• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONFLIK PERBATASAN INDONESIA DENGAN MALAYSIA DI

2.4 Kepentingan Indonesia atas Ancaman Malaysia terhadap Dusun

2.5 Konflik Akibat Kepentingan Malaysia di Camar Bulan BAB III

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP PERGESERAN PATOK DI WILAYAH CAMAR BULAN.

3.1 Kebijakan Luar Negeri Indonesia terhadap wilayah Perbatasan di Dusun Camar Bulan

3.2 Bentuk Instrumen Kebijakan Indonesia terhadap Pergeseran Patok di Wilayah Camar Bulan

3.2.1 Diplomasi Perbatasan Indonesia terhadap Malaysia 3.2.2 Diplomasi Publik Indonesia terhadap Malaysia

3.3 Reaksi Malaysia terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia Pasca Pergeseran Patok di Dusun Camar Bulan

3.4 Sikap Pemerintah Indonesia Terhadap Malaysia

3.5 Tantangan Kebijakan Indonesia dalam Menghadapi Persoalan Wilayah Perbatasan di Camar Bulan

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

BAB II

KONFLIK PERBATASAN INDONESIA DENGAN MALAYSIA DI DUSUN CAMAR BULAN

2.1 Latar Belakang Konflik Perbatasan Camar Bulan

Biasanya konflik timbul disebabkan adanya pertentangan berbagai tuntutan mengenai masalah yang beragam seperti konflik perbatasan. Jika pihak yang bersangkutan memandang pertentangan nilai dan tuntutan secara fundamental, maka perilaku negara tersebut akan ditopang oleh sikap bermusuhan. Kedua negara tidak mempercayai salah satu pihak, perasaan curiga, dan dapat juga ditunjukkan dengan sikap kekerasan. Jika situasi konflik tersebut menemui jalan buntu atau melibatkan pihak ketiga, maka situasi tersebut akan berkembang menjadi konflik yang berakhir dengan penaklukan atau penarikan kembali dan tindak kekerasan.44

Wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia di Camar Bulan Kalimantan Barat sebenarnya tak ada masalah. Selama ini kedua negara sepakat menggunakan peta Belanda Van Doorn tahun 1906. Malaysia pun tak mempermasalahkannya apabila mengacu kepada garis batas peta Belanda Van Doorn tahun 1906, peta Sambas Borneo (N 120 E 10908/40 Greenwid) dan peta Federated Malay State Survey tahun 1935.45

Namun, permasalahan perbatasan Camar Bulan muncul akibat adanya perbedaan pendapat antara Indonesia dan Malaysia tentang penegasan garis batas.

44 K.J Holsti, Wawan, Juanda “Politik Internassional Suatu Kerangka Analisis” Binacipta, Bandung, 1992. Hal 646-647.

45Purwo Mursito,“Peran Arsip Dalam Mendukung Upya Diplomasi Guna Penyelesaian Sengketa Perbatasan Camar Bulan dan Tanjung Datu”,ANRI Jurnal Kearsipan Vol 7/ ANRI/ 12/ 2012, hal 97-98.

Pada tahun 1975, kedua belah pihak telah melakukan penegasan perbatasan di wilayah Camar Bulan. Namun, pada saat itu sedang musim hujan dan tim kedua negara melakukan survei dengan menggunakan pengukuran beda tinggi. Metode yang digunakan adalah “water pass” sebagai salah satu cara pengukuran. Akibat kedua belah pihak tidak menemukan watershed46. Pada saat melakukan pengukuran batas, ternyata wilayah Camar Bulan hanya dataran biasa serta tidak mempunyai perbukitan.47

Gambar I

Peta Kawasan Camar Bulan

Sumber, Border Studies Info www.borderstudies.info.com dakses pada tanggal 3 Maret 2013

Pada tahun 1978, tim survei Penegasan Batas Kedua Negara melakukan pengukuran ulang. Dengan menggunakan alat ukur sipat datar atau “levelling”, maka ditemukan watershed yang posisinya sangat menjorok ke wilayah

46Watershed adalah proses menentukan atau penetapan perbatasan darat dengan mengikuti aliran turunnya air dari tempat yang lebih tinggi.

