• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA DALAM PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ETIKA DALAM PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

i

ETIKA DALAM PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK

Hak Cipta @ 2009 pada penulis

Hak Cipta dilindungi

undang-utrdang.

Dilarang

memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh

isi

buku

ini

dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dan penerbit.

Penulis

:

A. Razak

Cetakan

I

: Desember 2fi)9

. ISBN

978d)2-854G46-9

Diterbitken

Oleh : Program Pascasarjana

Universitas Brawijaya Malang

(2)

I

ai

TENTANG PENULIS

A.

Razak Adalah dos€n tetap dan peneliti pada Politeknik Negeri Pontianak.

Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Jurusan Akuntansi Sekolah Tinggi llmu Ekonomi Pontianak (STIE Pontianak) pada tahun 1994, dan memperoleh gelar

Sarjana Ekonomi diperolsh dari Jurusan

Manajemen

Fakuttas

Ekonomi Universit€s Tanjungpura (Untan) pada tahun 1996, gelar Magister Menajemen (MM) Konsenfasi Manajemen Keuangan dari Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang tahun 2000, gelar Akuntan dari Pendidikan Profesi Akuntan Fakultas Ekonomi Brawijaya tahun 2007. Saat

ini

beliau sedang menempuh p€ndidikan Doktor (53) Sains Akuntansi di Universitas Brawijaya Malang. Pemah memperoleh dana penelitian dosen muda tahun 2006, pemah memperoleh dana

penelitian TPSD tahun 2004.

Penelitian

/karya ilmiah betiau

pemah dipresentasikan ditingkat nasionat TPSD

di

Surabaya tahun 2005. Beberapa tulisan beliau pernah diterbitkan Jurnal Akreditesi Nasional.

t

(3)

K.ATA PENGANTAR

Proses penyusunan anggaran sektor publik melibatkan partisipasi banyak pihak, sehingga informasi keuangan sangat diperlukan, agar masyarakat umum (publik) dapat mengevaluasi anggaran yang diajukan pemerintah. Mengingat pentingnya proses penyusunan anggaran bagi sebuah organisasi sektor publik, maka diperlukan proses manajemen keuangan dan akuntansi manajemen untuk menunjang dan pengatasi persoalan tersebut.

Anggaran sebagai bentuk kebijakan yang menyangkut masalah publik dibuat dengan melibatkan seluruh masyarakat, baik DPRD, LSM, Organisasi masyarakat, Perguruan Tinggi, dan asosiasi profesi. Memperhatikan hal di atas, anggaran memainkan peranan penting dalam perenelnaan dan pengendalian

serta memiliki pengaruh terhadap manusia yang akan

melaksanakan, mepertanggungjawabkannya dan menyusunnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan sikap mental dan etika dari orang-orang yang terlibat dalam proses penwsunan anggaran.

Kebahagian tersendiri bagi penulis karena dapat menyelesaikan buku teks

ini

dengan juclul

'

Etika dalam Penganggaran Sektor Pubtik

".

penulis

menyadari

buku ini jauh dari sempuma, namun buku ini akan

terus dikembangkan,

direvisi dan ditinjau ulang

ditengah

masih

berlangsungnya reformasi dibidang perencanaan dan penganggaran daerah.

Penulis

menyadari,

bahwa setiap hasil karya

manusia, meskipun diporsiapkan dengan sebaik

apa

pun, pasti masih

jauh dari

sempurna serta banyak mengandung kelemahan

dan

kesalahan. Semua

itu tidak

lepas dari kodrat manusia yang mempunyai keterbatasan pengelahuan serta pengalaman.

Untuk

itu,

penulis sangat menghargai kritik

dan

saran dari seluruh pembaca untuk perbaikan buku ini. Atas segala kesalahan dan kelemahan yang dikandung buku

ini,

kami terlebih dahulu mohon dimaaftan. Semoga dalam penerbitan berikutnya buku ini dapat torus kami sempurnakan.

Billahi fi sabilillhaq fastabiqul khairat, wassalamu'alaikum wr. wb.

Malang,

Desember 2009 Penulis
(4)

DAFTAR ISI Kata Pengantar.

Daflar lsi Daftar Gambar

Bab I Konsep dan Pentingnya Penganggaran .. . ... . .. .

1.1.

Reformasi Anggaran

1.2.

KonsepPenganggaran

1

.3.

Pentingnya Anggaran Daerah ... .. . . .. ... ...

1.4.

PrinsipPrinsip Pokok Dalam Penganggaran Daerah...

Bab ll Analisis Value For Money dan Pelatihan Teknis Auditor lnternal

2.1

.

Value For Money 2.1.1. Ekonomi 2.1.2. Efisiensi

2.1 .3. Efektivitas

2,2.

Pendidikan dan Pelatihan Teknis

2.3.

Auditor lnternal Pemerintah Bab lll Penyusunan Anggaran Sektor Publik

3.1.

Hakekat Otonomi Daerah

3.2.

Proses Akuntansi Manajemen di Sektor Publik

3.3.

Proses Penyusunan Anggaran Sektor Publik 3.4. Jenis-Jenis Penganggaran

3.4.'l

.

Line ltem Budgeting 3.4.2. lncremental Budgeting

3.4.3. Planning Program Budgeting System...

3.4.4. Zero Based Budgeting (ZBB) ... ... ...

3.4.5. Medium Term Budgeting Frame Work ..

3.5.

Performance Budget

Bab lV

3.6.

Perkembangan Sistem Anggaran

Pengerthn dan Fungsi Anggaran

...

4.1.

Pengertian Anggaran...

4.2.

Fungsi Anggaran Daerah

4.2.1. Anggaran Sebagai Alat Perencanaan 4.2.2. Anggaran Sebagai Alat Pengendalian 4.2.3. Anggaran Sebagai Alat Kebijakan Fiskal

I

ii

I

1

I I

10

12 12 15 17 19 23 26 29 29 32 33 35 36 37 37 39 40 40 43 /t5 45 47 48 49 50

(5)

Anggaran Sebagai Alat Politik.

Anggaran Sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi. .. . .. .

Anggaran Sebagai Alat Penilaian Kinerja ... , .. . .. .. .

4.2.7. Anggaran Sebagai Alat Motivasi ... ...

4.2.8. Anggaran Sebagai Alat Untuk Menciptakan Ruang Publik.

4.2.9. Alat Pembelajaran

BabV:

Prinsip-Prinsip dan Sumber Anggaran Daerah...

5.1 . Prinsip-Prinsip APBD... ... . .. . .

5.2. Jenis-Jenis Anggaran Daerah

5.3. Sumber-Sumber Penerimaan Daerah 5.3.1 .Pendapatan Asli Daerah 5.3.2.Dana Perimbangan 5.3.3.Pinjaman Daerah

5.3.4.Lain-Lain Penerimaan Yang sah... .. . Bab

Vl :

Siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

6.1 . Proses Anggaran... ... ...

6.2. Tahapan Persiapan & Penyusunan Anggaran 6.3. Tahap Ratifi kasi Anggaran..,... ...

6.4.

Tahap Pelaksanaan Anggaran...

6.5.

Tahap Pelaporan dan Evaluasi...

6.6.

Partisipasi APBD Sebagai Porspektif Politik Desentralisasi

6.7.

Perencanaan Anggaran Daerah Berdasarkan Perm€ndagri No. 13 Tahun 2006. .. .. . ... ... ... .

6.8.

Siklus Penyusunan APBD Berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006...

Bab Vll :Birokrasi Sektor Publik.

7.1 . Konsep Organisasi Sektor Publik.

7 .2. Bvdaya Birokrasi dan Pergeserannya ... . . .

Bab Vlll: Perilaku Organisasi.

8.1

.

Pengertian Perilaku Organisasi dan Perilaku lndividu

8.2.

Konsep Kepribadian, Motif dan Motivasi Dalam Sikap dan Perilaku

8.2.'l . Teori-Teori Muatan/Subtansi.

8.2.2. Teori-Teori Proses 1.2.4.

4.2.5.

4.2.6.

50 51 51 51 52 52 53 53 56 57 57 58 59

59 60 80 62 62 62 63 63 67 6E 73 73 75 80

82 92 98

(6)

Bab

lX

:Teori Sikap dan Perilaku... ... ... -..

9.1. P€ngertian dan Faktor Pembentuk Sikap ...

9.2. Konsep perilaku dan faktor pembentuk

9.3.

Konsep modal dan perilaku...

sosial dalam konteks sikap

9.t1.

Perilaku dan kinerja birokrasi.

Bab

X :

Pelayanan Publik . .. ... ... ... . 1 0.1.Pengantar p€layanan pubtik...

1 o.2.Faktor penentu kualitas pelayanan publik... ...

Bab

Xl :

Etika Anggaran

1 1 .3. Teori Oeontologis.. . 1 1 .4. Teori Teleologi.

1 1.5. Etika dalam Pengangg aran ...

...

DAFTAR PUSTAKA

107 107

115

119 120 126 126

135

137 137

14

146 148 151 157

(7)

I

DAFTAR GAMBAR

Gambar 6.1 : Sinkronisasi Penyusunan Rancangan APBD (UU 17l2003;UU 25t20O4; UU 32/2004; dan

uu

33/2004)...

Determinan-Determinan Dasar Kinerja...

Determinan-Determinan Motivasional Perilaku Kerangka Perilaku lndividu

Model Motivasional Oasar...

Model Motivasi lntegratif...

