1. Alat aplikasi pestisida memiliki banyak jenis, adapun jenis alat aplikasi pestisida yang digunakan untuk pengendalian yaitu spraying semi manual, spraying cangklong manual, spraying gendong otomatis, spraying semi gendong manual, spraying manual, dan fogging.
2. Setiap alat aplikasi pestisida memiliki bagian – bagian tersendiri sesuai dengan jenis alatnya, adapun bagian – bagian dari masing – masing alat aplikasi yang digunakan, yaitu sebagai berikut :
a. Spraying semi manual : selang, tangki, pengatur spray, tuas pompa, nozzel, penahan spray, tombol spray, pegangan tangan, dan straps
b. Spraying cangklong manual : Manometer, Tangki pompa, Tangkai pompa, Selang pengeluaran, Pengatur, Pompa, Klep pengaman, Nozzel, dan Stik.
c. Spraying gendong otomatis : Tangki dari bahan plat tahan karat, Unit pompa, piston dari kulit, Tangkai pompa, Saluran penyemprot, Manometer, Selang karet, Piston pompa, Katup pengatur aliran cairan keluar dari tangka, Katup pengendali aliran cairan bertekanan yang ke luar dari selang karet, Laras pipa penyalur aliran cairan bertekanan dari selang menuju ke nosel, dan Nosel.
d. Spraying semi gendong manual : Selang, Tuas pengungkit , Tuas pompa, Tangki pestisida, Kran, Tuas penyemprot, Unit pompa, Stik pompa atau tangkai, Saluran penyemprotan kran, Manometer, Sebuk penggendong, Selang karet, Piston pompa atau batang torak, Tutup lubang tangka, Nozzle, dan Pipa penyemprot
e. Spraying manual : Nozzle, Tuas pompa, Tempat memasukkan air, Botol tangka, dan Selang pompa
f. Fogging : Soket pipa pengabut, Pipa larutan bahan kimia, Keran larutan bahan kimia, Pipa tekanan udara, Pompa, Busi, Karburator, Katup udara, Tanki bahan bakar, Tanki larutan bahan kimia, dan Nozle/pengatur output, Tabung batu baterai, Pipa pendingin dan resonator, dan Tabung pengabut.
3. Setiap bagian – bagian dari alat aplikasi pestisida memiliki fungsi tersendiri sesuai dengan jenis dari alat aplikasi tersebut termasuk jenis
aplikasinya, adapun fungsi bagian – bagian alat aplikasi pestisida secara garis besar yaitu, Tangki, untuk sebagia tempat larutan, Pengatur spray, untuk mengatur tekanannya cairan yang dikeluarkan, Tuas pompa, untuk menyedot cairan dari dari dan kemudian dialirkan ke alat penyemprot , Nozzel, untuk memecah cairan menjadi partikel halus dan memperhalus larutan sehingga jangkauan luas dan merata, Penahan spray, sebagai pegangan untuk memompa, Tombol spray, sebagai pengendali aliran cairan bertekanan yang keluar dari selang, dan Pegangan tangan, untuk memegang agar memudah saat membawa.
4. Setiap alat aplikasi petisida memiliki kegunaannya masing – masing sesuai dengan jenis alatnya, yaitu alat sprayer secara garis besar kegunaannya untuk aplikasi pestisida cair atau pestisida yang dilarutkan dengan air dan alat fogging secara garis besar kegunaannya yaitu untuk untuk membunuh sebagian besar vektor infektife dengan cepat, sehingga rantai penularan segera dapat diputuskan.
5. Setiap alat aplikasi petisida memiliki prinsip kerja masing – masing sesuai dengan jenis alatnya, yaitu alat sprayer secara garis besar prinsip kerjanya yaitu memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang menyerupai kabut dan fogging secra garis besar kegunaannya yaitu untuk membuat kabut halus dengan tekanan.
6. Setiap alat aplikasi petisida memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing sesuai dengan jenis alatnya, yaitu alat sprayer secara garis besar kekurangan dan kelebihanya alat yang mudah dan paling sesuai digunakan dan mampu menampung kapasitas air dan hasil penyemprotan kurang efektif, tidak efesien, beberapa alat mudah rusak, dan fogging secra garis besar kelebihan dan kekurangannya yaitu untuk meng-cover daerah yang luas dalam waktu cepat dan membunuh nyamuk dewasa bila campuran dan cara penyemprotannya tepat, sedangkan kelemahan dari alt ini yaitu sifat pengendaliannya hanya sementara.
