• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D.. Kerangka Teori

Dalam dunia pendidikan, reward diberikan ketika seorang anak telah berhasil mencapai sebuah tahap perkembangan tertentu, achievement yang bagus, atau tercapainya sebuah target. Sebaliknya, punishment biasanya dilakukan ketika apa yang menjadi target-target tertentu tidak tercapai, atau ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diyakini oleh sekolah tersebut.

Pada umumnya jiwa anak melihat bahwa pujian guru itu sebagai sumber mendapatkan kepuasan, maka tindakan guru itu akan menjadi pendorong untuk terjadinya tingkah laku.28 Pujian dapat dilakukan dengan memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikan pada stimulus tertentu secara berkali-kali. Skinner menyebutkan hal ini dengan reinforcement (peneguhan), misalnya bila setiap anak menyebut kata yang sopan kita segera memujinya, kelak anak itu akan mencintai kata-kata yang sopan dalam komuikasinya, atau pada waktu mahasiswa membuat prestasi yang baik kita menghargainya dengan sebuah buku yang bagus, maka mahasiswa akan meningkatkan prestasinya.29

Selanjutnya menurut Amien Danien Indrakusuma, satu-satunya hukuman yang dapat diterima oleh dunia

28Samuel Soeitoe, Psikologi Pendidikan. (Jakarta: Lembaga Penerbit Universitas Indonesia, 1982), hal. 36

29Jalaluddin Rahmat,Psikologi Komunikasi, (Bandung: Rosda Karya, 1994), hal. 24

pendidikan ialah hukuman yang bersifat memperbaiki, hukuman yang bisa menyadarkan anak kepada keinsafan atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Dan dengan adanya keinsafan ini, anak akan berjanji di dalam hatinya sendiri tidak akan mengulangi kesalahannya kembali.

Hukuman yang demikian inilah yang dikehendaki oleh dunia pendidikan. Hukuman yang bersifat memperbaiki ini disebut juga hukuman yang bernilai didik atau hukuman pedagogis.30Adapun yang perlu diperbaiki ialah hubungan antara pemegang kekuaaan dan pelanggar dan sikap serta perbuatan pelanggar. Hubungan antara penguasa dengan umum yang tadinya telah menjadi rusak dengan terjadinya pelanggaran oleh orang yang bersikap dan berbuat salah itu perlu dibetulkan lagi. Rusaknya hubungan itu mengakibatkan hilangnya kepercayaan penguasa terhadap

30 Amin Danien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pengetahuan, (Malang: IKIP Malang, 1973), hal. 151

pelanggar. Fungsi hukuman dengan teori membetulkan ini korektif dan edukatif.

Dalam Islam ada istilah basyîr (berita gembira) dan nadzîr (berita ancaman) yang dianalogikan dengan penghargaan dan hukuman. Rasulullah SAW sendiri adalah seorang pemberi berita gembira dan pemberi berita ancaman (basyîra wa nadzîra). Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan. Jika yang dilakukan hanya memberi reward saja, maka seseorang akan semangat untuk melakukan sesuatu karena tujuan-tujuan jangka pendek. Jika yang dilakukan hanya aspek peringatan (hukuman) saja, maka seseorang cenderung menjadi takut dan tidak akan berkembang. Oleh karena itu, kedua-duanya, yaitureward dan punishmentharus dilakukan dengan seimbang.

Penulis dalam menganalisis penelitian menggunakan teori SWOT.31 SWOT adalah sebuah singkatan dari, S adalah Strenght atau Kekuatan, W adalah Weakness atau Kelemahan, O adalah Opportunity atau Kesempatan, dan T adalah Threat atau Ancaman. Dalam teori SWOT, analisa lingkungan dibagi menjadi 2:

1. Lingkungan Internal

a. STRENGTH (Kekuatan). Strength dalam hal ini diartikan sebagai kekuatan yang menonjol dari Reward and Punishment.

Beberapa kelebihan dari hadiah (reward):32

31 Analisa SWOT adalah sebuah analisa yang dicetuskan oleh Albert Humprey pada dasawarsa 1960-1970an. Analisis SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi.

