114 sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 36
(1) Dalam hal sebagian atau seluruh wilayah adat telah ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan hutan, maka wilayah adat tersebut dapat ditetapkan sebagai hutan adat.
(2) Dalam hal wilayah adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah difungsikan oleh Masyarakat [NAMA UMUM DARI MASYARAKAT HUKUM ADAT] sebagai pemukiman, fasilitas umum atau fasilitas sosial, maka wilayah adat tersebut dikeluarkan dari kawasan hutan.
Pasal 37
Bupati membentuk Panitia Inventarisasi dan Verifikasi Wilayah Adat paling lambat enam bulan setelah Peraturan Daerah ini ditetapkan.
BAB XIV
115 Diundangkan di [IBU KOTA KABUPATEN]
pada tanggal [TANGGAL, BULAN, TAHUN PENGUNDANGAN]
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN [NAMA KABUPATEN],
tanda tangan
[NAMA SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN]
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN [NAMA KABUPATEN] TAHUN [TAHUN LEMBARAN DAERAH] NOMOR [NOMOR LEMBARAN DAERAH].
116
117
LAMPIRAN 2
Contoh Keputusan Bupati tentang Penetapan Wilayah Adat
KEPUTUSAN BUPATI [NAMA KABUPATEN]
NOMOR:
LAMPIRAN:
TENTANG
PENETAPAN WILAYAH ADAT MASYARAKAT HUKUM ADAT [SEBUTKAN NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT]
BUPATI [NAMA KABUPATEN],
Menimbang : a. bahwa pengakuan dan penghormatan Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa berdasarkan hasil identifikasi dan vertifikasi, Panitia Inventarisasi dan Verifikasi Wilayah Adat memberikan rekomendasi untuk menetapkan wilayah adat Masyarakat [NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT] yang telah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai wilayah adat;
c. bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten [NAMA KABUPATEN] Nomor [NOMOR PERDA]
Tahun [TAHUN PERDA] tentang [JUDUL PERDA LAMBANG
NEGARA
118
YANG MENDELEGASIKAN KEPUTUSAN BUPATI]
menentukan bahwa penetapan wilayah adat ditetapkan dengan Keputusan Bupati; dan
d. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Keputusan Bupati tentang Penetapan Wilayah Adat [NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT];
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29; Tambahan Lembaran Negara 3277);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara 3419);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa- bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 41; Tambahan Lembaran Negara 3556);
5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165; Tambahan Lembaran Negara 3886);
6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
119
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 29) yang telah ditetapkan dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);
7. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301);
8. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32; Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377);
9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4674) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2013 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 232;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5475);
10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);
11. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4379) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara
120 Nomor 5490);
12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara 5059);
13. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara 5063);
14. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara 5168);
15. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5214);
16. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 116;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5315);
17. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2013 tentang Pengesahan Nagoya Protocol on Access to Genetic Resources and The Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from Their Utilization to The Convention on Biological Diversity(Protokol Nagoya tentang Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara 5412);
18. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 130; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5432);
121
19. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5495);
20. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5587);
21. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 308; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5613);
22. Undang-undang Nomor [NOMOR UNDANG- UNDANG] Tahun [TAHUN UNDANG-UNDANG]
tentang Pembentukan [NAMA PROVINSI]
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor [NOMOR LEMBARAN NEGARA], Tambahan Lembaran Negara Nomor [NOMOR TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA]);
23. Undang-undang Nomor [NOMOR UNDANG- UNDANG] Tahun [TAHUN UNDANG-UNDANG]
tentang Pembentukan [NAMA KABUPATEN]
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor [NOMOR LEMBARAN NEGARA], Tambahan Lembaran Negara Nomor [NOMOR TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA]);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
25. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan;
26. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
27. Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Permasalahan Tanah Ulayat Masyarakat Hukum Adat;
122
28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat;
29. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaaan Umum dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 79 Tahun 2014, Nomor PB.3/Menhut-II/2014, Nomor 17/PRT/M/
2014, Nomor 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang berada di dalam Kawasan Hutan;
30. Peraturan Daerah Nomor (SEBUTKAN PERATURAN DAERAH YANG MENDELEGASIKAN KEWENANGAN);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
KESATU : Menetapkan wilayah adat seluas (SEBUTKAN LUASAN) yang berada di Kecamatan (SEBUTKAN NAMA-NAMA KECAMATAN) sebagai wilayah adat Masyarakat (SEBUTKAN NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT)
KEDUA : Wilayah adat Masyarakat [SEBUTKAN NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT] memiliki batas-batas:
I. Batas Alam A. Utara
Sungai [NAMA SUNGAI]
Bukit [NAMA BUKIT]
atau sebutkan batas alam lain B. Timur
Sungai [NAMA SUNGAI]
Bukit [NAMA BUKIT]
Atau sebutkan batas alam lain C. Selatan
123
Sungai [NAMA SUNGAI]
Bukit [NAMA BUKIT]
atau sebutkan batas alam lain D. Barat
Sungai [NAMA SUNGAI]
Bukit [NAMA BUKIT]
atau sebutkan batas alam lain II. Batas Administratif
A. Utara
Desa [NAMA DESA]
B. Timur
Desa [NAMA DESA]
C. Selatan
Desa [NAMA DESA]
D. Barat
Desa [NAMA DESA]
KETIGA : Peta wilayah adat [NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT]
sebagaimana terlampir merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah dengan Keputusan ini.
