sangat relevan terhadap pemenuhan hak-hak asasi manusia khususnya penyandang disabilitas. Maqasid al syari’ah yang meliputi lima kebutuhan (al daduriyyat al khams) dari perlindungan yang diformulasikan oleh Al Gazzali dan Shatibi, menjadi development atau pengembangan dan perhatian terhadap hak-hak asasi manusia yang mendasar (right).
Sebagaimana ditandaskan M. Amin Abdullah reformasi maqasid al syari’ah dalam perspektif kontemporer yang diusulkan Jasser Auda yaitu dari maqasid al syari’ah yang dulunya bernuansa protection (penjagaan) dan preservation (pelestarian) menuju maqasid al syari’ah yang bercita rasa development (pengembangan) dan pemuliaan human right (hak-hak asasi). Bahkan Jasser Auda menyarankan agar pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu tema utama bagi kemaslahatan publik masa kini.
C. Kesimpulan
Maqasid al syari’ah memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga dan mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia dan juga di akhirat. Maqasid lama menitikberatkan pada perlindungan (protection), pemberdayaan (penjagaan/pelestarian), sedangkan maqasid kontemporer menitikberatkan pada pengembangan (development) dan right (hak). Maqasid al syari’ah yang bernuansa protection (penjagaan) dan peservation (pelestarian) menuju maqasid al syari’ah yang bercita rasa development (pengembangan) dan pemuliaan human rights (hak asasi manusia). Pembangunan sumber daya manusia termasuk perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas menjadi tujuan pokok (maqasid al syari’ah) yang direalisasikan melalui hukum Islam.
Hukum Islam bertujuan mewujudkan kemaslahatan hidup manusia, mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan sosial, dengan menggunakan berbagai metode ijtihad dan pengemangan teori maqasid al syari’ah. Sehingga problem kontemporer kehidupan dapat jawaban dan tempat yang sesuai dengan ruh syariat melindungi dan memenuhinya.
Daftar Pustaka
Buku
Ali, Muhammad Daud. 2013. Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
67 Bab 4 | Perlindungan Hukum bagi Penyandang Disabilitas Al-Mahalli. 2007. Imam Jalaludin As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Abi Bakr. 2006. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: ar- Risalah.
Al Rasyid, Harun. 2016. Fikih Korupsi Analisis Politik Uang di Indonesia dalam Perspektif Maqasid al syari’ah. Jakarta: Prenadamedia Group.
As-Suyuthi, Jalaluddin. 2008. Sebab Turunnya Ayat Al Qur’an. Jakarta:
Gema Insani.
Departemen Agama Republik Indonesia. 2014. Syamil Quran Yasminaal- Quran, Terjemah, dan Tajwid. Bandung: Sygma Creative Media Corp.
Djamil, Fathurrahman. 1999. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Muhammad, Al-Imam Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari. 1423 H.
Matan Shahih Muslim. Daar Ibnu Katsir.
Yasid, Abu. 2016. Logika Hukum dari Mazhab Rasionalisme Hukum Islam Hingga Positivisme Hukum Barat. Yogyakarta: Saufa.
Jurnal
Abdullah Fikri. 2019. “Resensi Buku Fikih (Ramah) Difabel”. INKLUSI:
Journal of Disability Studies, 2, 1.
Paulus Eko Kristianto. 2017. “Pengembangan Inklusifitas bagi Difabel Melalui Dakwah dalam Kerangka Filosofis Islam Kontemporer”.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan, 1, 2: 295-316.
Muhammad, Al-Imam Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari. 1423 H.
Matan Shahih Muslim. Daar Ibnu Katsir.
Yasid, Abu. 2016. Logika Hukum dari Mazhab Rasionalisme Hukum Islam Hingga Positivisme Hukum Barat. Yogyakarta: Saufa.
Jurnal
Abdullah Fikri. 2019. “Resensi Buku Fikih (Ramah) Difabel”. INKLUSI:
Journal of Disability Studies, 2, 1.
Paulus Eko Kristianto. 2017. “Pengembangan Inklusifitas bagi Difabel Melalui Dakwah dalam Kerangka Filosofis Islam Kontemporer”.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan, 1, 2: 295-316.
69
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENYANDANG DISABILITAS DALAM PERSPEKTIF ISLAM
BAB 5
Dr. Qodariah Barkah, M.H.I.