Kecenderungan Sikap dan Reaksi Refleks Bagan Sikap...

Konsepsi Skematis tentang Sikap...

Variab€l Pengaruh p€rilaku lndividu...

Proses Persspsi

Model Motivasi lntegratif yang Memengaruhi Kinerja...

Gambar 11.1:

Gambar 1 1 .2:

Skema Pembentukan Perilaku...

Deteminant of individual Ethics...

Gambar 8.1 Gambar 8.2 Gambar 8.3 Gambar 8.4 Gambar 8.5 Gambar 9.1 Gambar 9.2 Gambar 9.3 Gambar 9.4 Gambar 9.5 Gambar 9.6

72 85 86 87 90

1U

108 110 111 116 117

125 141 143

(8)

BAB

I

KONSEP DAN PENTINGNYA PENGANGGARAN

I. TUJUAN PEMBELAJAMN UMUM ( TPU

)

Setelah mempelajarai buku Etika dalam penganggaran

sehor

publik ini mahasiswa memahami konsep dan pentlngnya penganggaran

I!. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)

1. Reformasi Anggaran

2.

Konsep Penganggaran Daerah

3.

Pentingnya Anggaran Daerah

4.

PrinsipPrinsip Pokok dalam Penganggaran Daerah

1.1. Rebrmasl

Anggaran

Reformasi

yang

diperjuangkan

oleh seluruh lapisan

masyarakal membawa p€rubahan dalam kehidupan polilik nasional maupun

di

daerah.

Salah satu agenda reformasi tersebut adalah adanya politik desentralisasi yang membawa p€rubahan signifikan dalam pengelolaan keuangan daerah, yang kemudian diikuti dengan lahimya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 telah membawa secercah harapan

baru bagi

p€rbaikan

pola

penyelonggaraan pemerintahan daerah.

Salah satu perwujudan tersebut adalah sistem keuangan daerahnya, yang secara formal ditetapkan dongan Peraturan pemerintah

(pp)

No. 105

Tahun 2000 yang diganti monjadi PP No. 58 Tahun 2005

tentang Pengelolaan

dan

Pertanggungjawaban Keuangan

Daerah.

Seiring dengan

PP ini

mengharuskan pemerintah daerah bersama-sama DPRD menyusun

arah dan

kebijakan

umum Anggaran

Pendapatan

dan Belanja

Daerah

(APBD)nya sendiri. Dengan demikian, segala urusan urusan

yang menyangkut proses penyusunan APBD, termasuk semua preferensi, nilai, dan rasionalitas yang membentuknya pun kini ditentukan oleh para

elit

polilik dan birokrasi daerah

sendiri.

Atas dasar itulah, maka wajar bahwa otonomi

daerah akan mampu

mewujudkan

sistem

keuangan

daerah yang

lebih akuntab€l dan transparan.

Namun, penerapan UU l.lo. 22 dan 25 Tahun 1999 merupakan tongga awal dari otonomi daerah ini temyata

tak

serta merta mampu meneguhkan

tekad polilik

pembuatan kebijakan

APBD yang

betul-betul berpihak pada kebutuhan masyarakat

setempd. Hal ini

diindikasikan

dengan

begitu
(9)

rendahnya

prioritas yang

diberikan

oleh para anggota DpRD

terhadap berbagai kebutuhan rakyat kecil dalam bentuk pelayanan-p€layanan dasar

seperti seKor kesehalan,

pendidikan, pemberdayaan

usaha kecil

dan menengah, sanitasi lingkungan,

dau

sarana

dan

prasarana umum lainnya.

FaKa

memang menunjukkan bahwa

sisi

pengeluaran APBD lebih banyak didominasi oleh pembiayaan rutin yang menyangkut pembelian sarana dan

prasaEna penunjang sebagai fasililas simbolis bagi kegiatan

aparat p€merintahsn maupun ketua, wakjl k€lua maupun anggota DPRD.

Oi samping itu ada

p€ngeluaran-pengeluaran

yang

menjadi kontroversi

dengan pos.pos

pengeluaran tertentu,

seperti biaya

telepon, biaya sewa gedung, biaya perjalanan dinas dan pindah, biaya pemeliharaan

rumah dinas, dan biaya tamu yang dinilai

masyarakat terlampau tinggi.

Meskipun kini paradigma penyelenggaraan otonomi daerah telah mengalami

pergeseran, namun kebijakan keuangan daerah lobih terfokus

pada maksimalisasi peningkatan PAD melalui beragam pajak dan retribusi daerah dan alokasi penggunaannya tidak banyak kembali pada rakyat.

Akibatnya, rakyat menjadi pihak yang justru terabaikan.

Untuk mendukung pelakssnaan

era reformasi dan otonomi daerah

memang

dibutuhkan berbagai reformasi termasuk

manajemen

keuangan

publik, reformasi kelembagaan, reformasi anggaran, reformasi akuntansi sektor

publik dan reformasi audit sektor publik. Dalam reformasi

anggaran digunakan anggaran kineqa

(performane

budgeting) yang mengalokasikan

sumber daya pada program, bukan pada unit

organisasi

semata

dan memakai 'output

measuomenf

sebagai indikator kinerja organisasi (Bastian, 20Ma;172l..

Kondisi inilah kemudian mendorong berkembangnya

wacana

mengenai p€rlunya dilakukan reformasi anggaran agar

pengalokasian anggaran

lebih

berorientasi

pada

kepentingan

publik. Melalui

reformasi keuangan

daerah

banyak

aspek yang

menjadi

sorotan bagi

pengelola keuangan daerah dengan adanya porubahan mendasar

pada

perubahan

struktur

anggaran

dan

perubahan

proses

penyusunan

APBD.

Perhatian utama pada perubahan strukiur anggaran dilakukan untuk mengubah struKur anggaran tradisional

yang bersilat

line

item

dan incrcmentdlism sehingga

dapat menciptakan transparansi dan meningkalkan lebih

besamya akuntabilitas

dari

pengelolaan anggar€ln,dan dengan memperhatikan asas keadilan dan kepalutan.

Aspok lain dari reformasi anggaran juga berkailan dengan perubahan proses ponyusunan APBD yang benar-benar mencerminkan kepentingan dan pengharapan masyarakat daerah setempat terhadap pengelolaan keuangan daerah secara ekonomis, efisien

dan

efektif. Reformasi anggaran daerah

dimulai dengan

penyusunan anggaran

daerah yang tidak lagi

mengacu

kepada PP No. 6 tahun 1975 tentsng Cara

Penyusunan Anggaran
(10)

Pendapatan

dan Belanja Daerah,

Pelaksanaan

Tata Usaha

Keuangan Daerah, dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja.

Perubahan kebijakan tentang anggaran terjadi mengikuti perubahan kebijakan pengelolaan keuangan

negara. Salah satu bentuk

perubahan kebijakan tersebul dengan mulai diberlakukannya PP No. 105 Tahun 2000

yang diikuti dengan dilerbitkannya

Kepmendagri

No. 29 Tahun

2002 ditetapkan secara normdif, namun pada kenyataannya belum menunjukkan

hasil yang

menggembirakan.

Dalam beberapa hal, penerapan

sistem anggaran kinerja telah membuka sedikil celah bagi publik untuk 'mengintip"

proses

penyusunan

anggaran, namun daerah tampaknya masih

tetap b€rgantung pada pusat dalam penyusunannya. Di sisi lain, penentuan skala prioritas dalam penyusunan anggaran pun belum tampak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem anggaran kinerja mengalami berbagai kendala, sehingga reformasi anggaran tidaklah secara otomalis mengubah proses penyusunan anggaran menjadi lebih berorientasi oufpuf.

Kerangka pemikiran itulah yang menjadi landasan filosofis lahimya UU

No. 32 dan 33 Tahun

20O4

sebagai revisi terhadap

Undang-Undang Pemerintahan

Daerah dan

Perimbangan Keuangan

pusat dan

Daerah sebelumnya, semestinya menjadi langkah awal untuk membangun komitmen

bersama ke arah sistem keuangan daerah yang lebih

akuntabel.

Pemberlakuan kedua Undang-Undang

ini

seiring dongan Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara disertai dengan terbitnya Pp No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan diikuti pula dengan Permendagri

No. 13

Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan

Keuangan Daerah. Ketentuan tersebut

berimplikasikan

pada

seluruh kebijakan keuangan yang pada prinsipnya mengamanatkan agar pengelolaan keuangan dilakukan secsra iertib, taat pada p€raturan perundang-undangan,

efisien,

ekonomis,

efektif,

transparan,

dan dapat

dipertanggungiawabkan

kepada para pemangku kepentingan yang sudah menjadi

tuntutan

masyarakat. Dengan demikian pengaturan pengelolaan

dan pedanggunqjawaban keuangan daerah melekat

dan

menjadi

satu

dengan pengaturan pemerintahan daerah, yaitu dalam Undang-Undangan mengenai Pemerintahan Daerah. Dalam kerangka

ini,

bahwa padisipasi masyarakat

dalam proses

penyusunan

APBD

merupakan langkah

awal

terwujudnya sistem keuangan daerah yang transparan.

Peiormance

budgeting pada dasarnya adalah

sistem

penyusunan dan pengelolaan anggaEn daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil

kinerja. Kinerja teE€but harus

mencerminkan

efisiensi dan

efektivitas pelayanan publik, yang berarti harus berorientasi pada kepentingan publik (Yuwono dkk, 2005: A4). Pengelolaan keuangan daerah di era prareformasi dilaksanakan sesuai UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah di daerah. Di samping i{u, masih ada beberapa peraturan lain yang menjadi dasar pelaksanasn manajemen keuangan daerah seperti

PP

No.

