• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala atau kesulitan yang dihadapi oleh pekerja sosial dalam mendampingi Anak Yang Berkonflik dengan Hukum

Dalam dokumen daftar pustaka - Sintak (Halaman 68-74)

E. METODE PENELITIAN

2. Kendala atau kesulitan yang dihadapi oleh pekerja sosial dalam mendampingi Anak Yang Berkonflik dengan Hukum

beradaptasi dengan keluarga dan masyarakat dan begitu pula sebaliknya.

2. Kendala atau kesulitan yang dihadapi oleh pekerja sosial dalam

mendampingi anak juga diatur di dalam Pasal 68 Undang-Undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menyatakan bahwa pekerja sosial bertugas sebagai berikut:

1) Membimbing membantu, melindungi, dan mendampingi anak dengan melakukan konsultasi sosial dan mengembalikan kepercayaan diri anal.

2) Memberikan pendampingan dan advokasi sosial.

3) Membuat dan menyampaikan laporan kepada pembimbing kemasyarakatan dan pembinaan hasil bimbingan, bantuan dan pembinaan terhadap anak yang berdasarkan putusan pengadilan dijatuhi pidana atau tindakan.

4) Menjadi sahabat anak dengan menciptakan suasana kondusif.

5) Membantu proses pemulihan dan perubahan perilaku anak.

6) Mendampingi penyerahan anak kepada orang tua, lembaga pemerintah atau lembaga masyarakat.

7) Melakukan pendekatan kepada masyarakat agar bersedia menerima kembali anak di lingkungan sosialnya.

Menurut penulis keberadaan pekerja sosial menjalankan peran sebagai pendamping sangat diperlukan agar hak ABH mendapatkan perlindungan khusus dan menjamin haknya terpenuhi. Oleh karena itu, jumlah pekerja sosial yang terbatas sebaiknya perlu dipertimbangkan untuk ditambah karena meeka adalah pekerja yang memang ditugaskan secara khusus dengan keahlian untuk mendampingi anak-anak yang bermasalah, seperti yang telah diamanatkan oleh Pasal 68 Undang-Undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak tersebut.

2) Kurangnya fasilitas untuk penampungan anak yang berkonflik dengan hukum.

Faktor kedua dari kendala pekerja sosial dalam menjalankan perannya sebagai pendamping yaitu minimnya tempat penitipan anak. Dalam kaitannya dengan kasus yang diteliti, kedua ABH tetap tinggal bersama keluarganya dalam proses diversi karena belum tersedianya ruang pelayanan khusus. Berdasarkan ketentuan Pasal 30 ayat 3 Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menyatakan bahwa: “dalam hal ruang pelayanan khusus anak belum ada di wilayah bersangkutan, anak dititipkan di LPKS100

Dalam kaitannya dengan kasus yang diteliti, kedua ABH tidak dititipkan di LPKS tetapi selama proses diversi anak dikembalikan kepada keluarganya. Tidak dititipkannya ke LPKS karena Dinas Sosial Kota Semarang belum memilik tempat sendiri untuk penitipan anak selama menjalani proses diversi101.

Untuk mengantisipasi terhadap kendala yang dialami pekerja sosial tersebut dengan cara bekerja sama dengan Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, dalam hal tempat penitipan anak mengacu pada ketentuan Pasal 30 ayat 3 Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak tersebut.

Fasilitas penitipan untuk ABH di Dinas Sosial Kota Semarang belum memiliki tempat penitipan sendiri, sehingga mempersulit

100 Dilihat dalam Pasal 30 (3) Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

101 Op.chit wanwacara 23 november 2021.

pekerja sosial untuk melakukan pendampingan. Menurut penulis tentang fasilitas adalah sebagai alat instrument pendukung bagi pekerja sosial dalam melakukan pendampingan, apabila fasilitas kurang memadai maka kinerja pekerja sosial menjadi tidak maksimal.

Dalam rangka menjalankan amanat Pasal 30 ayat 3 Undang- undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak tersebut, maka sebaiknya Dinas Sosial juga membangun fasilitas tersebut agar ABH tetap mendapatkan hak-haknya untuk mendapatkan perlindungan khusus.

b. Faktor eksternal

1) Kondisi psikologis anak.

Pada kasus 1 dan 2 kedua ABH merasakan ketakutan ketika menjalani pemeriksaan dan mengalami kesulitan dalam pemilihan bahasa yang mudah dipahami. Pekerja sosial telah berupaya melakukan pendekatan untuk menenangkan dan menggunakan pemihan bahasa yang sederhana yang mudah dipahami anak dengan cara memposisikan sebagai teman, menampakkan rasa kepedulian dan perhatian terhadap anak.

Dalam hal kesulitan tersebut tidak dapat diatasi maka pekerja sosial dapat bekerja sama dengan psikiater untuk membantu kasus 1 dan 2 agar menciptakan susana yang kondusif dan anak tidak merasa takut102.

102 Dr. Marjuki, M.Sc, jurnal Prosiding Praktik Pekerjaan Sosial dengan Individu Dan Keluarga, IKAPI, Bandung, No 216/JBA/2012.

Upaya yang dilakukan pekerja sosial, menurut penulis telah sesuai dengan ketentuan Pasal 68c Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang berbunyi: “menjadi sahabat anak dengan mendengarkan pendapat anak dan menciptakan suasana kondusif.103

Dengan menggunakan pendekatan tersebut, pekerja sosial dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada para ABH sehingga siap menjalani proses diversi, dan dapat menyampaikan keinginan dan pendapatnya dengan baik dan lancar.

2) Kurangnya peran orang tua.

Pekerja sosial berpendapat bahwa pendampingan yang dilakukan mereka tidak cukup karena peran orangtua yang tidak ikut serta mendampingi permasalahan. Penulis juga berpendapat demikian karena orangtua juga dapat mempengaruhi kinerja pekerja sosial dalam melakukan pendampingan, karena peran orang tua hakikatnya seorang yang pertama dikenal anak, orangtua dikenal sebagai sosok yang membimbing, melindungi dan mengasuh dengan rasa kasih sayang yang menghasilkan karakter anak yang baik sebagaimana yang diatur dalam Pasal 26 ayat 1 Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yaitu:

1) Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak.

2) Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya.

3) Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak.

103 Dilihat dalam Pasal 68c Undang-undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

4) Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak104.

Peran serta orang tua dalam kedua kasus yang diteliti dapat mengoptimalkan kinerja pekerja sosial dan mempermudah pendampingan yang dilakukan pekerja sosial terhadap ABH karena orangtua adalah pihak yang sebenarnya lebih mengerti latarbelakang dan kebiasaan seorang anak mulai dari sifat, perilaku dan lingkungan sosialnya.

Menurut penulis, persoalan peran orangtua dan keluarga terhadap anaknya merupakan tanggung jawab orangtua apapun yang terjadi karena tumbuh kembangnya anak yang pertama kali dipengaruhi oleh faktor keluarga.

104 Dilihat dalam pasal 26 (1) Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

BAB IV

Dalam dokumen daftar pustaka - Sintak (Halaman 68-74)