• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada evaluasi program pembelajaran sejarah lokal pada program studi pendidikan sejarah di Uhamka, kesimpulan penelitian ini adalah :

1. Perencanaan program pembelajaran sejarah lokal di prodi sejarah Uhamka sudah dilakukan dengan baik. Langkah awal prosedur perencanaan adalah mengadakan rapat semester yang membahas sebaran mata kuliah di semester berjalan dan dilaksanakan dengan mengundang dosen pengampu mata kuliah. Pada tahap ini, perencanaan sudah memenuhi standar Dikti, Masing-masing dosen pengampu diserahkan dokumen RPS sesuai mata kuliah yang diampu untuk dapat dijadikan bahan perubahan RPS selanjutnya. Tahapan perencanaan selanjutnya adalah pengembangan RPS. Sebagai bagian dari perencanaan dapat dinyatakan belum mencapai standar Dikti. Hal ini dibuktikan dengan penyusunan dokumen pembelajaran RPS tidak mengalami perubahan pada materi ajar, materi ajar masih mempertahankan materi tahun sebelumnya. Pada tahap lanjut dokumen RPS tidak dikoordinasikan dari dosen pengampu sebelumnya, sehingga ada miskonsepsi pembelajaran sejarah lokal, selain itu dosen pengampu yang diamanahkan tidak merubah isi atau materi pembelajaran yang sudah ada.

Dokumen RPS hanya berubah pada kolom tahun pembuatan dengan tidak merubah isi. Dampak dari tidak berubahnya dokumen RPS, mengakibatkan capaian lulusan (learning outcome) sejarah lokal tidak tercapai. Sejarah lokal sebagai salah satu mata kuliah pada program studi pendidikan sejarah yang disusun untuk menyiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang memiliki kemampuan untuk menjadi entrepreuner bidang kesejarahan atau menjadi pemandu wisata, baik di museum atau pun diluar museum. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya penguasaan konsep sejarah lokal.

2. Permasalahan yang melingkupi program pembelajaran sejarah lokal adalah a) materi pembelajaran sejarah lokal, b) metode pembelajaran dan c) pustaka yang digunakan. yang belum menyentuh langsung keilmuan sejarah lokal. Materi pembelajaran hanya satu pertemuan yang membahas tentang sejarah lokal.

Selama pembelajaran sejarah lokal, materi yang disampaikan belum mengalami perubahan sejak tahun 2017 hingga 2018. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dokumen RPS belum mencapai standar dikti yang telah ditetapkan, sehingga membutuhkan evaluasi pada program pembelajaran sejarah lokal.

- Terkait metode pembelajaran sejarah lokal, metode yang digunakan oleh desen pengampu mata kuliah hanya ceramah dan diskusi kelompok tanpa mencoba untuk mengkolaborasi dengan metode lain. Dibutuhkan metode pembelajaran yang berbeda untuk dapat menumbuhkan daya kreatifitas mahasiswa dan menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah. Pemilihan metode pembelajaran ceramah dapat dpahami karena materi yang disiapkan dalam dokumen pembelajran RPS sejarah lokal dianggap tidak menghendaki adanya penggunaan metode lain. Materi tokoh lokal dengan metode discovery learning akan menjadi materi yang menarik. Mahasiswa akan mengeksplorasi kemampuan akademik mahasiswa dalam mencari sumber sejarah terbarukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada standar isi pembelajaran, dokumen pembelajaran sejarah lokal belum mencapai standar dikti yang ditetapkan.

- Terkait daftar pustaka, dalam dokumen RPS masih belum menggunakan sumber jurnal atau artikel sebagai bagian dari perkembangan ilmu dalam 10 tahun terakhir. Rujukan buku tetap dibutuhkan, namun perlu didukung dengan sumber lain yang terus mengalami percepatan informasi keilmuan, termasuk hasil penelitian dan pengabdian dosen yang dapat dijadikan rujukan dalam dokumen RPS. Dengan demikian, dapat disimpulkan terkait pustaka dalam dokumen RPS belum mencapai standar dikti yang telah ditetapkan.

3. Upaya program studi sebagai pelaksana visi dan misi universitas senantiasa harus membuat terobosan dalam mengantisipasi hal-hal yang berpotensi tidak tercapainya learning outcome suatu program pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan selain melaksanakan rapat tinjauan RPS juga penting untuk membuat rapat koordinasi antar dosen pengampu, hal ini diharapkan dapat meminimalisir tidak tercapainya starndar dikti. Kaprodi sebagai personal yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut harus melaksanakan tugas dengan baik. Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan supervise terhadap dosen untuk memperbaiki

dokumen perkuliahan setiap awal semester, mahasiswa diwajibkan untuk menemukan sumber belajar sejarah disekitar diri, tempat tinggal atau kampus, sebagai bagian dari anggota masyarakat dan civitas akademika.

B. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan, maka rekomendasi pada penelitian ini adalah :

1. Pimpinan dan dosen perlu melakukan lokakarya atau rapat tinjauan dokumen sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan mempertahankan mutu pembelajaran dalam rangka mencapai learning outcome setiap mata kuliah yang disampaikan dapat mengundang ahli atau membentuk tim serumpun ilmu.

Dokumen RPS, yang berkaitan dengan materi, metode dan pustaka menjadi kajian yang harus menjadi perhatian khusus baik oleh dosen pengampu ataupun oleh pimpinan. Perhatian khusus ini akan berdampak langsung kepada mahasiswa sebagai lulusan dari program studi pendidikan sejarah. Untuk itu diperlukan pengawasan terhadap dokumen RPS dalam rangka meningkatkan standar pembelajaran.

2. Sejarah lokal memberi kontribusi dalam menguatkan profil lulusan Pendidikan sejarah Uhamka sebagai pemandu wisata atau entrepreneur bidang pendidikan dan pariwisata sejarah/budaya selain menjadi pendidik bidang Pendidikan Sejarah, untuk itu penting bagi Pimpinan dan Dosen Pengampu untuk segera merumuskan dan menyusun buku pembelajaran sejarah lokal di perguruan tinggi berdasarkan temuan penelitian sehingga buku pembelajaran sejarah lokal dapat juga dimanfaatkan oleh guru dan mahasiswa.

3. Evaluasi sebagai sebuah siklus penjaminan mutu, perlu dijalankan dengan baik dan berkesinambungan. Diperlukan untuk menyusun standar pembelajaran sejarah lokal pada tingkatan perguruan tinggi, sehingga dapat bermanfaat bagi lulusan saat mengabdikan di sekolah. Mendesak kepada pemerintah untuk membuat aturan tentang keharusan memasukkan sejarah lokal pada setiap pokok bahasan yang relevan dengan kondisi tempat sekolah berada pada setiap satuan pendidikan (dapat berupa supplemen sejarah nasional disetiap wilayah di Indonesia).

Dokumen terkait