• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemiri (Aleurites molucana) 1990

Kemiri (Aleurites molucana)

YUDARFIS

Pengaruh pembakaran dan naungan terhadap perkecambahan benih kemiri (Aleurites moluccana WILLD). Effect of burning and shading on candle nut (Aleurites moluccana WILD) seed germination/ Yudarfis; Djisbar, A.; Ramadhan, M. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor). Buletin Penelitian Tanaman Rempah and Obat. ISSN 0215-0824 (1990) v. 5(2) p. 101-105, 2 tables; 8 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; SEEDS; GERMINATION; BURNING;

SHADING; DURATION; ALEURITES MONTANA; ALEURITES FORDII.

Lamanya perkecambahan kemiri merupakan salah satu kendala dalam usaha pengembanganan tanamanan kemiri. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian untuk mempercepat perkecambahan kemiri dengan metode pembakaran. Penelitian dilakukan di Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Solok. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan enam perlakuan dan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pembakaran dua kali ditempat terbuka benih dapat berkecambah setelah lima belas hari dan untuk 87% berkecambah diperlukan waktu empat puluh lima hari.

Sedangkan tampa pembakaran yaitu yang disemai ditempat terbuka dan 50%

naungan, benih baru mulai berkecambah setelah 40 - 43 hari. Untuk berkecambah sebanyak 87% diperlukan waktu 97 - 104 hari. Pembakaran tidak mempengaruhi persentase akhir perkecambahan.

1995

HADAD, E.A.M.

Kemiri. Candle nut/ Hadad, E.A.M.; Suryana, O.U. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor). Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

ISSN 0215-0816 (1995) v. 11(1) p. 33-45, 10 tables.; 13 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; SPICES; DRUGS; YIELDS; SPECIES;

GERMPLASM; CONSERVATION; VARIETIES.

Kemiri merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang potensial dan telah tersebar luas di berbagai daerah Indonesia. Kegunaan dari setiap bagian tanaman telah banyak diketahui dan dimanfaatkan antara lain daging bijinya sebagai bumbu masakan dan daun serta kulit batang sebagai obat tradisional.

Telah terkumpul 612 asesi di kebun koleksi plasma nutfah ex situ di Sukamulya yang berasal dari Aceh, NTT, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku dan daerah lainnya. Hasil evaluasi menunjukkan isi biji tetua kemiri Aceh keanekaragamannya lebih tinggi dengan berat 2,49 - 3,58 g/butir, sedangkan bentuknya lebih homogen, panjang 28,70 - 31,88 mm dan lebar 25,70 - 28,10 mm. Berbeda dengan isi biji dan bentuk tetua kemiri Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS) lebih homogen dengan berat 3,18 - 4,81 g/butir dan bentuk hampir sama dengan tetua kemiri Aceh. Evaluasi terhadap asesi yang terdapat di kebun koleksi masih diteruskan.

HIDAYAT, T.

Teknologi pengolahan kemiri dan peluang pengembangannya di Sumatera Barat.

Technology of candlenut processing and its development opportunity in West Sumatra/ Hidayat, T. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor);

Mulyono, E. Teknologi konservasi air berwawasan agribisnis pada ekosistem wilayah Sumatra Barat: prosiding seminar dan temu lapang: makalah penunjang, Singkarak, 21-22 Dec 1995/ Wahid, P.; Dhalimi, A.; Karmawati, E.; Amien, I.;

Las, I.; Hadad E.A., M. (eds.). Bogor: Balittro, 1995: p. 72-79, 3 ill., 1 table; 12 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; PROCESSING; TRADITIONAL

TECHNOLOGY; AGRICULTURAL DEVELOPMENT; APPROPRIATE TECHNOLOGY; SUMATRA

Pengupasan kemiri di tingkat petani di Indonesia termasuk Sumatera Barat masih dilakukan secara tradisional dengan kapasitas pengupasan yang rendah (maksimum 4 kg/jam/orang) dan mutu hasil yang sangat bervariasi. Untuk meningkatkan kapasitas dan mutu hasil pengupasan diperlukan alat pengupas kemiri dan cara pengolahan yang tepat. Oleh karena itu cara pengolahan kemiri di tingkat petani perlu diperbaiki. Beberapa hasil penelitian mengenai cara pengolahan yang memberikan hasil cukup baik (biji utuh 75 - 83%) adalah kombinasi perlakuan pengeringan (50 °C, 20 jam), perendaman (15 menit) dan penirisan (15 menit). Waktu pengeringan dapat dipersingkat menjadi 8 jam dengan menaikkan suhu pengeringan menjadi 70 °C. Untuk kemiri yang sebelumnya telah dikeringkan dengan sinar matahari selama 3 hari (kemiri rakyat) masih diperlukan pengeringan tambahan selama 10 jam pada suhu 50 °C.

