• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori

Dalam dokumen LAMPIRAN-LAMPIRAN (Halaman 33-58)

BAB I: PENDAHULUAN

H. Kerangka Teori

1. Tinjauan Tentang Manajemen Pengembangan SDM a. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

Secara sederhana bahwa manajemen sumber daya manusia adalah “Proses pengelolaan manusia, melalui perencanaan, rekrutmen, seleksi, pelatihan, pengembangan, pemberian kompensasi, karier, keselamatan dan kesehatan serta menjaga hubungan industrial sampai pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan perusahaan dan peningkatan kesejahteraan stakeholder.”11

Berikut ini ada beberapa pegertian manajemen sumber daya manusia dari para ahli MSDM:

Noe menyebutkan Human Resources Management refers to the policies, practies and systems that influence employees‟ behavior, attitudes, and performance.12 Dessler Human ResourcesManagement is the process of acquiring, training, appraising, and safety, and fairness concern.

Menurut Simamora, manajemen sumber daya manusia adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa, dan pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok kerja.13 Jadi, MSDM dapat juga merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, pemeliharaan, serta penggunaan SDM untuk mencapai tujuan baik secara individu maupun organisasi.

10 Ahmad Kosasih, Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan (Strategi Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah dan Guru Melalui MKKS dan MGMP Dalam Pembelajaran Pada SMPNegeri di Kabupaten Garut), diakses dari https://anekaproposal.wordpress.com, pada tanggal 16 Juli 2019

11 Kasmir, Manajemen Sumber Manusia Teori Dan Daya Praktik ( PT: Raja Grafindo Persada: Jakarta 2016), h. 6.

12 Kasmir, Manajemen Sumber Manusia Teori Dan Daya Praktik ( PT: Raja Grafindo Persada: Jakarta 2016), h. 6.

13Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 5.

b. Pengertian Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pengembangan sumber daya manusia Merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan organsasi, agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), dan keterampilan (skill) mereka sesuai dengan tuntutan yang mereka kerjakan. Dengan kegiatan pengembangan ini, maka diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik. sesuai dengan perekembangan ilmu dan tekhnologi yang digunakan oleh organisasi.14

Dengan demikian, pengembangan SDM merupakan sebuah cara efektif untuk menghadapi tantangan-tantangan, termasuk ketertinggalan SDM serta kergaman SDM yang ada dalam organisasi, perubahan teknik kegiatan yang disepakati dan perputaran SDM.

c. Teori-Teori Manajemen Sumber Daya Manusia 1. Kompensasi

Menurut Handoko, yang dimaksud dengan kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka.15Kompensasi adalah salah satu faktor baik secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja pegawai. Karena semestinya pemberian kompensasi kepada pegawai perlu mendapat perhatian khusus dari pihak manajemen instansi agar motivasi para pegawai dapat dipertahankan dan kinerja pegawai diharapkan akan terus meningkat.

Menurut Notoadmodjo, ada beberapa tujuan dari kompensasi yaitu: menghargai prestasi kerja, menjamin keadilan, mempertahankan karyawan, memperoleh karyawan yang bermutu, pengendalian, dan memenuhi peraturan.16

14 M. Kadarisman, Manajemen Pengembangan Sumber Daya Sumber Manusia(Rajawali Pers:Jakarta 2013), h. 5.

15 Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 183

16 Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 188-189.

2. Kompetensi

Boulter, Dalziel, dan Hill, mengemukakan kompetensi adalah suatu karakteristik dasar dari seseorang yang memungkinkannya memberi kinerja unggul dalam pekerjaan, peran, atau situasi tertentu.17

Penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan agar dapat mnegetahui tingkat prestasi yang diharapkan untuk kategori baik atau rata-rata. Penentuan kompetensi yang dibutuhkan tentunya akan dapat dijadikan dasar bagi evaluasi prestasi kerja.