47http://wilyahperbatasan.com/masalah-temajok-masalah-penanganan-tegas-batas-yang-belum- optimal/ dikses pada tanggal 3 Maret 2013.

Indonesia. Maka pada tahun 1978 ditandatanganilah Memorandum of Understanding (MoU) mengenai batas daerah tersebut di Semarang.48

Sejak awal, pihak Indonesia sebenarnya tidak sependapat dengan pemakaian posisi watershed tersebut. Sebab pihak Indonesia sudah merasakan bahwa cara pengukuran tersebut tidak benar. Akan tetapi, pihak Indonesia pada saat itu tidak mempunyai alasan yang logis untuk dikemukakan kepada pihak Malaysia. Karena pihak Indonesia tidak terpikirkan untuk melihat esensi yang terkandung dalam Konvesi 1891“apabila tidak terdapat gunung, maka batas tersebut dapat berupa garis lurus”.49

Permasalahan Camar Bulan sebenarnya merupakan persoalan yang sangat mendasar dan sederhana. Namun karena cara pandang tim teknis antara Indonesia dan Malaysia terlalu teknis, sehingga melupakan esensi yang menjadi dasar bagi penyusunan Konvensi 1891. Dalam upaya menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia telah beberapa kali melakukan pertemuan, itu yang diselengarakan di Malaysia maupun di Indonesia.50

Pada Pertemuan Panitia Nasional (Pannas) ke-18 (Minute Nasional/ Joint Indonesia Malaysia (JIM) ke-18) yang diadakan di Jakarta tanggal 18-20 Oktober 1993, telah disepakati bahwa penyelesaian masalah Outstanding Boundary Problems (OBP) akan difokuskan setelah tahun 2000, yakni pasca pengukuran perbatasan secara keeluruhan.51

48 Suryo Sakti Hadiwijoyo, “Perbatasan Negara dalam dimensi Hukum Intenasional”, Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011, hal 175-176.

49Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,176.

50Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid., 163-164.

51Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

Pada tahun 2000 pertemuan Panitia Nasional ke-25 (Minute Nasional/ JIM ke-25) diadakan di Pulau Pinang, Malaysia 24-26 Februari 2000. Dalam pertemuan tersebut disepakati agar Komite Teknik dari kedua negara mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar bersama-sama mengkaji dan mencari alternatif penyelesaian permasalahan perbatasan tersebut sebaik mungkin.52

Sedangkan Pertemuan Teknis ke-31 (Minute Nasional/ IMT ke-31) diselengarakan Bandung, Indonesia pada 20-22 September 2000. Dalam pertemuan ini dihasilkan rekomendasi. Salah satu diantaranya adalah untuk membentuk kelompok kerja Joint Working Group (JWG) serta menerbitkan proposal sebagai bahan pertimbangan dan persetujuan terhadap agenda pekerjaan tersebut.53

Kemudian pertemuan Tingkat Nasional Joint Boundary Committee Meeting (Minutes Nasional/ JIM ke-27) dilaksanakan Kota Kinabalu, Sabah Malaysia, pada tanggal 29-31 Oktober 2001. Dalam pertemuan ini telah disepakati untuk menyelengarakan pertemuan khusus guna membahas Term Of Reference (TOR) dalam pelaksanaan Joint Working Group (JWG) untuk membahas Outstanding Boundary Problems (OBP) tersebut. Selain itu, disepakati pula untuk mengadakan pertemuan khusus “The Special Meeting to Finalize the Terms of Reference for the Joint Working Group on the Boundary Problems on the Joint Demarcation

52Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

53Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

and Survey of the International Boundary between Indonesia and Malaysia” di Jakarta pada 10-11 April 2002.54