Dari beberapa prototipe alat pengupas yang ada ternyata alat pengupas tipe gravitasi memberikan hasil yang paling baik (biji utuh 90%, kapasitas 90 - 100 kg/jam). Pengembangan teknologi pengolahan kimiri yang diperbaiki di Sumatera Barat pada masa mendatang mempunyai peluang yang baik sejalan dengan pengembangan tanaman ini di daerah tersebut.

NURMANSYAH

Tumbuhan parasit pada tanaman kemiri di lahan kritis sekitar Danau Singkarak dan upaya pengendaliannya. Parasite plant of candlenut on critical land of Singkarak lake surroundings and its control effort/ Nurmansyah (Instalasi Penelitian dan Penerapan Teknologi Pertanian, Laing, Solok); Nusyirwan;

Denian, A.; Jamalius. Teknologi konservasi air berwawasan agribisnis pada ekosistem wilayah Sumatra Barat: prosiding seminar dan temu lapang: makalah penunjang, Singkarak, 21-22 Dec 1995/ Wahid, P.; Dhalimi, A.; Karmawati, E.;

Amien, I.; Las, I.; Hadad E.A.M. (eds.). Bogor: Balittro, 1995: p. 239-245, 3 tables; 9 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; WEEDS; HOSTS; WEED CONTROL;

MARGINAL LAND; SUMATRA.

Salah satu masalah utama dalam pengembangan tanaman kemiri pada saat ini adalah disebabkan gangguan tumbuhan parasit. Akibat serangan dapat

menurunkan produksi dan mematikan tanaman. Tumbuhan parasit tersebut yang utama adalah Scurrula ferruginea Danser dan sedikit Loranthus chrysanthus BL.

Serangan tumbuhan parasit ini di temukan hampir di semua pertanaman kemiri di Sumatera Barat. Umumnya tanaman yang terserang yaitu yang telah berproduksi, rata-rata tanaman terserang dibawah 4 th (0,66%), dengan intensitas serangan ringan, umur 5 - 10 th (61%) dengan intensitas serangan sedang dan diatas 10 tahun (86,66%) dengan intensitas serangan berat. Tumbuhan parasit Scurrula ferruginea mempunyai inang yang banyak antara lain jengkol, pokat, ubi kayu gajah, kopi, jeruk nipis, jeruk besar, kapok, langsat, kakao, pinus, kaliandra, oleander, sikaduduk, gambir, asam cermin dan mente. Pada lahan kritis sekitar Singkarak banyak ditanam tanaman seperti: pokat, jengkol, kapok dan kemiri.

yang umumya tanaman ini sudah terserang tumbuhan parasit, dengan intensitas yang bervariasi. Hal ini tentu merupakan sumber parasit yang akan mengancam pertanaman kemiri yang ada di lahan kritis di kawasan Singkarak. Upaya pengendalian yang tepat adalah dengan cara memadukan beberapa komponen pengendalian seperti cara mekanis, kultur teknik kemis dan lain sebagainya.

ZAUBIN, R.

Kesesuaian kemiri sebagai tanaman konservasi di lahan kritis. Candlenut suitability as conservation plant in critical land/ Zaubin, R. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor); Erythrina; Dhalimi, A.; Djisbar, A.;

Rosman, R.; Kemala, S. Teknologi konservasi air berwawasan agribisnis pada ekosistem wilayah Sumatra Barat: prosiding seminar dan temu lapang: makalah penunjang, Singkarak, 21-22 Dec 1995/ Wahid, P.; Dhalimi, A.; Karmawati, E.;

Amien, I.; Las, I.; Hadad E.A.; M. (eds.). Bogor: Balittro, 1995: p. 96-109, 5 tables; 20 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; BOTANY; CULTIVATION; SOIL CONSERVATION; MARGINAL LAND.