Menurut Dharma, kompetensi selalu mengandung maksud atau tujuan, yang merupakan dorongan motif yang menyebabkan suatu tindakan untuk memeperoleh suatu hasil. Dengan adanya kompetensi ini sumber daya manusia dilihat sebagai manusia dengan keunikannya yang perlu dikembangkan. Manusia dilihat sebagai aset yang berharga. Dengan adanya kecenderungan tersebut, maka peran sumber daya manusia akan semakin dihargai terutama dalam kompetensi sumber daya manusia.

3. Kepemimpinan

Terry, menganggap kepemimpinan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang agar bekerja dengan rela untuk mencapai tujuan bersama.18Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada orang dan membujuk anggota organisasi agar bergerak menuju arah yang diinginkan. Sebagai pemimpin ada yang efektif dan ada yang juga tidak. Efektif atau tidak efektif seorang pemimpin ditentukan atas dua faktor yaitu:

a. karakteristik kepemimpinan seperti dalam teori sifat kepemimpinan (trait theory), dan karakteristik pribadi misalnya kemampuan mental yang superior, kemantangan emosi,

17 Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 203

18 Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 214

dorongan emosi, keterampilan pemecahan masalah, keterampilan manajerial, dan keterampilan kepemimpinan.

Para penganut teori sifat ini berusaha menggeneralisasi sifat-sifat umum yang dimilki oleh pemimpin, seperti fisik, mental dan kepribadian. Dengan asumsi pemikiran, bahwa keberhasilan seseorang sebagai pemimpin ditentukan oleh kualitas sifat atau karakteristik tertentu yang di miliki dalam diri pemimpin tersebut, baik berhungan dengan fisik, mental, psikologis, personalitas, dan intelektualitas.19

b. Pendekatan teori perilaku, teori perilaku ini dilandasi pemikiran, bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antara pemimpin dengan pengikut, dan dalam interaksi tersebut pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsikan apakah menerima atau menolak kepemimpinannya.

Pendekatan perilaku menghasilkan dua orientasi, yaitu perilaku pemimpin yang berorientasi pada tugas atau yang mengutamakan penyelesaian tugas dan peilaku pemimpin yang berorientasi pada orang atau yang mengutamakan penciptaan hubungan-hubungan manusiawi. Perilaku pemimpin yang berorientasi pada tugas menampilkan gaya kepemimpinan autokratik, sedangkan perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan manusia manampilkan gaya demokratis atau partisipatif.20

d. Sistim Manajemen Sekolah

Untuk memahami hakikat sekolah dalam kehidupan masyarakat maka perlu dibahas terlebih dahulu aplikasi konsep sistem terhadap sekolah. Bagaimana kita memandang sekolah sebagai suatu sistem dalam kehidupan masyarakat. Hal ini penting dikemukakan

19 Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 226.

20 Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia (Prenadamedia Group: Jakarta 2016), h. 227.

mengingat cara pandang demikian akan mengantarkan kita pada pemahaman yang jelas dan mendalam (holistik) terhadap berbagai persoalan yang ada dan muncul dalam organisasi sekolah. Sistem dibagai menjadi dua jenis, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup.

Immagent dan Pilecki menjelas bahwa:

There are two basic types of systems Ḍ“open” and “Closed”.

Open systems are those which exchange matter and energy with the environment. Closed systems are self contained and are unaffected by other systems or their environment. Suatu system terbuka adalah menukar material dan energy dengan lingkungan, sedangkan system tertutup adalah system yang tidak mempunyai relasi.21

Untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah, peranan kepala sekolah dan pendidik dalam menjalankan manajemen pendidikan sangat menentukan pencapaian tujuan dengan dukungan sumber daya personil, materi, financial dan lingkungan masyarakat. Sistem manajemen sekolah mengolah berbagai input, kemudian diolah atau ditransformasi ( proses) menjadi output (keluaran), yang selanjutnya keluaran ditransformasi kepada masyarakat. Input sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. “ Input sekolah dapat diidentifikasi mulai dari manusia (man), uang (money), material/bahan- bahan ( materials), metode ( methods), dan mesin-mesin (mechanes).22 2. Tinjauan Tentang Mutu Pendidikan

a. Pengertian Mutu

Terdapat banyak pengertian tentang mutu. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, mutu adalah suatu nilai atau keadaan.23 Sementara pengertian lain tentang mutu dikemukakan oleh para ahli

21 Syafaruddin Anzizhan, Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan, Jakarta, PT.

Grasindo, 2004, h. 17.