Tahun 2001, ketika Sekretaris Jenderal Kementrian Dalam Negeri dipimpin oleh Siti Nurbaya, Tim Indonesia secara sepihak pernah melakukan penelitian terkait wilayah perbatasan Camar Bulan di Tanjung Datu. Ide dalam penelitian itu adalah untuk membuktikan bahwa daerah Camar Bulan adalah daerah datar dan tidak layak untuk dicari garis watershed. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemotretan udara dan pengukuran beda tinggi di daratan leveling dan hasilnya terbukti bahwa Camar Bulan itu memang daratan yang rata serta tidak terdapat pegunungan.55

Selanjutnya, hal tersebut juga dikemukakan dalam perundingan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Jakarta pada tahun 2001. Kali ini pihak Indonesia berhasil meyakinkan pihak Malaysia bahwa persoalan itu harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengkaji ulang serta melakukan pengukuran ulang. Namun, amat disayangkan karena pada pertemuan selanjutnya, persoalan Camar Bulan ini menjadi terlupakan. Sebab, Tim Indonesia sudah berganti pembahasan dan pihak yang melakukan negosiasi pada pertemuan telah diganti oleh pihak lain.56

Pada dasarnya, pemerintah Indonesia berupaya menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan kasus Camar Bulan ini. Pada tahun 2003, secara sepihak

54Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

55http://www.wilayahperbatasan.com/masalah-temajok-masalah-penanganan-tegas-batas-yang- belum-optimal/ diakses pada tanggal 3 Maret 2013.

56 http://www.wilayahperbatasan.com/masalah-temajok-masalah-penanganan-tegas-batas-yang- belum-optimal/ diakses pada tanggal 3 Maret 2013.

pemerintah Indonesia telah melakukan penelitian ulang di wilayah Camar Bulan, baik itu melalui media foto udara maupun pengukuran beda tinggi. Hasilnya terbukti bahwa secara aturan Internasional, wilayah tersebut tergolong rata dan berawa. Apabila metode gais lurus diterapkan di wilayah tersebut dari titik D A86 sampai D A156, maka dengan berpatokan titik terakhir di wilayah tersebut posisi watershed sudah jelas. Dengan begitu bagi Indonesia permasalahan Tanjung Datu dapat dianggap selesai.57

Gambar II

Esensi yang terkandung dalam Konvensi 1891

Sumber : Border Studies Info www.borderstudies.info.com dakses pada tanggal 3 Maret 2013

Pada awal Oktober 2011, untuk pertama kalinya kasus Camar Bulan muncul kepermukaan publik. Yakni, munculnya isu pencaplokan wilayah Indonesia di Tanjung Datu dan Camar Bulan oleh Malaysia. Bermula dari adanya pernyataan anggota Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, yang menduga kuat bahwa Malaysia telah melakukan pengalihan patok batas A88 – A156 di Dusun Camar

57Suryo Sakti Hdiwijoyo, Ibid.,158.

Bulan. Perubahan garis batas itu menempatkan patok baru yang tidak sesuai dengan peta tua yang menjadi rujukan semula antara Indonesia dengan Malaysia.58

Apabila ditarik dari garis tengah, terdapat pergeseran garis sejauh 3,3 kilometer dari patok A 104 yang lama telah dirusak Malaysia dari garis baru yang dibuat Indonesia dan Malaysia tahun 1978.59

Pada dasarnya latar belakang permasalahan Camar Bulan cukup sederhana, yakni adanya kesalahpahaman mengenai cara pengukuran antara pihak Indonesia dengan pihak Malaysia pada tahun 1975 dan 1978. pada pengukuran terakhir yang dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia untuk menentukan patok batas di Camar Bulan. Pihak Indonesia tidak mengetahui Konvensi 1918 yang mencantumkan

“bila mana tidak terdapat Watershead atau perbukitan maka dapat di tarik garis lurus”.

Pada tahun 1978 pihak Indonesia dan Malaysia telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Semarang yang mana salah satu isinya menyatakan bahwa wilayah perbatasan di Camar Bulan telah selesai dan telah disepakati dalam menentukan garis batas dan patok batas dengan mengunakan metode Watershead.

