BAB II TINJAUAN PUSTAKA
H. KerangkaTeori
FAKTOR
TINGKAT PENGETAHUAN
Tahu
Paham
Aplikasi
Analisis
Sintesis
Evaluasi 7
MEMPENGARUHI SIKAP
Pengalaman pribadi
Pengaruh orang lain
Pengaruh kebudayaan
Media masa
Lembaga pendidikan
Emosional 8
FUNGSI KELUARGA
Sosialisasi
Pengawasan / control sosial
Fungsi proteksi
KEBIASAAN MEROKOK PADA
REMAJA
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
B. Definisi Operasional Variabel
No. Variabel Defenisi Cara ukur Alat ukur Skala ukur Ordinal 1, Variabel Independen
Pengetahuan adalah data dan informasi yang digabung dengan kemampuan, intuisi, pengalaman,
Wawancara kuesioner Baik : 0 benar
>75%
dari skore 15
PENGETAHUAN SIKAP RIWAYAT
KELUARGA
KEBIASAAN MEROKOK REMAJA
40
gagasan,
motivasi dari sumber yang kompeten.
Sedang : 1 benar 45-75%
dari skore 9- 15
Kurang : 2 benar
<45 dari skore
< 9
Sikap kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Wawancara kuesioner Baik : 0 benar
>75%
dari skore 15
Sedang : 1 benar 45-75%
dari skore 9-15
Kurang : 2 benar
<45 dari skore
< 9
Riwayat Keluarga
adalah sekumpulan orang dengan ikatan
perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga
wawancara kuesioner 0 : baik : ada anggota keluarga yang meroko- k.
1:
kurang : tidak ada anggota keluarga yang meroko- k.
2. Variabel dependent Cara ukur Alat ukur Skala ukur Ordinal
Kebiasaan merokok
adalah aktivitas seseorang yang merupakan respons orang tersebut terhadap rangsangan dari luar yaitu faktor- faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok dan dapat diamati secara langsung.
Wawancara kuesioner 0 : terbiasa meroko k ; 1 batang /hari
1: tidak terbiasa meroko k : waktu tertentu
2 : tidak pernah meroko- k : tidak pernah menghis -ap rokok.
C. Kriteria Objektif.
1. Pengetahuan.
0 = Tingkat pengetahuan baik apabila jawaban responden benar > 75%
atau memiliki skore > 15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
1 = Tingkat pengetahuan sedang apabila jawaban responden benar 45-75%
atau memiliki skore 9-15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
2 = Tingkat pengetahuan kurang apabila jawaban responden benar < 45 atau memiliki skore < 9 dari seluruh pertanyaan yang ada.
2. Sikap.
0 = Tingkat pengetahuan baik apabila jawaban responden benar > 75%
atau memiliki skore > 15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
1 = Tingkat pengetahuan sedang apabila jawaban responden benar 45-75%
atau memiliki skore 9-15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
3 = Tingkat pengetahuan kurang apabila jawaban responden benar < 45 atau memiliki skore < 9 dari seluruh pertanyaan yang ada.
3. Riwayat Keluarga.
0 = Ada anggota keluarga yang merokok.
1 = Tidak ada anggota keluarga yang merokok
4. Kebiasaan merokok.
0 = Terbiasa merokok :Menghisap rokok setiap hari minimal 1 batang per hari.
1 = Tidak terbiasa merokok : Tidak menghisap rokok setiap hari atau hanya pada waktu tertentu saja.
2 = Tidak pernah merokok : Tidak pernah menghisap rokok D. Hipotesis Penelitian
1. Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan, sikap, dan riwayat keluarga dengan kebiasaan merokok pada remaja.
