• Tidak ada hasil yang ditemukan

Baiq Sit - etheses UIN Mataram

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Baiq Sit - etheses UIN Mataram"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK SYARIAH MENGGUNAKAN METODE RGEC

(Studi Pada Bank BNI Syariah Periode 2016-2020)

Oleh:

Baiq Siti Maryam 170502009

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

MATARAM 2021

(2)

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK SYARIAH MENGGUNAKAN METODE RGEC

(Studi Pada Bank BNI Syariah Periode 2016-2020)

Skripasi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

Baiq Siti Maryam 170502009

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

MATARAM 2021

(3)
(4)
(5)

(6)

MOTTO

“Ketika Kamu berani bermimpi, maka kamu harus sudah siap dengan segala konsekuensi untuk dapat meraihnya.”

(7)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibundaku tercinta, Ayahku tersayang, Adikku semata wayang, seluruh keluargaku, almamaterku, guru-guruku, teman-teman seperjuanganku, dan semua pihak yang tiada hentinya mendukungku selama ini.”

(8)

KATA PENGANTAR

سب ـــــ ميح رلا نمح رلا الله م

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk dapat meraih gelar Sarjana Ekonomi (SE) Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Solawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang telah membimbing umat manusia dari zaman gelap gulita menuju zaman yang penuh gemerlap cahaya seperti saat ini.

Dalam penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Menggunakan Metode RGEC (Studi Pada Bank BNI Syariah Periode 2016- 2020) ini, penulis sudah berupaya memaksimalkan kesempurnaannya dengan segenap kemampuan yang ada, namun penulis sangat amat menyadari bahwa masih banyak kesalahan baik itu dalam hal penyusunan kata dan kalimat, penggunaan bahasa, sistematika penulisan, serta penjelasan-penjelasan terkait isi dalam skpipsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis bersedia menerima segala bentuk kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan terimakasi sebesar besarnya kepada semua pihak terutama tokoh teristimewa dalam kisah perjalanan hidipku, Ibundaku tercinta Lale Aminah, Ayahku tersayang Lalu Wiretabe, dan adikku satu-satunya Lale Mihram Anjani yang selalu ada untuk mengisi setiap lembaran kisahku selama ini. Dan tidak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih kepada:

(9)

1. Ibu Yunia Ulfa Variana, S.E., M.Sc selaku dosen pembimbing 2 dan ibu Ummu Rosyidah, M.E.I selaku dosen pembimbing 1 yang sudah dengan sabar meluangkan waktu dan memberikan saran serta bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini pada akhirnya dapat terselesaikan.

2. Bapak Ma’ruf, S.H., M.Ag selaku wali studi, bu Dewi Sartika Nasution, M.Ec dan bu Any Tsalasatul Fitriyah, S.Si., M.Si. selaku Kepala dan Wakil Kepala Jurusan Perbankan Syariah, bapak Ahmad Amir Aziz, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, serta seluruh pihak yang sudah ikut terlibat dalam membantu menyempurnakan skripsi ini yang tidak akan mampu penulis sebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa kita semua dan senantiasa memberikan kita keselamatan baik didunia maupun diakhirat, Amiiiiin...

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...

Mataram, 29 Juni 2021 Penulis,

Baiq Siti Maryam

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Ruang Lingkup dan Seting Penelitian ... 9

E. Telaah Pustaka ... 11

F. Kerangka Teori ... 18

G. Metode Penelitian ... 32

H. Sistematika Pembahasan ... 37

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 39

1. Sejarah Berdirinya Bank BNI Syariah ... 39

(11)

2. Struktur Organisasi Bank BNI Syariah ... 42

3. Produk-produk dan Layanan Pada Bank BNI Syariah ... 44

B. Penetapan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank ... 52

1. Indikator Risk Profile ... 52

2. Indikator GCG (Good Coorporate Governance) ... 54

3. Indikator Earning ... 55

4. Indikator Capital ... 57

C. Pemeringkatan Komposit Kesehatan Bank dengan Metode RGEC 58 BAB III PEMBAHASAN A. Penilaian Kesehatan Bank Menggunakan Metode RGEC ... 65

1. Risk Profile (Profil Resiko) ... 65

2. GCG (Self Assessment) ... 66

3. Earning (Rentabilitas) ... 68

4. Capital (Permodalan) ... 70

B. Peringkat Komposit Kesehatan Bank ... 71

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 74

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 76

DAFTAR LAMPIRAN ... 78

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 85

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Rasio Non Performing Foan Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ... 52

Tabel 2.2 : Financing to Deposit Ratio Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ... 53

Tabel 2.3 : Rasio Self Assessment Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ... 54

Tabel 2.4 : Rasio Return On Asset Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ... 55

Tabel 2.5 : Rasio BOBO Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ... 56

Tabel 2.6 : Rasio Kecukupan Modal Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ... 57

Tabel 2.7 :Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2016 ... 58

Tabel 2.8 : Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2017 ... 59

Tabel 2.9 : Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2018 ... 61

Tabel 2.10 : Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2019 ... 62

Tabel 2.11 : Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2020 ... 63

Tabel 3.1 : Skala Penetapan Rasio NPF ... 66

Tabel 3.2 : Skala Penetapan Rasio FDR ... 66

Tabel 3.3 : Skala Penetapan Rasio GCG ... 68

Tabel 3.4 : Skala Penetapan Rasio ROA ... 69

Tabel 3.5 : Skala Penetapan Rasio Bopo ... 70

Tabel 3.6 : Skala Penetapan Rasio Permodalan ... 71

Tabel 3.7 : Skala Penetapan Peringkat Komposit Kesehatan Bank ... 72

Tabel 3.8 : Peringkat Komposit Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2016-2021 .. 72

(13)

DAFTAR GAMBAR

Bagan 1.1 : Kerangka Berfikir ... 35 Bagan 2.1 : Bagan Struktur Organisasi Bank BNI Syariah ... 44

(14)

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK SYARIAH MENGGUNAKAN METODE RGEC

(STUDI PADA BANK BNI SYARIAH PERIODE 2016-2020)

Oleh:

Baiq Siti Maryam NIM: 170502009

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan bank BNI Syariah diukur dengan menggunakan metode RGEC pada periode 2016-2020.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggukanan metode dokumentasi. Instrumen penelitian ini menggunakan laporan keuangan bank BNI Syariah 5 (lima) tahun terakhir periode berjalan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode RGEC atau biasa dikenal dengan sebutan RBBR dalam menentukan peringkat komposit kesehatan bank. Metode RGEC ini terdiri dari indikator Risk Profile yang dihitung menggunakan rasio NPF (Non Performing Financial) dan FDR (Financing to Deposite Ratio), Good Corporate Governance dengan melakukan Self Assessment, Earning dengan rasio ROA (Return On Asset) dan BOPO, serta yang terakhir indikator permodalan / Capital dengan rasio CAR (Capital Adequency Ratio).

Dari perhitungan pemeringkatan kesehatan bank menggunakan metode RGEC diperoleh hasil tingkat kesehatan bank BNI Syariah pada tahun 2016 memperoleh rasio 83.33% (sehat), pada tahun 2017 memperoleh rasio 86.7%

(sangat sehat), tahun 2018 memperoleh rasio 83.33% (sehat), tahun 2019 dan 2020 kembali memperoleh 86.7% (sangat sehat). Sehingga dapat disimpulkan bahwa bank BNI Syariah dalam menjalankan usahanya sudah sangat mampu dalam menghadapi segala dampak negatif serta resiko bisnis ekternal lainnya.