58 Pontianak Pos Online, http://www.kalbariana.net/camar-bulan-dicaplok, di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

59Kompas,

http://regional.kompas.com/read/2011/10/11/01440231/Indonesia.Dianggap.Serahkan.Wilayah di akses pada tanggal 3 Maret 2013.

Metode Watershead ini dilakukan Indonesia dan Malaysia untuk mencari dan menentukan letak batas di Camar Bulan. Sehingga hal tersebut mengubah patok batas yang sebelumnya dibuat oleh pihak Belanda dan Inggris bergeser sejauh 3,3 km dengan dibangunnya patok baru pada tahun 1978.

Gambar III

Perubahan garis batas sejauh 3,3 km

Sumber : http://www.okefood.com/read/2011/10/15/448/515782/dpr-temukan-fakta-di-camar- wulan-tanjung-datu diakses pada tanggal 13 Maret 2013

2.2 Peran Indonesia dalam Pengembangan Wilayah Perbatasan di Kecamatan Sambas

Kawasan perbatasan memiliki peran sangat penting dan strategis, karena selain merupakan batas kedaulatan juga merupakan wilayah yang merefleksikan halaman depan suatu negara. Pasca kemerdekaan Indonesia dan Malaysia, sebenarnya kedua negara telah sama-sama memiliki kepedulian untuk memperhatikan bagaimana mengelola wilayah perbatasan di Kalimantan agar

dapat mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat sehingga kedua negara dapat menjalankan hidup berdampingan, saling menghormati dan menjaga eksistensi kedaulatan masing-masing negara.60

Namun, eksistensi penerapan garis batas dalam kebijakan pengelolaan wilayah perbatasan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam arti, kebijakan penanganan wilayah perbatasan menempatkan garis batas sebagai simbol kedaulatan wilayah negara akan selalu menjadi pijakan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. Sehingga, dengan memadukan kedua faktor tersebut, terdapat beberapa pedoman kebijakan dan strategis dalam pengelolaan wilayah perbatasan.61

Pertama, kebijakan penetapan batas antar negara baik darat maupun laut merupakan rangka menjaga dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka, strategi yang perlu dilakukan untuk mewujudkan eksistensi kedaulatan wilayah Indonesia berupa penegasan batas antar negara terutama pada kawasan-kawasan yang masih belum jelas garis batasnya maupun lokasi-lokasi yang masih menjadi permasalahan.62

Kedua, mengubah paradigma lama tentang perbatasan dari anggapan wilayah terbelakang atau terisolir, menjadi wilayah perbatasan sebagai halaman depan negara dan pintu gerbang internasional. Dalam konsep pembangunan wilayah perbatasan aspek tata ruangnya harus berorientasi pada lini pembangunan yang disusun secara rapih, serta disesuaikan dengan karakteristik daerah setempat

60Ludiro, dkk, Mengelola Perbatasan Indonesia di Dunia Tanpa Batas : Isu, Permasalahan dan Pilihan Kebijakan, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010 hal 123.

61Ludiro, dkk, Ibid.,123.

62Ludiro, dkk, Ibid.,123.

dan kepentingan kesejahteraan masyarakat maupun pertahanan. Hal ini dilakukan dengan tidak mengabaikan faktor kelestarian lingkungan. Strategi yang diperlukan dalam kebijakan ini antara lain dengan meningkatkan sarana dan prasarana perbatasan melalui pembangunan kawasan perbatasan.63

Ketiga, meningkatkan kerjasama dengan negara-negara tetangga di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan pertahanan serta keamanan. Kebijakan ini telah diimplementasikan dalam forum kerjasama penanganan perbatasan seperti Sosek Malindo.64

Dalam pengelolaan wilayah kawasan perbatasan dapat diarahkan pada Wilayah-wilayah Konsentrasi Pengembangan (WKP), yaitu kabupaten/kota yang berada di dalam Cakupan Kawasan Perbatasan (CKP), baik yang berada di kawasan darat maupun laut. Penentuan prioritas WKP ditetapkan dengan memperhatikan isu-isu strategis di setiap WKP dalam aspek pertahanan, sosial budaya, dan ekonomi.65

