ميحرلا نمحرلا هللا مسب
F. Kerangka Teori
18
dalam mengkaji tentang difabel sebagai objek kajiannya.
Kemudian, perbedaannya yakni riset yang ditelitinya itu membahas tentang difabel menurut teori hermeneutika. Meski demikian, tesis Lukman Fajariyah memberikan sumbangsih kepada penulis tentang tema terhadap difabel dalam pandangan Al-Qur’an.32
Dari berbagai literatur yang telah penulis telusuri, maka akhirnya dapat dikatakan bahwa tidak ada satu pun karya ilmiah yang membahas sama persis sebagaimana penelitian yang akan penulis lakukan dalam tesis ini.
Oleh karena itu, bahasan yang akan penulis akan kaji nantinya diharapkan akan berguna untuk melengkapi adanya celah diskusi yang masih kosong guna memperkaya khazanah keilmuan tafsir.
19
3. Menganalisis maqāşid ‘āmmah (tujuan umun) terhadap tema umum difabel dalam Al-Qur’an.
4. Menganalisis maqāşid khāşşah (tujuan khusus) dari tiap-tiap ayat difabel, di antaranya dapat meliputi: maqāşid surah, maqāşid ayat, maupun maqāşid lafaz dan huruf dalam Al-Qur’an.
5. Mencari kontekstualisasi guna menemukan keadilan makna difabel dalam Al-Qur’an.
Dalam memahami maqāşid yang terkandung pada ayat-ayat difabel, penulis mengawalinya dengan analisis maqāşid ‘āmmah (tujuan umun) terhadap tema umum difabel dalam Al-Qur’an. Adapun maqāşid ‘āmmah ini ialah tujuan-tujuan yang muncul dalam ayat Al-Qur’an itu sendiri dan diungkapkan oleh mayoritas mufasir. Kemudian, langkah selanjutnya yakni menganalisis maqāşid khāşşah (tujuan khusus) dari tiap-tiap ayat difabel yang bahkan dimungkinkan untuk membahas tema, surah, suatu ayat, maupun lafaz tertentu beserta penjelasan maksudnya. Hingga akhirnya, analisis terakhir yang dilakukan ialah mencari kontekstualisasi guna menemukan keadilan makna difabel dalam Al-Qur’an.34
Sementara terkait analisis maqāşid lafaz ini, penulis juga akan menggunakan perangkat teori lain sebagai pendekatan semantik Al- Qur’an. Sehingga, adanya pendekatan semantik yang dipilih penulis ialah meminjam menurut teori yang dikreasikan oleh Toshihiko Izutsu (w. 1993 M) dalam menelaah pergeseran makna difabel dari fisik ke nonfisiknya.
Dapat dikatakan, hadirnya pendekatan semantik tersebut ditujukan untuk membuktikan persepsi masyarakat yang kerap kali memahami bahwa Al- Qur’an selalu bercerita mengenai kecacatan seseorang hanya secara fisiknya yang haqīqī (sebenarnya). Namun kenyataannya, justru Al-Qur’an
34 Waşfī ‘Āsyūr Abū Zaid, Metode Tafsir Maqāşidī, terj. Ulya Fikriyati, h. 20-21
20
jauh lebih banyak menyebutnya sebagai bentuk majāz (kiasan) daripada secara haqīqī yang telah Al-Qur’an sebut pada beberapa terma-nya seperti lafaz
ٌ يْمُع
,ٌ مْكُب, ٌ مُص,
danءاَهَفُس.
Namun, dikarenakan adanya pendekatan teori semantik yang digunakan itu hanya bersifat tambahan dan bukanlah primer, maka penulis mengambil beberapa komponen yang diperlukan saja. Dengan kata lain, hadirnya rangkaian dari teori Toshihiko Izutsu tersebut akhirnya kelak akan membentuk weltanschauung (pandangan dunia)35 umat Islam mengenai persepsi wacana difabel itu sendiri. Dengan demikian, adanya penerapan metode tafsīr maqāşidī Waşfī ‘Āsyūr Abū Zaid dan beberapa pendekatan dari teori semantik Al-Qur’an Toshihiko Izutsu tersebut, akhirnya penulis merasa penting untuk menggunakan berbagai langkah- langkah metodologi di atas untuk mengetahui kandungan maqāşidī dari ayat-ayat tentang difabel.