UIN Raden Fatah Palembang
A. Pendahuluan
Dalam harian Merdeka.com tanggal 10 Agustus 2020 yang berjudul
“Anaknya Kerap Dihina, Begini Kisah Pilu Imas yang Tinggal di Rumah Tak Layak Huni”, seorang ibu bernama Imas mengisahkan kondisi anak perempuannya, Ines yang lahir dengan keterbatasan. Ines kerap dihina karena kondisi tubuhnya kurus dari kecil disebabkan kekurangan gizi.
Ines tak bisa beraktivitas layaknya anak seusianya, dan hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Diketahui, Ines mengidap penyakit lumpuh layu atau polio. Karena penyakitnya ini, Ines kerap mendapat hinaan. “Pernah Ines mendapat ejekan ‘monyet’ ketika orang melihat kondisi Ines. Adapula yang lari ketakutan saat melihat Ines,” kata Imas, lewat Instagram @partners_in_goodness.
Kisah di atas adalah sekelumit kisah yang sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat tentang bagaimana masyarakat memberikan perlakuan yang tidak baik terhadap penyandang disabilitas. Perlakuan yang tidak baik dalam bentuk sikap perundungan (bully), diolok-olok, dihina, diskriminasi dalam berbagai bentuk hingga pengeksploitasian dan sebagainya. Sikap itu muncul karena anggapan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang lemah, tidak berguna, aib bagi keluarga, dan hanya menyusahkan orang lain.
Pendahuluan
Dalam harian Merdeka.com tanggal 10 Agustus 2020 yang berjudul
“Anaknya Kerap Dihina, Begini Kisah Pilu Imas yang Tinggal di Rumah Tak Layak Huni”, seorang ibu bernama Imas mengisahkan kondisi anak perempuannya, Ines yang lahir dengan keterbatasan. Ines kerap dihina karena kondisi tubuhnya kurus dari kecil disebabkan kekurangan gizi.
Ines tak bisa beraktivitas layaknya anak seusianya, dan hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Diketahui, Ines mengidap penyakit lumpuh layu atau polio. Karena penyakitnya ini, Ines kerap mendapat hinaan. “Pernah Ines mendapat ejekan ‘monyet’ ketika orang melihat
Penyandang disabilitas sering kali menjadi sorotan masyarakat sebagai golongan minoritas yang sering kali dikucilkan atau diasingkan dan juga tidak mendapatkan perhatian penuh dari masyarakatnya sendiri. Hal ini tentu tidak sejalan dengan ajaran agama Islam. Al-Qur’an yang menjadi rujukan umat Muslim telah memberikan perhatian penuh terhadap kaum disabilitas yakni dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya, baik seseorang dalam keadaan cacat atau sempurnanya, yang dinilai Allah ialah ketakwaan dan keimanannya.
B. Kesetaraan antara Disabilitas dan Non-disabilitas dalam Pandangan Islam
Dalam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil ihtiyaj al-khashah atau dzawil a’dzâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur. Secara umum orang memahami bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki kemampuan yang terbatas, baik secara mental, akal maupun fisik untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibutuhkannya dibandingkan dengan orang yang sehat.
Meskipun memiliki kemampuan yang terbatas namun hak-hak yang dimiliki oleh penyandang disabilitas tetap sama dengan hak-hak yang dimiliki oleh orang non-disabilitas.
Dalam surah An-Nur ayat 61 Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian…”
Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang disabilitas dan mereka yang bukan penyandang disabilitas.
Mereka harus diperlakukan secara sama dan diterima secara tulus tanpa diskriminasi dalam kehidupan sosial, sebagaimana penjelasan Syeikh Ali As-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam bahwa ajaran Islam menegaskan larangan untuk membedakan perlakuan kepada siapa pun termasuk para penyandang disabilitas. Hal ini dapat dilihat dari kisah Rasulullah Saw.
ketika didatangi oleh seorang sahabat penyandang tunanetra. Kisah ini terekam dengan jelas dalam surah ‘Abasa ayat 1-11 yang artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tunanetra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dzawil ihtiyaj al-khashah atau dzawil a’dzâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur. Secara umum orang memahami bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki kemampuan yang terbatas, baik secara mental, akal maupun fisik untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibutuhkannya dibandingkan dengan orang yang sehat.
Meskipun memiliki kemampuan yang terbatas namun hak-hak yang dimiliki oleh penyandang disabilitas tetap sama dengan hak-hak yang dimiliki oleh orang non-disabilitas.
Dalam surah An-Nur ayat 61 Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian…”
71 Bab 5 | Perlindungan Hukum bagi Penyandang Disabilitas ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia (pembesar Quraisy) tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/
surat) itu adalah peringatan…”.
