBELAJAMN UMUM ( TPU
)Setelah mempelajarai buku Etika dalam penganggaran
sehor
publik ini mahasiswa memahami konsep dan pentlngnya penganggaranI!. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)
1. Reformasi Anggaran2.
Konsep Penganggaran Daerah3.
Pentingnya Anggaran Daerah4.
PrinsipPrinsip Pokok dalam Penganggaran Daerah1.1. Rebrmasl
AnggaranReformasi
yang
diperjuangkanoleh seluruh lapisan
masyarakal membawa p€rubahan dalam kehidupan polilik nasional maupundi
daerah.Salah satu agenda reformasi tersebut adalah adanya politik desentralisasi yang membawa p€rubahan signifikan dalam pengelolaan keuangan daerah, yang kemudian diikuti dengan lahimya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 telah membawa secercah harapan
baru bagi
p€rbaikanpola
penyelonggaraan pemerintahan daerah.Salah satu perwujudan tersebut adalah sistem keuangan daerahnya, yang secara formal ditetapkan dongan Peraturan pemerintah
(pp)
No. 105Tahun 2000 yang diganti monjadi PP No. 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaandan
Pertanggungjawaban KeuanganDaerah.
Seiring denganPP ini
mengharuskan pemerintah daerah bersama-sama DPRD menyusunarah dan
kebijakanumum Anggaran
Pendapatandan Belanja
Daerah(APBD)nya sendiri. Dengan demikian, segala urusan urusan
yang menyangkut proses penyusunan APBD, termasuk semua preferensi, nilai, dan rasionalitas yang membentuknya pun kini ditentukan oleh paraelit
polilik dan birokrasi daerahsendiri.
Atas dasar itulah, maka wajar bahwa otonomidaerah akan mampu
mewujudkansistem
keuangandaerah yang
lebih akuntab€l dan transparan.Namun, penerapan UU l.lo. 22 dan 25 Tahun 1999 merupakan tongga awal dari otonomi daerah ini temyata
tak
serta merta mampu meneguhkantekad polilik
pembuatan kebijakanAPBD yang
betul-betul berpihak pada kebutuhan masyarakatsetempd. Hal ini
diindikasikandengan
begiturendahnya
prioritas yang
diberikanoleh para anggota DpRD
terhadap berbagai kebutuhan rakyat kecil dalam bentuk pelayanan-p€layanan dasarseperti seKor kesehalan,
pendidikan, pemberdayaanusaha kecil
dan menengah, sanitasi lingkungan,dau
saranadan
prasarana umum lainnya.FaKa
memang menunjukkan bahwasisi
pengeluaran APBD lebih banyak didominasi oleh pembiayaan rutin yang menyangkut pembelian sarana danprasaEna penunjang sebagai fasililas simbolis bagi kegiatan
aparat p€merintahsn maupun ketua, wakjl k€lua maupun anggota DPRD.Oi samping itu ada
p€ngeluaran-pengeluaranyang
menjadi kontroversidengan pos.pos
pengeluaran tertentu,seperti biaya
telepon, biaya sewa gedung, biaya perjalanan dinas dan pindah, biaya pemeliharaanrumah dinas, dan biaya tamu yang dinilai
masyarakat terlampau tinggi.Meskipun kini paradigma penyelenggaraan otonomi daerah telah mengalami
pergeseran, namun kebijakan keuangan daerah lobih terfokus
pada maksimalisasi peningkatan PAD melalui beragam pajak dan retribusi daerah dan alokasi penggunaannya tidak banyak kembali pada rakyat.Akibatnya, rakyat menjadi pihak yang justru terabaikan.
Untuk mendukung pelakssnaanera reformasi dan otonomi daerah
memangdibutuhkan berbagai reformasi termasuk
manajemenkeuangan
publik, reformasi kelembagaan, reformasi anggaran, reformasi akuntansi sektorpublik dan reformasi audit sektor publik. Dalam reformasi
anggaran digunakan anggaran kineqa(performane
budgeting) yang mengalokasikansumber daya pada program, bukan pada unit
organisasisemata
dan memakai 'outputmeasuomenf
sebagai indikator kinerja organisasi (Bastian, 20Ma;172l..Kondisi inilah kemudian mendorong berkembangnya
wacanamengenai p€rlunya dilakukan reformasi anggaran agar
pengalokasian anggaranlebih
berorientasipada
kepentinganpublik. Melalui
reformasi keuangandaerah
banyakaspek yang
menjadisorotan bagi
pengelola keuangan daerah dengan adanya porubahan mendasarpada
perubahanstruktur
anggarandan
perubahanproses
penyusunanAPBD.
Perhatian utama pada perubahan strukiur anggaran dilakukan untuk mengubah struKur anggaran tradisionalyang bersilat
lineitem
dan incrcmentdlism sehinggadapat menciptakan transparansi dan meningkalkan lebih
besamya akuntabilitasdari
pengelolaan anggar€ln,dan dengan memperhatikan asas keadilan dan kepalutan.Aspok lain dari reformasi anggaran juga berkailan dengan perubahan proses ponyusunan APBD yang benar-benar mencerminkan kepentingan dan pengharapan masyarakat daerah setempat terhadap pengelolaan keuangan daerah secara ekonomis, efisien
dan
efektif. Reformasi anggaran daerahdimulai dengan
penyusunan anggarandaerah yang tidak lagi
mengacukepada PP No. 6 tahun 1975 tentsng Cara
Penyusunan AnggaranPendapatan
dan Belanja Daerah,
PelaksanaanTata Usaha
Keuangan Daerah, dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja.Perubahan kebijakan tentang anggaran terjadi mengikuti perubahan kebijakan pengelolaan keuangan
negara. Salah satu bentuk
perubahan kebijakan tersebul dengan mulai diberlakukannya PP No. 105 Tahun 2000yang diikuti dengan dilerbitkannya
KepmendagriNo. 29 Tahun
2002 ditetapkan secara normdif, namun pada kenyataannya belum menunjukkanhasil yang
menggembirakan.Dalam beberapa hal, penerapan
sistem anggaran kinerja telah membuka sedikil celah bagi publik untuk 'mengintip"proses
penyusunananggaran, namun daerah tampaknya masih
tetap b€rgantung pada pusat dalam penyusunannya. Di sisi lain, penentuan skala prioritas dalam penyusunan anggaran pun belum tampak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem anggaran kinerja mengalami berbagai kendala, sehingga reformasi anggaran tidaklah secara otomalis mengubah proses penyusunan anggaran menjadi lebih berorientasi oufpuf.Kerangka pemikiran itulah yang menjadi landasan filosofis lahimya UU
No. 32 dan 33 Tahun
20O4sebagai revisi terhadap
Undang-Undang PemerintahanDaerah dan
Perimbangan Keuanganpusat dan
Daerah sebelumnya, semestinya menjadi langkah awal untuk membangun komitmenbersama ke arah sistem keuangan daerah yang lebih
akuntabel.Pemberlakuan kedua Undang-Undang
ini
seiring dongan Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara disertai dengan terbitnya Pp No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan diikuti pula dengan PermendagriNo. 13
Tahun 2006 tentang Pedoman PengelolaanKeuangan Daerah. Ketentuan tersebut
berimplikasikanpada
seluruh kebijakan keuangan yang pada prinsipnya mengamanatkan agar pengelolaan keuangan dilakukan secsra iertib, taat pada p€raturan perundang-undangan,efisien,
ekonomis,efektif,
transparan,dan dapat
dipertanggungiawabkankepada para pemangku kepentingan yang sudah menjadi
tuntutanmasyarakat. Dengan demikian pengaturan pengelolaan
dan pedanggunqjawaban keuangan daerah melekatdan
menjadisatu
dengan pengaturan pemerintahan daerah, yaitu dalam Undang-Undangan mengenai Pemerintahan Daerah. Dalam kerangkaini,
bahwa padisipasi masyarakatdalam proses
penyusunanAPBD
merupakan langkahawal
terwujudnya sistem keuangan daerah yang transparan.Peiormance
budgeting pada dasarnya adalahsistem
penyusunan dan pengelolaan anggaEn daerah yang berorientasi pada pencapaian hasilkinerja. Kinerja teE€but harus
mencerminkanefisiensi dan
efektivitas pelayanan publik, yang berarti harus berorientasi pada kepentingan publik (Yuwono dkk, 2005: A4). Pengelolaan keuangan daerah di era prareformasi dilaksanakan sesuai UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah di daerah. Di samping i{u, masih ada beberapa peraturan lain yang menjadi dasar pelaksanasn manajemen keuangan daerah sepertiPP
No.5
Tahun1975 dan PP
No.6
Tahun1975.