7. Cara merawat dari masing – masing alat aplikasi pestisida, yaitu simpan alat pada tempat khusus jangan simpan sprayer bersama mesin pertanian, cuci bersih sprayer yang telah digunakan, pastikan seluruh komponen telah bersih dari residu herbisida, keringkan alat yang sudah dicuci, dan pada bagian pompa, bersihkan dengan hati – hati.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, B. S. (2009). Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalamperspektif praktek pertanian yang baik (good agriculturalpractices). Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian, 2(1), 65-78.
Agrios, George W. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Djafaruddin. 2000. Dasar Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Jakarta : Bumi Aksara.
Djojosumarto, P., 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta : Kanisius Gunadi, G. V., Taraima, B., & Rehena, Z. (2015). Peningkatan
perilakupencegahan dampak pestisida pada kesehatan petani. Jurnal PengabdianKepada Masyarakat, 26(3), 109-113.
Herman.2011 . Penyakit-penyakit Tanaman Hortikutura di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Herwanto S. 1998. Pestisida Dasar-Dasar Dan Dampak Penggunaanya. Jakarta : Gramedia.
Hidayat,2001. Handsprayer (Alat Penyemprot) Pertanian. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Jurado-Expósito, M., de Castro, A. I., Torres-Sánchez, J., Jiménez-Brenes, F. M. &
López Granados, F. (2019). Papaver rhoeas l. Journal Mapping with cokriging using uav imagery. Precision Agriculture, 20(5), 1045- 1067.
Kariani.N. 2008. Hubungan Antara Lama Paparan Pengetahuan dan Perilaku Dengan Aktivitas Cholinesterase Darah Petani. Surabaya : Airlangga university.
Koleva, N.G., Schneider, U.A., 2009. The impact of climate change on the external cost of pesticide applications in US agriculture. International Journal of Agricultural Sustainability, 7(3), 203-216.
Le Cointe, R., Simon, T. E., Delarue, P., Hervé, M., Leclerc, M., & Poggi, S.(2016).
Reducing the use of pesticides with site-specific application:
thechemical control of Rhizoctonia solani as a case of study for themanagement of soil-borne diseases. Journal PLoS One, 11(9) : 119 – 120.
Mahyuni, E. L. (2015). Faktor risiko dalam penggunaan pestisida pada petani di Berastagi Kabupaten Karo 2014. Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Daulan, 9(1), 25014.
Mukti, G. W., Sadeli, A.H., & Kusno, K. (2018). Penguatan kapasitaskewirausahaan petani muda hortikultura skala kecil di kecamatanparongpong, kabupaten bandung barat. Jurnal Kumawula, 1(1), 50-61.
Noorbetha Julayli, Mukarlina & Tri Rima Setyawati. 2013. Pengendalian Hama pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Menggunakan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.). Jurnal Protobiont Vol 2(3). Hlm: 171- 175.
Pirdaus, Subli. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan (Buku Ajar).
Bandarlampung : Universitas lampung.
Pracaya. 2007. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. Medan : USU Press.
Pramudya, I. B. P. 2010. Cemaran Pestisida Fosfat-Organik di Air Danau Buya Buleleng Bali. Jurnal Kimia, 2(1): 7-14.
Sedlar, A., Đukić, N., Bugarin, R., Višacki, V., & Vasić, F. (2022). Mašine zaaplikaciju sredstva za zaštitu bilja. Journal Biljni Lekar, 50(3), 167-194.
Sudarmo, RM. 1997. Pengendalian Serangga Hama Sayuran dan Palawija. Jakarta:
Kanisius.
Suharno, Benidiktus. 2005. Handsprayer Alat Penyemprot Pertanian. Jakarta : Kencana.
Sukamto. S. 1998. Pengelolaan Penyakit Tanaman kopi. Kumpulan Materi Pelatihan.
Bandarlampung : Universitas lampung.
Sumenep. 2010. Pengenalan Formulasi dan alat Aplikasi. Bandung : ITB
Sumintapura, A.H. dan Iskandar, R.S., 1995. Herbisida dan Pemakaiannya. Bandung : Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran.
Supriadi. (2013). Optimasi Pemanfaatan Beragam Jenis Pestisida Untuk Mengendalikan Hama Dan Penyakit Tanaman. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Vol. 32(1) Hal.1–9.
Tarumingkeng. 2008. Pestisida dan Penggunaannya. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN