BAB I PENDAHULUAN
B. REFLEKSI DIRI
3. Kelebihan dan Kekurangan masing - masing Pemanas
Sumber Panas Kelebihan Kekurangan
Panas matahari Biaya ringan;
Teknik pembuatan mudah, sehingga setiap petani bisa melaksanakan;
Kandungan vitamin D dalam hijauan lebih tinggi.
Hanya bisa dilakukan di daerah tropis;
Proses pengeringan lama, sehingga penurunan gizi lebih besar;
Provitamin A menurun.
Panas buatan Proses pengeringan cepat, sehingga zat gizi yang hilang sedikit;
Pengerjaannya tak terkait oleh tempat dan waktu.
Perlu biaya yang mahal, sehingga tak bisa dilakukan oleh masyarakat peternak.
c. Kualitas Hay
Kualitas hay tergantung pada tiga faktor yaitu :
Kualitas hijauan;
Teknik pembuatan;
Kegiatan mikroorganisme yang berakibat buruk.
Kadar karoten, protein, persentase daun yang rusak dan banyak / sedikitnya karoten yang ada dalam hay dapat dijadikan kriteria kualitas hay yang bersangkutan. Secara fisik hay yang baik ditandai oleh :
Warna hay kekuningan;
Tidak mudah patah bila digumpal dengan tangan;
Tidak banyak daun yang rusak.
d. Cara Pemberian pada Ternak
1. Perlu masa adaptasi sebelum ternak diberi hay;
2. Pemberian dilakukan sedikit demi sedikit;
3. Pada pedet umur 2 minggu bisa dimulai pemberian hay sebanyak segenggam setiap hari yang berguna untuk merangsang perkembangan rumen dan bakteri pemecah sellulose dalam rumen.
e. Cara Penyimpanan
Hay dapat dibongkar dari rak pengeringan bila kekeringannya sudah memenuhi syarat. Pada prinsipnya hay dapat dibiarkan selamanya pada rak pengeringan, yang penting harus dipindahkan dari padang rumput.
Hay yang tidak terlalu banyak dapat disimpan dengan baik, hay disimpan beberapa cm diatas tanah serta dengan ventilasi baik. Untuk hay yang dipak sebaiknya disimpan di bangunan yang diberi atap serta ventilasi yang baik.
Langkah Kerja dan Penugasan
No Urutan Langkah Kerja / Penugasan Keterangan 1 Siapkan bahan dan peralatan yang digunakan
2 Tebarkan hijauan di tempat penjemuran 3 Balik - balik setiap 1 – 2 jam
4 Penjemuran dilakukan sampai kadar air (KA) mencapai 15 – 20%
5 Rapikan kembali seluruh peralatan yang telah digunakan
Pembuatan Silase
Umumnya di daerah tropis seperti negara kita, penyediaan bahan pakan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang tahun masih merupakan kendala. Guna mengatasi hal tersebut pada masa - masa kritis hijauan pakan bisa dilakukan beberapa alternatif yaitu :
1. Menanam lebih dari satu jenis hijauan, guna meratakan puncak produksi;
2. Menjaga kesuburan tanah semaksimal mungkin, guna meningkatkan puncak produksi;
3. Mengawetkan hijauan pakan yang berlebihan.
Silase adalah hijauan pakan yang diawetkan dalam bentuk segar dengan kadar air 60 - 70% dalam suatu tempat yang disebut silo. Pembuatan silase atau yang dikenal dengan pengawetan hijauan dalam bentuk segar bertujuan :
Sebagai persediaan pakan yang dapat digunakan pada saat kekurangan hijauan pakan;
Untuk menampung kelebihan hasil hijauan pakan;
Memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik yang pada saat itu belum digunakan;
Mendayagunakan hasil ikutan pertanian.
Prinsip pembuatan silase ialah mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) di tempat penyimpanan dan membuat suasana asam (pH rendah), karena dalam keadaan tersebut, bakteri pembusuk dan jamur berhenti bekerja atau mati sehingga hijauan pakan yang diawetkan dapat tahan lama.