Kepmendagri No. 2 Tahun 1994 Tentang P6laksanaanAPBD.
Kepmendagri No. 3 Tahun 1999 Tentang Bentuk dan Susunan Perhitungan APBD.P€ngelolaan keuangan daerah
di era pra
reformasiini
mempunyai ciri-ciri antara laintidak
terdapat pemisahan konkret antrara eksekutif dan legislatif, perhitungan APBDbediri
sendiri terpisah dari pertanggungiawabankepala daerah, unsur yang tedibal dalam
penyusunanAPBO
adalah p€merintah daerah yang terdiriatas
kepala daerahdan
DPRD saja, tidak melibatkanmasyarakal, lndikator kinerja
pemerintahdaerah
mencakup perbandingan anggarandan
realisasi, perbandingan antara standar biayadan r6ali8asi dan target dan persentase fisik proyek dan
laporan pertanggungjawaban kepala daerah dan laporan perhitungan anggaran tidak mempunyai konsekuensi pada masa jabatan kepala daerah (Halim, 2004:2).B€rkaitan dengan anggaran mempunyai cid utama
anggarantradisional yaitu cara penyusunan anggaran yang didasarkan
pada p€ndekatan incrcmentalism dan struKur dan susunan anggaEn yang bersilat line-item.Ciri lain yang melekat pada
pendekatananggaEn
tradisional tersebut adalah bersilat cenderung sentralistik, bersifat spesifikasi, tahunan dan menggunakan anggaran bruio. StruKur anggaran tradisional dengan ciri- ciri tersebut tidak mampu mengungkapkan besamya dana yang dikeluarkanuntuk setiap kogialan, dan bahkan
anggaran tradisionaltersebut
gagal memberikan informssitentang
besamyarenc.lna
kogiatan. Satu-satunya tolok ukur yang dapat digunakan untuk tujuan pengawasan hanyalah tingkat kepatuhan penggunaan anggaran.Yuwono dkk (2005: 95) menjelaskan tentang
karakteristik penganggaran keuangan daerah di era prareformasi yaitu sebagai berikut:'1.
Sistem lnput perencanaan. Dalam hal ini penganggaran didominasi olehpihak
eksekutif berdasarkan arahandari
pem€rintah atasan sehingga peran DPRD dan partisipasi masyarakal relatif kurang.2.
Sistem output percncanaan. Asas APBD berimbang dan dinamis, tidak memisahkan belan,a desentralisasi, dekosentrasi dan tugas bantuan.3.
Oilihatdari susunan
struktumya,APBD terdiri atas
pendapatan belanja,di mana
belanja dibagi menjadidua, yaitu
belanja rutin belanja pembangunan.4.
Memakai sistem proses peEncanaanlin*item
budget dan incrcmental, sedangkan pendekatan ponyusunan yang diterapkan adalah berorientasi padainput
dan ftagmented.5.
Dokum€n penyusunan yang digunakan DUKDA/DUPOA.dan dan
6.
Pinjaman dan sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu sebagai unsur pendapdan daerah.7.
Dana transfer dari pusat terdiri atas sumbangan, subsidi dan ganjaran8.
Pembentukan dana cadangan tidak diperkenankan (asas berimbang dan dinamis)9.
Pengeluarantidak
tersangkaterdiri atas
pengeluaran rupa.rupa dan pelaksanaanya berdasark€n kebijakan kepala daerah10. APBD
kabupaten/kotadisahkan oleh gubemur, sedangkan
untuk provinsi disahkan oleh menteri dalam negeri11.
Untuk perubahan APBD, pihak DPRD cukup diberi tahu.12.
Pelimpahan kewenangan otorisasi dari perangkat pengelola kouangan daerah tergantung kepada kebijakan kepala daenahdan
pelimpahan kewenangan olorisator, ordonator dan kompetibel.13. Memakai sistem prcses p8laksanaan akuntansi dengan
sistem pembukuan tunggal dan berbasis kas.14. Bentuk laporan
pertanggungiawabannyaterdiri atas
laporan perhitungan APBDdan
nota perhitungan APBD pembuatannya tidak melibatkan ekstemal auditor.Masalah
ulama
anggaran tradisionaladalah lerkait
dengan tidakadanya
perhatianterhadap konsep value for money. Konsep
ekonomi,efisiensi dan efehivitas seringkali tidak dijadikan
pertimbangan dalam penyusunan anggaran tradisional. Dengan tidak adanya perhatian terhadap konsep valuefor
moneyini,
seringkali pada akhirtahun
anggaran terjadi kelebihan anggaran pengalokasiannya kemudian dipaksakan pada aKiviias-aklivitas yang
sebenamyakurang penting untuk
dilaksanakan. Ahivitas- aklivitas susulanini
semata-mata dimaksudkan untuk menghabiskan sisa anggaran. Apabila hal tersebut tidak dilakukan akan berdampak pada alokasi anggarantahun
berikutnya.Hal ini
disebabkan karenapada
pendekatan tradisional, kinerja dinilai berdasarkan habis tidaknya anggaran yang diajukandan bukan
berdasarkanpada
pertimbangan output yang
dihasilkan dariaktivilas yang dilakukan dibandingkan dengan target kinerja
yang dikehendaki (outcome\.Pendekatan tradisional masih monjadi pendekdan yang paling sering digunakan,
walaupun elemen dari
pendekatanyang lebih baru
juga ditambahkan.Anggarsnsep€rti inilah yang sampai sekarang
banyak digunakan di negara-negara berkembang (Nordiawan, 2006: S4).Pendekatan tradisionallerdiri dari tiga proses yailu pedama, pihak
lembaga memerlukananggaran
mengajukan p€rmintaananggaran
kepadayang ketua
eksekutif, kemudian anggaran teBebut dirinci berdasarkan jenis pengeluaran
yang
hendakdibuat Kedua,
kepala eksekutif mengumpulkan permintaan anggaran dari berbagai lembaga, anggaran ini lalu dimodifikasi oleh kepalaeksekutif. Dari hasil modffikasi tersebut, kepala eksekutif
kemudianmengajukan
permintaansecara
keseluruhanuntuk organisasi
tersebutkepada lembaga legislatil dongan
m€nggunakanporincian yang
samadengan
anggaranyang
diajukan seb€lumnyaoleh
lombaga-lembaga di bawahnya.Ketga, setelah
merevisijumlah
permintaan anggaran, pihaklegislatif kemudian
menuliskanjumlah anggaran yang disetujui
dengan menggunakan pendokatan tradisional.Data{ata
mengenai program dan kinerja mungkin dimasukkan dalsm anggaran, namun hanya sebagai suplemen dari permintaan anggaran yang dirinci dengan menggunakan pendekatan tradisional. Nordiawan (2006: 56) menj6lask€nkelebihan dari
penyusunananggaran dengan
pendekatantradisional yaitu :
1.