22Dr. Aan Komariah, M. Pd, Cepi Triatna, S. Pd, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2006.

23 Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya : Kartika, 1997), 372.

dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Diantaranya Edward Deming, mengatakan bahwa mutu adalah : “apredictive degree of uniformity and dependability at a low cost, suited to the market”.

Menurut Nur Azman, mutu atau kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu, kadar. Juga bisa berarti derajat atau taraf kepandaian kecakapan, dan sebagainya.24

Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah, tidak terbangun jiwa kemandirian dan kreativitasnya. Lebih parah dan menyedihkan lagi jika out put pendidikannya menambah beban masyarakat, keluarga, dan negaranya.

Pendidikan yang bermutu dan unggul adalah memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas, memiliki program pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, inovatif dan pengembangan ilmu dan teknologi, memiliki sumberdaya yang profesional, memiliki manajemen yang profesional dan bertanggungjawab. Lulusannya memiliki standar kompetensi pengetahuan (knowledge) kognitif yang memadai, memiliki kemampuan afektif yang anggun, yaitu memiliki kepribadian dan moral yang tinggi, jujur, bertanggungjawan, dan bersamangat untuk melakukan inovasi, memiliki kemampuan psikomotorik yang tinggi, memiliki skill untuk menjawab kabutuhan masyarakat, melakukan kegiatan secara terampil, dan memiliki kemampuan bertindak yaitu menghasilkan sesuatu yang konkrit dan menghasilkan jasa, serta dapat diserap pasar atau pengguna pendidikan.25

24 Nur Azman, Kamus Standar Bahasa Indonesia, (Bandung: Fokusmedia, 2013), h. 227.

25 Hujair A. H. Sanaky, Permasalahan dan Penataan Pendidikan Islam Menuju Pendidikan yang Bermutu, Jurnal Pendidikan Islam EL TARBAWI Vol 1, No 1 (2008): 91- 92, diakses 17 Juli 2019, https://media.neliti.com/media/publications/69345-ID- permasalahan-dan-penataan-pendidikan-isl.pdf.

Dari beberapa pengertian mutu di atas, dapat penulis simpulkan bahwa secara garis besar, mutu adalah keseluruhan ciri atau karakteristik produk atau jasa dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.

b. Upaya Strategis Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu dan Daya saing Sekolah.

Istilah strategis di artikan sebagai satu seni dan ilmu untuk membawakan pengajaran sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.26 Pengertian lain yang dikembangkan, bahwa strategi adalah sebagai tidakan yang terus menerus, serta dilaksanakan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diinginkan oleh para pelanggan. Starategi selalu membawa seseorang kepada kemenangan dan kejayaan seumur hidup, menjadi pelaku perubahan.27

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dimaknai bahwa strategi merupakan suatu bentuk upaya terus menerus untuk mencapai tujuan lembaga secara efektif dan efisien. Kecepatan perkembangan ilmu dan teknologi telah memberikan tekanan pada lembaga pendidikan untuk membenahi diri dalam berbagai hal seperti pembenahan fasilitas, struktur organisasi serta sumberdaya manusia.

Dalam hal sumberdaya manusia termasuk di dalamnya staf pengajar.

Lembaga pendidikan bukan saja membutuhkan penambahan personil tetapi yang terutama adalah peningkatan dan pengembangan mutu guru. idealnya setiap lembaga pendidikan eiliki program yang komprehensif untuk itu, khususnya untuk meningkatkan kompetensi keprofesionalan guru (Profesional Teacher). 28

26Muhibuddin Abdulmuhid, Manajemen Pendidikan, (Batang: CV. Pengging Mangkuncegaran, 2013), 33.