5

Tahun
(11)

1975 dan PP

No.6

Tahun

1975.

Kepmendagri No. 2 Tahun 1994 Tentang P6laksanaan

APBD.

Kepmendagri No. 3 Tahun 1999 Tentang Bentuk dan Susunan Perhitungan APBD.

P€ngelolaan keuangan daerah

di era pra

reformasi

ini

mempunyai ciri-ciri antara lain

tidak

terdapat pemisahan konkret antrara eksekutif dan legislatif, perhitungan APBD

bediri

sendiri terpisah dari pertanggungiawaban

kepala daerah, unsur yang tedibal dalam

penyusunan

APBO

adalah p€merintah daerah yang terdiri

atas

kepala daerah

dan

DPRD saja, tidak melibatkan

masyarakal, lndikator kinerja

pemerintah

daerah

mencakup perbandingan anggaran

dan

realisasi, perbandingan antara standar biaya

dan r6ali8asi dan target dan persentase fisik proyek dan

laporan pertanggungjawaban kepala daerah dan laporan perhitungan anggaran tidak mempunyai konsekuensi pada masa jabatan kepala daerah (Halim, 2004:2).

B€rkaitan dengan anggaran mempunyai cid utama

anggaran

tradisional yaitu cara penyusunan anggaran yang didasarkan

pada p€ndekatan incrcmentalism dan struKur dan susunan anggaEn yang bersilat line-item.

Ciri lain yang melekat pada

pendekatan

anggaEn

tradisional tersebut adalah bersilat cenderung sentralistik, bersifat spesifikasi, tahunan dan menggunakan anggaran bruio. StruKur anggaran tradisional dengan ciri- ciri tersebut tidak mampu mengungkapkan besamya dana yang dikeluarkan

untuk setiap kogialan, dan bahkan

anggaran tradisional

tersebut

gagal memberikan informssi

tentang

besamya

renc.lna

kogiatan. Satu-satunya tolok ukur yang dapat digunakan untuk tujuan pengawasan hanyalah tingkat kepatuhan penggunaan anggaran.

Yuwono dkk (2005: 95) menjelaskan tentang

karakteristik penganggaran keuangan daerah di era prareformasi yaitu sebagai berikut:

'1.

Sistem lnput perencanaan. Dalam hal ini penganggaran didominasi oleh

pihak

eksekutif berdasarkan arahan

dari

pem€rintah atasan sehingga peran DPRD dan partisipasi masyarakal relatif kurang.

2.

Sistem output percncanaan. Asas APBD berimbang dan dinamis, tidak memisahkan belan,a desentralisasi, dekosentrasi dan tugas bantuan.

3.

Oilihat

dari susunan

struktumya,

APBD terdiri atas

pendapatan belanja,

di mana

belanja dibagi menjadi

dua, yaitu

belanja rutin belanja pembangunan.

4.

Memakai sistem proses peEncanaan

lin*item

budget dan incrcmental, sedangkan pendekatan ponyusunan yang diterapkan adalah berorientasi pada

input

dan ftagmented.

5.

Dokum€n penyusunan yang digunakan DUKDA/DUPOA.

dan dan

(12)

6.

Pinjaman dan sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu sebagai unsur pendapdan daerah.

7.

Dana transfer dari pusat terdiri atas sumbangan, subsidi dan ganjaran

8.

Pembentukan dana cadangan tidak diperkenankan (asas berimbang dan dinamis)

9.

Pengeluaran

tidak

tersangka

terdiri atas

pengeluaran rupa.rupa dan pelaksanaanya berdasark€n kebijakan kepala daerah

10. APBD

kabupaten/kota

disahkan oleh gubemur, sedangkan

untuk provinsi disahkan oleh menteri dalam negeri

11.

Untuk perubahan APBD, pihak DPRD cukup diberi tahu.

12.

Pelimpahan kewenangan otorisasi dari perangkat pengelola kouangan daerah tergantung kepada kebijakan kepala daenah

dan

pelimpahan kewenangan olorisator, ordonator dan kompetibel.

13. Memakai sistem prcses p8laksanaan akuntansi dengan

sistem pembukuan tunggal dan berbasis kas.

14. Bentuk laporan

pertanggungiawabannya

terdiri atas

laporan perhitungan APBD

dan

nota perhitungan APBD pembuatannya tidak melibatkan ekstemal auditor.

Masalah

ulama

anggaran tradisional

adalah lerkait

dengan tidak

adanya

perhatian

terhadap konsep value for money. Konsep

ekonomi,

efisiensi dan efehivitas seringkali tidak dijadikan

pertimbangan dalam penyusunan anggaran tradisional. Dengan tidak adanya perhatian terhadap konsep value

for

money

ini,

seringkali pada akhir

tahun

anggaran terjadi kelebihan anggaran pengalokasiannya kemudian dipaksakan pada aKiviias-

aklivitas yang

sebenamya

kurang penting untuk

dilaksanakan. Ahivitas- aklivitas susulan

ini

semata-mata dimaksudkan untuk menghabiskan sisa anggaran. Apabila hal tersebut tidak dilakukan akan berdampak pada alokasi anggaran

tahun

berikutnya.

Hal ini

disebabkan karena

pada

pendekatan tradisional, kinerja dinilai berdasarkan habis tidaknya anggaran yang diajukan

dan bukan

berdasarkan

pada

pertimban

gan output yang

dihasilkan dari

aktivilas yang dilakukan dibandingkan dengan target kinerja

yang dikehendaki (outcome\.

Pendekatan tradisional masih monjadi pendekdan yang paling sering digunakan,

walaupun elemen dari

pendekatan

yang lebih baru

juga ditambahkan.Anggarsn

sep€rti inilah yang sampai sekarang

banyak digunakan di negara-negara berkembang (Nordiawan, 2006: S4).Pendekatan tradisional

lerdiri dari tiga proses yailu pedama, pihak

lembaga memerlukan

anggaran

mengajukan p€rmintaan

anggaran

kepada

yang ketua

(13)

eksekutif, kemudian anggaran teBebut dirinci berdasarkan jenis pengeluaran

yang

hendak

dibuat Kedua,

kepala eksekutif mengumpulkan permintaan anggaran dari berbagai lembaga, anggaran ini lalu dimodifikasi oleh kepala

eksekutif. Dari hasil modffikasi tersebut, kepala eksekutif

kemudian

mengajukan

permintaan

secara

keseluruhan

untuk organisasi

tersebut

kepada lembaga legislatil dongan

m€nggunakan

porincian yang

sama

dengan

anggaran

yang

diajukan seb€lumnya

oleh

lombaga-lembaga di bawahnya.

Ketga, setelah

merevisi

jumlah

permintaan anggaran, pihak

legislatif kemudian

menuliskan

jumlah anggaran yang disetujui

dengan menggunakan pendokatan tradisional.

Data{ata

mengenai program dan kinerja mungkin dimasukkan dalsm anggaran, namun hanya sebagai suplemen dari permintaan anggaran yang dirinci dengan menggunakan pendekatan tradisional. Nordiawan (2006: 56) menj6lask€n

kelebihan dari

penyusunan

anggaran dengan

pendekatan

tradisional yaitu :

1.

Pendekatan ini telah lama digunakan, berbentuk

sedefiana

dan mudah dipersiapkan serta dimengsrti oleh orang yang berkepentingan

2.

Pendekalan ini cocok dengan pola akuntansi pertanggunqjawaban yaitu

bahwa

pendekatan

ini

memfasilitasi pengendalian

akunlansi

dalam proses pelaks€naan anggaran

dan

data-data yang dapat dibandingkan

bisa dikumpulkan untuk beberapa tahun secara b€rurutan

untuk memfasilitasi dilakukannya perbandingan trend.

3.

Hampir semua program memiliki sifat dasar berkesinambungan

4.

Hampir semua pengeluaran memiliki sifat yang tidak lerhindarkan

5. Dalam dunia nyata, kepulusan harus didasarkan pada

perubahan

program, dan perhalian dapat diberikan untuk perubahan

yang

ditawarkan

dan

dibandingkan

bila data tahun

sebelumnya menurut pendekatan ini.

6. Pendekatan tradisional ini tidak menghalangi pemberian

data

perencanaan dan evaluasi yang biasanya berhubungan

dengan p€ndekatan penyusunan anggaran

yang lain

sebagai suplemen untuk

data yang

digunakan

untuk

menyusun anggaran dengan pendekatan tradisional itu sendiri.

7.

Karena aktivitas merupakan dasar dari unit organisasi, biaya dari setiap

aktivitas ak€n

terakumulasi

sebagai biaya dari unit

organisasi yang bersangkutan. ldentifikasi

dari biaya aKivitas

memungkinkan adanya penjumlahan biaya dari tiap program dari unit organisasi.
(14)

Namun, Mardiasmo (2005: 7A) menyatakan bahwa

metode penganggaran tradisional memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

1.

Hubungan yang tidak memadai (putus) antar anggaran tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang.

2.

Pendekatan incrcmental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pemah diteliti secara menyeluruh efektivitasnya.

3.