G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Adapun jenis yang akan digunakan pada penelitian ini adalah Library Research (penelitian kepustakaan) yang bersifat kualitatif. Di mana objek penelitiannya, di antaranya meliputi berbagai literatur seperti; buku, karya ilmiah seperti disertasi, tesis, jurnal, dan artikel
35 Toshihiko Izutsu –sebagaimana yang diterjemahkan oleh Agus Fahri Husein, dkk–
menyatakan bahwa weltanschauung merupakan suatu pandangan dunia (worldview) dari komunitas masyarakat yang telah menggunakan bahasa itu, dan hal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat berpikir maupun berbicara, melainkan juga terdapat yang lebih pentingnya yakni pada saat pengkonsepan dan penafsiran dunia terhadap apa yang meliputinya. Lihat Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, terj. Agus Fahri Husein, dkk, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1997), h. 3
21
yang dapat mendukung dari tema yang masih berhubungan dengan diskursus difabel dalam Al-Qur’an.
2. Sumber Data
Kemudian, sumber data yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dua macam, yakni data primer36 dan data sekunder37. Dikarenakan penelitian yang akan penulis lakukan ini cenderung pada pembahasan kontemporer, maka penulis membatasi sumber data primernya hanya pada kitab tafsir menurut periode modern-kontemporer. Adapun alasan penulis dalam menggunakan kedua model tafsir tersebut tujuannya ialah agar keduanya bisa saling melengkapi untuk menemukan sisi maqāşid Al-Qur’ān. Adapun kitab tafsir yang mewakili pada periode modern-kontemporer, di antaranya yaitu (1) Fī Zilāl Al-Qur’ān karya Sayyid Quţb (w. 1386 H), dan (2) Tafsīr at-Taḥrīr wa at-Tanwīr karya Muḥammad aţ-Ţāhir ibn ‘Āsyūr (w. 1393 H).
Sementara alasan penulis dalam memilih kitab Fī Zilāl Al-Qur’ān sebagai sumber kitab tafsir dari periode modern karena penafsiran yang ditulis oleh Sayyid Quţb begitu tinggi bahasa sastranya yang nantinya mampu membangkitkan nurani iman bagi orang-orang yang membacanya. Dapat dikatakan, bahwa tafsir Fī Zilāl Al-Qur’ān ialah
36 Data primer ialah kumpulan data-data yang berasal dari karya sang tokoh yang dikaji, terkhusus bagi yang terkait dengan teori tokoh tersebut. Lihat Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, (Yogyakarta: Idea Press, 2018), Cet. ke-4, h. 52
37 Data sekunder ialah kumpulan data-data yang berasal dari buku-buku, kitab maupun artikel yang masih berkaitan dengan pemikiran tokoh yang akan dikaji. Di mana hal tersebut berasal dari hasil penafsiran dari orang lain, maupun buku-buku yang masih berhubungan dengan objek penelitian tersebut yang tentunya diharapkan mampu untuk digunakan dalam proses menganalisis dalam kajian permasalahan tersebut. Lihat Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, h. 52
22
karya yang banyak dikenal pada abad tersebut yang dihasilkan berkat interaksinya yang sangat mendalam terhadap Al-Qur’an.38
Sedangkan dipilihnya kitab Tafsīr at-Taḥrīr wa at-Tanwīr sebagai sumber kitab tafsir dari periode kontemporer, dikarenakan penafsiran yang dilakukan oleh Ibnu ‘Āsyūr selalu berpatokan pada rumusan tafsir maqāşidī. Sehingga, apa yang tafsirkan selalu ditujukan untuk mengungkap hikmah dan makna Al-Qur’an sebagai bentuk penghubung makna dengan kenyataan.39
Di sisi lain, penulis akan menggunakan sumber data sekunder dalam penelitian ini, di antaranya yakni: Naḥwa Tafsīr Maqāşidī li Al- Qur’ān al-Karīm Ru’yah Ta’sīsiyyah li Manhaj Jadīd fī Tafsīr Al- Qur’ān dan Metode Tafsir Maqāşidī karya Waşfī ‘Āsyūr Abū Zaid; dan Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an karya Toshihiko Izutsu. Sementara, penulis pun memerlukan banyak sumber, seperti kitab-kitab tafsir lain yang bercorak maqāşid, rujukan buku-buku maqāşid Al-Qur’ān, literatur lainnya yang berhubungan dengan tema penelitian, juga karya-karya ilmiah seperti jurnal, skripsi, tesis, disertasi, serta artikel, sehingga mendukung pemahaman terhadap bahasan penelitian.
