• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP INDONESIA TERHADAP MASALAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA DI DUSUN CAMAR BULAN (2011-2012)

N/A
N/A
Mohamad Lutvi Fasha Akbar Melanu

Academic year: 2023

Membagikan "SIKAP INDONESIA TERHADAP MASALAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA DI DUSUN CAMAR BULAN (2011-2012)"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP INDONESIA TERHADAP MASALAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA DI

DUSUN CAMAR BULAN (2011-2012)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Sosial

oleh:

Ade Hernando Ikhsan NIM. 106083003639

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1434 H / 2013 M

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

SIKAP INDONESIA TERHADAP MASALAH PERBATASAN INDONESIA DAN MALAYSIA DI

DUSUN CAMAR BULAN (2011-2012)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar

Sarjana Ilmu Sosial

Oleh :

ADE HERNANDO IKHSAN NIM. 106083003760

Di Bawah Bimbingan:

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1434 H / 2013 M

(3)

PENGESAHAN PANITIAN UJIAN

Skripsi yang berjudul “Sikap Indonesia Terhadap Masalah Perbatasan Indonesia dan Malaysia di Dusun Camar Bulan (2011-2012)” telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 13 November 2013. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial.

Jakarta, 13 November 2013 Sidang Munaqasyah

Ketua Sekretaris Jurusan

Agus Nilmada Azmi, S.Ag, M.Si Agus Nilmada Azmi, S.Ag, M.Si NIP. 197808042009121002 NIP. 197808042009121002

Penguji I Penguji II

Debbie Affianty, MA Drs. Armein Daulay M.Si

NIP. NIP. 194809241980121001

Ketua Program Studi

Fisip UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kiky Rizky, M.Si NIP. 197303212008011002

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Oktober 2013

Ade Hernando Ikhsan

(5)

ABSTRAK

Skripsi ini menjelaskan mengenai permasalahan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kabupaten Sambas, Propinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Penelitian ini dilakukan melalui studi pustaka dan wawancara. Penelitian menemukan, bahwa telah terjadi kesalahan dalam pengukuran batas antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1978. Seperti yang kita ketahui hubungan antara Indonesia dan Malaysia telah diwarnai dengan berbagai isu yang hingga saat ini masih belum ada penjelasannya, adanya permasalahan sengketa perbatasan sempat mempengaruhi hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia.

Pada dasarnya Camar Bulan merupakan wilayah Kesatuaan Republik Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia di Kalimantan Barat. Peluang keuntungan yang dimiliki oleh Camar Bulan adalah keberadaan timah di dalam tanahnya, potensi perikanan, obyek wisata, pelestarian penyu, dan potensi kayu di dalam hutannya. Sedangkan, ancaman yang hadir di wilayah tersebut di antaranya adalah pencurian ikan, penyelundupan barang, risiko masuknya kapal perang asing, serta pencurian kayu. Hal-hal tersebut membuat wilayah Camar Bulan menjadi strategis bagi kepentingan NKRI. Oleh karena itu, perlu pemerintah Indonesia menyelesaikan sengketa perbatasan di Camar Bulan.

Upaya untuk menyelesaikan sengketa Camar Bulan telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan mengusahakan penyelesaian masalah perbatasan tersebut mengunakan jalur perdamaian. Adapun masalah perbatasan antara Indonesia dan Malayasia di wilayah Camar Bulan berupa pergesaran patok batas yang diduga kuat bahwa Malaysia telah melanggar garis patok batas sejauh 6,8 km yang ditandai dengan patok batas D88 sampai D156. Perubahan garis patok batas tersebut dilakukan Malaysia setelah melakukan penandatangan MoU 1978 di Semarang dan terdapat jarak sejauh 3,3 km dari patok lama hingga patok baru.

Akibatnya, Indonesia kehilangan 1.499 hektar luas wilayahnya di Dusun Camar Bulan Kalimantan Barat.

Dengan menggunakan kerangka pemikiran pembentukan perbatasan menurut Stephen B. Jones, lalu konsep kebijakan luar negeri menurut K.J Holsti, dan konsep diplomasi perbatasan, yang menjadi acuan penulis dalam pembuatan skripsi ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Lebih lanjut penelitian ini merujuk kepada data primer (wawancara, dokumen-dokumen resmi, serta pernyataan resmi pemerintah RI) dan data sekunder berupa studi kepustakaan melalui buku-buku, koran, hasil penelitian, jurnal, internet, dan terbitan-terbitan lainnya.

Kata kunci: kebijakan luar negeri, sengketa perbatasan, diplomasi perbatasan.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta izin-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Jurusan Hubungan Internasional.

Terima kasih dan syukur penulis ucapkan atas segala dukungan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis dari berbagai pihak sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dukungan dan motivasi dari berbagai pihak tersebut sangat membantu untuk melewati berbagai hambatan yang ada selama proses penyelesaian skripsi ini. Berbagai pihak yang membantu di antaranya:

1. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Kiky Rizky, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Agus Nilmada Azmi, S.Ag, M.Si. sebagai Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Nazaruddin Nasution, SH, MA. sebagai Dosen Pembimbing Akademik penulis.

5. Ibu Rahmi Fitriyanti, M.Si, sebagai Pembimbing Skripsi penulis yang telah memberikan arahan, saran, dan ilmunya hingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

6. Terutama untuk Ayahanda Tercinta H. Warlis dan Almarhumah Ibunda Warniza selaku orang tua penulis yang telah memberikan dorongan semangat, berdoa untuk kebaikan dan kesuksesan putra-putrinya, serta dukungan baik moral maupun material selama penulis menuntut ilmu.

Terimakasih Mah, Pak...

7. Kepada saudara kandung penulis, Welvis, Anggi, dan Windri yang telah memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan kuliahnya.

8. Armein Daulay M.Si. sebagai dosen Program Studi Hubungan Internasional yang telah memberikan masukan pada skripsi serta mengajarkan dan membimbing penulis sejak awal memasuki Program Studi Hubungan Internasional.

9. Ibu Mutiara Pertiwi MA. yang telah memberikan masukan kepada penulis ketika DPS dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperbaiki nilai ujian.

10. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan telah membantu penulis dalam

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta izin-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Jurusan Hubungan Internasional.

Terima kasih dan syukur penulis ucapkan atas segala dukungan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis dari berbagai pihak sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dukungan dan motivasi dari berbagai pihak tersebut sangat membantu untuk melewati berbagai hambatan yang ada selama proses penyelesaian skripsi ini. Berbagai pihak yang membantu di antaranya:

1. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Kiky Rizky, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Agus Nilmada Azmi, S.Ag, M.Si. sebagai Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Nazaruddin Nasution, SH, MA. sebagai Dosen Pembimbing Akademik penulis.

5. Ibu Rahmi Fitriyanti, M.Si, sebagai Pembimbing Skripsi penulis yang telah memberikan arahan, saran, dan ilmunya hingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

6. Terutama untuk Ayahanda Tercinta H. Warlis dan Almarhumah Ibunda Warniza selaku orang tua penulis yang telah memberikan dorongan semangat, berdoa untuk kebaikan dan kesuksesan putra-putrinya, serta dukungan baik moral maupun material selama penulis menuntut ilmu.

Terimakasih Mah, Pak...

7. Kepada saudara kandung penulis, Welvis, Anggi, dan Windri yang telah memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan kuliahnya.

8. Armein Daulay M.Si. sebagai dosen Program Studi Hubungan Internasional yang telah memberikan masukan pada skripsi serta mengajarkan dan membimbing penulis sejak awal memasuki Program Studi Hubungan Internasional.

9. Ibu Mutiara Pertiwi MA. yang telah memberikan masukan kepada penulis ketika DPS dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperbaiki nilai ujian.

10. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan telah membantu penulis dalam

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta izin-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Jurusan Hubungan Internasional.

Terima kasih dan syukur penulis ucapkan atas segala dukungan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis dari berbagai pihak sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dukungan dan motivasi dari berbagai pihak tersebut sangat membantu untuk melewati berbagai hambatan yang ada selama proses penyelesaian skripsi ini. Berbagai pihak yang membantu di antaranya:

1. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Kiky Rizky, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Agus Nilmada Azmi, S.Ag, M.Si. sebagai Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Nazaruddin Nasution, SH, MA. sebagai Dosen Pembimbing Akademik penulis.

5. Ibu Rahmi Fitriyanti, M.Si, sebagai Pembimbing Skripsi penulis yang telah memberikan arahan, saran, dan ilmunya hingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

6. Terutama untuk Ayahanda Tercinta H. Warlis dan Almarhumah Ibunda Warniza selaku orang tua penulis yang telah memberikan dorongan semangat, berdoa untuk kebaikan dan kesuksesan putra-putrinya, serta dukungan baik moral maupun material selama penulis menuntut ilmu.

Terimakasih Mah, Pak...

7. Kepada saudara kandung penulis, Welvis, Anggi, dan Windri yang telah memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan kuliahnya.

8. Armein Daulay M.Si. sebagai dosen Program Studi Hubungan Internasional yang telah memberikan masukan pada skripsi serta mengajarkan dan membimbing penulis sejak awal memasuki Program Studi Hubungan Internasional.

9. Ibu Mutiara Pertiwi MA. yang telah memberikan masukan kepada penulis ketika DPS dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperbaiki nilai ujian.

10. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan telah membantu penulis dalam

(7)

meyelesaikan tugasnya sebagai mahasiwi.

11. Terima kasih kepada Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Kementerian Daerah Tertinggal, yang telah membantu penulis hingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini, Perpustakaan BPPK Kementerian Luar Negeri Indonesia, PDHI UI, Miriam Budiardjo, PDII LIPI, Perpustakaan Nasional, Freedom Institute, Perpustakaan IISIP, perpustakaan utama UIN.

12. Teruntuk sahabat-sahabat terbaik penulis di HI Wibisono, Ibnu Arifianto, Agus Firmansyah, Khairul Umam, Haikal, Rifqi, Eko Septianto, Viky Hamka, Starlet, dan Yeni Puspita. Kalian semua telah memberikan pertemanan yang indah dengan segala suka duka dan canda tawa sejak awal perkuliahan hingga saat ini, serta telah memberikan dorongan semangat di saat penulis putus asa dalam pembuatan skripsi ini dan memberikan banyak masukan hingga sampai menyelasaikan skripsi ini.

“we are not number one but we are the best”

13. Teruntuk kawan spesial penulis Nella Meinicha, terima kasih atas dorongan, semangat, doa, dan kesetiaan, sehingga penulis bisa menyelesaikan kuliah ini dengan lancar.

14. Teruntuk teman seperjuangan penulis yang tak bisa disebutkan satu persatu di prodi HI yang telah banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dengan segala saran, kritikan, dan tidak pernah lelah memberikan nasihat semangat. Jatuh bangun bersama.

“temannnn...! akan indah pada waktunya....”

15. Teman-teman Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2006, 2007, 2008, dan 2009 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

16. Semua pihak yang telah turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini namun tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih.

Semoga dengan segala bantuan yang tidak ternilai harganya ini mendapat imbalan dari Allah SWT sebagai amal ibadah, Amin. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan- perbaikan ke depan.

Jakarta, 16 Oktober 2013

Ade Hernando Ikhsan

(8)

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pertanyaan Masalah ... 1

1.2 Pertanyaan Penelitian ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Kerangka Pemikiran ... 6

1.5 Metode Penelitian ... 16

1.6 Sistematika Penulisan ... 17

BAB II KONFLIK PERBATASAN INDONESIA DENGAN MALAYSIA DI DUSUN CAMAR BULAN 2.1 Latar Belakang Konflik Perbatasan Camar Bulan ... 19

2.2 Peran Indonesia Dalam Pengembangan Wilayah Perbatasan di Kecamatan Sambas ... 26

2.3 Kondisi Wilayah Sarawak Malaysia ... 34

2.4 Kepentingan Indonesia atas Ancaman Malaysia terhadap Dusun Camar Bulan ... 40

(9)

2.5 Konflik Akibat Kepentingan Malaysia di Camar Bulan ... 44 BAB III KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP

PERGESERAN PATOK DI WILAYAH CAMAR BULAN 3.1 Kebijakan Luar Negeri Indonesia terhadap Wilayah Perbatasan di

Dusun Camar Bulan ... 48 3.2 Bentuk Instrumen Kebijakan Indonesia terhadap Pergeseran Patok

di Wilayah Camar Bulan ... 51 3.2.1 Diplomasi Perbatasan Indonesia terhadap Malaysia ... 51 3.2.2 Diplomasi Publik Indonesia terhadap Malaysia ... 55 3.3 Reaksi Malaysia terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia Pasca

Pergeseran Patok di Dusun Camar Bulan... 58 3.4 Sikap Pemerintah Indonesia terhadap Malaysia ... 61 3.5 Tantangan Kebijakan Indonesia dalam Menghadapi Persoalan

Wilayah Perbatasan di Camar Bulan ... 65 BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ... 70 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN WAWANCARA

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Kawasan Peta Camar Bulan ... 20 Gambar II.2 Esensi Yang Terkandung Dalam Konvensi 1891... 24 Gambar II.3 Perubahan Batas Sejauh 3,3 km ... 26

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Objek Wisata Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas ... 32 Table II.2 Objek Wisata di Distrik Lundu Sarawak ... 39

(12)

DAFTAR SINGKATAN

BENDERA Benteng Demokrasi Rakyat

CKP Cakupan Kawasan Perbatasan

DPR Dewan Perwakilan Rakyat

DPR RI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia JBCM Joint Boundary Committee Meeting

JC Joint Committee

JIM Joint Indonesia Malaysia

JIMBC Join Indonesia Malaysia Boundary Commitee

JTC Joint Technical Committee

JWG Join Working Group

LMP Laskar Merah Putih

LOKPORI Lokasi Prioritas

LSM Lembaga Swadaya Masyarakat

MoU Memorandum of Understanding

NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia

OBP Outstanding Boundary Problems

PAM Pengelolaan Air Mineral

RUBASAN Rumah Barang Sitaan

SDA Sumber Daya Alam

SDM Sumber Daya Manusia

TNI Tentara Nasional Indonesia

TOR Term Of Reference

UGD Unit Gawat Darurat

UU Undang-undang

WKP Wilayah-wilayah Konsentrasi Pengembangan

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

I. Pernyataan Masalah

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara di Asia Tenggara yang berbatasan wilayah, baik itu di darat maupun laut. Garis perbatasan laut antara keduanya membentang dari Sabang sampai Merauke dengan garis terluar 81,000 km2. Sedangkan perbatasan darat antara dua negara ini terdapat di Pulau Kalimantan, dengan garis perbatasan sepanjang 966 km, melintasi 314 dusun, 113 desa dalam lima kecamatan dan di lima kabupaten.1

Penelitian ini akan mengkaji salah satu sengketa perbatasan yang terjadi di pulau tersebut, tepatnya di Dusun Camar Bulan yang merupakan daerah perbatasan antara Provinsi Kalimantan Barat dan Indonesia dengan negara bagian Serawak Malaysia.

Dusun Camar Bulan merupakan bagian dari desa Temajuk Tanjung Datu, yang terletak di Kabupaten Sambas, Kecamatan Paloh, Kalimantan Barat. Dusun ini mempunyai 271 kepala keluarga dengan penduduk 927 jiwa yang seluruhnya berkewarganegaraan Indonesia. Di wilayah ini terdapat perbatasan Indonesia dan Malaysia lebih kurang sepanjang 6,8 km yang ditandai oleh patok batas2 tipe D A88–A156 dan dijaga dengan Pos Koramil Temajuk.3

1 Gamawan Fauzi, “Profil Potensi Kawasan Perbatasan Kalimantan Barat”, Badan Nasional Penggelola Perbatasan Republik Indonesia, 2011, hal 1.

2 Lihat Muhlis Suhaeri, yang menyebutkan ada empat tipe patok perbatasan negara Indonesia, patok tipe A, B, C, dan D. Patok tipe A ditanam setiap jarak 300 km yang ditandai dengan tugu persegi panjang setinggi 1,3 meter. Patok B ditanam setiap jarak 50 km yang ditandai dengan tugu

(14)

Penetapan garis batas di Camar Bulan tersebut didasarkan pada lima landasan hukum, Pertama, konvensi antara Belanda dan Inggris dalam menentukan garis batas di Kalimantan yang ditandatangani di London pada tahun 1891. Kedua, protokol antara Inggris dan Belanda perihal garis batas negara di wilayah Utara dan wilayah Belanda di Kalimantan, ditandatangani di London 1915. Ketiga, konvensi terkait kelanjutan delimitasi dari garis batas negara-negara di Kalimantan di bawah proteksi Inggris dan wilayah Belanda yang ditandatangani di Den Haag pada 1928. Keempat, Peta Belanda Van Doorn pada tahun 1966. Kelima, Peta Federated Malay State Survey pada 1935. Dalam hasil perjanjian di atas, wilayah Camar Bulan masuk ke dalam wilayah Indonesia karena Camar Bulan merupakan bekas wilayah jajahan Belanda.4

Diduga telah terjadi pencaplokan wilayah yang dilakukan oleh Malaysia di Dusun Camar Bulan seluas 1.499 hektar5serta Malaysia telah membangun Taman Negara Tanjung Datu di sekitar wilayah Camar Bulan sejak tahun 1994 dan dibuka untuk masyarakat pada tahun 1998.6

Sedangkan pada perairan di wilayah Tanjung Datu, telah berkurang wilayah perairan Indonesia lebih 80.000 meter persegi garis pantai, akibat adanya pengalihan patok perbatasan yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia serta

persegi panjang setinggi 45 cm. Patok C ditanam seiap jarak 5 km yang ditandai dengan tugu persegi panjang setinggi 30 cm. Dan patok tipe D ditanam setiap jarak 100-200 meter yang ditandai dengan patok persegi panjang dengan ketinggian 15 cm. Sumber:

http://www.vhrmedia.com/2010/mobile/detailmobile.php?.e=4646 diakses pada tanggal 4 Maret 2013.

3 Vivanews, http://nasional.news.viva.co.id/news/read/254669-sejak-1978--tanjung-datu-wilayah- indonesia di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

4Border Studies, http://www.borderstudies.info/?p=1224 di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

5Kompas, http://regional.kompas.com/read/2011/02/28/03493528/.RI.Dirugikan.1.499.Hektar. di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

6Sarawak, http://www.trekkingsarawak.com/LocationPages/TanjungDatu/DatuIntro.html di akses pada tanggal 31 Mei 2013.

(15)

membuat penangkaran budidaya penyu di wilayah Tanjung Datu Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.7

Seiring dengan perubahan zaman, pihak Indonesia dan Malaysia menginginkan penggunaan posisi yang lebih akurat berupa koordinat. Tugas tim gabungan penegasan batas Indonesia dan Malaysia adalah menerjemahkan serta menentukan posisi titik-titik batas di lapangan sesuai deskripsi pada lima perjanjian Belanda dan Inggris.8

Untuk segmen perbatasan, Indonesia dan Malaysia telah sepakat membuat nota kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) yang sifatnya mengikat. Setelah melakukan survei pengukuran batas wilayah Camar Bulan dan perbatasan lain di Kalimantan, maka pada tahun 1976 di Kinibalu, Malaysia, dan tahun 1978 di Semarang, Indonesia, tim survey Indonesia dan Malaysia menandatangani MoU serta menyisakan sepuluh permasalahan bagi Indonesia dan sembilan permasalahan bagi Malaysia.9

Sembilan dari sepuluh permasalahan itu antara lain pada Sektor Barat Kalimantan dengan Sarawak, Gunung Raya, titik D400, Batu Aum, Gunung Jagoi. Sedangkan Sektor Timur Kalimantan dengan Sabah, Aliran Sungai Sinapad, Aliran Sungai Simantipal, titik B2700-B3100, titik C500-C600, dan Pulau Sebatik.10

7Kompas,

http://regional.kompas.com/read/2011/10/10/19450286/Ini.Klarifikasi.Kemenlu.Soal.Batas.Wilaya h.RI. di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

8Border Studies, http://www.borderstudies.info/?p=1224 di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

9Border Studies, http://www.borderstudies.info/?p=1224 di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

10Suryo Sakti Hadiwijoyo,“Perbatasan Negara dalam dimensi Hukum Intenasional”.Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011, hal 165.

(16)

Dalam kasus perbatasan Tanjung Datu, pihak Indonesia memasukkan permasalahan perbatasan ini ke dalam sepuluh permasalahan, sedangkan pihak Malaysia tidak ingin memasukkan permasalahan Tanjung Datu ke dalam sembilan permasalahan, karena perbatasan Tanjung Datu telah dianggap selesai oleh Malaysia dengan ditandatangganinya perjanjian MoU 1978 di Semarang, Indonesia.11

Setelah penandatanganan MoU tersebut, Dusun Camar Bulan secara de facto dikelola oleh pemerintah Malaysia, antara lain dengan membangun Taman Negara serta budidaya penyu di wilayah perbatasan tersebut guna mendatangkan devisa bagi negara Malaysia.

Namun, pada awal Oktober 2011, disadari bahwa telah terjadi kesalahan pendefinisian garis batas di Dusun Camar Bulan. Persoalan kembali mengemuka setelah anggota Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, mengungkapkan hasil survey langsungnya ke Camar Bulan.12

Berdasarkan hasil pengumpulan data dari beberapa pihak, Tubagus Hasanuddin menyatakan bahwa Malaysia telah melakukan pengalihan patok batas tipe D A88 – A156 di Dusun Camar Bulan. Perubahan garis batas itu menempatkan patok baru yang tidak sesuai dengan peta tua yang menjadi rujukan semula. Akibatnya, Indonesia kehilangan wilayah seluas 1.449 hektar dan seluas 80.000 meter persegi garis pantai di Tanjung Datu yang diklaim sebagai wilayah

11Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,165.

12Pontianak Pos Online, http://www.kalbariana.net/camar-bulan-dicaplok, di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

(17)

Malaysia.13Serta ada pergeseran patok perbatasan sejauh 3,3 kilometer dari patok A 104 yang lama dirusak Malaysia ke garis baru yang dibuat Indonesia dan Malaysia tahun 1978.14

Argumen dari anggota DPR RI tersebut dibantah oleh Menteri Pertahanan Malaysia, Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi. Ia mengatakan bahwa batas wilayah Indonesia dan Malaysia adalah hasil kesepakatan bersama seperti dalam pelaksanaan kesepakatan itu yakni, pihak Indonesia dan Malaysia telah membentuk Joint Committee penjagaan batas wilayah yang dikepalai oleh Menteri Pertahanan kedua negara.15

Pemerintah Indonesia sendiri kemudian menindaklanjuti temuan Tubagus Hasanuddin ini dan mengkategorikan isu ini sebagai outstanding boundary issue.

Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis sikap, langkah-langkah, dan kebijakan Indonesia dalam merespon permasalahan ini, dengan judul “Sikap Indonesia terhadap Masalah Perbatasan Indonesia dan Malaysia di Dusun Camar (2011-2012)”

II. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan pernyataan masalah, maka pertanyaan mendasar yang menjadi acuan penelitian ini adalah:

13 Pontianak Pos Online, http://www.kalbariana.net/camar-bulan-dicaplok, di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

14Kompas,

http://regional.kompas.com/read/2011/10/11/01440231/Indonesia.Dianggap.Serahkan.Wilayah di akses pada tanggal 3 Maret 2013.

15Tribun News, http://www.tribunnews.com/2011/10/17/malaysia-bantah-caplok-camar-bulan- dan-tanjung-datu di akses pada tanggal 3 Maret 2013.

(18)

1. Bagaimana sikap pemerintah Indonesia terhadap masalah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Dusun Camar Bulan periode 2011-2012?

2. Apa saja hambatan Indonesia dalam menyikapi pergeseran patok di Camar Bulan?

III. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui dan menganalisa sikap Indonesia terhadap masalah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Dusun Camar Bulan 2011-2012.