Tanaman kemiri (Aleurites moluccana Willd) merupakan salah satu tanaman serba guna dan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dan dibudidayakan petani. Dalam usaha pengembangan tanaman kemiri, selain persyaratan tumbuhnya perlu juga diperhatikan kelestarian sumber daya alam, khususnya daerah-daerah berlereng yang peka erosi. Kelestarian daerah berlereng dapat dipertahankan dengan menanam tanaman kemiri karena sifat-sifatnya yang menguntungkan, antara lain dapat mempertahankan kesuburan tanah (fisik

dan Mg. Selain itu struktur perakaran, bentuk tajuk dan kemampuan bersaing dengan gulma cukup menunjang untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Budidaya tanaman kemiri pada lahan dengan kemiringan 15 - 40% perlu dilengkapi dengan pembuatan teras sesuai garis kontur. Jarak tanam dalam barisan ± 4 m dan 4 - 8 m antar barisan tergantung pada kemiringan lereng dan tujuan untuk tanaman monokultur atau dengan tumpang sari. Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm. Sebelum tanam setiap lubang diberi 2 - 3 kg pupuk kandang atau kompos dan apabila pH tanah kurang dari 5,5 maka perlu ditambahkan 200 - 500 g dolomit atau kaptan. Pada awal musim penghujan ditanam bibit, yang telah ditumbuhkan dalam polibag, setinggi 30 - 50 cm dengan 3 - daun (umur 3 - 4 bulan). Sampai umur 3 tahun diperlukan pemeliharaan yang baik, meliputi penyulaman, penyiangan selebar tajuk, dan pemupukan NPK yang disesuaikan dengan umur tanaman. Panen diharapkan mulai umur 3 - 4 tahun, dengan produksi 10 - 25 kg/pohon.

1996

MAMAT H.S.

Peluang pengembangan tanaman industri dalam upaya meningkatkan pendapatan petani di wilayah selatan Jawa Barat. Opportunity of industrial crops development in increasing farmer income in Southern area of West Java/ Mamat H.S. (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor). Prosiding simposium 2 hasil penelitian dan pengembangan tanaman industriBogor, 21-23 Nov 1994: buku 4b/ Karmawati, E.; Wahyudi, A.; Laksmanahardja, P.;

Bermawie, N.; Manohara, D. (eds.). Bogor: Puslitbangtri, 1996: p. 128-137, 3 tables; 5 ref.

GNETUM GNEMON; PIPER NIGRUM; ALEURITES MOLUCCANA;

ARENGA PINNATA; AGRICULTURAL DEVELOPMENT; DEVELOPMENT PROJECTS; FARM INCOME; JAVA; SYZYGIUM AROMATICUM; HEVEA BRASILIENSIS;

Penelitian ini merupakan kajian deskriptif yang bertujuan memperoleh data dan informasi tentang permasalahan dan potensi sumberdaya wilayah selatan Jawa Barat. Dengan data di atas diharapkan diketahui peluang pengembangan tanaman industri dalam meningkatkan pendapatan petani. Objek penelitian ditentukan secara multi stage sampling, mulai dari penentuan sampel kabupaten, kecamatan, desa sampai petani responden, dengan mempertimbangkan lokasi yang relatif miskin (menurut kriteria BPS-Bappenas-Depdagri) dan mempunyai peluang sebagai wilayah pengembangan tanaman industri. Dengan pertimbangan tersebut, lokasi terpilih adalah Kecamatan Cibinong (Cianjur), Kecamatan Segaranten (Sukabumi) dan Kecamatan Bojongmanik (Lebak). Data primer petani diperoleh dari 120 petani responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah selatan di beberapa Kabupaten Jawa Barat meliputi Kabupaten Lebak, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis menunjukkan kondisi relatif miskin jika dibandingkan dengan wilayah utara. Kondisi tersebut terjadi akibat wilayah selatan memiliki keterbatasan sarana dan prasaran, keterbatasan penguasaan faktor produksi, tingkat pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah serta berbagai faktor sosial ekonomi lainnya. Dari data sekunder diketahui bahwa sekitar 45% atau 600.000 ha lahan kering di Jawa Barat belum dimanfaatkan dan

