• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori

Dalam dokumen Baiq Sit - etheses UIN Mataram (Halaman 32-46)

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan serangkaian informasi tertulis yang relevan dengan masalah dalam penelitian yang biasanya digunakan sebagai rujukan dalam menentukan masalah dan kerangka berfikir yang diperoleh dari buku- buku, laporan hasil penelitian, karangan ilmiah, peraturan-peraturan serta ketetapan dan sumberlainnya yang memili keterkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

Teori-teori yang dibutuhkan dalam penelitian yang berjudul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Menggunakan Metode RGEC (Studi Pada Bank BNI Syariah Periode 2016-2020)” adalah sebagai berikut:

1. Perbankan Syariah

Menurut Undang-Undang No.21 Tahun 2008, Perbankan Syariah merupakan segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS), baik itu terkait kegiatan usaha, kelembagaan, serta tata cara dan prises dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Bank syariah adalah bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Dalam Pasal 1 ayat (12) Undang-Undang No.21 Tahun 2008 mengenai perbankan syariah menerangkan bahwa yang dimaksudkan sebagai prinsip syariah ialah prinsip hukum agama islam berdasarkan ketetapan yang diberlakukan oleh

lembaga yang mempunyai wewenangan untuk menetapkan fatwa atau aturan dibidang syariah.15

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1889 pasal 1 ayat 13 mengenai perbankan menerangkan bahwa apa yang dimaksudkan sebagai prinsip syariah adalah ketetapan perjanjian kerja sama berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpanan dana ataupun membiayai kegiatan usaha serta kegiatan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan aturan islam, antara lain pembiayaan menggunakan prinsip bagi hasil (Mudharabah), pembiayaan berdasarkan penyertaan modal (Musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan, atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (Ijarah), atau dengan adanya pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (Ijarah wa Istina).16

Pada tahun 1990, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai membentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank islam di Indonesia, hal ini lalu menjadi cikal bakal lahirnya perbankan syariah di Indonesia. Pada tahun 1992 lahirlah bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat.

Sistem bagi hasil yang diterapkan pada produk-produk bank Muamalat menjadikan bank tersebut relatif lebih mampu mempertahankan kinerjanya

15 Hani Werdi Apriyanti, “Perkembangan Industri Perbankan Syariah di Indonesia: Analisis Peluang dan Tantangan” MAKSIMUM, Vol. 1. No. 1. September 2017. hlm. 17

16 Agus Marimin, Abdul Haris Romdhoni, dan Tira Nur Fitria, “Perkembangan Bank Syariah di Indonesia” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol. 01. N0. 02. Juli 2015. hlm. 78.

dan tidak tergantung pada suku bunga simpanan yang melonjak, sehingga beban operasionalnya lebih rendah dari pada bank konvensional.

Ditengah krisis global yang melanda dunia pada akhir tahun 2008, lembaga keuangan syariah kembali membuktikan daya tahannya dari terpaan krisis. Lembaga keuangan syariah tetap stabil dan memberikan keuntungan bagi semua pihak, hal ini dibuktikan dari keberhasilan bank muamalat yang berhasil melewati krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 dan terus menunjukan performa kinerja yang terus meningkat, bahkan ketika mengalami krisis keuangan tahun 2008 bank ini tidak menerima sepeserpun dana bantuan dari pemerintah, malahan ia mampu memperoleh laba 300 miliar lebih.

Seiring tumbuh pesatnya perkembangan syariah di Indonesia, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan kembali menghadapi krisis keuangan global seperti sebelumnya. Maka untuk tetap menjaga eksistensi dan performa perbankan syariah itu sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) selaku lembaga pengawas bank dan lembaga keuangan lain merumuskan ketentuan yang mengharuskan setiap bank untuk melakukan serangkaian analisis terhadap rasio keuangannya untuk mengetahui tingkat kesehatan perbankan serta menjaga agar lembaga perbankan tersebut senantiasa dalam keadaan sehat.

2. Kesehatan Bank

Kesehatan bank adalah kemampuan suatu perbankan untuk menjalankan fungsi operasionalnya secara normal, mampu memenuhi kewajibannya dengan baik dan dapat menghasilkan laba / keuntungan sesuai dengan ketentuan peraturan perbankan yang berlaku. Kesehatan bank merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh semua pihak, baik itu pemilik bank, karyawan (pengelola) bank, maupun masyarakat umum (konsumen) serta Bank Indonesia selaku lembaga pengawas perbankan.

