MODUL AGRIBISNIS PAKAN TERNAK RUMINANSIA
KELAS XI SEMESTER GENAP
KOMPETENSI KEAHLIAN AGRIBISNIS TERNAK RUMINANSIA
Pengajar
Feny Ismanto Ballo, S.Pt, M.Si
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
PERTANIAN PEMBANGUNAN (SMK PP) NEGERI KUPANG
TAHUN AJARAN 2021 / 2022
BAB I PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Kompetensi Dasar 3.9 : Menerapkan Uji Kualitas Bahan Pakan dan Pakan Ternak Ruminansia
Kompetensi Dasar 4.9 : Melakukan Uji Kualitas Bahan Pakan dan Pakan Ternak Ruminansia
Indikator : Uji Kualitas Bahan Pakan dan Pakan Ternak Ruminansia diketahui, dipahami dan dilakukan.
Alokasi Waktu : 2 x 4 x 45 menit (4 T 4 P) B. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Siswa membaca dan mempelajari materi pembelajaran dengan seksama, 2. Setelah membaca dan mempelajari, siswa dapat melakukan uji kualitas
bahan pakan dan pakan ternak ruminansia,
3. Siswa mengerjakan soal – soal latihan yang terdapat pada Lembar Kerja Siswa (LKS)
BAB II
KEGIATAN PEMBELAJARAN A. KEGIATAN BELAJAR
1. Kompetensi Dasar : Menerapkan Uji Kualitas Bahan Pakan dan Pakan Ternak Ruminansia
Uji kualitas merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam suatu proses untuk menghasilkan pakan yang bermutu. Uji kualitas yang ketat yang dilakukan terhadap semua bahan pakan yang akan digunakan dalam pembuatan pakan, diharapkan akan berdampak positif yaitu dapat dihasilkan pakan yang juga berkualitas. Uji kualitas dilakukan dengan tahapan mulai dari uji kualitas bahan pakan, proses produksi dan pakan jadi.
1) Bahan pakan
Bahan pakan atau bahan baku pakan menjadi titik vital pertama yang menentukan kualitas pakan yang dihasilkan. Bahan pakan yang sama, berasal dari supplier yang sama belum tentu memiliki kualitas yang sama. Hal ini karena kualitas bahan pakan sangat dipengaruhi oleh proses pembuatan bahan pakan, kondisi musim maupun handling, dan pengiriman. Oleh karenanya kontrol kualitas tetap dilakukan pada setiap kedatangan bahan baku, meski berasal dari supplier yang sama.
Jika bahan baku pakan tersebut disimpan selama periode waktu tertentu, kontrol kualitas hendaknya dilakukan secara periodik, misalnya 1 bulan sekali. Hal ini untuk melihat penurunan kualitas selama penyimpanan. Harapannya bahan baku tersebut masih memiliki nutrisi yang sesuai dengan rentang yang direkomendasikan sehingga pakan yang dihasilkan memiliki kandungan nutrisi yang sesuai. Jika ditemukan bahan baku pakan yang menurun kualitasnya bisa dengan cepat mengantisipasinya.
2) Proses produksi
Selama proses produksi hendaknya dilakukan juga kontrol kualitas berupa pengambilan sampel, terutama selama proses produksi dan sebelum pengemasan. Pada self mixing bisa saja dilakukan setelah proses mixing (pencampuran) selesai. Berdasarkann hasil uji kualitas ini dapat diketahui
apakah proses pencampuran bahan pakan dapat berjalan optimal sehingga tercampur dengan homogen.
3) Pakan jadi
Kontrol kualitas pakan jadi dilakukan setelah pakan dikemas dan disimpan di gudang penyimpanan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa pakan yang akan digunakan atau dipasarkan memiliki kualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Jenis - Jenis Uji Kualitas Bahan Pakan dan Pakan
Uji kualitas selama ini mungkin diidentikkan dengan sesuatu yang rumit, memerlukan peralatan khusus, dan keahlian tersendiri. Anggapan ini ada benarnya. Uji kualitas dilakukan untuk mengetahui komponen atau bagian kecil dari suatu bahan pakan atau pakan sehingga memerlukan metode dan peralatan khusus, terutama untuk mengetahui kadar nutrisi tertentu. Namun demikian, masih banyak pula metode simple (sederhana) yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kualitas bahan pakan dan pakan atau mengetahui adanya kontaminasi bahan asing.
Secara umum uji atau kontrol kualitas secara mendetail membutuhkan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu diperlukan uji praktis untuk mendeteksi kualitas bahan baku pakan, salah satunya adalah uji kualitas bahan pakan dan pakan secara fisik.
Sesuai dengan namanya, untuk menilai kualitas bahan baku atau pakan jadi, kita bisa melakukan serangkaian uji yang meliputi uji fisik, kimia, dan biologi.
I. Uji Fisik
Uji fisik atau uji organoleptik dilakukan dengan panca indera yang terdiri dari 4 M yaitu melihat tampilan fisik (warna normal, tidak berjamur, tidak menggumpal, dll), meraba (lembab, kering, halus, kasar, atau panas), mencium (segar, tengik, atau asam) dan merasakan (asin atau tawar). Untuk melakukan uji organoleptik dituntut pengalaman dan keterampilan pelaksana uji tersebut.
Uji kualitas fisik ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu :
1) Pengamatan visual (penglihatan)
Dilakukan dengan melihat fisik dari bahan baku atau pakan, diantaranya warna, tekstur, konsistensi, ada tidaknya bahan asing, jamur, serangga atau kumbang penggerek ataupun gumpalan.
2) Diraba
Kontrol kualitas ini biasanya dilakukan untuk mendeteksi adanya campuran sekam pada bekatul. Caranya ambil sesendok bekatul dan letakkan pada telapak tangan. Ambil sejumput dan gosok-gosokkan diantara jari, jika terlalu kasar bisa disimpulkan bahwa bekatul tercampur sekam. Bisa juga dengan menekan segenggam bekatul, jika kualitas bekatul itu baik, akan terbentuk cetakan jari pada bekatul tersebut. Tepung ikan dengan kadar air tinggi akan terasa panas dan lengket pada tangan.
3) Dibau (aroma)
Beberapa jenis bahan pakan tertentu memiliki bau atau aroma yang spesifik, seperti tepung ikan, tepung daging, bungkil kelapa dan bungkil kelapa sawit.
Jika terjadi penyimpangan bau (aroma) dari bahan pakan tersebut dapat diindikasikan terjadinya cemaran dari bahan lain atau bahan pakan lain.
Penyimpangan bau (aroma) juga dapat mengindikasikan bahwa bahan pakan atau pakan telah mengalami kerusakan, misalnya dedak atau pakan yang berbau apek atau tengik, berarti dedak atau pakan tersebut sudah mengalami kerusakan.
4) Dirasa
Dalam kontrol kualitas ini kita menggunakan indra perasa kita yaitu lidah.
Biasanya dilakukan untuk mengetahui kadar garam pada tepung ikan. Jika rasa asin mirip dengan asinan maka diperkirakan kadar garamnya 5%, namun jika rasa asinnya seperti pada masakan, diprediksikan kadar garamnya berkisar 2-3%.
5) Suara
Identifikasi berdasarkan suara bisa memprediksikan kadar air biji-bijian. Biji- bijian yang dikeringkan dengan baik saat digoyang-goyang dalam kepalan tangan akan terdengar lebih nyaring. Begitu juga jika digigit, suara patahannya lebih keras.
6) Uji apung
Uji apung biasanya dilakukan untuk menguji kandungan sekam yang tercampur di dalam dedak padi. Uji apung dilakukan dengan cara memasukkan sampel bahan pakan (dedak) ke dalam wadah yang sudah berisi air. Kemudian diamati untuk mengetahui bagian dedak yang tenggelam dan yang terapung. Jika lebih banyak bagian dedak yang terapung berarti dedak tersebut kualitasnya kurang baik karena diindikasikan banyak tercampur sekam. Sebaliknya jika banyak bagian dedak yang tenggelam berarti dedak tersebut relatif baik, karena sebagian besar terdiri dari kulit ari dan butiran beras pecah.
7) Bulk density (kepadatan)
Uji kepadatan (bulk density) ini dilakukan dengan mengukur volume dan berat dari sampel bahan baku pakan. Masing-masing bahan baku telah memiliki standar bulk density tersendiri, contohnya ialah jagung 626 g/l (1 liter jagung memiliki berat 626 gram), bekatul 351 - 337 g/l, tepung ikan 562 g/l, tepung daging dan tulang (MBM) 594 g/l, bungkil kedelai (SBM) 594 - 610 g/l. Apabila kepadatannya melebihi atau kurang standar tersebut ada kemungkinan ada bahan kontaminan (cemaran).
8) Kontrol kualitas mikroskopis
Uji kualitas ini merupakan tindak lanjut dari uji organoleptik. Sesuai dengan namanya diperlukan mikroskop dengan pembesaran 90 - 500 x sebagai alat bantunya. Inti dari uji ini ialah melihat tekstur bahan baku dan bahan kontaminan dengan lebih cermat lagi menggunakan alat bantu mikroskop.
