• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kerangka Pikir

Pemikiran Hasan Al-Banna tentang pembinaan akhlak adalah bagaimana mengembangkan hasil temuan yang memiliki konstribusi yang signifikan bagi pembangunan masyarakat dan pembangunan iptek, bagaimana mengembangkan metode pembinaan akhlak yang lebih kreatif dan inovatif dengan menggali masalah-masalah operasional dan actual pembinaan akhlak.

Menurut Hasan Al-Banna akhlak adalah membangun (membangkitkan) kembali psikis atau jiwa seseorang dengan pendekatan Agama Islam, yang diharapkan agar seseorang memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam, sehingga terbentuknya perilaku yang dinamis sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Tujuan utama dari pembinaan Islam adalah menanamkan fadhilah, membiasakan berakhlak yang baik sehingga hidup ini menjadi suci, kesucian disertai keikhlasan.

Untuk mengkaji informasi dan data yang terkait dengan pemikiran Hasan Al-Banna adapunbeberapa metode dalam usaha pembinaan akhlak, salah satunya metode keteladanan, metode pembiasaan, nasehat dan metode cerita dalam rangka pembentukan akhlak Islami menurut Hasan Al-Banna.

Bagan Kerangka Pikir

Gambar. 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Hasan Al-Banna

Pemikiran Hasan Al-Banna Metode Pembinaan Akhlak

Islami

Pembinaan Akhlak Dalam Islam

25

C. Penelitian Relevan

Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan dengan penelitian ini, di antaranya penelitian yang dilakukan oleh:

Penelitian yang dibahas oleh Ari Prayoga (2017), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UINSG Bandung, yang berjudul “Pembinaan Akhlak Karimah Peserta Didik Melalui Ekstrakurikuler ”. Penelitian ini membahas tentang salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Beberapa waktu belakangan tampak terjadi peningkatan kualitas, keragaman, serta frekuensi kenakalan remaja, termasuk yang berupa tawuran antar pelajar. Peningkatan itu, tidak terlepas dari pengaruh makin seringnya terjadi bentrokan antar anggota masyarakat. Sebagai langkah antisipasi, sekolah perlu menghindari adanya jam-jam kosong dan meningkatkan kegiatan ekstrakurikuler.

Hasil penelitian tersebut menunjutkan bahwa memiliki keterkaitan atau hubungan dengan pembinaan akhlak islami menurut Hasan Al-Banna.

Berdasarkan analisis dan dasar kegiatan yang direncanakan Hasan Al-Banna dalam pembinaan akhlak peserta didik melalui pendakatan terhadap agama Islam sehingga dapat meninkatkan akhlak peserta didik dan meningkatkan mutu pendidikannya.

Penelitian yang dibahas oleh Saputra (2018), Fakultas Ushuluddin, Adab,dan Dakwah Lampung, yang berjudul “ Metode Dakwah Dalam Pembinaan Akhlak “. Penelitian ini membahas tentan dakwah yang mempunyai peran dalam membinaan akhlakumat manusia. Hal ini dapat dilihat dari kemauan dan kegiatan yang tidak kenal lelah dari para muballigh Islam. Perjuangan umat islam sendiri tidak lepas dari metode dakwah yang tepat sehinggabanyak orang kafir yang masuk agama Islam.

Hasil penelitian tersebut menunjutkan bahwa memiliki keterkaitan atau hubungan dengan metode pembinaan akhlak Islami menurut Hasan Al-Banna.

Karna pembinaan akhlak menurut Hasan Al-Banna dapat mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan dapat memberikan dampak positif bagi umat Islam, misalnya berkarakter mulia secara koprehensip, sehingga dapat mengembangkan akhlak dalam kemajuan Islam.