KEEMPAT : Pengelolaan wilayah adat diselenggarakan berdasarkan hukum adat Masyarakat [NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT] dengan memperhatikan prinsip keadilan sosial, kesetaraan gender, hak asasi manusia dan kelestarian lingkungan hidup.
KELIMA : Lembaga adat, berdasarkan hasil musyawarah dengan warga Masyarakat Hukum Adat, mewakili Masyarakat [NAMA MASYARAKAT HUKUM ADAT] dalam melakukan hubungan hukum dengan pihak luar berkaitan dengan pemanfaatan dan perlindungan wilayah adat.
KEENAM : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
124
Ditetapkan di [IBUKOTA KABUPATEN]
pada tanggal ...
BUPATI,
[NAMA BUPATI]
Tembusan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
1. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia di Jakarta;
2. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia di Jakarta;
3. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta;
4. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia di Jakarta;
5. Gubernur [NAMA PROVINSI] di [IBUKOTA PROVINSI];
6. Ketua DPRD Kabupaten [NAMA KABUPATEN];
7. Kepala SKPD dalam Kabupaten [NAMA KABUPATEN];
8. Yang bersangkutan.
125
LAMPIRAN 3
Contoh Perda Pengaturan dan Penetapan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dan kondisinya beragam
PERATURAN DAERAH KABUPATEN [NAMA KABUPATEN]
NOMOR [NOMOR PERATURAN] TAHUN [TAHUN PENGUNDANGAN]
TENTANG
MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI [NAMA KABUPATEN],
Menimbang : a. bahwa pengakuan dan penghormatan Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa keberadaan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten [NAMA KABUPATEN] masih ada dan menjadi bagian dari komponen masyarakat yang harus diakui dan dihormati keberadaannya oleh negara;
c. bahwa pengakuan dan penghormatan terhadap Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan dilakukan dalam peraturan daerah;
d. bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Perkara Nomor 35/PUU-X/2012
LAMBANG DAERAH
126
mengenai Pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, dalam rangka menjamin adanya kepastian hukum yang berkeadilan terhadap Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya dapat diatur dalam Peraturan Daerah; dan
e. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Masyarakat Hukum Adat;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6); Pasal 18B ayat (2), Pasal 28I ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29; Tambahan Lembaran Negara 3277);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara 3419);
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 41; Tambahan Lembaran Negara 3556);
127
6. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165; Tambahan Lembaran Negara 3886);
7. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 29) yang telah ditetapkan dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);
8. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301);
9. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32; Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377);
10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4674) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2013 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 232; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5475);
11. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
128
Lembaran Negara Nomor 4725);
12. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4379) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5490);
13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara 5059);
14. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara 5063);
15. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara 5168);
16. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 49;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5214);
17. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 116;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5315);
18. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2013 tentang PengesahanNagoya Protocol on Access to Genetic Resources and The Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from Their Utilization to The Convention on Biological Diversity (Protokol
129
Nagoya tentang Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara 5412);
19. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 130; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5432);
20. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5495);
21. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5587);
22. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 308; Tambahan Lembaran Negara Nomor 5613);
23. Undang-undang Nomor [NOMOR UNDANG- UNDANG] Tahun [TAHUN UNDANG-UNDANG]
tentang Pembentukan [NAMA PROVINSI]
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor [NOMOR LEMBARAN NEGARA], Tambahan Lembaran Negara Nomor [NOMOR TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA]);
24. Undang-undang Nomor [NOMOR UNDANG- UNDANG] Tahun [TAHUN UNDANG-UNDANG]
tentang Pembentukan [NAMA KABUPATEN]
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor [NOMOR LEMBARAN NEGARA], Tambahan Lembaran Negara Nomor [NOMOR TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA]);
130
25. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
26. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan;
27. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
28. Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Permasalahan Tanah Ulayat Masyarakat Hukum Adat;
29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat;
30. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaaan Umum dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 79 Tahun 2014, Nomor PB.3/Menhut-II/2014, Nomor 17/PRT/M/2014, Nomor 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang berada di dalam Kawasan Hutan;
Dengan persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH [NAMA KABUPATEN]
dan
BUPATI KABUPATEN [NAMA KABUPATEN]
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG MASYARAKAT HUKUM ADAT
131 BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Pengukuhan adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam melakukan penetapan untuk mengakui dan menghormati keberadaan Masyarakat Hukum Adat dan wilayah adatnya.