Selain itu dalam pembuatan silase, perlu ditambahkan bahan pengawet.
Tujuan pemberian bahan pengawet adalah untuk mempercepat penurunan pH.
Bahan yang digunakan sebagai pengawet biasanya bahan yang banyak mengandung karbohidrat, seperti :
Tetes (melase / molases) sebanyak 3% dari bahan silase,
Dedak halus sebanyak 3% dari bahan silase,
Menir sebanyak 3% dari bahan silase,
Onggok sebanyak 3% dari bahan silase.
Untuk membuat silase diperlukan suatu tempat yang disebut silo. Silo bisa dibuat dari tanah, beton, baja dan sebagainya. Dilihat dari bentuknya terdapat beberapa macam silo :
Pit silo, silo berbentuk sumur;
Trench silo, silo berbentuk parit panjang;
Pench silo, silo berbentuk parit panjang;
Tower silo, silo berbentuk menara.
Tempat pembuatan silo, hendaknya dipilih tempat yang tidak mudah digenangi air; lebih tinggi dari tempat sekitarnya; air tanah lebih dalam dari dasar silo dan bila memungkinkan tempat dekat dengan lokasi ternak.
Cara Pembuatan Silase
Tahap pengisian
Hijauan harus dilayukan dan dipotong pendek - pendek (5 - 10 cm) agar mempermudah pemadatan di tempat penyimpanan;
Hijauan yang sudah dipotong, dicampur dengan bahan pengawet (bila diperlukan);
Masukkan dalam silo sedikit demi sedikit, sampai melebihi permukaan silo, sambil dipadatkan.
Tahap penutupan
Tutup serapat mungkin hingga air dan udara tidak masuk;
Usahakan tutup pertama dengan plastik, kemudian tutup dengan tanah dan beri pemberat.
Cara pengambilan
Setelah kira - kira 8 minggu, silo dibongkar untuk diambil silasenya.
Jumlah yang diambil tergantung kebutuhan, misalnya untuk keperluan 1 minggu, caranya :
Silo dibuka secara hati - hati;
Silase yang baru diambil diangin - anginkan atau dijemur dulu jangan langsung diberikan pada ternak;
Apabila silase tidak semuanya diambil, tutup kembali silo dengan rapat.
Kualitas silase tergantung dari tiga faktor, yaitu :
Hijauan (jenis hijauan, umur, perlakuan terhadap hijauan);
Teknik pembuatan;
Kegiatan mikroorganis.
Dalam praktek, kualifikasi silase dapat dilihat dari warna, bau, rasa, kebersihan dan tekstur. Makin hijau warnanya dengan bau harum keasaman dan rasa asam, bebas dari jamur dan lendir dengan tekstur yang jelas menandakan hasil yang baik.
Cara pemberian silase pada ternak :
Perlu adanya masa adaptasi sebelum ternak diberi silase;
Harus diangin - anginkan sebelum ternak diberi silase;
Sebaiknya pemberian dilakukan sedikit demi sedikit;
Bagi sapi perah, silase sebaiknya diberikan sesudah pemerahan, sebab air susu bersifat menyerap bau;
Pemberian silase sebaiknya dibarengi dengan pemberian air minum yang cukup untuk menetralkan kadar asam yang tinggi.
Langkah Kerja dan Penugasan
No Urutan Langkah Kerja / Penugasan Keterangan 1 Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2 Potong rumput sepanjang 5 – 10 cm dan layukan 3 Campur bahan pengawet bila diperlukan
4 Masukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil dipadatkan
5 Tutup rapat - rapat, pertama dengan plastik, baru ditimbun dengan tanah serta beri pemberat
Pembuatan Jerami Padi Fermentasi
Usaha sapi potong yang diperuntukkan untuk menghasilkan daging berkualitas baik, pada umunya dihadapkan pada masalah ketersediaan pakan baik berupa hijauan maupun konsentrat. Produksi hijauan pakan menjadi lebih terbatas karena pertambahan penduduk yang membutuhkan lahan untuk pemukiman, perluasan lahan untuk produksi pangan dan pembangunan subsektor lainnya. Oleh sebab itu penyediaan pakan memerlukan pengolahan limbah pertanian yang relatif sederhana untuk mendukung ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang tersedia dalam jumlah cukup banyak dibanding dengan limbah pertanian lainnya, serta mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian menjadi kompos. Ternak sapi yang menkonsumsi jerami padi menghasilkan kotoran (pupuk kandang), yang nantinya apabila dikelola secara baik, akan menjadi pupuk organik dan akan bermanfaat optimal bagi tanaman. Jerami padi dapat
digunakan untuk pakan sapi potong dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun. Sehingga pada lokasi yang mampu panen 2 kali setahun akan tersedia pakan berserat untuk 4 - 6 ekor sapi.