Fokus lokasi penanganan yang diprioritaskan di setiap WKP disebut dengan Lokasi Prioritas (Lokpri), yakni, kecamatan-kecamatan di kawasan perbatasan darat dan laut di dalam WKP yang memenuhi salah satu atau lebih dari kriteria sebagai berikut :66

a. Kecamatan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga di wilayah darat.

b. Kecamatan Lokasi Pulau-Pulau Kecil Terluar.

63Ludiro, dkk, Ibid.,123.

64Ludiro, dkk, Ibid.,124.

65 BNPP, Grand Design Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan Kawasan Perbatasan Di Indonesia Tahun 2011 2025, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, www.bnpp.go.id di akses pada tanggal 28 Februari 2013, hal 21.

66BNPP, Ibid., 21-24.

c. Kecamatan yang difungsikan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional.

d. Kecamatan yang menjadi Pos Lintas Batas (exit-entry point) berdasarkan Border Crossing Agreement.

Pengelolaan batas wilayah negara yang akan difokuskan pada segmen- segmen garis batas yang belum terpecahkan (problem focus) dan pembangunan wilayah diarahkan pada area focus yang ditepatkan dengan lokasi-lokasi prioritas pengembangan kawasan perbatasan. Salah satu area lokasi pengembangan wilayah perbatasan adalah Kecamatan Sambas, Propinsi Kalimantan Barat.67

Kabupaten Sambas terletak di bagian utara Propinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak (Malaysia). Akibat posisinya tersebut, Kabupaten Sambas memiliki fungsi ganda dalam konteks pengembangan wilayah, yaitu sebagai kawasan perbatasan negara dan sebagai suatu daerah otonom yang harus melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan bagi masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.68

Kabupaten Sambas terletak di bagian utara Propinsi Kalimantan Barat, yang secara geografis terletak di antara 0° 33°–2° 08° LU dan 108° 39°–110° 04° BT.

Secara administratif, Kabupaten Sambas berbatasan dengan:69 a. Sebelah Utara : Sarawak, Malaysia

b. Sebelah Selatan : Kota Singkawang c. Sebelah Barat : Laut Natuna

d. Sebelah Timur : Kabupaten Bengkayang

67BNPP, Ibid., 25.

68Husnadi,“Menuju Model Pengenbangan Kawasan Perbatasan Daratan Antar Negara (Studi Kasus : Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat)”,Tesis Program Pascasarjana Magister Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Semarang 2006, hal 81.

69Pemerintah Daerah Sambas, www.sambas.go.id diakses pada tanggal 14 Oktober 2012.

Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia), Kabupaten Sambas memiliki pola perkembangan yang berbeda dengan wilayah lain yang bukan perbatasan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan wilayah tersebut.70

Kabupaten Sambas memiliki dua kecamatan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Kecamatan Sajingan Besar dan Kecamatan Paloh yang meliputi 39,71% dari luas wilayah Kabupaten Sambas. Kecamatan Sajingan Besar memiliki luas 1.391,20 km2atau 21,75 %, dan Kecamatan Paloh 1.148,84 Km2 atau 17,96%. Karakteristik spesifik wilayah Kabupaten Sambas yang tidak dimiliki semua daerah kabupaten atau kota lainnya adalah letaknya yang sangat strategis sehingga sangat mudah untuk dijangkau dari negara tetangga, seperti, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, Brunei Darussalam, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Myanmar.71

Dalam rangka peran Indonesia dalam pengembangan wilayah perbatasan di Sambas, pemerintah Indonesia berkerja sama dengan Pemerintah Daerah Kalimantan Barat membuat program yang dikelompokkan ke dalam tiga bagian besar yaitu :72

1. Aspek Demarkasi dan Delimitasi Garis Batas. Program‐program pembangunan yang terkait dengan Aspek ini adalah : (1) program pembangunan kantor imigrasi kelas II Sambas; (2) program pembangunan dan pengadaan sarana prasarana border gate; (3) program pembangunan Rumah Barang Sitaan (Rubasan); (4) Program Pembangunan Sarana dan

70Husnadi, Ibid.,81.

