BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
B. Tinjauan Teori dan Konsep
2. Keterampilan Berbahasa
a. Hakikat Keterampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa memiliki empat komponen yakni keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Menyimak dan berbicara merupakan komunikasi dua arah secara langsung. Menyimak bersifat reseptif sedangkan berbicara bersifat produktif. Membaca bersifat reseptif dan menulis bersifat produktif.
Keempat jenis keterampilan tersebut memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Untuk mendapatkan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa, pembelajaran empat aspek keterampilan itu harus melalui proses pembelajaran yang strategis dan diperlukan perhatian serta pembinaan bahasa Indonesia secara
bersinambungan, baik secara lisan maupun tulisan yang melalui pembiasaan untuk mempermahir keempat keterampilan berbahasa tersebut secara terpadu. (Rauf, Ummiati, Munirah, 2021)
1) Keterampilan Menyimak a. Hakikat Menyimak
Menyimak adalah kegiatan meresepsi, mengolah serta menginterpretasi suatu permasalahan dengan melibatkan panca indera seseorang. Berikut ini beberapa pengertian menyimak menurut para ahli:
- Henry Guntur Tarigan
Menyimak adalah suatu kegiatan mendengarkan lambang- lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
- Menurut Anderson
Menyimak sebagai proses besar mendengarkan, mengenak, serta menginterpretasikan lambing-lambang lisan.
- Menurut Russel dan Russed 1959
Menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh perhatian, pemahaman dan perhatian serta apresiasi.
- Menurut Drs. Hanafi Natasasmita
Menyimak adalah mendengar secara khusu dan terpusat pada objek yang disimak.
- Menurut Djago Tarigan
Menyimak dapat diartikan sebagai suatu aktifitas yang mencakup kegiatan mendengar dari bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Askarman Laia, 2020)
Berdasarkan dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat penulis gambarkan bahwa menyimak merupakan suatu upaya memahami sesuatu melalui bantuan panca indera pendengaran dengan penuh perhatian, interpretasi dan memberikan apresiasi sebagai timbal balik dari pemahaman tersebut.
Istilah mendengar, mendengarkan dan menyimak sering kita jumpai dalam pengajaran bahasa, lebih-lebih dalam pengajaran keterampilan berbahasa. Satu hal yang sudah disepakati bersama ialah bahwa ketiga istilah itu berkaitan dengan makna. Namun dalam mengartikan makna istilah tersebut satu persatu, mulai muncul perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat mendengarkan sama dengan menyimak. Kedua-duanya dapat dipertukarkan dengan makna yang sama. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa pengertian mendengarkan dengan menyimak tidak sama.
Peristiwa mendengar biasanya terjadi secara tiba-tiba, kebetulan, dan tidak diduga sebelumnya. Karena itu kegiatan mendengar tidak direncanakan. Hal itu terjadi secara kebetulan. Apa yang didengar mungkin tidak dimengerti maknanya dan mungkin pula tidak menjadi perhatian sama sekali. Suara yang didengar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Dalam hal-hal tertentu suara itu dipahami benar-benar maknanya. Hal itu terbukti dari reaksi si pendengar yang berubah. Perhatikan contoh berikut:
- Sudin sedang asyik menyusun laporan perjalanannya ke Tangkubang Perahu. Tiba-tiba terdengar suara “boom” di sebelah kamar belajarnya. Sudin beranjak dan berhenti menulis sejenak. Ia menoleh ke arah datangnya suara itu, lalu meneruskan tugasnya.
- Gani sedang sibuk menyelesaikan denah pesanan Tuan Marto. Jam menunjukkan pukul 2.30 pagi. Keadaan sepi. Teman sekamar Gani sudah tidur lelap. Tiba-tiba terdengar suara dari tetangga sebelah
“Api! Api! Tolong! Tolong!” Gani tersentak, lalu lari keluar menuju suara tersebut. Gani melihat rumah Pak Hasan sedang dilalap api.