Hambatan pemanfaatan jerami padi secara luas sebagai sumber pakan ternak adalah rendahnya nilai nutrisi bila dibandingkan dengan hijauan pakan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dapat diperbaiki dengan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi.
Cara yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak sapi adalah melalui proses fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (starbio, starbioplus, probion). Hal ini akan meningkatkan motivasi untuk meningkatkan ternak sapi yang dipelihara.
Pembuatan jerami padi fermentasi dengan sistem terbuka. Proses fermentasi terbuka dilakukan pada tempat terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan 1 ton jerami fermentasi adalah : 1 ton jerami padi segar, Probion (probiotik) 2,5 kg, Urea 2,5 kg, dan air secukupnya.
Cara Pembuatan
Proses pembuatan dibagi dua tahap, yaitu tahap fermentatif dan pengeringan serta penyimpanan. Pada tahap pertama, jerami padi yang baru dipanen dari sawah dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan, dan diharapkan masih mempunyai kandungan air 60%. Jerami padi segar yang akan dibuat menjadi jerami padi fermentasi ditimbun dengan ketebalan kurang lebih 20 cm kemudian ditaburi dengan Probion dan urea. Tumpukan jerami tersebut dapat dilakukan hingga ketinggian sekitar 3 meter. Setelah pencampuran dilakukan secara merata, kemudian didiamkan selama 21 hari agar proses fermentatif dapat berlangsung dengan baik.
Tahap kedua adalah proses pengeringan dan penyimpanan jerami padi fermentasi. Pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari dan dianginkan sehingga cukup kering sebelum disimpan pada tempat yang terlindung. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasi dapat diberikan pada ternak sebagai pakan pengganti rumput segar.
Pembuatan Amoniasi Jerami
Penyediaan pakan masih merupakan masalah yang sering dihadapi para peternak (khusus ternak ruminansia) terutama pada musim kemarau.
Pemanfaatan produksi hijauan pakan yang melimpah, dengan cara pengawetan segar (silase) dan pemanfaatan limbah - limbah pertanian seperti jerami padi untuk pakan merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah penyediaan pakan.
Jerami merupakan sumber serat kasar dan energi yang cukup potensial di Indonesia, mengingat sebagian besar lahan pertanian pangan terdiri dari areal penanaman padi. Potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk keperluan pakan, karena ada kecenderungan jerami padi digunakan sebagai pupuk kompos untuk tanaman padi. Selain itu kendala lain dalam memanfaatkan jerami padi adalah :
1. Rendahnya potensi nutrisi (kandungan protein rendah dan kandungan serat kasarnya tinggi);
2. Palatabilitasnya rendah;
3. Kecernaannya rendah.
Dengan adanya kendala tersebut, petani - petani cenderung menggunakan hijauan pakan segar sepanjang tahun, padahal ketersediaan hijauan di musim kemarau sangat terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu yang dilakukan adalah pengolahan jerami padi dengan metode amoniasi.
Potensi jerami padi di Indonesia sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan, tetapi nutrisi dan kecernaannya sangat rendah. Untuk meningkatkan kecernaannya, telah banyak dilakukan berbagai perlakuan terhadap jerami padi seperti perlakuan fisik, biologis maupun kimia.