2. Mengetahui hambatan Indonesia dalam menyikapi pergeseran patok di Camar Bulan.

3. Memperoleh informasi mengenai upaya yang dilakukan oleh kedua negara dalam menyelesaikan permasalahan perbatasan di Dusun Camar Bulan 2011-2012.

IV. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut, maka penulis akan menggunakan tiga konsep, yaitu Teori Pembentukan Perbatasan, Konsep Kebijakan Luar Negeri (Foreign Policy), dan Konsep Diplomasi Perbatasan.

III.1 Teori Pembentukan Perbatasan

Perbatasan merupakan bagian penting dari ketahanan negara. Oleh sebab itu, setiap negara mempunyai kewenangan menentukan batas wilayah negaranya

(19)

masing-masing. Namun, karena batas terluar wilayah negara senantiasa berbatasan dengan wilayah kedaulatan negara lain, maka penetapan perbatasan tersebut harus juga memperhatikan kewenangan otoritas negara lain melalui suatu kerjasama dan perjanjian.16

Kata border atau perbatasan, menurut Guo, mengandung pengertian sebagai pembatasan suatu wilayah politik dan wilayah pergerakan. Sedangkan wilayah perbatasan, mengandung pengertian sebagai suatu area yang memegang peranan penting dalam kompetisi politik antar dua negara yang berbeda.17

Sementara itu, menurut Starke secara konseptual, perbatasan negara dibedakan antara perbatasan “alamiah” dan “buatan”. Perbatasan alamiah terdiri dari gunung-gunung, sungai-sungai, pesisir pantai, hutan hutan, danau-danau dan gurun, yang mana disebut sebagai“watershed”membagi wilayah dua negara atau lebih.18

Pasal 1 ayat 4 Undang-undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negaramendefinisikan batas “wilayah negara adalah garis batas yang merupakan pemisah kedaulatan suatu negara yang didasarkan atas hukum internasional”.

Sedangkan dalam ayat 6, kawasan perbatasan dimaknai sebagai bagian dari wilayah negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia

16Saru Arifin, Pelaksanaan Asas Uti Possidetis Dalam Penentuan Titik Patok Perbatasan Darat Indonesia Dengan Malaysia, Jurnal Hukum No. 2, Vol. 16 April 2009, hal 184.

17Saru Arifin, Ibid., 196.

18Saru Arifin, Ibid., 196.

(20)

dengan negara lain, dalam hal batas wilayah negara di darat, kawasan perbatasan berada di kecamatan.19

Masalah penegasan batas wilayah negara menjadi semakin penting sejalan dengan terjadinya perubahan yang cepat di berbagai kawasan akibat pengaruh situasi global. Masalah batas wilayah negara bukan hanya menyangkut ancaman dari luar, tetapi juga terkait dengan masalah kedaulatan wilayah dan hak setiap warga negara untuk mengeksploitasi kekayaan alamnya. Karena sumber kekayaan yang makin terbatas sedangkan jumlah penduduk yang makin besar, maka perbatasan wilayah menjadi sensitif bagi timbulnya perselisihan (dispute) dan konflik.20

Stephen B. Jones, merumuskan sebuah teori terkait pembentukan perbatasan. Dalam teorinya tersebut, Jones membagi proses pembentukan perbatasan ke dalam empat bagian, yaitu: allocation, delimitation, demarcation, dan administration.21

Alokasi (Allocation)

Pengertian alokasi dalam teori ini adalah cakupan dari wilayah suatu negara, termasuk wilayah yang berbatasan dengan negara tetangganya. Perihal cakupan wilayah ini telah diatur dalam hukum Internasional tentang bagaimana sebuah negara memperoleh atau kehilangan wilayahnya. Dalam Pasal 1 Konvensi Montevideo 1993, menyatakan bahwa negara sebagai subjek dalam hukum internasional harus memiliki: (a). Penduduk tetap; (b).

Wilayah tertentu (internationally recognized boundary); (c). Pemerintahan;

dan (d). Kapasitas untuk melakukan hubungan internasional.

19Undang-undang nomor 43 Tahun 2008.

20Saru Arifin, Ibid., 185.

21Saru Arifin, Ibid., 190-200.

(21)

Delimitasi (Delimitation)

Setelah cakupan wilayah diketahui, maka fase selanjutnya adalah mengidentifikasi area-area yang overlapping atau harus ditentukan batasnya dengan negara tetangga. Proses ini dilakukan melalui diplomasi perbatasan antar kedua negara yang berbatasan. Penetapan garis batas ini pun harus merujuk kepada prinsip Uti Possidetis22dalam penentuan perbatasan darat dan rezim hukum laut dalam penentuan perbatasan di laut.

Demarkasi (Demarcation)

Demarkasi atau penegasan batas di lapangan merupakan tahapan selanjutnya setelah garis batas ditetapkan oleh pemerintah negara yang saling berbatasan.

Dalam konteks ini, perbatasan sudah didefinisikan secara teknis melalui pemberian tanda atau patok perbatasan, baik perbatasan alamiah maupun buatan (artifisial). Hal itu sejalan dengan pengertian perbatasan itu sendiri.

Administration (Pengelolaan atau Management)

Dalam pengelolaan wilayah perbatasan yang baik menurut theory of boundary making, kegiatan Administration atau management pembangunan perbatasan dapat dilaksanakan secara overlapping dengan demarkasi. Hal ini di dasarkan pada pertimbangan bahwa dalam kenyataannya seringkali menghadapi kendala dan dinamika yang terjadi di lapangan menyangkut aspek ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Hal ini seringkali dilakukan secara segmentasi dan kegiatan administrasi atau managemen berjalan beriringan dengan pelaksanaan penegasan batas di lapangan.

22Uti Possidetis secara etimologi merupakan bahasa Latin yang berarti “sebagai milik anda” (as you possess). Terminologi ini secara historis berasal dari hukum Romawi yang berarti, bahwa negara yang merdeka mewarisi wilayah bekas negara penjajahnya. Pada awal abad ke-17 terminologi Uti Possidetis juga digunakan oleh James I Penguasa Inggris dalam kasus penolakannya terhadap Penguasa Spanyol yang melakukan kontrol secara efektif terhadap wilayah Western Hemisphere. Dalam perkembangan berikutnya, prinsip Uti Possidetis tersebut banyak digunakan oleh negara-negara baru dalam menentukan titik terdepannya (frontier) setelah terlepas dari para penguasa kolonial. pada abad ke-19 prinsip ini diterapkan di Amerika Selatan ketika Spanyol menarik diri dari negara tersebut. Kemudian prinsip ini juga diterapkan di negara-negara Afrika dan Asia selepas negara-negara Kolonialis Eropa menarik diri dari negara-negara tersebut.

Pada tahun 1986 prinsip ini diterapkan dalam kasus Burkina Faso v. Republic of Mali. Dalam putusannya tersebut dinyatakan sebagai berikut: “Uti posidetis is a general principle, which is logically connected with the phenomenon of obtaining independence, wherever it occurs. Its obvious purpose is to prevent the independence and stability of new states being endangered by fratricidal struggles provoked by the changing of frontiers following the withdrawal of the administering power”. menurut sebagain ahli hukum internasional, seperti Paul R. Hensel Michael E. Allison, dan Ahmed Khanani, prinsip ini akan lebih menciptakan stabilitas di perbatasan dibandingkan perbatasan negara-negara yang tidak diwarisi oleh penjajah. Alasannya adalah, bahwa para penguasa kolonial telah meletakkan dasar-dasar batas negara secara jelas dalam sebuah perjanjian, sehingga negara-negara yang baru merdeka dari penguasa penjajah tinggal meneruskan saja warisan perbatasan yang ditinggalkan penjajah.