Gani pun dengan sikap membantu tuan rumah memadamkan api itu.
Ilustrasi yang tergambar dalam peristiwa mendengar (1) melukiskan Sudin benar-benar mendengarkan bunyi sesuatu yang jatuh. Ia hanya terperanjat, kaget, namun ia tidak begitu terpengaruh terhadap suara itu. Buktinya Sudin tetap menyelesaikan tugasnya.
Sedang ilustrasi mendengar (2) juga melukiskan Gani mendengar sesuatu tanpa sengaja, tetapi Gani tahu persis teriakan itu sekaligus menandakan bahaya, maka ia cepat-cepat menuju sumber suara itu dan ikut membantu memadamkan kebakaran itu.
Mendengarkan setingkat lebih tinggi tarafnya daripada mendengar. Bila dalam peristiwa mendengar belum ada faktor kesengajaan, maka dalam peristiwa mendengarkan, hal itu sudah ada.
Faktor pemahaman biasanya juga mungkin tidak ada karena hal itu belum menjadi tujuan. Mendengarkan sudah mencakup mendengar.
Contoh berikut melukiskan peristiwa mendengarkan.
Hasan sedang sibuk menyelesaikan soal-soal matematika. Di depannya, di atas meja belajar, radio kecil sedang menyiarkan lagu-lagu instrumentalia. Pada saat Hasan mengerjakan soal terakhir, radio itu memancarkan lagu Mutiara dari Selatan. Lagu itu adalah lagu kesenangan Hasan. Hasan pun berhenti sejenak dan membesarkan volume suara radio. Sambil mendengar lagu itu, Hasan melanjutkan tugasnya.
Di antara ketiga istilah, mendengar, mendengarkan, dan menyimak, taraf tertinggi diduduki istilah menyimak. Dalam istilah menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bila mendengar sudah tercakup dalam mendengarkan, maka baik
mendengar maupun mendengarkan sudah tercakup dalam menyimak.
Peristiwa menyimak tergambar dalam contoh berikut ini.
Lina menyimak dengan tekun uraian ragam bahasa yang disampaikan oleh Anton Moeliono melalui TVRI. Sebentar-sebantar Lina mencatat, kemudian dengan cepat ia beralih dan memperhatikan kembali pembicara. Perbandingan-ragam-ragam pakaian dengan ragam-ragam bahasa yang disampaikan oleh pembicara sangat memudahkan Lina memahami makna ragam bahasa itu. Ia tidak beranjak dari kursinya sebelum acara tersebut selesai. Di akhir acara Lina berkata “Saya puas dengan materi acara tersebut”.
Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa baik secara langsung atau melalui rekaman radio, atau televisi.
Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga diidentifikasi bunyinya, pengelompokannya menjadi suku kata, kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana. Lagu dan intonasi yang menyertai ucapan pembicara pun turut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian diinterpretasi maknanya, ditelaah kebenarannya atau dinilai, lalu diambil keputusan menerima atau menolaknya.
Berdasarkan contoh ilustrasi dan uraian tersebut di atas maka dapatlah disimpulkan definisi menyimak sebagai berikut: “Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang
terkandung di dalamnya”. Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, dan pengertian. Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.
Pada salah satu paragraf terdahulu sudah disinggung bahwa dalam menyimak terkandung tindakan yang disengaja. Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan ialah alasan tertentu mengapa yang bersangkutan menyimak. Alasan inilah yang dijadikan tujuan menyimak.
Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan. Karena itu dapatlah kita simpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati ide, pesan, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.
b. Tahap-tahap Menyimak
Dengan pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan menyimak pada siswa sekolah dasar, Ruth G. Strickland dalam (Novia Nur Afsani, 2019) menyimpulkan ada sembilan tahap menyimak, mulai dari yang berketentuan sampai yang amat bersungguh-sungguh. Kesembilan tahap tersebut adalah sebagai berikut:
- Menyimak berkala, yang terjadi pada saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinnya.