Instrumen ini menolong para perencana apa yang bisa dicapai, dan hal- hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka.

http://www.kompasiana.com/home, diakses 12 April 2014

32 Maurice J. Elias, et. al., Cara-cara Efektif Mengasah EQ Remaja: Mengasuh dengan Cinta, Canda, dan Disiplin, terj. Ari Nilandari, (Bandung: Khaifa’, 2003), hal. 58

1) Sebagai suatu dukungan bagi apa yang telah diperbuat anak.

2) Memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progresif.

3) Menjadi pendorong bagi anak didik lainnya untuk mengikuti yang telah memperoleh pujian.

4) Reward sebagai ekspresi kasih sayang menumbuhkan kepercayaan diri pada anak.

Beberapa kelebihan dari hukuman (punishment):33 1) Menghalangi pengulangan tindakan yang tidak

diinginkan oleh masyarakat.

2) Mendidik anak untuk dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman.

33 Elizabeth Bergner Hurlock,Perkembangan anak, terj. Med.

Meitasari Tjandrasa, (Jakarta: Erlangga, 1990), hal. 90

3) Mengajar anak membedakan besar kecilnya kesalahan yang diperbuat mereka.

4) Hukuman memberikan motivasi untuk menghindari tingkah laku yang tidak diterima masyarakat.

5) Menghukum akan mengajarkan nilai-nilai dan kecakapan yang diperlukan anak agar berhasil dalam menjalani hidup.

b. WEAKNESS (Kelemahan). Kebalikan dari Strength, Weakness merupakan kekurangan atau hal-hal yang tidak / belum dimilikiReward and Punishment.

Beberapa kekurangan dari hadiah (reward):34

1) Umumnya ganjaran membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya dan lain-lain.

34 Monty P. Satia Darma, Persepsi orang Tua Membentuk Perilaku Anak: Dampak Pygmalion di dalam Keluarga, (Jakarta:

Purtaka Populer Obor, 2001), hal. 140

2) Jika kemampuan seseorang bertindak hanya demi hadiah, maka tidak akan ada kepedulian untuk berbuat dengan sungguh-sungguh.

Beberapa kekurangan dari hukuman (punishment):35 1) Hubungan antara guru dan siswa menjadi

terganggu, misalnya siswa mendendam pada guru.

2) Siswa menarik diri dari kegiatan belajar mengajar, misalnya tidak mau mendengarkan pelajaran.

3) Si pelanggar menjadi kehilangan perasaan salah, karena si pelanggar merasa telah membayar hukumannya dengan hukuman yang telah diterimanya.

4) Mengurangi keberanian anak untuk bertindak.

5) Murid akan selalu meras sempit hati, bersifat pemalas, serta akan menyebabkan ia suka berdusta (karena takut dihukum).

35 J. J. Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar, (Bandung:

Remaja Karya, 1988), hal. 59

6) Menghukum tanpa ada alasan yang masuk akal dan wajar akan menyebabkan si anak merasa tidak berharga.

2. Lingkungan Eksternal

a. OPPORTUNITY (Kesempatan). Dampak positif yang muncul dariReward and Punishment.

Beberapa dampak positif dari hadiah (reward):36 1) Menumbuhkan kepercayaan diri pada anak bahwa

ia akan mampu melakukan (bertindak).

2) Memupuk rasa suka pada perbuatan atau norma yang baik dan memperbesar semangat berbuat luhur.

3) Mempunyai nilai didik, bila suatu tindakan disetujui, anak merasa bahwa hal itu baik,reward mengisyaratkan pada mereka bahwa perilaku itu baik.

36 Ag. Soejono, Pendahuluan Ilmu Pendidikan Umum, (Bandung: CV. Ilmu, 1980), hal. 162

4) Sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial, di masa mendatang mereka berusaha untuk berperilaku dengan cara yang akan lebih banyak memberikannya penghargaan.

5) Dari hal yang menyebabkan anak didik memperoleh penghargaan, anak didik mengetahui norma-norma kehidupan yang baik.

Beberapa dampak positif dari dari hukuman (punishment):37

1) Menjadikan perbaikan-perbaikan terhadap kesalahan murid.

2) Murid tidak lagi melakukan kelahan yang sama.

3) Merasakan akibat perbuatannya sehingga ia akan menghormati dirinya.

37 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal. 133

4) Memperkuat kemauan si pelanggar untuk menjalankan kebaikan.38

5) Hukuman yang pemakaiannya dilakukan dengan tepat maka akan dapat menghentikan dengan segera tingkah laku siswa yang mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar.

b. THREAT (Ancaman). Dampak negatif dari Reward and Punishmentyang memberikan hambatan.