(22)

III.2 Konsep Kebijakan Luar Negeri (Foreign Policy)

Kebijakan luar negeri memiliki beragam definisi dan pendekatan yang memberikan aspek pemahaman maupun warna tertentu dalam penelitian yang akan dilakukan. Menurut Chris Brown, kebijakan luar negeri adalah sebuah cara untuk mengartikulasikan dan memperjuangkan kepentingan nasional terhadap dunia luar.23

Menurut K.J. Holsti, kebijakan luar negeri adalah ide atau tindakan yang dirancang oleh pembuat keputusan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan perubahan pada kebijakan, sikap, atau tindakan dari negara atau negara-negara lain, pada aktor non-negara, pada ekonomi internasional, atau pada lingkungan fisik dunia.24

Sementara itu, menurut Daniel Papp kebijakan luar negeri adalah tindakan- tindakan terarah yang dilakukan negara demi mencapai tujuan-tujuan yang menjadi kepentingannya.25

Ketiga definisi di atas ini menyepakati satu hal yaitu bahwa kebijakan luar negeri suatu negara tidak dapat dilepaskan dari kepentingan nasional negara tersebut dalam interaksinya dengan negara-negara lain dalam sistem internasional.

Kebijakan luar negeri tidak bisa dipisahkan dari kepentingan nasional.

Kepentingan nasional antara lain dijabarkan oleh Holsti sebagai tujuan yang ingin

23 Chris Brown & Kirsten Ainley, Understanding Internatinal Relations, London: Palgrave MacMilan, 2005, hal 63.

24K.J. Holsti, Internasional Politics: A Framework for Analysis, New Jersey: Prentice Hall, 1995, hal 83.

25Daniel S Papp, Contemporary Internasional Relation: Frameworks for Understanding, Boston:

Allyn & Bacon, 1997, hal 134.

(23)

dicapai oleh suatu negara di mana terdapat sekurang-kurangnya empat tujuan yang saat ini lazim ditemukan, yaitu keamanan (security, otonomi), kesejahteraan (welfare), dan prestise (status and prestige).26

James Rosenau mengatakan bahwa konsep kepentingan nasional selama ini digunakan dalam analisis politik dan tindakan politik.27

Ibarat mata uang koin yang di mana kedua sisinya saling terikat satu sama lain serta tidak bisa dipisahkan. Pada dasarnya kebijakan luar negeri dibuat untuk menyelesaikan masalah dengan dunia luar serta menciptakan perubahan agar negara tersebut menjadi lebih baik lagi.

III.3 Konsep Diplomasi Perbatasan (Border Diplomacy)

Diplomasi menurut SL. Roy adalah seni mengedepankan kepentingan suatu negara melalui negosiasi dengan cara-cara damai dalam hubungannya dengan negara lain. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa kepentingan nasional terhadap negara lain bukan hanya persoalan bagaimana kepentingan nasional itu diselengarakan atau diupayakan. Diplomasi juga berbicara mengenai bagaimana kebijakan itu dibuat.28

Brian White menegaskan dengan mengatakan bahwa, diplomasi merupakan aktivitas pemerintah yang tidak hanya merupakan pembuatan kebijakan sekaligus pelaksanaanya.29

26K.J. Holsti, Ibid., 84.

27K.J. Holsti, Ibid., 84.

28SL, Roy, “Diplomasi”,Rajawal Press; Jakarta 1999, hal 5.

29SL, Roy, Ibid., 5.

(24)

Sedangkan pengertian perbatasan adalah garis yang membagi wilayah di mana negara dapat menyelenggarakan kedaulatan teritorialnya secara penuh.

Perbatasan tidak hanya memisahkan wilayah yang dimiliki oleh komunitas yang berbeda tetapi juga memastikan keamanan masing-masing wilayah yang bersangkutan.30

Diplomasi perbatasan (border diplomacy) merupakan pelaksanaan politik luar negeri dalam rangka penanganan masalah perbatasan yang mencakup batas wilayah negara darat dan laut serta pengelolaan berbagai masalah perbatasan yang berdimensi internasional. Adapun diplomasi perbatasan ini mempunyai tiga elemen penting, antara lain:31

1. Dengan persetujuan (by agreement) : dilakukan melalui negosiasi sebagai sebuah kewajiban hukum yang diatur dalam hukum nasional dan hukum internasional. Dalam hal ini, perang bukan merupakan sebuah opsi.

2. Berdasarkan hukum internasional : maksudnya adalah bahwa perbatasan hukum internasional dalam diplomasi dijadikan sebagai dasar dalam penetapan perbatasan. Hukum internasional ini dapat berupa konvensi-konvensi yang relevan, putusan hakim, putusan arbitrasi, dan opini juris.

3. Mencapai (equitable result) maksudnya adalah bahwa hasil penetapan perbatasan akan memberikan dampak adil, tidak berat sebelah, dan jujur.

Dengan demikan, diplomasi perbatasan merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara untuk menjamin kedaulatannya melalui pengelolaan wilayah perbatasan. Upaya pemerintah dalam rangka

30J.G, Strake,“Pengantar Hukum Internasional”,Sinar Grafika; Jakarta 1989, hal 245.

31 Arif Havas Oegroseno,“Status Hukum Pulau-pulau Terluar Indonesia”, www.deplu.go.id di akses pada tanggal 3 Maret 2013.

(25)

menyelengarakan diplomasi perbatasan ini tentunya tidak dapat dilihat dari segi hukum dan keamanannya saja, melainkan juga harus dilihat dari segi ekonominya.

Agar dapat diakui sebagai negara merdeka dan berdaulat, maka suatu negara membutuhkan wilayah yang mempunyai batas-batas yang jelas. Hal ini perlu dilakukan karena konflik yang muncul di wilayah perbatasan, bahkan pada perbatasan yang sudah jelas status hukumnya, dipicu oleh persoalan sosial dan ekonominya32

Dari pernyataan di atas, dapat ditarik kesimpulan. Pada dasarnya diplomasi perbatasan adalah seni negosiasi yang dilakukan suatu negara untuk membuat dan mempertahankan kebijakan dengan melalui jalur perdamaian, serta menjaga dan mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari ancaman negara lain dengan melalui jalur diplomasi, keamanan dan perekonomian agar dapat diakui oleh negara lain.

Karena salah satu arti dari sebuah negara yaitu mempunyai wilayah teritorialnya tersendiri.

Dalam hal ini JRV. Prescott, menandai ada empat sengketa yang muncul di wilayah perbatasan, yaitu:

1. Positional dispute adalah sengketa yang terjadi akibat adanya perbedaan mengenai dokumen legal atau adanya perubahan di lokasi yang berupa perubahan tanda-tanda fisik yang dipakai sebagai perbatasan.

2. Teritorial dispute adalah sengketa yang terjadi ketika dua atau lebih negara mengklaim satu wilayah yang sama sebagai wilayahnya atau bagian dari wilayahnya. Hal ini terjadi karena alasan sejarah atau kepentingan geografis.

32Atik, Krustiyati, “Penanganan Pengungsi di Indonesia (Tinjauan Aspek Hukum Internasional dan Nasional)” Brilian Internasional; Surabaya, 2010, hal 91.

(26)

3. Functional dispute adalah sengketa yang terjadi adanya pergerakan orang-orang atau barang-barang akibat yang tidak dijaga ketat.

4. Transboundary resource dispute adalah sengketa yang muncul karena adanya eksploitasi sumber daya alam oleh negara lain dan merugikan negara lain di perbatasan.

III.3.1 Diplomasi Publik

Istilah diplomasi publik pertama kali digunakan pada tahun 1965 oleh Dean Edmud Gullion dari Fletcher School of Law and Diplomacy di Tufts University bersamaan dengan didirikannya the Edward R. Morrow Center for Diplomacy di Fletcher. Menurut Gullion, diplomasi publik ”berurusan dengan pengaruh dari sikap masyarakat terhadap pembuatan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri.

Diplomasi publik mencangkup dimensi-dimensi Hubungan Internasional yang lebih luas dari diplomasi tradisional”.33

Perbedaan diplomasi publik dan diplomasi tradisional, diplomasi publik dijalankan oleh para diplomat yang merupakan wakil resmi dari negaranya dalam berhubungan dengan negara lain. Tugas utama para diplomat dalam diplomasi tradisional adalah memperjuangkan kepentingan nasional negara yang mengirimnya di negara di mana mereka ditempatkan melalui upaya menjalin serta memelihara hubungan baik dengan pemerintahan setempat.34

Sedangkan tujuan utama diplomasi publik adalah memperjuangkan kepentingan nasional di luar negeri. Namun sasaran utama diplomasi publik

33Rizal Sukma“Peranan Diplomasi Publik dalam Politik Luar Negeri Republik Indonesia”, makalah ini disampaikan pada Stadium General Jurusan Hubungan Internasional, UIN Jakarta, 5 September 2008.

