BAB II KAJIAN PUSTAKA
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Estenberg mendefinisikan wawancara sebagai pertemuan
70 John Lofland & Lyn H. Lofland, Analizing Social Setting: A guide Qualitative Observation and Analysist, (Belmont: Wadsworth Publising Company, 1984) dalam Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 157
71 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rinneka Cipta, 2008), 83
dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Wawancara dibedakan menjadi tiga, yaitu wawancara terstruktur, semi terstruktur dan tidak terstruktur72.
Adapun dalam penelitian ini wawancara yang peneliti lakukan adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur artinya pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuannya untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dimana pihak yang diwawancarai dimintai pendapat, ide-ide dan dalam melakukan wawancara perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
Melalui metode ini peneliti mendapatkan berbagai informasi terkait dengan strategi pemasaran pendidikan di MTs Ma’arif Ambulu Jember. Adapun data-data yang peneliti gali dengan metode wawancara adalah :
a. Segmentasi pasar pendidikan di MTs Ma’arif Ambulu Jember b. Targetting pemasaran pendidikan di MTs Ma’arif Ambulu Jember c. Positioning pemasaran pendidikan yang dilaksanakan di MTs
Ma’arif Ambulu Jember
Sebelum melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu menyusun berbagai macam pertanyaan sesuai dengan masalah sehingga wawancara dapat terarah dengan baik.
72 Kistin G Estenberg, Qualitative Methods in Social Research (New York: Mc Hill, 2002), dalam Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandng: Alfabeta, 2005), 72-73
Langkah-langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif yaitu:
a. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
b. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
c. Mengawali atau membuka alur wawancara
d. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya e. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
f. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh73.
2. Observasi
Metode observasi, salah satu metode penelitian yaitu dengan melakukan pengamatan serta mencatat secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian74. Observasi juga dapat dimaknai sebagi proses “pemeran serta sebagai pengamat”, artinya peneliti hanya berperan sebagai pengamat dan menafsirkan setiap kejadian dan fenomena yang terjadi di tempat penelitian. Sedangkan observasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah obrservasi partisipan. Dalam observasi partisipan peneliti terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
Adapun yang peneliti amati adalah prilaku organisasi dalam melakukan pemasaran pendidikan. Pengamatan dilakukan untuk
73 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandng: Alfabeta, 2005), 76
74 Margono, Metodologi enelitian Pendidikan, (Jakarta: Rinneka Cipta, 2010), 15
mendapatkan informasi berkenaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan strategi pemasaran pendidikan. Selain itu peneliti juga mengamati kegiatan sekolah dalam menjalankan programnya. Secara rinci data yang peneliti gali melalui metode observasi adalah:
a. Aktivitas stakeholder b. Kegiatan belajar mengajar
c. Program-program yang berkaitan dengan strategi pemasaran pendidikan di MTs Ma’arif Ambulu
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang75. Metode ini merupakan pelengkap dari metode observasi dan wawancara, peneliti menggunakan metode ini untuk mencari data melalui dokumen tertulis melalui hal-hal yang berupa catatan harian, transkip buku, foto-foto dan lain sebagainya.
Dengan teknik ini peneliti ingin menggali berbagai informasi dari dokumen-dokumen yang menunjang penelitian seperti, foto, video, profil, rekaman, serta dokumen lain yang berkaitan dengan pemasaran pendidikan di sekolah tersebut. Secara rinci data yang ingin peneliti dapatkan dengan metode dokumentasi adalah:
a. Struktur organisasi MTs Ma’arif Ambulu Jember b. Profil MTs Ma’arif Ambulu Jember
75 Sugiyono, 240
c. Data siswa/siswi MTs Ma’arif Ambulu d. Data guru MTs Ma’arif Ambulu
e. Dokumen lain yang berhubungan dengan strategi pemasaran pendidikan di MTs Ma’arif Ambulu
Dokumen-dokumen tersebut diharapkan dapat mempertajam analisis penelitian ini.
4. Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif model interaktifMiles dan Huberman yang terdiri dari:
a. Pengumpulan data
Pada tahap ini peneliti melakukan proses pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang telah ditentukan sejak awal, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.
Peneliti terlebih dahulu melakukan observasi ke MTs Ma’arif Ambulu kemudian di lanjutkan dengan wawancara serta pengambilan dokumentasi yang diinginkan. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa waktu sampai pada kejenuhan data.