Hakim (2017), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga, yang berjudul “Pemikiran Hasan Al-Banna tentang Pendidikan Akhlak Dalam Metode Pendidikan Akhlak”. Penelitian ini membahas tentang aspek-aspek pendidikan kepribadian menurut Imam Hasan Al-Banna, yang meliputi aspek aqidah, intelektual, moral, sosial serta fisik.Aspek tersebut dalam prosesnya harus berdasarkan pada dasar Islam yang benar, yaitu berdasar pada Al-Qur’an dan As- Sunnah.

Hasil penelitian tersebut menunjutkan bahwa memiliki keterkaitan atau hubungan dengan metode pembinaan akhlak Islami menurut Hasan Al-Banna.

Sedangkan sistem pendidikan yang dibangun Hasan Al-Banna berdasar atas

27

pendekatan pemahaman hakikat manusia sebagai pribadi yang holistik, yang meliputi aspek fikriyah, ruhaniyah dan jasmaniyah. Sebagai konsekuensi logisnya, maka pada tataran aplikasinya pendidikan diarahkan kepada pembentukan aspek- aspek tersebut secara seimbang dan integral.

Penelitian yang di bahas oleh Muhammad Al-Banna (2015).Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UINSH Jakarta, yang berjudul “Pemikiran Hasan Al-Banna Dalam Pendidikan Islam”.. Penelitian ini membahas tentang aspek- aspek pendidikan Islam menurut Imam Hasan Al-Banna, dimana sejarah menunjukkan bahwa perkembangan kegiatan pada masa klasik Islam telah membawa Islam sebagai jembatan pengembangan keilmuan dari keilmuan klasik ke ilmuan modern.

Hasil penelitian tersebut menunjutkan bahwa memiliki keterkaitan atau hubungan dengan metode pembinaan akhlak menurut Hasan Al-Banna dalam pendidikan Islami tentu Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam pembinaan akhlak. Islam memberikan kontribusi besar terhadap dunia pendidikan dengan menempatkan nilai-nilai agama sebagai yang utama dalam pengajaran, ketika nilai-nilai agama tersebut sudah terinternalisasi dengan baik dalam setiap individu maka pengetahuan yang di miliki tersubut dapat di aplikasikan dengan baik.

28 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian naratif yaitu suatu cara kerja tertentu yang bermanfaat untuk mengetahui pengetahuan ilmiah dari suatu dokumen yang di kemukakan oleh ilmuan masa lalu maupun sekarang. Dengan cara mengutip dari berbagai buku yang ada yang berhubungan metode pembinaan akhlak islami dan pendapat yang mempunyai hubungan dengan permasalahan yang diteliti.

Dalam hal ini penulis meneliti dan mengkaji informasi dan data yang terkait dengan pemikiran Hasan Al-Banna tentang metode pembinaan akhlak Islami. Penulisdalam hal ini memanfaatkan buku-buku sebagai sumber didapatkannya informasi yang dimaksud.

Dilihat dari sifat penelitian, maka penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analisis, yakni suatu metode dalam meneliti buku-buku yang ada atau jurnal yang mempunyai hubungan dengan metode pembinaan akhlak Islami menurut Hasan Al-Banna.

Penulis dalam hal ini hanya menggambarkan tentang pemikiran Hasan Al- Banna tentang pembinaan akhlak. Maka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, yaitu dengan mengamati atau mencari berbagai buku terkait pemikiran Hasan Al-Banna mengenai pembinaan akhlak Islami.

29

B. Waktu Penelitian

Penitian ini akan dilakukan dengan mengamati atau mencari dari berbagai sumber dari buku-buku yang ada maupun jurnal yang berhubungan dengan metode pembinaan akhlak islami menurut Hasan Al-Banna. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2020.