Lebih berorientasi pada input danpada output. Hal tersebut menyebabkan anggar:ln tradisional tidak dapat dijadikan s€bagai

alat

untuk membuat kebijakan

dan pilihan

sumber

daya, atau

memonitor

kinerja.

Kinerja dievaluasi dalam bentuk apakah dana

telah

habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai.

4.

Sekat-sekai

antar

departemen

yang kaku

m€mbuat

tujuan

nasional secara keseluruhan dicapai. Keadaan tersebut berpeluang menimbulkan konflik, ovetapping, kesenjangan dan p€rsaingan antar departemen.

5.

Proses angggaran

terpisah unluk

pengeluaran

rulin dan

pengeluaran modaUinvestasi.

6. Anggaran tradisional b€rsifat tahunan. Anggaran tahunan

tersebut sebenamya terlalu pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebut

dapat

mendorong praktik-praKik

yang tidak

diinginkan

(korupsi

dan kolusi).

7.

Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidak

memadai

menyebabkan

lemahnya

perencanaan

anggaran.

Sebagai akibainya adalah munculnya budgetary slack.

8.

Persetujuan

anggaEn yang terlambat, sehingga gagal

memberikan

mekanisme

pengendalian

unluk

pengeluaran

yang sesuai,

seperti seringnya dilakukan revisi anggaran dan "manipulasi anggaran'.

9. Aliran

informasi (sistem informasi finansial) yang

tidak

memadai yang menjadi dasar mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.

Dengan

bergulimya

kebuakan otonomi da6rah yang diikuti dengan reformasi manajemen keuangan seKor publik termasuk anggaran, tuntutan peningkatan kinerja

dan

akuntabilitas

dari

pemerintah semakin meningkat.

Pendekatan kinerja disusun

untuk

mengatasi berbagai kekurangan yang

terdapat pada pendekatan tradisional, khususnya kekurangan

yang disebabkan

ol6h tidak adanya tolok ukur yang dapat

digunakan untuk mengukur kneda dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.

7

(15)

Pendekalan ini mengubah penekanan penganggarEn dari sebelumnya yang sangai menekankan pos belanja (object

of

expenditure) pada kinerja terukur dari aKivitas

dan

program kerja. Fokus utama

dari

pendekatan ini adalah pada tingkat efisiensi penyelenggaraan ahivitas. Pefiomance-based

prcgnm

budgeting akan memberikan dasar yang baik untuk suatu reformasi anggaran

yang baik

(Grizzle

dan

Carol6,

2002).

Pefiormance budgeting menuntut pengeluaran pemerintah diklasifikasikan dengan program, program harus memiliki visi dan tujuan, dan ukuran input, output

dan

oulcome yang harus dihubungkan dengan misi dan tingkat yang sesuai.

1.2.

Konsep Penganggaran Daerah

Peran anggaran dalam siklus manageial planning and contrcl pada organisasi

seKor publik sangat penting untuk

memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi. Hal ini berarti dalam anggaran sehor publik harus tercakup aspek-asp€k sopedi: aspek perencanaan, aspek pengendalian

dan

aspek

akuntabilitas publik (Mardiasmo, 2005: 6't). Anggaran sektor

publik

merupakan

instrumen akuntabililas atas

pengelolaan

dana publik

dan

pelaksanaan program-program yang dibiayai dengan uang

publik.

Penganggaran sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program (Ulupui, 2003).

Anggaran adalah sebuah ren@na

atau

sebuah proyeksi. Disektor pemerintahan

anggaran adalah sebuah rencana atau proyeksi

atas pendapatan dan belanja di masa mendatang (Halim, 2001b). Anggaran juga

dapat menyusun sualu c€tatan mengenai kesungguhan dan

kinerja pemerintah. Artinya anggaran

itu

sendiri merupakan pernyataan estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan

dalam

ukuran finansial. Anggaran pemerintah

daerah di

lndonesia lebih sering disingkat dengan nama APBD, pada hakekatnya merupakan rencana

kerja

pemerintah

daerah yang

diwujudkan

dalam bentuk uang

(rupiah)

selama

periode waktu tortentu

(satu tahun) serta

merupakan

salah

salu instrumen utama kebuakan dalam upaya meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah.

Anggaran daerah tidak dapat dipisahkan dari sistem

(proses) manajemen strategis (renstra),sehingga penganggaran daerah juga dikaitkan dengan renstra daerah (Yuwono dkk, 2005: 87).Anggaran memiliki beberapa manfaat, seperti yang dUelaskan oleh Siegel dan Marconi ('1989:125), yaitu:

1. Anggaran

merupakan

hasil dari proses

perencanaan,

yang

berarti anggaran mewakili kesepakalan dari negosiasi di antara partisipan yang dominan dalam suatu organisasi.

2.

Anggaran merupakan gambaran tentang prioritas alokasi sumber daya

yang dimiliki karena dapat bertindak sebagai b/ue prrht

aKivitas

perusahaan.

(16)

3. Alat

komunikasi

antara divisi

anggaran sangat membantu melakukan komunikasi

intemal antar divisi dalam organisasi maupun

dengan manajemen puncak

4.

Alal untuk mengarahkan manajemen dalam menentukan tindakan koreksi yang pedu dilakukan karena dengan anggaran dapat dilentukan bagian dari organisasi yang kuat dan lemah.

5. Dapat

momonitor

dan

mempengaruhi karyawan

dan manajer

untuk bekerja dengan

lebih

konsisten,

efehil, dan ofisien dalam

mencapai keselarasan tujuan antara tujuan perusahaan dengan tujuan karyawan.

Untuk

dapat

menghasilkan struktur anggaran

yang

sesuai dengan

harapan maka APBD yang pada hakikatnya merupakan

penjabaran kuantitatif dari tujuan dan sasaran pemerintah daerah serta tugas pokok dan

fungsi unit kerja harus disusun dalam

strutktur

yang

berorientasi pada pencapaian tingkat kineqa lertentu. Artinya APBD harus mampu memberikan gambaran yang jelas tentang tunlutan besamya pembiayaan atas berbagai sasaran yang hendak dicapai.

1.3. Pentngnya

Anggaran Daerah

Campo

dan

Tommasi

dalam

Ulupui

(2003)

menyatakan anggaran publik berkembang

dalam dua a"ah, peftama,

parlemen

berusaha

melakukan

kendali terhadap anggaran dan menyebabkan pemorintah

harus

bertanggungjawab terhadap penggunaan sumber-sumbemya. perseiujuan terhadap

anggaEn

adalah bentuk utama pengendalian legislatif terhadap eksekutif. Kedua, kelika ruang lingkup aktivitas pemerintah berkembang luas,

dan peran anggaran

pemerintah

menjadi semakin

kompleks, sehingga anggaran dapat digunakan sobagai

alat

pomerintah

yang

potensial dalam

menjalankan

kebijakan-kebijakan

yang berkaitan dengan

pengeluaran, pendapatan dan pinjaman pemerintah.

Anggaran

menunjukkan

bahwa dana publik

dibelanjakan dengan

kebijakan, untuk menjamin kesejahteraan masyarakat dapat

dicapai.

Mardiasmo (2005:

63)

menyatakan terdapat beberapa

alasan

pentingnya

anggaran seKor publik yaitu:

a. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk

mengarahkan

pembangunan sosial-€konomi, menjamin kssinambungan,

dan meningkatkan kualilas hidup mastyarakat.

b. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan

keinginan

masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Angggaran dipedukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya

(*arcity of

resources), pilihan (choise) dan trade otrs.
(17)

c. Anggaran diperlukan uniuk meyakinkan bahwa pemerintah

telah bertanggung

jawab terhadap rakyai. Dalam hal ini

anggaran publik merupakan inslrumen pelaksanaan akuntabililas publik

oleh

lembaga- lembaga publik yang ada.

Walaupun tidak semua aspek kehidupan masyarakat tercakup dalam

anggaran soktor publik, namun anggaran dibuat untuk

membantu menentukan tingkat kebutuhan masyarakat seperti listrik,

air

bersih, kualitas kosehatan, pendidikan dan sebagainya agar terjamin s€cara layak.

1.4. Prinslp.Prinslp

Pokok dalam Penganggaran Daereh

Mengingat pentingnya anggaran sektor publik, maka APBD harus disusun berdasa*€n

pdnsilprinsip

pokok anggaran sektor publik (Mardiasmo, 2OO5:

67) yailu antara lain oiorisasi oleh legislatif,

komprehensif, keutuhan anggaran, nondhretnnary appropddtion, periodik, akurat, jelas, dan diketahui publik. Permendagri

No. 26

Tahun

2006

Tentang pedoman penyusunan APBD Tahun Anggaran 2007 menyatakan bahwa dalam penyusunan APBD harus memperhatikan prinsitrprinsip, sebagai berikut :

a.

Partisipasi Masyarakat. Hal ini mengandung makna bahwa pongambilan keputusan

dalam proses

penyusunan

dan

p€netapan

APBD

sedapat

mungkin melibatkan partisipasi masyarakat, sohingga

masyarakat mengetahui akan hak dan kewajibannya dalam pelaksanaan ApBD.

b.

Transparansi

dan

Akuntabililas Anggaran. APBD disusun harus dapat

menyajikan informasi secare terbuka dan mudah diakses

oleh masyarakat meliputi

tujuan,

sasaran, sumber pendanaan

pada

s€tiap

jenis/objek belanja serta koGlasi antara b€saran anggaran

dengan

manfaat dan hasil yang ingin dicapai dari suatu kegialan

yang

dianggarkan. Oleh karena itu, setiap pengguna anggaran

harus bertanggung javyab

terhadap

penggunaan sumber daya yang dikelola unluk mencapai hasil yang ditetapkan.

c.