Selain melakukan observasi di sekolah tersebut peneliti juga
melakuakan observasi di luar sekolah seperti ketika sekolah ini melakuakn kegiatan di luar sekolah.
b. Reduksi data
Sebagaimana diungkapkan oleh Miles dan Huberman bahwa reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakkan, dan transformasi data kasar yang tertulis dalam catatan-catatan di lapangan. Yang mana data tersebut digolongkan ke dalam data umum dan data fokus, mengarahkan dan membuang data yang tidak diperlukan76.
Pada tahap ini peneliti memilah dan memilih data mana dan data dari siapa yang harus lebih dipertajam yang kemudian data tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok tertentu sehingga menjadi jembatan bagi dirinya untuk membuat tema-tema dalam penelitiannya. Serta dimungkinkan juga peneliti akan menyingkirkan beberapa data yang dianggap tidak relevan dengan tema yang diteliti.
Proses ini berlangsung terus sepanjang pelaksanaan penelitian sampai pada laporan penelitian selesai dibuat. Informasi dan data yang relevan dengan fokus penelitian dicatat dengan baik dan disusun secara sistematik supaya mudah untuk dicari kembali ketika dibutuhkan, sedangkan data yang kurang relevan dengan fokus penelitian kemudian direduksi kembali.
c. Display data
76 Mattew B.Milles dan Michael Huberman, Analisis data kualitatif:Buku sumber tentang Metode –Metode Baru (Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia(UI-Press),1992),16-19
Data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk uraian kalimat. Penyajian data sebagai sekumpulan informasi yang tersusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Melalui penyajian data dapat dipahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan77.
Data yang diperoleh selama penelitian dipaparkan kemudian dicari tema-tema yang terkandung di dalamnya sehingga jelas maknanya, dan selanjutnya disimpulkan meskipun sifatnya masih kesimpulan sementara.Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisir, tersusun dalam pola hubungan, sehingga mudah untuk dipahami. Pada langkah ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Prosesnya dapat dilakukan dengan cara menampilkan data, membuat hubungan antar fenomena untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapi tujuan penelitian.
d. Kesimpulan atau verifikasi
Penarikan kesimpulan atau verifikasi data merupakan kegiatan untuk menarik makna dari data yang ditampilkan.Pada tahap ini peneliti berusaha mencari makna dari data yang telah direduksi dan tergali ataupun terkumpul dengan jalan membandingkan, mencari pola, tema, hubungan persamaan,
77 Miles dan Huberman, Analisis... .,17
mengelompokkan dan memeriksa hasil yang diperoleh dalam penelitian78.
Kesimpulan hasil penelitian yang diambil dari hasil reduksi dan panyajian data merupakan kesimpulan sementara. Kesimpulan sementara ini masih dapat berubah jika ditemukan bukti-bukti kuat lain pada saat proses verifikasi data di lapangan. Jadi proses verifikasi data dilakukan dengan cara peneliti terjun kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data kembali yang dimungkinkan akan memperoleh bukti-bukti kuat lain yang dapat merubah hasil kesimpulan sementara yang diambil. Jika data yang diperoleh memiliki keajegan (sama dengan data yang telah diperoleh) maka dapat diambil kesimpulan yang baku dan selanjutnya dimuat dalam laporan hasil penelitian.
G. Keabsahan Data
Menurut Sugiyono uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji kredibilitas (validitas internal), transferabilitas (validitas eksternal), defendabilitas (reabilitas), konfirmabilitas (objektivitas)79. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji kredibilitas (validitas internal). Sedangkan uji kredibilitas yang dilakukan adalah triangulasi yang meliputi (teknik, dan sumber).
78 Miles dan Huberman... .,19
79 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixhed Methods), Bandung: Alfabeta, 2014). 364
Terdapat beberapa macam triangulasi menurut Sugiyonoyaitu:80 1. Triangulasi Sumber
Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan, selanjutnya dimintakan kesepakatan dengan tiga sumber data tersebut.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh melalui wawancara lalu dicek dengan data yang dihasilkan dari observasi, dan dokumentasi.
3. Triangulasi Waktu
Dalam pengujian kredibilitas data, dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekkan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda, maka dilakukan secara berulang lang sehingga sampai pada ditemukan kepastian datanya.
H. Tahap-Tahap Penelitian
Tahapan-tahaapan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam proses penelitian ialah:
a. Tahap Persiapan 1) Pengajuan judul 2) Melakukan observasi
80 Sugiyono, 274
3) Menyusun kerangka berfikir
4) Memilih dan memanfaatkan informan.
5) Menyiapkan perlengkapan penelitian.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara: memahami latar penelitian dan persiapan diri.
