• Tidak ada hasil yang ditemukan

daftar pustaka - Sintak

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "daftar pustaka - Sintak"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

PERAN PEKERJA SOSIAL PENERIMA ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM (ABH) DALAM PROSES DIVERSI DI KOTA SEMARANG. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pekerja Sosial mencantumkan profesi pekerja sosial dalam menangani anak yang berkonflik dengan hukum.

PERUMUSAN MASALAH

TUJUAN PENELITIAN

MANFAAT PENULISAN

Manfaat Teoritis

Manfaat Praktis a. Masyarakat

METODE PENELITIAN

Metode pendekatan

Spesifikasi Penelitian

Objek Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Bahan hukum utama yang digunakan adalah: UU No. 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial, UU No. 23 Tahun 2002, UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, UU No. Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Bahan hukum sekunder yang digunakan adalah bahan yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer dan membantu untuk menganalisis dan memahami bahan hukum primer yaitu: literatur dari pekerja sosial tentang anak yang berkonflik dengan hukum 3) Bahan Hukum Tersier.

Teknik Pengolahan dan Penyajian Data

Metode Analisa Data

Peran dan Peranan

Menurut Suhardono, peran adalah seperangkat standar yang membatasi perilaku yang harus dilakukan oleh seseorang yang menduduki suatu jabatan. Peran adalah konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai suatu organisasi.

Pekerja Sosial dan Pekerjaan Sosial

Pekerjaan sosial berusaha membantu orang atau lembaga sosial (keluarga, kelompok organisasi dan masyarakat) serta meningkatkan dan mengatur keberfungsian sosial agar sesuai dengan fungsinya yang semestinya. Konsep teori sistem digunakan oleh pekerja sosial untuk membantu orang berinteraksi lebih efektif dengan lingkungan sosial mereka.

Pengertian Anak

Hak untuk hidup, yaitu hak untuk mempertahankan dan mempertahankan hidup serta hak untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan pemeliharaan yang sebaik-baiknya. Hak atas perlindungan, yaitu hak-hak dalam konvensi tentang hak-hak anak yang meliputi hak atas perlindungan dari diskriminasi, tindak kekerasan dan penelantaran bagi anak yang tidak memiliki keluarga bagi anak pengungsi. Hak untuk tumbuh dan berkembang, yaitu hak-hak dalam konvensi tentang hak-hak anak yang mencakup semua bentuk pendidikan (formal dan informal) dan hak untuk mencapai taraf hidup yang layak bagi kesehatan fisik dan mental anak. anak. , perkembangan spiritual, moral dan sosial.

Hak untuk berpartisipasi, yaitu hak anak yang meliputi hak untuk menyatakan pendapat tentang segala hal yang menyangkut anak. Selain itu, dalam Pasal 66 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dimana pasal ini memuat pasal yang mengatur hak-hak anak yang dirampas kebebasannya. Setiap anak berhak membela diri dan memperoleh keadilan di muka pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam suatu pemeriksaan yang tertutup untuk umum.

Perlindungan Anak

Menurut Ahmad Kamil, perlindungan anak merupakan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara, yang merupakan rangkaian kegiatan yang terus dilakukan untuk melindungi hak-hak anak. Perlindungan anak sebagaimana dimaksud dalam butir 2 pasal 2 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dapat terwujud apabila mendapat dukungan dan tanggung jawab dari berbagai pihak. Dukungan yang diperlukan diatur dalam Pasal 20 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan atas Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa negara, pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, keluarga dan orang tua atau wali terikat dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan perlindungan anak.

Prinsip-prinsip perlindungan anak diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002. Perlindungan anak diselenggarakan atas dasar prinsip nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak. , hak untuk hidup, menghargai pendapat anak dan tumbuh kembang 47. anak. 49 Reza Fahlevi, Aspek hukum perlindungan anak dalam perspektif hukum nasional, Lex Jurnalica Vol 12, no.3, Desember 2015.