Pendekatan ini telah lama digunakan, berbentuksedefiana
dan mudah dipersiapkan serta dimengsrti oleh orang yang berkepentingan2.
Pendekalan ini cocok dengan pola akuntansi pertanggunqjawaban yaitubahwa
pendekatanini
memfasilitasi pengendalianakunlansi
dalam proses pelaks€naan anggarandan
data-data yang dapat dibandingkanbisa dikumpulkan untuk beberapa tahun secara b€rurutan
untuk memfasilitasi dilakukannya perbandingan trend.3.
Hampir semua program memiliki sifat dasar berkesinambungan4.
Hampir semua pengeluaran memiliki sifat yang tidak lerhindarkan5. Dalam dunia nyata, kepulusan harus didasarkan pada
perubahanprogram, dan perhalian dapat diberikan untuk perubahan
yangditawarkan
dan
dibandingkanbila data tahun
sebelumnya menurut pendekatan ini.6. Pendekatan tradisional ini tidak menghalangi pemberian
dataperencanaan dan evaluasi yang biasanya berhubungan
dengan p€ndekatan penyusunan anggaranyang lain
sebagai suplemen untukdata yang
digunakanuntuk
menyusun anggaran dengan pendekatan tradisional itu sendiri.7.
Karena aktivitas merupakan dasar dari unit organisasi, biaya dari setiapaktivitas ak€n
terakumulasisebagai biaya dari unit
organisasi yang bersangkutan. ldentifikasidari biaya aKivitas
memungkinkan adanya penjumlahan biaya dari tiap program dari unit organisasi.Namun, Mardiasmo (2005: 7A) menyatakan bahwa
metode penganggaran tradisional memiliki beberapa kelemahan, antara lain:1.
Hubungan yang tidak memadai (putus) antar anggaran tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang.2.
Pendekatan incrcmental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pemah diteliti secara menyeluruh efektivitasnya.3.
Lebih berorientasi pada input danpada output. Hal tersebut menyebabkan anggar:ln tradisional tidak dapat dijadikan s€bagaialat
untuk membuat kebijakandan pilihan
sumberdaya, atau
memonitorkinerja.
Kinerja dievaluasi dalam bentuk apakah danatelah
habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai.4.
Sekat-sekaiantar
departemenyang kaku
m€mbuattujuan
nasional secara keseluruhan dicapai. Keadaan tersebut berpeluang menimbulkan konflik, ovetapping, kesenjangan dan p€rsaingan antar departemen.5.
Proses angggaranterpisah unluk
pengeluaranrulin dan
pengeluaran modaUinvestasi.6. Anggaran tradisional b€rsifat tahunan. Anggaran tahunan
tersebut sebenamya terlalu pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebutdapat
mendorong praktik-praKikyang tidak
diinginkan(korupsi
dan kolusi).7.
Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidakmemadai
menyebabkanlemahnya
perencanaananggaran.
Sebagai akibainya adalah munculnya budgetary slack.8.
PersetujuananggaEn yang terlambat, sehingga gagal
memberikanmekanisme
pengendalianunluk
pengeluaranyang sesuai,
seperti seringnya dilakukan revisi anggaran dan "manipulasi anggaran'.9. Aliran
informasi (sistem informasi finansial) yangtidak
memadai yang menjadi dasar mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.Dengan
bergulimya
kebuakan otonomi da6rah yang diikuti dengan reformasi manajemen keuangan seKor publik termasuk anggaran, tuntutan peningkatan kinerjadan
akuntabilitasdari
pemerintah semakin meningkat.Pendekatan kinerja disusun
untuk
mengatasi berbagai kekurangan yangterdapat pada pendekatan tradisional, khususnya kekurangan
yang disebabkanol6h tidak adanya tolok ukur yang dapat
digunakan untuk mengukur kneda dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.7
Pendekalan ini mengubah penekanan penganggarEn dari sebelumnya yang sangai menekankan pos belanja (object
of
expenditure) pada kinerja terukur dari aKivitasdan
program kerja. Fokus utamadari
pendekatan ini adalah pada tingkat efisiensi penyelenggaraan ahivitas. Pefiomance-basedprcgnm
budgeting akan memberikan dasar yang baik untuk suatu reformasi anggaranyang baik
(Grizzledan
Carol6,2002).
Pefiormance budgeting menuntut pengeluaran pemerintah diklasifikasikan dengan program, program harus memiliki visi dan tujuan, dan ukuran input, outputdan
oulcome yang harus dihubungkan dengan misi dan tingkat yang sesuai.1.2.
Konsep Penganggaran DaerahPeran anggaran dalam siklus manageial planning and contrcl pada organisasi
seKor publik sangat penting untuk
memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi. Hal ini berarti dalam anggaran sehor publik harus tercakup aspek-asp€k sopedi: aspek perencanaan, aspek pengendaliandan
aspekakuntabilitas publik (Mardiasmo, 2005: 6't). Anggaran sektor
publikmerupakan
instrumen akuntabililas atas
pengelolaandana publik
danpelaksanaan program-program yang dibiayai dengan uang
publik.Penganggaran sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program (Ulupui, 2003).
Anggaran adalah sebuah ren@na
atau
sebuah proyeksi. Disektor pemerintahananggaran adalah sebuah rencana atau proyeksi
atas pendapatan dan belanja di masa mendatang (Halim, 2001b). Anggaran jugadapat menyusun sualu c€tatan mengenai kesungguhan dan
kinerja pemerintah. Artinya anggaranitu
sendiri merupakan pernyataan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakandalam
ukuran finansial. Anggaran pemerintahdaerah di
lndonesia lebih sering disingkat dengan nama APBD, pada hakekatnya merupakan rencanakerja
pemerintahdaerah yang
diwujudkandalam bentuk uang
(rupiah)selama
periode waktu tortentu(satu tahun) serta
merupakansalah
salu instrumen utama kebuakan dalam upaya meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah.Anggaran daerah tidak dapat dipisahkan dari sistem
(proses) manajemen strategis (renstra),sehingga penganggaran daerah juga dikaitkan dengan renstra daerah (Yuwono dkk, 2005: 87).Anggaran memiliki beberapa manfaat, seperti yang dUelaskan oleh Siegel dan Marconi ('1989:125), yaitu:1. Anggaran
merupakanhasil dari proses
perencanaan,yang
berarti anggaran mewakili kesepakalan dari negosiasi di antara partisipan yang dominan dalam suatu organisasi.2.
Anggaran merupakan gambaran tentang prioritas alokasi sumber dayayang dimiliki karena dapat bertindak sebagai b/ue prrht
aKivitasperusahaan.
3. Alat
komunikasiantara divisi
anggaran sangat membantu melakukan komunikasiintemal antar divisi dalam organisasi maupun
dengan manajemen puncak4.