petani responden, diketahui bahwa pada umumnya petani mengusahakan lahan kering sebagai kebun campuran yang kondisinya tidak sepenuhnya memenuhi kultur teknis yang baik, mulai dari penanganan bibit, pemeliharaan tanaman sampai pemilihan dan penerapan kombinasi tanaman. Komoditas yang menjadi andalan sumber pendapatan petani pada saat pengumpulan data adalah cengkeh, kelapa aren, kopi dan karet rakyat. Dalam menentukan tanaman industri yang berpeluang/prospektif untuk dikembangkan, didasarkan pada permasalahan yang dihadapi saat penelitian dan potensi sumberdaya yang ada. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa permasalahan pokok yang dihadapi petani adalah masalah pemasaran hasil dan produktivitas tanaman yang rendah. Dengan mempertimbangkan kesesuaian lingkungan fisik, prospek pasar, konstribusi terhadap pendapatan petani saat ini, manfaat konservasi, maka tanaman industri yang berpeluang dikembangkan adalah kemiri, aren, pala dan melinjo. Pilihan tanaman tersebut terbatas di lokasi penelitian, mengingat kondisi lingkungan fisik yang cukup beragam membawa implikasi tehadap kecocokan tanaman. Dengan memanfaatkan semua potensi lahan kering yang ada, diharapkan dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang besar terhadap peningkatan pendapatan petani dan masyarakat mencegah terjadinya lahan kritis, menekan urbanisasi tenaga kerja dari desa ke kota, berkembangnya sarana dan prasarana dalam mendukung kegiatan produksi sehingga akan terjadi keseimbangan antara wilayah selatan dengan wilayah utara Jawa Barat.

1998

BARINGBING, B.

Hama gudang kemiri konsumsi dan pengendaliannya. The storage pest of candle nut and its control/ Baringbing, B.; Laba, I W.; Mardiningsih, T.L. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor). Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Industri. ISSN 1410-0029 (1998) v.2(4) p. 51-57, 6 tables; 8 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; CARPOPHILUS; ORYZAEPHILUS;

CHEMICAL CONTROL; STORED PRODUCTS PESTS.

Penelitian mengenai hama gudang kemiri (Aleurites moluccana) konsumsi dan pengendaliannya telah dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor sejak 1995 sampai dengan 1996. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis dan intensitas hama gudang pada kemiri serta pengendaliannya. Metode penelitian dilakukan melalui koleksi hama gudang masing-masing 6 pasar di wilayah Jawa Barat dan Pulau Lombok. Hasil koleksi dibawa ke Laboratorium Hama Kelompok Peneliti Entomologi. Pengamatan dilakukan terhadap jenis hama yang menyerang kemiri dan intensitas serangan. Dari masing-masing lokasi diambil sampel 2 kg kemiri. Pengendalian menggunakan eugenol terhadap Carpophilus sp. dan minyak biji pala terhadap Oryzaephilus sp. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap masing-masing 6 dan 8 perlakuan.

Percobaan diulang masing-masing 5 dan 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama utama kemiri di gudang adalah Carpophilus sp. dan Oryzaophilus sp. dengan intensitas serangga 20 - 27% Eugenol dengan konsentrasi 5 - 12,5%

efektif menekan reproduksi populasi Carpophilus sp. generasi pertama, sedangkan minyak biji pala konsentrasi 2,5% efektif mengendalian Oryzaephilus sp. Kematian serangga mencapai 95 %.

ERMIATI, E.

Kelayakan usaha tani dan efisiensi tata niaga kemiri. Farming system feasibility and marketing efficiency of candle nut/ Ermiati, E.; Pribadi, E.R.; Rosmeilisa, P.

(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor). Jurnal Penelitian Tanaman

ALEURITES MOLUCCANA; FARMING SYSTEMS; FEASIBILITY STUDIES; MARKETING CHANNELS.

Lambatnya laju perkembangan tanaman kemiri (Aleurites moluccana Wild) mungkin disebabkan oleh usaha tani yang tidak menguntungkan atau pemasarannya yang kurang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha tani, besarnya sumbangan pada petani, dan tingkat efisiensi tata niaganya. Penelitian dilakukan di Desa Datarnangka dan Sagaranten Kecamatan Sagaranten Kabupaten Sukabumi pada bulan Oktober 1996 dengan menggunakan metode survei. Petani responden ditentukan secara acak sederhana dan contoh pedagang secara acak (purposive sampling). Untuk mengetahui pendapatan usaha tani melalui pendekatan analisis Benefit Cost Ratio, Net Present Value dan Internal Rate Return, sedangkan untuk mengetahui margin tataniaganya dilakukan analisis distribusi margin. Dari hasil analisis kelayakan atas tingkat bunga 18% dan usahatani kemiri hingga umur tanaman 10 tahun menunjukkan, bahwa nilai B/C Ratio 1,13; NPV Rp. 163.885 dan IRR 25,70%

sedangkan sumbangan rata-rata ha/th pada petani sebesar Rp. 147.755,15. Hal ini berarti bahwa usaha tani kemiri rakyat di Kecamatan Sagaranten Kebupaten Sukabumi menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Rantai tata niaganya relatif pendek tetapi sistem pemasarannya belum efisien karena bagian (share) yang diterima oleh petani hanya 43,86% dan margin keuntungan pedagang 39,34%.

