• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kerangka Fikir

interaksi manusia dengan manusia lainnya dan lingkungannya berkenan dengan objek tersebut.

perilaku sosial bisa terbentuk disebabkan atas beberapa faktor dari dalam seseorang dan faktor-faktor dari luar seseorang yang masing-masing memiliki fungsi masing-masing. Faktor dari dalam adalah faktor yang ada pada diri seseorang, berupa seletifitas atau daya tangkap seseorang untuk memilih dan menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Adapu yang dimaksud faktor dari luar ialah faktor yang ada diluar pribadi diri seseorang, berupa interaksi sosial, cara bersikap atau berperilaku dengan lingkungan sekitar.

Perilaku sosial bisa saja berbentuk melalui berbagai cara, bisa saja berupa adopsi, deferensial, integrasi, dan trauma.

38

Perubahan perilakusosial remaja yang berubah dan dipengaruhi penggunaan media sosial sehingga bisa dijelaskan dengan gambar di atas.

Pola hidup manusia selalu mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Kehidupan yang semakin modern membawa manusia pada pola perilaku yang unik, yang membedakan individu satu dengan individu lain dalam persoalan gaya hidup.Bagi sebagian orang gaya hidup merupakan suatu hal yang penting karena dianggap sebagai sebuah bentuk ekspresi diri. Pola hidup merupakan pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain, yang berfungsi dalam interaksi dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak hidup dalam masyarakat modern.

D. Penelitian Relevan

Dalam tinjauan penelitian terdahulu ada beberapa penelitian yang relevan yang meneliti mengenai perkembangan teknologi dalam kehidupan sosial masyarakat, diantara penelitian yang relevan tersebut, yaitu penelitian dari : 1. Teknologi informasi komunikasi dan peranannya dalam perubahan sosial

yang disusun oleh Nur Fitriyah, Program Studi Pembangunan Sosial FISIP Universitas Mulawarman Samarinda Tahun 2013.

Hasil penelitian ini adalah dampak dari perubahan yang bersifat positif menjadikan faktor pengubah beralih peran dari yang semula sebagai alat menjadi tujuan agar dapat dimiliki untuk mengubah kondisi pemiliknya.

TIK menjadi berkesempatan memanfaatkannya, perubahan sosial yang terjadi dari pemanfaatan TIK dapat terkendali sehingga dampak negatifnya

minimal, serta adanya perlindungan bagi pengguna TIK dari tindak kejahatan yang dilakukan sesama pengguna TIK. Netralitas dan fleksibilitas TIK menjadikan peran sosial TIK sangat tergantung pada pengendalinya.

Persamaan tema penelitian yaitu seputar teknologi dan masyarakat, sedangkan perbedaanya yaitu penelitian Nur Fitriyah menggunakan metode sebab akibat.

2. Internet untuk pedesaan dan pemanfaatannya bagi masyarakat, penelitian ini disusun oleh Henri Subekti, Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Airlangga Surabaya Tahun 2013.

Penelitian Henri Subekti memfokuskan pada bagaimana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) itu digunakan oleh masyarakat pedesaan.

Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya digital devide pada masyarakat pengguna TIK. Laki-laki lebih mendominasi dibandingkan dengan pengguna perempuan. Selain itu, usia pengguna internet dan inovasi program juga lebih banyak digunakan anak usia sekolah dan kalangan muda. Program internet masuk desa telah membuka akses informasi dan komunikasi masyarakat dan menjadi sarana belajar mengenal internet. Namun, pemanfaatan masyarakat terhadap fasilitas komunikasi dan informatika ini belum maksimal.

Adapun persamaan dari penelitian Henri Subekti dan penelitian ini terletak pada bahan penelitian, yaitu terfokus pada masyarakat desa dan teknologi. Sedangkan perbedaannya terletak pada jika penelitian Henri Subekti menggunakan metode penelitian kuantitatif dan meneliti di

40

kabupaten Lumajang dan Banyuwangi, yang mengambil 2 kecamatan di masing-masing kabupaten. Sedang penelitian kali ini menggunakan penelitian kualitatif dan ada di 1 desa saja.

