• Tidak ada hasil yang ditemukan

Substansi Hukum Bermasalah

Dalam dokumen Hukum Disabilitas di Indonesia (Halaman 157-160)

hambatan mendasar yang melekat dengan kedirian difabel yang berhadapan dengan hukum, baik itu tingkat kemampuan mentalitas, kemampuan berbicara, kemampuan sensitivitas, kemampuan daya tahan fokus, kemampuan menahan diri, dan seterusnya. Dari profil assessment, peradilan yang fair bagi difabel kemudian berlanjut pada kebutuhan penerjemah, pendamping difabilitas, ahli, pendamping hukum, lingkungan peradilan yang aksesibel, pemeriksaan yang fleksibel, pemeriksaan yang memperhatikan daya fokus difabel dan kebutuhan adanya aparat penegak hukum yang memahami difabilitas.

Di tengah harapan yang besar, sampai saat ini, sistem hukum di Indonesia, baik itu substansi hukum, aparat penegak hukum, sarana prasarana penegakan hukum sampai dengan budaya hukum masyarakat masih perlu desakan perubahan radikal dan transformasi terus-menerus.

Jika desakan perubahan sistem hukum itu berhenti, keadilan bagi difabel berhadapan dengan hukum tidak akan pernah tercapai.

4. Substansi Hukum Bermasalah

Pasca-reformasi memang muncul berbagai peraturan yang melindungi hak asasi manusia, baik itu UUD 1945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Ratifikasi Konvenan Hak Sipil dan Politik, ratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities lewat Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2011, dan terbaru adalah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menggantikan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.14 Namun demikian, keberadaan peraturan- peraturan tersebut ‘tidak cukup jelas’ menjamin terhadap perlindungan, penghormatan dan pemenuhan hak-hak difabel berhadapan dengan hukum. Bahkan, penegak hukum selalu merujuk pada peraturan- peraturan ‘kuno’ yang secara langsung dan tidak langsung meletakkan

14Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dikritik, pertama, undang-undang ini menyebut difabel sebagai penyandang cacat. Penyandang cacat kita tahu merupakan sebutan stigmatif, negatif dan menempatkan difabel sebagai orang sakit, dianggap tidak mampu karena itu harus dibantu, dan dianggap sebagai orang yang tidak bisa karena tidak bisa mandiri.

Kedua, undang-undang ini membagi penyandang cacat sebagai penyandang cacat fisik dan mental. Ketiga, undang-undang ini mengatur dengan sangat jelas derajat kecacatan. Pengaturan derajat kecacatan memperlihatkan bahwa undang-undang ini memang sangat diinspirasi oleh ideologi kenormalan.

masih perlu desakan perubahan radikal dan transformasi terus-menerus.

Jika desakan perubahan sistem hukum itu berhenti, keadilan bagi difabel berhadapan dengan hukum tidak akan pernah tercapai.

145 Bab 9 | Diskriminasi terhadap Kaum Disabilitas dalam Penegakan Hukum difabel sebagai kelompok masyarakat yang tidak normal, dianggap tidak mampu, dan tidak utuh. Satu cara pandang yang disebut Mansour Fakih sebagai konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh ideologi normalisme yang penuh stereotype dan lebih lanjut mendorong ketidakadilan dan marginalisasi.15

Dalam menangani difabel berhadapan dengan hukum, aparat penegak hukum selalu merujuk pada aturan dan tafsiran yang diskriminatif. Dalam kasus tindak pidana misalnya, difabel netra selalu dipermasalahkan oleh aparat penegak hukum, bahkan kesaksiannya tidak dapat diterima karena difabel netra dinyatakan tidak bisa melihat.

Aparat penegak hukum selalu merujuk pada aturan Pasal 1 angka 26 KUHAP yang menyatakan bahwa yang dikatakan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Akibat tafsir ketentuan ini, difabel yang menjadi korban tindak pidana tidak diproses kasus hukumnya. Bahkan, biasa dipersalahkan karena dinilai tidak bisa membuktikan kesaksian penglihatannya.

