KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL A. Kerangka Teori
Kerangka konsep disusun menggunakan rancangan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study yaitu pengumpulan data sekaligus dalam waktu yang sama , artinya setiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini variable yang diukur adalah hubungan tingkat stres terhadap kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun 2021. Untuk lebih jelasnya akan disajikan kerangka konsep dapat dilihat melalui skema berikut :
B. Kerangka Konsep
Keterangan :
: Variable yang di teliti : Variable yang tidak di teliti :Mempengaruhi
: Penghubung
Gambar 3.1 Kerangka Konsep tentang Hubungan Tingkat Stres Terhadap Kejadian Dismenore Primer pada Remaja Putri Kelas IX
Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Faktor penyebab stres :
a. Faktor biologis b. Faktor fisiologis c. Faktor sosial
Faktor penyebab dismenore : a. Mengkonsumsi alkohol b. Merokok
c. Stres
Primer Tingkat stres pada
remaja putri
Sedang
Dismenore
Berat
Ringan Sekunder
C. Definisi Operasional Variabel
Tabel 3.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi
Operasional
Alat Ukur
Skala
Data Skor
1. Variabel Independent yaitu tingkat stres pada remaja putri.
Respon tubuh yang dialami oleh remaja putri terhadap tuntutan atau beban pada saat nyeri haid.
Kuesioner dengan mengguna kan instrumen skala Depressi on Anxiety Stres Scale (DASS) 42 dan
memakai kategori skala stress yang terdiri dari 14
peryataan
Ordinal Dengan skor pertanyaan : 0=
tidak pernah 1=kadangkadang
2= sering
3=hampir setiap saat
Klasifikasi : Normal : 0- 14 Ringan : 15- 18 Sedang : 19-25 Berat : 26- 33 Sangat berat : >34
2. Variabel dependent yaitu dismenore pada remaja putri.
Nyeri di daerah perut bagian
bawah saat menstruasi yang dialami oleh remaja putri.
Mengguna kan Numeral Rating Scale (NRS)
Ordinal Angka 0 berarti tidak ada nyeri (no pain) , 1-3 berarti nyeri ringan (mild pain), 4-6 berarti nyeri sedang (moderate pain) dan 7-10 berarti nyeri hebat (severe pain).
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu masalah yang dihadapi dan perlu diuji kebenarannya dengan data yang lebih lengkap dan menunjang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun 2021.
Berikut ini perumusan hipotesis dari penelitian ini:
35
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
HO : Tidak ada hubungan tingkat stres terhadap kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun 2021.
H1 : Ada hubungan tingkat stres terhadap kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun 2021.
BAB IV
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan pendeketan cross sectional study dimana variabel independen dan dependen dikumpulkan pada periode yang sama dan dampak diukur menurut keadaan pada saat penelitian. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengumpulan data dan pengukuran terhadap variabel independen dan dependen. Penelitian ini menganalisis variabel-variabel yang berhubungan dengan hubungan antara tingkat stres dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun 2021 . Yang dideskripsikan secara kuantitatif menggunakan data primer dari penyebaran kusioner dan data diolah menggunakan SPSS, dimana dilakukan uji analisis univariate untuk mengetahui karakteristik sampel dan analisis bivariate untuk mengetahui korelasi antara variabel dependent dan independent kemudian mengetahui korelasi antar variabel menggunakan Uji Chi Square.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian
1.
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Al-Firiyah, Jalan Raya Kemang No.605 Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor.
Waktu Penelitian 2.
Penelitian ini dilaksanakan dalam bulan November sampai Desember 2021.
C. Populasi dan Sampel Populasi
1.
Populasi adalah merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu penelitian dan penentuan sumber data dalam suatu penelitian sangat penting dan menentukan keakuratan hasil penelitian (Saryono, 2011). Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh murid remaja
37
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun ajaran 2021- 2022 yang sudah menarche dan mengalami dismenore.
Sampel 2.
Sampel adalah sebagian dari subyek dalam populasi yang diteliti, yang sudah tentu mampu secara representatif dapat mewakili populasinya.
Menurut Notoatmodjo (2010) dalam pengambilan sampel digunakan rumus Slovin Sebagai berikut :
Keterangan : n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, misalnya 10%.
Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 78 murid remaja putri , sehingga presentase kelonggaran yang digunakan adalah 10% dan hasil perhitungan dapat dibulatkan untuk mencapai kesesuaian.
Maka untuk mengetahui sampel penelitian, dengan perhitungan sebagai berikut:
n = 78
1 + 78 (0,1)² n = 78
1,78
n = 43,8 , disesuaikan oleh peneliti menjadi 44 responden
Berdasarkan perhitungan diatas sampel yang mejadi responden dalam penelitian ini di sesuaikan menjadi 44 orang dari seluruh total murid remaja putri kelas IX di Madrasah Tsanawiyah Al-Firiyah Bogor.
D. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria Inklusi
1.
a. Siswi kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor b. Rentang usia 14- >15 tahun,
c. Menstruasi teratur selama 2 bulan terakhir d. Siklus menstruasi normal (21-35 hari)
e. Tidak mempunyai riwayat penyakit ginekologis f. Merasakan nyeri pada awal menstruasi
Kriteria Ekslusi 2.
a. Tidak termasuk siswi kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor
b. Usia < 13 tahun
c. Siklus menstruasi tidak teratur
d. Mempunyai riwayat penyakit ginekologis e. Tidak merasakan nyeri pada awal mentruasi
f. Sampel mengkonsumsi obat pereda nyeri ketika dismenore.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaanya lebih mudah dan hasilnya lebih baik (cermat, lengkap dan sistematis) kuesioner sehingga lebih mudah diolah (Saryono, 2011). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner sebagai alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Nursalam, 2016). Kuesioner yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yang berisi hubungan tingkat stres dengan kejadian dismenore primer pada murid remaja putri di Madrasah Tsanawiyah Al-Firiyah Bogor. Untuk variabel tingkat stres pada remaja putri peneliti menggunakan kuesioner DASS (Depression Anxiety Stres Scale) dengan jumlah peryataan sebanyak 14 poin. Cara menjawab kuesioner yaitu dengan memberikan tanda cek (√) pada setiap peryataan yang sudah disediakan dengan memilih satu jawaban yang dianggap paling benar.
39
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
Kemudian skor dijumlahkan untuk mendapatkan total skor tingkat stres.
Dalam mengukur tingkat stres ini, tidak dilakukan pengujian validitas ataupun reliabilitas karena instrument yang digunakan telah dibakukan secara internasional. Untuk variabel dismenore pada remaja putri peneliti menggunakan penilaian dismenore akan dilakukan dengan menggunakan Numeral Rating Scale (NRS) yaitu angka 0 berarti tidak ada nyeri (no pain) , 1-3 berarti nyeri ringan (mild pain), 4-6 berarti nyeri sedang (moderate pain) dan 10 berarti nyeri hebat (severe pain).
F. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data yang akan diperlukan untuk memperoleh data di lapangan, yaitu :
1. Survey Lapangan, bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akan dijadikan data, yang sesuai dengan variabel atau masalah yang diteliti melalui cara-cara berikut :
a. Melakukan Observasi, yaitu mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengamati kondisi yang terjadi di lapangan secara langsung yang berhubungan dengan variabel-vaiabel atau masalah yang diteliti.
b. Menyebarkan kuesioner yang berisi peryataan dan harus dijawab oleh responden.
2. Studi Kepustakaan, untuk memperoleh evident based dengan cara membaca dan telaahan jurnal-jurnal, mendalami dan menelaah literatur- literatur yang bersumber dari internet, buku-buku teks, hasil penelitian- penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Data dikumpulkan melalui alat atau instrumen yang berbentuk media kuesioner. Proses penyebaran kuesioner dilakukan dengan cara langsung mendatangi responden.
G. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan Data
1.