2. Perlindungan adalah tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk melindungi wilayah dan hak Masyarakat Hukum Adat dari gangguan yang dilakukan oleh pihak lain.
3. Pemenuhan adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada Masyarakat Hukum Adat dalam rangka menjamin terpenuhi hak tradisional dan hak lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
4. [Definisi Masyarakat Hukum Adat yang digunakan. Definisi ini hendaknya dibuat sesuai dengan kondisi dari Masyarakat Hukum Adat yang ada dalam Kabupaten. Sebagai contoh adalah beberapa pilihan rumusan definisi di bawah ini:
Masyarakat Hukum Adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum; atau
Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang memiliki perasaan sebagai satu kelompok karena adanya nilai-nilai yang dirawat secara bersama-sama, memiliki lembaga adat yang tumbuh secara tradisional, adanya ada harta kekayaan dan/atau benda- benda adat, ada norma hukum adat yang masih berlaku, dan ada wilayah adat tertentu; atau
Masyarakat Hukum Adat adalah masyarakat hukum adat sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan].
5. Hak ulayat atau disebut dengan nama lainnya adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh Masyarakat Hukum Adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah,
132
dalam wilayah tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah, turun temurun dan tidak terputus antara Masyarakat Hukum Adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.
6. Hak tradisional adalah hak yang melekat dengan keberadaan Masyarakat Hukum Adat.
7. Wilayah adat yang dipersamakan dengan wilayah hak ulayat atau yang disebut dengan nama lainnya adalah ruang kehidupan yang menjadi tempat keberadaan Masyarakat Hukum Adat yang terdiri dari tanah, air dan sumber daya alam yang terdapat di atasnya, yang penguasaan, pengelolaan dan pemanfaatannya dilakukan menurut hukum adat.
8. Tanah adat adalah bidang tanah yang terdapat pada wilayah adat yang jenis dan pengaturannya ditentukan berdasarkan hukum adat.
9. Hutan adat adalah hutan yang berada di dalam wilayah Masyarakat Hukum Adat.
10. Hukum adat adalah seperangkat norma yang hidup dan berlaku untuk mengatur hubungan manusia dengan alam dan hubungan antar- manusia yang bersumber pada nilai budaya Masyarakat Hukum Adat yang diwariskan secara turun temurun yang senantiasa ditaati dan dihormati untuk keadilan dan ketertiban masyarakat dan mempunyai akibat hukum.
11. Lembaga adat adalah pranata pemerintahan adat yang menyelenggarakan fungsi adat istiadat yang tumbuh dan berkembang secara tradisional.
12. Peta wilayah adat adalah peta tematik dengan skala 1:50.000 yang berisi informasi mengenai batas luar wilayah adat.
13. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten [NAMA KABUPATEN].
14. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah perangkat daerah yang bertanggungjawab atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah.
15. Panitia Masyarakat Hukum Adat adalah panitia yang dibentuk dengan Keputusan Bupati untuk melakukan verifikasi terhadap hasil identifikasi Masyarakat Hukum Adat, penyelesaian keberatan, dan memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk menetapkan Masyarakat Hukum Adat.
