• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENALAN BUDAYA INDONESIA DAN KAMBOJA

4. KESIMPULAN

Ada banyak cara yang dapat dilakukan dalam proses pengajaran bahasa Jerman dengan pendekatan kebudayaan. Walaupun pendekatan kebudayaan tidak dapat disampaikan dalam proses pengajaran bahasa Jerman sebagai topik khusus dari sebuah tema, tetapi dapat selalu diintegrasikan dengan kemahiran bahasa Jerman seperti membaca atau mendengar atau dengan metode audio visual melalui video seperti yang telah dianalisa dalam penelitian ini.

Pengajar bahasa Jerman membutuhkan daya kreativitas yang cukup tinggi dalam mempersiapkan pelajaran bahasa Jerman yang mengandung unsur Landeskunde. Para pengajar diharapkan tidak hanya terpaku dengan buku pegangan untuk pengajar bahasa Jerman, melainkan juga diharapkan untuk aktiv mencari materi tambahan dari berbagai macam buku lain atau bahkan materi digital yang dapat digunakan secara cuma-cuma. Materi digital online memiliki banyak sekali kelebihan yang dapat menunjang proses pengajaran bahasa Jerman dengan menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan tidak monoton.

Selain itu penggunaan materi digital juga sangat efisien. Materi dapat diunduh langsung dari internet. Sebagian besar materi online dapat diunduh tanpa pungutan biaya sehingga dapat langsung digunakan untuk pelajaran bahasa Jerman di kelas. Dalam pengajaran bahasa Jerman, pendekatan kebudayaan yang diberikan tidak hanya berhubungan dengan sejarah saja

11 Assoziogramm adalah sebuah grafik yang menunjukkan suatu topik besar yang masih berhubungan erat dengan beberapa topik-topik kecil.

188

melainkan segala informasi terbaru perlu juga disampaikan. Oleh sebab itu materi digital dapat membantu para pengajar untuk mendapatkan akses informasi yang up to date.

Dalam „Deutschlandlabor“ para pembelajar paling tidak dapat memperoleh gambaran secara umum mengenai negara Jerman beserta masyarakat dan kebudayaannya bagi pembelajar yang sama sekali belum memiliki informasi latar belakang mengenai negara Jerman. Melalui berbagai video yang ditampilkan dengan 20 tema yang berbeda, para pembelajar yang sudah terlanjur memiliki stereotype tertentu mengenai negara Jerman dapat merefleksikan kembali apakah stereotype tersebut dapat dipercaya dan benar apa adanya.

Lalu bagaimana peranan latihan-latihan yang telah disiapkan oleh Goethe Institut berkaitan dengan video yang memiliki 20 seri dengan topic Landeskunde ini? Untuk setiap video terdapat latihan yang akan diberikan sebagai pengantar topik dari video tersebut. Para pembelajar diharapkan untuk saling bertukar informasi mengenai topik yang sedang dibicarakan. Dengan berbagai macam latar belakang, pastinya terdapat berbagai macam informasi yang berbeda-beda di antara para pembelajar bahasa Jerman.

Setelah itu terdapat berbagai macam latihan yang berkaitan dengan video-video interaktif, dimana titik berat fungsi lembar latihan pada bagian ini adalah untuk melatih kompetensi bahasa para pembelajar bahasa Jerman. Setelah itu pada bagian akhir biasanya para pembelajar diharapkan untuk dapat berdiskusi satu sama lain atau bertukar pikiran lalu merefleksikan apa yang telah mereka diskusikan dengan apa yang telah mereka lihat dari video-video yang dibuat oleh Goethe Institut.

Yang harus diperhatikan bagi para pengajar bahasa Jerman saat mereka mengumpulkan materi digital dari internet untuk pelajaran Landeskunde dalam kelas yaitu sumber-sumber informasi yang didapat dari internet harus benar-benar terpercaya sehingga tidak memberikan informasi yang tidak sesuai kepada para pembelajar bahasa Jerman. Selain itu topik yang akan dibicarakan di dalam diskusi kelas sebaiknya disesuaikan dengan kelompok pembelajar bahasa Jerman, misalnya sesuai umur atau tujuan pelajaran bahasa Jerman. Jika lembaran latihan yang telah disiapkan oleh Goethe Institut dianggap belum sesuai, para pengajar harus bertindak kreatif dan dapat menggantikan latihan yang sesuai dengan kelompok pembelajar tertentu.

Pendekatan kebudayaan dalam pengajaran bahasa Jerman diharapkan dapat menjadi bahan refleksi para pembelajar bahasa Jerman, bukan untuk membentuk stereotype tentang

189

Jerman terhadap para pembelajar bahasa Jerman. Kehadiran penutur asing dalam proses pengajaran bahasa Jerman akan memiliki nilai lebih karena para penutur asing tersebut dapat memberikan gambaran dari sudut pandang mereka yang tidak dapat disampaikan oleh pengajar bahasa asing yang bukan penutur asing. Jadi tema stereotype dalam pengajaran bahasa Jerman sangat baik jika digabungkan dengan kompetensi bahasa yang lain. Seperti halnya dalam penelitian ini, stereotype tentang Jerman disampaikan melalui metode pengajar audio visual, dimana para pembelajar dapat melatih kompetensi mendengar mereka dan di saat yang bersamaan mereka mendapatkan informasi pendekatan kebudayaan secara tidak langsung.

5. DAFTAR ACUAN

Erdmenger, Manfred (1996): Landeskunde im Fremdsprachenunterricht, cetakan I, Max Hueber: Ismaning.

Seelye, H. Ned (1976): Analyse und Unterrichten des interkulturellen Kontexts, dalam:

Werber, Horst: Landeskunde im Fremdsprachenunterricht: Kultur und Kommunikation als didaktisches Konzept, München 1976, hal. 9-49.

Voerkel, Paul (2014): Richtig, nichtig oder wichtig? Zur Rolle von Stereotypen im (kulturwissenschaftlich orientierten) Fremdsprachenunterricht, dalam: Filho, Ebal Sant'Anna Bolacio: Kulturdidaktik im Unterricht Deutsch als Fremdsprache: Deutsch lehren und lernen kooperativ-kompetent-kreativ, cetakan I, Apa-Rio 2014, hal. 140- 164.

Sumber Internet

https://www.goethe.de/de/spr/ueb/dlb/gel.html (Video 1: Keuangan) https://www.goethe.de/de/spr/ueb/dlb/fbl.html (Video 2: Sepakbola) https://www.goethe.de/de/spr/ueb/dlb/men.html (Video 3: Mentalitas)

190

KONTEKS KULTURAL HOSHII ‘INGIN’

DAN HOSHIGATTEIRU ‘KELIHATANNYA INGIN’

DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG

Filia

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia

ABSTRACT

This paper examines a cultural context that found in Japanese words hoshii ‘want’ and hoshigatteiru ‘wants’. The data are collected from sentences that made by students who are learning Japanese in intermediate level. The sentences collected from assessment (Japanese Level Four/Intermediate Japanese). The reason for selecting the data are: (i) the sentences are not edited, (ii) the senteces vary so the contexts obtained are various. The cultural context which is reflected in the Japanese sentences can be seen in: (i) the construction of sentences, and (ii) the point of view of writers. Intercultural competence becomes an important part in language teaching, then this concept should be included in the test or assessment of language as an integral part in language teaching.

Keywords: Japanese, Intermediate, Assessment, sentences, cultural context

1. PENDAHULUAN

Penggunaan kata hoshii ‘ingin’ dalam bahasa Jepang telah dipelajari pada kelas bahasa Jepang tingkat dasar. Klausa saya ingin mobil baru jika dipadankan dalam bahasa Jepang adalah watashi wa atarashii kuruma ga hoshii. Konstruksi kalimat itu diuraikan sebagai berikut.

私は新しい車がほしい。

Watashi wa atarashii kuruma ga hoshii.

saya TOP baru mobil NOM ingin

‘Saya ingin mobil baru.’

Kata hoshii ‘ingin’ digunakan jika subjek merupakan pronomina persona pertama (watashi

‘saya’). Jika subjek merupakan pronomina persona ketiga, kata hoshii berkonjugasi menjadi hoshigatte iru (hoshiihoshi i + gatte iru).