Oisidin Anggaran. Beberapa prinsip dalam disiplin anggaran yang perlu dip€rhatikan

antara lain bahwa (1)

pendapatan

yang

direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan s€dangkan belanja yang dianggarkan

merupkan batas tertinggi pengeluaran belanja, (2)

penganggaran pengeluaran

harus didukung dengan adanya

kepastian iersedianya

penerimaan dalem jumlah yang cukup dan tidak

dibenarkan melaksanakan kegian yang belum tersedia atau

tidak

menankupi krcdit anggerannya dalam APBD/perubahan APBD, (3) semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam

tahun

anggaran

yang

bersangkutan harus dianggarkan

dahm APBD dan

dilakukan melalui rekening

kas

umum daerah.
(18)

e.

Keadilan Anggaran. Pajak daerah, retribusi daerah dan pungutan daerah lainnya yang dibebankan kepada masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan untuk membayar. Masyarakat

yang

memiliki kemampuan pendapatan yang rendah secara porporsional diberi beban yang sama, sedangkan masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk membayar tinggi diberikan beban yang tinggi pula. Untuk menyeimbangkan kedua kebijakan tersebut pemerintah daerah dapat melakukan diskriminasi tarif secara rasional guna menghilangkan rasa ketidakadilan. Selain daripada

itu dalam

mengalokasikan belanja

da6rah, harus

mompertimbangkan keadilan

dan

pemerataan

agar dapat

dinikmati

oleh seluruh

lapisan masyarakat tanpa diskriminasi pemberian pelayanan.

Efisiensi dan Efehivitas Anggaran. Dana yang tersedia

harus dimanfaatkan sebaik mungkin

untuk dapal

menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi

dan

efektivitas anggaran, maka dalam perencanaan anggaran perlu diperhatikan

(1)

penetapan secara jelas tujuan dan sasaran, hasil dan manfaat, serta indikator kinerja yang ingin dicapai;

(2)

penetapan prioritas kegiatan

dan

penghitungan beban kerja serta penetapan harga satuan yang rasional.

Taal Asas. APBD

sebagai kebijakan daerah

yang

ditetapkan dengan Peraturan Daerah dalam p€nyusunannya harus tidak boleh bertentangan dengan peraluran perundang-undangan

yang

lebih tinggi, kepentingan umum dan peraluran daerah lainnya.

Tidak b€rtentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi maksudnya pendapatan, belanja dan pembiayaan yang tercantum dalam rancangan p€ratuftin da6rah, telah sesuai dengan p€raturan yang lebih

tinggi

mencakup kebijakan

yang

b€rkaiten

dengan

keuangan daerah.

Tidak

b€rtentangan dengan kep€ntingan umum

artinya

bahwa ApBD lebih diarahkan agar menc€rminkan keberpihakan kepada k€butuhan dan kepentingan masyarakat. Selain itu juga tidak boleh bertentangan dengan peraturan daerah lainnya.

t.

(19)

BAB II

ANALISIS VALUE FOR MONE}' DAN PELATIHAN TEKNIS AUDITOR

Setelah mempelajarai buku Etika dalam penganggaran sektor publik ini mahasiswa memahami analisis value

for

money

dan

pela tihan teknis auditor intemal.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)

1. Value For Mone

2.

Pendidikan dan Pelalihan Teknis 3. Auditor lntemal P6m6rinlah

2.1.

Value

For

oney

Value

for noney

(VFM) merupakan konsep penting

dari

organisasi seHor publik, utamanya dengan audit sektor publik (Heald, 2OO3: 345). Vatue for money seang diartikan sebagai penghargaan terhadap nilai uang. Artinya bahwa setiap nilai rupiah harus dihargai secara layak dan digunakan sebaik- baiknya. Konsep yalue for money ini menurut Heald (2003: 345) mempunyai keterkaitan dengan efesiensi

dan

keefehifitasan, yang

dapat

berimplikasi pada auditing yang mendalam terhadap suatu program.

Menurut Mahmudi

(2007

81), konsep value for money terdiri dari tiga elemen utama,

atau lebih

dikenal dengan singkatan

3E,

yakni: Ekonomi, Efisiensi,

dan

EfeKivitas. Konsep

ini

dalam pandangan Mardiasmo (2004:

23/.) bahwa merupakan bagian penting dalam proses

terciptanya

akuntabilitas publik (publlc

accountabitity). Akuntabititas

publik

tersebut

merupakan kewajiban pemerintah sebagai penerima amanah

dalam mempertanggungjawabkan

segala ahivitas dan kegiatannya

kepada masyarakal sebsgai pihak yang memberi amanah. Dengan demikian, konsop

value

for money dalam setiap kegiatan

di

lingkungan pemerintahan, pada akhimya akan menghindari teriadinya perpindahan praktik korupsi, inefisiensi,

dan

kebocoran-kebocoran

dana

(Mardiasmo, 2OO4

235). Secara

umum menurut Mardiasmo (2006), model value for money

Qe\

mengukur dengan

analisis varian yakni

membandingkan

antara input dan output

yang

direncanakan dengan /,hput dan output aHiualnya.

INTERNAL

!. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM(TPU)

(20)

Lebih lanjut Mardiasmo menjelaskan bahwa konsep

value

for money penting bagi organisasi, seperti halnya organisasi di kepemerintahan sebagai

pelayan masyarakat. Karena implementasi konsep tersebui

akan memberikan manfaat:

'l

.

EfeHivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan tepal sasaran;

2.

Meningkatkan mutu pelayanan publik;

3. Biaya pelayanan yang murah karBna hilangnya inefisiensi

dan penghematan dalam penggunaan /Bsourcos;

4.

Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kopentingan publik;

5.

Meningkatkan

public costs awarcness sebagai akar

pelaksanaan p6rtanggungjwaban kepada publik (20M: 230).

Penerapan value for money dalam

pemerintahan

daerah

akan memperku€t

dan

mempercepat pencapaian

tata

pemerintahan

yang

baik (good govemance). Pemerintahan

yang baik

(good goveman@) biasanya dianalogikan sebagai pemerintahan

yang

berusaha mengimplementasikan prinsipprinsip transparan, ekonomis, efisien, efehif, responsif, dan akuntabel

dalam melakukan pelayanan kepada

masyarakatnya.

Oalam

konteks pomerintah daerah penerapan value tor money tersebut harus dilaksanakan terutama dalam pengelolaan kEuangan daerah dan anggaran daerah.

Pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel menjadi penting karena masyarakat

di

negara

dan

daerah manapun menghendaki pemerintahnya yang berperan sebagai pengemban amanat masyarakat bertanggungjawab

atas kinerja yang telah

dilakukannya.

Hal t66ebut

disebabkan karena anggaran yang dikelola oleh pemerintah dalam melaksanakan program dan kegiatan-kegiatannya

bersumber dari dana masyarak€i. Dalam

upaya pertanggungjau/aban

penggunaan anggamn oleh pemerintah

kepada masyarakat, maka pengimplementasian konsep value

for

money tersebut menjadi sangat diperlukan.

Untuk mendukung penerapan konsep di atas, diperlukan

danya

suatu sistem pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah yang berorientasi

pada

penerapan

anggaran kineia

@eformance

budge\. Manfaat

dari

penerapan anggaran kinerja adalah untuk mendukung

terciptsnya akuntabilitas publik pemorintah daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi yang luas. Terkait dengan itu, Rosidi (2007) memandang bahwa penggunaan konsep value ,br money merupakan salah satu pendekaian untuk mendukung terciptanya anggaran berbasis kinerja.
(21)

Penyusunan anggaran dengan berdasarkan anggaran berbasis kinerja atau prestasi kerja merupakan implementasi dari paket reformasi

di

bidang keuangan anlara lain UU Nomor 17 Tahun 2OO3 tentang Keuangan Negara,

di mana pada pasal 19 (1) dan (2)

menyebutkan bahwa, dalam rangka penyusunan Rencana Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (RApBD) pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku pengguna anggaran, menyusun roncana

kerja dan

anggaran dengan pendekatan berdasarkan

preslasi kerja yang akan

dicapai,

yang bias€

disebut dengan Anggaran

Berbasis Kinerja (ABK) Dalam

penyusunan

anggaran berbasis

kinerja tersebut setiap SKPD menyusun anggaran

seliap

program

atau

kegiaian dengan memperhitungkan inpuf, proses, output, dan outcr,me dari anggaran yang direnc€nakan.

Hal di atas

dimaksudkan

agar

torcipta

suatu

akuntabilitas program.

Akuntabilitas program memfokuskan pada pencapaian hasil

operasi pemerinlah (Mardiasmo, 2004). Untuk

itu,

semua pegawai atau

staf

yang

terlibat dalam sualu

program

harus dapat

menjawab pertanyaan sekitar pencapaian tujuan program dan kegiatan pemerintah tersebut, bukan hanya pada sekedar kelaatan pada peraturan yang bedaku. persyaratan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan pelayanan yang terbaik kepada pihak- pihak dimana SKPD tersebut akan dinilai sesuai dengan lingkup tugas yang menjadi kewenangannya.