Anak Berhadapan dengan Hukum

Dengan perampasan kebebasan dan hukuman sebagai upaya terakhir, dipahami bahwa anak-anak pada prinsipnya tidak dapat dirampas kebebasannya, kecuali jika mereka dipaksa melakukannya untuk kepentingan penyelesaian kasus. H. Penghindaran tindakan pembalasan ini dimaksudkan dengan prinsip menjauhkan upaya pembalasan dalam proses pidana 51.. Anak-anak di bawah usia delapan belas tahun yang dapat memberikan informasi untuk keperluan penyelidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di persidangan 54. Dalam hal ABH , bahwa demi terwujudnya keadilan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban anak yang melakukan tindak pidana, diperlukan pendampingan dan perlindungan, agar seimbang dan manusiawi.

Perlu ditegaskan bahwa kewajiban anak yang melakukan pelanggaran hukum harus diperlakukan dengan memperhatikan keadaan, keadaan jiwa, keadaan fisik, keadaan sosial dan kemampuannya pada usia tertentu. Oleh karena itu, perlu memperhatikan dan memperjuangkan keberadaan anak yang melanggar hukum, antara lain: 56. Setiap anak harus dibela oleh seorang ahli, hak didampingi oleh penasihat hukum.

Proses Diversi

Diversi adalah tindakan yang dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan anak dan orang tuanya, korban, pembimbing sosial, pekerja sosial atas dasar keadilan restoratif dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. 57 Azwad Rachmat Hambali, Penerapan Diversi Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana, Vol 13, No. 1 Maret 2019, . https://ejournal.balitbangham.go.id/index.php/kebijakan/article/view/568/pdf, diakses 19 Okt 17:40 WIB. Proses diversi diselenggarakan dengan maksud untuk menyelesaikan perkara anak di luar pengadilan secara kekeluargaan dengan tujuan untuk mencapai perdamaian, dalam proses diversi sendiri menurut Pasal 8 angka 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. , dalam proses diversi adalah anak dan orang tua, walinya, pembina masyarakat dan pekerja sosial profesional yang terlibat60.

Dalam proses diversi, semua pihak yang terlibat dalam tindak pidana (seperti korban, anak dan masyarakat) dilibatkan untuk mencari solusi perbaikan, rekonsiliasi dan ketenangan jiwa yang tidak dilandasi balas dendam. Penanganan tindak pidana terhadap anak yang melanggar hukum melalui prosedur diversi dilakukan dengan tujuan menyadarkan pelaku bahwa tindak pidana yang dilakukan tidak benar dan memang demikian adanya. Dalam hal pihak terkait berhasil menyepakati prosedur diversi, maka digunakan alternatif penyelesaian penyelesaian yang disepakati oleh semua pihak terkait.

Gambaran umum

Susunan struktur dan visi misi Dinas Sosial

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .. kesejahteraan sosial yang berkeadilan, mengatasi kemiskinan dan pengangguran, mewujudkan penyelenggaraan pelayanan sosial yang bersih, jujur ​​dan transparan. 63 Undang-Undang Nomor 68 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi Dan Tata Kerja Bidang Pengawasan Sosial.

Kasus Anak Yang Berkonflik dengan Hukum yang didampingi oleh Pekerja Sosial

Program Bakti Sosial bagi ABH yang dilaksanakan melalui para pekerja sosialnya merupakan program pendampingan. Program pendampingan bertujuan untuk membantu memulihkan perilaku anak dengan memberikan bimbingan melalui konsultasi sosial bagi anak. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan untuk memenuhi hak dasar anak sesuai dengan kebutuhannya, seperti pemberian bantuan sembako seperti pemberian makanan tambahan bagi anak, kebutuhan sekolah, sandang dan dukungan aksesibilitas seperti pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelatihan.

