BAB II TINJAUN PUSTAKA
E. Kerangka Pikir
negeri nomor 39 tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa pasal 5, syarat- syarat pembentukan BUMDes di antaranya yaitu:
a. Atas inisiatif pemerintah desa dan atau masyarakat berdasarkan musyawarah warga desa.
b. Adanya potensi usaha ekonomi masyarakat.
c. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok.
d. Tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara optimal, tertama kekayaan desa.
e. Tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai aset penggerak perekonomian masyarakat desa.
f. Adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakay yang dikelola secara parsial dan kurang terakomodasi.
g. Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli desa.
Gambar 2.1 Bagang Kerangka Pikir
F. Pokus Penelitian
Yang menjadi focus penelitian dalam penelitian ini adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui badan usaha milik desa (Bumdes) dikabupaten Gowa, dengan menggunakan teori Sistem pemberdayaan ekonomi (Mardi Yatmo Hutomo 2000) dengan indicator teori (1) bantuan modal, (2) bantuan
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
SISTEM PEMBERDAYAAN EKONOMI 1. Bantuan Modal
2. Bantuan Pembangunan Prasarana 3. Bantuan Pendampingan
4. Penguatan Kelembagaan (Mardi Yatmo Hutomo 2000)
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Desa Rappoala Kecamatan Tompobulu Kabupaten
Gowa
pembangunan prasarana, (3) bantuan pendampingan, (4) penguatan kelembagaan, (5) penguatan kemitraan usaha.
G. Deskripsi Pokus Penelitian
1. Bantuan Modal, Salah satu aspek yang dihadapi masyarakat adalah permodalan. Lambannya akumulasi kapital dikalangan pengusaha mikro kecil dan menengah merupakan salah satu penyebab lambannya laju perkembangan usaha dan rendahnya surplus usaha di sektor usaha kecil dan menengah.
Faktor modal juga menjadi salah satu sebab tidak munculnya usaha-usaha baru di luar sektor ekstraktif. Oleh sebab itu salah, kalau dalam pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi pemecahan dalam aspek modal ini penting dan harus dilakukan.
2. Bantuan Pembangunan Prasarana, Usaha mendorong produktivitas dan mendorong tumbuhnya usaha, tdak akan memiliki arti penting bagi masyarakat kalau hasil produksinya tidak dapat di pasarkan, atau kalaupun dapat dijual tetapi dengan harga yang amat rendah. Oleh sebab itu komponen penting dalam usaha pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi adalah pembangunan prasarana produksi dan pemasaran. Tersedianya prasarana dan atau transportasi dari lokasi produksi ke pasar, akan mengurangi rantai pemasaran dan pada akhirnya akan meningkatkan penerimaan petani dan pengusaha mikro pengusaha kecil dan pengusaha menengah. Artinya dari sisi pemberdayaan ekonomi maka proyek pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal memang strategis.
3. Bantuan Pendampingan, Pendampingan masyarakat tunadaya memang perlu dan penting, tugas utama pendamping ialah memfasilitasi proses belajar atau refleksi dan menjadi mediator untuk penguatan kemitraan baik antara usaha mikro, usaha kecil, maupun usaha menengah dengan usaha besar.
4. Penguatan Kelembagaan
Pemberdayaan ekonomi pada masyarakat yang lemah pada mulanya dilakukan dengan pendekatan individual. Pendekatan individual ini tidak memberikan dampak yang memuaskan. Oleh sebab itu semenjak tahun 80-an pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kelompok. Alasannya adalah akumulasi kapital akan sulit dicapai oleh kalangan orang miskin, oleh karena itu akumulasi kapital harus dilakukan bersamabersama dalam wadah kelompok atau usaha bersama. Demikian pula dengan masalah distribusi orang miskin mustahil dapat mengendalikan distribusi hasil produksi dan input produksi secara melalui kelompok mereka dapat membangun kekuatan untuk ikut menentukan distribusi.
5. Penguatan Kemitraan Usaha, Penguatan ekonomi rakyat atau pemberdayaan masyarakat dalam ekonomi, tidak berarti menganalisa pengusaha besar atau kelompok ekonomi kuat. Karena pemberdayaan memang bukan menegasikan yang lain, tetapi give power to everybody pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi adalah penguatan bersama, dimana yang besar hanya berkembang kalau ada yang kecil dan menengah, dan yang kecil akan berkembang kalau ada yang besar dan menengah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 03 Mei sampai tanggal 06 Juni 2022 di Desa Rappoala Kab. Gowa pertimbangan memilih lokasi tersebut karena data ataupun dokumen-dokumen sesuai dengan Pelaksanaan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Rappoala Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa.