Sama halnya dengan kegialan penyusunan anggaran yang berkaitan

dengan

Program STAR-SDP

harus

memakai pendekatan

kinerja,

yang

difokuskan pada efisiensi

penyelenggaraan

setiap keglatan yang

akan dilaksanakan. Efisiensi polaksanaan suatu program atau kegiaian merupakan

perbandingan anlarc oufuut dengan input. Suatu aklivitas

(kegiatan) dikatakan

efisien, jika output yang

dihasilkan

tebih besar

dibandingkan kegiatan lain yang memanfaatkan

input

yang sama, atau dengan kala lain output yang dihasilkan adalah sama dengan rnput yang lebih sedikit. Hal ini yang membedakan dengan penganggaran yang menggunakan pendekatan

tradisional, yang diterapkan pada masa lalu.

Penganggaran dengan pendekatan kinerja

ini

disusun dengan berorientasi pada output atau hasil yang ingin dicspai dari ponggunaan sejumlah rupiah yang dianggarkan.

Jadi, untuk

menyusun anggaran dengan menggunakan pendekalan kinerja,

mirdselnya

harus

fokus

pada sasaran yang ingin dicapai dongan

kegiatan yang ak€n

dilaksanakan.

Adanya penerapan anggaran

yang

berbasis kinerja akan berdampak pada organisasi atau SKPD

yang melaksanakan anggaran kinerja iersebut berupa:
(22)

1)

Muncul

kebutuhan penyimpanan

data, baik itu berupa data

kualilatif maupun kuantiiatif, baik berupa finansial maupun non finansial, karena data akan diolah menjadi informasi, untuk menentukan indikator (ukuran), serta untuk mengevaluasi dan mengambil keputusan pengalokasian dana yang lebih objeKif.

2) Muncul

kebutuhan mengukur

oubut dan input, sefta

kelayakan j6nis indikator.

3)

Biaya yang dikeluarkan lebih menekankan pada aKivitas yang dilakukan oleh

si

pengguna anggaran, bukan mon€kankan pada jumlah anggaran yeng terpakai.

4)

Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengidentifikasi indikator dan mampu menganalisis biaya dan dsta.

2.1.'t.

Ekonomi

Ekonomis merupakan

ukuran

pengorbanan

yang

dipedukan untuk

memperoleh input, aflinya terhindar dari pengeluaran yang tidak perlu dalam

segala aspek kegiatan. Menurut

Mahmudi

(2007: 81) ekonomi

adalah kegiatan atau upaya untuk memperoleh input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang terendah. Ekonomi dapat pula diartikan sebagai

mendapalkan

barang

atau

jasa input

unluk sualu

kegiatan pada kualilas

iertentu dengan harga sesuai

standar. Pengertian ekonomi (hemat/tepat guna) sering disebut kehematan yang mencakup

juga

pengololaan secara hati-hati

atau

hemal

dan tidak ada

pemborosan. (Mardiasmo,

20C!,

131) tingkat ekonomis sualu organisasi, program, atau kegiatan adalah merupakan hasil perbandingan antara input dengan input value yang dinyatakan dalam saluan monoter. Ekonomis kemampuan sualu organisasi dapat menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produhil (Mardiasmo, 2004: 4). Ekonomi dapat pula diartikan sebagai hubungan antara pasar dan masukan (cost

of

,hpuo. Suatu kegiatan dikatakan ekonomis

jika

dapat menghilangkan atau mengurangi biaya yang tidak pertu. (Mahsun, 2006: 181)

Keekonomian

suatu

program

atau

k€giatan

sangal terkait

dongan konsep biaya

untuk

m€mperoleh

unil lnput

Ekonomi memiliki pengertian bahwa sumber daya input hendaknya diperoleh dengan

ha€a

lebih rendah (spending /ess), yailu harga yang mendekati harga pasar (Mahmudi, 2007:

82). Lebih lanjut Mahmudi mengatakan bahwa keekonomisan suatu kegiatan merupaken perbandingan anlaE input dengan nilai rupiah untuk memperoleh /nput tersobut dan secara matematis dirumuskan sobagai berikut:

InDul LRanom,

H

arga(Rp)
(23)

Setiap kegiatan yang akan dilakukan harus dipastikan bahwa sumber daya input, berupa peralatan, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya yang

ekan digunal€n pada

kogiatan tersebut

tidak terjadi

pemborosan. Untuk memastikan bahwa sumber daya yang digunakan t6lah momenuhi prinsip okonomi,

maka psda saat

penyusunan rencana

dan

anggaran kegiatan maupun pelaksansannya dilakukan dengan menggunakan siandarisasi harga yang dikeluarkan oleh pemda setempat sorta m€mbud analisa standar biaya.

Untuk program atau kegiatan yang sumber dananya berasal dari APBN

maka

sedapat mungkin menggunakan

siandar biaya umum (SBU)

yang ditetapken oleh Departemen Keuangan (Depkeu) Rl yang dilengkapi dengan ASB. Delam upaya untuk rnempeoleh sumber daya yang paling murah dapal pula dilakukan suruei harga pasar dengan tujuan memperoleh harga terendah sudlu input dengan kualitas tertentu. Namun yang p€rlu mendapa( perhatian

dalam

penerapan

harga

berdasarkan

standar harga yang

disusun oleh p€mda maupun Depkeu adalah

pada

besaran harganya

yang

umumnya disusun

dan

berlaku untuk satu tahun anggaran. Disamping

ilu

SBU yang ditetapkan Depkeu menetapkan harga yang s.lma untuk seluruh lndonesia, sohingga memungkinkan terjadinya perbedaan dengan harga yang bedaku di deerah sesuai kondisi ekonomi masing-masing daerah.

Dalam rangka untuk memp€roleh suatu input dengan kualitas tortentu sesuai dengan prinsip ekonomi adahh dengan menggunakan sislem kontrak

kerjasama, tender. Sodangkan untuk barang yang

pengadaannya membutuhkan

sumber daya input yang besar,

pengadaannya dapat dilakukan melalui

sistom sewa beli. Pada

penyediaan barang atau jasa tertentu, pemerintah dapat melakukan kontrak aiau kerja sama dongan pihak ketiga

yang

mampu m€nyediakan

atau

molaksanakan pekerjaan tersebut dengan

haEa

yang

hbih

murah. Terhadap p€kerjasn atau pengadsan jasa yang sifatnya sangat teknis yang apabila dilaksanakan oleh pihak ketiga akan mengeluarkan

biaya yang boros maka pokerjaan ters€but

sebaiknya dilaksanakan dengan swakelola.

Konsop ekonomi dalam memperoleh stef atau tenaga kerja yang akan

dilibatkan dalam prces

pelaksanaan

program atau kegiaian

memiliki pengertian

bahwa unit kerja

hendaknya memperoleh

staf yang

memiliki komp€tensi, keahlian, kelerampilan, dan motivasi tinggi sesuai deng€n yang diharapkan

oleh unit keria

dengan

tingkat biaya atau

harga

yang

paling murah. Untuk memperoleh

tenaga kerja

s€suai standar

yang

diharapkan pengadaannya

dapat dilakukan melalui kerja sama dengan

lembaga ponyedia tenaga kerja.

Di sisi lain tenaga kerja yang murah merupakan alat untuk mempercleh keunggulan bersaing. Pada dasamya tingkat ekonomi delam hal staf adalah bagaimana mempe(oleh, mempertahankan, dan mong€mankan staf dengan

bieya lebih rendah yang mungkin bisa dilakukan, dan tidak

sebatas
(24)

permasalahan

gaji. Pada seHor publik,

pemanfaatan

lenaga kerja

atau

p€gawai yang ditunjuk uniuk

melaksanakan su€tiu

kegiatan

sebaiknya dilakukan dengan melibatkan p€gau/ai-pegawai yang tidak mempunyai lugas t€tap. Hal ini terkail dengan kondisi pada sektor publik yang biasanya pada

satu sisi ada

p€gawai

yang

mempunyai

tugas yang

sangal banyak yang

seringkali

menimbulkan kecemburuan,

sementara pada sisi yang

lain

terdapat pegawai yang tidak mempunyai tugas/pekerjaan.

Molalui pemanfaatan p€gawai yang tidak mempunyai tugas/pokerjaan tetap tors€but

akan

menciplekan

adanya

keseimbangan

tugas

sehinggga

tidak

akan monimbulkan kecemburuan.

Menurul Mahmudi (2007: 82) Ekonomi

morupaken

konsep

yang sifalnya relatif. RElativitas konsep ekonomi tersebut bisa disebabkan karena faktor lokasi dan waktu. Kedua

fahor

tersebut terkail dengan harga pasar

yang

berbeda. Harga pasar untuk rinpul yeng

sama bisa

berbeda karena lokasi dan waktu yang berbeda. Misalnya harga pasar

sualu

barang akan berbeda apabila dibali

di

kota

dan

dibEli

di

daerah torpencil.

Begilu

pula apabila

wahu

p€mbelian dilaksanakan pada

saat

krisis

atau

pada musim proyek aken lebih mahal apabila dibandingkan memb€li bukan pada waktu krisis

atau

musim proyek. Terhadap barang

tertenlu pada

musim proyek cenderung harganya mahal karena banyak yang membuluhkan, sementara

apabila

diadakan/dilaksanakan

bukan pada musim proyek

harganya cenderung lebih stabil.

2.1.2.

Efi3iensi

Efisiensi

merupakan

hubungan anlaB input dan oubut.