Alal untuk mengarahkan manajemen dalam menentukan tindakan koreksi yang pedu dilakukan karena dengan anggaran dapat dilentukan bagian dari organisasi yang kuat dan lemah.5. Dapat
momonitordan
mempengaruhi karyawandan manajer
untuk bekerja denganlebih
konsisten,efehil, dan ofisien dalam
mencapai keselarasan tujuan antara tujuan perusahaan dengan tujuan karyawan.Untuk
dapat
menghasilkan struktur anggaranyang
sesuai denganharapan maka APBD yang pada hakikatnya merupakan
penjabaran kuantitatif dari tujuan dan sasaran pemerintah daerah serta tugas pokok danfungsi unit kerja harus disusun dalam
strutkturyang
berorientasi pada pencapaian tingkat kineqa lertentu. Artinya APBD harus mampu memberikan gambaran yang jelas tentang tunlutan besamya pembiayaan atas berbagai sasaran yang hendak dicapai.1.3. Pentngnya
Anggaran DaerahCampo
dan
Tommasidalam
Ulupui(2003)
menyatakan anggaran publik berkembangdalam dua a"ah, peftama,
parlemenberusaha
melakukankendali terhadap anggaran dan menyebabkan pemorintah
harusbertanggungjawab terhadap penggunaan sumber-sumbemya. perseiujuan terhadap
anggaEn
adalah bentuk utama pengendalian legislatif terhadap eksekutif. Kedua, kelika ruang lingkup aktivitas pemerintah berkembang luas,dan peran anggaran
pemerintahmenjadi semakin
kompleks, sehingga anggaran dapat digunakan sobagaialat
pomerintahyang
potensial dalammenjalankan
kebijakan-kebijakanyang berkaitan dengan
pengeluaran, pendapatan dan pinjaman pemerintah.Anggaran
menunjukkanbahwa dana publik
dibelanjakan dengankebijakan, untuk menjamin kesejahteraan masyarakat dapat
dicapai.Mardiasmo (2005:
63)
menyatakan terdapat beberapaalasan
pentingnyaanggaran seKor publik yaitu:
a. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk
mengarahkanpembangunan sosial-€konomi, menjamin kssinambungan,
dan meningkatkan kualilas hidup mastyarakat.b. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan
keinginanmasyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Angggaran dipedukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya
(*arcity of
resources), pilihan (choise) dan trade otrs.c. Anggaran diperlukan uniuk meyakinkan bahwa pemerintah
telah bertanggungjawab terhadap rakyai. Dalam hal ini
anggaran publik merupakan inslrumen pelaksanaan akuntabililas publikoleh
lembaga- lembaga publik yang ada.Walaupun tidak semua aspek kehidupan masyarakat tercakup dalam
anggaran soktor publik, namun anggaran dibuat untuk
membantu menentukan tingkat kebutuhan masyarakat seperti listrik,air
bersih, kualitas kosehatan, pendidikan dan sebagainya agar terjamin s€cara layak.1.4. Prinslp.Prinslp
Pokok dalam Penganggaran DaerehMengingat pentingnya anggaran sektor publik, maka APBD harus disusun berdasa*€n
pdnsilprinsip
pokok anggaran sektor publik (Mardiasmo, 2OO5:67) yailu antara lain oiorisasi oleh legislatif,
komprehensif, keutuhan anggaran, nondhretnnary appropddtion, periodik, akurat, jelas, dan diketahui publik. PermendagriNo. 26
Tahun2006
Tentang pedoman penyusunan APBD Tahun Anggaran 2007 menyatakan bahwa dalam penyusunan APBD harus memperhatikan prinsitrprinsip, sebagai berikut :a.
Partisipasi Masyarakat. Hal ini mengandung makna bahwa pongambilan keputusandalam proses
penyusunandan
p€netapanAPBD
sedapatmungkin melibatkan partisipasi masyarakat, sohingga
masyarakat mengetahui akan hak dan kewajibannya dalam pelaksanaan ApBD.b.
Transparansidan
Akuntabililas Anggaran. APBD disusun harus dapatmenyajikan informasi secare terbuka dan mudah diakses
oleh masyarakat meliputitujuan,
sasaran, sumber pendanaanpada
s€tiapjenis/objek belanja serta koGlasi antara b€saran anggaran
denganmanfaat dan hasil yang ingin dicapai dari suatu kegialan
yangdianggarkan. Oleh karena itu, setiap pengguna anggaran
harus bertanggung javyabterhadap
penggunaan sumber daya yang dikelola unluk mencapai hasil yang ditetapkan.c.
Oisidin Anggaran. Beberapa prinsip dalam disiplin anggaran yang perlu dip€rhatikanantara lain bahwa (1)
pendapatanyang
direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan s€dangkan belanja yang dianggarkanmerupkan batas tertinggi pengeluaran belanja, (2)
penganggaran pengeluaranharus didukung dengan adanya
kepastian iersedianyapenerimaan dalem jumlah yang cukup dan tidak
dibenarkan melaksanakan kegian yang belum tersedia atautidak
menankupi krcdit anggerannya dalam APBD/perubahan APBD, (3) semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalamtahun
anggaranyang
bersangkutan harus dianggarkandahm APBD dan
dilakukan melalui rekeningkas
umum daerah.e.
Keadilan Anggaran. Pajak daerah, retribusi daerah dan pungutan daerah lainnya yang dibebankan kepada masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan untuk membayar. Masyarakat
yang
memiliki kemampuan pendapatan yang rendah secara porporsional diberi beban yang sama, sedangkan masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk membayar tinggi diberikan beban yang tinggi pula. Untuk menyeimbangkan kedua kebijakan tersebut pemerintah daerah dapat melakukan diskriminasi tarif secara rasional guna menghilangkan rasa ketidakadilan. Selain daripadaitu dalam
mengalokasikan belanjada6rah, harus
mompertimbangkan keadilandan
pemerataanagar dapat
dinikmatioleh seluruh
lapisan masyarakat tanpa diskriminasi pemberian pelayanan.Efisiensi dan Efehivitas Anggaran. Dana yang tersedia
harus dimanfaatkan sebaik mungkinuntuk dapal
menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensidan
efektivitas anggaran, maka dalam perencanaan anggaran perlu diperhatikan(1)
penetapan secara jelas tujuan dan sasaran, hasil dan manfaat, serta indikator kinerja yang ingin dicapai;(2)
penetapan prioritas kegiatandan
penghitungan beban kerja serta penetapan harga satuan yang rasional.Taal Asas. APBD
sebagai kebijakan daerahyang
ditetapkan dengan Peraturan Daerah dalam p€nyusunannya harus tidak boleh bertentangan dengan peraluran perundang-undanganyang
lebih tinggi, kepentingan umum dan peraluran daerah lainnya.Tidak b€rtentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi maksudnya pendapatan, belanja dan pembiayaan yang tercantum dalam rancangan p€ratuftin da6rah, telah sesuai dengan p€raturan yang lebih
tinggi
mencakup kebijakanyang
b€rkaitendengan
keuangan daerah.Tidak
b€rtentangan dengan kep€ntingan umumartinya
bahwa ApBD lebih diarahkan agar menc€rminkan keberpihakan kepada k€butuhan dan kepentingan masyarakat. Selain itu juga tidak boleh bertentangan dengan peraturan daerah lainnya.t.
BAB II
ANALISIS VALUE FOR MONE}' DAN PELATIHAN TEKNIS AUDITOR
Setelah mempelajarai buku Etika dalam penganggaran sektor publik ini mahasiswa memahami analisis value
for
moneydan
pela tihan teknis auditor intemal.II. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)
1. Value For Mone2.
Pendidikan dan Pelalihan Teknis 3. Auditor lntemal P6m6rinlah2.1.
ValueFor
oneyValue
for noney
(VFM) merupakan konsep pentingdari
organisasi seHor publik, utamanya dengan audit sektor publik (Heald, 2OO3: 345). Vatue for money seang diartikan sebagai penghargaan terhadap nilai uang. Artinya bahwa setiap nilai rupiah harus dihargai secara layak dan digunakan sebaik- baiknya. Konsep yalue for money ini menurut Heald (2003: 345) mempunyai keterkaitan dengan efesiensidan
keefehifitasan, yangdapat
berimplikasi pada auditing yang mendalam terhadap suatu program.Menurut Mahmudi
(2007
81), konsep value for money terdiri dari tiga elemen utama,atau lebih
dikenal dengan singkatan3E,
yakni: Ekonomi, Efisiensi,dan
EfeKivitas. Konsepini
dalam pandangan Mardiasmo (2004:23/.) bahwa merupakan bagian penting dalam proses
terciptanyaakuntabilitas publik (publlc
accountabitity). Akuntabititaspublik
tersebutmerupakan kewajiban pemerintah sebagai penerima amanah
dalam mempertanggungjawabkansegala ahivitas dan kegiatannya
kepada masyarakal sebsgai pihak yang memberi amanah. Dengan demikian, konsopvalue
for money dalam setiap kegiatandi
lingkungan pemerintahan, pada akhimya akan menghindari teriadinya perpindahan praktik korupsi, inefisiensi,dan
kebocoran-kebocorandana
(Mardiasmo, 2OO4235). Secara
umum menurut Mardiasmo (2006), model value for moneyQe\
mengukur dengananalisis varian yakni
membandingkanantara input dan output
yangdirencanakan dengan /,hput dan output aHiualnya.