2. H1 : Ada hubungan antara pengetahuan, sikap, dan riwayat keluarga dengan kebiasaan merokok pada remaja.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey bersifat analitik dengan rancangan cross sectional, yaitu menggambarkan hubungan pengetahuan, sikap, dan riwayat keluarga remaja terhadap kebiasaan merokok.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi
Penelitian ini dilakukan di SMK Gunung Sari 1 Makassar 2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai tanggal 26 Maret sampai dengan 26 April tahun 2015
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid kelas sepuluh dan sebelas di SMK Gunung Sari 1 Makassar dengan jumlah 128 orang.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara purposive sampling.
Populasi yang jumlahnya 128 diambil secara acak agar setiap populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Untuk menentukan besar sampel digunakan Rumus SLOVIN.
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebagai berikut :
45
a. Kareteria inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Notoatmodjo, 2002) yaitu :7
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Jenis kelamin laki – laki .
2) Usia remaja 13 – 21 tahun.
3) Kelas sepuluh dan sebelas di SMK Gunung Sari 1 Makassar 4) Bersedia menjadi informan.
b. Kareteria eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Notoatmodjo, 2002).7
Kareteria eksklusi pada penelitian ini adalah murid wanita, siswa laki- laki yang tidak hadir disekolah pada saat pengambilan sampel, dan siswa yang tidak meneyelesaikan atau menjawab kuesioner dikelas sepuluh dan sebelas di SMK Gunung Sari 1 Makassar.
Rumus :
N n =
1+N(d2) Keterangan :
N : Besar Populasi
n : Besar Sampel
D : Tingkat Kepercayaan / Ketepatan yang diinginkan N = 128
d = (0,05) Maka :
128 128
n = =
1+ 128 (0,O52) 1+ 0,32 128
= = 9,6 (97) 1,32
= 100 orang
D. Metode Pengumpulan Data 1. Data Primer
Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara langsung menggunakan kuesioner.
2. Data Sekunder
Data diambil dari catatan Kantor Tata Usaha di SMK Gunung Sari 1 Makassar, yaitu jumlah seluruh murid laki-laki setiap kelas.
E. Aspek Pengukuran
Aspek pengukuran adalah mengukur kebiasaan responden yang meliputi pengetahuan, sikap, dan riwayat keluarga. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert (Sugiono, 2002).37
Berdasarkan jumlah nilai diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :
0 = Tingkat pengetahuan baik apabila jawaban responden benar > 75% atau memiliki skore > 15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
1 = Tingkat pengetahuan sedang apabila jawaban responden benar 45-75%
atau memiliki skore 9-15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
2 = Tingkat pengetahuan kurang apabila jawaban responden benar < 45 atau memiliki skore < 9 dari seluruh pertanyaan yang ada.
F. Pengetahuan
Pengetahuan dapat diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah diberi bobot. Jumlah pertanyaan sebanyak 10 dengan total skore sebanyak 20 yaitu dengan criteria sebagai berikut :
1. Untuk jawaban mempunyai 3 pilihan :
Jawaban (a) = 2
Jawaban (b) = 1
Jawaban (c) = 0
2. Berdasarkan jumlah nilai diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :
0 = Tingkat pengetahuan baik apabila jawaban responden benar > 75%
atau memiliki skore > 15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
1 = Tingkat pengetahuan sedang apabila jawaban responden benar 45-75% atau memiliki skore 9-15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
2 = Tingkat pengetahuan kurang apabila jawaban responden benar < 45 atau memiliki skore< 9 dari seluruh pertanyaan yang ada.
G. Sikap
Sikap dapat diukur dengan pemberian skore terhadap jumlah kuesioner yang telah diberi bobot. Jumlah pertanyaan 10 yang diajukan, total skore 20 dengan criteria berikut :
Jawaban (a) = 2
Jawaban (b) = 1
Jawaban (c) = 0
Berdasarkan jumlah nilai diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :
0 = Tingkat pengetahuan baik apabila jawaban responden benar > 75% atau memiliki skore > 15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
1 = Tingkat pengetahuan sedang apabila jawaban responden benar 45-75%
atau memiliki skore 9-15 dari seluruh pertanyaan yang ada.