- Menyimak dengan perhatian dangkal, karena sering mendapat gangguan karena adanya selingan-selingan perhatian kepada hal-hal di luar pembicaraan.
- Setengah menyimak, karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hati, mengutarakan apa yang terpendam dalam hati sang anak.
- Menyimak serapan, karena sang anak keasyikan menyerap hal-hal yang kurang penting, jadi merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya.
- Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang disimak, perhatian dengan seksama berganti dengan keasyikan, hanya memperhatikan kata-kata sang pembicara yang menarik hati saja.
- Menyimak asosiatif, hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan yang mengakibatkan sang penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan sang pembicara.
- Menyimak dengan reaksi berkala, terhadap pembicaraan dengan membuat komentar ataupun mengajukan pertanyaan.
- Menyimak secara seksama, dengan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang pembicara, dan
- Menyimak secara aktif, untuk mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan sang pembicara.
Perbedaan tahap-tahap menyimak sebenarnya mencerminkan perbedaan taraf keterlibatan seseorang terhadap isi pembicaraan yang
disajikan sang pembicara. Situasi-situasi berikut ini merupakan contoh tahap-tahap menyimak ditinjau segi perbedaan maksud dan tujuan.
- Mendengarkan bunyi kata-kata, tetapi tidak memberikan reaksi kepada ide-ide yang diekspresikan, misalkan seorang ibu tahu bahwa putrinya tidak berbicara, namun sang ibu tidak memperhatikannya.
- Menyimak sebentar-sebentar, memperhatikan sang pembicara sebentar-sebentar, misalnya mendengar suatu ide pada suatu khotbah atau ceramah tetapi ide-ide lainnya tidak didengar apalagi didengarkan.
- Setengah menyimak, mengikuti diskusi atau pembicaraan hanya dengan maksud suatu kesempatan untuk mengekspresikan ide sendiri.
Misalnya seseorang yang mendengarkan suatu percakapan hanya untuk mencari kesempatan untuk mengemukakan kepada hadirin bagaimana cara beternak ulat sutra.
- Menyimak secara pasif dengan sedikit respensi yang kelihatan, misalnya sang anak mengetahui bahwa sang guru mengatakan kepada seluruh kelas, sekali lagi bagaimana cara berjalan di dalam ruangan agar tidak mengganggu orang lain. Karena sang anak sudah mengetahui hal itu, maka menyimaknya bersifat pasif saja.
- Menyimak secara sempit, dalam hal ini penekanan yang penting pudar dan lenyap karena sang penyimak menyeleksi butir-butir yang biasa, yang berkenan, ataupun yang sesuai dengannya, misalnya seorang
anggota partai politik menyimak pembicaraan seorang tokoh dari partai lain, karena kesibukannya memilih ide yang diingininya, maka ia kehilangan ide utama sang pembicara. Inilah akibat penyimakan yang sempit, ketertutupan hati seseorang.
- Menyimak serta membentuk asosiasi-asosiasi dengan butir-butir yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman pribadi seseorang, misalnya seorang siswa sekolah dasar mendengar bunyi awal kata-kata Karim, kurang, kaya, karena, kita, dan menghubungkannya dengan huruf K.
- Menyimak suatu laporan untuk menangkap ide-ide pokok dan unsur- unsur penunjang, atau mengikuti petunjuk-petunjuk, menyimak peraturan-peraturan serta uraian-uraian suatu permainan baru.
- Menyimak secara kritis, seorang penyimak memperhatikan nilai-nilai lain kata emosional dalam suatu iklan atau advertensi yang disiarkan melalui radio.
- Menyimak secara apresiatif dan kreatif dengan responsi mental dan emosional sejati yang matang, misalnya seorang siswa menyimak gurunya membacakan riwayat perjuangan pahlawan menentang penjajahan, dan memperoleh kegembiraan karena dapat mengetahui sifat-sifat pahlawan sejati Anderson, dalam (Novia Nur Afsani, 2019)
2) Keterampilan Berbicara a. Hakikat Berbicara
Keterampilan berbicara adalah sebuah kemampuan berbahasa dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata- kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan ide, pikiran, pendapat, gagasan dan perasaan kepada orang lain sebagai mitra pembicara yang didasari oleh kepercayaan diri, jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah psikologis seperti malu, rendah diri, ketegangan, dan berat lidah karena masalah psikologis menjadi penyebab pembicara kehilangan fokus sehingga informasi yang disampaikan sulit diterima oleh mitranya.
Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Dalam menyampaikan informasi, secara lisan seorang pembicara harus menyampaikannya dengan baik dan benar agar informasi tersebut dapat diterima oleh pendengar. Untuk menjadi pembicara yang baik, pembicara harus mampu menangkap informasi secara kritis dan efektif, hal ini berkaitan dengan menyimak. Apabila pembicara merupakan penyimak yang baik maka ia mampu menangkap informasi dengan baik.
Berikut adalah pengertian keterampilan berbiacara menurut para ahli:
- Henry Guntur Tarigan
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan serta menyatakan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka ditambah lagi dengan gerak tangan dan air muka (mimik) pembicara.
- Djago Tarigan
Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.
- Arsyad dan Mukti
Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis dapat mendeskripsikan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyampaikan pesan kepada pendengar secara lisan dengan mengekspresikan kata-kata.
b. Tujuan Berbicara
Tujuan berbicara antara lain:
- Kemudahan berbicara, peserta didik harus dilatih untuk mengembangkan keterampilan berbicara agar terlatih kepercayaan diri dalam pengucapannya.
- Kejelasan, untuk melatih peserta didik agar dapat berbicara dengan artikulasi yang jelas dan tepat dalam pengucapannya.
- Bertanggung jawab, Latihan untuk peserta didik berbicara dengan bai dan dapat menempatkan pada situasi yang sesuai agar dapat bertanggung jawab.
- Membentuk pendengar yang kritis, melatih peserta didik dalam menyimak lawan bicara dan mampu mengoreksi jika ada ucapan yang salah.
- Membentuk kebiasaan, yaitu membiasakan peserta didik dalam mengucapkan kosakata atau kalimat sederhana secara baik dan ini juga harus dibantu oleh lingkungan sekolah dan guru.
c. Jenis Keterampilan Berbicara
Jenis keterampilan berbicara dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain yaitu:
- Bercerita
Bercerita berarti menuturkan suatu cerita secara lisan (walaupun bahan cerita bisa berwujud karangan tertulis).
- Debat
Debat merupakan kegiatan berbicara dua arah yang sebenarnya mirip dialog. Debat berarti bertukar pikiran secara terbuka mengenai suatu masalah yang masih pro kontra.
- Diskusi
Istilah diskusi cukup dikenal, terutama di kalangan kaum terdidik.
Diskusi merupakan pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Diskusi ini juga merupakan perundingan atau pertukaran pemikiran untuk memperoleh pemahaman mengenai penyebab suatu masalah dan solusi penyelesaiannya.
Istilah diskusi berasal dari bahasa Latin discutio atau discusum yang berarti bertukar pikiran dan dalam bahasa Inggris discussion berarti perundingan atau pembicaraan.
- Wawancara
Wawancara merupakan pertukaran informasi yang dilakukan guna menyampaikan suatu hal yang akan disiarkan melalui radio, televisi.
- Pidato dan ceramah
Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya atau memberikan gambaran tentang suatu hal.
- Percakapan
percakapan adalah komunikasi dua arah berupa dialog antara dua orang atau lebih.
3) Keterampilan Membaca
a. Hakikat Keterampilan membaca
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki peranan penting dalam kehidupan seseorang sebagai sarana komunikasi serta informasi dalam rangka mengembangkan pengetahuan. Jenis keterampilan ini bersifat reseptif karena membaca merupakan suatu kegiatan berbahasa yang bertujuan untuk memperoleh atau memahami informasi dari bahan bacaan.