Kata Kunci: Kesehatan Bank, RGEC.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dalam menentukan laju perekonomian suatu negara. Bank sebagai perantara antara pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus) dengan pihak yang kekurangan dana (devisit) menjadikannya bukan hanya semata-mata sebagai perusahaan bisnis yang mementingkan keuntungan, akan tetapi juga secara tidak langsung membantu meringankan beban pemerintah dalam mengupayakan pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Di Indonesia terdapat dua sistem perbankan (dual banking system) yang diterapkan saat ini. Dua sistem tersebut antara lain sistem konvensional yang sudah diberlakukan sejak zaman kolonial, serta sistem berbasis syariah yang mulai dijalankan pada tahun 1990-an.1 Pendirian bank berbasis syariah pada awalnya didasari atas kenyataan akan adanya sebagian penduduk muslim di Indonesia tidak bersedia menggunakan jasa perbankan konvensional, disebabkan tidak sesuai dengan keyakinan mereka terhadap sistem operasional perbankan yang menggunakan sistem bunga. Hal ini didukung oleh hasil survei BI yang

1 Agus Marimin, Abdul Haris dan Tira Nur, “ Perkembangan Bank Syariah di Indonesia”

Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol.01 No.02 Tahun.2015. hlm.77.

1

(16)

mendapatkan 30% dari umat islam yang tidak mau berhubungan dengan bunga bank.

Bank Indonesia sebagai bank sentral menjadi pemegang kendali atau sistem kontrol dari bank-bank umum yang berfungsi untuk mengetahui bagaimana posisi keuangan dan juga kegiatan usaha dari masing-masing perbankan. Kebijakan terkait perbankan yang ditetapkan dan diberlakukan oleh bank sentral (Bank Indonesia) pada dasarnya bertujuan untuk dapat menciptakan dan memelihara kesehatan bank, baik secara personal maupun perbankan secara sistem.2

Kesehatan bank adalah kemampuan perbankan dalam melakukan kegiatan operasionalnya secara normal dan mampu memenuhi kewajibannya dengan baik sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Kesimpulan dari penilaian kesehatan bank dijadikan sebagai salah satu alat dalam merumuskan strategi usaha diwaktu mendatang. Sebaliknya bagi bank sentral (Bank Indonesia) kesehatan bank dimanfaatkan sebagai alat untuk menetapkan dan mengimplementasikan strategi pengawasan, sehingga pada akhirnya akan berujung pada kondisi bank secara menyeluruh.3 Secara umum penilaian tingkat kesehatan bank digunakan untuk mengevaluasi hasil kinerja bank dalam

2 Perry Warjiyo dan Solikin M Jurho, Kebijakan Bank Sentral Teori dan Praktik, (Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada, 2020), hlm.12.

3 Totok Budisantoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lain. (Jakarta: Salemba Empat, 2006), hlm. 98.

(17)

memberlakukan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking), ketaatan terhadap peraturan yang berlaku dan manajemen resiko.

Penilaian tingkat kesehatan bank bisa dilakukan melalui beberapa metode. Metode yang seringkali digunakan salah satunya adalah metode CAMEL yang meliputi faktor-faktor permodalan (Capital), kualitas aset (Asset), pengelolaan (Management), rentabilitas (Earning), dan likuiditas (Liquidity) sesuai dengan ketetapan dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/3/UPPB tanggal 30 April 1997. Kemudian karena dirasa metode ini kurang efektif maka untuk lebih mengupayakan kesempurnaan metode penilaian kesehatan bank, kembali bank Indonesia (BI) mengeluarkan ketetapan baru yaitu peraturan No.

6/10/PBI tahun 2004 dengan menambahkan satu lagi indikator penilai yaitu Sensitivity to Market Risk (sensitifitas terhadap resiko pasar) sehingga menjadi metode CAMELS.4

Berdasarkan peraturan dalam surat edaran BI No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 bank diharuskan membuat penilaian sendiri (Self Assessment) secara rutin dan bertahap terkait tingkat kesehatannya. Pada peraturan bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 pasal 2 ayat (3), dijelaskan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan memakai pendekatan berbasis resiko (Risk Based Bank Rating) entah itu secara personal maupun secara konsilidasi. Aturan tersebut kemudian ditekankan penerapannya melalui terbitnya Surat Edaran

4 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. hlm.10.

(18)

Otoritas Jasa Keuangan No. 10/SEOJK.03/2014 mengenai penilaian tingkat kesehatan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).5 Pendekatan resiko (Risk Based Bank Rating) adalah penilaian menyeluruh dan terorganisir mengenai hasil integrasi antara profil resiko dan kinerja yang dirumuskan dalam 4 indikator antara lain: Risk Profile (profil resiko), Good Corporate Governance (tata kelola perusahaan), Earning (rentabilitas), dan Capital (permodalan) yang biasa kita kenal dengan motode RGEC.

Indikator pertama dalam metode RGEC ini adalah resiko profil. Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur Risk Profile adalah Non Performing Financial (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR). Indikator kedua adalah tata kelola perusahaan atau biasa disebut Good Corporate Governance, merupakan sistem pengatur hubungan antara para Stakeholders demi mencapai tujuan perusahaan. Indikator ketiga yakni Earning (rentabilitas), rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur indikator ini adalah Ratio On Asset (ROA), Ratio On Equity (ROE), dan BOPO. Terakhir adalah permodalan (Capital), indikator ini diukur menggunakan rasio Capital Edequicy Ratio (CAR).6

Dalam sebuah penelitian yang berjudul “Penilaian tingkat kesehatan bank syariah dengan metode CAMEL dan RGEC (Studi pada bank BNI Syariah tahun 2011-2015)” yang dilakukan oleh Ahsan Putra Hafiz diperoleh kesimpulan

5 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/SEOJK.03/2014 tentang penilaian tingkat kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, hlm.3.

6 Slamet Hadisoewito, Prinsip Dasar Kehati-hatian dan Penilaian Bank, (Jakarta: Pamator, 2011), hlm.114.

(19)

bahwa penilaian kesehatan bank menggunakan metode CAMELS meraih predikat sangat sehat, sedangkan penilaian kesehatan bank menggunakan metode RGEC meraih Predikat sehat. Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut dapat dilihat bahwa hasil penilaian dari kedua metode yang digunakan terdapat perbedaan. Hal tersebut membuat peneliti semakin tertarik untuk melakukan penelitian yang serupa dengan penelitian ini pada periode yang berbeda.

Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah Bank BNI Syariah periode 2016-2020. Berdasarkan keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010 terkait pemberian izin usaha kepada PT Bank BNI Syariah, sebagaimana dijelaskan dalam corporate plan UUS BNI tahun 2003 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS).

Pada bulan desember 2019 BNI Syariah memiliki 3 Kantor Wilayah, 68 Kantor cabang, 218 Kantor Cabang Pembantu, 13 Kantor Kas, dan 23 Mobil Layanan Gerak serta 58 Payment Point.7

Alasan penulis memilih Bank BNI Syariah ini salah satunya karena melihat hasil kerjanya yang tumbuh pesat selama 10 tahun berjalan periode operasionalnya. Bank ini tidak hanya menjalankan perusahaan dengan menganut prinsip syariah demi menggait minat masyarakat muslim agar dapat memperoleh

7Sejarah terbentuknya bank BNI Syariah, https://www.bnisyariah.co.id/id- id/perusahaan/tentangbnisyariah/sejarah diakses pada 12 Jnauari 2021 pukul. 14:28 pm.