INTERNAL
!. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM(TPU)
Lebih lanjut Mardiasmo menjelaskan bahwa konsep
value
for money penting bagi organisasi, seperti halnya organisasi di kepemerintahan sebagaipelayan masyarakat. Karena implementasi konsep tersebui
akan memberikan manfaat:'l
.
EfeHivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan tepal sasaran;2.
Meningkatkan mutu pelayanan publik;3. Biaya pelayanan yang murah karBna hilangnya inefisiensi
dan penghematan dalam penggunaan /Bsourcos;4.
Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kopentingan publik;5.
Meningkatkanpublic costs awarcness sebagai akar
pelaksanaan p6rtanggungjwaban kepada publik (20M: 230).Penerapan value for money dalam
pemerintahandaerah
akan memperku€tdan
mempercepat pencapaiantata
pemerintahanyang
baik (good govemance). Pemerintahanyang baik
(good goveman@) biasanya dianalogikan sebagai pemerintahanyang
berusaha mengimplementasikan prinsipprinsip transparan, ekonomis, efisien, efehif, responsif, dan akuntabeldalam melakukan pelayanan kepada
masyarakatnya.Oalam
konteks pomerintah daerah penerapan value tor money tersebut harus dilaksanakan terutama dalam pengelolaan kEuangan daerah dan anggaran daerah.Pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel menjadi penting karena masyarakat
di
negaradan
daerah manapun menghendaki pemerintahnya yang berperan sebagai pengemban amanat masyarakat bertanggungjawabatas kinerja yang telah
dilakukannya.Hal t66ebut
disebabkan karena anggaran yang dikelola oleh pemerintah dalam melaksanakan program dan kegiatan-kegiatannyabersumber dari dana masyarak€i. Dalam
upaya pertanggungjau/abanpenggunaan anggamn oleh pemerintah
kepada masyarakat, maka pengimplementasian konsep valuefor
money tersebut menjadi sangat diperlukan.Untuk mendukung penerapan konsep di atas, diperlukan
danya
suatu sistem pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah yang berorientasipada
penerapananggaran kineia
@eformancebudge\. Manfaat
daripenerapan anggaran kinerja adalah untuk mendukung
terciptsnya akuntabilitas publik pemorintah daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi yang luas. Terkait dengan itu, Rosidi (2007) memandang bahwa penggunaan konsep value ,br money merupakan salah satu pendekaian untuk mendukung terciptanya anggaran berbasis kinerja.Penyusunan anggaran dengan berdasarkan anggaran berbasis kinerja atau prestasi kerja merupakan implementasi dari paket reformasi
di
bidang keuangan anlara lain UU Nomor 17 Tahun 2OO3 tentang Keuangan Negara,di mana pada pasal 19 (1) dan (2)
menyebutkan bahwa, dalam rangka penyusunan Rencana Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (RApBD) pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku pengguna anggaran, menyusun roncanakerja dan
anggaran dengan pendekatan berdasarkanpreslasi kerja yang akan
dicapai,yang bias€
disebut dengan AnggaranBerbasis Kinerja (ABK) Dalam
penyusunananggaran berbasis
kinerja tersebut setiap SKPD menyusun anggaranseliap
programatau
kegiaian dengan memperhitungkan inpuf, proses, output, dan outcr,me dari anggaran yang direnc€nakan.Hal di atas
dimaksudkanagar
torciptasuatu
akuntabilitas program.Akuntabilitas program memfokuskan pada pencapaian hasil
operasi pemerinlah (Mardiasmo, 2004). Untukitu,
semua pegawai ataustaf
yangterlibat dalam sualu
programharus dapat
menjawab pertanyaan sekitar pencapaian tujuan program dan kegiatan pemerintah tersebut, bukan hanya pada sekedar kelaatan pada peraturan yang bedaku. persyaratan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan pelayanan yang terbaik kepada pihak- pihak dimana SKPD tersebut akan dinilai sesuai dengan lingkup tugas yang menjadi kewenangannya.Sama halnya dengan kegialan penyusunan anggaran yang berkaitan
dengan
Program STAR-SDPharus
memakai pendekatankinerja,
yangdifokuskan pada efisiensi
penyelenggaraansetiap keglatan yang
akan dilaksanakan. Efisiensi polaksanaan suatu program atau kegiaian merupakanperbandingan anlarc oufuut dengan input. Suatu aklivitas
(kegiatan) dikatakanefisien, jika output yang
dihasilkantebih besar
dibandingkan kegiatan lain yang memanfaatkaninput
yang sama, atau dengan kala lain output yang dihasilkan adalah sama dengan rnput yang lebih sedikit. Hal ini yang membedakan dengan penganggaran yang menggunakan pendekatantradisional, yang diterapkan pada masa lalu.
Penganggaran dengan pendekatan kinerjaini
disusun dengan berorientasi pada output atau hasil yang ingin dicspai dari ponggunaan sejumlah rupiah yang dianggarkan.Jadi, untuk
menyusun anggaran dengan menggunakan pendekalan kinerja,mirdselnya
harusfokus
pada sasaran yang ingin dicapai dongankegiatan yang ak€n
dilaksanakan.Adanya penerapan anggaran
yangberbasis kinerja akan berdampak pada organisasi atau SKPD
yang melaksanakan anggaran kinerja iersebut berupa:1)
Muncul
kebutuhan penyimpanandata, baik itu berupa data
kualilatif maupun kuantiiatif, baik berupa finansial maupun non finansial, karena data akan diolah menjadi informasi, untuk menentukan indikator (ukuran), serta untuk mengevaluasi dan mengambil keputusan pengalokasian dana yang lebih objeKif.2) Muncul
kebutuhan mengukuroubut dan input, sefta
kelayakan j6nis indikator.3)
Biaya yang dikeluarkan lebih menekankan pada aKivitas yang dilakukan olehsi
pengguna anggaran, bukan mon€kankan pada jumlah anggaran yeng terpakai.4)
Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengidentifikasi indikator dan mampu menganalisis biaya dan dsta.2.1.'t.