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, bank wajib memelihara ksehatannya. Kesehatan bank merupakan cerminan kondisi dan kinerja bank yang menjadi tolak ukur bagi lembaga otoritas pengawasan dalam merumuskan dan menetapkan strategi dan fokus pengawasan terhadap bank.17

Untuk tetap menjaga kepercayaan serta menjamin kenyamanan masyarakat dalam menggunakan produk perbankan, bank perlu menjalankan prinsip kehati-hatian (Prudential banking) serta menerapkan peraturan terkait kesehatan bank. Bank harus senantiasa dalam keadaan sehat apabila tidak ingin mengakibatkan kerugian bagi semua pihak. Oleh karena itu, maka analisis tingkat kesehatan bank perlu dilakukan agar posisi keuangan

17 Merry Palimbong, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Terhadap Kualitas Laba Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa Se-Indonesia (2008-20013)” (Skripsi, FEB Universitas Hasanuddin Makasar, Tahun 2015), hlm. 13.

serta hasil kinerja pada suatu bank dapat dilihat oleh semua pihak (transparansi).

Untuk dapat melakukan analisis tingkat kesehatan bank, instrumen yang diperlukan adalah Laporan Keuangan. Laporan keuangan merupakan suatu penyajian yang terstruktur dari posisi keuangan dan hasil kinerja dari suatu lembaga yang memberikan informasi bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi dan juga untuk menunjukan pertanggung jawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.18

Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukan kondisi bank secara keseluruhan, baik itu terkait kelebihan maupun juga kekurangan dari bank itu sendiri. Laporan keuangan biasanya berisi laporan yang berupa rasio-rasio keuangan hasil kinerja perusahaan selama satu periode. Menurut Kasmir (2012) Jenis-jenis laporan keuangan antara lain sebagai berikut:

a. Neraca

Neraca adalah laporan yang menunjukan posisi keuangan sebuah bank pada waktu tertentu. Posisi keuangan yang dimaksud antara lain posisi Aktiva (harta), Pasiva (kewajiban dan equitas) suatu perbankan.

Penyusunan komponen-komponen didalam neraca didasarkan pada tingkat likuiditas dan jatuh tempo.

18 Rifqy Muhammad, Akuntansi Keuangan Syariah, (Yogyakarta: P3EI Press, 2010), hlm.

116.

b. Laporan Laba Rugi

Merupakan laporan keuangan yang berisi gambaran terkait jumlah pendapatan, sumber-sumber pendapatan tersebut, jumlah biaya yang dikeluarkan, dan juga jenis biaya-biaya apa saja yang sudah dikeluarkan.

c. Laporan arus Kas

Merupakan laporan yang berisi keseluruhan aspek yang berkaitan dengan bank, baik itu berupa aspek yang berkaitan langsung maupun aspek yang berpengaruh tidak langsung terhadap kas.

d. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsilidasi

Laporan keuangan gabungan merupakan laporan yang berisi seluruh cabang-cabang bank yang bersangkutan baik itu didalam maupun diluar negeri. Sedangkan laporan konsilidasi adalah laporan bank yang bersangkutan dengan anak perusahan.19

3. Metode Analisis Tingkat Kesehatan Bank

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 pasal 2 ayat 3, dijelaskan bahwa dalam menilai tingkat kesehatan bank bisa menerapkan pendekatan resiko / Risk Based Bank Rating (RBBR).

Pendekatan RBBR ini kemudian bisa dirumuskan dalam 4 (empat) indikator tolak ukur kesehatan bank yang terkenal dengan metode RGEC yaitu antara lain:

1. Risk Profile (Profil Resiko)

19 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 242.

Profil resiko ini pada umumnya terbagi atas 8 macam yaitu antara lain:

a) Resiko Kredit merupakan resiko yang terjadi akibat kegagalan pihak penerima kredit/ pembiayaan untuk memenuhi kewajibannya kepada bank. Resiko ini terjadi apabila kegiatan pemenuhan kewajiban tidak sesuai dengan kontrak awal yang sudah disepakati.

b) Resiko Pasar merupakan merupakan resiko yang timbul akibat pergolakan atau ketidak seimbangan nilai suatu investasi.

Resiko pasar mencakup resiko yang timbul akibat perubahan suku bunga dan nilai tukar. Resiko tingkat suku bunga berkaitan dengan pergerakan suku bunga terhadap repricing gap antara aktiva dan pasiva bank, sedangkan resiko nilai tukar berkaitan dengan potensi kerugian akibat pergerakan nilai tukar mata uang asing/ valas.20

c) Resiko Likuiditas merupakan resiko yang terjadi akibat adanya kegiatan penarikan serentak yang dapat mengakibatkan kebangkrutan dari sebuah bank (kas yang keluar lebih banyak dari pada kas masuk).

d) Resiko Operasional merupakan resiko yang terjadi akibat kegagalan dari pihak internal, seperti karyawan dan penerapan