Efisiensi dimaksudkan untuk mengukur hubungan antara masukan yang digunakan

dan

keluaran

yang

diporoleh artinya

dengan oulpul tertentu

diusahakan pemakaian iirpuf minimal alau dongan input tertentu diusahakan perolehan output yang maksimal. (Supratman, 2001: 21) Efisiensi merupakan ukuran

spakah

penggunaan barang

dan jasa yang dibeli oleh

organisasi unluk mencapai oufpu, terlentu. Dalam pelaksanaan kegiatan €fisiensi dipandang sebagai upaya

unluk

menghasilkan barang

atau hyanan

lertentu dengan menggunakan

input seminimal mungkin. Efisiensi dalam

pemorintahan adalah sebuah id6 yang kompleks, baik ketika dikonseptualisasikan sebagai

penghematan (ekonomi, efisiensi atau efektifltas) maupun

ketika dikonseptualisasikan sebag€i efisiensi produksi dan efieiensi alokasi. (Heald, 2003: 362) Efisiensi merupakan ukuran apekah penggunaan barang dan jasa yang dib€li oleh organisasi untuk mencapai oulput terlentu. Efisiensi terkait

dengan

hubungan

antara output beupa barang aiau

pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakan

ur

uk menghasilkan output (Mahmudi, 2007: 83). Efisiensi dapat pula dikatakan sebagai perb€ndingan

anlaB ou$ut

dengan

input atau

dengan

istihh lain output

perun;t input.

Secara matematis, efisiensi dirumuskan s€bagai b€rikut:

(25)

Eflsffrtr:fl - oltrPtfr ,ilPtr

Suatu organisasi, program,

atau

kegiatan dikatakan efisien apabila mampu mengh asilkan

output

tertentu dengan

,nput

serendah-rendahnya, alau dengan l,hpuf tertentu mampu menghasilkan output s€besar-besamya.

Dalam konteks pelatihan teknis yang dilaksanakan oleh lnspeKorat provinsi Sulauresi Tenggara dikatakan oftsien apabila pemanfaatan sumb€r daya j,;4put yang disiapkan uniuk menghasilkan ou@uf tidak melampauhi rencana dalam DIPA. Sumber daya input tersebut antara lain panitia/narasumber dan saEna serla sumb€r daya lainnya.

Menurut Supratman

(200'l:

20), efisiensi

juga

mengandung beberapa pengertian antara lain:

1

.

Efisiensi pada s€ktor usaha swasta (ptivate seclor efrciencyl, dijelaskan dengan konsep linp ut output yailu l-asio output dan

input

2.

Efisiensi

pada

sektor pelayanan masyarakat

(public sxtor

efrciency) adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan baik dengan pengorbanan seminimal mungkin;

3. Suatu kegiatan dikalakan t6lah dikerjakan secara efisien

jika

pelaksanaan pekerjaan tGrsebut telah mencapai sasaran (output) dengan biaya (input) yang terendah atau dengan biaya

(input)

minimat dip€roleh

hasil

(oufpuO yang diinginkan.

Dalam setiap akffrtas organisasi pemakaian konsep

efisiensi merupakan konsep yang b€rsifat relatif, tidak absolut.

Sudu

program atau kegiatan dikatakan lebih efision dibandingkan dengan program alau kegiatan lain apabila mampu menggunakan sumber daya input yang lebih kecil dari program atau kegiatan lain. Atau dengan menggunakan jumlah input yang sama, program

atau

kegialan iersobut mampu menghasilkan output yang lebih banyak.

Efisiensi

dalam

organisasi

juga

berhubungan

dengan

produktivilas.

Pengukuran produktivitas dilakukan dengan memperbandingkan anla,€ input

dengan output

Pengukuran produKiviias biasanya berhubungan dengan

wahu yang

digunakan karyawan

dalam

menyelesaikan

suatu

kegiatan.

Seorang karyawan

dapat

dikatakan

lebih

produktil dibandingkan dengan karyawan yang lain apabila karyawan tersebut mampu menghasilkan oufput yang lebih banyak pada kwalitas dan standar ierlentu dibandingkan dengan karyawan

lainnya.

Karena efisiensi merupakan suatu rasio, maka untuk memperbaiki efisiensi dapat dilakukan tindakan berikut:
(26)

1

.

Meningkatkan oufpuf untuk jumlah ,hpu, yang sama.

2.

Meningkatkan

ou@t

dengan proporsi kenaikan

ouhut

yang lebih besar dibandingkan proporsi kenaikan,,npuf.

3.

Menurunkan rhput untuk jumlah oufput yang sama.

4. Menurunkan input dengan propoEti p€nurunan yang lebih

besar dibandingkan proporsi penurunan output. (Mahnrudi, 2007: 83)

Pengukuran tingkat efisiensi

suatu

kegiatan dapat dilakukan dengan

cara

membandingkan

biaya

sesungguhnya

dengan biaya standar.

Biaya

standar untuk suatu

produk

atau

layanan merupakan

biaya yang

harus dikEluarkan untuk menghasilkan output tertentu tersebut.

pada

organisasi

sektor publik setiap belanja dibuat

s{andaris€si

harga yang

dijadikan pedoman dalam melakukan pembelian barang

yang

berhubungan dengan

kegiatan yang akan

dilaksanakan. Standarisasi

harga tersebut

disusun menjolang

akhir tahun anggaran dan bedaku satu tahun untuk

tahun anggaran berikutnya. Untuk menjamin adanya standarisasi harga yang up to dale, beberapa daerah molakukan revisi standarisasi harga setiap tiga bulan

untuk

mengikuti p€rkembangan

harga

pasaran dengan melibalkan unsur

akademisi dan tokoh masyarakat. Penetapan standar belanja

yang diberlakukan

untuk setiap

kegiatan

sejak

penyusunan

rencana

kegiatan

hendaknya sudah

mempertimbangkan

aspek ekonomi serla

standar pelsyanan

publik

minimum

yang harus

dipenuhi. Standar harga tersebut menyebabkan

setiap kogietan sejak awal p€nyusunan rencana

telah memperhalikan aspek ekonomi dan efisiensi, sehingga pada pelaksanaannya juga akan dapat berjalan secara ekonomis dan €fisien.

2.1.3.

Efok0vitas

Kata efeKivilas (hasil guna) digunakan untuk merujuk

suatu pengukuran hasil. Sebagai atribut pengukuran, efektivitas dapat digunakan

uniuk

mengukur hasil

suatu

kegiatan, program, proyek

dan

bahkan suatu eniitas

dari

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Efektivilas biassnya dikaitkan dengan kemanfaatan suatu keluaran

(ou$u\

yang dihasilkan dari suatu kegiatan, program, proyek alau enlitas. Pongertian efektivitas adalah hubungan

anlaE oubut

dan tujuan atau dapat

juga

dikatakan merupakan ukuran seberapa jauh tingkat

oulpu(

ketijakan dan prosedur dari organisasi.

EfeKivilas

juga

berhubungan dengan

derajat

keberhasilan

suatu

operasi pada

sehor

publik sehingga

sualu

kegiatan dikatak8n efektif

jika

kegiatan ters€but mempunyai pongaruh besar terhadap komampuan menyediakan pelayanan

masyarakd yang

merupakan

sasaEn yang telah

ditetapkan sebelumnya.
(27)

Menurut Devas, dkk, (1989) dalam Supratman (2001

:

21) Efehivitas adalah hasil guna kegiatan pemBrintah dalam mengurus keuangan daerah

harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan program

dapat

direncanakan dan dilaks€nakan untuk mencapai lujuan pemerintah dengan biaya serendah-rendahnya dan dalam waktu secepat-sepatnya. Sedangkan menurut Mahmudi (2007:

U)

Efektivilas terkait dengan hubungan antara

hasil yang

diharapkan

dengan hasil yang

sesungguhnya dicapai. Dalam konteks tersebut, efektivitas merupakan hubungan

antara ouhul

dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output lerhadap pencapaian tujuan, maka

semakin efektif program atau kegialan. Suatu program atau

kegiatan dikaiakan bernilai

efektil

apabila output yang dihasilkan mampu memenuhi tujuan yang diharapkan. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

EFEKTIWTA S = OUTCOME OI/TPUT

Pengukuran efektivitas pada organisasi sektor publik biasanya sulit dilakukan karcna output yang dihasilkan umumnya

tidak

benrvujud barang yang mudah untuk dikuantifikasi. Kesulitan pengukuran tersebut disebabkan p€ncapaian hasil (outcome)

dari

suatu program atau kegiatan sering tidak

bisa

diketahui dalam

jangka waKu

pendek,

akan tetapi jangka

panjang setelah program berakhir. Untuk

ilu

ukuran efektivitas suatu program alau kegiatan biasanya dinyatakan

secara

kualilatif

dalam

bentuk pernyalaan.

Ukuran pencapaian efeKivitas program atau kegiatan seringkali

juga

dapat

diketahui dari dampaUpengaruh (outcone) yang ditimbulkan setelah kegiatan tersebut berakhir. EfeKivitas dipandang oleh

Cameon

dan Whetten (,1981)

dalam

lndrajaya

(2006: 15)

merupakan

tema sentral

keberhasilan sualu organisasi namun

yang

menjadi problem

justru

ketidakmampuan peneliti untuk sepakat terhadap definisi operasional dari konstruksi efektivitas.