16. PPNS adalah Penyidik Pegawai Negeri Sipil pada lingkungan pemerintah Kabupaten [NAMA KABUPATEN] yang pengangkatannya
133
ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Pasal 2
Asas
Pengaturan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya berasaskan:
a. Pengakuan;
b. Bhinneka tunggal ika;
c. Keadilan sosial;
d. Kepastian hukum;
e. Kesetaraan dan non-diskriminasi;
f. Keberlanjutan lingkungan;
g. Partisipasi; dan h. Transparansi.
Pasal 3 Tujuan
Tujuan pengaturan Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya adalah:
a. Mengakui dan menghormati keberadaan Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya;
b. Memberikan kepastian hukum mengenai keberadaan, wilayah dan hak- hak Masyarakat Hukum Adat;
c. Melindungi hak dan memperkuat akses Masyarakat Hukum Adat terhadap tanah dan kekayaan alam;
d. Mewujudkan perlindungan terhadap perempuan, anak-anak dan kelompok rentan lainnya di dalam Masyarakat Hukum Adat;
e. Mewujudkan kebijakan pembangunan daerah yang mengakui, menghormati, melindungi dan memenuhi hak tradisional dan hak lainnya dari Masyarakat Hukum Adat; dan
f. Mewujudkan penyelesaian sengketa yang berbasis Masyarakat Hukum
134 Adat.
Pasal 4 Ruang lingkup
Ruang lingkup Peraturan Daerah ini mencakup pengukuhan Masyarakat Hukum Adat dan wilayah adat, pengakuan lembaga adat, hukum adat, pemberdayaan masyarakat hukum adat, serta perlindungan hak tradisional dan hak lainnya.
BAB III
KEBERADAAN DAN KEDUDUKAN MASYARAKAT HUKUM ADAT Pasal 5
(1) Pemerintah Daerah mengakui dan menghormati Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya.
(2) Pemerintah Daerah melindungi dan memenuhi hak tradisional dan hak lainnya dari masyarakat hukum adat.
(3) Pemerintah Daerah melakukan pengukuhan terhadap Masyarakat Hukum Adat dan hak tradisionalnya.
Pasal 69
Masyarakat Hukum Adat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 adalah masyarakat yang terbentuk atas dasar genealogis, territorial, maupun fungsional dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Masyarakat dengan ikatan kesejarahan yang sama dan warganya memiliki perasaan bersama dalam kelompok;
b. Memiliki wilayah tertentu;
c. Memiliki lembaga adat; dan
d. Memiliki perangkat norma hukum adat.
Pasal 7
(1) Masyarakat Hukum Adat berkedudukan sebagai subyek hukum.
(2) Lembaga adat mewakili Masyarakat Hukum Adat di dalam maupun di luar
9 Dapat disesuaikan dengan kondisi di daerah.
135 pengadilan.
Pasal 8
(1) Masyarakat Hukum Adat yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dapat ditetapkan sebagai Desa Adat.
(2) Pengaturan mengenai Desa Adat dan penetapan Masyarakat Hukum Adat sebagai Desa Adat diatur dengan Peraturan Daerah.
BAB IV WILAYAH ADAT
Pasal 9
(1) Wilayah adat memiliki batas tertentu baik batas alam maupun batas dengan komunitas lain.
(2) Batas yang lebih rinci mengenai wilayah adat dipetakan atas prakarsa Masyarakat Hukum Adat atau oleh SKPD terkait bersama-sama dengan Masyarakat Hukum Adat.
(3) Dalam hal wilayah adat berbatasan dengan komunitas lain, maka hasil pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapatkan persetujuan dari komunitas yang berbatasan dengan wilayah adat yang akan ditetapkan.
(4) Dalam hal peta wilayah adat yang dilakukan atas prakarsa masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum memenuhi kaidah kartografis, Camat memfasilitasi agar wilayah adat bisa dipetakan oleh SKPD terkait.
(5) Tata cara pemetaan wilayah adat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran [SEBUTKAN NOMOR LAMPIRAN] yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 10
(1) Penetapan wilayah adat dilakukan sebagai bagian dari pengukuhan Masyarakat Hukum Adat.
(2) Hasil pemetaan wilayah adat dijadikan sebagai lampiran dalam Keputusan Bupati mengenai penetapan Masyarakat Hukum Adat.
(3) Bupati menyerahkan peta wilayah adat kepada Kepala Kantor Pertanahan untuk dituangkan dalam peta dasar pendaftaran tanah dengan