2 = Tingkat pengetahuan kurang apabila jawaban responden benar < 45 atau memiliki skore < 9 dari seluruh pertanyaan yang ada.
H. Keluarga
0 = Menjawab ada 1 = Menjawab tidak ada
I. Kebiasaan Merokok
Pada kebiasaan merokok terdiri dari 1 pertanyaan tentang jumlah batang rokok yang dihisap per hari, kriterianya adalah :
0 = Terbiasa merokok : Menghisap rokok setiap hari minimal 1 batang /hari.
1 = Tidak terbiasa merokok : Tidak menghisap rokok setiap hari atau hanya pada waktu tertentu saja.
2 = Tidak pernah merokok : Tidak pernah menghisap rokok
J. Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Editing, yaitu memeriksa, mengamati apakah semua pertanyaan telah
terjawab, jawaban yang ada atau tertulis dapat dibaca atau tidak, konstitensi jawaban ada/tidaknya kekeliruan lain yang mungkin dapat mengganggu proses pengolahan data.
2. Koding, yaitu melakukan pengkodean terhadap setiap jawaban agar proses pengolahan data lebih mudah.
3. Evaluating, yaitu proses penilaian pada setiap jawaban yang diberikan oleh responden.
4. Entri data, yaitu proses memasukkan data yang dibantu oleh komputer.
K. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan program computer yaitu uji chi square dan fisher exact test yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan riwayat keluarga remaja dengan kebiasaan merokok.
Apabila dari uji chi square tidak memenuhi syarat maka dilanjutkan dengan uji fisher exact.
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
SMK Gunung Sari 1 Makassar merupakan salah satu sekolah suwasta yang ada di kota Makassar dan terletak dekat di jalan poros menuju Kabupaten Gowa. SMK Gunung Sari 1 Makassar terdiri dari 13 kelas dan 4 jurusan. Jumlah semua siswa–siswi dikelas 1 sampai 13 adalah 353 pelajar. Berdasarkan jenis kelamin maka kedua kelas ini terdiri dari 128 orang laki–laki dan 225 perempuan.
B. Analisis Univariat
1. Kategori Responden Bersarkan Pengetahuan
Tabel 1.1. Distribusi responden berdasarkan kategori pengetahuan tentang rokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar tahun 2015 Pengetahuan jumlah persen
Baik 15 15,0
Sedang 68 68,0
Kurang 17 17,0
Jumlah 100 100,0
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 1.1. diketahui bahwa pengetahuan dengan kategori sedang lebih banyak daripada kategori pengetahuan baik dan kurang yaitu dimana ketegori pengetahuan sedang ada sebanyak 68 orang (68,0%),
51
kategori pengetahuan kurang ada sebanyak 17 orang (17,0%), dan kategori pengetahuan baik ada sebanyak 15 orang (15,0%).
2. Kategori Responden Berdasarkan Sikap
Tabel 1.2. Distribusi responden berdasarkan kategori sikap tentang rokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar tahun 2015
Sikap Jumlah Persen
Baik 14 14,0
Sedang 66 66,0
Kurang 20 20,0
Jumlah 100 100,0
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 1.2. diketahui bahwa responden yang mempunyai sikap dengan kategori sedang adalah yang paling dominan sebanyak 66 orang (66,0%), kategori kurang ada sebanyak 20 orang (20,0%), dan kategori baik ada sebanyak 14 orang (14,0%).
3. Kebiasaan Merokok Responden
Kebiasaan merokok responden terdiri dari tiga kategori yaitu biasa merokok, tidak biasa merokok, tidak pernah merokok dapat dilihat pada tabel 1.3. berikut.
Tabel 1.3. Distribusi responden berdasarkan kategori kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar tahun 2015
Kebiasaan merokok Jumlah Persen
Menghisap rokok setiap hari
minimal 1 batang perhari 29 29,0
Tidak menghisap rokok setiap
hari atau hanya pada waktu 37 37,0
tertentu saja
Tidak perna menghisap rokok 34 34,0
Jumlah 100 100,0
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 1.3. diketahui bahwa responden yang paling banyak adalah responden yang termasuk dalam kategori tidak menghisap rokok setiap hari atau hanya pada waktu tertentu saja yaitu sebanyak 37 orang (37,0%), kategori biasa merokok atau menghisap rokok setiap hari minimal 1 batang perhari ada sebanyak 29 orang (29,0%), dan kategori tidak pernah merokok atau tidak pernah menghisap rokok ada sebanyak 29 orang (29,0%).
C. Analisis Bivariat
1. Hubungan Pengetahuan Responden Tentang Rokok Dengan Kebiasaan Merokok
Analisis bivariat ini menggunakan pengelompokan variabel independen dan variabel dependen, Untuk melihat hubungan pengetahuan responden dengan kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar dapat dilihat pada tabel 1.4. berikut.
Tabel. 1.4. Hubungan Pengetahuan Responden Tentang Rokok Dengan Kebiasaan Merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar tahun 2015
Sumber: data primer
Berdasarkan tabel 1.4. diketahui bahwa pengetahuan responden kategori sedang mempunyai kebiasaan merokok yaitu biasa merokok adalah yang paling banyak yaitu 5 orang (4,6%) karena mempunyai baik skor > 15, tidak biasa merokok ada sebanyak 11 orang (11,4%) karena mempunyai baik skor > 15, biasa merokok ada sebanyak 24 orang (24,4%) karena mempunyai kurang skor < 15, sedangkan tidak biasa merokok ada sebanyak 60 orang (59,6%) karena mempunyai kurang skor < 15. Dari hasil uji chi square didapat nilai p=0,829 >0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada
Pengetahuan
Kebiasaan Merokok
OR
(95% CI) Nilai P Biasa
Merokok
Tidak Biasa Merokok
n % N %
Baik Skor > 15 5 4,6 11 11,4
1,136 (0,357- 2,3169)
0,829 Kurang Skor < 15 24 24,4 60 59,6
Total 29 29,0 71 71,0
54
hubungan antara pengetahuan responden tantang rokok dengan kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar.
2. Hubungan Sikap Responden Tentang Rokok Dengan Kebiasaan Merokok Untuk mengetahui hubungan sikap responden dengan kebiasaan
merokok kategori sikap responden sedang yang mempunyai kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar dapat dilihat pada tabel 1.5.
Tabel 1.5. Hubungan sikap responden tentang rokok dengan kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar tahun 2015
Sumber : data primer Sikap
Kebiasaan Merokok
OR (95% CI)
Nilai P Biasa
Merokok Tidak Biasa Merokok
N % N %
Baik Skor > 15 5 41 9 9,9
1,136 (0,436-
4,720)
0,550 Kurang Skor < 15 24 24,9 62 61,1
Total 29 29,0 71 71,0
Berdasarkan tabel 1.5. dapat diketahui bahwa sikap responden dengan kategori sedang mempunyai kebiasaan merokok yaitu biasa merokok adalah yang paling banyak yaitu ada sebanyak 5 orang (41%) karena memunyai baik skor > 15, tidak biasa merokok ada sebanyak 9 orang (9,9%) karena mempunyai baik skor > 15, biasa merokok ada sebanyak 24 orang (24,9%) karena mempunyai kurang skor < 15, sedangkan terbiasa merokok ada sebanyak 62 orang (61,1%) karena mempunyai kurang skor <15. Dari hasil uji chi square di dapatkan nilai p=0,550 >0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan sikap responden tentang rokok dengan kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar.
3. Hubungan Riwayat Keluarga Responden Yang Merokok Dengan Kebiasaan Merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar Tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 1.6. berikut.
