Lokasi Wisata
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil analisis, maka dapat disimpulkan beberapa potensi dan masalah yang terkait jalan tol di Kabupaten Boyolali yaitu:
5.1.1 Potensi
1. Pemicu pengembangan wilayah sekitar karena pengaruh accessibility yang semakin tinggi.
Keberadaan jalan tol di Kabupaten Boyolali memiliki dampak positif bagi perkembangan wilayah di sekitar jalan tol. Karena dengan semakin tingginya tingkat pergerakan atau aksesibilitas kendaraan juga akan menstimulasi tumbuhnya pusat keramaian baru seperti kawasan perdagangan, rest area, atau tempat wisata yang tentunya akan meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Boyolali. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa terdapat tiga lokasi yang berpotensi akan tumbuh pusat keramaian baru (kawasan perdagangan,rest area, atau tempat wisata), yaitu : a. Desa Kragilan Kecamatan Mojosongo
Interchange Desa Kragilan berjarak relatif dekat dengan jalur utama Semarang-Solo yaitu Jalan Pandanaran (± 1,5 km) dan juga dengan kawasan perkotaan Boyolali (± 5 km). Hal tersebut akan memudahkan akses ke pusat kota jika lewat jalan tol. Selain itu akan menstimulasi semakin tumbuhnya pusat keramaian baru seperti kawasan perdagangan dan rest area serta akan meningkatkan tingkat perekonomian sekitar interchange. Kondisi lokasi Interchange di Desa Kragilan ini serupa dengan kondisi Interchange di Ungaran.
b. Desa Ngesrep Kecamatan Ngemplak
Merupakan salah satu lokasi simpul masuk jalan tol di Kabupaten Boyolali yang langsung terkoneksi dengan kawasan bandara Adi Sumarmo maka hal tersebut akan meningkatkan bangkitan pergerakan di Desa Ngesrep dan berpotensi menumbuhkan pusat keramaian baru seperti kawasan perdagangan dan rest area.
c. Desa Sawahan Kecamatan Ngemplak
Interchange Desa Sawahan berjarak relatif dekat dengan Kota Solo. Hal tersebut akan memudahkan akses ke Kota Solo jika lewat jalan tol dari luar kota. Selain itu akan menstimulasi tumbuhnya pusat keramaian baru seperti kawasan perdagangan dan rest area di sepanjang jalan dari lokasi Interchange hingga Kota Solo. Dengan tumbuhnya pusat keramaian baru maka tingkat perekonomian sekitar interchange juga akan semakin meningkat.
2. Penghematan biaya perjalanan (general cost) bagi pelaku pergerakan.
Salah satu permasalahan yang muncul akibat bertambahnya jumlah kendaraan adalah semakin tingginya tingkat kemacetan, tak terkecuali di jalur Semarang-Surakarta. Salah satu alternatif untuk mengatasi kemacetan adalah dengan membangun jalan baru. Rencana pembangunan jalan tol di Kabupaten Boyolali merupakan salah satu alternatif tersebut. Selain itu dengan adanya jalan
tol nantinya juga akan menghemat biaya perjalanan dari Semarang ke Surakarta ataupun sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa Interchange Desa Sindon yang terhubung langsung dengan Kawasan Bandara Internasional Adi Sumarmo akan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang akan menuju ke bandara melalui jalan tol karena dengan adanya jalan tol akan menghemat waktu tempuh dan biaya.
5.1.2 Masalah
1. Berkurangnya daerah resapan air dan tingkat produksi pertanian.
Perubahan tata guna lahan dengan adanya pembangunan jalan tol di Kabupaten Boyolali dari lahan pertanian/ perkebunan/ hutan menjadi badan jalan yang memiliki jenis perkerasan tinggi, akan mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air. Bedasarkan data penggunaan lahan eksisting diketahui bahwa lebih dari 60% penggunaan lahan di sekitar jalan tol merupakan daerah sawah irigasi yang berfungsi selain sebagai penghasil bahan makanan pokok juga dapat berfungsi sebagai daerah resapan. Berikut merupakan lokasi di Kabupaten Boyolali yang mengalami berkurangnya daerah resapan air dan tingkat produksi pertanian dampak dari pembangunan jalan tol.
Tabel V. 1
Lokasi Daerah Resapan Air Dan Pertanian Yang Berkurang di Kabupaten Boyolali
No Desa Kecamatan Luas Daerah Pertanian
yang Berkurang (Ha) Keterangan
1. Ngampon Ampel 2,00
2. Selodoko Ampel 1,05
3. Karanggeneng Boyolali 1,69
4. Mudal Boyolali 2,40
5. Kiringan Boyolali 3,65
6. Metuk Mojosongo 9,60
7. Kragilan Mojosongo 3,36
8. Brajan Mojosongo 13,80
9. Gumukrejo Teras 8,40
10. Mojolegi Teras 8,25
11. Tanjungsari Banyudono 4,175
12. Trayu Banyudono 6,50
13. Bangak Banyudono 4,00
14. Denggungan Banyudono 12,00
15. Kenteng Nogosari 0,40
16. Ngargorejo Ngemplak 6,45
17. Sobokerto Ngemplak 6,30
18. Ngesrep Ngemplak 6,30
19. Sindon Ngemplak 9,60 Masuk Kategori LP2B
20. Dibal Ngemplak 9,30 Masuk Kategori LP2B
21. Donohudan Ngemplak 2,70 Masuk Kategori LP2B
22. Pandeyan Ngemplak 24,30 Masuk Kategori LP2B
23. Sawahan Ngemplak 8,40 Masuk Kategori LP2B
TOTAL 154,625
Sumber : Hasil Analisis, 2015
Dari tabel di atas diketahui lahan pertanian yang hilang akibat dampak dari pembangunan jalan tol di Kabupaten Boyolali adalah seluas 154,625 Ha. Adapun terdapat beberapa lahan pertanian
yang masuk ke dalam kategori Perlindungan Lahan Pertanian dan Pangan Berkelanjutan (LP2B) maka fungsi lahan pertanian harus tetap dipertahankan. Selain itu dengan adanya perubahan guna lahan tersebut, diperlukan suatu rencana alternatif untuk membuat daerah resapan baru sebagai pengganti daerah resapan yang hilang.