28 Uwes S, Manajemen Pengembangan Mutu Dosen, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu,1999), 128.

Sebagai upaya pengembangan mutu sumber daya guru, ada lia strategi pengembangan sekolah yang harus dilakukan diantaranya:1) Peningkatan layanan pendidikan nasional, 2) perluasaan dan pemerataan kesempatan pendidikan di sekolah, 3) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, 3) pengembangan sistem dan manajemen pendidikan, 5) pemberdayaan kelembagaan sekolah.29

Strategi yang digunakan dalam melakukan pemberdayaan terhadap sumber daya manusia bersifat: pengembangan bidang pengetahuan yang dimiliki, pengembangan keterampilan dan bakat yang ada, dan bersifat memperbaharui keahlian. Strategi pemberdayaan atau pengembagan SDM dapat dilakukan elaluin kreativitas inovasi, sinergi, dan peberian tanggung jawab. Kreativitas yaitu kemampuan untuk mengkombinasikan ide dengan cara yang unik atau membuat gabungan yang tidak umum dari beberapa ide . kreativitas memungkinkan pengambiloan keputusan untuk lebih sepenuhnya menilai dan memahai masalah, termasuk melihat masalah yang tidak dilihat oleh orang-orang lain. Manfaat yang jelas dari kreativitas yaitu membantu pengambil keputusan untuk mengidentifikasi semua alternatif yangt baik.30

Untuk itu, kepala sekolah/madrasah sebagai pimpinan di lembaga pendidikan harus menyusun dan melaksanakan strategi- strategi yang handal dalam mengembangkan mutu sumber daya guru.

Kemajuan yang dicapai oleh guru di lembaga pendidikan tergantung dari kepemimpinan kepala sekolah.

c. Teori Mutu

1) Teori Mutu Feigenbaum

Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Menurutnya suatu produk dianggap bermutu apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya

29 Ahmad Fattah Yasin, Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lembaga Pendidikan Islam, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), 64.

30 Nurul Ulfatin dan Teguh Triwiyanto, Manajemen Sumber Daya Manusia.,90-92.

kepada konsumen, yaitu sesuai dengan harapan konsumen atas produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Poin penting Feigenbaum ini adalah bahwa (1) kualitas harus didefinisikan dalam hal kepuasan pelanggan,(2) kualitas adalah multidimensi dan harus didefinisikan secara komprehensif, dan (3) karena terjadi perubahan kebutuhan dan harapan pelanggan, maka mutu adalah dinamis.31

3. Daya Saing

Daya saing adalah menggunakan keunggulan sumber daya dan kemampuan untuk memaksa agar hasilnya sesuai dengan kepentingan perusahaan mengatasi dan bertahan terus dalam perang persaingan.

Dalam upaya meningkatkan daya saing organisasi bisnis atau organisasi publik di perlukan pengelolaan, pengetahan, disamping pengelolaan keterampilan yang sesuai dengan kompetensi, sesuai dengan kebutuhan organisasi. Suatu lembaga pendidikan mempunyai daya saing karna memahami bahwa knowledge merupakan sumber dari daya saing. Knowledge harus dikelola karna hrus direncanakan dan diimplementasikan.

Menurut Zuhal dkk ( I Putu Ayu Derawan dan Sutriyono ) bahwa Daya saing adalah gambaran bagaimana sebuah organisasi dan SDMnya mengendalikan kekuatan kompetensi yang dimilikinya dengan terpadu hingga memperoleh keuntungan , sementara Thoha menjelaskan bahwa daya saing merupakan salah satu cara untuk memenangkan kompetisi sebuah organisasi. Jadi daya saing merupakan sebuah cara dengan melibatkan seluruh aspekdalam organisasi untuk memperoleh keuntungan dan memenangkan kompetisi. Hubeis & Najib mengambarkan situasi saat ini dimana semakin banyaknya alternatif yang ditawarkan dalam segala bidang

31 Tuala, Riyuzen Praja. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah/Madrasah. (Studi Kasus di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung dan Madrasah Aliyah Negeri I (MAN Model) Bandar Lampung. Diss. UIN RADEN Intan Lampung, 2017.