Dalam kasus-kasus keperdataan, difabel selalu ditempatkan sebagai pihak yang berada di bawah pengampuan dan tidak bisa menjadi subjek hukum yang berdiri sendiri. Akibatnya, difabel dalam hubungan dan konflik keperdataan selalu menjadi korban, seperti tidak bisa memiliki hak waris serta tidak bisa menjadi pihak dalam perjanjian perbankan dan asuransi. Ketika berkonflik dalam hukum perdata, aparat penegak hukum biasanya mengacu pada Pasal 433 Buku I KUH Perdata yang menyatakan bahwa setiap orang dewasa, yang selalu dalam keadaan dungu, gila atau mata gelap, harus ditempatkan di bawah pengampuan, sekalipun ia kadang-kadang cakap menggunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosan.

Di antara catatan yang tidak kalah menyedihkan, perempuan karena difabilitas menjadi salah satu syarat sahnya seorang laki-laki berpoligami. Ketentuan tersebut termaktub secara tegas pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana direvisi dengan

15Mansour Fakih, Panggil Saja Kami Kaum Difabel, dalam Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 306-311.

yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Akibat tafsir ketentuan ini, difabel yang menjadi korban tindak pidana tidak diproses kasus hukumnya. Bahkan, biasa dipersalahkan karena dinilai tidak bisa membuktikan kesaksian penglihatannya.

Dalam kasus-kasus keperdataan, difabel selalu ditempatkan sebagai pihak yang berada di bawah pengampuan dan tidak bisa menjadi subjek hukum yang berdiri sendiri. Akibatnya, difabel dalam hubungan dan konflik keperdataan selalu menjadi korban, seperti tidak bisa memiliki hak waris serta tidak bisa menjadi pihak dalam perjanjian perbankan dan asuransi. Ketika berkonflik dalam hukum perdata, aparat penegak hukum biasanya mengacu pada Pasal 433 Buku I KUH Perdata yang menyatakan bahwa setiap orang dewasa, yang selalu dalam keadaan

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Pasal tersebut menyatakan bahwa dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan ke pengadilan.

Pasal ini hanya memberi izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seseorang apabila: pertama, istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri. Kedua, istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Ketiga, istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Dalam peraturan-peraturan hukum yang lain seperti Undang- Undang Guru dan Dosen, Undang-Undang Kepolisian, Undang-Undang Peradilan Umum dan beberapa lainnya masih meletakkan persyaratan sehat jasmani dan rohani. Dalam implementasinya, sehat jasmani dan rohani selalu dilekatkan dengan difabel, yang kemudian berakibat tidak diterimanya difabel sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan kepolisian, peradilan umum, bahkan untuk menjadi guru dan dosen.

Dahulu, kita masih mengingat Gus Dur yang notabene mengalami difabilitas netra dan mobilitas, gagal pencalonannya menjadi presiden karena terhambat tes medis sehat jasmani dan rohani.

Pasal 11 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Hak Pekerjaan, Kewirausahaan, dan Koperasi untuk penyandang disabilitas meliputi hak:

a. memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa Diskriminasi;

b. memperoleh upah yang sama dengan tenaga kerja yang bukan Penyandang Disabilitas dalam jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang sama;

c. memperoleh Akomodasi yang Layak dalam pekerjaan;

d. tidak diberhentikan karena alasan disabilitas;

e. mendapatkan program kembali bekerja;

f. penempatan kerja yang adil, proporsional, dan bermartabat;

g. memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karier serta segala hak normatif yang melekat di dalamnya; dan

h. memajukan usaha, memiliki pekerjaan sendiri, wiraswasta, pengembangan koperasi, dan memulai usaha sendiri.