Tabel 1.6. Hubungan riwayat keluarga responden yang merokok dengan kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar tahun
2015
Sumber : data primer
Berdasarkan tabel 1.6. diketahui bahwa responden yang mempunyai kebiasaan merokok yatu biasa merokok dari keluarga yang merokok adalah
Riwayat Keluarga
Kebiasaan Merokok
OR (95% CI)
Nilai P Biasa
Merokok
Tidak Biasa Merokok
N % N %
Baik Skor > 15 24 24,4 60 59,6
1,136 (0,436-
4,720)
0,829 Kurang Skor < 15 5
4,6 11 11,4
Total 29 29,0 71 71,0
yang paling tinggi sebanyak 24 orang (24,4%) karena mempunyai baik skor> 15, tidak biasa merokok ada sebanyak 60 orang (59,6%) karena mempunyai baik skor > 15, biasa merokok ada sebanyak 5 orang (4,6%) karena mempunyai kurang skor < 15, sedangkan tidak biasa merokok ada sebanyak 11 orang (11,4%) karena mempunyai kurang skor < 15. Dari hasil analisis statistik dengan uji chi square didapat nilai p=0,829 >0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan riwayat keluarga yang merokok dengan kebiasaan merokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar.
BAB VI PEMBAHASAN
A. Hubungan Pengetahuan Responden Dengan Kebiasaan Merokok
Sesuai dengan pendapat peneliti sebelumnya bahwa pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.8 Mengacu pada tingkatan pengetahuan yang disebutkan diatas dapat dijelaskan bahwa siswa di SMK Gunung Sari 1 Makassar dominan mempunyai pengetahuan kategori sedang tentang rokok tetapi kebiasaan merokok yang tinggi juga. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kebiasaan merokok. Dalam hal ini respondennya hanya sekedar mengetahui namum belum mampu memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Hal ini didukung oleh peneliti sebelumnya yang mengatakan bahwa jumlah perokok dikalangan remaja tinggi meskipun telah mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan dan menyebutkan bahwa 20% dari total perokok di Indonesia adalah remaja dengan rentang usia 15 – 22 tahun.20
Dari hasil peneliti sebelumnya yang berjudul Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Tentang Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Dengan Tindakan Merokok Pelajar SMK Kristen Kawangkoan, mendapatkan hasil bahwa secara umum pengetahuan responden tentang bahaya merokok dapat dikategorikan baik. Hal ini menunjukkan sebagian besar responden tahu dengan
59
baik tentang bahaya merokok bagi kesehatan, senyawa kimia dalam rokok, kerugian ekonomi, perokok pasif, dan polusi udara.21
Pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang memengaruhi perilaku seseorang, mereka yang berpengetahuan tinggi diharapkan berperilaku positif.
Pada penelitian ini, pengetahuan tentang rokok bukan merupakan prediktor perilaku merokok pada perokok remaja. Pengetahuan mereka tentang merokok berada pada kategori tinggi.
Salah satu cara meningkatkan pengetahuan remaja dilakukan pelatihan pola pengasuhan anti-merokok. Sebuah studi dilakukan untuk menjelaskan pengaruh pelatihan pengasuhan anti merokok terhadap pengetahuan dan perilaku remaja terhadap merokok dengan menunjukkan pengaruh antara pengetahuan dan perilaku merokok. Pelaksanaan pengasuhan anti smoking diukur dengan reaksi orangtua terhadap merokok, aturan yang diterapkan di rumah, isi dan frekuensi komunikasi tentang merokok. Hubungan antara pelatihan dan tingkat pengetahuan hampir semuanya signifikan.