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif, peneliti membiarkan permasalahan-permasalah muncul dari data dan dibiarkan terbuka untuk interprestasi. Kemudian data dihimpun dengan pengamatan yang seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai catatan- catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen.
Tipe penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif yang memberikan gambaran tentang peroses pelaksanaan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di di Desa Rappoala Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa Penelitian ini akan lebih menekankan data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan informan dalam rangka mengetahui analisis dari kebijakan tersebut.
31
C. Sumber Data
Sumber data merupakan subyek dari data yang diperoleh. Apabila peneliti menggunakan teknik wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden. Apabila peneliti menggunakan teknik dokumentasi, maka catatan data yang diperoleh menjadi sumber data.
1. Sumber data primer, yaitu data yang diperoleh peneliti langsung darisumber pertamanya. Dengan kata lain, data perimer adalah data yang akurat yang diperoleh secara langsung melalui hasili interview kepada responden yang dijadikan sebagai subyek penelitian
2. Sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh peneliti sebagai penunjang dari data pertama. Dapat dikatan bahwa data yang diperoleh dari jurnal-jurnal, buku, dokumen, artikel, dan sumber lainnya yang berkaita dengan objek penelitian yakni Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Rappoala Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa
D. Informan Penelitian
Teknik pengumpulan informan menggunakan teknik Purposive yang sejak awal informan telah ditentukan karena sesuai dengan topik penelitian.
Adapun jumlah informan dalam penelitian ini adalah 1. Dinas Pemberdayan Masyarakat dan Desa
2. Pendamping Bumdes 3. Aparat desa Rappoala 4. Masyarakat Rappoala
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Wawancara yaitu melakukan kegiatan tanya jawab oleh penulis kepada informan penelitian yang berhubungan dengan pelaksanaan inovasi kupas tas dalam pelayanan disabilitas di kantor dinas kependudukan dan catatan sipil kota Makassar.
2. Observasi
Secara langsung mengamati sehingga terjadi interaksi dengan subjek penelitian kemudian peneliti mencatat apa saja yang didadap dilokasi penelitian untuk memberikan gambaran secara utuh objek yang akan diteliti.
3. Dokumentasi
Memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yag diwawancarai. Peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diporoleh data yang dianggap kredibel.
G. Keabsahan Data
Data yang telah berhasil digali, dikumpulkan, dan dicatat dalam kegiatan penelitian harus dipastikan ketepatan dan kebenarannya. Oleh karena itusetiap peneliti harus bisa memilih dan menentukan cara-cara yang tepat untuk
mengembangkan validitas yang diperoleh. Pengembangan validitas yang digunakan peneliti adalah teknik triangulasi.Triangulangi dalam menguji kredibilitas sebagai pengecekan data dari sumber, teknik, dan waktu.
Triangulasi dibagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut :
1. Triangulasi sumber, menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber
2. Triangulasi teknik, menguji kredibilitas data dilakukan dengan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda
3. Triangulasi waktu, waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data, pengambilan data harus disesuaikan dengan kondisi narasumber.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan triangulasi sumber, dengan arti peneliti membandingkan informasi yang diperoleh dari satu sumber dengan sumber yang lain. Menggali suatu sumber yang sama dengan teknik yang berbeda dan menentukan waktu yang berbeda (tempat)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Letak Geografis dan Administratif
Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 10 KM dari Ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, Kabupaten Gowa terletak pada 5°33' - 5°34' Lintang Selatan dan 120°38' - 120°33' Bujur Timur. Kabupaten Gowa terdiri dari wilayah dataran rendah dan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian antara 10-2800 meter diatas permukaan air laut. Namun demikian wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26% terutama di bagian timur hingga selatan karena merupakan Pegunungan Tinggimoncong, Pegunungan Bawakaraeng-Lompobattang dan Pegunungan Batureppe-Cindako. Dari total luas Kabupaten Gowa 35,30%
mempunyai kemiringan tanah di atas 40 derajat, yaitu pada wilayah Kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya dan Tompobulu. Kabupaten Gowa dilalui oleh banyak sungai yang cukup besar yaitu ada 15 sungai.
Sungai dengan luas daerah aliran yang terbesar adalah Sungai Jeneberang yaitu seluas 881 KM² dengan panjang sungai utama 90 KM.
Batas administrasi Kabupaten Gowa: sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto, sebelah barat
berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Takalar, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Bantaeng.
Luas wilayah Kabupaten Gowa sekitar 1.883,33 KM² atau sekitar 3,01% dari luas wilayah Sulawesi Selatan, terbagi dalam 18 kecamatan yang meliputi 167 desa/kelurahan. Dari 18 kecamatan di Kabupaten Gowa dibagi menjadi 2 golongan kecamatan berdasarkan sebagian besar wilayah, yaitu kecamatan dataran rendah dan kecamatan dataran tinggi. Luas kecamatan bervariasi dengan tingkat kelerengan daerah yang bervariasi dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Terdapat 9 kecamatan yang terletak di dataran rendah dan 9 kecamatan di dataran tinggi. Ibu kota Kabupaten Gowa adalah Sungguminasa, yang meliputi seluruh wilayah Kecamatan Somba Opu, sebagian Kecamatan Pallangga, dan 2 Kelurahan di wilayah Kecamatan Bontomarannu.
Disamping itu, dari 18 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Gowa, terdapat 3 kecamatan luas, yaitu Kecamatan Parang Loe dengan luas 221,26 KM² atau 11,75% dari luas Kabupaten Gowa, Kecamatan Tombolo Pao dengan luas 251,82 KM² atau 13,37% dari luas Kabupaten Gowa dan Kecamatan Biringbulu yang mempunyai luas 218,84 KM² atau 11,26% dari luas Kabupaten Gowa secara keseluruhan. Berikut tabel mengenai luas daerah dan pembagian daerah administratif di Kabupaten Gowa.
2. Penduduk dan Ketenagakerjaan
Disamping itu, dari 18 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Gowa, terdapat 3 kecamatan luas, yaitu Kecamatan Parang Loe dengan luas 221,26 KM² atau 11,75% dari luas Kabupaten Gowa, Kecamatan Tombolo Pao dengan luas 251,82 KM² atau 13,37% dari luas Kabupaten Gowa dan Kecamatan Biringbulu yang mempunyai luas 218,84 KM² atau 11,26% dari luas Kabupaten Gowa secara keseluruhan.
Dilihat dari jumlah penduduknya, Kabupaten Gowa termasuk kabupaten terbesar ketiga di Sulawesi Selatan Setelah Kota Makassar dan Kabupaten Bone. Berdasarkan hasil Sensus penduduk pada tahun 2010, penduduk Kabupaten Gowa tercatat sebesar 652.941 jiwa. Pada tahun 2011 bertambah 659.513 jiwa atau sebesar 5,45%.Sedangkan untuk jumlah penduduk Kabupaten Gowa berdasarkan struktur umur tahun 2011, kelompok umur 5-9 tahun yang terbanyak dengan jumlah 69.707 jiwa dan kelompok umur 60-64 tahun terkecil dengan jumlah 7.605 jiwa.
Jumlah penduduk menurut angkatan kerja di Kabupaten Gowa pada tahun 2011 berjumlah 298.089 jiwa yang terdiri dari laki-laki berjumlah 188.640 jiwa dan perempuan dengan jumlah 109.449 jiwa. Dari seluruh angkatan kerja yang berjumlah 298.089 jiwa, terdapat 178.012 jiwa laki-laki yang bekerja dan 10.628 jiwa laki-laki yang mencari pekerjaan. Sedangkan jumlah seluruh penduduk perempuan yang bekerja adalah sebanyak 99.048 jiwa dan
yang mencari pekerjaan sebanyak 10.401 jiwa.Dilihat dari lapangan usaha, sebagian besar penduduk Kabupaten Gowa bekerja di sektor pertanian, yaitu berjumlah 62,460 jiwa laki-laki dan 21.453 perempuan.