彼は新しい車がほしがっている。

191

Kare wa atarashii kuruma ga hoshigatte iru.

dia TOP baru mobil NOM ingin

‘Dia (kelihatannya) ingin mobil baru.’

Meskipun penggunaan kata hoshii dan hoshigatteiru telah disampaikan kepada pemelajar bahasa Jepang pada tingkat dasar, kekeliruan atas penggunaan hoshii masih ditemukan dalam asesmen bahasa Jepang tingkat menengah. Hal itu dapat dilihat dalam data berikut ini.

(1)

リーさんは旅行がほしいから貯金している。

Rii-san wa ryokoo ga hoshii kara (nama orang)-SUF TOP wisata NOM ingin karena

chokin shite-iru.

menabung-PRESENT CONTINOUS

‘Ri menabung karena ingin berwisata/jalan-jalan.’

(2)

妹はプレゼントがほしい。

Imooto wa purezento ga hoshii.

adik perempuan saya TOP hadiah NOM ingin

‘Adik perempuan saya ingin hadiah’

192

Anggapan atas terjadinya kekeliruan itu dikarenakan kata hoshii ‘ingin’ dapat digunakan dalam kalimat yang memiliki subjek pronomina persona ketiga namun dengan penambahan partikel kuotatif to dan verba iimashita ‘mengatakan’. Kalimat tersebut dapat dilihat pada (3).

(3)

彼は新しい車がほしいと言った。

Kare wa atarashii kuruma ga hoshii to itta.

dia TOP baru mobil NOM ingin QUOT mengatakan- PAST

‘Dia mengatakan bahwa (ia) ingin mobil baru.’

‘Dia katanya ingin mobil baru.’

Pada kalimat (3) , kata hoshii ‘ingin’ dapat digunakan karena kalimat itu menyampaikan kutipan orang ketiga (hoshii to itta ‘berkata bahwa (ia) ingin’). Jika tidak menyampaikan kutipan, format yang sesuai dengan kaidah morfsintaksis adalah hoshigatteiru ‘kelihatannya ingin’.

Penjelasan mengenai penggunaan hoshii untuk subjek pronomina persona pertama dan hoshigatteiru untuk subjek pronomina ketiga tampaknya tidak cukup dengan paparan dalam tataran morfosintaksis. Konteks kultural yang melatarbelakangi penggunaan hoshii dan hoshiigatteiru perlu disampaikan dalam pengajaran kemahiran bahasa Jepang.

Pokok bahasan dalam tulisan ini adalah konteks kultural penggunaan kata hoshii ‘ingin’

dan hoshigatte iru ‘kelihatannya ingin’ dalam kalimat bahasa Jepang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil asesmen bahasa Jepang tingkat menengah. Data yang dicermati adalah kalimat-kalimat yang menggunakan kata hoshii ‘ingin’. Data yang berhasil dijaring sebanyak tiga puluh kalimat, namun data yang disajikan dalam analisis tulisan ini sebanyak tiga kalimat.

Kerangka teoretis yang digunakan dalam tulisan ini adalah morfosintaksis bahasa Jepang dan teori teritori informasi (joohoo no nawabari riron). Teori teritori informasi dalam bahasa Jepang merupakan bagian atau inklusi dari nosi wakimae dalam budaya Jepang. Nosi wakimae sebagai payung besar yang menaungi teori teritori informasi, konsep uchi-soto/in group-out group, tachiba/peran, kedudukan.

193 2. ANALISIS DAN DISKUSI

Berdasarkan data yang diperoleh, ditemukan tiga puluh kalimat yang menggunakan kata hoshii ‘ingin’ pada kalimat yang memiliki subjek pronomina persona ketiga. Dalam analisis disajikan tiga kalimat dari tiga puluh kalimat tersebut.

(4)

私たちの家は狭いから、母は広い家がほしい。

Watashitachi no ie wa semai kara, kami GEN rumah TOP sempit karena,

haha wa hiroi ie ga hoshii.

ibu TOP luas rumah NOM ingin

‘Ibu saya ingin rumah yang luas karena rumah kami sempit.’