Beberapa pelatihan kurang berhubungan dengan merokok seperti komunikasi tentang risiko kesehatan merokok, risiko gangguan sistem pernapasan karena merokok, penambahan kualitas rokok dan perhatian untuk merokok di sekolah. Faktor lain yang berhubungan dengan peningkatan kesempatan merokok antara lain meliputi hadiah untuk tidak merokok, frekuensi komunikasi tentang merokok, harga rokok, dan mempunyai teman yang merokok. Pengaruh pengasuhan sangat bervariasi berdasarkan status merokok
orang tua atau gender yang dimiliki remaja. Beberapa pelatihan yang dijalankan lebih dititikberatkan untuk pengetahuan remaja yang beranjak dewasa. 22
B. Hubungan Sikap Responden Dengan Kebiasaan Merokok
Tingkat sikap responden tentang rokok di SMK Gunung Sari 1 Makassar yang kategorinya sedang tetapi mempunyai kebiasaan merokok sebanyak 66 orang (66,0%) dan responden kategori sikapnya baik dan mempunyai kebiasaan merokok ada sebanyak 14 orang (14,0%) sedangkan responden dengan kategori sikap kurang dan mempunyai kebiasaan merokok 20 0rang (20,0%). Hasil analisa menggunakan uji chi square hubungan antara sikap responden dengan kebiasaan merokok diperoleh nilai probabilitas 0,550 >0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara sikap dengan kebiasaan merokok, dimana walaupun sikap responden lebih banyak pada kategori sedang tetapi masih banyak juga yang merokok. Hal ini disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhi remaja merokok bukan hanya sikap saja tetapi banyak faktor lain.
Hubungan yang signifikan dan positif antara sikap terhadap perilaku dan niat merokok remaja. Remaja cenderung percaya bahwa merokok terlihat lebih gaul dan matang, serta merasa dapat diterima teman-teman.11 Remaja yang sekolah di kawasan tanpa rokok (KTR) berpeluang 3,2 kali lebih tinggi untuk bersikap positif dan 2,6 kali lebih tinggi untuk berhenti merokok dibandingkan remaja sekolah tidak KTR.22 Hanya 57% responden bersikap positif terhadap perilaku merokok.22
Menurut peneliti sebelumnya menyatakan bahwa hampir sebagian remaja memahami akibat-akibat yang berbahaya dari rokok tetapi mereka tidak mencoba menghindari perilaku tersebut. Ternyata ada banyak alasan yang melatar belakangi. Perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu artinya bahwa perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh lingkungan dimana pada remaja mulai mengalami krisis aspek psikososial yang masa perkembangannya yaitu masa sedang mencari jati dirinya.25
C. Hubungan Riwayat Keluarga Yang Merokok Dengan Kebiasaan Merokok
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 24 orang (24,4%) responden yang biasa merokok dari anggota keluarga yang merokok dan tidak ada anggota keluarga yang merokok sebanyak 5 orang (4,6%). Dari hasil analisa dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil probabilitas 0,829 <0,05, dapat dusimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga dengan kebiasaan merokok.
Keluarga berperan strategis membentuk sikap remaja merupakan sekolah dan tempat pembelajaran pertama seorang remaja. Orangtua merupakan teladan bagi anak-anak, interaksi yang mendalam antara orang tua dan anak, melahirkan karakter yang mirip. Orangtua adalah model bagi seorang anak (remaja). Hasil penelitian yang dilakukan oleh huver didapatkan responden mempunyai satu atau lebih anggota keluarga yang merokok cukup tinggi 75,7%
namun dalam penelitian tersebut uji bivariat menunjuakan tidak ada hubungan
yang signifikan antara faktor keluarga (nilai p = 0,715) dengan perilaku merokok responden.23
Transmisi vertikal perilaku dilakukan oleh orangtua berupa sikap permisif orangtua terhadap perilaku merokok. Orangtua atau saudara yang merokok merupakan agen imitasi yang baik. Jika keluarga tidak ada yang merokok, maka sikap permisif orangtua merupakan pengukuh positif atas perilaku merokok. Penelitian di Yogyakarta, menemukan sikap permisif orangtua terhadap perilaku merokok remaja merupakan predictor perilaku merokok remaja (38,4%).24
Hasil penelititan sebelumnya di Kota Bogor, menemukan sekitar 60%
siswa SMP mempunyai orangtua merokok. Risiko perokok pada siswa yang orangtua merokok adalah 2,44 kali lebih besar daripada siswa yang orangtuanya tidak merokok.25
Hasil penelitian lain menunjukkan jumlah yang lebih banyak dari kerabat yang merokok dan pemantauan orangtua terkait dengan tahap merokok.25 Data tersebut menegaskan peran penting rumah tangga dalam menginisiasi remaja merokok. Orangtua merokok dianggap sebagai bentuk legitimasi merokok bagi anak-anak mereka.
Orangtua merokok merupakan sumber penting kerentanan terhadap inisiasi merokok di kalangan remaja dan orangtua yang berhenti merokok menipiskan kerentanan tersebut.27 Penelitian lain menemukan prevalensi merokok yang berbeda pada remaja yang tinggal di rumah tangga yang
mempunyai dan tidak mempunyai aturan larangan merokok. Hal tersebut menunjukkan dampak larangan merokok rumah tangga bagi para remaja yang tinggal dengan perokok (OR = 1,55; 95% CI = 1,21 _ 1,99) dan yang tidak tinggal dengan perokok (OR = 1,53; 95% CI = 1,26 _ 2,22). Pada anak remaja, orangtua yang merokok berhubungan secara signifikan dengan risiko yang lebih tinggi permulaan merokok. Risiko permulaan merokok anak-anak dengan orangtua yang merokok meningkat sesuai dengan durasi mereka terpapar dengan orangtua yang merokok. Hal ini mendukung hubungan dosis-respons antara orangtua yang merokok dengan keturunan mereka yang merokok. Anak-anak dari orangtua yang telah berhenti merokok berisiko merokok lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dengan orangtua yang tidak pernah merokok.
Pengaruh orangtua yang merokok pada permulaan merokok keturunan mereka berbeda berdasarkan jenis kelamin, pengaruh lebih besar pada laki-laki dibandingkan wanita. Berdasarkan periode perkembangan, umur sebelum 13 tahun pengaruh lebih kuat dibandingkan dengan setelah umur tersebut.
Berdasarkan tempat tinggal orangtua, pengaruh lebih besar jika tinggal di rumah yang sama. Orangtua yang merokok juga berhubungan dengan reaksi negatif yang lebih kuat terhadap remaja pada saat pertama kali mengisap rokok yang akan meningkatkan potensi risiko perkembangan merokok ke level yang lebih tinggi.28
Perilaku orang tua mendorong prilaku meniru seorang anak (remaja) terhadap orang tua. Remaja yang tinggal serumah dengan orang tua yang
merokok dan sering melihat mereka merokok akan melakukan peniruan (imitasi) perilaku merokok. Orang tua menjadi model tingkah laku anakanak, termasuk perilaku merokok.
BAB VII
TINJAUAN ISLAM
A. Merokok Dalam Pandangan Islam
Dari Abu Shagrafth Umar Bin Baladraf As-Sala mengatakan bahwa : Sesungguhnya Allah ta`ala mengutus Nabi Muhammad SAW dengan petunjuknya dan agama yang hak, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan dan membersihkan serta mensucikan hati mereka dari kotoran kekufuran dan kefasikan dan membebaskan mereka dari belenggu penghambaan kepada selain Allah SW. Dia Rasululullah SAW membersihkan manusia dari kesyirikan dan kehinaan kepada selain Allah dan memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dengan merendahkan diri dan mencintainya dan meminta serta memohon kepadanya dengan penuh harap dan takut. Dia juga mensucikan manusia dari setiap kebusukan ma`siat dan perbuatan dosa, maka Dia melarang manusia atas setiap perbuatan keji dan buruk yang dapat merusak hati seorang hamba dan mematikan cahayanya dan agar menghiasinya dengan akhlak mulia dan budi pekerti luhur serta pergaulan yang baik untuk membentuk pribadi muslim yang sempurna. Maka dari itu, Allah S.A.W menghalalkan setiap sesuatu yang baik dan mengharamkan setiap yang keji, baik makanan, minuman, pakaian,pernikahan, dan lainnya. Termasuk yang diharamkan karena dapat menghilangkan kesucian adalah merokok, karena berbahaya bagi fisik
66