3. Gambaran Umum Desa
Peraturan Daerah Kabupaten Gowa No. 6 Tahun 2014 tentang pedoman pembentukan dan penguatan Badan Usaha Milik Desa, menyebutkan bahwa Badan Usaha Milik Desa yang selanjutnya disingkat BUMDesa adalah usaha desa yang dbentuk atau didirikan oleh pemerintah desa yang kepemilikan modal dan pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Duampanuae didirikan pada tanggal 4 Januari 2016 dan mulai aktif pada tahun 2017. Dana awal yang 42 disediakan pada tahun 2017 sebanyak Rp 88.677.472 dan pada tahun 2019 BUMDesa Duampanuae kembali menerima suntikan modal sebesar Rp. 180.000.000.
4. Visi misi Visi:
Bumdes “Tombolo Batara Rappoala” adalah mewujudkan kesejahteaan masyarakaat Desa Rappoala melalui pengembangan usaha ekonomi dan pelayanan social.
Misi:
a. Menciptakan lapangan pekerjaan b. Memberikan pelayanan yang maksimal c. Menggali potensi desa untuk didayagunakan
d. Membuka pola wirausaha masyarakat.
5. Profil Bumdes Desa
6. Tugas pokok dan wewenang masing-masing bagian pada struktur manajemen BUMDes.
1. Dewan komisaris Tugas pokok
Ilham Musdes
Syamsual, ST
Manajer unit Industri Kecil dan Rumah
Tangga
Hj. Rosmina, S.
pDI Musdalifah Syamsuddin
Mutia
Rahman Riswan Wahyuni M, S.
Kep
Manajer Hasil Pertanian dan
Saprodi Darwis Manajer Unit
Penyaluran Sembako Nurhidayah Manajer Unit Biro
Jasa Sarimma
Pengawas, pengkoordinir dan penasehat operasionalisasi BUMDes.
Keputusan penting yang terjadi di dalam BUMDes.
Pengamat yang selalu mencari peluang baru yang dapat dimanfaatkan BUMDes.
Disseminator yang membagikan informasi penting untuk memajukan BUMDes.
Negosiator yang melakukan perundingan dengan pihak ketiga.
Pemberi tugas kepada manajer-manajer unit dan penyusun rencana usaha BUMDes.
Penyusun standar kinerja BUMDesa 2. Direktur BUMDes
Tugas Pokok:
Melaksanaan pengelolaan BUMDes.
Mengembangkan BUMDes dengan memberdayakan sumber daya dan potensi desa.
Membangun kemitraan dengan lembaga desa lain.
Menyusun rencana kerja dan rencana anggaran tahunan bersama pemerintah desa.
Menyampaikan laporan pertanggungjawaban setiap akhir tahun.
Wewenang:
Mendayagunakan sumber daya dan potensi desa guna meningkatkan kinerja BUMDes.
Mengangkat dan memberhentikan pegawai BUMDes.
Melakukan kerja sama dengan lembaga desa dan pihak ketiga lainnya.
Mewakili BUMDes di dalam dan di luar pengadilan.
3. Sekretaris Tugas Pokok:
Mengelola data dan informasi BUMDes sebagai basis perencanaan.
Melaksanakan kegiatan teknis kemitraan dan kerjasama dengan lembaga desa dan pihak ketiga lainnya.
Menyusun rencana kerja dan rencana anggaran tahunan.
Menyusun laporan pertanggungjawaban setiap akhir tahun.
Wewenang:
Mendayagunakan sumber daya manusia BUMDes.
Mendayagunakan sumber daya data dan informasi desa.
Melakukan kerja sama dengan lembaga desa dan pihak ketiga lainnya.
Mewakili Ketua Pelaksana Operasional pada saat Ketua Pelaksana Operasional berhalangan.
4. Bendahara Tugas pokok:
Mengelola administrasi dan keuangan sebagai basis perencanaan.
Mengelola aset dan perbendaharaan BUMDes.
Menyusun rencana anggaran bulanan dan tahunan.
Menyusun laporan pertanggungjawaban keuangan setiap akhir tahun.
Wewenang:
Mendayagunakan aset dan perbendaharaan BUMDes.
Mendayagunakan sumber daya data dan informasi keuangan.
5. Manajer operasional Tugas Pokok:
Melakukan pengelolaan unit usaha.
Mengelola sumber daya yang dimiliki dalam lingkup unit usaha yang dikelola.
Menyusun rencana kerja bulanan dan tahunan.
Menyusun laporan pertanggungjawaban operasional setiap akhir tahun.