2. Terganggunya ekosistem makhluk hidup.
Salah satu permasalahan dengan pembangunan jalan tol di Kabupaten Boyolali adalah adanya penebangan pohon dan penyempitan lahan pertanian. Hal tersebut sudah pasti akan menggangu ekosistem makhluk hidup yang tinggal di daerah pembangunan jalan tol. Selain itu dengan banyaknya pohon yang ditebang akan dapat mengurangi produksi oksigen di daerah tersebut dan juga akan meningkatkan polusi dikarenakan banyaknya kendaraan yang melintas di jalan tol tersebut. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan ruang-ruang hijau baru untuk dapat mengurangi dampak peningkatan polusi udara di sekitar jalan tol.
3. Hubungan sosial antar warga desa atau dukuh menjadi renggang.
Jalan tol ternyata dapat memisahkan dua atau lebih desa maka tata laku antar warga desa yang sebelumnya bersebelahan kemudian dipisahkan oleh jalan tol akan berdampak pada hubungan sosial antar kedua warga desa tersebut. Berdasarkan dari peta rencana jalan tol diketahui terdapat desa-desa di Kabupaten Boyolali yang tidak terdapat rencana jalur alternatif sebagai penghubung antar dukuh atau desa yang terputus akibat jalan tol. Adapun desa-desa tersebut yaitu Desa Ngampon Kecamatan Ampel, Desa Ngargorejo, Desa Sobokerto, Desa Ngesrep, dan Desa Sawahan Kecamatan Ngemplak. Berdasarkan hal tersebut diperlukan adanya akses alternatif yang dapat menghubungkan antar dukuh atau desa yang terputus akibat jalan tol.
4. Meningkatnya bangkitan pergerakan di sekitar Jalan Tol.
Selain di lokasi Interchange Tol di Kabupaten Boyolali seperti di Interchange Desa Kragilan, Desa Denggungan, Desa Sindon dan Desa Sawahan yang memiliki kapasitas jalan penghubung relatif sempit yang dapat mengakibatkan kemacetan lalulintas. Terdapat juga beberapa lokasi di sekitar jalan tol yang memliki kecenderungan juga dapat mengakibatkan kemacetan lalulintas akibat adanya rencana kawasan industri di sekitar jalan tol yang dapat meningkatkan bangkitan pergerakan yaitu di Desa Selodoko, Desa Sidomulyo, dan Desa Ngargosari Kecamatan Ampel, Desa Ngargorejo serta Desa Sobokerto Kecamatan Ngemplak. Permasalahan kemacetan yang mungkin muncul dapat diantisipasi dengan melakukan pelebaran jalan.
5.2 REKOMENDASI
Rekomendasi atau saran yang dapat diberikan terkait jalan tol di Kabupaten Boyolali sebagai berikut:
1. Untuk mengatasi berkurangnya daerah resapan air dan tingkat produksi pertanian dapat melakukan beberapa hal berikut yaitu :
a. Perlu meningkatkan usaha intensifikasi pertanian agar tingkat produksi pertanian tetap terjaga.
b. Untuk lahan pertanian yang terkena dampak jalan tol berupa sawah irigasi perlu diperhatikan saluran irigasinya agar tetap dapat berfungsi optimal.
c. Perlu penanaman pepohonan di sekitar sempadan jalan tol yang berfungsi sebagai resapan air.
d. Pembuatan sumur-sumur resapan di sekitar jalan tol yang juga dapat yang berfungsi sebagai resapan air.
2. Dengan adanya jalan tol otomatis tingkat polusi udara akan semakin meningkat. Maka diperlukan antisipasi dengan penanaman pepohonan di sekitar sempadan jalan tol terutama yang dekat dengan kawasan permukiman yang berfungsi untuk mengurangi polusi udara dan polusi suara serta sebagai resapan air.
3. Guna meminimalisir dampak sosial yang mungkin terjadi, maka Pengelola (Pemerintah/ Investor) agar memperhatikan keberadaan jalan lokal yang ada. Apabila jalan tol yang ada akan memisahkan dua atau lebih desa maka diperlukan akses penghubung (underpass atau overpass) antar desa atau dukuh yang dilalui jalan tol sehingga hal tersebut akan membantu pergerakan antar warga desa. Adapun desa-desa yang memerlukan adanya akses alternatif yaitu Desa Ngampon Kecamatan Ampel, Desa Ngargorejo, Desa Sobokerto, Desa Ngesrep, dan Desa Sawahan Kecamatan Ngemplak.
4. Dengan adanya jalan tol bangkitan pergerakan terutama di lokasi sekitar Jalan Tol akan semakin meningkat. Hal tersebut akan mengakibatkan rawan kemacetan arus lalulintas dan rawan kecelakaan lalulintas lokasi sekitar Jalan Tol. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya pelebaran jalan, peningkatan marka jalan dan rambu-rambu lalulintas di Desa Selodoko, Desa Sidomulyo, dan Desa Ngargosari Kecamatan Ampel, Desa Ngargorejo serta Desa Sobokerto Kecamatan Ngemplak
5. Pada saat dilakukan studi ini, pembangunan jalan tol masih dalam pelaksanaan (belum selesai).
Oleh karena itu, studi ini dapat dipertajam lebih lanjut setelah konstruksi jalan tol selesai.