II. Uji Kimia
Uji kimia dilakukan di laboratorium untuk mengetahui nilai atau kadar nutrisi bahan baku maupun pakan jadi. Terkait uji kualitas pakan yang dilakukan di laboratorium, beberapa parameter yang hendaknya diuji adalah sebagai berikut:
Kadar air
Kadar air menentukan lama penyimpanan pakan dan persentase kandungan nutrisi lainnya. Kadar air yang melebihi standar akan memicu tumbuhnya jamur.
Protein kasar
Protein kasar merupakan parameter yang paling banyak diuji. Protein sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan produksi ternak. Namun saat kadarnya berlebih bisa memicu kotoran basah dan kadar amonia meningkat.
Sedangkan jika kadarnya kurang berakibat mengganggu pertumbuhan dan produktivitas ayam.
Lemak kasar
Merupakan sumber energi dan pelarut vitamin A, D, E, dan K. Kadar lemak yang berlebih akan mempercepat proses ketengikan pakan. Akan tetapi jika kadarnya kurang akan menyebabkan turunnya penyerapan vitamin (A, D, E, K), menurunkan palatabilitas pakan dan membuat pakan mudah berdebu.
Serat kasar
Serat kasar berpengaruh terhadap laju alir pakan dan penyerapan nutrisi dalam saluran pencernaan. Saat kadarnya berlebihan akan menurunkan nafsu makan dan pakan lebih banyak yang tidak tercerna. Sedangkan jika kekurangan akan menganggu penyerapan nutrisi pakan.
Abu (mineral)
Menggambarkan kandungan mineral total dalam pakan. Kelebihan kadar abu dapat menurunkan nafsu makan dan mengganggu keseimbangan serta penyerapan mineral lainnya. Sedangkan kekurangan kadar abu akan menganggu proses metabolisme tubuh, menghambat pertumbuhan tulang, dan menganggu kerja otot.
Kalsium dan fosfor
Kalsium dan fosfor merupakan dua mineral makro yang sangat berpengaruh terhadap kualitas kerabang telur dan kerangka tubuh (tulang) ayam. Selain itu, fosfor sangat diperlukan dalam proses metabolisme. Kelebihan kalsium dan fosfor akan mengganggu penyerapan nutrisi dan memperberat kerja ginjal. Namun kekurangan keduanya akan mengganggu pertumbuhan tulang dan kualitas kerabang telur.
Kadar mikotoksin (racun jamur)
Mikotoksin senantiasa mencemari pakan. Kadar yang sedikit pun akan tersimpan dan terakumulasi di dalam tubuh ternak. Uji kadar mikotoksin akan
membantu kita dalam melakukan treatment pencegahan serangan mikotoksin sejak dini.
Kadar energi
Kadar energi yang dideteksi dari uji pakan adalah energi bruto yang bisa dikonversi dengan konstanta menjadi energi metabolisme. Kandungan energi sangat menentukan produktivitas dan tingkat konsumsi pakan.
Kadar garam (NaCl)
Garam berfungsi sebagai sumber mineral natrium dan klorida. Uji kadar garam dapat digunakan juga untuk identifikasi tingkat homogenitas pakan.
Kadar garam yang berlebih akan memicu kotoran basah.
III. Uji Biologi
Uji biologis dilakukan untuk mengetahui pengaruh nutrisi pakan yang dibuat dengan mengamati pertumbuhan ternak selama beberapa waktu. Evaluasi suatu bahan pakan atau ransum dapat dilakukan secara biologi untuk mengetahui palatabilitasnya, daya cernanya, daya serap, angka manfaat, dan nilai tinggal suatu zat makanan.
1). Palatabilitas
Palatabilitas adalah daya kesukaan ternak terhadap suatu bahan pakan atau ransum. Palatabilitas ditentukan oleh kualitas bahan tersebut atau kebiasaan ternak terhadap bahan atau ransum. Palatabilitas diasosiasikan dengan jumlah pakan yang dimakan atau dikonsumsi (feed intake). Konsumsi atau feed intake dapat dihitung dari pakan yang ditawarkan dikurangi dengan pakan yang tersisa.
KP = PYT – PS Keterangan :
KP = Konsumsi Pakan
PYT = Pakan yang ditawarkan PS = Pakan Sisa
2). Daya Cerna
Evaluasi daya cerna dapat dilakukan dengan berbagai metode. Daya cerna dapat dipengaruhi dengan kemampuan ternak memotong atau mengunyah
pakan. Keadaan fisik dan kima pakan dan ketersediaan enzim untuk memutuskan rantai-rantai zat pakan dalam proses pencernaan.
3). Penyerapan
Penyerapan adalah proses dimana zat hasil pencernan ditransfer dari rumen alat pencernaan ke darah atau limpa. Zat yang diserap dibawa ke jaringan tubuh untuk degradasi, proses pembentukan atau untuk disimpan.
4). Angka Manfaat
Angka manfaat merupakan istilah yang digunakan untuk mengetahui berapa besar zat pakan yang dicerna dan diserap dapat dimanfaatkan untuk kepentingan metabolisme, pertumbuhan dan untuk reproduksi dan produksi.
Hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum melakukan uji kualitas pakan adalah pengambilan sampel harus tepat agar hasil uji akurat.
Pengambilan sampel pakan yang dikemas dalam karung maupun pakan curah dapat dilakukan menggunakan probe atau alat penusuk dengan beberapa lubang. Sampel bahan baku pakan yang masih berada di truk pengangkut diambil secara acak, minimal 7 - 9 titik pada bak truk depan (dekat kepala truk), tengah, dan belakang. Sedangkan pengambilan sampel di gudang pakan dilakukan secara acak dengan menerapkan sistem zig - zag minimal 10% dari total karung.
Untuk pakan hasil self mixing, baik menggunakan mesin mixer atau diaduk manual, kita bisa mengambil sampel pada bagian atas, tengah, dan bawah hasil adukan. Kumpulkan semua sampel yang didapat (± 2 kg) dalam nampan besar, aduk, dan ratakan. Buat diagonal menjadi 4 bagian, kemudian ambil dari masing- masing bagian hingga terkumpul 600 – 1000 g. Ulangi 8lastic tersebut hingga diperoleh jumlah sampel 300 – 500 g. Hasil sampling dengan metode quartering tersebut dimasukkan ke dalam 8lastic dan diberi label dengan kode yang sesuai. Sampel yang sudah dikemas ke dalam 8lastic kemudian dimasukkan ke dalam kardus atau filopur dan dikemas dengan rapi. Sedangkan untuk sampel bahan baku pakan bentuk cair sebagai contoh molases atau minyak, minimal jumlah sampel yang diambil sekitar 500 ml.
2. Rangkuman
Uji kualitas dilakukan untuk mengetahui komponen atau bagian kecil dari suatu bahan pakan atau pakan sehingga memerlukan metode dan peralatan khusus, terutama untuk mengetahui kadar nutrisi tertentu. Namun demikian, masih banyak pula metode simple (sederhana) yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kualitas bahan pakan dan pakan atau mengetahui adanya kontaminasi bahan asing.
Secara umum uji atau kontrol kualitas secara mendetail membutuhkan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu diperlukan uji praktis untuk mendeteksi kualitas bahan baku pakan, salah satunya adalah uji kualitas bahan pakan dan pakan secara fisik.
Sesuai dengan namanya, untuk menilai kualitas bahan baku atau pakan jadi, kita bisa melakukan serangkaian uji yang meliputi uji fisik, kimia, dan biologi.
Hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum melakukan uji kualitas pakan adalah pengambilan sampel harus tepat agar hasil uji akurat.
Pengambilan sampel pakan yang dikemas dalam karung maupun pakan curah dapat dilakukan menggunakan probe atau alat penusuk dengan beberapa lubang. Sampel bahan baku pakan yang masih berada di truk pengangkut diambil secara acak, minimal 7 - 9 titik pada bak truk depan (dekat kepala truk), tengah, dan belakang. Sedangkan pengambilan sampel di gudang pakan dilakukan secara acak dengan menerapkan sistem zig - zag minimal 10% dari total karung.
3. Lembar Kerja Siswa
Setelah mempelajari materi diatas, kerjakanlah soal – soal Latihan dibawah ini !
1. Untuk menilai kualitas bahan baku atau pakan jadi, kita bisa melakukan serangkaian uji yang meliputi uji apa saja. Sebutkan dan jelaskan?
B. REFLEKSI DIRI
Melalui materi yang dipelajari, siswa diajak untuk memahami dan nantinya dapat melakukan uji kualitas bahan pakan dan pakan ternak ruminansia.
C. DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, C. P.. 2007. Agribisnis Ternak Ruminansia. Buku Teks Pelajaran.