Pengolahan data adalah salah satu langkah yang penting. Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh langsung dari penelitian masih mentah, belum memberikan informasi apa - apa dan belum siap untuk
disajikan. Proses pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahap - tahap menurut Notoatmodjo (2012) :
a. Editing (penyuntingan data)
Hasil data dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan. Apabila ada data - data yang belum lengkap, jika memungkinkan perlu dilakukan pengambilan data ulang untuk melengkapi data - data tersebut. Tetapi apabila tidak memungkinkan, maka data yang tidak lengkap tersebut tidak diolah atau dimasukkan dalam pengolahan “data missing”.
b. Coding (pengkodean)
Setelah data diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan peng”kodean”
atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Kode pada variabel tingkat stres pada remaja putri adalah : 0: Tidak pernah, 1: Kadang-kadang, 2:
Sering, 3: Hampir setiap saat c. Data Entry (memasukkan data)
Data yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program atau “software” komputer. Dalam proses ini dituntut ketelitian dari orang yang melakukan “data entry” ini. Apabila tidak maka terjadi bias, meskipun hanya memasukkan data.
d. Cleaning (pembersihan data)
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan- kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. Proses ini disebut pembersihan data (data cleaning).
Metode Analisa Data 2.
Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial, dengan dibantu program SPSS (Statistical Product and Service Solutions).
41
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
Dalam analisis data dilakukan dengan dua cara, yaitu : analisis univariat, bivariat.
a. Analisis Univariat
Analisis univariat adalah suatu teknik analisis data terhadap satu variabel secara mandiri, tiap variabel dianalisis tanpa dikaitkan dengan variabel lainnya. Analisis univariat biasa juga disebut analisis deskriptif atau statistik deskriptif yang berujuan menggambarkan kondisi fenomena yang dikaji. Analisis univariat merupakan metode analisis yang paling mendasar terhadap suatu data. Hampir dipastikan semua laporan, baik laporan penelitian, praktek, laporan bulanan, dan informasi yang menggambarkan suatu fenomena, menggunakan analisis univariat.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat menggunakan tabel silang untuk menyoroti dan menganalisis perbedaan atau hubungan antara dua variabel.
Menguji ada tidaknya perbedaan/hubungan antara variabel metode cermah dan metode demonstrasi terhadap peningkatan haya hidup sehat siswa digunakan analisis Chi Square, dengan tingkat kemaknaan á = 0,05. Hasil yang diperoleh pada analisis Chi Square dengan menggunakan program SPSS yaitu nilai p, kemudian dibandingkan dengan á = 0,05. Apabila 86 nilai p lebih kecil dari á = 0,05 maka ada hubungan/perbedaan antara dua variabel tersebut (Agung, 1993).
Sedangkan untuk mengetahui kuatnya perbedaan antara variable dikonsultasikan dengan Contingency Coefficient (untuk variabel dengan data nominal) sementara untuk mengetahui pola dan kuatnya hubungan antara variabel dikonsultasikan dengan uji Spearman Correlation (untuk variabel dengan data interval). Nilai Chi Square, Contingency Coefficient dan Spearman Correlation diperoleh dari hasil pengolahan program SPSS (Santoso, 2000).
c. Hipotesis Statistik
Untuk menguji statistic maka perlu merumuskan hipotesa untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer pada remaja putri kelas IX di Madrasah Tsanawiyah Bogor tahun 2021. Selanjutnya penarikan uji statistic dengan melihat kemaknaan (p). Jika nilai p < 0,05, maka Ha diterima dan Ho ditolak, dan jika p >
0,05 maka Ha ditolak dan Ho diterima.
Etika Penelitian 3.
Penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Tingkat Stres terhadap Kejadian Dismenore Primer Pada Remaja Putri Kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor tahun 2021” telah melalui prosedur kaji etik dan dinyatakan layak untuk dilaksanakan dengan NO 053/PE/FKK/- KEPK/XII/2021.
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
43 BAB V
HASIL PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah ini telah dilaksanakan pada Bulan November 2021.
Penelitian ini menggunakan responden sebanyak 44 siswi . Dari pelaksanaan penelitian, didapatkan hasil sebagai berikut:
A. Profil Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor
MTs Al-Fitriyah Bogor berada di Jalan Raya Kemang No.605 Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor. MTs Al-Fitriyah berdiri pada tahun 1993 dan berakreditasi B . Sekolah ini berada di luas tanah 1.510 m2 dan luas bangunan 1.010 m2. Total guru yang berada di Mts ini berjumlah 15 orang yang terdiri dari 10 orang guru tetap dan 5 orang guru honorer. Prasarana yang terdapat di Mts cukup lengkap dan memadai,yaitu berupa :
Tabel 4.1 Prasarana MTs Al-Fitriyah Bogor
No. Prasarana Jumlah
1. Ruang kepala sekolah
1
2. Ruang Guru 1
3. Ruang kelas 9
4. Ruang BK/BP 1
5. Ruang Tata Usaha 1
6. Ruang Komputer 1
7. Ruang Media Belajar 1
8. Mushola 1
9. Lapangan upacara 1
10. Kamar mandi guru 3
11. Kamar mandi siswa 4
12. Ruang Serbaguna 1
Kepala sekolah yang menjabat saat ini bernama Mursidah, S.Pd.I dengan wakil kepala sekolah bernama Nur Apadi, S.Pd.I . Jumlah murid yang terdaftar seluruhnya berjumlah 305 murid yang terdiri dari 3 kelas VII, 3 kelas VIII dan 3 kelas IX dengan jumlah murid perempuan 201 orang serta 104 orang murid laki-laki.