Wewenang:
Mendayagunakan sumber daya di tiap unit usaha guna meningkatkan kinerja BUMDes.
Mendayagunakan sumber daya data dan informasi operasional.
6. Karyawan
Pelaksana tugas harian yang langsung berhubungan dengan konsumen.
Bertanggung jawab terhadap Manajer Unit serta membantu dalam melayani konsumen, pengecekan.
B. Pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Secara umum sistem pemberdayaan ekonomi menurut (Mardi Yatmo Hutomo 2000) meliputi:
1. Bantuan Modal
Salah satu aspek yang dihadapi masyarakat tuna daya adalah permodalan.
Lambannya akumulasi kapital dikalangan pengusaha mikro kecil dan menengah merupakan salah satu penyebab lambannya laju perkembangan usaha dan
rendahnya surplus usaha di sektor usaha kecil dan menengah. Faktor modal juga menjadi salah satu sebab tidak munculnya usaha-usaha baru di luar sektor ekstraktif. Oleh sebab itu salah, kalau dalam pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi pemecahan dalam aspek modal ini penting dan harus dilakukan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Rappoala di Kantor Desa terkait aspek pemberian modal yaitu :
“memang ada anggaran sebesar 120 juta yang di berikan ke Bumdes untuk pengembangan pengelolaan markisa menjadi sirup dan juga Sesuai dengan tujuan dan visi misi Bumdes Tombolo Batara Rappoala maka kebijakannya lebih kepada penekanan regulasi ekonomi masyarakat jadi masyarakatnya yang utama untuk kita kembangkan untuk diberdayakan agar menjadi masyarakat mandiri. Untuk pembuatan program kerja kami melakukan pratinjau sebelumnnya karena kita pahami Bumdes Tombolo Batara Rappoala ini minim untuk bidang perbengkelan dan masyarakatnya mayoritas bertani maka kami inisiatifkan untuk mengangkat program kerja perbengkelan dan penggemukan sapi, jadi masyarakat disini mudah terfasilitasi untuk perbengkelan tidak mesti untuk keluar desa untuk servis kendaraan. Dalam menjalankan unit-unit usaha Bumdes Tombolo Batara Rappoala. Kami melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai program kerja yang akan dijalankan tersebut setelah itu kami lakukan pendataan bagi masyarakat khusus masyarakat kurang mampu untuk kami berdayakan dalam unit usaha penggemukan sapi. Kami informasikan sebelumnya pada masyarakat bahwa untuk unit usaha penggemukan sapi yang kami prioritaskan adalah masyarakat yang kurang mampu dan bagi masyarakat yang berpotensi dibidang perbengkelan kami buka peluang jasa kerja bagi masyarakat yang pengalaman dibidang itu”.(Hasil wawancara HA,09 Mei 2022) Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dan visi misi Bumdes Tombolo Batara Rappoala maka kebijakannya lebih kepada penekanan regulasi ekonomi masyarakat jadi masyarakatnya yang utama untuk kita kembangkan untuk diberdayakan agar
menjadi masyarakat mandiri. Untuk pembuatan program kerja kami melakukan pratinjau sebelumnnya karena kita pahami Bumdes Tombolo Batara Rappoala ini minim untuk bidang perbengkelan dan masyarakatnya mayoritas bertani maka kami inisiatifkan untuk mengangkat program kerja perbengkelan dan penggemukan sapi, jadi masyarakat disini mudah terfasilitasi untuk perbengkelan tidak mesti untuk keluar desa untuk servis kendaraan. Dalam menjalankan unit- unit usaha Bumdes Tombolo Batara Rappoala. Kami melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai program kerja yang akan dijalankan tersebut setelah itu kami lakukan pendataan bagi masyarakat khusus masyarakat kurang mampu untuk kami berdayakan dalam unit usaha penggemukan sapi. Kami informasikan sebelumnya pada masyarakat bahwa untuk unit usaha penggemukan sapi yang kami prioritaskan adalah masyarakat yang kurang mampu dan bagi masyarakat yang berpotensi dibidang perbengkelan kami buka peluang jasa kerja bagi masyarakat yang pengalaman dibidang itu.