Beberapa dampak negatif dari hadiah (reward):39 1) Dapat mengakibatkan murid menjadi merasa

bahwa dirinya lebih tinggi dari teman-temannya.

2) Reward yang berlebihan dapat menyebabkan suatu anggapan bahwa kita menyangsikan kemampuan anak sekaligus sifat-sifat baik yang dimilikinya.

38Ngalim Purwanto,Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, hal.

176 39 Monty P. Satia Darma, Persepsi orang Tua Membentuk Perilaku Anak: Dampak Pygmalion di dalam Keluarga, hal. 140

3) Menimbulkan ketergantungan dalam bertindak, seseorang hanya akan bertindak dengan benar jika adarewarddi baliknya.40

4) Akan memupuk rasa manja dan ketidakpercayaan akan kemampuannya, sehingga anak menjadi lebih depensif menunggu apa yang akan didapatkannya.

Beberapa dampak negatif dari hukuman (punishment):41

1) Menimbulkan perasaan dendam pada si terhukum.

2) Anak menjadi lebih pandai menyembunyikan pelanggaran.

3) Siswa melakukan tidakan-tindakan agresif, misalnya merusak fasilitas sekolah

40 Maurice J. Elias, et. al., Cara-cara Efektif Mengasah EQ Remaja: Mengasuh dengan Cinta, Canda, dan Disiplin, terj. Ari Nilandari, hal. 70

41Ngalim Purwanto,Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, hal.

177

4) Membangkitkan suasana rusuh, takut, dan kurang percaya diri.

5) Suka membangkang sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikannya.

6) Mewariskan pada diri anak kebodohan dan kedunguan.

7) Mengacaukan dan menghambat jalannya pelajaran bagi murid secara keseluruhan.

8) Hilangnya rasa saling memuliakan dan menghormati antar murid dan guru.

E. Tinjauan Pustaka

Tulisan yang membicarakan Reward and Punishmentdalam pendidikan Islam yang menjadi rujukan penulis, di antaranya yaitu:

1. Abdurrahman Mas’ud dalam jurnalnya yang berjudul

“Reward and Punishment dalam Pendidikan Islam”

mengupas bahwa Reward dan Punishment pada

pendidikan Islam itu berhubungan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Punishment (khususnya hukuman fisik) pada umumnya tidak membawa dampak positif (sebaliknya membawa kenangan horor bagi siswa), penumbuhan sense of guility dengan cara edukatif dan Islami, merupakan self-discipline yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan. Disiplin diri merupakan tujuan sekaligus proses pendidikan kemandirian. Sedangkan prinsip kasih sayang yang merupakan ekspresi dari bashir dan reward memang sudah seharusnya diterapkan dalam aktivitas sehari-hari proses belajar mengajar, terlebih-lebih dewasa ini aspek materialisme sering mengalahkan prinsip-prinsip keagamaan. Ternyata Walisongo yang pengaruh pendidikan mereka terlembagakan dewasa ini dalam bentuk pesantren, juga menekankan pendidikan kasih sayang yang menjadi tujuan pendidikan Islam yaitu

terbentuknya insan kamil yang kembali pada pribadi Rasulullah yang penyayang, penuh kasih sayang dan berakhlak mulia.42

2. Ahmad Ali Budaiwi dalam bukunya yang berjudul

Imbalan dan Hukuman Pengaruhnya bagi Pendidikan Anak”. Buku ini menguraikan tentang konsep hadiah dan hukuman menurut pendidikan Islam. Prinsip hadiah dan hukuman merupakan salah satu prinsip pendidikan yang fundamental, yang diletakkan agama Islam dalam posisi yang penting. Jika tidak ada prinsip ini, tentu tidak ada bedanya antara orang yang berbuat kebaikan dan orang yang berbuat kejahatan (buruk).43 Sajian buku ini juga diikuti dengan penjelasan para ulama Islam terdahulu yang mendiskusikan masalah hadiah

42 Abdurrahman Mas’ud, Reward dan Punishment dalam Pendidikan Islam, Jurnal Media (Edisi 28, Th.VI, Nopember,1997), hal. 31

43 Ahmad Ali Budaiwi, Imbalan dan Hukuman dan Pengaruhnya bagi Pendidikan Anak, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hal. 1

dan hukuman serta aplikasinya oleh para orang tua terhadap anak dalam kegiatan pendidikan. Kemudian dijelaskan pula tentang konsep hadiah dan hukuman menurut berbagai teori psikologi.