2) Melakukan observasi.
3) Melakukan wawancara kepada subyek penelitian.
4) Menggali data penunjang melalui dokumen-dokumen.
c. Tahap Penyelesaian
Pada tahap ini peneliti membuat laporan penelitian. Pada tahap ini peneliti menyusun data yang telah dianalisis dan disimpulkan dalam bentuk karya ilmiah yaitu berupa laporan penelitian dengan mengacu pada peraturan penulisan karya ilmiah yang berlaku di IAIN Jember.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN ANALISIS
Bab ini mengurai tentang paparan data dan analisis, temuan penelitian.
Paparan data yang dimaksud adalah paparan temuan-temuan data di lapangan selama kegiatan penelitian berlangsung yang diperoleh dengan menggunakan metode penelitian (observasi, wawancara dan dokumentasi). Uraian paparan data dan temuan dalam penelitian ini meliputi Segmentasi pemasaran pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu, targetting pemasaran pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu dan positioning pemasaran pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu. Berikut peneliti kemukakan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan di lokasi penelitian.
A. Paparan Data dan Analisis
1. Segmentasi pasar pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu Jember
Segmentasi pasar merupakan tahap awal dalam menentukan arah strategi pemasaran. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan, tahap segmentasi menjadi dasar suatu sekolah dalam mempromosikan pendidikannya. Namun sebelum menentukan segmen pasar, terlebih dahulu harus mengetahui pasar secara jelas sehingga dapat memudahkan untuk menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih. Karena tidak semuanya pasar dapat dimasuki tanpa tahu segmen ma`qqqna yang akan dipilih.
Begitu juga Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu Jember, madrasah ini
memfokuskan kepada segmentasi berdasarkan geografis dan demografis serta berdasarkan perilaku. Berikut pemaparannya:
a. Segmentasi berdasarkan geografis dan demografis
Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu di didirikan berdasarkan tiga asas, yaitu:
1) Untuk menolong warga NU
2) Untuk menolong masyarakat yang kurang mampu
3) Dan untuk membebaskan biaya bagi anak yatim yang kurang mampu
Hal ini berdasaran pemaparan Bapak Amin yang merupakan kepala bendahara di sekolah tersebut, berikut pemaparannya.
“Sekolah ini didirikan pada mulanya bertujuan untuk menolong orang NU, menolong orang miskin dan anak yatim yang kurang mampu. Seluruh pembiayaan administrasi sekolah bagi anak yatim akan dibebaskan”81.
Kemudian hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Ishaq selaku kepala sekolah bahwa salah satu tujuan berdirinya sekolah ini adalah untuk membantu masyarakat NU82.
Kemudian Ibu Eny juga menambahkan bahwa anak yatim yang sekolah di sekolah ini tidak dipungut biaya, mulai dari biaya spp, ujian, bahkan buku-buku LKS akan mendapatkan bantuan83.
81 Amin Thohari, Wawancara, 10 Agustus 2017
82 Nur Ishaq, Wawancara, 10 Agustus 2017
83 Eny, Wawancara, 12 Agustus 2017
Hal ini diperkuat dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa uang sumbangan (SPP) di madrasah ini hanya berjumlah Rp.
25.000 untuk siswa unggulan dan Rp. 20. 000 untuk siswa biasa, antara siswa yang masuk kelas unggulan dan kelas biasa hanya selisih Rp.
5000 saja, padahal siswa yang masuk kelas unggulan mendapat pelajaran tambahan (full day class), sehingga pulang lebih akhir84.
Dari pemaparan di atas dapat diketahui selisih antara kelas unggulan (full daiys class) dengan kelas biaya hanya Rp 5000, ini menandakan bahwa pihak sekolah membebankan biaya yang ringan kepada wali murid.
Hal di atas sesuai dengan dokumentasi yang penulis dapatkan berpa profil sekolah. Dalam profil sekolah tersebut peneliti mendapatkan bahwa salah satu tujuan didirikannya Madrasah Tsanawiyah Ma’arif adalah sebagai wadah pendidikan yang berorientasi dibidang agama dan ilmu pengetahuan dengan mengembangkan pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam di bawah naungan NU (Nadhlatul Ulama). Lampiran tersebut terletak pada lampiran 9.
Dari pemaparan di atas dapat diketahui bahwa dengan memebrikan biaya yang ringan serta memberikan biaya pendidikan gratis bagi anak yatim yang kurang mampu, berarti madrasah ini menerapkan pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam seperti apa yang
84 Obserasi 18 Agustus 2017
telah dipaparkan di atas.