20 Frianto pandia, Manajemen,... hlm. 152.

kebijakan. sebagian kecil resiko ini juga dapat berasal dari faktor eksternal.

e) Resiko hukum merupakan resiko yang timbul akibat ketidak pastian hukum, tindakan dan juga penginterpretasian hukum yang diberlakukan.

f) Resiko Strategik merupakan resiko yang timbul akibat kegagalan dalam menentukan strategi yang tepat untuk dijalankan oleh perusahaan perbankan.

g) Resiko Kepatuhan adalah resiko yang terjadi akibat ketidak taatan dari pihak bank terhadap hukum (Perundang-Undangan yang berlaku).

h) Resiko Reputasi merupakan resiko yang timbul akibat rusaknya kepercayaan dari Stakeholders yang bersumber dari persepsi- persepsi negatif tentang bank/ reputasi yang tidak baik dikalangan masyarakat umum.21

Pada indikator profil resiko atau Risk Profile ini rasio keuangan yang digunakan adalah Non Performing Financial (Resiko Kredit), dan Financing to Deposite Ratio (Resiko Likuiditas) yang dirumuskan sebagai berikut:

NPF = 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝑩𝒆𝒓𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝑥100%

21 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Keuangan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 270.

FDR = 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏

𝑫𝒂𝒏𝒂 𝑷𝒊𝒉𝒂𝒌 𝑲𝒆𝒕𝒊𝒈𝒂𝑥100%

2. Good Corporate Governance

Merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, karyawan bank, pihak kreditur serta pemerintah yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mereka.

Berdasarkan surat edaran bank Indonesia No. 15/15/DPNP/2013 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance menyatakan bahwa bank wajib melakukan kegiatan usahanya dengan tetap berpedoman pada prinsip-prinsip GCG supaya dapat melindungi kepentingan semua pihak, serta untuk meningkatkan kepatuhan terhadap perundang undangan yang berlaku.

Penilaian terhadap faktor GCG dalam metode RBBR didasarkan kedalam tiga aspek utama yaitu, governance structure, governance process, dan governance output. Berdasarkan ketetapan Bank Indonesia yang dicantumkan pada Laporan Pengawasan Bank. Governance structure meliputi aturan terkait pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi beserta kelengkapan dan pelaksanaan kewajiban komite.

Governance process meliputi fungsi kepatuhan bank, penyelesaian tumpang tindih kepentingan, penetapan fungsi audit intern, penyediaan dana untuk pihak terkait dan dana besar, beserta

rencana strategis bank. Aspek terakhir governance output mencakup keterbukaan kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG yang sesuai prinsip Transparancy, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness.22

3. Earning (Rentabilitas)

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011, penilaian pada faktor rentabilitas mencakup kegiatan evaluasi terhadap kinerja rentabilitas, penyebab-penyebab rentabilitas, kesinambungan (sustainability) rentabilitas, serta manajemen rentabilitas.

Rentabilitas merupakan aspek yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam meningkatkan keuntungan.

Kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode. Kegunaan aspek ini juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank bersangkutan. Dengan kata lain rasio rentabilitas ini selain berfungsi sebagai penentu kemampuan bank untuk menghasilkan laba, juga sebagai pengukur tingkat efektivitas manajemen selama menjalankan operasionalnya.23 Indikator ini

22 Hening Asih Widyaningrum, Suhadak, dan Topowijono, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank dengan Menggunakan Metode Risk Based Bank Rating (RBBR) (Studi Pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam IHSG Tahun 2012” Jurnal Administrasi Bisnis,Vol. 9 No. 2 April 2014. hlm. 4.

23 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya ( Jakarta: Grafindo Persada, 2008 ), hlm.

297.

juga digunakan untuk menentukan ukuran kemampuan bank untuk meningkatkan labanya dan mengukur tingkat efisiensi serta efektivitas manajemen dalam menjalankan usaha dan kemampuan bank dalam mendukung operasional saat ini dan dimasa mendatang.

Berdasarkan keputusan Direksi bank Indonesia No.

30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 penilaian tingkat rentabilitas dalam menentukan tingkat kesehatan bank merujuk pada dua rasio, yaitu ROA dan juga BOPO. Rasio ROA (Return On Asset) dan BOPO (Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional) dapat dirumuskan sebagai berikut:

ROA = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒆𝒕 𝑥100%

BOPO = 𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍𝑥100%

4. Capital (Permodalan)

Merupakan kecukupan modal yang dimiliki oleh bank untuk menjalankan operasionalnya. Kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan atau setoran modal minimum merupakan salah satu indikator yang sangat penting bagi perbankan. Karena tanpa adanya setoran modal yang cukum maka mustahil kegiatan operasional dapan dijalankan.