Pengembangan diri dan kreativitas dilakukan dalam bentuk pelatihan yang sesuai dengan bidang dan minat anak, pelatihan seperti: pelatihan mobil, service handphone, desain grafis dan catering. Kedua implementasi tersebut bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LPKS) Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Tabel 1. Jumlah ABH yang didampingi pekerja sosial di Kota Semarang                 2020-2021
Tabel 1. Jumlah ABH yang didampingi pekerja sosial di Kota Semarang 2020-2021

Pendampingan pekerja sosial terhadap anak yang berkonflik dengan hukum

Pendampingan yang diberikan oleh pekerja sosial dalam penanganan kasus ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu: sebelum proses diversi dimulai, selama proses diversi dan setelah proses diversi selesai. Menurut pekerja sosial, hasil asesmen bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan terbaik anak, terutama untuk menentukan langkah selanjutnya dalam proses diversi. Seperti pada kasus 1, pendampingan yang diberikan oleh pekerja sosial saat menangani kasus 2 juga terdiri dari tahapan sebelum proses diversi dimulai, selama proses diversi dan setelah proses diversi selesai.

Setelah proses pengalihan selesai, pekerja sosial terus memantau perkembangan anak melalui orang tua, tokoh masyarakat (RT) setempat dengan bergotong royong memantau perkembangan anak. Hambatan yang dihadapi oleh pekerja sosial dalam membimbing ABH Dalam kasus yang diteliti oleh penulis, hambatan internal yang dihadapi oleh Ibu Icha Kusuma Dewi adalah keterbatasan anggota staf, keterbatasan tersebut dijelaskan oleh Ibu Icha Kusuma Dewi dalam hasil wawancara. Proses tersebut dilakukan oleh pekerja sosial bersama dengan psikiater untuk membantu proses masalah berkomunikasi dengan anak.

Peran pekerja sosial mendampingi Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam proses Diversi

Bantuan dari pekerja sosial tidak boleh membuat anak merasa tertekan atau terpojok. Semua kegiatan yang dilakukan oleh pekerja sosial berdasarkan kasus yang diteliti sesuai dengan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang pekerja sosial yaitu: Perlindungan sosial dilakukan melalui88. Bantuan sosial berupa bantuan kepada keluarga dan masyarakat juga telah diberikan oleh pekerja sosial pada kasus yang diteliti.

Bantuan sosial yang dilakukan oleh pekerja sosial terkait dengan proses ABH terkait dengan proses hukum dan setelah proses hukum sesuai dengan Pasal 59 (d) UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyebutkan bahwa “Pemberian perlindungan dan pendampingan dalam setiap proses peradilan dan di luar pengadilan”90. Menurut penulis, peran pendamping yang dipelajari pekerja sosial dalam dua kasus tersebut sangat total. Menurut penulis, dalam dua kasus yang diteliti, para pekerja sosial menjalankan peran imperatif dan fakultatif.

Kendala atau kesulitan yang dihadapi oleh pekerja sosial dalam mendampingi Anak Yang Berkonflik dengan Hukum

Menurut penulis, keberadaan pekerja sosial yang berperan sebagai pendamping sangat diperlukan agar hak-hak ABH mendapat perlindungan khusus dan terjamin terpenuhinya hak-haknya. Oleh karena itu, jumlah pekerja sosial yang terbatas perlu dipertimbangkan untuk ditambah karena mereka adalah pekerja yang khusus ditunjuk dengan keahlian untuk membantu anak bermasalah, sebagaimana diamanatkan Pasal 68 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan. . Faktor kedua keterbatasan pekerja sosial dalam menjalankan perannya sebagai pendamping adalah kurangnya tempat penitipan anak.

Untuk mengantisipasi kendala yang dialami pekerja sosial dalam melakukan kerjasama dengan lembaga jaminan sosial, terkait fasilitas penitipan anak, kami mengacu pada ketentuan Pasal 30(3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Menurut penulis tentang fasilitas sebagai sarana pendukung pemberi asuhan: jika fasilitas tidak memadai, maka pemberi asuhan tidak akan berfungsi secara maksimal. Pekerja sosial berpendapat bahwa bantuan yang mereka berikan kurang memadai karena peran orang tua yang tidak ikut serta dalam masalah pendampingan.