Perlakuan fisik misalnya dengan cara pencacahan jerami menjadi potongan - potongan kecil, sehingga luas penampang menjadi semakin bertambah dan peluang penetrasi enzim dari mikroba rumen semakin tinggi, akibatnya kecernaan pakan meningkat. Perlakuan biologis biasanya dengan memanfaatkan bakteri atau jamur tertentu atau dengan menambahkan enzim selulase. Pelakuan kimia biasanya dengan penambahan larutan alkalis, sehingga suasana basa tersebut dapat merenggangkan ikatan hidrogen pada lignin dan silika dengan selulosa dan hemiselulosa, juga merenggangkan
jaringan serat dan memutuskan struktur dinding sel sehingga perombakan oleh bakteri dapat dilakukan.
Sumber ammonia yang sering digunakan adalah urea, sering dikenal dengan metode urasi amoniasi. Prinsip kerjanya yakni memanfaatkan gugus NH3 pada urea sumber ammonia untuk peregangan ikatan - ikatan lignin dan silika dengan selulosa dan hemiselulosa. Alasan pemakaian urea :
1. Harganya relatif murah;
2. Mudah didapat dan banyak diperoleh dimana - mana;
3. Menambah kandungan N (Nitrogen) bahan hasil awetan;
4. Tingkat kelarutannya tinggi sehingga kerjanya cepat.
Prosedur Pembuatan / Pengolahan Amoniasi Jerami 1. Siapkan jerami padi dan bersihkan dari kotoran;
2. Jerami yang telah bersih dikeringkan sehingga kadar airnya 10 - 20%;
3. Jerami dicacah menjadi potongan - potongan kecil (5 - 10 cm);
4. Buat larutan urea 6%, yaitu mencampurkan 60 gram urea dengan air sehingga larutan menjadi 1 liter;
5. Campurkan jerami cacahan dengan larutan urea semerata mungkin dengan cara disiramkan dengan perbandingan 1 : 1 (satu liter larutan urea untuk satu kilogram jerami padi);
6. Untuk tempat amoniasi disiapkan plastik dengan ukuran disesuaikan;
7. Masukkan campuran jerami dan larutan urea kedalam kantong plastik dan diikat sedemikian rupa hingga kedap udara dan air;
8. Simpan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung selama ± 21 hari;
9. Setelah cukup waktunya, hasil olahan dapat dibuka dan hati - hati pada saat membuka karena mengeluarkan gas amonia.
Cara lain dalam pengolahan jerami amoniasi yaitu jika jerami yang dipakai dalam keadaan segar / baru selesai panen maka perbandingan penggunaan urea dan jerami adalah 1 (satu) ton jerami, menggunakan 5 - 6 kg urea, ditaburkan secara merata pada tumpukan jerami setiap 20 cm hingga mencapai ketinggian 2 - 3 meter. Jerami yang akan diolah disimpan pada ruangan tertutup (tidak terkena sinar matahari langsung). Jika jerami yang dipakai dalam keadaan kering maka urea yang digunakan dilarutkan dulu kedalam air dimana dalam 1
(satu) ton jerami, kandungan / kadar air harus dibuat 60%. Berdasarkan suatu percobaan jerami yang diamoniasi, kandungan proteinnya meningkat dengan daya cerna yang juga meningkat.
Jerami padi amoniasi dapat diberikan pada ternak setelah diangin - anginkan terlebih dahulu. Sebaiknya pemberian jerami padi amoniasi dibarengi dengan ransum konsentrat berenergi tinggi yakni karbohidrat agar tidak keracunan. Perbandingan pemberian konsentrat dengan jerami amoniasi yang direkomendasikan untuk sapi penggemukan adalah 30 : 70 dari ransum (30 konsentrat : 70 jerami amoniasi).
2. Rangkuman
Hay adalah hijauan pakan yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar dapat diberikan pada ternak pada waktu lain. Maksud pembuatan hay ialah mengawetkan hijauan pakan dengan jalan mengeringkan, baik dengan panas matahari maupun panas buatan.
Tujuan pembuatan hay ditujukan untuk memenuhi :
Persediaan pakan pada saat - saat paceklik;
Pemanfaatan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik dan belum digunakan;
Pakan utama selama ternak dalam perjalanan;
Perdagangan.
Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air sampai menjadi 15 - 20% dengan bantuan panas matahari atau panas buatan. Lama pengeringan tergantung kepada kekuatan sumber pemanas, angin, kelembaban dan bentuk fisik hijauan.
Kualitas hay tergantung pada tiga faktor yaitu :
Kualitas hijauan;
Teknik pembuatan;
Kegiatan mikroorganisme yang berakibat buruk.
Silase adalah hijauan pakan yang diawetkan dalam bentuk segar dengan kadar air 60 - 70% dalam suatu tempat yang disebut silo. Pembuatan silase atau yang dikenal dengan pengawetan hijauan dalam bentuk segar bertujuan :
Sebagai persediaan pakan yang dapat digunakan pada saat kekurangan hijauan pakan;
Untuk menampung kelebihan hasil hijauan pakan;
Memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik yang pada saat itu belum digunakan;
Mendayagunakan hasil ikutan pertanian.
Prinsip pembuatan silase ialah mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) di tempat penyimpanan dan membuat suasana asam (pH rendah), karena dalam keadaan tersebut, bakteri pembusuk dan jamur berhenti bekerja atau mati sehingga hijauan pakan yang diawetkan dapat tahan lama.
Selain itu dalam pembuatan silase, perlu ditambahkan bahan pengawet.
Tujuan pemberian bahan pengawet adalah untuk mempercepat penurunan pH.
Bahan yang digunakan sebagai pengawet biasanya bahan yang banyak mengandung karbohidrat, seperti :
Tetes (melase / molases) sebanyak 3% dari bahan silase,
Dedak halus sebanyak 3% dari bahan silase,
Menir sebanyak 3% dari bahan silase,
Onggok sebanyak 3% dari bahan silase.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang tersedia dalam jumlah cukup banyak dibanding dengan limbah pertanian lainnya, serta mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jerami padi dapat digunakan untuk pakan sapi potong dewasa.
Hambatan pemanfaatan jerami padi secara luas sebagai sumber pakan ternak adalah rendahnya nilai nutrisi bila dibandingkan dengan hijauan pakan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dapat diperbaiki dengan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi.
Cara yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak sapi adalah melalui proses fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (starbio, starbioplus, probion). Hal ini akan meningkatkan motivasi untuk meningkatkan ternak sapi yang dipelihara.
Pembuatan jerami padi fermentasi dapat dilakukan dengan sistem terbuka. Proses fermentasi terbuka dilakukan pada tempat terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung.
Potensi jerami padi di Indonesia sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan, tetapi nutrisi dan kecernaannya sangat rendah. Untuk meningkatkan kecernaannya, telah banyak dilakukan berbagai perlakuan terhadap jerami padi seperti perlakuan fisik, biologis maupun kimia.
Pelakuan kimia biasanya dengan penambahan larutan alkalis, sehingga suasana basa tersebut dapat merenggangkan ikatan hidrogen pada lignin dan silika dengan selulosa dan hemiselulosa, juga merenggangkan jaringan serat dan memutuskan struktur dinding sel sehingga perombakan oleh bakteri dapat dilakukan. Sumber ammonia yang sering digunakan adalah urea, sering dikenal dengan metode urasi amoniasi.
3. Lembar Kerja Siswa
Setelah mempelajari materi diatas, kerjakanlah soal – soal latihan dibawah ini !
4. Sebutkan dan jelaskan tujuan, prinsip dan cara pembuatan hay!
5. Sebutkan dan jelaskan tujuan, prinsip dan cara pembuatan silase!
6. Sebutkan dan jelaskan alasan pemakaian urea dalam pembuatan amoniasi Jerami dan prosedur pembuatan amoniasi Jerami!
B. REFLEKSI DIRI
Melalui materi yang dipelajari, siswa diajak untuk memahami dan nantinya dapat melakukan pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia.
C. DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, C. P.. 2007. Agribisnis Ternak Ruminansia. Buku Teks Pelajaran.
Direktorat Pembinaan SMK. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.