Kegiatan membaca berjamaah merupakan salah satu Permen yang dicanangkan pemerintah sebagai upaya peningkatan SDM (khusus) sekolah sekaligus menjadi jawaban dari rendahnya tingkat kegemaran membaca di Indonesia dimana UNESCO pada tahun 2012 mengatakan di antara 1000 orang Indonesia hanya 1 yang melakukan kegiatan membaca. (Andi Sukri Syamsuri, 2021)
Dengan demikian, kegiatan membaca sebagai bagian keterampilan berbahasa seharusnya digalakkan.
b. Tujuan Membaca
Ada beberapa tujuan membaca, antara lain sebagai berikut:
- Memahami secara detail dan menyeluruh isi bacaan.
- Menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara cepat.
- Mendapatkan informasi tentang sesuatu.
- Mengenal makna kata.
- Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia.
- Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar.
c. Jenis-jenis Membaca - Membaca nyaring
(Tarigan, 2008) mendefisikan membaca nyaring sebagai suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi pembaca atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan penulis.
- Membaca dalam hati
Membaca dalam hati sesuai dengan namanya adalah kegiatan membaca tanpa bersuara. Dalam membaca dalam hati orang menggunakan ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan karena tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi. Membaca dalam hati dibedakan atas membaca ekstensif dan intensif.
4) Keterampilan Menulis
a. Hakikat Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang bersifat mekanistis. Keterampilan menulis tidak mungkin dikuasai hanya melalui teori, tetapi dilaksanakan melalui latihan dan praktik yang teratur sehingga menghasilkan tulisan yang tersusun baik.
Keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif yang hanya dapat diperoleh sesudah keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca. Dengan demikian, keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dianggap paling rumit. (Besse Tenriola, Abd.Rahman Rahim, 2021).
Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. (Andi Paida, 2021).
Dari kedua pendapat di atas, keterampilan menulis dapat diartikan sebagai upaya komunikasi secara tidak langsung yang bersifat produktif karena menghasilkan suatu karya berupa tulisan yang bermakna.
b. Jenis-jenis Menulis
Suatu karangan mengandung dua hal, yaitu isi dan cara penyajiannya. Cara penyajian dan jenis karangan dipengaruhi oleh tujuan penulisan, dan jenis karangan akan mempengaruhi isi tulisan.
Berikut adalah jenis-jenis:
- Eksposisi
Eksposisi adalah tulisan yang tujuan utamanya adalah mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevakuasi sebuah persoalan. Dengan menulis bergaya eksposisi, penulis mencoba untuk memberi informasi dan petunjuk atas suatu hal kepada pembaca.
Eksposisi mengandalkan strategi pengembangan paragraf seperti dengan memberikan contoh, proses, sebab-akibat, klasifikasi, definisi, analisis, komparasi, dan kontras. Terkadang untuk memperjelas uraian, eksposisi dapat dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi juga sering disebut sebagai paparan proses.
- Deskripsi
Gaya deskripsi lebih memberi gambaran verbal terhadap sesuatu yang akan ditulis, baik itu manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan ini menggambarkan sesuatu objek atau kejadian sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat seolah-olah melihat sendiri, mengalami, dan merasakan apa yang terjadi sebagaimana dipersepsikan oleh pancaindra. Tulisan
deskriptif mendetail dan cenderung impesif sehingga dapat menggugah hati pembacanya.
- Narasi
Narasi berasal arti kata to narrate, yang berarti bercerita.
Cerita adalah rangkaian peristiwa atau kejadian secara kronologis, baik fakta maupun rekaan atau fiksi. Narasi bisa saja dimulai dari peristiwa di tengah atau paling belakang sehingga memunculkan alur yang flashback. Narasi bisa bergaya sudut pandang orang pertama sehingga terasa subjektivitas pengarangnya, atau orang ketiga yang akan terasa sangat objektif. Narasi sering kali digabungkan dengan deskripsi dan berfungsi sebagai eksposisi dan persuasi.