EkonomiEkonomis merupakan
ukuran
pengorbananyang
dipedukan untukmemperoleh input, aflinya terhindar dari pengeluaran yang tidak perlu dalam
segala aspek kegiatan. Menurut
Mahmudi(2007: 81) ekonomi
adalah kegiatan atau upaya untuk memperoleh input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang terendah. Ekonomi dapat pula diartikan sebagaimendapalkan
barangatau
jasa inputunluk sualu
kegiatan pada kualilasiertentu dengan harga sesuai
standar. Pengertian ekonomi (hemat/tepat guna) sering disebut kehematan yang mencakupjuga
pengololaan secara hati-hatiatau
hemaldan tidak ada
pemborosan. (Mardiasmo,20C!,
131) tingkat ekonomis sualu organisasi, program, atau kegiatan adalah merupakan hasil perbandingan antara input dengan input value yang dinyatakan dalam saluan monoter. Ekonomis kemampuan sualu organisasi dapat menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produhil (Mardiasmo, 2004: 4). Ekonomi dapat pula diartikan sebagai hubungan antara pasar dan masukan (costof
,hpuo. Suatu kegiatan dikatakan ekonomisjika
dapat menghilangkan atau mengurangi biaya yang tidak pertu. (Mahsun, 2006: 181)Keekonomian
suatu
programatau
k€giatansangal terkait
dongan konsep biayauntuk
m€mperolehunil lnput
Ekonomi memiliki pengertian bahwa sumber daya input hendaknya diperoleh denganha€a
lebih rendah (spending /ess), yailu harga yang mendekati harga pasar (Mahmudi, 2007:82). Lebih lanjut Mahmudi mengatakan bahwa keekonomisan suatu kegiatan merupaken perbandingan anlaE input dengan nilai rupiah untuk memperoleh /nput tersobut dan secara matematis dirumuskan sobagai berikut:
InDul LRanom,
H
arga(Rp)Setiap kegiatan yang akan dilakukan harus dipastikan bahwa sumber daya input, berupa peralatan, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya yang
ekan digunal€n pada
kogiatan tersebuttidak terjadi
pemborosan. Untuk memastikan bahwa sumber daya yang digunakan t6lah momenuhi prinsip okonomi,maka psda saat
penyusunan rencanadan
anggaran kegiatan maupun pelaksansannya dilakukan dengan menggunakan siandarisasi harga yang dikeluarkan oleh pemda setempat sorta m€mbud analisa standar biaya.Untuk program atau kegiatan yang sumber dananya berasal dari APBN
maka
sedapat mungkin menggunakansiandar biaya umum (SBU)
yang ditetapken oleh Departemen Keuangan (Depkeu) Rl yang dilengkapi dengan ASB. Delam upaya untuk rnempeoleh sumber daya yang paling murah dapal pula dilakukan suruei harga pasar dengan tujuan memperoleh harga terendah sudlu input dengan kualitas tertentu. Namun yang p€rlu mendapa( perhatiandalam
penerapanharga
berdasarkanstandar harga yang
disusun oleh p€mda maupun Depkeu adalahpada
besaran harganyayang
umumnya disusundan
berlaku untuk satu tahun anggaran. Disampingilu
SBU yang ditetapkan Depkeu menetapkan harga yang s.lma untuk seluruh lndonesia, sohingga memungkinkan terjadinya perbedaan dengan harga yang bedaku di deerah sesuai kondisi ekonomi masing-masing daerah.Dalam rangka untuk memp€roleh suatu input dengan kualitas tortentu sesuai dengan prinsip ekonomi adahh dengan menggunakan sislem kontrak
kerjasama, tender. Sodangkan untuk barang yang
pengadaannya membutuhkansumber daya input yang besar,
pengadaannya dapat dilakukan melaluisistom sewa beli. Pada
penyediaan barang atau jasa tertentu, pemerintah dapat melakukan kontrak aiau kerja sama dongan pihak ketigayang
mampu m€nyediakanatau
molaksanakan pekerjaan tersebut denganhaEa
yanghbih
murah. Terhadap p€kerjasn atau pengadsan jasa yang sifatnya sangat teknis yang apabila dilaksanakan oleh pihak ketiga akan mengeluarkanbiaya yang boros maka pokerjaan ters€but
sebaiknya dilaksanakan dengan swakelola.Konsop ekonomi dalam memperoleh stef atau tenaga kerja yang akan
dilibatkan dalam prces
pelaksanaanprogram atau kegiaian
memiliki pengertianbahwa unit kerja
hendaknya memperolehstaf yang
memiliki komp€tensi, keahlian, kelerampilan, dan motivasi tinggi sesuai deng€n yang diharapkanoleh unit keria
dengantingkat biaya atau
hargayang
paling murah. Untuk memperolehtenaga kerja
s€suai standaryang
diharapkan pengadaannyadapat dilakukan melalui kerja sama dengan
lembaga ponyedia tenaga kerja.Di sisi lain tenaga kerja yang murah merupakan alat untuk mempercleh keunggulan bersaing. Pada dasamya tingkat ekonomi delam hal staf adalah bagaimana mempe(oleh, mempertahankan, dan mong€mankan staf dengan
bieya lebih rendah yang mungkin bisa dilakukan, dan tidak
sebataspermasalahan
gaji. Pada seHor publik,
pemanfaatanlenaga kerja
ataup€gawai yang ditunjuk uniuk
melaksanakan su€tiukegiatan
sebaiknya dilakukan dengan melibatkan p€gau/ai-pegawai yang tidak mempunyai lugas t€tap. Hal ini terkail dengan kondisi pada sektor publik yang biasanya padasatu sisi ada
p€gawaiyang
mempunyaitugas yang
sangal banyak yangseringkali
menimbulkan kecemburuan,sementara pada sisi yang
lainterdapat pegawai yang tidak mempunyai tugas/pekerjaan.
Molalui pemanfaatan p€gawai yang tidak mempunyai tugas/pokerjaan tetap tors€butakan
menciplekanadanya
keseimbangantugas
sehingggatidak
akan monimbulkan kecemburuan.Menurul Mahmudi (2007: 82) Ekonomi
morupakenkonsep
yang sifalnya relatif. RElativitas konsep ekonomi tersebut bisa disebabkan karena faktor lokasi dan waktu. Keduafahor
tersebut terkail dengan harga pasaryang
berbeda. Harga pasar untuk rinpul yengsama bisa
berbeda karena lokasi dan waktu yang berbeda. Misalnya harga pasarsualu
barang akan berbeda apabila dibalidi
kotadan
dibElidi
daerah torpencil.Begilu
pula apabilawahu
p€mbelian dilaksanakan padasaat
krisisatau
pada musim proyek aken lebih mahal apabila dibandingkan memb€li bukan pada waktu krisisatau
musim proyek. Terhadap barangtertenlu pada
musim proyek cenderung harganya mahal karena banyak yang membuluhkan, sementaraapabila
diadakan/dilaksanakanbukan pada musim proyek
harganya cenderung lebih stabil.2.1.2.
Efi3iensiEfisiensi
merupakanhubungan anlaB input dan oubut.
Efisiensi dimaksudkan untuk mengukur hubungan antara masukan yang digunakandan
keluaranyang
diporoleh artinyadengan oulpul tertentu
diusahakan pemakaian iirpuf minimal alau dongan input tertentu diusahakan perolehan output yang maksimal. (Supratman, 2001: 21) Efisiensi merupakan ukuranspakah
penggunaan barangdan jasa yang dibeli oleh
organisasi unluk mencapai oufpu, terlentu. Dalam pelaksanaan kegiatan €fisiensi dipandang sebagai upayaunluk
menghasilkan barangatau hyanan
lertentu dengan menggunakaninput seminimal mungkin. Efisiensi dalam
pemorintahan adalah sebuah id6 yang kompleks, baik ketika dikonseptualisasikan sebagaipenghematan (ekonomi, efisiensi atau efektifltas) maupun
ketika dikonseptualisasikan sebag€i efisiensi produksi dan efieiensi alokasi. (Heald, 2003: 362) Efisiensi merupakan ukuran apekah penggunaan barang dan jasa yang dib€li oleh organisasi untuk mencapai oulput terlentu. Efisiensi terkaitdengan
hubunganantara output beupa barang aiau
pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakanur
uk menghasilkan output (Mahmudi, 2007: 83). Efisiensi dapat pula dikatakan sebagai perb€ndingananlaB ou$ut
denganinput atau
denganistihh lain output
perun;t input.Secara matematis, efisiensi dirumuskan s€bagai b€rikut:
Eflsffrtr:fl - oltrPtfr ,ilPtr
Suatu organisasi, program,
atau
kegiatan dikatakan efisien apabila mampu mengh asilkanoutput
tertentu dengan,nput
serendah-rendahnya, alau dengan l,hpuf tertentu mampu menghasilkan output s€besar-besamya.Dalam konteks pelatihan teknis yang dilaksanakan oleh lnspeKorat provinsi Sulauresi Tenggara dikatakan oftsien apabila pemanfaatan sumb€r daya j,;4put yang disiapkan uniuk menghasilkan ou@uf tidak melampauhi rencana dalam DIPA. Sumber daya input tersebut antara lain panitia/narasumber dan saEna serla sumb€r daya lainnya.