B. Hasil Analisis Univariat
Hasil Karakteristik Responden Berdasarkan Usia 1.
Menurut distribusi usia responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Subyek pada penelitian ini berjumlah 44 orang murid perempuan kelas IX Mts Al Fitriyah. Subyek penelitian merupakan murid yang sudah mengalami mentruasi serta selalu mengalami dismenore primer ketika menstruasi.
Tabel 4.2 Subyek penelitian Berdasarkan Usia Umur Jumlah Porsentase (%)
14 tahun 34 77.3%
15 tahun 10 22.7%
Total 44 100%
Berdasarkan hasil pengujian seperti pada tabel diatas, dapat dilihat dari segi umur, terdapat 44 murid perempuan yang terdiri dari 34 orang (77,3%) berumur 14 tahun dan 10 orang (22,7%) berumur 15 tahun. Maka dari itu dapat disimpulkan dominasi responden pada penelitian ini adalah remaja putri berusia 14 tahun. Adanya beberapa siswa yang berumur 15 tahun dikarenakan mengalami keterlambatan umur saat masuk sekolah dasar.
Analisis Deskriptif Karakteristik Variabel 2.
a. Variabel tingkat stres
Kondisi Tingkat stres pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Kondisi Tingkat stres Tingkat Stres Jumlah Porsentase (%)
Normal 0 0%
Ringan 0 0%
Sedang 17 38.6%
Berat 24 54.5%
Sangat Berat 3 6.8%
Total 44 100%
Berdasarkan hasil pengujian seperti pada tabel di atas diketahui bahwa tidak ada remaja putri yang mengalami stress normal dan stress ringan. Sedangkan remaja putri yang mengalami
45
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
stres sedang terdapat sebanyak 17 orang dengan presentase 38,6%, diikuti remaja putri yang mengalami stres berat sebanyak 24 orang dengan presentase 54,5% dan remaja putri yang mengalami stres sangat berat terdapat sebanyak 3 orang dengan presentase 6,8%.
Oleh karena itu dapat disimpulkan responden terbanyak pada penelitian ini adalah remaja putri yang mengalami stres berat.
Kondisi stres ini dimungkinkan penyebabnya adalah banyaknya beban tugas sekolah yang harus diselesaikan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hawari (2011) bahwa stres merupakan respon tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respon tubuh seseorang manakala yang bersangkutan mengalami beban pekerjaan yang berlebihan.
b. Variabel Tingkat Nyeri
Kondisi tingkat nyeri pada penelitian ini dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 4.4 Kondisi Tingkat Nyeri Tingkat Nyeri Jumlah Porsentase (%)
Ringan 0 0%
Sedang 29 65.9%
Hebat 15 34.1%
Total 44 100%
Berdasarkan tabel di atas menyatakan bahwa variable nyeri dengan kategori nyeri sedang sebanyak 29 remaja putri dengan presentase 65,9% dan tingkat nyeri hebat sebanyak 15 remaja putri dengan presentase 34,1%. Sedangkan tingkat nyeri tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini adalah remaja putri yang mengalami kejadian nyeri sedang.