Ulama mufassirin meriwayatkan, bahwa surah ‘Abasa turun berkaitan dengan salah seorang sahabat penyandang disabilitas, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepada Rasulullah untuk memohon bimbingan ajaran Islam namun diabaikan. Kemudian turunlah surah ‘Abasa kepada Rasul sebagai peringatan agar memperhatikannya, meskipun tunanetra. Bahkan Rasulullah diharuskan lebih memperhatikannya daripada para pemuka Quraisy. Sejak saat itu, Nabi Muhammad Saw. sangat memuliakannya dan bila menjumpainya langsung menyapa Abdullah bin Ummi Maktum dengan sapaan
“Selamat wahai orang yang karenanya aku telah diberi peringatan oleh Tuhanku.” Semakin jelas, melihat sababun nuzul surah ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan penyandang disabilitas, menerimanya secara setara sebagaimana manusia lainnya dan bahkan memprioritaskannya.
Dalam surah yang lain Allah berfirman yang artinya, “Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih” (QS Al-Fath (48): 17).
Ayat di atas menjelaskan bahwa pada prinsipnya Al-Qur’an memberikan perlakuan khusus terhadap seseorang yang meskipun secara fisik terbatas, tetapi mereka memiliki lahan beribadah serta kontribusi aktivitas sosial yang luas serta dapat memberikan kemanfaatan terhadap komunitas. Ayat ini juga menjadi indikator penghargaan Islam terhadap kelompok yang memiliki keterbatasan fisik. Kemampuan seseorang tidak bisa diukur dengan kesempurnaan fisik, melainkan banyak faktor lain yang turut menentukan. Oleh karena itu, tidak ada pijakan teologis turunlah surah ‘Abasa kepada Rasul sebagai peringatan agar memperhatikannya, meskipun tunanetra. Bahkan Rasulullah diharuskan lebih memperhatikannya daripada para pemuka Quraisy. Sejak saat itu, Nabi Muhammad Saw. sangat memuliakannya dan bila menjumpainya langsung menyapa Abdullah bin Ummi Maktum dengan sapaan
“Selamat wahai orang yang karenanya aku telah diberi peringatan oleh Tuhanku.” Semakin jelas, melihat sababun nuzul surah ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan penyandang disabilitas, menerimanya secara setara sebagaimana manusia lainnya dan bahkan memprioritaskannya.
Dalam surah yang lain Allah berfirman yang artinya, “Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa
maupun normatif dalam Islam untuk mentolerir tindakan diskriminatif terhadap siapa pun, termasuk penyandang disabilitas.
Perbedaan kemampuan fisik, akal dan mental manusia sesungguhnya bukan merupakan suatu penilaian layak atau tidaknya seseorang untuk mendapatkan keridhaan dari Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt.
tidak melihat bentuk (fisik) seorang Muslim, namun Allah melihat hati dan perbuatannya. Hal ini dinyatakan dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Iman Muslim, yaitu:
“Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kalian”. (Shahih Muslim juz 4 hal. 1987 No. 2564)
C. Sahabat Rasul Penyandang Disabilitas
Rasulullah Saw. memiliki beberapa orang sahabat yang memiliki keterbatasan fisik, namun perlakuan Rasulullah terhadap mereka tetap sama seperti sahabat lainnya. Antara lain sahabat Rasulullah itu adalah Abdullah ibn Mas’ud, seorang penggembala yang sangat jujur.
Saat masuk Islam ia menunjukkan keseriusan dalam menekuni ilmu meskipun fisiknya sangat terbatas (berbadan kecil dan kurus). Hingga ia menjadi salah satu penafsir ternama di kalangan para sahabat. Dengan berbekal kepandaian dalam menafsirkan Al-Qur’an dan kecakapannya meriwayatkan hadis-hadis Rasul. Memiliki kemampuan fisik yang terbatas tidak membuat Abdullah ibn Mas’ud berdiam diri ketika terjadi Perang Badar. Ia tetap berusaha ikut bersama Rasul dalam perang tersebut. Meskipun secara syariat dengan keterbatasan fisiknya Abdullah ibn Mas’ud sah-sah saja tidak turut serta dalam perang.
Sahabat lainnya adalah Abdullah ibn Ummi Maktum yang merupakan sahabat penyandang tunanetra. Kisahnya, ketika seorang kepala negara (Muhammad) sedang berbicara masalah kenegaraan bersama pembesar- pembesar Quraisy. Kemudian Ibnu Ummi Maktum datang nyelonong
“Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kalian”. (Shahih Muslim juz 4 hal. 1987 No. 2564)