BAB II LANDSASAN TEORI
2.3 Kerangka Pemikiran
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mengangkat materi penyaluran kredit, yaitu sebagai berikut:
2.3.1 Pengaruh NPL Terhadap Penyaluran Kredit
Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.8/30/DPBPR/2006 tanggal 12 Desember yang dimaksud Non Performance Loan (NPL) adalah perbandingan antara kredit yang diberikan (kualitas KL, D dan M) terhadap total kredit yang diberikan. Rasio NPL ini menunjukkan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Semakin tinggi rasio NPL dapat mengindikasikan bahwa kolektibilitas bank yang rendah, dan berpotensi menurunkan kualitas aset pada bank. Dengan kata lain NPL yang tinggi juga akan menurunkan profitabilitas bank, yang akan memberikan sinyal bad news pada laporan keuangan. NPL juga memaksa bank membentuk sejumlah
cadangan guna menjaga likuiditas dan solvabilitas bank untuk melindungi deposan yang akan menggerus modal, dimana modal menjadi aspek yang penting di dalam ekspansi kredit. Jadi, semakin besar NPL semakin besar opportunity cost yang harus ditanggung oleh bank dan menurunkan kemampuan bank untuk menyalurkan kredit. Oleh karena itu, NPL harus diupayakan serendah mungkin.
Presentase yang harus dijaga menurut PBI No.15/2/PBI/2013 adalah sebesar 5%.
Menurut Mohamad (2010) dan Kifliani (2013) NPL berpengaruh positif, hal ini berbeda dengan Andriani (2008), Triasdini (2010), Pratama (2010), Rahayu (2011) dan Putri (2013) yang menyatakan bahwa NPL berpengaruh negatif terhadap penyaluran kredit bank.
2.3.2 Pengaruh GCG Terhadap Penyaluran Kredit
Good Corporate Governance merupakan indikator tata kelola perusahaan yang dilakukan manajemen. Sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No.
15/15/DPNP tanggal 29 April 2013 , pelaksanaan 5 prinsip good corporate governance yang didukung oleh salah satu faktor penilaian self assessment GCG terkait penyediaan dana kepada related party dan penyediaan dana large exposure , akan membuat bank menjadi sehat dan produktif dalam menyalurkan kredit.
Terkait dengan teori sinyal, maka pelaksanaan GCG akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank yang dikemas di dalam laporan keuangan. Investor akan menilai dan memberikan respon terhadap kinerja perusahaan, bahwa dana yang diinvestasikan dalam perusahaan yang bersangkutan akan dikelola dengan baik
dan kepentingan investor akan aman (Setyawan, 2012). Pada GCG, peringkat yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia membantu investor untuk memahami penerapan GCG pada bank, karena investor dapat melihat skor GCG yang sudah ada untuk menentukan investasinya. Semakin kecil skor self assessment pada GCG memberikan sinyal good news dan mengindikasikan terhadap peningkatan nilai bank di masyarakat. Meningkatnya nilai bank di masyarakat akan mendorong nasabah untuk berinvestasi di bank tersebut, dan semakin besarnya nasabah yang berinvestasi di bank terkait berpotensi meningkatkan dana tambahan untuk penyaluran kredit. Dengan demikian terdapat indikasi bahwa GCG memiliki pengaruh negatif terhadap penyaluran kredit bank.
2.3.3 Pengaruh ROA Terhadap Penyaluran Kredit
Pengembalian investasi yang tinggi dapat terjadi apabila pendapatan bank mengalami peningkatan secara terus menerus selama beberapa periode.
Berdasarkan SE BI No.3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 terkait ROA, hal tersebut mengindikasikan perubahan pada kredit yang disalurkan oleh bank berpotensi meningkatkan laba pada bank, karena penyaluran kredit merupakan salah satu pendapatan terbesar perbankan, dimana meningkatnya laba pada bank juga dapat dipengaruhi oleh ROA. Semakin besar ROA mengindikasikan pengelolaan aset pada bank tersebut semakin baik, dimana kredit merupakan aset pada bank. Pengelolaan aset yang tercermin pada ROA akan meningkatkan nilai bank tersebut yang berpotensi akan meningkatkan kepercayaan nasabah.
Meningkatnya nasabah menentukan besarnya dana pihak ketiga yang akan diolah untuk penyaluran kredit pada bank atau penempatan berjangka lainnya (Putri, 2013). Menurut Triasdini (2010), Rahayu (2011) dan Putri (2013), ROA memiliki pengaruh positif terhadap penyaluran kredit. Hal ini berbeda dengan penelitian Puspitasari (2013) yang mengungkapkan bahwa ROA memiliki pengaruh negatif.
2.3.4 Pengaruh CAR Terhadap Penyaluran Kredit
CAR merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) yang dibiayai dari dana modal sendiri disamping memperoleh dana- dana dari sumber diluar bank, seperti masyarakat, pinjaman , dan lain-lain (Putri dan Suwarti, 2013). Dengan besarnya modal yang dimiliki oleh bank, maka bank akan mampu untuk menjalankan kegiatan usahanya. Berdasarkan SE BI No.3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 terkait CAR, tingkat kecukupan modal bank (CAR) memiliki hubungan dengan penyaluran kredit selain karena terdapat ketentuan yang disyaratkan oleh otoritas moneter terkait masalah permodalan ini.
Semakin tinggi CAR maka semakin besar pula sumber daya finansial yang dialokasikan pada modal untuk mengantisipasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh pergerakan aktiva bank yang beresiko yakni termasuk penyaluran kredit. Hal ini terjadi karena perubahan di dalam penyaluran kredit akan dipengaruhi besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yang akan digunakan di
dalam CAR. Sehingga penyaluran kredit oleh bank juga dipengaruhi oleh besarnya kecukupan modal yang dimiliki oleh bank.
Menurut Furlong (1992), Triasdini (2011), Wilansari (2013), dan Putri (2013), CAR memiliki pengaruh positif terhadap penyaluran kredit bank. Hal ini berbeda dengan penelitian Pratama (2010) dan Rahayu (2011) yang mengungkapkan bahwa CAR memiliki hubungan negatif.
2.3.5 Pengaruh BI Rate Terhadap Penyaluran Kredit
BI Rate merupakan instrumen kebijakan moneter utama untuk mempengaruhi aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Perubahan BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi. Terkait dengan Bank Lending Channel , hal tersebut menjelaskan dalam penelitian ini terkait bagaimana hubungan antara kebijakan moneter yakni BI Rate, terhadap perubahan di dalam penyaluran kredit.
Perubahan di dalam BI Rate akan mempengaruhi jumlah uang beredar, sehingga perubahan di dalam jumlah uang beredar tersebut akan mempengaruhi penyaluran kredit, meskipun bank tidak bisa memaksa untuk menyalurkan kreditnya kepada debitur dalam rangka meningkatkan pendapatan karena posisi bargaining power bank lebih lemah dibandingkan debitur, tapi kecenderungan kredit akan naik ketika suku bunga diturunkan akibat menurunnya BI Rate. Menurut Apriasti (2011), Muljayanti (2008), dan Qodri (2006), BI Rate memliki pengaruh negatif
terhadap penyaluran kredit bank. Hal ini berbeda dengan penelitian Opiela (2008) yang menyatakan bahwa monetary policy memiliki hubungan positif.
Gambar 2.2
Kerangka Pemikiran Analisis
Mengacu kepada tinjauan pustaka dan penelitian - penelitian terdahulu serta uraian sebelumnya, maka dapat ditarik sebuah kerangka pemikiran teoritis dari penelitian seperti gambar diatas.