3. Kemajuan teknologi dan pola hidup manusia dalam perspektif sosial budaya, sebuah jurnal yang disusun oleh Muhammad Ngafifi, Guru SMPN 2 Sukoharjo Wonosobo, Tahun 2014.

Hasil dari penilitan Muhammad Ngafifi adalah 1) kemajuan teknologi terus berkembang sangat pesat dan melahirkan masyarakat digital; (2) terjadi perubahan pola hidup manusia akibat kemajuan teknologi sehingga menjadi lebih pragmatis, hedonis, sekuler, dan melahirkan generasi instan namun juga mengedepankan efektifitas dan efisiensi dalam tingkah laku dan tindakannya; (3) kemajuan teknologi berwajah ganda karena menimbulkan pengaruh positif dan negatif bagi kehidupan manusia; (4) upaya untuk menekan dan mengatasi dampak negatif dari kemajuan teknologi dapat dilakukan dengan mensinergiskan peran keluarga, pendidikan, masyarakat, dan negara.

Persamaan terletak pada jenis penilitian yaitu kualitatif dan tema dari penelitian yang sama seputar teknologi dan masyarakat, sedangkan perbedaanya yaitu penelitian Muhammad Ngafifi menggunakan metode pustaka dengan analisis deskriptif secara kritis.

41 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Menurut ( Mahmud 2011:

91) metode kualitatif adalah memahami sistem makna yang menjadi prinsip- prinsip umum dari satuan gejala yang terdapat di dalam kehidupan sosial sebuah masyarakat dan bersifat deskriptif, yaitu mendeskripsikan makna data atau fenomena yang dapat di tangkap oleh peneliti dengan menunjukan bukti- buktinya.

Pendekatan metode penelitian ini bersifat fenomenologi. Pendekatan Fenomenologi berasal dari kata Yunani Phainomena (yang berakar kata Phanein yang berarti nampak). Pendekatan ini sering di gunakan untuk merujuk ke semua obyek yang masih dianggap eksternal dan secaraparadigmatic harus di sebut obyektif (dalam arti belum menjadi subyektifitas konseptual manusia).

Menurut Tuffour (2017) Fenomenologi adalah gejalah dalam situasi alamiah yang kompleks yang hanya mungkin menjadi bagian dari alam kesadaran manusia.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan diKabupaten Kepulauan Selayar Kecamatan Bontosikuyu Desa Tile-Tile.

42

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan, pada bulan Desember 2020- Januari 2021.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian merupakan pemusatan konsentrasi terhadap rumusan penelitian yang sedang dilakukan, yaitu sebagai berikut :

Perubahan perilaku sosial remaja dalam menggunakan media sosial D. Informan Penelitian

Penentuan informan pada penelitian ini menggunakan Purpose Sampling.

Sugiono (2018:124) menyatakan “Purpose Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu”. Adapun informan utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri karna peneliti terlibat langsung dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus menerus dengan partisipan atau informan (Locke, Spirduso, dan Silverman, 2007). Informan yang terlibat dalam penelitian ini adalah informan kunci dan informan tambahan. Informan kunci adalah informan yang mengetahui secara mendalam permasalahan yang sedang diteliti, sedangkan informan pendukung adalah informan yang di tentukan dengan dasar pertimbangan memiliki pengetahuan dan sering berhubungan baik dan dekat dengan informan kunci.

Informan yang terlibat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Remaja (informan kunci) 4 orang informan.

2. Orang tua remaja (informan pendukung) 2 orang informan.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Peneliti sendiri sebagai instrumen dalam penelitian kualitatif. Adapun alat-alat penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Pedoman wawancara, adalah alat yang digunakan dalam melakukan wawancara yang dijadikan dasar untuk memperoleh informasi dari informan yang berupa daftar pertanyaan.

b. Alat tulis menulis yaitu : buku, pulpen, atau pensil sebagai alat untuk mencatat informasi yang didapat pada saat wawancara.

c. Lembar observasi, berisi catatan-catatan yang diperoleh penelitian pada saat melakukan pengamatan langsung di lapangan.

d. Catatan dokumentasi, adalah data pendukung yang dikumpulkan sebagai penguatan data observasi dan wawancara yang berupa gambar, data sesuai dengan kebutuhan penelitian.

e. Kamera ponsel, sebagai alat dokumentasi setiap kegiatan peneliti.