Subjek/topik pada kalimat (4) adalah haha ‘ibu saya’. Kata haha ‘ibu saya’ merupakan pronomina persona ketiga. Menurut kaidah gramatikal bahasa Jepang, jika subjek merupakan pronomina persona ketiga, kata hoshii ‘ingin’ berkonjugasi menjadi hoshigatteiru

‘kelihatannya ingin’. Meskipun demikian, pemelajar bahasa Jepang mengalihbahasakan kata ingin pada klausa ibu ingin rumah yang luas dengan hoshii ‘ingin’ bukan hoshigatte-iru

‘kelihatannya ingin’. Hal ini dapat dimengerti karena padanan kata ingin dalam bahasa Jepang ialah hoshii. Selain itu, dalam bahasa Indonesia, kata ingin digunakan baik untuk pronomina persona pertama maupun ketiga. Dalam bahasa Indonesia, jika subjek berupa pronomina persona ketiga, tidak perlu ditambahkan kata kelihatannya sebelum kata ingin.

Kalimat bahasa Jepang yang menggunakan kata hoshii ‘ingin’ dalam kalimat bersubjek pronomina persona ketiga juga ditemukaan pada data (5) dan (6).

(5)

パソコンが壊れているので、兄は新しいのがほしい。

Pasokon ga kowarete-iru node, komputer NOM rusak karena

ani wa atarashii no ga hoshii.

194

Kakak laki-laki (saya) TOP baru N NOM ingin

‘Karena komputer rusak, kakak (laki-laki saya) ingin yang baru.’

Subjek/topik pada kalimat (5) adalah ani ‘kakak laki-laki saya’. Kata ani ‘kakak laki-laki saya’ merupakan pronomina persona ketiga. Kata ingin pada klausa kakak (laki-laki saya) ingin yang baru dipadankan dengan kata hoshii ‘ingin’ oleh pemelajar bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang, kata hoshii ‘ingin’ hanya dapat digunakan untuk subjek pronomina persona pertama. Hal itu dikarenakan logika pemikiran bahwa orang yang benar-benar tahu akan suatu keinginan adalah orang yang bersangkutan. Oleh karena itu kata hoshii ‘ingin’ hanya dapat digunakan untuk subjek pronomina persona pertama, contohnya watashi ‘saya’.

Data (6) berikut ini memiliki subjek watashi no tomodachi ‘teman saya’. Frase watashi no tomodachi juga termasuk pronomina persona ketiga walaupun di dalamnya terdapat kata watashi ‘saya’. Kata watashi ‘saya’ pada watashi no tomodachi ‘teman saya’

merupakan bagian dari konstruksi posesif.

(6)

誕生日の時、私の友達はブランドのかばんがほしい。

Tanjoobi no toki, watashi no tomodachi wa ulang tahun GEN waktu saya GEN teman TOP

burando no kaban ga hoshii.

merk GEN tas NOM ingin

‘Teman saya ingin tas bermerk sebagai hadiah ulang tahun.’

Kalimat yang hendak dialihbahasakan adalah teman saya ingin tas bermerk sebagai hadiah ulang tahun. Pengalihbahasaan yang terdapat pada (6), yaitu tanjoobi no toki, watashi no tomodachi wa burando no kaban ga hoshii ‘waktu ulang tahun, teman saya ingin tas bermerk’, tidak tepat. Kalimat bahasa Jepang yang lazim adalah watashi no tomodachi wa tanjoobi no purezento ni burando kaban ga hoshigatteiru. Meskipun demikian, hal mengenai penerjemahan tidak dibahas secara detail dalam tulisan ini. Berkaitan dengan penggunaan

195

kata hoshigatteiru dan pronomina persona ketiga, kalimat (4), (5) dan (6) secara kaidah gramatikal seharusnya disampaikan dalam kalimat (7), (8), (9) berikut.