(20)

laba semata, akan tetapi juga mengedepankan kemaslahatan umat dengan membentuk panilia pengelola dana zakat dan kebajikan. Dana tersebut diperoleh sebagian besar dari zakat badan bank yang bersumber dari laba bersih perusahaan dan juga zakat setiap pegawai serta dana kebajikan yang bersumber dari denda tunggakan pembiayaan. Selain itu bank ini juga memiliki inovasi dan juga kreativitas yang ditampilkan dalam produk-produk yang ditawarkannya. BNI Syariah ini juga merupakan salah satu BUMN yang memiliki peranan yang sangat penting bagi tercapainya upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Bank BNI Syariah ini merupakan salah satu bank pemerintah yang pada mulanya hanya berupa Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Negara Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari PT BNI PerseroTbk. Sejak tahun 2010 Unit Usaha Syariah (UUS) bertransformasi menjadi Bank Umum Syariah (BUS) dengan nama PT Bank BNI Syariah.

Bank BNI Syariah terus menunjukan pertumbuhan yang signifikan, terbukti dari banyaknya prestasi yang berhasil diraih baik didalam maupun diluar negeri. Prestasi tersebut antara lain BNI Syariah meraih penghargaan Internasional di Alpha Southeast Asia Award 2019 pada bulan september 2019 lalu, BNI Syariah raih penghargaan 20 pilar finansial Indonesia Award 2020 dari The Economic pada bulan Juli 2020, Ecomonic Review Award 2020 dengan kategori 1st The Best IT Sharia Bank, dalam ajang The Economics Award 2020 sebagai Indonesian Most Popular Digital Financial Award, meraih peghargaan

(21)

sebagai bank berpredikat “sangat sehat” pada kategori syariah buku II dan III dari warta Ekonomi, dan masih banyak lagi penghargaan lainnya.

Berdasarkan dari latar belakang yang sudah penulis diuraikan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Menggunakan Metode RGEC (Studi Pada Bank BNI Syariah Periode 2016-2020).

B. Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang penulis ambil dalam penelitian ini adalah antara lain:

1. Bagaimana Tingkat Kesehatan Bank BNI Syariah Periode 2016-2020 ? 2. Bagaimana Pemeringkatan Komposit Kesehatan Bank BNI Syariah

dengan Menggunakan Metode RGEC pada Periode 2016-2020 ?

C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan dari rumusan masalah diatas yaitu:

a. Untuk mengetahui tingkat kesehatan Bank BNI Syariah pada Periode 2016-2020.

b. Untuk mengetahui Peringkat Komposit Kesehatan Bank BNI Syariah Menggunakan metode RGEC pada Periode 2016-2020.

(22)

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang penulis harapkan untuk bisa diperoleh melalui hasil penelitian yang penulis lakukan ini yaitu antara lain:

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat dari segi teori maupun konseptual dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang perbankan terutama dalam melakukan analisis tingkat kesehatan bank baik dengan menggunakan metode RGEC.

b. Manfaat Praktis 1) Bagi Pihak Bank

Penelitian ini diharapkan bisa memberi masukan serta dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk melakukan evaluasi sehingga lembaga terkait dapat memperbaiki manajemen bank dan meningkatkan kinerjanya demi untuk dapat mempertahankan keberlangsungan usaha bank dalam menghadapi kompetitor dalam persaingan bisnis perbankan yang makin sengit.

2) Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada penulis selaku mahasiswi prodi perbankan syariah untuk dapat mengembangkan kemampuan menulis dan juga sebagai syarat untuk memenuhi tuntutan perkuliahan agar dapat melangkah ke jenjang berikutnya.

(23)

3) Bagi lembaga pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media tolak ukur bagi pihak kampus (UIN Mataram) untuk menilai kemampuan mahasiswa, sejauh mana pemahaman yang didapat pada bangku perkuliahan untuk dipertimbangkan menjadi syarat kelulusan mahasiwa.

4) Bagi pihak lainnya

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk dijadikan sebagai referensi tambahan bagi pihak lain yang ingin melakukan penelitian terkait analisis tingkat kesehatan bank menggunakan metode RGEC khususnya pada Bank BNI Syariah.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menilai kesehatan suatu perbankan atau lembaga keuangan lainnya dapat digunakan beberapa metode seperti CAMEL, CAMELS, dan RGEC (RBBR) dengan cara menganalisis rasio-rasio keuangan yang terdapat pada masing-masing indikator yang terkandung dalam setiap metode yang ada. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan kondisi bank tersebut apakah kondisinya sangat sehat, sehat, cukup sehat, atau kurang sehat, bahkan tidak sehat. Hasil pengukuran tersebut kemudian akan dijadikan tolak ukur hasil

(24)

kinerja bank dalam satu periode serta menjadi penentu arah pembinaan dan pengembangan bank kedepannya.8 Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkupnya dan hanya menggunakan metode RGEC dengan menggunakan dua rasio pada indikator Risk Profile dan Earning serta satu rasio keuangan pada indikator GCG dan Capital.

2. Setting Penelitian

Setting penelitian ini dilakukan pada PT. Bank Nasional Indonesia Syariah. Dalam penelitian ini penulis tidak meneliti dengan cara terjun langsung ke lapangan, melainkan hanya dengan melakukan analisis dari data hasil dokumentasi yang berupa laporan keuangan PT. Bank Nasional Indonesia Syariah periode 2016-2020 dan dokumen lainnya yang berkaitan.

Kantor pusat bank BNI Syariah sendiri terletak di Gedung Tempo Pavilion 1 Jln. HR. Rasuna Said Kav. 10-11 Lt. 3-8 Jakarta 12950 Indonesia. Sedangkan lokasi penulis berada di Desa Pengengat Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat sehingga observasi langsung tidak memungkinkan untuk dilakukan karena faktor keterbatasan dana dan juga dalam masa pandemi Covid-19.

8Frianto Pandia, Manajemen Dana dan Kesehatan Bank,(Jakarta: Rineka Cipta, 2017), hlm.

222.

(25)

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka dalam sebuah penelitian ilmiah merupakan salah satu bagian penting dari keseluruhan langkah-langkah yang ada dalam metode penelitian. Menurut Cooper kajian pustaka mempunyai beberapa tujuan yaitu memberitahukan kepada pembaca mengenai hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan atau memiliki kemiripan dan kesamaan dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan literatur-literatur yang ada dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya.9

Berdasarkan definisi yang telah dipaparkan diatas dan hasil research yang telah peneliti dapatkan, untuk menghindari duplikasi, plagiasi, serta demi menjamin keaslian dan keabsahan dari penelitian yang peneliti lakukan, berikut beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang penulis anggap memiliki keterkaitan dengan penelitian yang dilakukan saat ini antara lain:

a. Wida Rizkiyani, berjudul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Menggunakan Metode Capital, Asset, Management, Earning, Liqidity, Sensitivity to Market Risk (CAMELS) dan Metode Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital (RGEC). (Studi Empiris Pada Bank Muamalat Indonesia Periode 2013-2017)” (Skripsi, UIN Raden Intan, 2019).

9Creswell John W, Research Design: Qualitative, Quantitative, adn Mixed Methods Approaches, terj. Achmad Fawaid, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), cet. Ke-4, hlm. 40.

(26)

Fokus masalah yang diambil dalam penelitian yang dilakukanoleh ini adalah bagaimana tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia yang diukur dengan metode CAMELS dan metode RGEC pada periode 2013-2017.