3. Teknik Pengumpulan Data
Melalui penelitian ini, penulis menggunakan teknik dokumentatif sebagai teknik pengumpulan data. Di mana maksudnya ialah suatu proses dalam mencari dan mengumpulkan berbagai data yang berkaitan dengan sebuah penelitian. Sedangkan cara yang penulis lakukan adalah dengan melalui penelusuran kepustakaan. Selanjutnya, penulis akan
38 Sayyid Quţb, Tafsir Fi Zilalil Al-Qur’an: Di Bawah Naungan Al-Qur’an, terj.
As'ad Yasin, dkk, Jilid 10, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), Cet. 1, h. 6
39 Kusmana, “Epistemologi Tafsir Maqāşidī”, dalam Jurnal Mutawatir, Vol. 6 No. 2 Desember 2016, h. 223-225
23
menelaah dan mengkaji penelitian tersebut dari berbagai tulisan buku, baik melalui dari kitab tafsir sebagai rujukan utama dan beberapa buku lainnya yang memiliki hubungan dengan pembahasan dalam penelitian ini.
4. Metode Analisis Data
Adapun metode yang penulis akan lakukan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Di mana dalam metode tersebut akan digunakan penulis dalam menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an mengenai pembahasan yang fokus objek kajiannya mengarah terhadap difabel yang secara fisik dan nonfisik.
Sementara, adanya metode tafsīr maqāşidī Waşfī ‘Āsyūr Abū Zaid dan beberapa pendekatan dari teori semantik Toshihiko Izutsu yang digunakan pada penelitian ini, penulis akan menerangkan mengenai maqāşid Al-Qur’an yang berkaitan dengan topik penelitian sebagai upaya untuk merealisasikan kemaslahatan manusia.40 Dengan begitu, penulis juga memaparkan tentang makna dasar41 dan makna relasional42 dari terma-terma difabel yang dikaji, sehingga akhirnya kelak dapat mengungkapkan weltanschauung (pandangan dunia) terhadap tema difabel yang sejatinya itu adalah salah satu maqāşid
40 Waşfī ‘Āsyūr Abū Zaid, Metode Tafsir Maqāşidī, terj. Ulya Fikriyati, h. 20
41 Makna dasar merupakan makna yang berada pada kata tersebut sendiri, dan yang senantiasa dibawa ke mana pun kata itu diletakkan. Lihat Ahmad Sahidah, God, Man and Nature: Perspektif Toshihiko Izutsu tentang Relasi Tuhan, Manusia, dan Alam dalam Al- Qur’an, (Yogyakarta: IRCiSod, 2018), Cet. ke-1, h. 201
42 Makna relasional yakni makna yang mengandung konotasi yang disertakan pada makna yang telah ada dengan menempatkan kata tersebut dalam konteks khusus pada kaitan yang berbeda dengan seluruh kata penting lainnya. Dengan adanya makna dasar dan makna relasional tersebut, akhirnya akan menjadi satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan.
Kendati pada realitasnya juga banyak ditemukan makna kaitan yang telah menggantikan kedudukan dari makna dasar, hal ini disebabkan hadirnya makna kaitan sendiri telah dapat berubah menjadi makna hakiki dari sebuah kata. Lihat Ahmad Sahidah, God, Man and Nature:
Perspektif Toshihiko Izutsu tentang Relasi Tuhan, Manusia, dan Alam dalam Al-Qur’an, h.
201
24
yang ingin dicapai Al-Qur’an dalam memandang bentuk kesetaraan manusia.
Oleh karena itu dalam proses menganalisis serta mengkritisi penafsiran tersebut, penulis menggunakan penerapan teori metode tafsīr maqāşidī yang digunakan oleh Waşfī ‘Āsyūr Abū Zaid dalam Naḥwa Tafsīr Maqāşidī li Al-Qur’ān al-Karīm Ru’yah Ta’sīsiyyah li Manhaj Jadīd fī Tafsīr Al-Qur’ān.