Faktor permodalan ini juga sering kali disebut sebagai rasio solvabilitas. Kecukupan modal adalah faktor yang paling utama dan

menjadi kunci operasional sebuah bank, karena apabila jumlah modal yang ada tidak dapat tercukupi maka operasional perbankan tidak akan dapat dijalankan. Modal itu sendiri terdiri dari modal inti, modal pelengkap dan modal kantor cabang bank asing.24

a. Modal Inti yang terdiri dari modal disetor, Aigo saham, Cadangan Umum, Cadangan tujuan, Laba yang ditahan (Retained Earnings), laba tahun lalu, laba tahun berjalan, dan bagian kekayaan bersih dari anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsilidasikan.

b. Modal Pelengkap merupakan modal yang terdiri atas cadangan yang bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dapat dipersamakan dengan modal modal cadangan ini terdiri dari cadangan revaluasi aktiva, cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, modal kuasi (hybrid capital instrument), dan pinjaman subordinasi.

c. Modal Kantor Cabang Asing merupakan dana bersih kantor cabang dan kantor-kantor cabangnya diluar negeri. Dana bersih tersebut merupakan selisih antara saldo penanaman kantor- kantor cabangnya di dalam negeri pada kantor pusat dan kantor cabangnya diluar negeri.25

24 Frianto, Manajemen Dana,... hlm. 34.

25 Ibid,..., hlm. 35.

Bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah diwajibkan untuk memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia dalam pasal 11 Undang-Undang No. 1 Tahun 2008 menegaskan bahwa besarnya modal minimum untuk mendirikan Bank Umum Syariah (BUS) ditetapkan dalam peraturan Bank Indonesia.

Pada indikator permodalan ini, penilaiannya dilakukan berdasarkan CAR (Capital Adequency Ratio) yang telah ditetapkan oleh bank Indonesia. Perhitungan CAR dilakukan dengan menentukan perbandingan rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). Rasio kecukupan modal dirumuskan sebagai berikut:

CAR = 𝑴𝒐𝒅𝒂𝒍 𝑩𝒂𝒏𝒌

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝑻𝑴𝑹𝑥100%

Tinggi rendahnya nilai CAR dari suatu bank tergantung pada dua faktor utama diatas yaitu, pertama besarnya modal yang dimiliki bank dan kedua, jumlah aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). Sesuai dengan ketentuan pemerintah, CAR menimum dari setiap bank yang ada di Indonesia sekurang-kurangnya harus mencapai 8%.26

26 Dahlan Siamat, Manajemen Bank Umum, (Jakarta: Intermedia, 1993), hlm. 267.

4. Peringkat Komposit Kesehatan Bank

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 04/POJK.3/2016 tentang penilaian tingkat kesehatan bank menetapkan bahwa Penilaian komposit tingkat kesehatan bank diterapkan sesuai hasil analisis secara menyeluruh dan terorganisir pada peringkat masing-masing faktor dengan cara mengawasi setiap prinsip general penilaian tingkat kesehatan bank secara umum. Peringkat komposit diklasifikasikan menjadi beberapa bagian bagai berikut:27

1) PK-1 (Peringkat Komposit 1) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan Sangat Sehat, sehingga dalam kondisi ini bank dianggap sudah sangat mampu untuk menghadapi segala resiko dan efek buruk yang timbul dari kondisi persaingan bisnis serta faktor eksternal lainnya.

2) PK-2 (Peringkat Komposit 2) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan dalam kondisi Sehat, dalam kondisi ini bank dinyatakan mampu menjalankan usahanya dan tidak terpengaruh terhadap faktor eksternal yang bersifat negatif.

3) PK-3 (Peringkat Komposit 3) mencerminkan bahwa konsidi bank secara umum Cukup Sehat, sehingga pada kondisi ini bank dinyatakan cukup mampu untuk memenuhi kewajiban serta

27 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 04/POJK.3/2016 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, hlm.10-11.

menghadapi segala bentuk pengaruh negatif akibat persaingan bisnis yang ada.

4) PK-4 (Peringkat Komposit 4) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan Kurang Sehat, sehingga dalam kondisi ini bank dianggap kurang mampu untuk menghadapi segala resiko dan pengaruh buruk yang muncul dari kondisi persaingan bisnis serta faktor luar lainnya.28

5) PK-5 (Peringkat Komposit 5) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan Tidak Sehat, sehingga dalam kondisi ini bank dianggap tidak mampu untuk menghadapi segala resiko dan pengaruh negatif yang signifikan dari kondisi bisnis atau faktor eksternal lainnya.

G. Metode Penelitian

Dalam dokumen Baiq Sit - etheses UIN Mataram (Halaman 32-46)

Dokumen terkait