Pada penelitian ini analisis yang dilakukan melibatkan masing-masing satu rasio pada setiap indikator rasio keuangan yang ada baik itu dalam metode CAMELS maupun juga dalam metode RGEC.10

Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu, penilaian kesehatan bank Muamalat indonesia menggunakan metode CAMELS pada tahun 2013- 2017 mengalami penurunan. Penilaian kesehatan bank Muamalat Indonesia pada periode 2013 menggunakan metode RGEC juga mengalami penurunan predikat, baik itu disebabkan dikarenakan kurangnya modal yang dimiliki, terdapat banyak pembiayaan macet, ataupun dikarenakan oleh penurunan pendapatan bank Muamalat itu sendiri.

Adapun persamaan yang mendasar antara penelitian yang dilakukan oleh Wida Rizkiyani dengan penelitian ini adalah sama-sama menganalisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode RGEC. Beberapa perbedaan signifikan lainnya juga antara lain perbedaan tempat penelitian (Wida Rizkiyani di Bank Muamalat Indonesia sedangkan penelitian ini di

10 Wida Rizkiyani, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Menggunakan Metode Capital, Asset, Management, Earning, Liqidity, Sensitivity to Market Risk (CAMELS) dan Metode Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital (RGEC) (Studi Empiris Pada Bank Muamalat Indonesia Periode 2013-2017)” (Skripsi, FEBI UIN Raden Intan Lampung, Tahun 2019).

hlm. 14.

(27)

Bank BNI Syariah), dan waktu penelitian dilakukan (Wida Rizkiyani pada periode 2013-2017 sedangkan penelitian ini pada periode 2016-2020).

b. Penelitian yang dilakukan oleh Ahsan Putra Hafiz berupa jurnal dengan tema “Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Syariah dengan Metode CAMEL dan RGEC (Studi Pada Bank BNI Syariah Tahun 2011-2015).” Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN STS Jambi.11

Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu, Penilaian tingkat kesehatan BNI Syari’ah dengan menggunakan metode CAMELS pada periode 2011-2015 menunjukkan bahwa predikat tingkat kesehatan bank berada pada peringkat kedua, yang artinya bahwa pada kurun waktu periode penelitian bank dinyatakan dalam keadaan sehat dan mampu menjalankan operasionalnya berlandaskan pada aturan yang berlaku.

Sedangkan berdasarkan penilaian tigkat kesehatan bank BNI Syariah periode 2011-2015 menggunakan metode RGEC menunjukan bahwa bank BNI pada periode tersebut dinyatakan mampu dalam memenuhi segala kewajibannya dan menjalankan operasionalnya dengan baik. Pada faktor profil risiko yaitu risiko kredit dapat diambil kesimpulan dengan menghasilkan peringkat satu yang mencerminkan kondisi bank secara umum dalam keadaan sangat sehat, dan risiko likuiditas disimpulkan dengan peringkat ketiga yang mencerminkan kondisi bank secara umum

11AhsanPutra Hafiz, “Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Syariah dengan Metode CAMEL dan RGEC (Studi Pada Bank BNI Syariah Tahun 2011-2015)” Iltizam Journal of Shariah Economic Research, Vol. 2 No. 1 Tahun 2018. hlm. 80.

(28)

cukup sehat. Untuk faktor rentabilitas disimpulkan dengan peringkat dua yang mencerminkan kondisi bank secara umum dalam keadaan sehat, dan untuk faktor permodalan disimpulkan dengan peringkat satu yang mencerminkan kondisi bank dalam keadaan sangat sehat.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ahsan Putra Hafiz memiliki persamaan yang mendasar dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu sama-sama mengukur tingkat tingkat kesehatan bank BNI Syariah dengan metode RGEC, namun disisi lain juga memiliki perbedaan yaitu penelitian Ahsan Putra Hafiz menggunakan 2 metode sedangkan penelitian ini hanya menggunakan metode RGEC, waktu penelitian Ahsan Putra Hafiz dilakukan pada periode 2011-2015 sedangkan penelitian ini di lakukan pada periode 2016-2020.

c. Wanda Awaliya, ditulis dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Tingkat kesehatan bank Menggunakan Metode RGEC (Studi Kasus Pada PT Bank Syariah Mandiri).”

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank syariah pada Bank Syariah Mandiri dari tahun 2014 hingga 2018 menggunakan metode RGEC secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa Bank Syariah Mandiri merupakan bank yang cukup sehat.12 Penilaian indikator Risk Profile memperoleh kategori sehat, penilaian indikator Good

12 Wanda Awaliya, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Menggunakan Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) Studi Kasus Pada Bank Syariah Mandiri.”

(Skripsi, FEBI, UIN Sumatra Utara, Medan. Tahun 2019). hlm. 72.

(29)

Corporate Governance berdasarkan laporan Self Assessement memperoleh kategori sangat sehat, indikator Earning menggunakan rasio NOM, ROA, ROE, dan BOPO memperoleh kategori tidak sehat, dan penilaian indikator Capital memperoleh kategori sangat sehat.

Adapun persamaan antara penelitian wanda awaliya dengan penelitian yang peneliti lakukan ini yaitu sama-sama menganalisis tentang kesehatan bank menggunakan metode RGEC. Selain itu ada juga perbedaan signifikan antara penelitian Wanda Awaliya ini dengan penelitian yang peneliti lakukan yakni penelitian ini dilakukan di Bank Syariah Mandiri sedangkan penelitian yang peneliti lakukan di BNI Syariah, periode/ waktu penelitian ini dari periode 2014-2018, sedangkan penelitian yang peneliti lakukan dari periode 2016-2020.

d. Penelitian yang ditulis dalam jurnal EMBA oleh Dwi Febriana Paputungan dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Menggunakan Metode CAMEL Pada PT Bank Rakyat Indonesia Cabang Manado Periode 2010- 2015.”13

Hasil dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan analisis metode CAMEL PT Bank Rakyat Indonesia pada periode 2010 sampai tahun 2015 tergolong perusahaan perbankan yang berpredikat sehat.

13 Dwi Febriana Paputungan, “ Analisis Tingkat Kesehatan Bank Menggunakan Metode CAMEL Pada PT Bank Rakyat Indonesia Cabang Manadi Periode 2010-2012.” Jurnal IMBA, Vol. 4 No. 3 Tahun 2016. hlm. 729-740.

(30)

Adapun persamaan yang mendasar antara penelitian Dwi Febriana Paputungan ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama menganalisis tingkat kesehatan bank. Selain persamaan, terdapat juga perbedaan yang signifikan antara penelitian Dwi ini dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu terletak pada tiga indikator yaitu metode analisis yang digunakan Dwi dalam penelitiian ini menggunakan metode CAMEL sedangkan penulis menggunakan metode RGEC, tempat penelitian (Penelitian ini di PT Bank Rakyat Indonesia, sedangkan penelitian yang penulis lakukan di Bank BNI Syariah), waktu penelitian ini pada periode 2010-2015 sedangkan penelitian penulis dilakukan pada periode 2016- 2020.

e. “Analisis Tingkat Kesehatan Bank dengan Menggunakan Metode Risk Based Bank Rating (RBBR) (Studi Pada Bank Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam IHSG dalam Sub Sektor Perbankan Tahun 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Hening Asih Widyaningrum, Suhadak, dan Topowijono dalam Jurnal Administrasi Bisnis Fakultas Administrasi Univesitas Brawijaya Malang.

Hasil penilaian tingkat kesehatan bank dengan dasar metode Risk- Based Bank Rating (RBBR) adalah sebagai berikut: Penilaian dengan faktor earning menggunakan rasio Return on Asset (ROA) menunjukkan bahwa bank dalam kondisi sehat dengan nilai ROA paling baik 4,33%, sedangkan Bank yang masuk ke dalam bank yang tidak sehat adalah Bank

(31)

QNB Kesawan dengan nilai ROA -0,69 %. Hasil dari perhitungan rasio Net Interset Margin (NIM) menunjukkan setiap bank masuk ke dalam kategori bank sehat, dengan nilai NIM secara keseluruhan rata-rata di atas 2 %.

Bank yang memiliki nilai NIM yang paling baik adalah Bank Pundi Indonesia dengan NIM sebesar 12,95 %, sedangkan bank dengan nilai NIM yang kecil adalah Bank Victoria Internasional dengan NIM sebesar 2,36 %.

Penilaian faktor capital dengan menggunakan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) menunjukkan bahwa keseluruhan bank termasuk ke dalam kriteria bank sehat dengan nilai CAR yang berada di atas 8 %. Nilai CAR yang paling baik diantara bank-bank yang menjadi sampel diperoleh Bank QNB Kesawan dengan CAR sebesar 27,76 %.14

Adapun persamaan dalam penelitian Hening Asih dkk ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama meneliti tentang tingkat kesehatan bank dengan indikator Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, dan Capital (RGEC). Selain persamaan, adapula perbedaan yang terdapat dalam penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian ini yaitu lokasi penelitian yang penulis lakukan di PT Bank BNI Syariah sedangkan penelitian yang dilakukan Hening Asih dkk diseluruh bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam IHSG, periode

14 Hening Asih Widyaningrum, Suhadak, dan Topowijono, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank dengan Menggunakan Metode Risk Based Bank Rating (RBBR) (Studi Pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam IHSG Tahun 2012” Jurnal Administrasi Bisnis,Vol. 9 No. 2 April 2014. hlm. 8.

(32)

penelitian Hening Asih pada tahun2012 sedangkan periode penelitian ini pada tahun 2016-2020.

F. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan serangkaian informasi tertulis yang relevan dengan masalah dalam penelitian yang biasanya digunakan sebagai rujukan dalam menentukan masalah dan kerangka berfikir yang diperoleh dari buku- buku, laporan hasil penelitian, karangan ilmiah, peraturan-peraturan serta ketetapan dan sumberlainnya yang memili keterkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

Teori-teori yang dibutuhkan dalam penelitian yang berjudul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Menggunakan Metode RGEC (Studi Pada Bank BNI Syariah Periode 2016-2020)” adalah sebagai berikut:

1. Perbankan Syariah

Menurut Undang-Undang No.21 Tahun 2008, Perbankan Syariah merupakan segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS), baik itu terkait kegiatan usaha, kelembagaan, serta tata cara dan prises dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Bank syariah adalah bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Dalam Pasal 1 ayat (12) Undang-Undang No.21 Tahun 2008 mengenai perbankan syariah menerangkan bahwa yang dimaksudkan sebagai prinsip syariah ialah prinsip hukum agama islam berdasarkan ketetapan yang diberlakukan oleh

(33)

lembaga yang mempunyai wewenangan untuk menetapkan fatwa atau aturan dibidang syariah.15

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1889 pasal 1 ayat 13 mengenai perbankan menerangkan bahwa apa yang dimaksudkan sebagai prinsip syariah adalah ketetapan perjanjian kerja sama berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpanan dana ataupun membiayai kegiatan usaha serta kegiatan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan aturan islam, antara lain pembiayaan menggunakan prinsip bagi hasil (Mudharabah), pembiayaan berdasarkan penyertaan modal (Musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan, atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (Ijarah), atau dengan adanya pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (Ijarah wa Istina).16

Pada tahun 1990, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai membentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank islam di Indonesia, hal ini lalu menjadi cikal bakal lahirnya perbankan syariah di Indonesia. Pada tahun 1992 lahirlah bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat.

Sistem bagi hasil yang diterapkan pada produk-produk bank Muamalat menjadikan bank tersebut relatif lebih mampu mempertahankan kinerjanya

15 Hani Werdi Apriyanti, “Perkembangan Industri Perbankan Syariah di Indonesia: Analisis Peluang dan Tantangan” MAKSIMUM, Vol. 1. No. 1. September 2017. hlm. 17

16 Agus Marimin, Abdul Haris Romdhoni, dan Tira Nur Fitria, “Perkembangan Bank Syariah di Indonesia” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol. 01. N0. 02. Juli 2015. hlm. 78.

(34)

dan tidak tergantung pada suku bunga simpanan yang melonjak, sehingga beban operasionalnya lebih rendah dari pada bank konvensional.

Ditengah krisis global yang melanda dunia pada akhir tahun 2008, lembaga keuangan syariah kembali membuktikan daya tahannya dari terpaan krisis. Lembaga keuangan syariah tetap stabil dan memberikan keuntungan bagi semua pihak, hal ini dibuktikan dari keberhasilan bank muamalat yang berhasil melewati krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 dan terus menunjukan performa kinerja yang terus meningkat, bahkan ketika mengalami krisis keuangan tahun 2008 bank ini tidak menerima sepeserpun dana bantuan dari pemerintah, malahan ia mampu memperoleh laba 300 miliar lebih.

Seiring tumbuh pesatnya perkembangan syariah di Indonesia, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan kembali menghadapi krisis keuangan global seperti sebelumnya. Maka untuk tetap menjaga eksistensi dan performa perbankan syariah itu sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) selaku lembaga pengawas bank dan lembaga keuangan lain merumuskan ketentuan yang mengharuskan setiap bank untuk melakukan serangkaian analisis terhadap rasio keuangannya untuk mengetahui tingkat kesehatan perbankan serta menjaga agar lembaga perbankan tersebut senantiasa dalam keadaan sehat.

(35)

2. Kesehatan Bank

Kesehatan bank adalah kemampuan suatu perbankan untuk menjalankan fungsi operasionalnya secara normal, mampu memenuhi kewajibannya dengan baik dan dapat menghasilkan laba / keuntungan sesuai dengan ketentuan peraturan perbankan yang berlaku. Kesehatan bank merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh semua pihak, baik itu pemilik bank, karyawan (pengelola) bank, maupun masyarakat umum (konsumen) serta Bank Indonesia selaku lembaga pengawas perbankan.

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, bank wajib memelihara ksehatannya. Kesehatan bank merupakan cerminan kondisi dan kinerja bank yang menjadi tolak ukur bagi lembaga otoritas pengawasan dalam merumuskan dan menetapkan strategi dan fokus pengawasan terhadap bank.17

Untuk tetap menjaga kepercayaan serta menjamin kenyamanan masyarakat dalam menggunakan produk perbankan, bank perlu menjalankan prinsip kehati-hatian (Prudential banking) serta menerapkan peraturan terkait kesehatan bank. Bank harus senantiasa dalam keadaan sehat apabila tidak ingin mengakibatkan kerugian bagi semua pihak. Oleh karena itu, maka analisis tingkat kesehatan bank perlu dilakukan agar posisi keuangan

17 Merry Palimbong, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Terhadap Kualitas Laba Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa Se-Indonesia (2008-20013)” (Skripsi, FEB Universitas Hasanuddin Makasar, Tahun 2015), hlm. 13.

(36)

serta hasil kinerja pada suatu bank dapat dilihat oleh semua pihak (transparansi).

Untuk dapat melakukan analisis tingkat kesehatan bank, instrumen yang diperlukan adalah Laporan Keuangan. Laporan keuangan merupakan suatu penyajian yang terstruktur dari posisi keuangan dan hasil kinerja dari suatu lembaga yang memberikan informasi bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi dan juga untuk menunjukan pertanggung jawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.18

Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukan kondisi bank secara keseluruhan, baik itu terkait kelebihan maupun juga kekurangan dari bank itu sendiri. Laporan keuangan biasanya berisi laporan yang berupa rasio-rasio keuangan hasil kinerja perusahaan selama satu periode. Menurut Kasmir (2012) Jenis-jenis laporan keuangan antara lain sebagai berikut:

a. Neraca

Neraca adalah laporan yang menunjukan posisi keuangan sebuah bank pada waktu tertentu. Posisi keuangan yang dimaksud antara lain posisi Aktiva (harta), Pasiva (kewajiban dan equitas) suatu perbankan.

Penyusunan komponen-komponen didalam neraca didasarkan pada tingkat likuiditas dan jatuh tempo.

18 Rifqy Muhammad, Akuntansi Keuangan Syariah, (Yogyakarta: P3EI Press, 2010), hlm.

116.

(37)

b. Laporan Laba Rugi

Merupakan laporan keuangan yang berisi gambaran terkait jumlah pendapatan, sumber-sumber pendapatan tersebut, jumlah biaya yang dikeluarkan, dan juga jenis biaya-biaya apa saja yang sudah dikeluarkan.

c. Laporan arus Kas

Merupakan laporan yang berisi keseluruhan aspek yang berkaitan dengan bank, baik itu berupa aspek yang berkaitan langsung maupun aspek yang berpengaruh tidak langsung terhadap kas.

d. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsilidasi

Laporan keuangan gabungan merupakan laporan yang berisi seluruh cabang-cabang bank yang bersangkutan baik itu didalam maupun diluar negeri. Sedangkan laporan konsilidasi adalah laporan bank yang bersangkutan dengan anak perusahan.19

3. Metode Analisis Tingkat Kesehatan Bank

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 pasal 2 ayat 3, dijelaskan bahwa dalam menilai tingkat kesehatan bank bisa menerapkan pendekatan resiko / Risk Based Bank Rating (RBBR).

Pendekatan RBBR ini kemudian bisa dirumuskan dalam 4 (empat) indikator tolak ukur kesehatan bank yang terkenal dengan metode RGEC yaitu antara lain:

1. Risk Profile (Profil Resiko)

19 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 242.

(38)

Profil resiko ini pada umumnya terbagi atas 8 macam yaitu antara lain:

a) Resiko Kredit merupakan resiko yang terjadi akibat kegagalan pihak penerima kredit/ pembiayaan untuk memenuhi kewajibannya kepada bank. Resiko ini terjadi apabila kegiatan pemenuhan kewajiban tidak sesuai dengan kontrak awal yang sudah disepakati.

b) Resiko Pasar merupakan merupakan resiko yang timbul akibat pergolakan atau ketidak seimbangan nilai suatu investasi.

Resiko pasar mencakup resiko yang timbul akibat perubahan suku bunga dan nilai tukar. Resiko tingkat suku bunga berkaitan dengan pergerakan suku bunga terhadap repricing gap antara aktiva dan pasiva bank, sedangkan resiko nilai tukar berkaitan dengan potensi kerugian akibat pergerakan nilai tukar mata uang asing/ valas.20

c) Resiko Likuiditas merupakan resiko yang terjadi akibat adanya kegiatan penarikan serentak yang dapat mengakibatkan kebangkrutan dari sebuah bank (kas yang keluar lebih banyak dari pada kas masuk).

d) Resiko Operasional merupakan resiko yang terjadi akibat kegagalan dari pihak internal, seperti karyawan dan penerapan

20 Frianto pandia, Manajemen,... hlm. 152.

(39)

kebijakan. sebagian kecil resiko ini juga dapat berasal dari faktor eksternal.

e) Resiko hukum merupakan resiko yang timbul akibat ketidak pastian hukum, tindakan dan juga penginterpretasian hukum yang diberlakukan.

f) Resiko Strategik merupakan resiko yang timbul akibat kegagalan dalam menentukan strategi yang tepat untuk dijalankan oleh perusahaan perbankan.

g) Resiko Kepatuhan adalah resiko yang terjadi akibat ketidak taatan dari pihak bank terhadap hukum (Perundang-Undangan yang berlaku).

h) Resiko Reputasi merupakan resiko yang timbul akibat rusaknya kepercayaan dari Stakeholders yang bersumber dari persepsi- persepsi negatif tentang bank/ reputasi yang tidak baik dikalangan masyarakat umum.21

Pada indikator profil resiko atau Risk Profile ini rasio keuangan yang digunakan adalah Non Performing Financial (Resiko Kredit), dan Financing to Deposite Ratio (Resiko Likuiditas) yang dirumuskan sebagai berikut:

NPF = 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝑩𝒆𝒓𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝑥100%

21 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh Keuangan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 270.

(40)

FDR = 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏

𝑫𝒂𝒏𝒂 𝑷𝒊𝒉𝒂𝒌 𝑲𝒆𝒕𝒊𝒈𝒂𝑥100%

2. Good Corporate Governance

Merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, karyawan bank, pihak kreditur serta pemerintah yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mereka.

Berdasarkan surat edaran bank Indonesia No. 15/15/DPNP/2013 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance menyatakan bahwa bank wajib melakukan kegiatan usahanya dengan tetap berpedoman pada prinsip-prinsip GCG supaya dapat melindungi kepentingan semua pihak, serta untuk meningkatkan kepatuhan terhadap perundang undangan yang berlaku.

Penilaian terhadap faktor GCG dalam metode RBBR didasarkan kedalam tiga aspek utama yaitu, governance structure, governance process, dan governance output. Berdasarkan ketetapan Bank Indonesia yang dicantumkan pada Laporan Pengawasan Bank. Governance structure meliputi aturan terkait pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi beserta kelengkapan dan pelaksanaan kewajiban komite.

Governance process meliputi fungsi kepatuhan bank, penyelesaian tumpang tindih kepentingan, penetapan fungsi audit intern, penyediaan dana untuk pihak terkait dan dana besar, beserta

(41)

rencana strategis bank. Aspek terakhir governance output mencakup keterbukaan kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG yang sesuai prinsip Transparancy, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness.22

3. Earning (Rentabilitas)

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP/2011, penilaian pada faktor rentabilitas mencakup kegiatan evaluasi terhadap kinerja rentabilitas, penyebab-penyebab rentabilitas, kesinambungan (sustainability) rentabilitas, serta manajemen rentabilitas.

Rentabilitas merupakan aspek yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam meningkatkan keuntungan.

Kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode. Kegunaan aspek ini juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank bersangkutan. Dengan kata lain rasio rentabilitas ini selain berfungsi sebagai penentu kemampuan bank untuk menghasilkan laba, juga sebagai pengukur tingkat efektivitas manajemen selama menjalankan operasionalnya.23 Indikator ini

22 Hening Asih Widyaningrum, Suhadak, dan Topowijono, “Analisis Tingkat Kesehatan Bank dengan Menggunakan Metode Risk Based Bank Rating (RBBR) (Studi Pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam IHSG Tahun 2012” Jurnal Administrasi Bisnis,Vol. 9 No. 2 April 2014. hlm. 4.