Menurut Supratman
(200'l:
20), efisiensijuga
mengandung beberapa pengertian antara lain:1
.
Efisiensi pada s€ktor usaha swasta (ptivate seclor efrciencyl, dijelaskan dengan konsep linp ut output yailu l-asio output daninput
2.
Efisiensipada
sektor pelayanan masyarakat(public sxtor
efrciency) adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan baik dengan pengorbanan seminimal mungkin;3. Suatu kegiatan dikalakan t6lah dikerjakan secara efisien
jikapelaksanaan pekerjaan tGrsebut telah mencapai sasaran (output) dengan biaya (input) yang terendah atau dengan biaya
(input)
minimat dip€rolehhasil
(oufpuO yang diinginkan.Dalam setiap akffrtas organisasi pemakaian konsep
efisiensi merupakan konsep yang b€rsifat relatif, tidak absolut.Sudu
program atau kegiatan dikatakan lebih efision dibandingkan dengan program alau kegiatan lain apabila mampu menggunakan sumber daya input yang lebih kecil dari program atau kegiatan lain. Atau dengan menggunakan jumlah input yang sama, programatau
kegialan iersobut mampu menghasilkan output yang lebih banyak.Efisiensi
dalam
organisasijuga
berhubungandengan
produktivilas.Pengukuran produktivitas dilakukan dengan memperbandingkan anla,€ input
dengan output
Pengukuran produKiviias biasanya berhubungan denganwahu yang
digunakan karyawandalam
menyelesaikansuatu
kegiatan.Seorang karyawan
dapat
dikatakanlebih
produktil dibandingkan dengan karyawan yang lain apabila karyawan tersebut mampu menghasilkan oufput yang lebih banyak pada kwalitas dan standar ierlentu dibandingkan dengan karyawanlainnya.
Karena efisiensi merupakan suatu rasio, maka untuk memperbaiki efisiensi dapat dilakukan tindakan berikut:1
.
Meningkatkan oufpuf untuk jumlah ,hpu, yang sama.2.
Meningkatkanou@t
dengan proporsi kenaikanouhut
yang lebih besar dibandingkan proporsi kenaikan,,npuf.3.
Menurunkan rhput untuk jumlah oufput yang sama.4. Menurunkan input dengan propoEti p€nurunan yang lebih
besar dibandingkan proporsi penurunan output. (Mahnrudi, 2007: 83)Pengukuran tingkat efisiensi
suatu
kegiatan dapat dilakukan dengancara
membandingkanbiaya
sesungguhnyadengan biaya standar.
Biayastandar untuk suatu
produkatau
layanan merupakanbiaya yang
harus dikEluarkan untuk menghasilkan output tertentu tersebut.pada
organisasisektor publik setiap belanja dibuat
s{andaris€siharga yang
dijadikan pedoman dalam melakukan pembelian barangyang
berhubungan dengankegiatan yang akan
dilaksanakan. Standarisasiharga tersebut
disusun menjolangakhir tahun anggaran dan bedaku satu tahun untuk
tahun anggaran berikutnya. Untuk menjamin adanya standarisasi harga yang up to dale, beberapa daerah molakukan revisi standarisasi harga setiap tiga bulanuntuk
mengikuti p€rkembanganharga
pasaran dengan melibalkan unsurakademisi dan tokoh masyarakat. Penetapan standar belanja
yang diberlakukanuntuk setiap
kegiatansejak
penyusunanrencana
kegiatanhendaknya sudah
mempertimbangkanaspek ekonomi serla
standar pelsyananpublik
minimumyang harus
dipenuhi. Standar harga tersebut menyebabkansetiap kogietan sejak awal p€nyusunan rencana
telah memperhalikan aspek ekonomi dan efisiensi, sehingga pada pelaksanaannya juga akan dapat berjalan secara ekonomis dan €fisien.2.1.3.
Efok0vitasKata efeKivilas (hasil guna) digunakan untuk merujuk
suatu pengukuran hasil. Sebagai atribut pengukuran, efektivitas dapat digunakanuniuk
mengukur hasilsuatu
kegiatan, program, proyekdan
bahkan suatu eniitasdari
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Efektivilas biassnya dikaitkan dengan kemanfaatan suatu keluaran(ou$u\
yang dihasilkan dari suatu kegiatan, program, proyek alau enlitas. Pongertian efektivitas adalah hubungananlaE oubut
dan tujuan atau dapatjuga
dikatakan merupakan ukuran seberapa jauh tingkatoulpu(
ketijakan dan prosedur dari organisasi.EfeKivilas
juga
berhubungan denganderajat
keberhasilansuatu
operasi padasehor
publik sehinggasualu
kegiatan dikatak8n efektifjika
kegiatan ters€but mempunyai pongaruh besar terhadap komampuan menyediakan pelayananmasyarakd yang
merupakansasaEn yang telah
ditetapkan sebelumnya.Menurut Devas, dkk, (1989) dalam Supratman (2001
:
21) Efehivitas adalah hasil guna kegiatan pemBrintah dalam mengurus keuangan daerahharus sedemikian rupa sehingga memungkinkan program
dapatdirencanakan dan dilaks€nakan untuk mencapai lujuan pemerintah dengan biaya serendah-rendahnya dan dalam waktu secepat-sepatnya. Sedangkan menurut Mahmudi (2007:
U)
Efektivilas terkait dengan hubungan antarahasil yang
diharapkandengan hasil yang
sesungguhnya dicapai. Dalam konteks tersebut, efektivitas merupakan hubunganantara ouhul
dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output lerhadap pencapaian tujuan, makasemakin efektif program atau kegialan. Suatu program atau
kegiatan dikaiakan bernilaiefektil
apabila output yang dihasilkan mampu memenuhi tujuan yang diharapkan. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut:EFEKTIWTA S = OUTCOME OI/TPUT
Pengukuran efektivitas pada organisasi sektor publik biasanya sulit dilakukan karcna output yang dihasilkan umumnya
tidak
benrvujud barang yang mudah untuk dikuantifikasi. Kesulitan pengukuran tersebut disebabkan p€ncapaian hasil (outcome)dari
suatu program atau kegiatan sering tidakbisa
diketahui dalamjangka waKu
pendek,akan tetapi jangka
panjang setelah program berakhir. Untukilu
ukuran efektivitas suatu program alau kegiatan biasanya dinyatakansecara
kualilatifdalam
bentuk pernyalaan.Ukuran pencapaian efeKivitas program atau kegiatan seringkali
juga
dapatdiketahui dari dampaUpengaruh (outcone) yang ditimbulkan setelah kegiatan tersebut berakhir. EfeKivitas dipandang oleh
Cameon
dan Whetten (,1981)dalam
lndrajaya(2006: 15)
merupakantema sentral
keberhasilan sualu organisasi namunyang
menjadi problemjustru
ketidakmampuan peneliti untuk sepakat terhadap definisi operasional dari konstruksi efektivitas.Efehivitas adalah 'menjalankan
sualu
pekerjaan yangbena/,
arlinyabahwa
kemampuanunluk
memilih sasaran-sasamnyang tepat
(Hermin, 2002). Pengukuran efektivitas dalam pencapaian tujuan-tujuanyang
ingin dicapai dalam suatu kegiatan merupakan hal yang sulil, tidak hanya karena beberapatujuan dari suaiu
program atrau kegiatan harus dicapai secara simuttan hingga tercapainya tujuan akhir, tetapijuga
penting diperhatikan adalah tujuan-tujuanjangka
pendek danjangka
panjangsorta
kesehatan maupun kelangsungan hidup suatu organisasi. Karena dihubungkan dengan tujuan akhir dari suatu program atiau kegiatan, maka pengukuran diarahkan pada pengaruh/d ampak (outcomes). Pongaruh/dampak memiliki pengortian yang lebih luas dari pada keluaran. Pengertian efektivitas sualu program atau kegiatan borkenaan dengan seberapajauh
suatu programtelah
mencapai lujuan atau mencapai manfaat yang direncanakan atau diinginkan.Agar efektivilas pencapaian suatu kegiaian atau program dapat diukur, harus ditetapkan suatu kriteria. Krileria terbaik dan ukuran efektivitas adalah dampak yang diharapkan dari penetiapan suatu kegiatan alau program. Oleh karena itu akan sangai bijaksana apabila tujuan atau
hasil
akhir ini dapat didefinisaikan sebelum prcduk dibuat atau jasa dihasilkan. Sangat mungkin bahwa sebuah program atau kegiatan mempunyai ruang lingkup yang sangatluas atau
mencakupwaktu yang sangat panjang. peda pr€ram
alaukegiatan yang
mempunyaiciri demikian, penilaian efektivitas
mungkin menjadi tidak praktis. Akan sangat membantu berbagai macam evaluasi dan auditjika,
dilakukan pentahapan untuk mengurangi kerumitan dan cakupan periodenya. Untuk tujuan evaluasi, tujuan atau hasil akhir sualu program juga harus diupayakan dipecah-pecah kedalam sasaran antara, sejalan mengikuti pentahapan operasi. Pada banyak kejadian, umumnya sasaran antara atau tahapan-tahapan proses operasiyang
toridentifikasi, bahkan dapat berdiri sendiri sebagai sasaran sebuahaudit atau
analisa keberhasilan k6giatan tersebut.Pengungkapan lain yang sering digunakan untuk menyebut suatu hasil akhir adalah tujuan (oblectyes), atau hasil yang diharapkan (expectecl
rcsun.