Direktorat Pembinaan SMK. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Hartadi, H., Reksohadiprodjo, S. dan Tillman A.D. 1986. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
BAB III PENUTUP
Ketuntasan belajar minimal siswa pada mata pelajaran Agribisnis Pakan Ternak Ruminansia (APTR) kelas XI Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR) adalah 75, yang berasal dari penilaian ranah Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan. Acuan penilaian pada ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan didasarkan pada berbagai komponen diantaranya ketepatan waktu dalam mengumpulkan LKS / tugas yang diberikan, ketepatan dalam menyelesaikan soal pada LKS / tugas sesuai materi yang diberikan oleh guru.
Bagi siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar minimal sesuai kompetensi dasar yang diberikan, akan diberikan remidial agar mampu menuntaskan kompetensi dasar tersebut, sedangkan bagi siswa yang telah tuntas pada kompetensi dasar yang diberikan akan diberi program pengayaan untuk membekali siswa dengan materi pembelajaran selanjutnya.
BAB I PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Kompetensi Dasar 3.10 : Menerapkan budidaya hijauan pakan ternak ruminansia
Kompetensi Dasar 4.10 : Melakukan budidaya hijauan pakan ternak ruminansia
Indikator : Budidaya hijauan pakan ternak ruminansia diketahui, dipahami dan dilakukan.
Alokasi Waktu : 3 x 4 x 45 menit (6 T 6 P) B. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Siswa membaca dan mempelajari materi pembelajaran dengan seksama, 2. Setelah membaca dan mempelajari, siswa dapat melakukan budidaya
hijauan pakan ternak ruminansia,
3. Siswa mengerjakan soal – soal latihan yang terdapat pada Lembar Kerja Siswa (LKS).
BAB II
KEGIATAN PEMBELAJARAN A. KEGIATAN BELAJAR
1. Kompetensi Dasar : Menerapkan budidaya hijauan pakan ternak ruminansia
Tantangan pengembangan peternakan tidak bisa terlepas dari sub sektor lain yang erat kaitannya dengan sub sektor peternakan, karena peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian. Pertumbuhan dan perkembangan sub sektor peternakan sangat tergantung dari pertumbuhan dan perkembangan sektor - sektor lain yang terkait. Dengan pergeseran skala usaha peternakan dari sistim peternakan tradisional menuju ke sistim pemeliharaan yang bersifat semi intensif, misalnya dalam pemeliharaan sapi potong yang dulunya di lepas di padang penggembalaan dengan mengandalkan padang rumput, namun di era modern ini dengan semakin terbatasnya lahan tanaman rumput maka sistim pemeliharaan yang lebih intensif yang diarahkan untuk peningkatan berat badan.
Sehubungan hal tersebut maka pakan ternak dalam bentuk hijauan makanan ternak semakin menjadi kebutuhan yang utama dan harus tersedia sepanjang tahun. Hijauan makanan ternak perlu dikembangkan, dipelihara secara intensif, sehingga dibutuhkan petunjuk penanaman hijauan makanan ternak.
A. Pemilihan Lokasi
Memilih untuk menetapkan lokasi penanaman rumput hijauan makanan ternak ada beberapa faktor yang perlu dijadikan bahan pertimbangan sebagai berikut :
1. Kesuburan Tanah
Tanah-tanah yang tersedia untuk penanaman hijauan makanan ternak umumnya termasuk berkualifikasi rendah, sebab tanah-tanah yang termasuk kualifikasi tinggi (kelas I,II dan III) umumnya digunakan untuk usaha tani tanaman pangan, karena itu penanaman hijauan pada tanah yang berkualifikasi rendah diperlukan perlakuan khusus, terutama dalam hal pengelolaan tanah dan pemupukan.
2. Topografi
Topografi atau ketinggian dan kemiringan akan sangat menentukan sistem pengolahannya. Tanah yang mempunyai kemiringan tinggi diperlukan upaya khusus dalam penanaman hijauan/rumput, sehingga kelestarian kesuburan tanah tetap terjamin. Pada tanah yang kemiringannya 15 0 C perlu dibuatkan sengkedan/terasering dan penanaman rumput dilakukan dengan sistem kontour. Kemiringan tanah pun harus menentukan daya tampung penggembalaan, makin tinggi tingkat kemiringan makin rendah daya tampung penggembalaan.
3. Sumber air
Sumber air untuk keperluan ternak dan padang rumput merupakan faktor penting dalam usaha peternakan, terutama peternakan sapi perah, seekor sapi dewasa membutuhkan air minum 30 - 40 liter setiap hari. Karena itu, penyediaan sumber air pada suatu kebun rumput merupakan syarat yang perlu dipenuhi, terutama bagi kebun rumput yang dipersiapkan untuk penggembalaan.
4. Kemudahan Transportasi
Untuk mepermudah pengangkutan hasil hijauan pakan ternak, pilihlah lokasi yang dekat dengan jalan, karena berdasarkan pengalaman bila hijauan pakan ternak ditanam jauh dengan jalan orang akan cenderung malas mengangkutnya, apalagi lokasinya atau lahannya miring. Disamping itu pada lahan yang miring dan jauh dengan jalan biaya pemanenannya akan lebih besar.
B. Pemilihan Jenis Hijauan
Untuk menanam jenis hijauan unggul tertentu, pilihlah hijaun yang sesuai dengan faktor lklim dan lingkungan setempat serta sistem penyajian yang akan dilakukan (apakah untuk penggembalaan/grazing atau potongan/soiling).
Cara penyajian hijauan yang akan dilakukan memerlukan jenis-jenis hijauan dengan sifat tumbuh tertentu, peternakan yang melakukan penyajian penghijauan dengan cara pemotongan, sedang arel tanah terbatas, maka menghendaki jenis hijauan yang berproduksi tinggi, misalnya rumput gajah (Pennisettum peurpureum) atau rumput benggala (Panicum maximum).
Penyajian hijauan dengan cara penggembalaan memerlukan jenis hijauan yang tahan injakan, renggutan, tumbuh tidak terlalu tinggi dan toleran terhadap musim kemarau yang panjang, misalnya Brachiaria decumbens (rumput bede), rumput kolonjono (Panicum muticum) dan lain - lain.
C. Pengolahan Tanah
Jarak waktu pengolahan tanah dengan saat penanaman jangan terlalu lama. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan pemadatan kembali tanah yang sudah diolah atau tumbuhnya kembali tanaman liar. Pertumbuhan awal hijauan yang ditanam sangat peka terhadap kekeringan karena itu, waktu terbaik pengolahan tanah ialah saat terakhir musim kemarau, sehingga penanaman dapat berlangsung pada awal musim hujan. Pengolahan tanah dimaksudkan mempersiapkan media tumbuh yang optimum bagi tanaman. Tahap - tahap pengolahan tanah meliputi kegiatan - kegiatan sebagai berikut :
1. Pembersihan Tanah
Yang penting diperhatikan disini ialah : membunuh semua tanaman pengganggu, sedang pohon - pohon yang tumbuh disekitar sumber dan atau di tanah kritis sebaiknya tidak diganggu dan dibiarkan tumbuh.
2. Pembalikan Tanah
Membalikan tanah dilakukan dengan menggunakan cangkul, bajak atau traktor. pembalikan tanah dimasukan untuk mempermudah penggemburan.
Setelah tanah dibalik, dibiarkan selama 2 - 3 hari dengan maksud agar mineralisasi bahan-bahan organik dapat berlangsung lebih cepat. Tanah berat yang berstruktur padat, sebaiknya dibajak 2 kali, sedangkan tanah yang berstruktur ringan cukup 1 kali.
3. Penggemburan Tanah
Menggemburkan tanah ialah menghancurkan tanah dari bongkahan - bongkahan padat, menjadi tanah yang berstruktur remah dan sekaligus membersihkan tanah dari sisa - sisa akar atau bagian tanaman yang tidak dikehendaki.
Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dengan pupuk organik dianjurkan untuk dilakukan bersamaan dengan tindakan penggemburan ini
agar pupuk sekaligus dapat tersebar secara merata pada akhir penggemburan.
D. Bibit dan Penanaman
Pemilihan Bibit dan Bahan Penanaman a. Pemilihan bibit
Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bibit tertentu :
1. Sesuai dengan lingkungan setempat, 2. Mudah diperkembangkan dan dikelola,
3. Kemungkinan bisa memberikan produksi yang lebih tinggi.
b. Bahan penanaman
Bahan penanaman yang umum dipergunakan sebagai bibit adalah biji, pols dan stek.
1. Penanaman dengan biji
Untuk menjamin proses perkecambahan biji yang sempurna, diperlukan kontak yang erat dengan butiran tanah. Keadaan ini bisa dicapai dengan cara membenamkan biji ke dalam tanah. Peternak harus bisa menggolongkan biji tersebut.
Sebagai pedoman, biji hijauan digolongkan menjadi 3 macam, yaitu : - Ukuran besar, dibenamkan sampai kurang lebih 3 cm. Biji tersebut
misalnya Leucaena Sp, Delichos Sp.
- Ukuran sedang, dibenamkan sedalam 1 - 2 cm, misalnya Siratro, Stylosanthes guyanensis, colopogonium, Centrosema pubescens, Plemengia congesta
- Ukuran lembut (halus), dibenamkan sedalam kira - kira 1 cm, misalnya Lotononis ainesii
Penanaman hijauan dengan bahan biji bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1. Penanaman dengan cara larikan
Biasa dilakukan pada areal yang sempit, keuntungannya :
- Mempermudah penanaman, karena sebelumnya sudah dilarik.
- Umumnya hasilnya lebih produktif daripada yang disebar.
- Lebih mudah dilakukan weeding, sehingga pengendalian terhadap rumput liar lebih terjamin.
2. Penanaman biji dengan cara disebar
Biasanya dilakukan pada areal yang luas, atau pada tanah miring.
Cara penanaman ini lebih praktis dan ekonomis. Penanaman biji dengan cara disebar yang baik harus dicarrier berupa tanah ataupun pasir halus.
Cara ini dimaksudkan agar : - Hasil penaburan bisa merata
- Sekaligus biji bisa tertutup oleh tanah Keuntungan penanaman dengan biji
- Hijauan (rumput) akan lebih kuat atau tahan terhadap renggutan - Biji dapat disimpan dengan mudah dan tahan lama
- Cara penanaman biji lebih mudah daripada pols dan stek - Menghemat tenaga/waktu dan biaya.
Kelemahan penanaman dengan biji
- Biji lebih memerlukan waktu penanaman yang tepat
- Penanaman biji diperlukan suatu persiapan awal yang lebih mantap atau pengelolaan yang lebih cermat dan tekun. Kecambah biji ini sangat peka terhadap lingkungan seperti : weed (rumput liar), hama dan penyakit, kekurangan air dan suhu yang tinggi. Diperlukan bedengan yang halus dan bersih
- Kadang - kadang sulit diperoleh biji, sebab pada umumnya jenis rumput tropis sulit membentuk biji. Dalam hal ini leguminose lebih baik.
2. Penanaman dengan Pols
Pols yang terbaik diperoleh dari pecahan rumpun-rumpun yang sehat dan masih mengandung cukup banyak akar serta calon anakan baru. Bahan penanaman rumput dari pols ini akan lebih cepat tumbuh bila dibandingkan dengan menggunakan stek dan biji. Pengambilan bahan pols sebaiknya dipilih rumpun - rumpun yang kelihatan banyak dan sehat.
3. Penanaman dengan Stek
Pengambilan stek atau sering juga disebut dengan pemotongan stek ini dapat menggunakan alat pisau, golok dan sabit yang tajam, dengan harapan agar dihasilkan permukaan potongan yang halus atau tidak cacat. Pemotongan stek apabila menggunakan alat yang tumpul atau kurang tajam dapat mengakibatkan cacat atau rusaknya stek tersebut.
Pemotongan stek dapat dilakukan dengan posisi miring atau datar.
Namun yang baik adalah stek dipotong pada posisi miring. Dengan alasan potongan yang miring pada stek mempunyai permukaan yang lebih luas bila dibandingkan dengan stek yang potongannya datar. Stek batang rumput yang dipotong pada posisi datar atau rata, kemungkinan pecah pada bagian yang digunakan untuk bibit adalah besar.
Penampilan stek yang dipotong pada posisi miring mempunyai kelebihan antara lain bila ditanam akan lebih mudah untuk menancapkannya, bila dibandingkan dengan stek yang dipotong pada posisi datar. Kemudian bila ada hujan atau air siraman yang jatuh pada ujung stek bisa mengalir kebawah, sehingga tidak menyebabkan stek busuk.
Untuk sudut kemiringan pemotongan stek kurang lebih 45 derajat, sedangkan batang atau pucuk yang diambil minimal 2 mata tunas atau panjangnya kurang lebih 20 - 25 cm. Sedangkan cara pengambilan stek terlebih dahulu batang dibersihkan dari pelepah daunnya, baru kemudian dilakukan pemotongan pada posisi miring.
Untuk memperbanyak tanaman makanan ternak dikenal 2 (dua) cara yaitu :
1. Memperbanyak dengan biji (genertif)
Cara ini dilakukan apabila biji tanaman cukup banyak dan mempunyai kemampuan tumbuh yang besar. Cara penanaman dengan biji adalah sebagai berikut :
- Ditaburkan, menghemat waktu dan tenaga.
- Larikan (barisan), mempermudah penyiangan dan pertumbuhan.
- Ditugalkan, jika digunakan biji - biji yang agak besar.
- Secara strip dilakukan untuk pertanaman campuran (lebih dari satu macam tanaman).
2. Memperbanyak dengan Cara Vegetatif
Cara ini dilakukan apabila tanaman tidak menghasilkan biji atau secara vegetatif ini dapat berupa : stek batang, sobekan rumpun dan stolon.
Penanaman secara vegetatif sebaiknya dilakukan dengan menugalkannya, terkecuali untuk stek batang yang dapat langsung ditancapkan ke dalam tanah. Untuk memudahkan penyiangan, sebaiknya penanaman dilakukan secara barisan.
Beberapa syarat yang perlu dilakukan untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif ini :
Stek Batang :
- Panjangnya kira-kira 20 - 25 cm (2 - 3 ruas), kecuali pada kacang - kacangan (5 - 6 ruas)
- Stek dapat ditanam tegak atau miring.
- Tiap lubang dapat ditanami 1 - 2 stek.
- Jangan menggunakan stek yang telalu muda
- Jumlah stek yang diperlukan tergantung pada luas tanah dan jarak tanam.
Sobekan Rumpun :
- Sobekan rumpun didapatkan dari sejumlah batang yang berakar, umpamanya : rumput gajah, rumput benggala dan sebagainya. Bahan tanaman dari sobekan rumpun ini umumnya lebih cepat tumbuh dibanding stek batang.
Stolon :
- Stolon ialah batang yang tumbuh dan menjalar diatas permukaan tanah. Stolon ini dapat menghasilkan rumpun dan akar pada bukunya.
Misalnya rumput Brachiaria decumbens (ruput bede), kolonjono (Panicum muticum) dan lain - lain.
E. Cara Tanam dan Kebutuhan Stek
Dari beberapa jenis tanaman rumput yang biasa ditanam, cara tanam, kebutuhan stek dan jarak tanam dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Cara Tanam, Kebutuhan Stek dan Jarak Tanam berbagai Jenis Hijauan Makanan Ternak (HMT)
No. Jenis HMT Cara Tanam Kebutuhan Stek/Ha (000) Jarak Tanam
1. Rumput Gajah Barisan 10 – 15 75 x 100 cm
2. Rumput Benggala Barisan 20 – 30 60 x 60 cm
3. Brachiaria Barisan 20 – 30 60 x 60 cm
4. Setaria Spacelata Barisan 20 – 30 60 x 60 cm
5. Rumput pangola Barisan 20 – 30 50 x 50 cm
6. Paspalum dilatatum Barisan 20 – 30 60 x 60 cm
F. Pemeliharaan Hijauan Makanan Ternak (HMT)
Untuk menjaga kelestarian hijauan yang kita tanam, peternak harus merawat/memelihara hijauan yang ditanam dengan baik. Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam rangka pemeliharaan adalah : penyiangan, penyulaman, pembersihan gulma, pendangiran, pemupukan, pembersihan saluran drainase dan peremajaan.
1. Penyiangan
Penyiangan adalah pemberantasan terhadap jenis - jenis rumput liar (weed) atau tumbuhan lain yang mengganggu tanaman pokok. Gangguan ini bisa berupa persaingan terhadap penyerapan zat hara dan air, cahaya matahari serta yang mengganggu dalam pengelolaan. Bila gangguannya terlalu berat, dapat menimbulkan kematian terhadap tanaman.
Ada 3 cara melakukan penyiangan, yaitu secara :
a. Mekanis yaitu penyiangan yang dilakukan dengan cara mencangkul untuk membakar weed,
b. Biologis yaitu penyiangan yang dilakukan pada umumnya dengan memperbaiki keadaan tanah, kemudian baru dilakukan penanaman, setelah tanah menjadi subur dan bebas dari weed / gulma. Untuk maksud tersebut biasanya tanah ditanami kacang – kacangan,
c. Kimiawi yaitu penyiangan dengan mempergunakan obat-obatan yang disebut herbisida. Cara ini cepat, tetapi biayanya cukup tinggi dan kadang - kadang obatnya sulit diperoleh, seperti gramazone.
2. Penyulaman
Penyulaman adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman yang baru sehingga populasi tanaman sesuai dengan jumlah produksi yang diinginkan.
3. Pembersihan gulma
Pembersihan gulma adalah untuk membersihkan rumput liar ataupun tanaman lain yang dapat mengganggu tanaman pokok. Tumbuhan liar tersebut dapat bersaing dengan tanaman pokok terhadap air, sinar matahari, zat hara dan dalam pengelolaan. Hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pokok sehingga pertumbuhan terganggu dan akhirnya mati. Pembersihan gulma dilakukan dengan menggunakan alat cangkul dan sabit.