23 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya ( Jakarta: Grafindo Persada, 2008 ), hlm.

297.

(42)

juga digunakan untuk menentukan ukuran kemampuan bank untuk meningkatkan labanya dan mengukur tingkat efisiensi serta efektivitas manajemen dalam menjalankan usaha dan kemampuan bank dalam mendukung operasional saat ini dan dimasa mendatang.

Berdasarkan keputusan Direksi bank Indonesia No.

30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 penilaian tingkat rentabilitas dalam menentukan tingkat kesehatan bank merujuk pada dua rasio, yaitu ROA dan juga BOPO. Rasio ROA (Return On Asset) dan BOPO (Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional) dapat dirumuskan sebagai berikut:

ROA = 𝑳𝒂𝒃𝒂 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒆𝒕 𝑥100%

BOPO = 𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍𝑥100%

4. Capital (Permodalan)

Merupakan kecukupan modal yang dimiliki oleh bank untuk menjalankan operasionalnya. Kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan atau setoran modal minimum merupakan salah satu indikator yang sangat penting bagi perbankan. Karena tanpa adanya setoran modal yang cukum maka mustahil kegiatan operasional dapan dijalankan.

Faktor permodalan ini juga sering kali disebut sebagai rasio solvabilitas. Kecukupan modal adalah faktor yang paling utama dan

(43)

menjadi kunci operasional sebuah bank, karena apabila jumlah modal yang ada tidak dapat tercukupi maka operasional perbankan tidak akan dapat dijalankan. Modal itu sendiri terdiri dari modal inti, modal pelengkap dan modal kantor cabang bank asing.24

a. Modal Inti yang terdiri dari modal disetor, Aigo saham, Cadangan Umum, Cadangan tujuan, Laba yang ditahan (Retained Earnings), laba tahun lalu, laba tahun berjalan, dan bagian kekayaan bersih dari anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsilidasikan.

b. Modal Pelengkap merupakan modal yang terdiri atas cadangan yang bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dapat dipersamakan dengan modal modal cadangan ini terdiri dari cadangan revaluasi aktiva, cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, modal kuasi (hybrid capital instrument), dan pinjaman subordinasi.

c. Modal Kantor Cabang Asing merupakan dana bersih kantor cabang dan kantor-kantor cabangnya diluar negeri. Dana bersih tersebut merupakan selisih antara saldo penanaman kantor- kantor cabangnya di dalam negeri pada kantor pusat dan kantor cabangnya diluar negeri.25

24 Frianto, Manajemen Dana,... hlm. 34.

25 Ibid,..., hlm. 35.

(44)

Bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah diwajibkan untuk memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia dalam pasal 11 Undang-Undang No. 1 Tahun 2008 menegaskan bahwa besarnya modal minimum untuk mendirikan Bank Umum Syariah (BUS) ditetapkan dalam peraturan Bank Indonesia.

Pada indikator permodalan ini, penilaiannya dilakukan berdasarkan CAR (Capital Adequency Ratio) yang telah ditetapkan oleh bank Indonesia. Perhitungan CAR dilakukan dengan menentukan perbandingan rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). Rasio kecukupan modal dirumuskan sebagai berikut:

CAR = 𝑴𝒐𝒅𝒂𝒍 𝑩𝒂𝒏𝒌

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝑻𝑴𝑹𝑥100%

Tinggi rendahnya nilai CAR dari suatu bank tergantung pada dua faktor utama diatas yaitu, pertama besarnya modal yang dimiliki bank dan kedua, jumlah aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). Sesuai dengan ketentuan pemerintah, CAR menimum dari setiap bank yang ada di Indonesia sekurang-kurangnya harus mencapai 8%.26

26 Dahlan Siamat, Manajemen Bank Umum, (Jakarta: Intermedia, 1993), hlm. 267.

(45)

4. Peringkat Komposit Kesehatan Bank

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 04/POJK.3/2016 tentang penilaian tingkat kesehatan bank menetapkan bahwa Penilaian komposit tingkat kesehatan bank diterapkan sesuai hasil analisis secara menyeluruh dan terorganisir pada peringkat masing-masing faktor dengan cara mengawasi setiap prinsip general penilaian tingkat kesehatan bank secara umum. Peringkat komposit diklasifikasikan menjadi beberapa bagian bagai berikut:27

1) PK-1 (Peringkat Komposit 1) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan Sangat Sehat, sehingga dalam kondisi ini bank dianggap sudah sangat mampu untuk menghadapi segala resiko dan efek buruk yang timbul dari kondisi persaingan bisnis serta faktor eksternal lainnya.

2) PK-2 (Peringkat Komposit 2) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan dalam kondisi Sehat, dalam kondisi ini bank dinyatakan mampu menjalankan usahanya dan tidak terpengaruh terhadap faktor eksternal yang bersifat negatif.

3) PK-3 (Peringkat Komposit 3) mencerminkan bahwa konsidi bank secara umum Cukup Sehat, sehingga pada kondisi ini bank dinyatakan cukup mampu untuk memenuhi kewajiban serta

27 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 04/POJK.3/2016 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, hlm.10-11.

(46)

menghadapi segala bentuk pengaruh negatif akibat persaingan bisnis yang ada.

4) PK-4 (Peringkat Komposit 4) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan Kurang Sehat, sehingga dalam kondisi ini bank dianggap kurang mampu untuk menghadapi segala resiko dan pengaruh buruk yang muncul dari kondisi persaingan bisnis serta faktor luar lainnya.28

5) PK-5 (Peringkat Komposit 5) merupakan kondisi dimana bank secara umum dinyatakan Tidak Sehat, sehingga dalam kondisi ini bank dianggap tidak mampu untuk menghadapi segala resiko dan pengaruh negatif yang signifikan dari kondisi bisnis atau faktor eksternal lainnya.

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan pada penelitian ini ialah penelitian deskriptif. Adapun penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang berupaya menggambarkan dan menginterpretasi objek secara apa adanya sesuai dengan kenyataan.29 Penelitian ini juga sering kali disebut sebagai penelitian non eksperimen, karena penelitian ini tidak melakukan kontrol dan juga memanipulasi variabel penelitian. Penelitian ini bertujuan

28 Frianto, Manajemen Dana,... hlm. 271.

29Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 147.

(47)

untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi terhadap suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan cara mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.30

2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang berlandaskan pada suatu data yang mengandung makna yang sebenarnya.

Makna dalam suatu data mengandung nilai dan tidak bersifat generalisasi.31 Penelitian dengan pendekatan ini menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan analisis statistik.

3. Kerangka Berfikir

Perbankan yang sangat penting bagi kelangsungan perekonomian suatu negara mengharuskan seluruh pihak untuk terus berupaya memastikan kelancaran operasionalnya agar kondisi perbankan tersebut tetap dalam keadaan sehat. Untuk menjaga eksistensi suatu perbankan agar tetap dalam posisi yang sehat, bank Indonesia telah berupaya untuk merumuskan regulasi yang dapat dijadikan acuan oleh semua pihak. Aturan terkait hal tersebut pertama kali dicantumkan dalam aturan bank Indonesia melalui

30Ibid,...hlm.9.

.

(48)

surat edaran No. 30/3/UPPB tanggal 30 April 1997 menetapkan metode CAMEL untuk menilai tingkat kesehatan bank.