34Dewi Fortuna Anwar”Peran Diplomasi Publik dalam Kebijakan Luar Negeri Republik

Indonesia”,makalah ini disampaikan pada Stadium General Jurusan Hubungan Internasional, UIN Jakarta, 5 September 2008.

(27)

bukanlah untuk memperoleh sesuatu yang sifatnya langsung dari suatu pemerintahan. Akan tetapi berupaya mempengaruhi masyarakat luar yang lebih luas agar berpandangan positif terhadap negara yang menjalankan diplomasi publik tersebut.35

Diplomasi publik berbeda dari propaganda. Wolf dan Rosen menjelaskan bahwa diplomasi publik pada umumnya memanfaatkan “fakta-fakta yang telah diketahui”, sementara propaganda dijalankan dengan cara mengkombinasikan kebohongan-kebohongan dengan fakta yang ada.36

Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyatakan, diplomasi publik tidak dilakukan dengan berbohong tetapi menempatkan fakta yang ada dalam konteks yang tepat. Diplomasi publik dijalankan dengan menempatkan fakta dalam konteks, sementara propaganda merupakan manipulasi fakta.

Diplomasi publik bertujuan membangun kredibilitas informasi sedangkan propaganda justru dapat merusak reputasi suatu negara.37

Menurut Joseph Nye, ada tiga dimensi diplomasi publik yang saling terkait.

Pertama, komunikasi harian yang berupaya menjelaskan konteks keputusan- keputusan kebijakan dalam dan luar negeri serta kesiapan memberi informasi alternatif terhadap isu-isu spesifik yang jika dibiarkan akan membentuk persepsi negatif akibat misinformasi dari media.38

35Dewi Fortuna Anwar Ibid.,

36Rizal Sukma Ibid.,

37Rizal Sukma Ibid.,

38Rizal Sukma Ibid.,

(28)

Kedua, komunikasi strategis yang bertujuan membangun suatu citra tertentu melalui serangkaian prakarsa kebijakan tertentu. Ketiga, mengembangkan hubungan erat dan berkesinambungan dengan “individu-individu kunci” melalui program seperti, beasiswa, pertukaran, training, seminar, konfrensi, serta akses kepada berbagai sumber informasi, yaitu, media dan lembaga-lembaga riset maupun universitas. Ketiga dimensi diplomasi publik ini berperan penting dalam membentuk citra dari dan pemahaman terhadap suatu negara.39

V. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Pengertian deskriptif analitis adalah sebagai suatu cara untuk membuat gambaran dan situasi yang menjadi bagian permasalahan yang akan diteliti. Menurut Creswell, pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada fenomena sosial dan masalah manusia.40

Istilah qualitative research adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai atau diperoleh dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara-cara lain dari kuantifikasi.41 Penelitian kualitatif dapat menunjukkan pada penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, interpretasi tingkah laku, atau hubungan kekerabatan.

Menurut Kirk dan Miller, penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari

39Rizal Sukma Ibid.,

40 John W, creswell, “Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches”, London SAGE Publications, 1994, hal 148.

41Syamsir, Salam, , dkk, 2006,“Metodologi Penelitian Sosial”, (Jakarta: UIN Jakarta Press), hal 30.

(29)

pengamatan manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya.42 Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor, penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertentu atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.43

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam metode kualitatif ini berupa studi pustaka dan studi dokumentasi. Sumber data, meliputi buku, jurnal, artikel, tesis dan makalah, disertasi, dokumen resmi atau dokumen pribadi, buku hasil penelitian serta penerbitan-penerbitan lain, dan studi dokumentasi berupa undang-undang serta transkrip wawancara.

VI. Sistematika Penulisan BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah 1.2 Pertanyaan Penelitian 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Kerangka Pemikiran 1.5 Metode Penelitian 1.6 Sistematika Penulisan BAB II

KONFLIK PERBATASAN INDONESIA DENGAN MALAYSIA DI DUSUN CAMAR BULAN

2.1 Latar Belakang Konflik Perbatasan Camar Bulan

2.2 Peran Indonesia dalam Pengembangan Wilayah Perbatasan di Kecamatan Sambas

2.3 Kondisi Wilayah Sarawak Malaysia

42Jerome Kirk dan Marc L. Miller, 1986,“Participant observation; Ethnology; Social sciences;

Objectivity; Methodology”, (Beverly Hills: Sage Publications), hal 9.

43Lexy J. Moleong, 1975,“Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Bandung: Remaja Rosda Karya), hal 5.

(30)

2.4 Kepentingan Indonesia atas Ancaman Malaysia terhadap Dusun Camar Bulan

2.5 Konflik Akibat Kepentingan Malaysia di Camar Bulan BAB III

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP PERGESERAN PATOK DI WILAYAH CAMAR BULAN.

3.1 Kebijakan Luar Negeri Indonesia terhadap wilayah Perbatasan di Dusun Camar Bulan

3.2 Bentuk Instrumen Kebijakan Indonesia terhadap Pergeseran Patok di Wilayah Camar Bulan

3.2.1 Diplomasi Perbatasan Indonesia terhadap Malaysia 3.2.2 Diplomasi Publik Indonesia terhadap Malaysia

3.3 Reaksi Malaysia terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia Pasca Pergeseran Patok di Dusun Camar Bulan

3.4 Sikap Pemerintah Indonesia Terhadap Malaysia

3.5 Tantangan Kebijakan Indonesia dalam Menghadapi Persoalan Wilayah Perbatasan di Camar Bulan

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

(31)

BAB II

KONFLIK PERBATASAN INDONESIA DENGAN MALAYSIA DI DUSUN CAMAR BULAN

2.1 Latar Belakang Konflik Perbatasan Camar Bulan

Biasanya konflik timbul disebabkan adanya pertentangan berbagai tuntutan mengenai masalah yang beragam seperti konflik perbatasan. Jika pihak yang bersangkutan memandang pertentangan nilai dan tuntutan secara fundamental, maka perilaku negara tersebut akan ditopang oleh sikap bermusuhan. Kedua negara tidak mempercayai salah satu pihak, perasaan curiga, dan dapat juga ditunjukkan dengan sikap kekerasan. Jika situasi konflik tersebut menemui jalan buntu atau melibatkan pihak ketiga, maka situasi tersebut akan berkembang menjadi konflik yang berakhir dengan penaklukan atau penarikan kembali dan tindak kekerasan.44

Wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia di Camar Bulan Kalimantan Barat sebenarnya tak ada masalah. Selama ini kedua negara sepakat menggunakan peta Belanda Van Doorn tahun 1906. Malaysia pun tak mempermasalahkannya apabila mengacu kepada garis batas peta Belanda Van Doorn tahun 1906, peta Sambas Borneo (N 120 E 10908/40 Greenwid) dan peta Federated Malay State Survey tahun 1935.45

Namun, permasalahan perbatasan Camar Bulan muncul akibat adanya perbedaan pendapat antara Indonesia dan Malaysia tentang penegasan garis batas.

44 K.J Holsti, Wawan, Juanda “Politik Internassional Suatu Kerangka Analisis” Binacipta, Bandung, 1992. Hal 646-647.

45Purwo Mursito,“Peran Arsip Dalam Mendukung Upya Diplomasi Guna Penyelesaian Sengketa Perbatasan Camar Bulan dan Tanjung Datu”,ANRI Jurnal Kearsipan Vol 7/ ANRI/ 12/ 2012, hal 97-98.