4. Pendangiran
Pendangiran adalah menggemburkan kembali tanah yang padat akibat air hujan atau akibat penggembalaan.
Tujuan pendangiran :
Menggemburkan kembali tanah, agar proses peredaran udara dan air dalam tanah lebih sempurna
Mengurangi penguapan air dalam tanah
Mempertinggi efisiensi penyerapan pupuk, sehingga pertumbuhan anakan dan tunas baru lebih banyak.
Pada pemeliharaan rumput potong, biasanya penyiangan dan pendangiran dilakukan setelah hijauan dipanen, kemudian dilanjutkan dengan pemupukan. Hal ini akan sangat tergantung kepada keadaan tanah, sedangkan khusus untuk penyiangan dapat dilakukan sewaktu-waktu tergantung serangan gulmanya.
Untuk padang penggembalaan, pendangiran dilakukan dengan cara penggembalaan berat, kemudian dilakukan penggaruan ringan dimusim hujan.
Dalam pemeliharaan tanaman makanan ternak, beberapa kegiatan perlu dilakukan yaitu :
- Mengadakan penyulaman / penyisipan, jika ada tanaman yang mati.
- Penyiangan perlu dilakukan setelah 1 - 2 kali panen.
- Membumbun tanaman dengan mengangkat tanah dari kiri dan kanan barisan (membuat guludan), hal ini dimaksudkan memudahkan pemupukan, pengairan dan drainase.
- Pemupukan sebaiknya dilakukan minimal 2 kali setahun, yaitu setiap 4 - 6 bulan sekali. Jenis dan dosis pemupukan tergantung kepada tingkat kesuburan tanah.
5. Pemupukan
Guna menjaga agar produksi hijauan tetap kontinyu maka ada sesuatu yang perlu disumbang kembali kedalam tanah. Salah satu pengembalian dimaksud adalah melalui pemupukan. Memupuk berarti memberikan zat-zat makanan atau unsur hara kepada tanaman agar unsur-unsur hara dalam tanah yang hilang atau diserap tanaman dapat diganti serta dapat memperbaiki struktur tanah.
a. Klasifikasi Pupuk
1. Atas dasar cara pemupukannya, dikenal :
Pupuk alam : pupuk yang berasal dari sisa - sisa organisme hidup
Pupuk buatan : pupuk yang dibuat oleh pabrik dan umumnya mengandung unsur hara tertentu dengan persentase yang lebih tinggi.
2. Atas dasar kandungan unsur hara pupuk dibagi atas :
Pupuk tunggal : pupuk yang hanya mengandung satu unsur / zat hara tertentu
Pupuk majemuk : pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur / zat hara.
Beberapa jenis pupuk yang umum dipakai untuk mengembalikan unsur hara yang habis diserap oleh tanaman antara lain :
▪ Pupuk N seperti : (NH4)2 mengandung N = 20,5% dan S = 23,4%
Urea mengandung N = 46%
KNO3 mengandung N = 13,4%, K2O = 44,2%.
▪ Pupuk P seperti : DSP mengandung P2O5 = 16,5%
TSP megandung P2O5 = 45%.
▪ Pupuk K seperti : KCL mengandung K2O = 50-62%
ZK dan K2SO4 mengandung K2O = 22-23%.
▪ Pupuk S seperti : (NH4)2 SO4 mengandung S = 23,4%.
▪ Pupuk NPK mengandung N = 15%, P2O5 = 15% dan K2O = 15%.
Hijauan makanan ternak dapat dipupuk dengan pupuk buatan atau pupuk organis seperti pupuk kandang dan kompos. Pemupukan dengan pupuk organis hendaknya dilakukan pada saat pengolahan tanah (seminggu sebelum penanaman). Umumnya golongan rumput tropis lebih peka terhadap pemupukan unsur N, sedangkan leguminosa lebih memerlukan unsur P.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebelum tanaman dipupuk perlu diketahui terlebih dahulu : unsur hara dalam tanah; pH dan tekstur dalam tanah yaitu sifat-sifat dalam tanah.
b. Waktu Pemupukan 1. Pupuk dasar
Dilakukan pada saat lahan belum digemburkan atau setelah pencangkulan. Tujuannya agar pupuk dapat menyebar secara merata saat tanah digemburkan. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk yang tidak mudah menguap, contohnya pupuk kandang, TSP dan KCL.
- Pupuk kandang, dilakukan satu kali pemupukan setiap kali panen.
- Pupuk TSP, dilakukan satu kali pemupukan setiap tiga kali panen.
- Pupuk KCL, dilakukan satu kali pemupukan setiap tiga kali panen.
- Pupuk urea, dilakukan satu kali pemupukan setiap kali panen.
c. Cara Pemupukan
1. Broad cast (disebar) : pupuk diberikan diatas permukaan tanah dengan cara disebar / menyebar.
2. Plow sale placement (penempatan pada baris bajak) : pupuk dijatuhkan tepat dibelakang bajak pada saat pembajakan.
3. Land placement (ditempatkan dalam jalur) : pupuk diletakkan dalam jalur disamping kiri atau kanan tanaman atau disekeliling tanaman.
4. In the row aplication (ditempatkan dalam baris) : pupuk dapat ditempatkan bersama-sama dengan bibit atau pupuk ditempatkan lebih dahulu dalam tanah kemudian baru bibit ditaruh.
d. Perhitungan Pemupukan Contoh :
Satu hektar (Ha) tanah membutuhkan pupuk N sebanyak 200 Kg / Ha / tahun. Kandungan N pupuk urea 46%, berapa Kg pupuk urea dibutuhkan untuk memenuhi dosis 200 Kg pupuk N.
Perhitungan :
Dalam 50 Kg urea = ... Kg pupuk N
= 46 / 100 x 50 Kg = 23 Kg pupuk N.
Dalam 100 Kg urea = 46 / 100 x 100 Kg = 46 Kg pupuk N.
Dalam X Kg urea = 46 / 100 x X Kg = 200 Kg pupuk N.
Persamaan :
46/100 x X = 200
X = 200 x 100/46
X = 434,78
Jadi pupuk urea yang dibutuhkan sebayak 434,78 Kg.
6. Pembersihan drainase
Pembersihan drainase adalah cara untuk membersihkan saluran air dari kotoran atau tumbuhan yang menghambat suplai air ke lahan. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan sabit dan cangkul dengan tujuan agar hijauan pakan mendapatkan suplai air yang cukup. Sumber air berasal dari limbah cair kandang atau air bekas memandikan sapi dan kotoran cair.
7. Peremajaan
Peremajaan tanaman dilakukan ketika tanaman rumput tidak menunjukkan pertumbuhan yang bagus dan produktifitasnya menurun.
Peremanjaan tersebut pada rumput yang sudah tua antara 5 tahun untuk jenis rumput sedangkan untuk kaliandra dan gamal 10 - 15 tahun.
G. Pemotongan atau Pemanenan
Pemotongan adalah pengambilan bagian tanaman yang berada diatas permukaan tanah. Pemotongan dapat dilakukan dengan 2 cara, tergantung dari cara penyajiannya, yaitu pemotongan dengan alat atau dengan renggutan ternak yang digembalakan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemotongan/pemanenan adalah sebagai berikut :
1. Waktu Pemotongan/Pemanenan
Waktu terbaik pemotongan ialah pada akhir pertumbuhan vegetatif, yaitu saat hiajuan menjelang berbunga. Pada saat itu, kandungan hijauan mencapai tingkat tertinggi.
2. Frekwensi Pemotongan
Pemotongan ulang jangan dilakukan terlalu sering, karena dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan kembali. Umumnya rumput potongan dapat di panen ketika berumur 50 – 70 hari. Pemotongan ulang dilakukan setiap 40 – 70 hari berikutnya, tergantung ketersediaan air bagi rumput.
3. Intentitas Pemotongan
Intensitas pemotongan adalah tinggi rendahnya pemotongan/renggutan. Tinggi pemotongan kira-kira 10 – 15 cm di atas permukaan tanah. Pemotongan terlampau rendah mengakibatkan berkurangnya cadangan makanan, sehingga pertumbuhan kembali terhambat.
2. Rangkuman
Tantangan pengembangan peternakan tidak bisa terlepas dari sub sektor lain yang erat kaitannya dengan sub sektor peternakan, karena peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian. Pertumbuhan dan perkembangan sub sektor peternakan sangat tergantung dari pertumbuhan dan perkembangan sektor-sektor lain yang terkait. Dengan pergeseran skala usaha peternakan dari sistim peternakan tradisional menuju ke sistim pemeliharaan yang bersifat semi intensif, misalnya dalam pemeliharaan sapi potong yang dulunya di lepas di padang penggembalaan dengan mengandalkan padang rumput, namun di era
modern ini dengan semakin terbatasnya lahan perumputan maka sistim pemeliharaan yang lebih intensif yang diarahkan untuk peningkatan berat badan.