termasuk pendidikan mendorongadanya upaya peningkatan daya saing bahkan hingga ke level superior competitive advantage.32

4. Manajemen SDM dan Mutu Pendidikan

a. Perencanaan, pelaksanaan dan Evaluasi Mutu Pendidikan 1. Perencanaan Mutu Pendidikan

Perencanaan adalah sesuatu yang penting sebelum melakukan sesuatu yang lain. Perencanaan dianggap penting karena akan menjadi penentu dan sekaligus memberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Dengan demikian suatu kerja akan berantakan dan tidak terarah jika tidak ada perencaan yang matang, perencaan yang matang dan disusun dengan baik akan memberi pengaruh terhadap ketercapaian tujuan.

Perencanaan adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan dan dalam perencanaan itu mengandung beberapa unsur, diantaranya sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, adanya proses, hasil yang ingin dicapai, dan menyangkut masa depan dalam waktu tertentu.33

Perencanaan mutu dapat diartikan sebagai proses penyusunan langkah-langkah kegiatan menyeluruh secara sistematis, rasional, dan berjangka panjang serta berdasarkan visi, misi, dan prinsip tertentu untuk memenuhi kebutuhan mendasar dan menyeluruh para pelanggan pendidikan.

Dalam konteks perencanaan pendidikan, yang dapat dilakukan:

1) Mengkaji kebijakan yang relevan Pengembangan lembaga pendidikan tidak boleh bertentangan dengan kebijakan yang berlaku baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

2) Menganalisis kondisi lembaga

32 I Putu Ayu Derawan dan Sutriyono, Strategi Bersaing Untuk Meningkatkandaya Saing Sekolah Tinggiteologia Diungaran,Jurnal Manajemen PendidikanMagister Manajemen Pendidikan ISSN 2443-0544 FKIP Universitas Kristen Satya WacanaVolume: 3, No. 2, Juli-Desember 2016:

167.

[email protected]://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=627093&val=

10190

33 Usman Husaini, Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara,2011), h.66

Langkah ini dilakukan untuk mengetahui keadaan, kekuatan, kelemahan, kekurangan lembaga untuk kemudian mencari jalan keluar yang tepat. Dalam hal ini dapat menggunakan analisis SWOT.

3) Merumuskan tujuan pengembangan

Berdasarkan kebijakan yang berlaku dan analisis kondisi lembaga, selanjutnya dirumuskan tujuan pengembangan, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

4) Mengumpulkan data dan informasi

Data yang dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai, yakni seluruh komponen yang berkaitan dengan pencapaian tujuan.

5) Menganalisis data dan informasi

Data dan informasi yang terkumpul harus dianalisis secara komprehensif.

6) Merumuskan dan memilih alternatif program

Berdasarkan hasil analisis kemudian dikembangkan program atau kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Menetapkan langkah- langkah kegiatan pelaksanaan Perlu dilakukan penjabaran secara terperinci sampai pada tahap pelaksanaan.34

2. Pelaksanaan Mutu Pendidikan

Fungsi pelaksanaan (actuating) dalam ilmu manajemen memiliki beberapa istilah yang maknanya hampir sama yakni directing, Staffing, motivating, dan leading. Keempat istilah tersebut sesungguhnya semakna dengan istilah actuating. Pelaksanaan(actuating) adalah suatu proses penggerakan tenaga kerja untukmelakukan kegiatan pencapaian tujuan sehingga dapat terwujud efisiensi proses dan efektivitas dari hasil kerja.

Fungsi ini dapat memotivasi tenaga pekerja untuk bekerja secara sungguh-

34 Baharuddin, Manajemen Pendidikan, Wacana, Proses dan Aplikasinya di Sekolah, (Malang: UM Malang, 2002 ), h. 33-34.

sungguhagar tujuan dari organisasi atau perusahaan dapat tercapai secara efektif.35

3. Evaluasi Mutu Pendidikan

Kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berartipenilaian atau penaksiran. Evaluasi adalah suatukegiatan sistematis danterencana untuk mengukur, menilai dan klasifikasi pelaksanaan dankeberhasilan program. Dalam suatu organisasi penggunaan evaluasisangatlah penting guna untuk menilai akuntabilitas organisasi.

evaluasiadalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau

negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya.