C. Fokus Penelitian

Fokuskan penelitian pada Metode Pembinaan Akhlak Islami Perspetif Hasan Al-Bannayang dibagi menjadi sepuluh kriteria yakni Qawwiy Al-Jism (Kuat Fisiknya), Matin Al-Khuluq (Kokohnya Akhlak), Mutsaqqaf Al-Fikr (Luas Wawasan), Qadir Ala Al-Kasbi (Mampu Mencari Penghidupan), Salim Al-Aqidah (Benar Akidahnya), Shahihal Ibadah (Benar Ibadahnya), Mujahid Li Nafsih (Mujahadah Terhadap Diri Sendiri), Harish Ala Alwaqtih (Perhatian Terhadap Waktu), Munadhdhom Fisyuunih (Teratur Urusannya), Nafi‟ Li Ghoirih (Bermanfaat Bagi Orang Lain).

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data.Kualitas instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Dan untuk mendukung tercapainya hasil penelitian maka peneliti menggunakan alat bantu berupa buku-buku yang ada, jurnal maupun artikel yang memiliki keterkaitan atau hubungan dengan metode pembinaan akhlak Islami menurut Hasan Al-Banna.

E. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang dikumpulkan peneliti adalah data sekunder.

1. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini adalah karya-karya penulis lain yang membahas tentang pembinaan akhlak Islami, baik itu dalam bentuk buku, jurnal, artikel maupun karya ilmiah lainnya. Beberapa sumber yang peniti gunakan sebagai data sekunder, antara lain: buku, jurnal, artikel dan sumber yang relevan dengan pembinaan akhlak Islami pemikiran Hasan Al-Banna.

F. Teknik Pengumpulan Data

Setelah data telah terkumpul maka penulis mengadakan pengoreksian data tersebut dengan meneliti teks tentang pemikiran Hasan Al-Banna tentang pembinaan akhlak yang mencakup segi keotentikannya. Menganalisis nilai-nilai pokok yang ada di dalam pemikiran Hasan Al-Banna tentang pembinaan akhlak tersebut yang kemudian penulis ambil analisisnya untuk mengambil kesimpulan akhir.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah ”proses menyusun, mengkategorikan data, mencari atau tema dengan maksud untuk memahami maknanya”. Analisis data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisis data “merupakan rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis”.

Data yang telah terkumpul, tahap selanjutnya adalah mengolah data melalui proses editing, yaitu melakukan pengecekan terhadap data-data atau

31

bahan-bahan yang telah diperoleh untuk mengetahui apakah catatan itu cukup baik dan dapat segera disiapkan untuk keperluan proses berikutnya. Setelah data diedit sedemikian rupa, kemudian dianalisa dengan menggunakan metode analisis kualitatif, karena data yang diperoleh dari literatur yang ada di buku, jurnal dan artikel, kemudian ditarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan.

Untuk menganalisa data historis dari sumber (Buku, Jurnal, dan Artikel) digunakan teknik analisis isi (Content Analysis), yaitu suatu metode analisis data secara sistematis dan objektif. Sedangkan untuk pengambilan kesimpulan penulis menggunakan metode berfikir induktif yaitu suatu metode dengan menarik kesimpulan dari yang hal-hal atau gejala yang bersifat khusus, ditarik kesimpulanyang bersifat umum. Kaitannya dengan penelitian ini adalah suatu proses untuk mengambil kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus yaitu pemikiran Hasan Al-Banna tentang pembinaan akhlak kemudian dikaitkan dengan pemikiran yang bersifat umum dengan langkah-langkahnya analisisnya sebagai berikut:

a. Memilih data dengan membacaan dan pengamatan secara cermat terhadap pemikiran Hasan Al-Banna yang didalamnya terkandung konsep pembinaan akhlak.

b. Mengkategorikan ciri-ciri atau komponen pesan yang mengandung nilai- nilai pembinaan akhlak dalam setiap pemikiran Hasan Al-Banna.

c. Menganalisis relevansi pemikiran Hasan Al-Banna tentang pembinaan akhlak.

Untuk mendapatkan kesimpulan penulis menggunakan pola penalaran induktif, yaitu pola pemikiran berangkat dari suatu pemikiran khusus kemudian ditarik generalisasi yang bersifat umum.