71Pemerintaha Daerah Sambas, www.sambas.go.id diakses pada tanggal 14 Oktober 2012.

72Bappenas, Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan Negara: Buku Rinci Di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005, www. Bappenas.go.id diakses pada tanggal 14 Oktober 2012.

Prasarana Kejaksaan Negeri; (5) Program Pembangunan Monumen ʺTeringasʺ dan Monumen ʺSelamat Datangʺ.

2. Aspek Kesenjangan Pembangunan. Program‐program pembangunan yang terkait dengan aspek ini adalah:

a. Program Bidang Ekonomi, dengan kegiatan antara lain : Pengembangan Agribisnis dan Aquabisnis; Pengembangan Industri dan Perdagangan; serta Peningkatan Investasi.

b. Program Bidang Lingkungan Hidup, dengan kegiatan antara lain : Penatagunaan Kawasan Hutan; Pengkajian Potensi Sumberdaya Mineral; Pemetaan Geologi (skala 1 : 50.000); Survey Geologi Kelautan; Identifikasi Potensi Energi Air; Rehabilitasi dan Konservasi Hutan; Sosialisasi atau Penyuluhan UU Lingkungan Hidup; Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan dan Pelestarian Sumber Daya Alam (SDA).

c. Program Bidang Pariwisata, dengan kegiatan antara lain : Penataan Obyek Wisata; Pembinaan; Pemasaran Objek Wisata Dalam Negeri dan Luar Negeri; Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Adat Istiadat; Pengadaan Alat / Asesoris Kesenian.

d. Program Bidang Pendidikan, dengan kegiatan antara lain : Program Pendidikan Dasar dan Pra Sekolah; Program Pendidikan Menengah.

e. Program Bidang Kesehatan, dengan kegiatan antara lain : Pemberdayaan Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat Masyarakat;

Peningkatan Upaya Kesehatan; Peningkatan Puskesmas;

Pembangunan dan Rehabilitasi; Pengadaan Alat Medis Ruang Rawat Inap dan Unit Gawat Darurat (UGD); Pengadaan Alat Medis dan Bidang Set; Pengadaan Ambulance; Pengadaan Kendaraan Roda 2; Pengadaan Speed Boat; Pengadaan Radio Medik; Pengadaan Solar Sel; Pembangunan Rumah Dinas Dokter;

Pembangunan Rumah Dinas Paramedis; Pengadaan Peralatan Medis; Peningkatan Sistem Informasi Kesehatan; Penyediaan Tenaga Perawat, Tenaga Adm dan Bidan Desa; Pengadaan Jaringan Komunikasi dan Komputer; Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) Medis dan Paramedis.

f. Program Bidang Sarana dan Prasarana, dengan kegiatan antaralain : Peningkatan Jalan; Peningkatan Jembatan;

Pembangunan; Pembangunan Terminal Bis; Pembangunan Pelabuhan Laut; Pembangunan Lapangan Udara; Marka atau Rambu; Pembangunan Jaringan Telepon; Pemukiman Transmigrasi Baru.

3. Aspek Politik, Hukum, dan Keamanan. Program‐program pembangunan yang terkait dengan aspek ini adalah : (1) Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Militer; (2) Program Pengadaan Sarana Transportasi; (3) Program Sarana Peralatan Militer; (4) Program Sarana Alsintor; (5) Program Sarana Komunikasi; (6) Program Dana Operasional Pengelolaan Air Mineral Batas; (7) Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Polri.