(32)

Pada tahun 1975, kedua belah pihak telah melakukan penegasan perbatasan di wilayah Camar Bulan. Namun, pada saat itu sedang musim hujan dan tim kedua negara melakukan survei dengan menggunakan pengukuran beda tinggi. Metode yang digunakan adalah “water pass” sebagai salah satu cara pengukuran. Akibat kedua belah pihak tidak menemukan watershed46. Pada saat melakukan pengukuran batas, ternyata wilayah Camar Bulan hanya dataran biasa serta tidak mempunyai perbukitan.47

Gambar I

Peta Kawasan Camar Bulan

Sumber, Border Studies Info www.borderstudies.info.com dakses pada tanggal 3 Maret 2013

Pada tahun 1978, tim survei Penegasan Batas Kedua Negara melakukan pengukuran ulang. Dengan menggunakan alat ukur sipat datar atau “levelling”, maka ditemukan watershed yang posisinya sangat menjorok ke wilayah

46Watershed adalah proses menentukan atau penetapan perbatasan darat dengan mengikuti aliran turunnya air dari tempat yang lebih tinggi.

47http://wilyahperbatasan.com/masalah-temajok-masalah-penanganan-tegas-batas-yang-belum- optimal/ dikses pada tanggal 3 Maret 2013.

(33)

Indonesia. Maka pada tahun 1978 ditandatanganilah Memorandum of Understanding (MoU) mengenai batas daerah tersebut di Semarang.48

Sejak awal, pihak Indonesia sebenarnya tidak sependapat dengan pemakaian posisi watershed tersebut. Sebab pihak Indonesia sudah merasakan bahwa cara pengukuran tersebut tidak benar. Akan tetapi, pihak Indonesia pada saat itu tidak mempunyai alasan yang logis untuk dikemukakan kepada pihak Malaysia. Karena pihak Indonesia tidak terpikirkan untuk melihat esensi yang terkandung dalam Konvesi 1891“apabila tidak terdapat gunung, maka batas tersebut dapat berupa garis lurus”.49

Permasalahan Camar Bulan sebenarnya merupakan persoalan yang sangat mendasar dan sederhana. Namun karena cara pandang tim teknis antara Indonesia dan Malaysia terlalu teknis, sehingga melupakan esensi yang menjadi dasar bagi penyusunan Konvensi 1891. Dalam upaya menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia telah beberapa kali melakukan pertemuan, itu yang diselengarakan di Malaysia maupun di Indonesia.50

Pada Pertemuan Panitia Nasional (Pannas) ke-18 (Minute Nasional/ Joint Indonesia Malaysia (JIM) ke-18) yang diadakan di Jakarta tanggal 18-20 Oktober 1993, telah disepakati bahwa penyelesaian masalah Outstanding Boundary Problems (OBP) akan difokuskan setelah tahun 2000, yakni pasca pengukuran perbatasan secara keeluruhan.51

48 Suryo Sakti Hadiwijoyo, “Perbatasan Negara dalam dimensi Hukum Intenasional”, Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011, hal 175-176.

49Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,176.

50Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid., 163-164.

51Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

(34)

Pada tahun 2000 pertemuan Panitia Nasional ke-25 (Minute Nasional/ JIM ke-25) diadakan di Pulau Pinang, Malaysia 24-26 Februari 2000. Dalam pertemuan tersebut disepakati agar Komite Teknik dari kedua negara mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar bersama-sama mengkaji dan mencari alternatif penyelesaian permasalahan perbatasan tersebut sebaik mungkin.52

Sedangkan Pertemuan Teknis ke-31 (Minute Nasional/ IMT ke-31) diselengarakan Bandung, Indonesia pada 20-22 September 2000. Dalam pertemuan ini dihasilkan rekomendasi. Salah satu diantaranya adalah untuk membentuk kelompok kerja Joint Working Group (JWG) serta menerbitkan proposal sebagai bahan pertimbangan dan persetujuan terhadap agenda pekerjaan tersebut.53

Kemudian pertemuan Tingkat Nasional Joint Boundary Committee Meeting (Minutes Nasional/ JIM ke-27) dilaksanakan Kota Kinabalu, Sabah Malaysia, pada tanggal 29-31 Oktober 2001. Dalam pertemuan ini telah disepakati untuk menyelengarakan pertemuan khusus guna membahas Term Of Reference (TOR) dalam pelaksanaan Joint Working Group (JWG) untuk membahas Outstanding Boundary Problems (OBP) tersebut. Selain itu, disepakati pula untuk mengadakan pertemuan khusus “The Special Meeting to Finalize the Terms of Reference for the Joint Working Group on the Boundary Problems on the Joint Demarcation

52Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

53Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

(35)

and Survey of the International Boundary between Indonesia and Malaysia” di Jakarta pada 10-11 April 2002.54

Tahun 2001, ketika Sekretaris Jenderal Kementrian Dalam Negeri dipimpin oleh Siti Nurbaya, Tim Indonesia secara sepihak pernah melakukan penelitian terkait wilayah perbatasan Camar Bulan di Tanjung Datu. Ide dalam penelitian itu adalah untuk membuktikan bahwa daerah Camar Bulan adalah daerah datar dan tidak layak untuk dicari garis watershed. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemotretan udara dan pengukuran beda tinggi di daratan leveling dan hasilnya terbukti bahwa Camar Bulan itu memang daratan yang rata serta tidak terdapat pegunungan.55

Selanjutnya, hal tersebut juga dikemukakan dalam perundingan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Jakarta pada tahun 2001. Kali ini pihak Indonesia berhasil meyakinkan pihak Malaysia bahwa persoalan itu harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengkaji ulang serta melakukan pengukuran ulang. Namun, amat disayangkan karena pada pertemuan selanjutnya, persoalan Camar Bulan ini menjadi terlupakan. Sebab, Tim Indonesia sudah berganti pembahasan dan pihak yang melakukan negosiasi pada pertemuan telah diganti oleh pihak lain.56

Pada dasarnya, pemerintah Indonesia berupaya menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan kasus Camar Bulan ini. Pada tahun 2003, secara sepihak

54Suryo Sakti Hadiwijoyo, Ibid.,163-164.

55http://www.wilayahperbatasan.com/masalah-temajok-masalah-penanganan-tegas-batas-yang- belum-optimal/ diakses pada tanggal 3 Maret 2013.

56 http://www.wilayahperbatasan.com/masalah-temajok-masalah-penanganan-tegas-batas-yang- belum-optimal/ diakses pada tanggal 3 Maret 2013.

(36)

pemerintah Indonesia telah melakukan penelitian ulang di wilayah Camar Bulan, baik itu melalui media foto udara maupun pengukuran beda tinggi. Hasilnya terbukti bahwa secara aturan Internasional, wilayah tersebut tergolong rata dan berawa. Apabila metode gais lurus diterapkan di wilayah tersebut dari titik D A86 sampai D A156, maka dengan berpatokan titik terakhir di wilayah tersebut posisi watershed sudah jelas. Dengan begitu bagi Indonesia permasalahan Tanjung Datu dapat dianggap selesai.57

Gambar II

Esensi yang terkandung dalam Konvensi 1891

Sumber : Border Studies Info www.borderstudies.info.com dakses pada tanggal 3 Maret 2013

Pada awal Oktober 2011, untuk pertama kalinya kasus Camar Bulan muncul kepermukaan publik. Yakni, munculnya isu pencaplokan wilayah Indonesia di Tanjung Datu dan Camar Bulan oleh Malaysia. Bermula dari adanya pernyataan anggota Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, yang menduga kuat bahwa Malaysia telah melakukan pengalihan patok batas A88 – A156 di Dusun Camar

57Suryo Sakti Hdiwijoyo, Ibid.,158.

(37)

Bulan. Perubahan garis batas itu menempatkan patok baru yang tidak sesuai dengan peta tua yang menjadi rujukan semula antara Indonesia dengan Malaysia.58

Apabila ditarik dari garis tengah, terdapat pergeseran garis sejauh 3,3 kilometer dari patok A 104 yang lama telah dirusak Malaysia dari garis baru yang dibuat Indonesia dan Malaysia tahun 1978.59

Pada dasarnya latar belakang permasalahan Camar Bulan cukup sederhana, yakni adanya kesalahpahaman mengenai cara pengukuran antara pihak Indonesia dengan pihak Malaysia pada tahun 1975 dan 1978. pada pengukuran terakhir yang dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia untuk menentukan patok batas di Camar Bulan. Pihak Indonesia tidak mengetahui Konvensi 1918 yang mencantumkan

“bila mana tidak terdapat Watershead atau perbukitan maka dapat di tarik garis lurus”.