Kegunaan pengawasan adalah untuk mengetahui adanya kekurangan, hambatan, kelemahan, kesalahan, dan kegagalan suatuaktivitas yang telah ditetapkan sebelumnya, kemudian dicari cara untu mengatasinya. Tujuan pengawasan adalah untuk mengetahui apakahpekerjaan dilakukan lancar dan efisien sesuai dengan rencana, petunjuk,dan perintah yang diberikan, serta mencari jalan keluar untukmemperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kegagalan serta mencegah terjadi hal yang sama. Pengawasan harus dilakukan pada tingkat pelaksanaan.

Dengan demikian, fungsi pengawasan merupakan suatu proses untuk mengawasi segala kegiatan tertuju pada sasarannya sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai serta merupakan tindakanperbaikan dalam pelaksanaan segala kegiatan program kerja yangsesuai dengan rencanayang telah ditetapkan.

Evaluasi yang dimaksud dalam manajemen peningkatan mutusekolah/madrasah adalah evaluasi yang meliputi 8 standar nasiona

35 Sora N, Pengertian Manajemen Pendidikan dan Fungsinya Serta Ruang Lingkupnya, diakses dari http://www.pengertianku.net, pada tanggal 16 Juli 2019.

pendidikan yaitu; evaluasi standar isi, evaluasi standar kompetensilulusan, evaluasi standar proses, evaluasi standar tenaga pendidik da kependidikan, evaluasi standar pengelolaan, evaluasi standar pembiayaan dan evaluasi standar penilaian.

5. Implementasi Mutu Pendidikan Nasional Menurut Permendiknas No. 63 Tahun 2009.

Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa tersebut maka diselenggarakan suatu sistem pendidikan nasional. Negara memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap warga negara untuk mendapatkanpendidikan dan pengajaran.

Dengan pendidikan dan pengajaran itu diharapkanakan memperoleh pengetahuan dan kemampuan dasar sebagai bekal untuk dapat berperan serta dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.36

Adapun penjelasan tentang 8 Standar Nasional Pendidikan tersebut sebagaiberikut:

1. Standar Isi

Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensiuntuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikant ertentu. Setiap jenjang memiliki kompetensi yang berbeda, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Dan dalam standar isi termuatkerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik yang berguna untuk pedoman

36 Nasarudin Anshoriy & GKR Pembayun, Pendidikan Berwawasan Kebangsaan;Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme, (Yogyakarta: LKIS, 2008), h. 185.

pelaksanan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.37

Peraturan yang menjelaskan tentang standar isi untukkurikulum KTSP adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Sedangkan untuk kurikulum 2013 diatur dalam PermendikbudNo. 64 Tahun 2013.

2. Standar Proses

Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuanpendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.38Proses pembelajaran seharusnya dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pesertadidik.

Hal tersebut sangatlah membantu dalam pekembangan akal dan mental peserta didik. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Ketentuan tentang standar proses diatur dalam Permendikbud RI No. 65 tahun 2013.

3. Standar Kompetensi Lulusan

37 Arif Rohman, Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: LaksBang

Mediatama, 2009), h. 232.

38 H.A.R. Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2006), h. 169

Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar danmenengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No23Tahun 2006 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sedangkan untuk kurikulum 2013, ketentuan tentang SKL ini diatur dalam Permendikbud RI No. 54 Tahun 2013.

4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil nilai pembelajaran, memberi pelajaran, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Sedangkan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.39

Standar pendidik dan kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen

39 Zainal Aqib, Menjadi Guru Professional Berstandar Nasional, (Bandung: Yrama Widia, 2009),h.19.

Dalam dokumen LAMPIRAN-LAMPIRAN (Halaman 33-58)

Dokumen terkait