Lembaga sekolah merupakan lembaga non profit dimana pada pelaksanaannya lembaga sekolah tidak mencari keuntungan seperti lembaga profit lainnya, seperti halnya madrasah ini yang mengedepankan asas kemanusiaan. Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa segmentasi pasar dari madrasah ini masyarakat muslim yang kelas ekonominya menengah ke bawah.
Kemudian sekolah ini juga mensegmen pasar siswa-siswi berdasarkan wilayah. Hal ini berdasarkan pada penjelasan dari Bapak Ishaq, berikut penuturannya:
“Madrasah ini mensegmen lulusan siswa-siswi SD dan MI di wilayah kecamatan Ambulu. Dengan cara setiap guru wilayah berkewajiban mengunjungi sekolah-sekolah dasar dan Madrasah Ibtida’iyah yang telah ditentukan di wilayah tersebut, bahkan sampai door to door atau ke rumah-rumah. Kegiatan lainnya adalah dengan memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah tingkat dasar seperti ikut serta dalam memeriahkan acara di sekolah tersebut seperti mengirimkan grup drum band. Bahkan sekolah kami juga selalu mengikuti acara-acara yang diadakan oleh masyarakat sekitar baik yang bersifat keagamaan maupun acara-acara umum lainnya85”.
Hal tersebut relevan dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Amin berikut penjelasannya:
“Sebelumnya kita harus membentuk tim guru yang solid. Setiap guru mempunyai kewajiban untuk mempromosikan madrasah.
Di sini ada pembagian tugas guru wilayah, seperti guru A tinggal di wilayah utara seperti daerah Sentong dan lain-lain, maka guru ini berkewajiban mempromosikan sekolah ini di wilayah tersebut. Dan kita memiliki guru-guru di setiap penjuru seperti Utara, Barat, Timur dan selatan, sehingga target kami
85 Nur Ishaq, Wawancara, 10 Agustsu 2017
dapat menguwasai wilayah kecamatan Ambulu. Salah satu pertimbangan kami dalam menerima tenaga pendidik selain dari kompetensinya juga dari asalnya (wilayah) dan pertimbangan faktor alumni. Tujuannya ya untuk target dalam mendapatkan peserta didik. Karena peran alumni juga sangat besar dalam mempromosikan sekolah ini. Banyak murid-murid kami dari wilayah selain kecamatan Ambulu, seperti Jenggawah, Curangnongko, Keraton dan lain-lain karena banyak alumni kami disana. Sehingga walaupun kami tidak melakukan promosi secara langsung masih ada alumni”86.
Dengan demikian dalam segmen ini sebenarnya madrasah ini juga “tersesat” ke dalam segmen lain yang menguntungkan. Dimana hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa-siswi yang berasal bukan dari wilayah kecamatan Ambulu karena faktor alumni tersebut.
Hal tersebut relevan dengan hasil observasi penulis bahwa penulis sering menjumpai siswa/siswi MTs berangkat sekolah dari arah Jenggawah yakni dari Jatisari dan dari arah timur dari wilayah Keraton.
banyak siswa yang berasal bukan dari kecamata Ambulu87.
Seperti yang diutarakan oleh Bapak Ishaq selaku kepala sekolah di madrasah tersebut.
“Kami memutuskan untuk “menjemput bola”, karena ketatnya persaingan kami dituntut untuk lebih aktif. Setiap guru baik secara langsung maupun secara tidak langsung harus mempromosikan dan memberikan nilai-nilai yang positif terhadap sekolah ini. Dalam kegiatan kunjungan ke sekolah- sekolah kami menunggu timing yang tepat. Dan yang bertugas melakukan kunjungan-kunjungan tersebut adalah guru di setiap wilayah”88.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Eny, guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Berikut penuturannya:
86 Amin Tohari, Wawancara, 10 Agustus 2017
87 Observasi, 11 Agustus 2017
88 Nur Ishaq, Wawancara 10 Agustus 2017
“Selain kunjungan kita juga mengunjungi rumah warga, bahkan sekolah kami juga ikut serta dalam berbagai kegiatan yang ada di lingkungan sekitar. Saumpama ada SD atau MI yang sudah biasa kita kunjungi melakukan kegiatan kami juga ikut memeriahkan karena kebanyakan kami selalu diundang”89.
Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu memilih segmentasi pasar berdasarkan letak geografi dan demografis, dimana sekolah lebih membidik peserta didik di wilayah kecamatan Ambulu.
b. Segmentasi pasar berdasarkan prilaku
Selanjutnya yang menjadi segmen pasar dari sekolah ini adalah masyarakat muslim yang mengedepankan pendidikan berbasis agama dan pendidikan umum. Dalam hal ini penulis mengelompokkannya ke dalam segmentasi pasar berdasarkan prilaku. Dimana segmentasi pasar berdasarkan perilaku ini merupakan cara memandang pasar berdasarkan sifat dinamis yang mencerminkan karakter pelanggan. Karakter pelanggan ini dapat berupa minat, kebiasaan, gaya hidup dan respon pelanggan terhadap produk.
Berkaitan dengan hal tersebut Bapak Ishaq yang merupakan kepala Madrasah Tsanawiyah menuturkan:
“Di lingkungan kota Ambulu, memang banyak sekali sekolah- sekolah yang sejenjang dengan sekolah kami, namun masih sedikit yang berbentuk MTs yang banyak adalah SMP. Sehingga hal ini juga menjadi pertimbangan kami dalam menentukan pasar. Kami berkomitmen untuk mendidik siswa-siswi dengan background agama yang kuat ditandai dengan akhlak yang mulia, serta kompetensi pelajaran eksak yang unggul. Selain
89 Eny, Wawancara, 12 Agustus 2017
pendidikan agama kami juga mempunyai program kelas unggulan untuk menambah kemampuan siswa-siswi90.” .
Hal ini relevan dengan observasi yang dilakukan oleh penulis di lingkungan kecamatan Ambulu, bahwa belum banyak MTs lain yang berada di lingkungan kota Ambulu selain Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu, sedangkan yang banyak adalah sekolah SMP91.
Dari pemaparan di atas dapat di ketahui bahwa sekolah ini memanfaatkan peluang dengan mensegmen masyarakat yang mengedepankan pendidikan agama dan umum dimana sekolah ini menawarkan program keagamaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan sekolah lain karena sekolah lain tersebut berbentuk SMP. Selain itu sekolah ini juga mempunyai program kelas unggulan (full days class) untuk menambah kemampuan siswa/siswi.
Serupa dengan keterangan Bapak Ishaq di atas, Bapak Badri yang merupakan waka kurikulum juga menambahkan bahwa adanya kelas unggulan selain sebagai daya tarik calon siswa/siswi salah satunya adalah untuk mengasah kemampuan siswa/siswi. Sehingga jam pelajarannya pun di tambah. Agar siswa/siswi yang masuk dalam kelas unggulan tersebut mempunyai kompetensi yang berkualitas92.
Kemudian hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Muhsin yang merupaka humas di sekolah tersebut. berikut penuturannya:
“Lewat program kelas unggulan ini kami mencoba menawarkan kepada masyarakat bahwa kualitas pendidikan di sekolah kami ini
90 Nur Ishaq, wawancara, 10 Agustsu 2017
91 Observasi, 18 Agustus 2017
92 Imam Badri, Wawancara, 15 Agustus 2017
bagus. Tidak hanya pelajaran umum namun juga pelajaran agama.
Karena pelajaran keagamaan juga masuk dalam mata pelajaran full days. Sehingga kami berharap akan lebih banyak lagi masyarakat yang percaya akan kualitas pendidikan di sekolah ini, sehingga mereka menyekolahkan anak mereka ke sini”93.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa salah satu segmen pasar yang dibidik oleh madarsah ini adalah masyarakat yang menginginkan pendidikan agama dan umum berjalan secara bersamaan.
Hal ini juga menjadikan nilai tambah terhadap madrasah ini karena secara tidak langsung madrasah ini mempunyai lokasi yang strategis karena masih belum banyak sekolah yang sama (MTs) di lingkungan tersebut, sehingga banyak diminati oleh masyarakat.
2. Targetting Pemasaran Pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu
Pada hakikatnya targeting adalah strategi mengalokasikan sumber daya secara efektif dan bukan hanya memilih segmen pasar yang tepat.
Antara segmentasi dan targetting sangat erat kaitannya, karena targetting merupakan kegiatan lanjutan setelah segmentasi. Dari jenis segmentasi yang telah dipaparkan maka yang menjadi targetting madrasah ini adalah:
a. Kurikulum Sekolah
Kurikulum yang digunakan di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Ambulu adalah kurikulum 2013. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Badri selaku waka kurikulum di madrasah tersebut. Berikut penuturannya:
93 Imam Muhsin, Wawancara, 22 Agustus 2017