Sehubungan hal tersebut maka pakan ternak dalam bentuk hijauan makanan ternak semakin menjadi kebutuhan yang utama dan harus tersedia sepanjang tahun. Hijauan makanan ternak perlu dikembangkan, dipelihara secara intensif, sehingga dibutuhkan petunjuk penanaman hijauan makanan ternak, meliputi pemilihan lokasi, pemilihan jenis hijauan, pengolahan tanah, bibit dan penanaman, cara tanam dan kebutuhan stek, pemeliharaan hijauan makanan ternak dan pemotongan atau pemanenan. Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam rangka pemeliharaan adalah penyiangan, penyulaman, pembersihan gulma, pendangiran, pemupukan, pembersihan saluran drainase dan peremajaan.
Pemotongan adalah pengambilan bagian tanaman yang berada diatas permukaan tanah. Pemotongan dapat dilakukan dengan 2 cara, tergantung dari cara penyajiannya, yaitu pemotongan dengan alat arau dengan renggutan ternak yang digembalakan.
3. Lembar Kerja Siswa
Setelah mempelajari materi diatas, kerjakanlah soal – soal latihan dibawah ini !
2. Sebutkan dan jelaskan secara singkat hal - hal yang perlu diperhatikan dalam rangka pemeliharaan hijauan makanan ternak adalah ?
3. Satu hektar (Ha) tanah membutuhkan pupuk N sebanyak 300 Kg / Ha / tahun. Kandungan N pupuk urea 46%, berapa Kg pupuk urea dibutuhkan untuk memenuhi dosis 300 Kg pupuk N?
B. REFLEKSI DIRI
Melalui materi yang dipelajari, siswa diajak untuk memahami dan nantinya dapat melakukan budidaya hijauan pakan ternak ruminansia.
C. DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, C. P.. 2007. Agribisnis Ternak Ruminansia. Buku Teks Pelajaran.
Direktorat Pembinaan SMK. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
BAB III PENUTUP
Ketuntasan belajar minimal siswa pada mata pelajaran Agribisnis Pakan Ternak Ruminansia (APTR) kelas XI Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR) adalah 75, yang berasal dari penilaian ranah Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan. Acuan penilaian pada ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan didasarkan pada berbagai komponen diantaranya ketepatan waktu dalam mengumpulkan LKS / tugas yang diberikan, ketepatan dalam menyelesaikan soal pada LKS / tugas sesuai materi yang diberikan oleh guru.
Bagi siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar minimal sesuai kompetensi dasar yang diberikan, akan diberikan remidial agar mampu menuntaskan kompetensi dasar tersebut, sedangkan bagi siswa yang telah tuntas pada kompetensi dasar yang diberikan akan diberi program pengayaan untuk membekali siswa dengan materi pembelajaran selanjutnya.
BAB I PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Kompetensi Dasar 3.11 : Menerapkan pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia
Kompetensi Dasar 4.11 : Melakukan pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia
Indikator : Pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia diketahui, dipahami dan dilakukan.
Alokasi Waktu : 3 x 4 x 45 menit (6 T 6 P) B. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Siswa membaca dan mempelajari materi pembelajaran dengan seksama, 2. Setelah membaca dan mempelajari, siswa dapat melakukan pengawetan
dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia,
3. Siswa mengerjakan soal – soal latihan yang terdapat pada Lembar Kerja Siswa (LKS).
BAB II
KEGIATAN PEMBELAJARAN A. KEGIATAN BELAJAR
1. Kompetensi Dasar : Menerapkan pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia
Pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak yang akan dipelajari adalah pembuatan hay, pembuatan silase, pembuatan fermentasi dan amoniasi jerami padi.
Pembuatan Hay
Hay adalah hijauan pakan yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar dapat diberikan pada ternak pada waktu lain. Berdasarkan definisi tersebut maka maksud pembuatan hay ialah mengawetkan hijauan pakan dengan jalan mengeringkan, baik dengan panas matahari maupun panas buatan.
a. Tujuan dan Prinsip Pembuatan Hay 1. Tujuan
Tujuan pembuatan hay ditujukan untuk memenuhi :
Persediaan pakan pada saat - saat paceklik;
Pemanfaatan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik dan belum digunakan;
Pakan utama selama ternak dalam perjalanan;
Perdagangan.
2. Prinsip
Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air sampai menjadi 15 - 20% dengan bantuan panas matahari atau panas buatan. Lama pengeringan tergantung kepada kekuatan sumber pemanas, angin, kelembaban dan bentuk fisik hijauan.
b. Cara Pembuatan Hay
Pembuatan / pengeringan hay dapat dilakukan dengan panas matahari atau panas buatan.
1. Pengeringan dengan Panas Matahari
Pada umumnya di daerah tropis pembuatan hay cukup dengan menggunakan panas matahari. Cara ini baik teknis maupun pembiayaannya
murah, namun demikian perlu diperhatikan teknik pembuatan yang benar sehingga mutu hay lebih terjamin.
Cara pembuatan :
Hijauan dipotong - potong, bawa ke tempat penjemuran atau rak - rak khusus;
Hijauan ditebar tipis - tipis, setiap 1 - 2 jam dibalik;
Usahakan penjemuran dalam waktu singkat, bila terlalu lama hijauan akan mengalami fermentasi atau pembusukan, yang akan mengakibatkan merosotnya zat gizi.
2. Pengeringan dengan Panas Buatan
Pengeringan dengan cara ini hanya dilakukan di daerah yang memiliki iklim dingin (sub tropis), karena panas matahari yang diperoleh tak memungkinkan untuk mengeringkan hijauan. Untuk mengeringkan hijauan tersebut diperlukan temperatur 200 - 600ºC.
Cara pembuatan :
Hijauan dipotong - potong, kemudian langsung dimasukkan kedalam alat pengeringan;
Lama pemanasan ditunggu sampai kadar air hijauan mencapai 15 – 20%.
3. Kelebihan dan Kekurangan masing - masing Pemanas
Sumber Panas Kelebihan Kekurangan
Panas matahari Biaya ringan;
Teknik pembuatan mudah, sehingga setiap petani bisa melaksanakan;
Kandungan vitamin D dalam hijauan lebih tinggi.
Hanya bisa dilakukan di daerah tropis;
Proses pengeringan lama, sehingga penurunan gizi lebih besar;
Provitamin A menurun.
Panas buatan Proses pengeringan cepat, sehingga zat gizi yang hilang sedikit;
Pengerjaannya tak terkait oleh tempat dan waktu.
Perlu biaya yang mahal, sehingga tak bisa dilakukan oleh masyarakat peternak.
c. Kualitas Hay
Kualitas hay tergantung pada tiga faktor yaitu :
Kualitas hijauan;
Teknik pembuatan;
Kegiatan mikroorganisme yang berakibat buruk.
Kadar karoten, protein, persentase daun yang rusak dan banyak / sedikitnya karoten yang ada dalam hay dapat dijadikan kriteria kualitas hay yang bersangkutan. Secara fisik hay yang baik ditandai oleh :
Warna hay kekuningan;
Tidak mudah patah bila digumpal dengan tangan;
Tidak banyak daun yang rusak.
d. Cara Pemberian pada Ternak
1. Perlu masa adaptasi sebelum ternak diberi hay;
2. Pemberian dilakukan sedikit demi sedikit;
3. Pada pedet umur 2 minggu bisa dimulai pemberian hay sebanyak segenggam setiap hari yang berguna untuk merangsang perkembangan rumen dan bakteri pemecah sellulose dalam rumen.
e. Cara Penyimpanan
Hay dapat dibongkar dari rak pengeringan bila kekeringannya sudah memenuhi syarat. Pada prinsipnya hay dapat dibiarkan selamanya pada rak pengeringan, yang penting harus dipindahkan dari padang rumput.
Hay yang tidak terlalu banyak dapat disimpan dengan baik, hay disimpan beberapa cm diatas tanah serta dengan ventilasi baik. Untuk hay yang dipak sebaiknya disimpan di bangunan yang diberi atap serta ventilasi yang baik.
Langkah Kerja dan Penugasan
No Urutan Langkah Kerja / Penugasan Keterangan 1 Siapkan bahan dan peralatan yang digunakan
2 Tebarkan hijauan di tempat penjemuran 3 Balik - balik setiap 1 – 2 jam
4 Penjemuran dilakukan sampai kadar air (KA) mencapai 15 – 20%
5 Rapikan kembali seluruh peralatan yang telah digunakan
Pembuatan Silase
Umumnya di daerah tropis seperti negara kita, penyediaan bahan pakan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang tahun masih merupakan kendala. Guna mengatasi hal tersebut pada masa - masa kritis hijauan pakan bisa dilakukan beberapa alternatif yaitu :
1. Menanam lebih dari satu jenis hijauan, guna meratakan puncak produksi;
2. Menjaga kesuburan tanah semaksimal mungkin, guna meningkatkan puncak produksi;
3. Mengawetkan hijauan pakan yang berlebihan.
Silase adalah hijauan pakan yang diawetkan dalam bentuk segar dengan kadar air 60 - 70% dalam suatu tempat yang disebut silo. Pembuatan silase atau yang dikenal dengan pengawetan hijauan dalam bentuk segar bertujuan :
Sebagai persediaan pakan yang dapat digunakan pada saat kekurangan hijauan pakan;
Untuk menampung kelebihan hasil hijauan pakan;
Memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik yang pada saat itu belum digunakan;
Mendayagunakan hasil ikutan pertanian.