RESNAWATI, H.

Penggunaan bungkil biji kemiri (Aleurites moluccana Willd.) dalam ransum ayam buras. The use of kemiri seed meal (Aleurites moluccana Willd.) in native chickens diet/ Resnawati, H.; Iskandar, S.; Surayah (Balai Penelitian Ternak, Bogor). Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. ISSN 0853-7380 (1998) v. 3(3) p.

154-157, 2 tables; 12 ref.

CHICKENS; ALEURITES MOLUCCANA; OILSEED CAKES; RATIONS;

FEED CONVERSION EFFICIENCY; FEEDING LEVEL; WEIGHT GAIN.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat bungkil biji kemiri yang optimal dapat dipergunakan untuk ransum ayam buras. Sebanyak 100 ekor anak ayam buras unsexed berumur 1 hari ditempatkan dalam 20 kandang percobaan, yang diisi oleh 5 ekor ayam/kandang. Perlakuan ransum mengandung bungkil biji kemiri: 0% (R0), 5% (R5), 10% (R10), 15% (R15) dan 20% (R20). Ransum

disusun isoprotein dan isokalori dengan kandungan protein 14% dan energi metabolis 2,850 kkal/kg ransum. Rancangan yang dipergunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Penggunaan bungkil biji kemiri dalam ransum ayam buras sangat nyata (P > 0,01) mempengaruhi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan usus halus. Akan tetapi, perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konversi ransum, bobot karkas dan bobot hati. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bungkil biji kemiri dapat digunakan sampai 5% dalam ransum untuk ayam periode pertumbuhan.

2006

YUHONO, J.T.

Analisis sosial ekonomi usahatani konservasi pada lahan miring dengan polatanam jambu mete, kemiri, melinjo dan jati di Kabupaten Lombok Barat.

Sosio-economic analyses of conservation farming on sloping land by planting pattern of cashew, candlenut, Gnetum gnemon and teak at West Lombok District/

Yuhono, J.T.; Suhirman, S. (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. ISSN 0215-0824 (2006) v. 17(1) p.22-29, 4 tables; 6 ref.

ANACARDIUM OCCIDENTALE; GNETUM GNEMON; TECTONA GRANDIS; SLOPING LAND; PLANTATIONS; LAND MANAGEMENT;

SOCIOECONOMIC DEVELOPMENT; FARMING SYSTEMS; NUSA TENGGARA.

Kajian aspek sosial ekonomi dilakukan pada kegiatan penelitian polatanam konservasi tanaman perkebunan dan kehutanan pada lahan miring di Kabupaten Lombok Barat, Areal On Farm Research (OFR) dipilih secara sengaja (purposive) pada lahan berlereng 8 - 30° pada hamparan seluas 10 ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek sosial ekonomi usaha tani konservasi di lahan miring dengan polatanam tanaman perkebunan dan kehutanan yang meliputi kemampuan adopsi teknologi pengelolaan usahatani dan pendapatan usahatani konservasi baik secara individual maupun secara kelompok (kelompok tani).

Penelitian ini melibatkan 20 petani kooperatif yang dibagi menjadi 10 petani bekerja mengelola secara individual @ 0,50 ha/petani dan 10 petani bekerja secara berkelompok (kelompok tani). Data usahatani serta masalah-masalah teknis dan sosial dikumpulkan dari petani kooperatif. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif dan enterprise. Dari studi pendahuluan ini diperoleh kesimpulan bahwa di desa Sekotong Barat masih banyak lahan miring yang belum dimanfaatkan secara optimal dengan pola tanam tanaman perkebunan dan kehutanan. Pola usahatani pada umumnya masih bersifat subsisten dan mereka belum mengenal/mengetahui teknologi usahatani konservasi di lahan miring. Pembinaan pola berusaha secara berkelompok (kelompok tani) nampaknya belum/kurang disosialisasikan secara baik oleh petugas penyuluhan.