Dalam rangka mengembangkan sumber daya wisata yang terdapat di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Saat ini terdapat wisata alam pegunungan, wisata alam pantai yang berlokasi di sepanjang pesisir pantai Tanah Hitam, pantai Tanjung Selimpai dan pantai Temajok. Lokasi-lokasi tersebut akan dikembangkan oleh pemerintah untuk mendukung pengembangan pariwisata. sehingga obyek wisata ini nantinya akan menarik wisatawan mancanegara maupun domestik.

Kondisi obyek wisata di Kecamatan Paloh dapat dilihat pada Tabel 1.73 TABEL 1

OBYEK WISATA DI KECAMATAN PALOH, KABUPATEN SAMBAS

No Nama Objek Wisata Lokasi Jenis Wisata Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Pantai Tanah Hitam Goa Batu Belidak Pantai Pulau Tua Pantai Rekreasi G. Besi Air Terjun Batu Lintang Pantai Tanjung Selimpai Batu Bejamban

Pantai Camar Bulan Pantai Tanjung Kemuning Pantai Tanjung Datu Pantai Temajok

Paloh Paloh Paloh Paloh paloh Paloh paloh paloh paloh Paloh Paloh

Wisata Pantai Wisata Alam Wisata Pantai Wisata Pantai Wisata Alam Wisata Pantai Wisata Alam Wisata Pantai Wisata Pantai Wisata Pantai Wisata Pantai

Akan dikelola pada tahun 2009*

Akan dikelola pada tahun 2009**

Akan dikelola pada tahun 2007**

Akan dikelola pada tahun 2007*

Akan dikelola pada tahun 2007*

Akan dikelola pada tahun 2008*

Akan dikelola pada tahun 2007**

Akan dikelola pada tahun 2008*

Akan dikelola pada tahun 2008*

Akan dikelola pada tahun 2008*

Akan dikelola pada tahun 2008*

* Pariwisata yang telah selesai pembangunannya pada tahun 2012

** Pariwisata yang masih dalam proses pembangunannya sampai tahun 2012

Sumber: Bappenas, Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan Negara: Buku Rinci Di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005, www. Bappenas.go.id diakses pada tanggal 14 Oktober 2012.

73Bappenas, Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan Negara: Buku Rinci Di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2005, www. Bappenas.go.id diakses pada tanggal 14 Oktober 2012.

Dari tabel diatas terdapat dua jenis pariwisata yang terdapat di wilayah Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, yakni, delapan wisata pantai dan tiga wisata alam. Kedua wisata tersebut akan dikelola pada tahun yang berbeda-beda oleh pemerintah Paloh. Namun pada tahun 2012 terdapat delapan wisata yang telah selesai pembangunannya dan tiga wisata yang belum selesai pembangunannya. Pada Pantai Tanjung Selimpai di Temajok misalnya, merupakan pantai dengan habitat penyuter besar di Kalimantan Barat, bahkan karakteristik pantai ini tidak dimiliki oleh Sarawak.

Desa Temajuk terdapat dua Dusun yakni, Dusun Maulidi dan Dusun Camar Bulan. Pada tahun 2012 Pemerintah Pusat berkerja sama dengan pemerintah Daerah telah mulai membangun jalan poros sepanjang 14 km, pembangkit listrik tenaga surya terpadu, masuknya jaringan telkomsel, perbaikan rumah-rumah masyarakat, serta berbagai sarana lainnya terus dibangun gunauntuk meningkatkan perekonomian masyarakat perbatasan khususnya di Desa Temajuk.74

Wilayah perbatasan negara merupakan halaman rumah bagi suatu negara.

salah satu perbedaan antara negara maju dan negara berkembang ialah dengan melihat kondisi wilayah perbatasan tersebut. Apabila wilayah perbatasan masih kondisi miskin dan serba kekurangan serta daerah tersebut tertinggal dari segi ekonomi, sumber daya manusia dan infrastruktur, maka negara tersebut masih merupakan negara berkembang dan bukan merupakan ancaman bagi negara maju.

74BNPP, Media Perbatasan, Revitalisasi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Upaya Nyata Meningkatkan Kesejahteraan di Ujung Negeri, BNPP, edisi September 2012, hal 66.

Dokumen terkait