35 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pemikiran Hasan Al-Banna Tentang Akhlak

Dalam penutup risalah ta‟alim Hasan Al-Banna menjelaskan bahwa apa yang terdapat dalam risalah ta’alim merupakan bingkai global dakwah dan penjelasan ringkas fikrah jamaah Ikhwanul Muslimin. Hasan Al-Banna menambahkan pula bahwa prinsip-prinsip tersebut dapat dihimpun dalam lima slogan yakni: Allah ghayatuna (Allah adalah tujuan kami), Ar-Rasul qudwatuna (Rasul adalah teladan kami), Al-Qur'an syir'atuna (Al-Qur’an adalah undang- undang kami), Al-Jihad sabiluna (jihad adalah jalan kami), dan Asy-Syahadah umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami). Selain itu, pinsip-prinsip tersebut juga bisa dihimpun dalam lima kata; kesederhanaan, tilawah, shalat, keprajuritan dan akhlak.

Bagian penutup risalah ta‟alim tersebut dapat dipahami bahwa dalam risalah ta’alim terdapat lima pembahasan penting dan akhlak merupakan salah satunya. Pokok-pokok akhlak dalam risalah ta’alim yang dalam pembahasan ini mengacu pada konsep pribadi muslim yang ideal atau bisa dikatakan pribadi yang berakhlak Islami dapat diklasifikasikan menjadi tiga pembahasan:

91 a. Akhlak kepada Allah

a. Dalam salim al aqidah

Salim al qidah dalam pandangan Hasan Al-Banna merupakan konsep yang dengannya seorang muslim memiliki aqidah yang benar. Pokok-pokok salim al- aqidah menurut Hasan Al-Banna meliputi:

1.} Ma'rifah kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya dan menyucikan (dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, cukup diiimani sebagaimana adanya tanpa ta'wil dan ta'thil (pengingkaran), serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Hal terbaik adalah mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.

Ada beberapa ayat maupun hadits yang mengidentifikasi sifat-sifat Allah SWT yang secara lahir berupa tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk- Nya, contoh kata al wajhu dan aidiina (al yadd) yang terdapat dalam Suirat Ar-Rahman ayat 26-27, berbunyi:

























Terjemahan:

37

91

Sesuatu yang ada di bumi itu akan binasa, Dan akan kekal Dzat tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Dalam menyikapi hal tersebut ulama salaf bersikap mengimani dengan diam dan menyerahkan pengetahuan tentang makna-maknanya kepada Allah SWT. Adapun ulama khalaf mereka berpendapat bahwa makna ayat-ayat dan hadits tidak dapat diartikan secara dhahir, melainkan sebuah kiasan (majaz) yang boleh untuk ditakwilkan, sehingga mereka menakwilkan lafal al wajhu (wajah) dengan dzat, al yadd (tangan) dengan kekuasaan, dan seterusnya. Hal ini dilakukan dalam upaya agar terhindar dari sikap tasybih.

Hasan Al-Banna dalam hal ini tampak lebih memilih pendapat ulama salaf yang mengimani sebagaimana adanya dan menyerahkan maknanya kepada Allah dengan keyakinan untuk menyucikan Allah dari penyamaan dengan makhlukNya, hal ini karena pendapat itulah yang diamalkan para salafus salih.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Asy Syaukani yang dikutip oleh Abdullah bin Qasim al Washly:

“Sesungguhnya madzhab salaf dan para sahabat, tabiin, dan pengikut mereka, ialah mendatangkan dalil-dalil sifat Allah SWT sesuai lahirnya tanpa mengubahnya, tanpa penafsiran yang menyimpang terhadap sifat apapun, tanpa tasybih dan tanpa ta‟thil yang disebabkan oleh banyak penafsiran” (Al-Washly, 2001:317).