Selanjutnya Berdasarkan hasil wawancara direktur Bumdes Tombolo Batara Rappoala terkait pemberian modal yaitu :
“ini telah diatur pada Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/ART) Bumdes Tombolo Batara Rappoala memang kita beri modal awal untuk mengembangkan . Besarannya sekitar 25% dari SHU”. (Hasil wawancara PS, 10 Mei 2022)
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas telah diatur pada Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/ART) Bumdes Tombolo Batara Rappoala memang kita beri modal awal untuk mengembangkan . Besarannya sekitar 25%
dari SHU dapat disimpulkan bahwa telah diatur pada Anggaran Dasar Rumah
Tangga (AD/ART) Bumdes Tombolo Batara Rappoala memang kita beri modal awal untuk mengembangkan . Besarannya sekitar 25% dari SHU.
Selanjutnya Berdasarkan hasil wawancara dengan manajer unit industry kecil dan rumah tangga direktur Bumdes Tombolo Batara Rappoala:
“Yah seperti yang diketahui masyarakat bahwa sistem bagi hasil yang dilakukan oleh Tombolo Batara Rappoala tentunya tidak terlepas dari AD/ART BUMDes Tombolo Batara Rappoala Jadi kita tidak mengganggu sistematis atau pengelolaan dana BUMDes, pemerintah desa tidak mencampuri. Jadi ada beberapa ketetapan persen dari BUMDes untuk memasukkan PAD ke desa.”. (Hasil wawancara MFA, 11 Mei 2022).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat bahwa sistem bagi hasil yang dilakukan oleh Tombolo Batara Rappoala tentunya tidak terlepas dari AD/ART BUMDes Tombolo Batara Rappoala. Jadi kita tidak mengganggu sistematis atau pengelolaan dana BUMDes, pemerintah desa tidak mencampuri. Jadi ada beberapa ketetapan persen dari BUMDes untuk memasukkan PAD ke desa.
Selanjutnya Berdasarkan hasil wawancara dengan manajer unit biro jasa bumdes Tombolo Batara Rappoala yaitu :
“Tujuan awal berdirinya BUMDes Tombolo Batara Rappoala yaitu meningkatkan perekonomian Desa Rappoala, meningkatkan pendapatan asli desa, meningkatkan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa Rappoala”.(Hasil wawancara ANH, 13 Mei 2022).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat disimpulkan bahwa Tujuan awal berdirinya BUMDes Tombolo Batara Rappoala yaitu
meningkatkan perekonomian desa Rappoala, meningkatkan pendapatan asli desa, meningkatkan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa Rappoala
Selanjutnya Berdasarkan hasil wawancara dengan Masyarakat desa Rappoala mengatakan bahwa yaitu :
“Tahun 2017-2019 terjadi peningkatan 2019-2020 terjadi penurunan karena adanya pandemi covid 19 yang membuat hampir gugur mengenai persoalan pandemi ini. Sikap yang diambil oleh pemerintah desa yaitu membantu mengelola BUMDes dengan mengalihkan dana dari asupan ADD, dan juga adanya aturan dari Pemerintah Pusat untuk bekerja dirumah sehingga menghambat proses usaha yang di jalankan. Contohnya Pembuatan Paving Blok”.(Hasil wawancara SR, 16 Mei 2022)
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat dismpulkan bahwa Tahun 2017-2019 terjadi peningkatan 2019-2020 terjadi penurunan karena adanya pandemi covid 19 yang membuat hampir gugur mengenai persoalan pandemi ini. Sikap yang diambil oleh pemerintah desa yaitu membantu mengelola BUMDes dengan mengalihkan dana dari asupan ADD, dan juga adanya aturan dari Pemerintah Pusat untuk bekerja dirumah sehingga menghambat proses usaha yang di jalankan. Contohnya Pembuatan Paving Blok.
Selanjutnya Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat desa Rappoala yaitu :
“Jadi awalnya pendapatan keuntungan yang dihasilkan oleh BUMDes begitu besar yaitu pernah mencapai 1 milyar. Namun pada saat kondisi memasuki pandemi dua tahun yaitu tahun 2019-2020 mengalami penurunan karena banyaknya unit-unit usaha yang mengalami sedikit pemesanan seperti usaha Paving blok, dan unit usaha lainnya.
Alhamduillah berkat kerja keras dari pemikiran-pemikiran Pemerintah Desa dan Pengelola BUMDes serta Masyarakat situasi dengan adanya