• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sinusitis, istilah bagi suatu proses inflamasi yang melibatkan mukosa hidung dan sinus paranasal, merupakan salah satu masalah kesehatan yang memberikan dampak bagi pengeluaran finansial masyarakat.Rinitis dan sinusitis umumnya terjadi bersamaan, sehingga terminologi saat ini yang diterima adalah rinosinusitis.Rinosinusitis dibagi menjadi kelompok akut, subakut dan kronik.

Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat dirasakan.

Etiologi polip terbanyak merupakan akibat reaksi hipersensitivitas yaitu pada proses alergi, sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan adanya rinosinusitis.

Pada anamnesis pasien, didapatkan keluhan obstruksi hidung, anosmia, adanya riwayat rinitis alergi, keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar mata, adanya sekret hidung. Penegakan diagnosis polip nasi dapat didapatkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak, bertangkai, mudah digerakkan, tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil pada pemberian vasokonstriktor lokal.Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif maupun operatif, yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari pasien sendiri.

Diagnosis sinusitis ditegakkan berdasarkan klinis, baik gejala maupun tanda yang didapat pada anamnesis dan pemeriksaan fisik, atau prosedur diagnostik lain seperti pemeriksaan penunjang. Kriteria diagnosis sinusitis akut berdasarkan EPOS (European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps) tahun 2012, yaitu adanya onset tiba-tiba 2 atau lebih gejala, dimana salah satunya yaitu hidung tersumbat atau sekret nasal (anterior atau postnasal drip) disertai sensasi nyeri atau tertekan pada wajah dan perubahan kemampuan menghidu. Pemeriksaan fisik berupa rinoskopi anterior yang menunjukkan adanya pembengkakan, kemerahan dan pus.

Antibiotik merupakan pengobatan yang paling sering digunakan dalam tatalaksana sinusitis akut. Tatalaksana sinusitis viral lebih difokuskan pada kontrol gejala, karena ini merupakan suatu keadaan yang akan membaik spontan (self limited disease). Antibiotik yang direkomendasikan yaitu amoksisilin sebagai terapi lini pertama. Pemberian analgesik dan antipiretik akan membantu mengurangi gejala nyeri dan demam. Penggunaan dekongestan, baik lokal maupun sistemik dapat membantu meringankan gejala yang dikeluhkan pasien.

Tindakan operatif dibutuhkan bila pasien mengalami gejala yang terus menerus dan bila terbukti adanya kelainan pada mukosa yang persisten.

Gejala akan membaik secara sempurna dengan pengobatan medis hingga mencapai 90% kasus. Komplikasi rinosinusitis bakterial akut diperkirakan terjadi 1 dari 1000 kasus. Komplikasi sinusitis dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu komplikasi orbital, intrakranial dan pada tulang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mackay DN. Antibiotic therapy of the rhinitis & sinusitis. Dalam : Settipane GA, penyunting. Rhinitis. Edisi ke-2. Rhode Island: Ocean Side Publication;1991. p. 253-5.

2. Mangunkusumo Endang, Soetjipto Damajanti. Sinusitis. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Jakarta:

FKUI, 2010: h. 152

3. Pletcher SD, Golderg AN. 2003. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis. In advanced Studies in Medicine. Vol 3 no.9. PP. 495-505

4. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinus Paranasal. Dalam: Soepardi EA, Iskandar. Telinga, Hidung, Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012.hal.122-124.

5. Hwang PH, Abdalkhani A. Anatomy and Physiology of the Nose and Paranasal Sinuses. In James B, Snow JR, Wackym PA, eds. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery 17th ed. Vol 1. Connecticut: BC Decker Inc, 2009:484-494

6. Soepardi, Efiaty. Iskandar, Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok edisi IV cetakan I. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta. 2000 7. Ferguson BJ, Johnson JT. Chronic sinusitis. In Cummings CW, Flint PW,et al

eds. Cummings: otolaryngology - head & neck surgery. 4th ed. Philadelphia:

Elsevier Mosby, 2005; 1-4.

8. USA: American Academy of Otolaryngology—Head and Neck Surgery Foundation;2015:p1-39.

9. Behrbohm H, Kaschke O, Nawka T, Swift A. Chapter II. Nose, Nasal Sinuses and Face, Acute and Chronic Rhinosinusitis. In : Ear, Nose and Throat Disease With Head and Neck Surgery. 3rd Ed. Thieme: New York.

2009.p.155-66.

10. Anonim. 2001. Sinusitis, dalam Kapita Selekta Kedokteran, ed. 3. Media Ausculapius FK UI. Jakarta : 102-106.

11. Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies LR, Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed.

Philadelphia, PA: WB Saunders Company; 1989. p.173-90

12. Sobol SE, Schloss MD, Tewfik TL. Acute Sinusitis Medical Treatment.

August 8, 2005. Available from: http://www.emedicine.com. Accessed December 20, 2010

13. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. Infections of the Upper Respiratory Tract. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrison’s Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 185-93

14.Pracy R, Siegler Y. Sinusitis Akut dan Sinusitis Kronis. Editor Roezin F, Soejak S. Pelajaran Ringkas THT . Cetakan 4. Jakarta: Gramedia; 1993.p 81- 91

15.Anugrahani A, Madaidipoera T, Dermawan A. Korelasi Otitis Media dengan Temuan Nasoendoskopi pada Penderita Rinosinusitis Akut. ORLI. 2015:

45(2): 101-108.

16.Behrbohm H, Kaschke O, Nawka T, Swift A. Chapter II. Nose, Nasal Sinuses and Face, Acute and Chronic Rhinosinusitis. In : Ear, Nose and Throat Disease With Head and Neck Surgery. 3rd Ed. Thieme: New York.

2009.p.155-66.

17.Fokkens W, Lund V, Mullol J, et al. European position paper on rhinosinusitis and nasal polyps. Rhinology, 2007; 45(suppl 20): 1-139

18.Mansjoer,Arif,Kuspuji Triyanti,Rakhmi Savitri, dkk. 2001. Polip Hidung.

Kapita Selekta Kedikteran ed.III jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Hal: 113-4.

19.Soetjipto, Damayanti dan Retno Wardani. 2008. Hidung. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher edisi VI. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI. Hal:118-22.

20.Adams, George, Lawrence Boies and Peter Hiegler. 2009. Rhinosinusitis Alergika. Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung Tenggorok ed.VI.

Philadelphia: W.B. Saunders. Hal.210-217.

21.Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia (PERHATI-KL). 2007.

Polip Hidung dan Sinus Paranasal (Dewasa) Penatalaksanaan. Guideline Penyakit THT di Indonesia. Hal.58.

22.Ahmad Maymane Jahroni. The Epidemological & Clinical aspect of Nasal Polyps that Require Surgery. Iranian Journal Of Otorhynolaryngology.2012:

2 (4) : 72-75

Dalam dokumen Sinusitis dan Polip Hidung (Halaman 43-47)

Dokumen terkait