Mengambil pendapat salaf sebagai pilihan bukan berarti menganggap pendapat ulama khalaf adalah pendapat yang salah dan penganutnya merupakan patut dianggap kafir maupun fasik. Hal tersebut karena pada dasarnya ulama khalaf menambahkan pembatasan makna yang dikandung dengan tetap menjaga kesucian Allah dengan maksud menjaga aqidah orang awam dari keterjerumusan

91

tasybih. Sehingga tidak seharusnya perbedaan ini menimbulkan perpecahan di antara umat Islam.

2.} Aqidah adalah pondasi aktifitas; aktifitas hati lebih penting daripada aktifitas fisik. Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda.

Ada tiga pembahasan utama dalam pembahasan ini yakni, a. Aqidah sebagai landasan amal

Hal ini karena aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang (Al- Fauzan, 2012:3). Aqidah adalah iman yang merupakan keyakinan dan dasar yang melandasi, menumbuhkan dan menjadi pokok bagi seluruh cabang syariat Islam, sedangkan amal perbuatan merepresentasikan syariat dan cabang-cabang yang merupakan perpanjangan dari aqidah. Dengan demikian tampak bahwa amal merupakan manifestasi dari aqidah seseorang.

b. Aktivitas hati lebih penting dari aktifitas fisik.

Ada beberapa alasan yang menjadikan aktifitas hati lebih penting dari aktifitas fisik, antara lain karena hati adalah pokok, sedangkan anggota tubuh adalah cabang sebagaimana hadits berikut;

Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik makai baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak, rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.

39

91

Alasan kedua adalah ayat yang menerangkan bahwa hanya hati yang bersihlah yang bermanfaat di sisi Allah, dalam Surat Asy-Syuara ayat 88-89;

Terjemahannya;

(yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih.

Alasan ketiga adalah dalam banyak ayat Allah tidak menyebutkan amal saleh kecuali mendahuluinya dengan iman, Yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 227;

















Terjemahnya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dengan demikian, bisa dipahami bahwa penyebutan berulang-ulang di banyak tempat menunjukkan pentingnya amal perbuatan hati. Kesempurnaan hati dan amal adalah tuntutan syariat

Keterpaduan hati dan amal adalah sebuah keniscayaan, masing-masing dari keduanya memiliki ruang lingkup yang harus diamalkan sesuai tuntunan syariat.

3.} Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya, adalah kemunkaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Al-Qur'an atau ada riwayat dari Rasulullah SAW.

91

Jimat, mantera dan yang tersebut di atas adalah kemungkaran yang harus dihindari karena merupakan penipuan dan kebohongan yang dapat memalingkan seorang muslim dari aqidah yang benar. Dalam jimat, mantra dan guna-guna terdapat penyimpangan berupa keyakinan bahwa benda-benda tersebut mampu melindungi seseorang dari bala’. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Atsir yang dikutip oleh Abdullah bin Qasim Al Washly, “Semua itu disebut syirik karena mereka hendak menolak ketentuan-ketentuan (taqdir) yang telah tertulis dan mencari perlindungan dari gangguan dan penyakit kepada selain Allah, padahal hanya Allah yang mampu melindunginya”. Akan tetapi dalam hal ini ada pengecualian yakni ruqyah (mantra) yang berasal dari Al-Qur’an di antaranya terdapat dalam beberapa ayat di surah al Baqarah dan Muawwidzatain atau ada riwayat dari Nabi SAW seperti doa berikut:

Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari keburukan yang Ia ciptakan.

Sedangkan dalam ramalan, perdukunan dan penyingkapan perkara ghaib termasuk dalam kategori mengklaim mengetahui akan hal yang ghaib, padahal pengetahuan tentangnya hanya milik Allah. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Jin ayat 26;

















41

91 Terjemahnya:

(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

Selain itu terdapat pula hadits yang menjelaskan larangan perdukunan yakni:

Dari Abdillah dari Nafi‟ dari Shafiyyah sebagian istri Rasulullah, dari Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mendatangi, araf kemudian bertanya tentang sesuatu dan membenarkannya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari (HR. Muslim No.4137).