Efehivitas adalah 'menjalankan

sualu

pekerjaan yang

bena/,

arlinya

bahwa

kemampuan

unluk

memilih sasaran-sasamn

yang tepat

(Hermin, 2002). Pengukuran efektivitas dalam pencapaian tujuan-tujuan

yang

ingin dicapai dalam suatu kegiatan merupakan hal yang sulil, tidak hanya karena beberapa

tujuan dari suaiu

program atrau kegiatan harus dicapai secara simuttan hingga tercapainya tujuan akhir, tetapi

juga

penting diperhatikan adalah tujuan-tujuan

jangka

pendek dan

jangka

panjang

sorta

kesehatan maupun kelangsungan hidup suatu organisasi. Karena dihubungkan dengan tujuan akhir dari suatu program atiau kegiatan, maka pengukuran diarahkan pada pengaruh/d ampak (outcomes). Pongaruh/dampak memiliki pengortian yang lebih luas dari pada keluaran. Pengertian efektivitas sualu program atau kegiatan borkenaan dengan seberapa

jauh

suatu program

telah

mencapai lujuan atau mencapai manfaat yang direncanakan atau diinginkan.
(28)

Agar efektivilas pencapaian suatu kegiaian atau program dapat diukur, harus ditetapkan suatu kriteria. Krileria terbaik dan ukuran efektivitas adalah dampak yang diharapkan dari penetiapan suatu kegiatan alau program. Oleh karena itu akan sangai bijaksana apabila tujuan atau

hasil

akhir ini dapat didefinisaikan sebelum prcduk dibuat atau jasa dihasilkan. Sangat mungkin bahwa sebuah program atau kegiatan mempunyai ruang lingkup yang sangat

luas atau

mencakup

waktu yang sangat panjang. peda pr€ram

alau

kegiatan yang

mempunyai

ciri demikian, penilaian efektivitas

mungkin menjadi tidak praktis. Akan sangat membantu berbagai macam evaluasi dan audit

jika,

dilakukan pentahapan untuk mengurangi kerumitan dan cakupan periodenya. Untuk tujuan evaluasi, tujuan atau hasil akhir sualu program juga harus diupayakan dipecah-pecah kedalam sasaran antara, sejalan mengikuti pentahapan operasi. Pada banyak kejadian, umumnya sasaran antara atau tahapan-tahapan proses operasi

yang

toridentifikasi, bahkan dapat berdiri sendiri sebagai sasaran sebuah

audit atau

analisa keberhasilan k6giatan tersebut.

Pengungkapan lain yang sering digunakan untuk menyebut suatu hasil akhir adalah tujuan (oblectyes), atau hasil yang diharapkan (expectecl

rcsun.

Hasil akhir biasa digunakan sebagai dasar bagi p€netapan

arah

kegiatan, program, atau entitas dalam menghasilkan barang atau menyediakan jasa.

Melalui kualitas dan kuantitasnya produk atau jasa memberikan sumbangan langsung kepada

dampak yang

merupakan

dasar

pengukuran terhadap capaian tujuan. Logika keterkaitan

ini

yang digunakan sobagai dasar untuk menjelaskan keterkaitan pengendalian dengan efeKivitas pencapaian hasil.

Kemudian menurut

Jamin

(1985)

dalam

Hermin (2OO2:

24)

mengatakan bahwa efeKivitas organisasi dapat dipandang sebagai

balas

kemampuan organisasi mendapatkan

dan

memanfaatkan sumberdaya

yang

tersodia

untuk mencapai tujuan operatif dan operasionalnya.

Penelitian terhadap efeKivitas

suatu

organisasi umumnya dilakukan dengan mempefialikan secara serempak faham mengenai optimisasi tujuan, perspoKif tujuan dan tokanan pada segi perilaku manusia dalam organisasi, dimana ketiganya harus saling berhubungan salu dengan yang lain. Dalam persp€ktif tujuan dan tekanan pada segi perilaku manusia dalam organisasi untuk

jangl€

panjang, dilakukan d6ngan mengintegrasikan tingkai makro dan mikro dari hasil analisis,

dan

meneliti bagaimana tingkah laku individu dan

kelompok yang akhimya dapat mendukung atau menghalagi

upaya pGncapaian tujuan organisasi. Menurut Jamin (1985) dalam Hermin (2002:

25) bahwa cara

satu-satunya

untuk mencapai tujuan adalah

dengan mengotahui tingkah laku/perilaku para anggota organisasi, sodangkan untuk mencapai efeKivitas organisasi harus memenuhi

tiga

persyaratan perilaku

agar

mampu memaslikan keberhasilan

akhir. Ketiga

p€rsyaratan perilaku tersebut adalah: (a) organisasi harus mampu membina dan mempertahankan

armada kerja yang mantap dan terdiri dari pekerja yang

terampil;
(29)

(b)organisasi harus dapat menikmati prestasi peranan yang dapat diandalkan

dari para pekerjanya; (c) organisasi menuntut agar para

pekerja

mengusahakan beniuk tingkah laku yang spor an dan inovatif.

Molalui pendidikan dan pelatihan, diharapkan dapal mongembangkan kemampuan kerja pegawai yang bukan saja pada saal menangani pekerjaan ssat ini, akan ietapi juga untuk menangani tugas pekerjaan pada masa yang

akan datang.

Pegawai

yang setelah melalui

pendidikan

dan

pelatihan lersebut merupakan asel yang nantinya dapat dimanfaatkan bila diperlukan.

Dongan demikian pendidikan dan pelatihan tersebut merupakan upaya yang perlu mendapatkan perhatian serius oleh setiap pimpinan organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi, sedangkan

unluk

memastikan bahwa hasil

dari

usaha pendidikan dan latihan tersebul hasilnya sepadan dengan investasi dan dianggap efektif maka harus pula ctiperhatikan pengaruh dari pendidikan

dan

pelatihan tersebul terhadap prestasi kerja yang capai oleh p€gawai

yang telah

mengikutinya. Efektivitas merupakan ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuannya (Mardiasmo, 2OO4: 134).

Mardiasmo (2004) momberikan catatan, bahwa efeHivitas tidak monyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk mencapai tujuan program, melainkan efektivitas hanya melihat apakah suatu program alau kegiatan

telah

mencapai

tujuan yang telah

diletapkan.

Hal

tersebut juga ierjadi pade organisasi sektor publik.

Menurut Tim Penyusun Modul program pendidikan Non Gelar Auditor

Seklor

Publik (2007:

59)

bahwa pengukuran hasil (pongukuran efeKifrtas) tergantung kepada pemahaman yang jelas terhadap apa yang akan dicapai

oleh

pelayanan tersebut. lndikator-indikator ekonornis

dan

elisiensi dapal dengan mudah dibangun dengan melihat biaya dan sumber daya. Tapi untuk melihat apakah jasa tersebut telah

efehif,

harus kembali ke masalah dasar

dan

bertanya:

'Apakah

masalah

telah

dipecahkan?,

atau

manfaat telah

diberikan?'

Menjawab pertanyaan-pertanyaan

tersebut sangat sulit

dan membutuhkan survey

atau

investigasi yang mendalam.

Untuk

itu,

dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan

oleh

organisasi

(iermasuk organisasi pemerintahan) perlu dilakukan evaluasi,

untuk mengetahui

apakah

kegiatan

yang

dilaksanakan

telah berjalan

dengan semestinya,

baik dalam

menggunakan anggaran maupun kegiatan yang dimaksud telah berdaya guna, sehingga pada akhimya kegiatan dimaksud mempunyai manfaat

ke depan dan telah

seb€nding dengan

dana

yang dikorbankan. Seperti

juga

halnya dengan kegiatan pelatihan

teknis

yang

dilaksanakan pada program STAR-SDP. Uniuk dapat

mengetahui keberhasilan kegiatan pelatihan

teknis tersebut, maka

diadakan melalui analisis

dan

evaluasi/pengukuran value

for

money

atas

hasil pelaksanaan pelatihan leknis yang telah dilaksanakan. Terdapat beberapa dEfinisi tentang evaluasi seperti

yang

dikemukakan

oleh para ahli

dalam

tulisan

meEka.

Sehubungan dengan pendapat para ahli tersebut Umar (2002), menyatakan

(30)

bahwa

pada

umumnya pongertian evaluasi

yang ada

saling mel€ngkapi, antara pendapd ahli yang satu dengan ahli yang lainnya. Kemudian Umar

(2002: 36)

merangkum

definisi evaluasi sebagai "sudu proses

untuk menyedia

Gambar

Gambar  8.1.  Debrminan-Determlnan  Dasar  Klneria

Referensi

Dokumen terkait

ƒ Bagaimanakah aspek rasional ( sumber daya, informasi, orientasi tujuan) dalam mempengaruhi efektivitas pengimplementasian anggaran berbasis

Berdasarkan Tabel 1.1 di atas,mencerminkan kemungkinan terjadinya senjangan anggaran di Kabupaten Gianyar.Dugaan adanya senjangan anggaran ini dapat dilihat dari realisasi

Dalam kasus ini, PT Ernst & Young Indonesia (EY) melanggar UU Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik, karena perusahaan jasa konsultasi keuangan ini telah melakukan audit

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pihak Sekretariat Daerah pada bagian keuangan Kabupaten Luwu telah menerapkan akuntansi berbasis akrual sesuai dengan Peraturan

Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, SAP ditetapkan sebagai PP (Peraturan Pemerintah) yang diterapkan untuk entitas pemerintah dalam