3. Ngalim Purwanto dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis” menyebutkan beberapa perbedaan dan persamaan yang jelas antara pengertian “hukuman” dan “ganjaran” mengenai proses pendidikan.44 Kedua-duanya merupakan reaksi dari si pendidik atas perbuatan yang telah dilakukan oleh anak didik. Hukuman dijatuhkan atas perbuatan-perbuatan yang jahat atau buruk yang telah dilakukannya.

Ganjaran diberikan atas perbuatan-perbuatan atau hal- hal yang baik yang telah dilaksanakannya. Kedua- duanya merupakan alat pendidikan. Hukuman dan

44Ngalim Purwanto,Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, hal.

186

ganjaran ditimbulkan atas usaha si pendidik untuk memperbaiki kelakuan dan budi pekerti anak didiknya.

4. Muhsinnin, dalam penelitiannya tahun 2006 yang berjudul “Penerapan Hadiah Dan Hukuman Di Pendidikan Pesantren “Al-Itqon” Gugen Tlogosari, Semarang”. Penelitian ini secara lebih spesifik hanya menfokuskan pada penerapan hukuman dan hadiah di pondok pesantren “Al-Itqon” Gugen Tlogosari Semarang. Karena dilembaga pendidikan pesantren, hingga saat ini, budaya pemberian hadiah dan hukuman masih diterapkan, dan setiap pesantren memiliki variasi dalam menerapkannya.45 Dalam penerapannya hadiah berorientasi pada peningkatan motivasi, sedangkan hukuman berorientasi pada tuntunan dan perbaikan.

Adapun penulis mengangkat judul “Reward and Punishment dalam Perspektif Pendidikan Islam” adalah

45Muhsinnin,Penerapan Hadiah Dan Hukuman Di Pendidikan Pesantren “Al-Itqon” Gugen Tlogosari, Semarang, 2006, hal. 11

dengan pemikiran bahwa belum ada karya ilmiah dalam bentuk tesis yang mengangkat reward and punishment dengan pendidikan Islam secara konseptual dan kepustakaan, sebab penelitian lebih banyak ditemukan dengan pendekatan kuantitatif.46 Selain itu, penelitian tentang reward and punishment masih kebanyakan berupa artikel, jurnal dan sub bab buku yang masih umum, sehingga penulis akan lebih rinci memaparkan konsep filosofisnya yang akan dikaitkan dengan pendidikan Islam, meliputi kerangka teori reward and punishment (pengertian, syarat, bentuk), urgensi dan dampak reward

46 Pendekatan Kuantitatif, yaitu suatu penelitian yang menitik beratkan pada generalisasi data dalam bentuk jumlah dengan analisis kuantitatif secara formal dan kaku. Pendekatan ini terbagi pada inferensial, experimen dan simulasi. Inferensial bertujuan untuk membentuk data-base sehingga dapat menyimpulkan hubungan antar populasi yang ada (contohnya survey). Eksperimen bertujuan untuk mengontrol variabel yang dijadikan alat manipulasi data sehingga dapat menguji pengaruhnya pada variabel lainnya. Simulasi bertujuan membangun model-model untuk memahami kondisi-kondisi mendatang. Pendekatan ini sering dinamakan sebagai metode tradisional, positivistik (berdasarkan pada filsafat positivisme), scientific, dan metode discovery. Lihat Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 7

and punishment, serta relevansinya dalam pendidikan Islam.

F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian dasar/fundamental dan konseptual47. Penelitian dasar/fundamental adalah penelitian yang bertujuan menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.48 Disebut pencarian pengetahuan untuk pengetahuan karena ia masih menjadi tambahan pada ilmu yang telah ada

47 Penelitian yang terkait dengan ide-ide abstrak atau teori, terutama oleh para filsuf dan pemikir untuk mengembangkan atau menafsirkan sesuatu.

48Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &

D, hal. 4

2. Sumber Data

Sumber data adalah sesuatu yang sangat vital dalam sebuah karya. Sumber data sendiri bertujuan pada dua hal:49

a. Menjelaskan target faktor lapangan yang refresentatif untuk diamati

b. Untuk melihat sejauh mana kualitas input maupun proses pengolahan data yang akan dibuat dalam putusan penelitian

Adapun sumber data didapat melalui kepustakaan (Library Research) dimana seluruh data penelitian merujuk pada literatur yang berkaitan dengan objek penelitian.50 Melalui penelitian kepustakaan, penulis mencoba menelaah buku-buku untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas

49 Ipah Farihah, Buku Panduan Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), cet. ke- 1, hal. 45

50 Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta:

Rajawali Press, 1989), hal. 16

terutama untuk mendeskripsikan kajian teoritis yang telah ditetapkan.

Berdasarkan isinya, bahan pustaka atau sumber data dibagi menjadi dua: data primer dan data sekunder.

Data primer adalah gudang atau tempat penyimpan yang orisinil. Dengan kata lain, data primer adalah segala sumber yang direkam individu yang hadir pada waktu kejadian berlangsung.51Sedangkan data sekunder adalah catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang jaraknya telah jauh dari sumber orisinilnya.52

Maka dalam data primer, penulis mengkaji data kepustakaan tentang reward and punishment dalam pendidikan Islam, berupa buku-buku yang terkait dengan topik pembahasan.

51Suharsimi Arikunto,Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), cet. ke-5, hal. 337

52 Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hal. 50

Adapun data sekunder adalah data-data pendukung yang bersumber dari komentar atau karya tulis orang lain, yang berbentuk artikel, jurnal, tesis, maupun disertasi yang berkaitan dengan topik dalam kajian ini.

3. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini akan mengupas tentang konsep dan filosofis Reward and Punishment dalam Pendidikan Islam, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif induktif, psikologis, dan ilmu pendidikan.

Pendekatan deskriptif bertujuan memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu, atau gambaran tentang suatu gejala, hubungan antara dua gejala atau lebih.53 Dalam kata lain, deskriptif adalah menggambarkan suatu hal

53 Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2002), cet. ke-5, hal. 35

dengan apa adanya.54 Sedangkan pendekatan analitis berarti uraian.55 Yakni pembahasan yang memaparkan data yang telah tersusun dengan melakukan kajian dan analisa terhadap data-data tersebut. Sedangkan Ibnu Hajar secara lebih rinci menjelaskan bahwa deskriptif- analitis adalah suatu metode penelitian yang berusaha untuk mendeskripsikan fenomena yang diselidiki dengan cara melukiskan dan mengklasifikasikan fakta atau karakteristik fenomena tersebut secara faktual dan cermat. Hal ini bisa mengenai kondisi, pendapat, proses, akibat atau efek yang terjadi atau kecenderungan baik berkenaan dengan masa kini atau juga memperhitungkan peristiwa masa lampau dan pengaruhnya terhadap kondisi masa kini. Penelitian ini digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang apa atau

54 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), cet. ke-1, hal. 105

55 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, hal. 29

bagaimana keadaan sesuatu (fenomena, kejadian tersebut) dan melaporkan sebagaimana adanya. Karena sifatnya alamiah, deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji teori hingga tidak ada manipulasi perlakuan terhadap subjek maupun variabel.56

Pendekatan kualitatif induktif adalah pendekatan penelitian yang bersifat penelaahan subjektif terhadap suatu permasalahan, yang dimulai dari masalah yang khusus hingga sampai pada kesimpulan umum.

Pendekatan psikologis dapat digunakan untuk melihat kondisi kejiwaan baik pendidik maupun peserta didik.

Sedangkan pendekatan ilmu pendidikan digunakan untuk menganalisa konsep reward and punishment, kecenderungan dan relevansi pemikiran pendidikan para tokoh dengan pendidikan Islam dewasa ini.

56 Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), cet. ke-2, hal. 274. Lihat juga John W. Best, Metodologi Penelitian dan Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal. 119

Dengan tujuan agar penelitian ini juga dapat memberikan informasi terhadap khazanah keilmuan.57 4. Langkah-langkah Penelitian

Langkah-langkah yang penulis lakukan dalam pembuatan tesis ini antara lain:

a. Menentukan tema penelitian b. Merumuskan masalah penelitian

c. Melakukan studi pustaka untuk mendapatkan gambaran dan landasan teori yang tepat

d. Mengidentifikasi dan mengklarifikasi data yang sesuai dengan sistematika yang dijadikan acuan e. Melakukan analisis data dengan metode penelitian

induktif

f. Menulis laporan hasil penelitian

57 Consuelo G. Sevilla, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: UI Press, 2006), hal. 30-31

G. Sistematika Penulisan

Penulisan proposal tesis ini berpedoman pada buku

“Pedoman Akademik Program Pascasarjana Konsentrasi Ulumul Qur’an dan Hadis, Ilmu Syari’ah, dan Ilmu Tarbiyah Tahun 2011-2015” yang diterbitkan oleh Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Adapun untuk memudahkan pembahasan, penulis membagi tesis ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I: Pendahuluan, mencakup latar belakang masalah yang berisi tentang alasan penulis mengambil tema reward and punishment.

Penulis juga menyertakan pendapat para ahli secara umum tentang reward and punishment. Kemudian identifikasi masalah yang merupakan proses penyederhanaan masalah dari penulis,

pembatasan permasalahan yang akan penulis kupas dalam tesis, yang kemudian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dalam perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka yang berisi penelitian terdahulu yang terkait, dan sistematika penulisan yang merupakan runtunan jalan pikiran penulis dalam penyusunan tesis.

BAB II: Landasan Teoritis yang memaparkan tentang reward and punishment, seperti:

pengertian reward and punishment menurut bahasa dan pendapat para tokoh beserta teorinya, tujuan reward and punishment dalam pendidikan umum, syarat pemberian reward and punishment dalam pendidikan umum, bentuk

pemberian reward and punishment dalam pendidikan umum, dan nilai positif negatif reward and punishmentdalam pendidikan.

BAB III: Landasan Teoritis yang menguraikan tentang reward and punishment dalam perspektif pendidikan Islam, seperti:

gambaran umum pendidikan Islam, arti dan dasar reward and punishment dalam pendidikan Islam, tujuan dan syarat-syarat pemberian reward and punishment dalam pendidikan Islam, bentuk-bentuk reward and punishment dalam pendidikan Islam.

Selain itu juga akan dijelaskan mengenai pandangan tokoh muslim yang berkaitan tentangreward and punishment.

BAB IV: Hasil Penelitian yaitu analisis mengenai konsep reward and punishment dalam perspektif pendidikan Islam, seperti:

langkah penerapan reward and punishment berdasarkan pandangan Islam, fungsi reward and punishment berdasarkan pandangan Islam, dampak reward and punishment dalam pendidikan Islam, serta relevansi reward and punishmentdalam pendidikan Islam.

BAB V: Merupakan bab Penutup yang terdiri dari kesimpulan penulis setelah melakukan pengumpulan data dan analisis penelitian, dan saran-saran.

305 PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hasil penelitian membuktikan bahwa dalam dunia pendidikanrewarddiberikan ketika seorang anak telah berhasil mencapai sebuah tahap perkembangan tertentu, achievement yang bagus, atau tercapainya sebuah target. Sebaliknya, punishment biasanya dilakukan ketika apa yang menjadi target-target tertentu tidak tercapai, atau ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diyakini oleh sekolah tersebut. Dalam Islam ada istilah basyir (berita gembira) dan nadzir (berita ancaman) yang dianalogikan dengan penghargaan dan hukuman.

Rasulullah SAW sendiri adalah seorang pemberi berita gembira dan pemberi berita ancaman (basyira wa nadzira). Reward and punishment dalam pendidikan

Islam tidak bisa dipisahkan dari konsep tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Manusia yang bertakwa selalu menjadi salah satu kunci dalam rumusan tujuan pendidikan Islam, sehingga apabila anak didik menerima reward ataupun punishment, maka mereka diharapkan tidak hanya termotivasi secara umum saja, tetapi juga termotivasi secara rohani keagamaan untuk selalu berusaha menjadi manusia yang berakhlak baik seperti Rasulullah, dan termotivasi secara ketauhidan untuk selalu menjalankan hal positif dengan niat mencari keridhaan Allah SWT. Dan hukuman fisik dalam pendidikan Islam merupakan keadaan darurat, bukan merupakan metode yang secara rutin harus diterapkan dalam proses kependidikan. Semestinya guru tidak usah menggunakan pukulan dalam mendidik anak-anak, kecuali kalau cara yang lunak tidak mendatangkan hasil yang diharapkan.

Dokumen terkait