Dengan demikian, sudah sepantasnya seorang muslim yang berpegang teguh dengan aqidah Islam akan menghindari hal-hal tersebut dalam rangka menjaga kemurnian aqidah.

c. Doa apabila diiringi tawassul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu' menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.

Tawassul merupakan salah satu permasalahan furu‟ yang menjadi khilafiyah sejak lama. Ulama bersepakat atas kebolehan tawassul dengan amal saleh, dengan asmaul husna, dengan doa orang saleh ketika masih hidup dan bertawassul dengan Al-Qur’an. Adapun perbedaan pendapat tentang tawassul terangkum pada tiga pendapat yakni pertama, pelarangan secara mutlak, ulama yang berpendapat tersebut adalah Imam Abu Hanifah.

Kedua, boleh tawassul dengan pengkhususan terhadap pribadi Rasulullah SAW, pendapat ini dikatakan oleh Imam Ahmad, dan Ibnul Arabi dari kalangan Maliki. Ketiga, boleh secara mutlak, baik dengan diri Nabi, dan setiap wali yang saleh dari kalangan mukminin baik yang masih hidup

91

maupun yang sudah meninggal, Asy Syaukani termasuk salah satu ulama yang mendukung pendapat ini.

Sedangkan KH. Ali Ma’shum dalam kitabnya Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah justru menjelaskan bahwa pendapat tentang kebolehan mutlak tawassul baik kepada Nabi maupun para wali dari kalangan mukmin adalah pendapat mayoritas ulama salaf maupun khalaf, kecuali Ibnu Taimiyyah (Ma’shum,1983:93). Pendapat yang terakhir ini memiliki pemahaman bahwa tawassul adalah memohon datangnya kebaikan atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah dengan menyebut seorang Nabi, atau wali untuk memuliakan (ikram) terhadap keduanya.

Dengan demikian tawassul dalam pemahaman pendapat yang terakhir ini tetap menjadikan Allah sebagai tujuan dikabulkannya doa, bukan berdoa kepada Nabi ataupun ulama yang disebut dalam doanya. Hasan Al-Banna berpendapat bahwa tawassul adalah bukan merupakan permasalahan aqidah melainkan tata cara berdoa, hal ini karena pada dasarnya yang menjadi pokok aqidah adalah kepada siapa ditujukannya doa. Dengan demikian, hendaknya perbedaan pendapat tentang hal ini tidak menjadikan terpecah belahnya kaum muslim, karena hal ini hanya masalah furu‟.

d. Cinta kepada orang-orang yang shalih, memberikan penghormatan kepadanya dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarrub kepada Allah SWT. Sedangkan karamah pada mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat- syarat syar'inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa

43

91

mereka tidak memiliki madharat dan manfaat bagi dirinya, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, apalagi bagi orang lain.

Para ulama memasukkan pembahasan ini dalam bagian kenabian, hal tersebut karena kesalehan dan kewalian lahir dari mengikuti ajaran para Rasul dan karamah merupakan perpanjangan dari mu‟jizat. Keyakinan seorang muslim dalam mencintai orang salih adalah karena ketaaatan dan jasa mereka dalam menyampaikan kebaikan bukan karena anggapan bahwa mereka memiliki karamah tertentu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Yunus ayat 62-63 berbunyi;

































Terjemahnya:

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Hal tersebut bukan berarti tidak mempercayai adanya karamah, dalam pandangan Hasan Al-Banna karamah tetap ada dengan syarat-syarat syar‟i yakni karamah yang didapat karena keimanan dan ketakwaan kepada Allah, sebagaimana yang dialami oleh Ashabul Kahfi. Adapun menurut Ibnu sebagimana yang dikutip Musthafa Muhammad Thahan adalah bahwa sebagian orang memang ada yang memilki karamah berupa sesuatu yang luar biasa, akan

Dokumen terkait