PENUTUP

Saran

Pemkot Semarang seharusnya menambah jumlahnya. pekerja sosial untuk memaksimalkan dan memfasilitasi kinerja pekerja sosial dalam memberikan bantuan kepada ABH. Badan Pengembangan Hukum dan Sumber Daya Manusia. Ham, http://bpsdm.kemenkumham.go.id/id/publikasi/artikel/categories-anak-yang-dungan-terhadap-anak-yang-bertandingan-dengan- Hukum-melalui-approach-resto.pdf. Dheny Wahyudi, 2015, “melindungi anak yang berhadapan dengan hukum melalui keadilan restoratif”, no.149. https://media.neliti.com/media/publications/43318-ID-perlindungan-hadap-anak-yang-berhadapan- Hukum-melalui-dining-resto.pdf .

Hari Harjanto Setiawan, 2018, Mengembalikan Integritas Praktik Pekerjaan Sosial dengan Anak yang Berhadapan dengan Hukum, CV Budi Utama, Yogyakarta. Baskoro, 2019, Rekonstruksi Hukum Anak Penyalahguna Narkoba dalam Konteks Sistem Peradilan Pidana, PT Refika Aditama,. VolIINo253.http://bpsdm.kemenkumham.go.id/en/publikasi/artikel/kategorija i-anak-yang-bertandangan-dengan- Hukum.

Gambar

Tabel 1. Jumlah ABH yang didampingi pekerja sosial di Kota Semarang                 2020-2021
Tabel 2. Hasil diversi kasus 1 dan 2.

Referensi

Dokumen terkait

ب ( - ﻰﻟإ ﺎﮭﻠﯿﻠﺤﺗو ﺔﻠﻤﺠﻟا ءﺎﻨﺑ ﻲﻓ بﻮﯿﺠﻟا لﺎﻤﻌﺘﺳا ﻖﯾﺮط ﻦﻋ ﺔﻐﻠﻟا ﺪﻋاﻮﻗ ﺲﯾرﺪﺗ ةﺪﯾﺪﺟ تﺎﻤﻠﻛو ﻊطﺎﻘﻣ ءﺎﻨﺑ ﻲﻓ فوﺮﺤﻟا ﻚﻠﺗ ﻦﻣ ةدﺎﻔﺘﺳﻻاو ،فوﺮﺣ ﻰﻟإ ﻢﺛ ﻊطﺎﻘﻣ. ىﺮﺧأ.

٢ ﺺﻠﺨﺘﺴﳌﺍ ﺞﻣﺍﺮﺑ ﺓﺩﻮﳉ ﹰﺎﻴﺳﺎﺳﺃ ﹰﺎﺳﺎﻴﻘﻣ ﺕﺎﻌﻣﺎﳉﺎﺑ ﺔﻴﻤﻠﻌﻟﺍ ﻡﺎﺴﻗﻷﺍ ﺍﻮﳚﺮﺧ ﺪﻌﻳ ﺪﺣﺃ ﻦﻣ ﺍﻮﻧﺎﻜﻓ ؛ ﱄﺎﻌﻟﺍ ﻲﻤﻴﻠﻌﺘﻟﺍ ﺓﺩﻮﳉﺍﻭ ﺩﺎﻤﺘﻋﻼﻟ ﺔﻴﻨﻃﻮﻟﺍ ﺔﺌﻴﳍﺍ ﻞﺒﻗ ﻦﻣ ﺎﳘﺪﻴﻛﻮﺗﻭ ﺔﻴﻋﻮﻨﻟﺍﻭ ﺓﺩﻮﳉﺍ ﺱﺎﻴﻘﻟ ﺎﻬﻴﻠﻋ