Hasil akhir biasa digunakan sebagai dasar bagi p€netapan
arah
kegiatan, program, atau entitas dalam menghasilkan barang atau menyediakan jasa.Melalui kualitas dan kuantitasnya produk atau jasa memberikan sumbangan langsung kepada
dampak yang
merupakandasar
pengukuran terhadap capaian tujuan. Logika keterkaitanini
yang digunakan sobagai dasar untuk menjelaskan keterkaitan pengendalian dengan efeKivitas pencapaian hasil.Kemudian menurut
Jamin
(1985)dalam
Hermin (2OO2:24)
mengatakan bahwa efeKivitas organisasi dapat dipandang sebagaibalas
kemampuan organisasi mendapatkandan
memanfaatkan sumberdayayang
tersodiauntuk mencapai tujuan operatif dan operasionalnya.
Penelitian terhadap efeKivitas
suatu
organisasi umumnya dilakukan dengan mempefialikan secara serempak faham mengenai optimisasi tujuan, perspoKif tujuan dan tokanan pada segi perilaku manusia dalam organisasi, dimana ketiganya harus saling berhubungan salu dengan yang lain. Dalam persp€ktif tujuan dan tekanan pada segi perilaku manusia dalam organisasi untukjangl€
panjang, dilakukan d6ngan mengintegrasikan tingkai makro dan mikro dari hasil analisis,dan
meneliti bagaimana tingkah laku individu dankelompok yang akhimya dapat mendukung atau menghalagi
upaya pGncapaian tujuan organisasi. Menurut Jamin (1985) dalam Hermin (2002:25) bahwa cara
satu-satunyauntuk mencapai tujuan adalah
dengan mengotahui tingkah laku/perilaku para anggota organisasi, sodangkan untuk mencapai efeKivitas organisasi harus memenuhitiga
persyaratan perilakuagar
mampu memaslikan keberhasilanakhir. Ketiga
p€rsyaratan perilaku tersebut adalah: (a) organisasi harus mampu membina dan mempertahankanarmada kerja yang mantap dan terdiri dari pekerja yang
terampil;(b)organisasi harus dapat menikmati prestasi peranan yang dapat diandalkan
dari para pekerjanya; (c) organisasi menuntut agar para
pekerjamengusahakan beniuk tingkah laku yang spor an dan inovatif.
Molalui pendidikan dan pelatihan, diharapkan dapal mongembangkan kemampuan kerja pegawai yang bukan saja pada saal menangani pekerjaan ssat ini, akan ietapi juga untuk menangani tugas pekerjaan pada masa yang
akan datang.
Pegawaiyang setelah melalui
pendidikandan
pelatihan lersebut merupakan asel yang nantinya dapat dimanfaatkan bila diperlukan.Dongan demikian pendidikan dan pelatihan tersebut merupakan upaya yang perlu mendapatkan perhatian serius oleh setiap pimpinan organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi, sedangkan
unluk
memastikan bahwa hasildari
usaha pendidikan dan latihan tersebul hasilnya sepadan dengan investasi dan dianggap efektif maka harus pula ctiperhatikan pengaruh dari pendidikandan
pelatihan tersebul terhadap prestasi kerja yang capai oleh p€gawaiyang telah
mengikutinya. Efektivitas merupakan ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuannya (Mardiasmo, 2OO4: 134).Mardiasmo (2004) momberikan catatan, bahwa efeHivitas tidak monyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk mencapai tujuan program, melainkan efektivitas hanya melihat apakah suatu program alau kegiatan
telah
mencapaitujuan yang telah
diletapkan.Hal
tersebut juga ierjadi pade organisasi sektor publik.Menurut Tim Penyusun Modul program pendidikan Non Gelar Auditor
Seklor
Publik (2007:59)
bahwa pengukuran hasil (pongukuran efeKifrtas) tergantung kepada pemahaman yang jelas terhadap apa yang akan dicapaioleh
pelayanan tersebut. lndikator-indikator ekonornisdan
elisiensi dapal dengan mudah dibangun dengan melihat biaya dan sumber daya. Tapi untuk melihat apakah jasa tersebut telahefehif,
harus kembali ke masalah dasardan
bertanya:'Apakah
masalahtelah
dipecahkan?,atau
manfaat telahdiberikan?'
Menjawab pertanyaan-pertanyaantersebut sangat sulit
dan membutuhkan surveyatau
investigasi yang mendalam.Untuk
itu,
dalam setiap kegiatan yang dilaksanakanoleh
organisasi(iermasuk organisasi pemerintahan) perlu dilakukan evaluasi,
untuk mengetahuiapakah
kegiatanyang
dilaksanakantelah berjalan
dengan semestinya,baik dalam
menggunakan anggaran maupun kegiatan yang dimaksud telah berdaya guna, sehingga pada akhimya kegiatan dimaksud mempunyai manfaatke depan dan telah
seb€nding dengandana
yang dikorbankan. Sepertijuga
halnya dengan kegiatan pelatihanteknis
yangdilaksanakan pada program STAR-SDP. Uniuk dapat
mengetahui keberhasilan kegiatan pelatihanteknis tersebut, maka
diadakan melalui analisisdan
evaluasi/pengukuran valuefor
moneyatas
hasil pelaksanaan pelatihan leknis yang telah dilaksanakan. Terdapat beberapa dEfinisi tentang evaluasi sepertiyang
dikemukakanoleh para ahli
dalamtulisan
meEka.Sehubungan dengan pendapat para ahli tersebut Umar (2002), menyatakan
bahwa
pada
umumnya pongertian evaluasiyang ada
saling mel€ngkapi, antara pendapd ahli yang satu dengan ahli yang lainnya. Kemudian Umar(2002: 36)
merangkumdefinisi evaluasi sebagai "sudu proses
untuk menyedia