F. Jenis dan Sumber Penelitian 1. Data primer

Yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertama.

Data primer diperoleh dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi secara langsung. Adapun yang dimaksud sumber primer adalah

44

Remaja, Kepala desa, orang tua remaja dan masyarakat yang dijadikan sumber primer dalam penelitian ini.

2. Data Sekunder

Yaitu data yang diperoleh dari hasil telaah buku referensi atau dokumentasi, dan sumber penunjang selain daripada sumber primer, sebagai bahan pendukung dalam pembahasan skripsi yang seringkali juga diperlukan oleh peneliti. Sumber ini biasanya berbentuk dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Sebagai data sekunder peneliti mengambil dari buku buku Jurnal, Skripsi, Web, Blok, Artikel atau dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian ini. Data penelitian sekunder ini yaitu dokumen yang berkaitan dengan perubahan perilaku sosial remaja di Desa Krangmanyu.

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam permasalahan penelitian untuk memperoleh data maka teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Menurut (Sukandarrumidi 2012: 88) wawancara adalah suatu proses Tanya jawab lisan, 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik bertatap muka.

Hal senada juga dikatakan o1eh (Sugiyono 2012: 233) wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan mngunakan telepon.

Dalam kegiatan wawancara dilakukan sebagai tindak lanjut untuk memperdalam keabsahan data dalam studi dokumentasi sebelumnya.

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan mengadakan tanya

jawab yang berkaitan dengan masalah yang dibahas atau diteliti. Wawancara dilakukan kepada remaja yang telah ditentukan siapa yang ingin diwawancarai.

2. Observasi

Menurut (Joko Subagyo 2015: 62) observasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan penelitian mengingat tidak setiap penelitian menggunakan alat pengumpul data. Observasi memakan waktu yang lebih lama apabila ingin melihat suatu perubahan dan pengamatan.

Penelitian ini menggunakan observasi langsung yang bersifat partisipatif ataupun non partisipatif yaitu pengamatan yang melibatkan peneliti dalam kegiatan yang menjadi penelitian dari remaja yang berguna untuk mengetahui keadaan sebenarnya yang telah terjadi didalam fenomena, sikap dan perilaku keseharian yang berkaitan dengan perubahan sosial.

3. Dokumentasi

Menurut (Deddy Mulyana 2010: 195) dalam wawancara dapat pula dilengkapi dengan analisis dokumen seperti otobiografi, catatan harian, surat-surat pribadi, catatan pengadilan, berita Koran, artikel majalah, brosur, bulletin dan foto-foto. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang perilaku sosial remaja dan foto-foto setelah wawancara.

H. Teknik Analisis Data

Penulis menguraikan model analisis Huberman dan Miles yang disebut sebagai model Interatif. Menurut (Idrus 2009: 147-151) adapun bentuk dari

46

model interatif, yaitu:

1. Tahap pengumpulan data ini merupakan kegiatan dalam proses analisis data interaktif berupa kata-kata, fenomena, foto, sikap dan perilaku keseharian yang diperoleh peneliti dari hasil wawancara dan observasi mereka dengan menggunakan metode kualitatif.

2. Tahap reduksi data sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dari lapangan. Reduksi data ini berlangsung secara terus-menerus sejalan pelaksanaan penelitian berlangsung.

3. Tahap penyajian data sebagai kumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

4. Tahap verifikasi dan penarikan kesimpulan yang dimaknai sebagai penarikan arti data yang telah ditampilkan.

Data yang diperoleh berasal dari informasi dari lapangan, dijadikan bentuk uraian, kemudian dikaitkan dengan data yang lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya sehingga memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan gambaran yang sudah ada.

I. Teknik Pengecekan Keabsahan Data

Setiap hal temuan harus di cek keabsahannya agar hasil penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan dapat dibuktikan keabsahannya.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh peneliti antara lain:

1. Tringulasi data, yaitu dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi dan data

hasil pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh.

2. Tringulasi metode, yaitu dengan cara mencari data lain dengan sebuah fenomena yang diperoleh dengan menggunakan metode yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode ini dibandingkan dan disimpulkan sehingga memperoleh data yang bias dipercaya.