- Argumentasi
Argumentasi adalah sebuah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran sebuah pernyataan. Tulisan argumen secara tradisional terbagi atas dua kategori, yaitu induktif dan deduktif. Dalam berargumen, penulis dapat memilih salah satu atau kedua kategori tersebut secara bergantian. Dalam tulisan bersifat argumentatif, penulis menggunakan berbagai strategi dan retorika- retorika sebagai alat untuk menyakinkan pembaca tentang sesuatu kebenaran atau ketidakbenaran tersebut. Tulisan argumentasi ini merupakan jenis tulisan yang paling sulit dilakukan
karena melibatkan semua jenis tulisan lainnya. Inilah sebuah tulisan yang menghasilkan sebuah perbedaan atau membuat sesuatu selesai.
- Persuasi
Persuasi adalah teks yang bertujuan untuk membujuk atau mengajak orang lain untuk mengikuti pemikiran atau Tindakan tertentu. Dengan kata lain, teks persuasive berusaha menyampaikan maksud tertentu kepada pembaca agar dapat melaksanakan atau menerima apa yang menjadi gagasan penulis.
Itulah sebabnya teks persuasi mempunyai kemampuan untuk mengimbau sesuatu yang dianggap penting oleh penulis.
3. Minat
a. Pengertian Minat
Sesuatu yang pribadi dan berhubungan dengan sikap adalah minat. Minat dapat menyebabkan sesorang giat melakukan sesuatu yang menarik minatnya. Gunarso dalam (Sutrisno, 2021)
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, minat diartikan sebagai
“perhatian, keinginan, kesukaan (kecenderungan hati) terhadap sesuatu”.
(Slameto, 2010) mengemukakan bahwa:
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Lebih lanjut Slameto mengemukakan
bahwa suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas.
Senada dengan pendapat di atas, oleh J.P. Chaplin (Comy R.
Seniawan, 1984:184) mengemukakan bahwa minat adalah sebagai berikut:
1) Sikap yang terus menerus menyertai perhatian seseorang dalam memilih objek yang menarik.
2) Perasaan yang menentukan aktivitas kegemaran atau objek yang bernilai atau yang menarik bagi seseorang.
3) Suatu pernyataan motivasi tertentu yang mengarahkan tingkah laku pada arah atau tujuan tertentu.
Pengertian minat yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa orientasi minat tertuju pada objek-objek yang menarik, bernilai, dan dirasakan berharga.
Sesuai dengan beberapa pengertian tentang minat di atas, dapat disimpulkan bahwa minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyertai, mengarahkan, dan mempengaruhi tingkat perhatian dan kesediaan jiwa seseorang dalam memilih dan menerima sesuatu yang menarik dan berarti bagi diri dan lingkungannya.
b. Jenis-jenis Minat Belajar
Menurut (Suhartini, 2002), berdasarkan sifatnya minat dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
1) Minat personal
Merupakan minat yang bersifat permanen dan relatif stabil yang mengarah pada minat khusus mata pelajaran tertentu. Minat personal merupakan suatu bentuk rasa senang ataupun tidak senang, tertarik tidak tertarik terhadap mata pelajaran tertentu. Minat ini biasanya tumbuh dengan sendirinya tanpa pengaruh yang besar dari rangsangan eksternal.
2) Minat situasional
Merupakan minat yang bersifat tidak permanen dan relatif berganti-ganti, tergantung rangsangan eksternal. Rangsangan tersebut misalnya dapat berupa metode mengajar guru, penggunaan sumber belajar dan media yang menarik, suasana kelas serta dorongan keluarga. Jika minat situasional dapat dipertahankan sehingga berkelanjutan secara jangka panjang, minat situasional akan berubah menjadi minat personal atau minat psikologis siswa. Semua ini tergantung pada dorongan atau rangsangan yang ada.