Kondisi yang menunjukkan banyaknya remaja putri yang mengalami kejadian nyeri sedang disebabkan oleh kondisi psikis yang belum stabil dan dan mudah emosi serta stress yang dialami oleh remaja putri. Hal ini juga disampaikan oleh Hendrik (2006) yang
menjelaskan bahwa Stres dapat menimbulkan penekanan sensasi saraf-saraf pinggul dan otot-otot punggung bawah sehingga menyebabkan dismenore.
c. Nilai Desriptive Variabel
Tabel 4.5 Nilai Descriptive Variabel
Karakteristik Variabel Mean ± SD Min Max CI 95%
Stres 26,77 ± 5,05 19 37 25,23-28,31 Nyeri 5,84 ± 1,34 4 8 5,43 – 6,25 Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.5 di atas dapat dilihat rata-rata variabel stres 26,77 dengan taraf kepercayaan 95% (CI 95%) dan rata-rata variabel nyeri 5,84 dengan taraf kepercayaan 95% (CI 95%).
C. Hasil Analisis Bivariat Uji normalitas 1.
Uji normalitas data adalah salah satu asumsi manakala data yang diperoleh dari sampel berskala Interval-Ratio, yang akan diuji menggunakan statistic parametric. Hasil pengujiannya adalah sebagai berikut.
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas
Variabel Hasil Uji Normalitas Keterangan Stres 0,041 < 0,05 Distribusi Tidak Normal Nyeri 0,004 < 0,05 Distribusi Tidak Normal Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.6 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi variabel stres adalah 0,041. Nilai signifikansi 0,041 <
0,05 sehingga dapat disimpulkan variabel stress terdistribusi tidak normal.
Selanjutnya nilai signifikansi variabel nyeri adalah 0,004. Nilai signifikansi 0,004 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan variabel nyeri terdistribusi tidak normal. Mengingat data yang tidak normal maka digunakan uji chi-square.
47
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
D. Uji Chi Square
Hasil dari uji Chi-Square tabel silang 2 x 3 untuk melihat apakah ada hubungan tingkat stres dengan dismenore primer diketahui terdapat 2 cell (33%) yang memiliki nilai expected count <5 yaitu pada remaja putri yang mengalami stress sangat berat dengan kejadian nyeri sedang dan remaja putri yang mengalami stress sangat berat dengan kejadian nyeri hebat sehingga asumsi chi square tidak terpenuhi.
Tabel 4.7 Hasil uji Chi-Square Variabel
Kategori Dismenore
Sign.
Nyeri Sedang
Nyeri
Hebat Total
Sedang Count 17 (100%) 0 (0%) 17
(100%)
0,001
Expected Count 11.2 5.8 17.0
Berat Count 10 (41.7%) 14 (58.3%) 24 (100%)
Expected Count 15.8 8.2 24.0
Sangat Berat
Count 2 (66.7%) 1 (33.3%) 3 (100%)
Expected Count 2.0 1.0 3.0
Total Count 29 (65.9%) 15 (34.1%) 44 (100%)
Expected Count 29.0 15.0 44.0
Selanjutnya dilakukan pengabungan cell menjadi 2 x 2 dan diketahui tidak ada nilai expected count <5 dan layak digunakan uji Chi Square. Hasil pengujiannya sebagai berikut:
Tabel 4.8 Hasil uji Chi-Square Penggabungan Cell Variabel
Tingkat Nyeri
Total Sig.
Nyeri Sedang
Nyeri Hebat
Sedang Count 17 (100%) 0 (0%) 17
(100%)
0,000
Expected Count 11.2 5.8 17.0
Berat Count 12
(44.4%)
15 (55.6%)
27 (100%)
Expected Count 17.8 9.2 27.0
Total Count 29
(65.9%)
15 (34.1%)
44 (100%)
Expected Count 29.0 15.0 44.0
Berdasarkan hasil pengujian di atas dapat dijelaskan bahwa kelompok yang memiliki tingkat stres sedang ternyata 100% memiliki tingkat nyeri sedang dan kelompok yang memiliki tingkat tingkat stres berat 44,4%
memiliki tingkat nyeri sedang dan sebesar 55,6% memiliki tingkat nyeri hebat. Secara statistik dapat diperoleh nilai p < dari nilai α yaitu 0,000 < 0,05.
Ini bearti H0 ditolak Ha diterima, dengan demikian terdapat hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer secara signifikan/bermakna.
Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan
49 BAB VI PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa dari 44 responden siswi remaja di MTs Al Fitriyah Bogor , seluruh responden mengalami dismenore saat awal mentruasi. Ditinjau dari karakteristik responden dari segi umur, responden paling banyak berada dalam kategori umur 14 tahun yakni sebanyak 34 orang dari total 44 responden. Menurut Beckmann (2010) insiden dismenore paling besar terjadi pada perempuan di usia remaja hingga awal umur 20 tahun dan akan menurun seiring dengan pertambahan umur.
Menurut Proverawati (2009) yang menyatakan bahwa pada masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood yang drastis pada remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah atau kegiatan sehari-hari dirumah. Selain itu menurut Ade (2011) emosionalitas pada masa remaja dipengaruhi oleh adanya faktor kematangan, faktor belajar, kemurungan, merajuk, ledakan marah dan kecenderungan untuk menangis serta pada masa ini remaja akan merasa khawatir, gelisah dan cepat marah.
Nyeri dismenore yang didapatkan dari hasil pengisian kuesioner menggunakan Numeral Rating Scale (NRS) adalah 29 siswi mengalami nyeri sedang dengan sebanyak 9 orang siswi mengalami nyeri dengan skala 4, 10 orang siswi mengalami nyeri dengan skala 5 dan 10 orang siswi mengalami nyeri dengan skala 6. Sebanyak 15 orang siswi mengalami nyeri hebat yaitu 9 orang siswi mengalami nyeri dengan skala 7 dan 6 orang siswi mengalami nyeri dengan skala 8 .
Pengisian Depression Anxiety Stress Scale (DASS) terdiri dari tiga kategori skala yaitu skala depresi, skala kecemasan dan skala stres yang masing- masing terdiri dari 14 peryataan. Total peryataan dalam Depression Anxiety Stress Scale (DASS) berjumlah 42. Dalam uraiannya Depression Anxiety Stress Scale (DASS) tidak memuat tentang status sosial maupun faktor biologis, pernyataan dalam skala hanya berisikan tentang psikologis. Hasilnya didapatkan setelah 44
siswi remaja putri mengisi kuesioner yaitu terdapat 17 orang mengalami tingkat stres sedang, 15 orang mengalami tingkat stres berat dan 3 orang mengalami tingkat stres sangat berat. Hal ini sebanding dengan hasil penelitian Sari Priyanti (2014) di MTS Mamba’ul Ulum Awang-awang Mojosari Mojokerto. Bahwa didapatkan data 19,6% dismenore paling banyak mengalami stres sedang.
Dari hasil wawancara peneliti dengan responden terdapat 3 orang siswi mengalami stres berat yang dikarenakan adanya tuntutan dari orangtua untuk selalu mendapatkan nilai yang baik disekolah, hal ini sesuai dengan teori Needlman (2004) yang menyatakan bahwa adanya tuntutan yang biasanya menuntut anaknya untuk mendapatkan nilai yang baik disekolahanya tanpa melihat kemampuan si anak. Beban berat yang dialami remaja ini dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti sakit kepala, kurangnya nafsu makan, dan kecemasan yang berlebihan
Stres telah terbukti menyebabkan perubahan hormonal melalui sumbu hipotalamik pituitary-ovarium (HPO) yang menyebabkan perubahan dalam hormon ovarium yang memungkinkan wanita lebih rentan terhadap gangguan menstruasi (Gollenberg, 2010). Stres merupakan faktor psikis yang berhubungan langsung dengan terjadinya dismenore.
Hasil penelitian menunjukan nilai p < dari nilai α yaitu 0,000 < 0,05. Ini bearti H0 ditolak Ha diterima, dengan demikian terdapat hubungan yang signifikan/bermakna antara tingkat stres pada remaja putri kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al-Fitriyah Bogor,hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunianti (2014) mengenai “Hubungan tingkat stres dengan tingkat dismenorea pada siswi kelas X dan XI SMK Bhaktikarya Kota Magelang”, menunjukan hasil terdapat hubungan antara tingkat stres dengan tingkat dismenorea pada siswi kelas X dan XI di SMK Bhaktikarya Kota Magelang dengan p value = 0,024 dan koefisien korelasi 0,160. Susanti (2014) yang mendapatkan korelasi positif yang signifikan antara tingkat stress dengan tingkat dismenore (p value 0,005). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Saputri (2014) juga menemukan hasil yang sama dengan p value 0,000 bahwa peningkatan stres akan meningkatkan kejadian dismenore. Hasil penelitian