3. Trungulasi sumber, yaitu dengan cara membandingkan kebenaran suatu fenomena berdasarkan data yang diperoleh oleh peneliti, baik dilihat dari dimensi waktu maupun dari sumber yang lain, (Sugiono 2012: 241).

Dalam pengecekan data ini, peneliti menggunakan observasi dalam lapangan yang didukung dengan pengecekan melalui wawancara dan dokmnentasi.

J. Etika Penelitian

Etika penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian. Oleh karena itu maka segi etika harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain:

1. Informed Consent (Surat Persetujuan)

Informed Consent diberikan sebelum melakukan penelitian informed consent ini berupa lembar persetujuan untuk menjadi responden. Pemberian informed consent ini bertujuan agar sybjek mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengerti dampaknya. Jika subjek tidak bersedia maka

48

peneliti harus menghormati hak responden atau subjek. Jika subjek bersedia maka harus mendatangani lembar persetujuan.

2. Anonymity (tanpa nama)

Masalah etika pendidikan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang disajikan.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Semua informasi yang telah dikumpulkan maupun masalah-masalah lainnya dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian.

4. Jujur

Jujur yaitu dalam pengumpulan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan metode, dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan metode yang dilakukan. Hargai rekan peneliti, jangan mengklaim pekerjaan yang bukan pekerjaan anda sebagai pekerjaan anda.

5. Obyektivitas

Upayakan minimalisasi kesalahan dalam rancangan percobaan, analisis dan interpretasi data, penilaian, ahli/rekan peneliti, keputusan pribadi, pengaruh pemberi dana/sponsor peneliti.

6. Integritas

Tepati selalu janji dan perjanjian, lakukan penelitian dengan tulus, Upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan.

7. Keterbukaan

Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat, dan sumber daya penelitian terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.

50 BAB IV

GAMBAR UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Desa Patikarya

Desa patikarya adalah sebuah hasil pemekaran dari desa patilereng, dengan sebuah cita cita mulia, berdasarkan hasil kesepakatan para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh remaja dan pemuda dan seluruh lapisan masyarakat bersepakat untuk berjuang bersama untuk mendirikan sebuah desa pemekaran.

Patikarya diambil dari tiga suku kata yakni: PA dimaknai sebagai hal penting, TI dimaknai sebagai cita cita luhur dan KARYA dapat dimaknai sebuah keinginan kuat untuk berkarya dan sejahtra yakni suatu kondisi dimana desa patikarya mampu menyiapkan kebutuhan warga baik pangan, papan dan sandang secara merata dan berkelanjutan.

Dan pada akhirnya pada tanggal 23 juni 1999 dengan rahmat Allah SWT , mekarlah sebuah desa dengan cita cita luhur yang kemudian di beri nama

“PATIKARYA‟‟. Desa patikarya terus berkembang menjadi sebuah desa membenahi diri untuk mewujudkan cita cita sejahterannya.

B. Keadaan Geografis

Desa Patikarya berada di kecamatan Botosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar yang merupakan salah satu dari 7 (tujuh) Desa di wilayah Kecamatan Bontosikuyu. Desa Patikarya terletak 15 km dari Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Selayar, dengan luas wilayah 20.04km2, dengan batas wilayah

Sebagai Berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan desa patilereng.

Sebelah Selatan berbatasan dengan desa harapan.

Sebelah Timur berbatasan dengan desa harapan.

Sebelah Barat berbatasan langsung dengan laut.

Desa Patikarya merupakan salah satu daerah yang berada di Kabupaten Kepulauan Selayar yang berada pada dataran rendah, serta berbatasan langsung dengan laut sehingga wilayahnya lebih kedataran rendah karna itulah banyak warga yang memilih berprofesi sebagai nelayan di karnakan turunan dari nenek moyang mereka dan wilayah yang strategis untuk melaut.

Di Desa Patikarya terdapat banyak mata pencaharian penduduk diantaranya yaitu: nelayan, pedagang, peternak, PNS, buruh, dan lainnya.