Respon petani kooperatif terhadap teknologi usahatani konservasi cukup tinggi

yang ditunjukkan oleh partisipasi aktif petani selama mengikuti diskusi/pelatihan dan pelaksanaan kegiatan penelitian polatanam konservasi berlangsung di lapangan. Pendapatan bersih yang diperoleh petani yang bekerja secara berkelompok > dibandingkan petani yang bekerja secara individual (Rp 1.674.000,- versus Rp 1.348.000,- /0,50 ha).

WARDIANA, E.

Pengaruh naungan dan media tanam terhadap pertumbuhan bibit kemiri Sunan Reutealis trisperma (Blanco) Airly shaw. Effect of shading and planting media to the growth of kemiri Sunan Reutealis trisperma (Blanco) airly shaw/ Wardiana, W.; Herman, M. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri, Sukabumi). Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri. ISSN 2085-1685 (2009) v. 1(4) p. 197-205, 2 tables; 25 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; GROWING MEDIA; SHADING; AGRONOMIC CHARACTERS; DAYLIGHT.

Cahaya matahari memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sedangkan media tanam adalah media tempat tumbuh dan merupakan sumber diperolehnya berbagai unsur hara dan air yang diperlukan bagi proses metabolisme tanaman. Penelitian dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh intensitas cahaya matahari dan media tanam terhadap pertumbuhan benih kemiri Sunan umur telah dilakukan di KP. Pakuwon, pada ketinggian tempat 450 m dpal, mulai bulan Januari sampai Mei 2009. Rancangan yang digunakan adalah petak terpisah dengan empat ulangan. Petak utama adalah intensitas cahaya matahari (I) yang terdiri dari dua taraf, yaitu : I1 (intensitas 65%) dan l2 (intensitas 100%). Anak petak adalah perlakuan media tanam (M) yang terdiri dari lima jenis media, yaitu : M, (tanah 100%), M2 (campuran tanah dan pupuk kandang kambing dengan perbandingan 50 : 50%), M3 (campuran tanah dan sekam padi dengan perbandingan 50 : 50%), M4 (campuran pupuk kandang kambing dan sekam padi, perbandingan 50 : 50%), dan M3 (campuran tanah, pupuk kandang kambing, dan sekam padi dengan perbandingan 33,3 : 33,3 : 33,3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk pembibitan kemiri Sunan yang baik dianjurkan menggunakan naungan dan media tanam yang baik adalah campuran tanah dengan pupuk kandang kambing dengan perbandingan 50:50%.

2010

WARDIANA, E.

Pendugaan parameter genetik beberapa karakter tanaman kemiri sunan (Reutalis trisperma Blanco airy shaw) di tingkat pembibitan. Estimates of genetic parameters of several characters in kemiri sunan (Reutealis trisperma Blanco airy shaw) at seedling stage/ Wardiana, E. (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri, Sukabumi). Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri. ISSN 2085-1685 (2010) v. 1(5) p. 253-260, 2 tables; 14 ref.

ALEURITES MOLUCCANA; GENETIC PARAMETERS; SEEDLINGS;

AGRONOMIC CHARACTERS.

Pemahaman tentang parameter genetik tanaman kemiri Sunan di tingkat pembibitan merupakan hal penting sebagai informasi dasar bagi program pemuliaan berikutnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis variabilitas genetik, heritabilitas, dan kemajuan genetik beberapa karakter tanaman kemiri Sunan di tingkat pembibitan. Pelaksanaannya dilakukan di KP.

Pakuwon, Sukabumi, pada ketinggian tempat 450 m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim B, mulai bulan September sampai Desember 2009.

Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok lengkap (RAK) dengan tujuh perlakuan aksesi tanaman dengan empat ulangan. Sembilan peubah yang diamati adalah : tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, diameter batang atas, diameter batang bawah, kerapatan daun, bentuk daun, dan bentuk batang.

Data dianalisis melalui analisis ragam, dan parameter genetik diduga berdasarkan metode Singh dan Chaudhary (1979). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) secara umum karakter-karakter tanaman kemiri Sunan di tingkat pembibitan memiliki variabilitas genetik yang sempit, kecuali karakter diameter batang atas, dan (2) berdasarkan pada nilai parameter genetik, maka seleksi akan efektif jika dilakukan terhadap karakter tinggi tanaman, lebar daun, diameter batang bawah, dan diameter batang atas.

Kencur (Kaempferia galanga)

Dokumen terkait