Pada tahun 1978 pihak Indonesia dan Malaysia telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Semarang yang mana salah satu isinya menyatakan bahwa wilayah perbatasan di Camar Bulan telah selesai dan telah disepakati dalam menentukan garis batas dan patok batas dengan mengunakan metode Watershead.

58 Pontianak Pos Online, http://www.kalbariana.net/camar-bulan-dicaplok, di akses pada tanggal 11 Oktober 2012.

59Kompas,

http://regional.kompas.com/read/2011/10/11/01440231/Indonesia.Dianggap.Serahkan.Wilayah di akses pada tanggal 3 Maret 2013.

(38)

Metode Watershead ini dilakukan Indonesia dan Malaysia untuk mencari dan menentukan letak batas di Camar Bulan. Sehingga hal tersebut mengubah patok batas yang sebelumnya dibuat oleh pihak Belanda dan Inggris bergeser sejauh 3,3 km dengan dibangunnya patok baru pada tahun 1978.

Gambar III

Perubahan garis batas sejauh 3,3 km

Sumber : http://www.okefood.com/read/2011/10/15/448/515782/dpr-temukan-fakta-di-camar- wulan-tanjung-datu diakses pada tanggal 13 Maret 2013

2.2 Peran Indonesia dalam Pengembangan Wilayah Perbatasan di Kecamatan Sambas

Kawasan perbatasan memiliki peran sangat penting dan strategis, karena selain merupakan batas kedaulatan juga merupakan wilayah yang merefleksikan halaman depan suatu negara. Pasca kemerdekaan Indonesia dan Malaysia, sebenarnya kedua negara telah sama-sama memiliki kepedulian untuk memperhatikan bagaimana mengelola wilayah perbatasan di Kalimantan agar

(39)

dapat mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat sehingga kedua negara dapat menjalankan hidup berdampingan, saling menghormati dan menjaga eksistensi kedaulatan masing-masing negara.60

Namun, eksistensi penerapan garis batas dalam kebijakan pengelolaan wilayah perbatasan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam arti, kebijakan penanganan wilayah perbatasan menempatkan garis batas sebagai simbol kedaulatan wilayah negara akan selalu menjadi pijakan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. Sehingga, dengan memadukan kedua faktor tersebut, terdapat beberapa pedoman kebijakan dan strategis dalam pengelolaan wilayah perbatasan.61

Pertama, kebijakan penetapan batas antar negara baik darat maupun laut merupakan rangka menjaga dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka, strategi yang perlu dilakukan untuk mewujudkan eksistensi kedaulatan wilayah Indonesia berupa penegasan batas antar negara terutama pada kawasan-kawasan yang masih belum jelas garis batasnya maupun lokasi-lokasi yang masih menjadi permasalahan.62

Kedua, mengubah paradigma lama tentang perbatasan dari anggapan wilayah terbelakang atau terisolir, menjadi wilayah perbatasan sebagai halaman depan negara dan pintu gerbang internasional. Dalam konsep pembangunan wilayah perbatasan aspek tata ruangnya harus berorientasi pada lini pembangunan yang disusun secara rapih, serta disesuaikan dengan karakteristik daerah setempat

60Ludiro, dkk, Mengelola Perbatasan Indonesia di Dunia Tanpa Batas : Isu, Permasalahan dan Pilihan Kebijakan, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010 hal 123.

61Ludiro, dkk, Ibid.,123.

62Ludiro, dkk, Ibid.,123.

(40)

dan kepentingan kesejahteraan masyarakat maupun pertahanan. Hal ini dilakukan dengan tidak mengabaikan faktor kelestarian lingkungan. Strategi yang diperlukan dalam kebijakan ini antara lain dengan meningkatkan sarana dan prasarana perbatasan melalui pembangunan kawasan perbatasan.63

Ketiga, meningkatkan kerjasama dengan negara-negara tetangga di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan pertahanan serta keamanan. Kebijakan ini telah diimplementasikan dalam forum kerjasama penanganan perbatasan seperti Sosek Malindo.64

Dalam pengelolaan wilayah kawasan perbatasan dapat diarahkan pada Wilayah-wilayah Konsentrasi Pengembangan (WKP), yaitu kabupaten/kota yang berada di dalam Cakupan Kawasan Perbatasan (CKP), baik yang berada di kawasan darat maupun laut. Penentuan prioritas WKP ditetapkan dengan memperhatikan isu-isu strategis di setiap WKP dalam aspek pertahanan, sosial budaya, dan ekonomi.65

Fokus lokasi penanganan yang diprioritaskan di setiap WKP disebut dengan Lokasi Prioritas (Lokpri), yakni, kecamatan-kecamatan di kawasan perbatasan darat dan laut di dalam WKP yang memenuhi salah satu atau lebih dari kriteria sebagai berikut :66

a. Kecamatan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga di wilayah darat.

b. Kecamatan Lokasi Pulau-Pulau Kecil Terluar.

63Ludiro, dkk, Ibid.,123.

64Ludiro, dkk, Ibid.,124.

65 BNPP, Grand Design Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan Kawasan Perbatasan Di Indonesia Tahun 2011 2025, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, www.bnpp.go.id di akses pada tanggal 28 Februari 2013, hal 21.

66BNPP, Ibid., 21-24.

(41)

c. Kecamatan yang difungsikan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional.

d. Kecamatan yang menjadi Pos Lintas Batas (exit-entry point) berdasarkan Border Crossing Agreement.

Pengelolaan batas wilayah negara yang akan difokuskan pada segmen- segmen garis batas yang belum terpecahkan (problem focus) dan pembangunan wilayah diarahkan pada area focus yang ditepatkan dengan lokasi-lokasi prioritas pengembangan kawasan perbatasan. Salah satu area lokasi pengembangan wilayah perbatasan adalah Kecamatan Sambas, Propinsi Kalimantan Barat.67

Kabupaten Sambas terletak di bagian utara Propinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak (Malaysia). Akibat posisinya tersebut, Kabupaten Sambas memiliki fungsi ganda dalam konteks pengembangan wilayah, yaitu sebagai kawasan perbatasan negara dan sebagai suatu daerah otonom yang harus melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan bagi masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.68

Kabupaten Sambas terletak di bagian utara Propinsi Kalimantan Barat, yang secara geografis terletak di antara 0° 33°–2° 08° LU dan 108° 39°–110° 04° BT.

Secara administratif, Kabupaten Sambas berbatasan dengan:69 a. Sebelah Utara : Sarawak, Malaysia

b. Sebelah Selatan : Kota Singkawang c. Sebelah Barat : Laut Natuna

d. Sebelah Timur : Kabupaten Bengkayang

67BNPP, Ibid., 25.

68Husnadi,“Menuju Model Pengenbangan Kawasan Perbatasan Daratan Antar Negara (Studi Kasus : Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat)”,Tesis Program Pascasarjana Magister Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Semarang 2006, hal 81.

69Pemerintah Daerah Sambas, www.sambas.go.id diakses pada tanggal 14 Oktober 2012.

Gambar

Gambar II.1 Kawasan Peta Camar Bulan ........................................................................
Tabel II.1 Objek Wisata Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas .................................................
Gambar  II
Gambar III
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti jauh lebih dalam melalui analisis musik mengenai kemiripan lagu terang bulan (Indonesia) ciptaan

Berbeda dengan penelitian ini yang akan dilakukan peneliti peran yang akan dilakukan Migrant Care terhadap masalah perdagangan manusia yang terjadi pada pekerja migran Indonesia

Krisis keuangan yang terjadi di wilayah Asia dalam kisaran tahun 1997 yang menimpa beberapa negara seperti Thailand, Singapura, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, dan

Otomatis dikarenakan permasalahan yang terjadi yakni wilayah teritorial Indonesia, maka secara yuridis upaya-upaya yang harus dilakukan adalah menjadi tanggung jawab