Sebagian besar penduduk lebih memilih menjadi nelaya di karenakan desa patikarya berbatasa langsung dengan laut sehingga menjadi nelayan sangatlah cocok untuk wilayah seperti ini. Hampir sebagian besar desa patikarya berbatasan dengan laut. Sedangkan yang tidak berbatasa langsung dengan laut lebih memilih untuk memanfaatkan tanah mereka untuk di jadikan lahan perkebunan.

Keadaan iklim di Desa Patikarya terdiri dari berbagai iklim yaitu: musim hujan, musim kemarau dan musim pancaroba. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Januari sampai dengan sampai dengan bulan April, musim kemarau terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan November, sedangkan musim pancaroba terjadi atara bulan Mei sampai dengan Bulan Juni.

52

Gambar desa patikarya

Gambar 4.1 peta sosial desa patikarya

Kondisi sarana dan prasarana Desa Patikarya secara umum masih belum memadai. Adapun sarana dan prasarana Desa Patikarya sebagai berikut:

Tabel 4.1 Sarana dan Prasarana Desa Patikarya

No Sarana Dan Prasarana Jumlah

1 Sekolah Dasar 2

2 Taman Kanak Kanak 1

3 Masjid 4

4 Lapangan olahraga 1

5 pasar 1

6 Pustu 1

7 Posyandu 4

8 Poskesdes 1

9 Sumur gali dan MCK 45

C. Keadaan Penduduk

Dilihat dari data terbaru penduduk Desa Patikarya dimana terdapat dua Dusun di Desa Patikarya yaitu; dusun Tile-tile dan Dusun Lembangia yag memiliki persebaran penduduk yang berbeda beda di setiap dusunnya. Di Dusun Tile-tile memiliki 764 jiwa sedangkan Dusun lembagia memiliki 679 jiwa. Jadi keseluruhan jumlah penduduk yang tinggal dan menetap di Desa Patikarya berjumlah 1443 jiwa dengan jumlah Laki-laki 706 jiwa dan jumlah perempuan 737 jiwa.

Penduduk Desa Patikarya sangat menjunjung tinggi kebersamaan di dalam kehidupan bermasyarat mereka. Dikehidupan penduduk banyak kebiasaan- kebiasaan yang dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan banyak penduduk sehingga kehidupan social mereka masih sangat terjaga. Penduduk memiliki kebudayaan yang sangat beragam serta mereka melaksanakan kebudayaan dengan melibatkan banyak penduduk sehingga kebudayaan yang

54

mereka lakukan bisa terlaksana serta dengan adanya kebudayaan ini dapat menjaga interaksi sosial dalam kehidupan sosial penduduk.

Tabel 4.2Jumlah penduduk berdasarkan pekerjaan No Jenis Pekerjaan jumlah

1 Petani 223 jiwa

2 Nelayan 260

3 Buruh tani/Buruh nelayan 72

4 Buruh pabrik 55

5 PNS 20

6 Pegawai swasta 112

7 Wiraswasta/Pedagang 59

8 TNI 7

9 Polri 10

10 Dokter (swasta/honorer)

11 Bidan (swasta/honorer) 2 12 Perawat (swasta/honorer) 3

13 Lainnya 71

Tabel 4.3 jumlah penduduk berdasarkan pendidikan No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 TK 23 orang

2 SD 106 orang

3 SMP 72 orang

4 SMA 38 orang

5 SMK 5 orang

6 S1 25 orang

7 S2 3 orang

8 Putus Sekolah 46

Tabel 4.4 jumlah penduduk berdasarkan agama dan kepercayaan

No Agama Jumlah

1 Islam 1.201 jiwa

2 Kristen 142 jiwa

56 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Perubahan Perilaku Sosial Remaja Dalam Menggunakan Media Sosial Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan di Desa Patikarya bahwa remaja sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba teknologi. Remaja merasa resah jika tidak menggenggam ponsel setiap detik hanya untuk online didalam media sosial. Para remaja sudah merasa asik atau senang jika memilki jaringan internet yang baik tanpa memperdulikan apa yang terjadi disekitarnya, mereka merasa acuh tak acuh terhadap kehidupan nyata mereka dan hanya mementingkan dunia maya atau media sosial. Terlalu mementingkan media sosial tentunya berdampak kepada perilaku mereka didunia nyata atau perilaku mereka terhadap sekitar. Remaja terlalu fokus terhadap media sosial mereka dan tidak mau diganggu dengan kesenangannya, sehingga kehidupan baru yang serba teknologi ini membawa peradaban baru dan berdampak terhadap perilaku sosial remaja yang berubah.