CAMEL merupakan singkatan dari Capital (permodalan), Asset (aktiva), Management (pengelolaan), Earning (rentabilitas), Liquidity (likuiditas). Kemudian untuk lebih menyempurnakan metode tersebut diatas, bank Indonesia kemudian menetapkan peraturan No. 6/10/PBI tahun 2004 dengan memberi tambahan satu indikator penilaian lain yaitu Sensitivity to Market risk (sensitivitas terhadap resiko pasar) sehingga metode tersebut dikenal dengan istilah CAMELS.

Seiring bertumbuh pesatnya progres perbankan dan sengitnya persaingan yang ada, bank kemudian diharuskan mengadakan penilaian sendiri (Self Assessment) secara terstruktur pada tingkat kesehatannya.

Dalam Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 pasal 2 ayat (3) dijelaskan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank diterapkan dengan mengaplikasikan pendekatan resiko (Risk Based Bank Rating) yang terdiri dari indikator Risk Profile (profil resiko), Good Corporate Governance (tata kelola perusahaan), Earning (rentabilitas), dan Capital (permodalan) yang biasa dikenal dengan metode RGEC.

Hasil perhitungan rasio keuangan dari masing-masing indikator yang terdapat dalam metode RGEC kemudian nantinya akan menjadi penentu peringkat kompositnya, sehingga dari sana akan dapat ditentukan apakah Bank BNI Syariah dalam posisi sangat sehat, sehat, cukup sehat, kurang

(49)

sehat, ataupun tidak sehat. Untuk lebih jelasnya maka dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Bagan 1.1 Kerangka Berfikir PT. Bank BNI Syariah

Laporan Keuangan Periode 2016-2020

RGEC

Analisis Rasio Keuangan

Kesehatan Bank

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data merupakan tata cara, langkah atau metode yang digunakan dalam mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Metode dokumentasi merupakan salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan

(50)

dengan mencari informasi berupa catatan, buku, surat kabar, dan dokumen lainnya.

Menurut Arikunto, metode dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya segala sesuatu (barang) yang berbentuk tulisan dan mengandung informasi baik itu tulisan berbentuk foto, transkrip, notulen, berita acara, laporan hasil rapat dan sebagainya.32 Dalam pengaplikasiannya, peneliti menggunakan metode ini untuk memperoleh segala jenis data atau informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini seperti laporan keuangan.

5. Teknik analisis Data

Adapun yang di maksudkan dengan teknik analisis data merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya dalam satu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Dengan kata lain memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari antara dimensi-dimensi uraian.33

Pada pengaplikasiannya, teknik analisis data statistik deskriptif dilakukan dengan memaparkan informasi faktual kemudian mengolah dan menganalisis rasio keuangan yang berkaitan dengan indikator yang terkandung dalam metode analisis kesehatan perbankan syariah yang terdapat dalam laporan keuangan bank BNI Syariah periode 2015-2019.

32Suryani, Hendayadi, Metode Riset Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Pada Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam, (Jakarta: Penada Media Grup, 2015), hlm. 16.

33 Lexy J. Maleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2019) hlm. 103.

(51)

Tahapan dalam proses analisis data pada penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1) Mengumpulkan data-data yang terdapat dalam laporan keuangan Bank BNI syariah pada periode 2016-2020 terkait yang diteliti.

2) Melakukan pemeringkatan masing-masing rasio keuangan setiap indikator RGEC.

3) Menentukan besarnya nilai pringkat komposit masing-masing komponen dari tahun 2016-2020.

H. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini disusun berdasarkan pedoman penulisan skripsi perbankan syariah UIN Mataram fakultas ekonomi dan bisnis islam. Penulisannya menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan ejaan yang disempurnakan berdasarkan kamus besar bahasa indonesia.

Pada bab pertama yaitu pendahuluan, peneliti mengulas secara ringkas mengenai latar belakang masalah yang memunculkan keinginan untuk mengkaji topik permasalahan yang menjadi objek penelitian. Pada bab ini juga diuraikan rumusan masalah dan manfaat dilakukannya penelitian serta telaah pustaka yang berasal dari penelitian terdahulu dan juga serangkaian teori yang bersifat relevan sehingga sangat membantu peneliti dalam menentukan acuan penelitian. Selain itu juga dalam bab ini peneliti memaparkan metode dan juga teknik yang

(52)

dilakukan dalam proses proses pengumpulan dan analisis data penelitian serta kerangka berfikir yang menjadikan batasan penelitian menjadi lebih jelas.

Pada bab kedua berisi paparan data dan temuan yang disajikan dalam bentuk deskriptif tentang gambaran umum lokasi penelitian dan temuan-teuan berupa sejarah terbentuknya bank BNI Syariah, visi dan misi dari bank BNI Syariah, produk-produk dan layanan apa saja yang tersedia pada bank BNI Syariah, struktur organisasi dan jumlah kantor bank BNI Syariah di seluruh Indonesia serta metode analisis yang penulis gunakan dalam menentukan tingkat kesehatan bank BNI Syariah pada periode yang ditentukan.

Pada bab ketiga berisi pembahasan mengenai data-data yang dianalisis dalam penelitian. Data-data atau dokumen yang di analisis pada bab ini secara keseluruhannya bersumber dari laporan keuangan bank BNI Syariah yang dapat diakses pada laman website resmi perusahaan yang diterbitkan secara berkala baik itu selama satu tahun periode atapun semalam tiga bulan sekali (triwulan).

Adapun yang yang dijelaskan dalam bab ini adalah hasil penetapan penilaian tingkat kesehatan bank dan peringkat komposit kesehatan bank yang menentukan keadaan bank tersebut sehat atau tidaknya..

Pada bab keempat ini berisi tentang uraian kesimpulan yang didasarkan dari hasil pembahasan dan analisis penelitian di bab sebelumnya. Pada bab ini penulis juga mengakui keterbatasan yang penulis miliki dengan menyertakan beberapa saran yang diharapkan kedepannya dapat berguna bagi pihak lain yang memiliki minat untuk meneliti permasalahan yang sama.

(53)

BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Berdirinya Bank BNI Syariah

Pendirian Bank BNI Syariah dilandasi oleh visi besar PT. Bank Nasional Indonesia Tbk dalam mengenali potensi perkembangan perekonomian syariah di Indonesia yang notabenya merupakan negara dengan populasi penduduk muslim terbesar didunia. Oleh karena itu, pada tanggal 29 April tahun 2000 Unit Usaha Syariah (UUS) yang merupakan cikal bakal dari terbentuknya bank BNI Syariah mulai beroperasi.

Sejalan dengan Coorporate Plan bank BNI pada tahun 2003 yang menetapkan bahwa status UUS bersifat temporer untuk kemudian dilakukan Spin off. Landasan untuk bank BNI agar dapat mempercepat proses Spin Off dibantu oleh terbitnya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah dan juga Peraturan Bank Indonesia No.11/10/PBI/2009 tanggal 19 Maret 2009 tentang pemisahan Unit Usaha Syariah (UUS) dengan bank konvensional. Pada tahun 2009 ini juga langsung dibentuk tim implementasi Bank Umum Syariah (BUS) yang akan mentransformasikan Unit Usaha Syariah (UUS) BNI menjadi PT Bank BNI Syariah.

Pada tanggal 19 Juni 2010 bank BNI Syariah resmi beroperasi sebagai Bank Umum Syariah (BUS) setelah sebelumnya menerima Surat Keputusan

39

Referensi

Dokumen terkait