Secara umum, peraturan-peraturan hukum di Indonesia masih belum cukup baik mengatur secara spesifik terkait perlindungan (to tidak diterimanya difabel sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan kepolisian, peradilan umum, bahkan untuk menjadi guru dan dosen.

Dahulu, kita masih mengingat Gus Dur yang notabene mengalami difabilitas netra dan mobilitas, gagal pencalonannya menjadi presiden karena terhambat tes medis sehat jasmani dan rohani.

Pasal 11 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Hak Pekerjaan, Kewirausahaan, dan Koperasi untuk penyandang disabilitas meliputi

memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa Diskriminasi;

memperoleh upah yang sama dengan tenaga kerja yang bukan Penyandang Disabilitas dalam jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang sama;

147 Bab 9 | Diskriminasi terhadap Kaum Disabilitas dalam Penegakan Hukum protect), penghormatan (to respect), dan pemenuhan (to fulfill) hak- hak difabel ketika berhadapan dengan hukum. Baik itu pengaturan pengakuan mental intelektual (umur mental), adanya penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim) yang memahami hambatan difabel ketika memproses kasus difabel berhadapan dengan hukum, pengaturan hukum acara khusus bagi difabel, desk pelayanan khusus di lingkungan peradilan, pengaturan profil assessment, penyediaan penerjemah dan pengaturan aksesibilitas sarana prasarana peradilan. Bahkan, Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas tidak cukup clear dalam ‘menegaskan hukum acara’ yang tepat untuk difabel berhadapan dengan hukum. Undang-undang ini ‘malah’ memerintahkan penggunaan KUHAP yang notabene isi dan prosedur acaranya telah dikritik sedemikian rupa karena belum tepat untuk penanganan kasus difabel berhadapan dengan hukum. Ini artinya, ada problem serius dengan substansi dan norma-norma terkait difabel berhadapan dengan hukum di Indonesia. Karena itu, perlu ada gerakan review hukum, penghapusan norma-norma hukum yang diskriminatif serta perlu penciptaan norma-norma hukum baru yang kuat dalam menjamin hak- hak difabel berhadapan dengan hukum.

5. Aparat Penegak Hukum Tidak Progresif

Penegak hukum saat ini sangat terpasung oleh pasal-pasal yang sungguh tidak respect terhadap hak-hak difabel yang berhadapan dengan hukum. Penegak hukum tidak mampu mengeluarkan cara pandang etiknya ketika menangani difabel. Walaupun sebagian mereka relatif mengerti tentang hambatan dan kebutuhan difabel, mereka tidak mau keluar dari pakem hukum yang legalistik. Salah satu potret itu misal tergambar dalam kasus Bunga (nama samaran), seorang perempuan difabel rungu wicara dan mental intelektual. Ia korban pemerkosaan dan pencabulan. Ketika menjadi korban, umur kalender Bunga sudah 22 tahun, dan umur mental intelektual Bunga sebagaimana assessment psikologi masih 9 tahun 2 bulan. Umur mental Bunga masih anak- anak dan semestinya ia berhak untuk diproses sesuai dengan standar Undang-Undang Perlindungan Anak dan Peradilan Anak. Sejak awal, pendamping Bunga sudah mendesakkan pentingnya proses hukum yang ramah bagi korban sebagai anak. Pendamping sudah mencoba memahamkannya kepada penyidik, penuntut umum dan hakim dikritik sedemikian rupa karena belum tepat untuk penanganan kasus difabel berhadapan dengan hukum. Ini artinya, ada problem serius dengan substansi dan norma-norma terkait difabel berhadapan dengan hukum di Indonesia. Karena itu, perlu ada gerakan review hukum, penghapusan norma-norma hukum yang diskriminatif serta perlu penciptaan norma-norma hukum baru yang kuat dalam menjamin hak- hak difabel berhadapan dengan hukum.

Dalam dokumen Hukum Disabilitas di Indonesia (Halaman 157-160)