(7)

私たちの家は狭いから、母は広い家がほしがっている。

Watashitachi no ie wa semai kara, kami GEN rumah TOP sempit karena,

haha wa hiroi ie ga hoshigatteiru.

ibu TOP luas rumah NOM kelihatannya ingin

‘Ibu saya (kelihatannya) ingin rumah yang luas karena rumah kami sempit.’

(8)

パソコンが壊れているので、兄は新しいのがほしがっている。

Pasokon ga kowarete-iru node, komputer NOM rusak karena

ani wa atarashii no ga hoshigatteiru.

Kakak laki-laki (saya) TOP baru N NOM (kelihatannya)

ingin

‘Karena komputer rusak, kakak (laki-laki saya) (kelihatannya)ingin yang baru.’

(9)

私の友達は誕生日のプレゼントにブランドかばんがほしがっている。

Watashi no tomodachi wa tanjoobi no saya GEN teman TOP ulang tahun GEN

196

purezento ni burando kaban ga hoshigatteiru.

hadiah sebagai bermerk tas NOM kelihatannya ingin

‘Teman saya (kelihatannya) ingin tas bermerk sebagai hadiah ulang tahun.’

Berikut ini disampaikan penjelasan secara eksplanatoris mengenai alasan mengapa kalimat dengan subjek pronomina persona pertama dapat menggunakan kata hoshii ‘ingin’ sedangkan subjek dengan pronomina persona ketiga tidak dapat menggunakannya.

Dalam teori joohoo no nawabari riron atau yang disebut juga dengan teori teritori informasi (Kamio, 1990), teritori informasi persona ketiga berada di luar teritori informasi persona pertama. Dengan perkataan lain, apa yang sebenarnya yang menjadi keinginan persona ketiga berada di luar teritori persona pertama. Persona pertama (‘saya’, ‘aku’) hanya dapat menduga keinginan persona ketiga. Oleh karena itu, kata hoshii ‘ingin’ tidak tepat digunakan dalam klausa/kalimat bersubjek pronomina persona ketiga. Keinginan yang berada dalam ranah atau teritori persona ketiga dinyatakan oleh persona pertama dengan morfem – gatte-iru ‘kelihatannya’,’tampaknya’.

Teritori Informasi ‘saya’ Teritori Informasi ‘dia’

Gambar 1. Teritori PP1 dan PP3 Keterangan:

PP1 (Pronomina Persona 1) PP2 (Pronomina Persona 2)

Penggunaan hoshii ‘ingin’ untuk PP1 dan hoshigatteiru ‘kelihatannya ingin’ untuk PP3 mencerminkan kesadaran teritori informasi yang dihayati penutur bahasa Jepang. Kesadaran akan ranah informasi yang berada di luar otoritasnya (dalam hal ini ranah informasi persona ketiga) juga berkaitan dengan kesantunan.

1.

dia

saya PP1

PP3 …hoshigatteiru

(dia) kelihatannya ingin…

…hoshii (saya) ingin…

197

Gambar 2 . Keterkaitan Teori Teritori Informasi dengan Kesantunan

Kesadaran akan teritori atau ranah informasi yang berada di luar otoritas penutur terlihat dalam bukti/pemarkah linguistik dalam format hoshigatteiru.

Keterangan:

PP3 Pronomina Persona 3 N Nomina

FN Frase Nominal ga Partikel Nominatif

Wakimae

Gambar 3. Hubungan Wakimae, Kesantunan dan Teori Teritori Informasi Kesantunan

Teori Teritori Informasi

PP3 N/FN ga hoshigatteiru

kelihatannya ingin

Kesantunan

Teori Teritori Informasi

198

Hal yang lebih luas yang melatarbelakangi penggunaan hoshii dan hoshigatteiru (secara gramatikal) adalah konteks kultural. Wakimae dianggap sebagai konteks kultural komunikasi bahasa Jepang. Nilai yang disampaikan dalam wakimae ialah kepantasan, pengakomodasian petutur yang diperlihatkan melalui bukti-bukti linguistik. Format hoshigatteiru ‘kelihatannya ingin’ dianggap sebagai salah satu bukti linguistik yang memperlihatkan kepantasan melalui kesadaran penutur akan ranah/teritori informasi pihak lain yang berada di luar otoritasnya.