Prinsip pembuatan silase ialah mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) di tempat penyimpanan dan membuat suasana asam (pH rendah), karena dalam keadaan tersebut, bakteri pembusuk dan jamur berhenti bekerja atau mati sehingga hijauan pakan yang diawetkan dapat tahan lama.
Selain itu dalam pembuatan silase, perlu ditambahkan bahan pengawet.
Tujuan pemberian bahan pengawet adalah untuk mempercepat penurunan pH.
Bahan yang digunakan sebagai pengawet biasanya bahan yang banyak mengandung karbohidrat, seperti :
Tetes (melase / molases) sebanyak 3% dari bahan silase,
Dedak halus sebanyak 3% dari bahan silase,
Menir sebanyak 3% dari bahan silase,
Onggok sebanyak 3% dari bahan silase.
Untuk membuat silase diperlukan suatu tempat yang disebut silo. Silo bisa dibuat dari tanah, beton, baja dan sebagainya. Dilihat dari bentuknya terdapat beberapa macam silo :
Pit silo, silo berbentuk sumur;
Trench silo, silo berbentuk parit panjang;
Pench silo, silo berbentuk parit panjang;
Tower silo, silo berbentuk menara.
Tempat pembuatan silo, hendaknya dipilih tempat yang tidak mudah digenangi air; lebih tinggi dari tempat sekitarnya; air tanah lebih dalam dari dasar silo dan bila memungkinkan tempat dekat dengan lokasi ternak.
Cara Pembuatan Silase
Tahap pengisian
Hijauan harus dilayukan dan dipotong pendek - pendek (5 - 10 cm) agar mempermudah pemadatan di tempat penyimpanan;
Hijauan yang sudah dipotong, dicampur dengan bahan pengawet (bila diperlukan);
Masukkan dalam silo sedikit demi sedikit, sampai melebihi permukaan silo, sambil dipadatkan.
Tahap penutupan
Tutup serapat mungkin hingga air dan udara tidak masuk;
Usahakan tutup pertama dengan plastik, kemudian tutup dengan tanah dan beri pemberat.
Cara pengambilan
Setelah kira - kira 8 minggu, silo dibongkar untuk diambil silasenya.
Jumlah yang diambil tergantung kebutuhan, misalnya untuk keperluan 1 minggu, caranya :
Silo dibuka secara hati - hati;
Silase yang baru diambil diangin - anginkan atau dijemur dulu jangan langsung diberikan pada ternak;
Apabila silase tidak semuanya diambil, tutup kembali silo dengan rapat.
Kualitas silase tergantung dari tiga faktor, yaitu :
Hijauan (jenis hijauan, umur, perlakuan terhadap hijauan);
Teknik pembuatan;
Kegiatan mikroorganis.
Dalam praktek, kualifikasi silase dapat dilihat dari warna, bau, rasa, kebersihan dan tekstur. Makin hijau warnanya dengan bau harum keasaman dan rasa asam, bebas dari jamur dan lendir dengan tekstur yang jelas menandakan hasil yang baik.
Cara pemberian silase pada ternak :
Perlu adanya masa adaptasi sebelum ternak diberi silase;
Harus diangin - anginkan sebelum ternak diberi silase;
Sebaiknya pemberian dilakukan sedikit demi sedikit;
Bagi sapi perah, silase sebaiknya diberikan sesudah pemerahan, sebab air susu bersifat menyerap bau;
Pemberian silase sebaiknya dibarengi dengan pemberian air minum yang cukup untuk menetralkan kadar asam yang tinggi.
Langkah Kerja dan Penugasan
No Urutan Langkah Kerja / Penugasan Keterangan 1 Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2 Potong rumput sepanjang 5 – 10 cm dan layukan 3 Campur bahan pengawet bila diperlukan
4 Masukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil dipadatkan
5 Tutup rapat - rapat, pertama dengan plastik, baru ditimbun dengan tanah serta beri pemberat
Pembuatan Jerami Padi Fermentasi
Usaha sapi potong yang diperuntukkan untuk menghasilkan daging berkualitas baik, pada umunya dihadapkan pada masalah ketersediaan pakan baik berupa hijauan maupun konsentrat. Produksi hijauan pakan menjadi lebih terbatas karena pertambahan penduduk yang membutuhkan lahan untuk pemukiman, perluasan lahan untuk produksi pangan dan pembangunan subsektor lainnya. Oleh sebab itu penyediaan pakan memerlukan pengolahan limbah pertanian yang relatif sederhana untuk mendukung ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang tersedia dalam jumlah cukup banyak dibanding dengan limbah pertanian lainnya, serta mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian menjadi kompos. Ternak sapi yang menkonsumsi jerami padi menghasilkan kotoran (pupuk kandang), yang nantinya apabila dikelola secara baik, akan menjadi pupuk organik dan akan bermanfaat optimal bagi tanaman. Jerami padi dapat
digunakan untuk pakan sapi potong dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun. Sehingga pada lokasi yang mampu panen 2 kali setahun akan tersedia pakan berserat untuk 4 - 6 ekor sapi.
Hambatan pemanfaatan jerami padi secara luas sebagai sumber pakan ternak adalah rendahnya nilai nutrisi bila dibandingkan dengan hijauan pakan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dapat diperbaiki dengan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi.
Cara yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak sapi adalah melalui proses fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (starbio, starbioplus, probion). Hal ini akan meningkatkan motivasi untuk meningkatkan ternak sapi yang dipelihara.
Pembuatan jerami padi fermentasi dengan sistem terbuka. Proses fermentasi terbuka dilakukan pada tempat terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan 1 ton jerami fermentasi adalah : 1 ton jerami padi segar, Probion (probiotik) 2,5 kg, Urea 2,5 kg, dan air secukupnya.
Cara Pembuatan
Proses pembuatan dibagi dua tahap, yaitu tahap fermentatif dan pengeringan serta penyimpanan. Pada tahap pertama, jerami padi yang baru dipanen dari sawah dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan, dan diharapkan masih mempunyai kandungan air 60%. Jerami padi segar yang akan dibuat menjadi jerami padi fermentasi ditimbun dengan ketebalan kurang lebih 20 cm kemudian ditaburi dengan Probion dan urea. Tumpukan jerami tersebut dapat dilakukan hingga ketinggian sekitar 3 meter. Setelah pencampuran dilakukan secara merata, kemudian didiamkan selama 21 hari agar proses fermentatif dapat berlangsung dengan baik.
Tahap kedua adalah proses pengeringan dan penyimpanan jerami padi fermentasi. Pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari dan dianginkan sehingga cukup kering sebelum disimpan pada tempat yang terlindung. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasi dapat diberikan pada ternak sebagai pakan pengganti rumput segar.
Pembuatan Amoniasi Jerami
Penyediaan pakan masih merupakan masalah yang sering dihadapi para peternak (khusus ternak ruminansia) terutama pada musim kemarau.
Pemanfaatan produksi hijauan pakan yang melimpah, dengan cara pengawetan segar (silase) dan pemanfaatan limbah - limbah pertanian seperti jerami padi untuk pakan merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah penyediaan pakan.
Jerami merupakan sumber serat kasar dan energi yang cukup potensial di Indonesia, mengingat sebagian besar lahan pertanian pangan terdiri dari areal penanaman padi. Potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk keperluan pakan, karena ada kecenderungan jerami padi digunakan sebagai pupuk kompos untuk tanaman padi. Selain itu kendala lain dalam memanfaatkan jerami padi adalah :
1. Rendahnya potensi nutrisi (kandungan protein rendah dan kandungan serat kasarnya tinggi);
2. Palatabilitasnya rendah;
3. Kecernaannya rendah.
Dengan adanya kendala tersebut, petani - petani cenderung menggunakan hijauan pakan segar sepanjang tahun, padahal ketersediaan hijauan di musim kemarau sangat terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu yang dilakukan adalah pengolahan jerami padi dengan metode amoniasi.
Potensi jerami padi di Indonesia sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan, tetapi nutrisi dan kecernaannya sangat rendah. Untuk meningkatkan kecernaannya, telah banyak dilakukan berbagai perlakuan terhadap jerami padi seperti perlakuan fisik, biologis maupun kimia.
Perlakuan fisik misalnya dengan cara pencacahan jerami menjadi potongan - potongan kecil, sehingga luas penampang menjadi semakin bertambah dan peluang penetrasi enzim dari mikroba rumen semakin tinggi, akibatnya kecernaan pakan meningkat. Perlakuan biologis biasanya dengan memanfaatkan bakteri atau jamur tertentu atau dengan menambahkan enzim selulase. Pelakuan kimia biasanya dengan penambahan larutan alkalis, sehingga suasana basa tersebut dapat merenggangkan ikatan hidrogen pada lignin dan silika dengan selulosa dan hemiselulosa, juga merenggangkan
jaringan serat dan memutuskan struktur dinding sel sehingga perombakan oleh bakteri dapat dilakukan.
Sumber ammonia yang sering digunakan adalah urea, sering dikenal dengan metode urasi amoniasi. Prinsip kerjanya yakni memanfaatkan gugus NH3 pada urea sumber ammonia untuk peregangan ikatan - ikatan lignin dan silika dengan selulosa dan hemiselulosa. Alasan pemakaian urea :
1. Harganya relatif murah;
2. Mudah didapat dan banyak diperoleh dimana - mana;
3. Menambah kandungan N (Nitrogen) bahan hasil awetan;
4. Tingkat kelarutannya tinggi sehingga kerjanya cepat.
Prosedur Pembuatan / Pengolahan Amoniasi Jerami 1. Siapkan jerami padi dan bersihkan dari kotoran;
2. Jerami yang telah bersih dikeringkan sehingga kadar airnya 10 - 20%;
3. Jerami dicacah menjadi potongan - potongan kecil (5 - 10 cm);
4. Buat larutan urea 6%, yaitu mencampurkan 60 gram urea dengan air sehingga larutan menjadi 1 liter;
5. Campurkan jerami cacahan dengan larutan urea semerata mungkin dengan cara disiramkan dengan perbandingan 1 : 1 (satu liter larutan urea untuk satu kilogram jerami padi);
6. Untuk tempat amoniasi disiapkan plastik dengan ukuran disesuaikan;
7. Masukkan campuran jerami dan larutan urea kedalam kantong plastik dan diikat sedemikian rupa hingga kedap udara dan air;
8. Simpan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung selama ± 21 hari;
9. Setelah cukup waktunya, hasil olahan dapat dibuka dan hati - hati pada saat membuka karena mengeluarkan gas amonia.
Cara lain dalam pengolahan jerami amoniasi yaitu jika jerami yang dipakai dalam keadaan segar / baru selesai panen maka perbandingan penggunaan urea dan jerami adalah 1 (satu) ton jerami, menggunakan 5 - 6 kg urea, ditaburkan secara merata pada tumpukan jerami setiap 20 cm hingga mencapai ketinggian 2 - 3 meter. Jerami yang akan diolah disimpan pada ruangan tertutup (tidak terkena sinar matahari langsung). Jika jerami yang dipakai dalam keadaan kering maka urea yang digunakan dilarutkan dulu kedalam air dimana dalam 1
(satu) ton jerami, kandungan / kadar air harus dibuat 60%. Berdasarkan suatu percobaan jerami yang diamoniasi, kandungan proteinnya meningkat dengan daya cerna yang juga meningkat.
Jerami padi amoniasi dapat diberikan pada ternak setelah diangin - anginkan terlebih dahulu. Sebaiknya pemberian jerami padi amoniasi dibarengi dengan ransum konsentrat berenergi tinggi yakni karbohidrat agar tidak keracunan. Perbandingan pemberian konsentrat dengan jerami amoniasi yang direkomendasikan untuk sapi penggemukan adalah 30 : 70 dari ransum (30 konsentrat : 70 jerami amoniasi).
2. Rangkuman
Hay adalah hijauan pakan yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar dapat diberikan pada ternak pada waktu lain. Maksud pembuatan hay ialah mengawetkan hijauan pakan dengan jalan mengeringkan, baik dengan panas matahari maupun panas buatan.
Tujuan pembuatan hay ditujukan untuk memenuhi :
Persediaan pakan pada saat - saat paceklik;
Pemanfaatan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik dan belum digunakan;
Pakan utama selama ternak dalam perjalanan;
Perdagangan.
Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air sampai menjadi 15 - 20% dengan bantuan panas matahari atau panas buatan. Lama pengeringan tergantung kepada kekuatan sumber pemanas, angin, kelembaban dan bentuk fisik hijauan.
Kualitas hay tergantung pada tiga faktor yaitu :
Kualitas hijauan;
Teknik pembuatan;
Kegiatan mikroorganisme yang berakibat buruk.
Silase adalah hijauan pakan yang diawetkan dalam bentuk segar dengan kadar air 60 - 70% dalam suatu tempat yang disebut silo. Pembuatan silase atau yang dikenal dengan pengawetan hijauan dalam bentuk segar bertujuan :
Sebagai persediaan pakan yang dapat digunakan pada saat kekurangan hijauan pakan;
Untuk menampung kelebihan hasil hijauan pakan;
Memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik yang pada saat itu belum digunakan;
Mendayagunakan hasil ikutan pertanian.
Prinsip pembuatan silase ialah mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) di tempat penyimpanan dan membuat suasana asam (pH rendah), karena dalam keadaan tersebut, bakteri pembusuk dan jamur berhenti bekerja atau mati sehingga hijauan pakan yang diawetkan dapat tahan lama.
Selain itu dalam pembuatan silase, perlu ditambahkan bahan pengawet.
Tujuan pemberian bahan pengawet adalah untuk mempercepat penurunan pH.
Bahan yang digunakan sebagai pengawet biasanya bahan yang banyak mengandung karbohidrat, seperti :
Tetes (melase / molases) sebanyak 3% dari bahan silase,
Dedak halus sebanyak 3% dari bahan silase,
Menir sebanyak 3% dari bahan silase,
Onggok sebanyak 3% dari bahan silase.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang tersedia dalam jumlah cukup banyak dibanding dengan limbah pertanian lainnya, serta mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jerami padi dapat digunakan untuk pakan sapi potong dewasa.
Hambatan pemanfaatan jerami padi secara luas sebagai sumber pakan ternak adalah rendahnya nilai nutrisi bila dibandingkan dengan hijauan pakan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dapat diperbaiki dengan teknologi untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi.
Cara yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak sapi adalah melalui proses fermentasi dengan menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (starbio, starbioplus, probion). Hal ini akan meningkatkan motivasi untuk meningkatkan ternak sapi yang dipelihara.
Pembuatan jerami padi fermentasi dapat dilakukan dengan sistem terbuka. Proses fermentasi terbuka dilakukan pada tempat terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung.
Potensi jerami padi di Indonesia sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan, tetapi nutrisi dan kecernaannya sangat rendah. Untuk meningkatkan kecernaannya, telah banyak dilakukan berbagai perlakuan terhadap jerami padi seperti perlakuan fisik, biologis maupun kimia.
Pelakuan kimia biasanya dengan penambahan larutan alkalis, sehingga suasana basa tersebut dapat merenggangkan ikatan hidrogen pada lignin dan silika dengan selulosa dan hemiselulosa, juga merenggangkan jaringan serat dan memutuskan struktur dinding sel sehingga perombakan oleh bakteri dapat dilakukan. Sumber ammonia yang sering digunakan adalah urea, sering dikenal dengan metode urasi amoniasi.
3. Lembar Kerja Siswa
Setelah mempelajari materi diatas, kerjakanlah soal – soal latihan dibawah ini !
4. Sebutkan dan jelaskan tujuan, prinsip dan cara pembuatan hay!
5. Sebutkan dan jelaskan tujuan, prinsip dan cara pembuatan silase!
6. Sebutkan dan jelaskan alasan pemakaian urea dalam pembuatan amoniasi Jerami dan prosedur pembuatan amoniasi Jerami!
B. REFLEKSI DIRI
Melalui materi yang dipelajari, siswa diajak untuk memahami dan nantinya dapat melakukan pengawetan dan pengolahan hijauan pakan ternak ruminansia.
C. DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, C. P.. 2007. Agribisnis Ternak Ruminansia. Buku Teks Pelajaran.
Direktorat Pembinaan SMK. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
BAB III PENUTUP
Ketuntasan belajar minimal siswa pada mata pelajaran Agribisnis Pakan Ternak Ruminansia (APTR) kelas XI Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR) adalah 75, yang berasal dari penilaian ranah Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan. Acuan penilaian pada ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan didasarkan pada berbagai komponen diantaranya ketepatan waktu dalam mengumpulkan LKS / tugas yang diberikan, ketepatan dalam menyelesaikan soal pada LKS / tugas sesuai materi yang diberikan oleh guru.
Bagi siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar minimal sesuai kompetensi dasar yang diberikan, akan diberikan remidial agar mampu menuntaskan kompetensi dasar tersebut, sedangkan bagi siswa yang telah tuntas pada kompetensi dasar yang diberikan akan diberi program pengayaan untuk membekali siswa dengan materi pembelajaran selanjutnya.