Adapun bentuk perubahan perilaku sosial dalam menggunakan media sosial yaitu sebagai berikut:

1. Kurang Bergaul

Dikehidupan sehari hari bergaul adalah hal yang lumrah dalam masa remaja. Remaja sekarang sudah tidak atau jarang bergaul dan berinteraksi langsung dengan teman sebayanya karna adanya media sosial sebagai pembatas. Adanya media sosial dalam kehidupan sehari hari remaja

dihabiskan untuk online menggunakan media sosial. Sebagaimana hasil wawancara dengan informan yang berinisial MZF pelajar.

“Iya mengubah, saya jarang keluar kamar sekarang cenderung berada di rumah dan sudah hampir tidak bergaul langsung dengan teman.

Saya menghabiskan waktu online saja

dirumah(wawancara/13/12/2020)

Adanya sosial media para remaja sangat mudah untuk bermain dirumah saja. Untuk keluar rumah sudah tidak penting karna bisa mengabari teman lewat pesan yang dikirim melalui chating sosial media. Selain itu para remaja memilih untuk tidak bergaul karna apa yang mereka inginkan semua terpenuhi di dalam sosial media, seperti halnya untuk keluar menemui teman temannya yang jauh atau sanak sodara yang beda kampung atau beda pulau mereka tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga dan uang untuk ketemu. Karna fitur media sosial sekarang sudah amat canggih para remaja memanfaatkannya untuk menelfon vidio atau yang biasa di sebut dengan vc, tak terkecuali dengan menelfon calon pacar atau yang biasa di sebut dengan odo odo. Sebagaimana hasil wawancara dengan informan yang berinisial MZK (16) pelajar.

“keutunganku itu bisa chat atau vc sama temanku yang diluar kampong atau yang di luar pulau, sama chat chat dengan odo odoku”(wawancara/13/12/2020)

Secara tidak langsung dengan menggunakan media sosial telah membatasi cara bergaul pada remaja, karena dengan fitur sosial media yang canggih bergaul yang biasanya di lakukan dengan berbaur dengan teman sebaya sekarang di lakukan nongkrong virtual atau nongkrong online di grub whatshap. Para remaja juga memamnfaatkan media sosial untuk

58

mencari pasangan lewat online karna lebih mudah tanpa harus keluar kencan.

2. Lebih eksis mengikuti zaman

Menjadi eksis adalah incaran semua remaja pada saat ini untuk mendapat pengakuan dari luar atau dari masyarakat. Itulah yang mendorong para rermaja yang berada di desa patikarya lebih giat atau sering menggunakan media sosial sebagai wadah untuk mendapatkan keeksisan dan tidak ketinggalan zaman. Sebagaimana hasil wawancara dengan informan yang berinisial MZK (16) pelajar.

“saya tidak mau ketinggalan zaman, teman temanku punya semuami Sosial Media masa saya tidak sebentar na bilangika kampungan, harus lebih eksis supaya tidak na kata katai teman dulukan belum zamannya media sosial jadi nda apa apaji kalau nda eksiski, tapi kalau sekarang iya haruski eksis jangan kampungan”(wawancara/13/12/2020)

Keeksisan menjaadi bahan olok olok kepada teman yang kurang eksis yaitu remaja yang tidak menggunakan media sosial atau yang tidak memiliki akun media sosial. Mereka mau tidak mau harus menggunakan media sosial sebagai wadah untuk eksis dikarenakan lingkungan mereka yang menuntut untuk menggunakan media sosial. Secara tidak langsung orang yang tidak memiliki akun sosial media akan terdorong untuk membuat akun media sosial supaya tidak mendapatkan bullying dari teman sebaya atau di olok-olok dengan sebutan kurang eksis maka dari itu mereka menggunakan media sosial agar lebih eksis dan tidak ketinggalan zaman seperti sebelumnya ketika belum meggunakan media sosial.

Remaja yang tidak memiliki akun media sosial akan kurang percaya

Dokumen terkait