• Tidak ada hasil yang ditemukan

attention deficit hyperactivity disolder (adhd) of class xii mipa 4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "attention deficit hyperactivity disolder (adhd) of class xii mipa 4"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keterampilan berbahasa ini sangat penting dalam upaya pertukaran informasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pembelajaran di sekolah. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua siswa mampu menggunakan keempat keterampilan berbahasa tersebut dalam proses pembelajaran, apalagi jika anak tersebut merupakan anak berkebutuhan khusus seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang mempunyai keterbatasan konsentrasi, namun permasalahan utamanya adalah: perilaku aktif. (hiperaktif), perilaku impulsif dan masalah perhatian/konsentrasi. Jadi salah satu siswa yang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (GPPH) di kelas XII MIPA 4 MAN 2 Kota Makassar sebaiknya tidak mempelajari kemampuan berbahasa dengan baik karena kemampuan konsentrasinya rendah.

Dilihat dari permasalahan tersebut merupakan tantangan utama, agar minat dan motivasi belajar keterampilan berbahasa pada siswa dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder tetap terjaga dengan baik, peran guru, siswa dan seluruh warga sekolah. Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (GPPH) merupakan masalah perkembangan yang erat kaitannya dengan berkurangnya aktivitas motorik, konsentrasi dan sosialisasi. Namun kenyataannya, ada siswa dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder yang mengenyam pendidikan di sekolah negeri seperti MAN 2 Kota Makassar melalui jalur inklusif dengan kemampuan bahasa yang lebih baik dibandingkan siswa ADHD/ADHD lainnya, meski terkadang ditolak.' dari lingkungan barunya.

Minat dan Motivasi Belajar Keterampilan Berbahasa Siswa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Kelas XII MIPA 4 MAN 2 Kota Makassar (Studi Kasus).

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa berkebutuhan khusus lainnya yaitu ADHD/ADHD agar mempunyai keinginan dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah agama atau sekolah biasa.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Tinjauan Hasil Penelitian

Melihat penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang ingin penulis lakukan yaitu mengkaji motivasi dan minat belajar mendengarkan pada anak ADHD/ADHD. Penelitian diatas mempunyai objek penelitian yang sama dengan penelitian saat ini yaitu anak ADHD/ADHD. Penelitian selanjutnya, Anjani, Ayu Tri., dkk. 2019) Studi kasus konsentrasi belajar pada anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) di SDIT At-Taqwa Surabaya dan SDN V Babatan Surabaya.

Rendahnya hasil belajar anak ADHD dalam proses belajar serta masih minimnya penelitian di Indonesia yang mengkaji fokus belajar pada anak ADHD menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Penelitian kedua (Gunawan, 2018) berjudul Terapi Bermain dalam Meningkatkan Konsentrasi pada Anak ADHD di Laboratorium SLB Autisme Universitas Negeri Malang. Manual Diagnostik dan Statistik (DSM IV) menyebutkan prevalensi ADHD pada anak usia sekolah berkisar antara 3 hingga 5 persen.

Kedua penelitian di atas meneliti kemampuan konsentrasi rendah pada anak ADHD/ADHD, yang tentunya berbeda dengan penelitian penulis yang meneliti anak ADHD/ADHD dari segi minat dan motivasi belajar keterampilan berbahasa.

Tinjauan Teori dan Konsep

  • GPPH/ADHD
  • Keterampilan Berbahasa

Dari contoh ilustrasi dan uraian di atas, maka pengertian menyimak dapat disimpulkan sebagai berikut: “Menyimak adalah suatu proses yang meliputi kegiatan menyimak bunyi-bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, mengevaluasi, dan menanggapi maknanya. Menurut Slavin, kata "motivasi untuk menggambarkan suatu gerakan, kebutuhan dan keinginan untuk melakukan sesuatu. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang mempengaruhinya dalam melakukan kegiatan belajar.

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa dan mempengaruhi terlaksananya kegiatan pembelajaran. Belajar pada hakikatnya adalah proses usaha individu untuk mencapai perubahan tingkah laku yang baru secara menyeluruh sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dari pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha untuk menguasai hal-hal yang baru, dimana dalam belajar terjadi perubahan pada diri seseorang yang berujung pada perubahan pemahaman, sikap dan keterampilan.

Hal ini disebabkan adanya kompleksitas yang mendorong manusia untuk melakukan kegiatan belajar, dan setiap orang memilih kebutuhan yang berbeda-beda dalam melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar seseorang akan menjadi daya penggerak dalam diri seseorang yang memberikan semangat dan dorongan sehingga menimbulkan aktivitas untuk melakukan kegiatan belajar. Jika seseorang mempunyai motivasi belajar, maka ia akan berusaha mengerahkan seluruh kemampuan dan konsentrasinya untuk melakukan kegiatan belajar.

Kerangka Pikir

Motivasi belajar merupakan suatu daya penggerak psikologis umum pada diri siswa yang merangsang kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan mengarahkan kegiatan belajar untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan yang besar dan menentukan dalam membuat peserta didik memperoleh semangat atau gairah dalam belajar, betapa pentingnya motivasi dalam proses belajar mengajar, karena motivasi berkaitan dengan kebutuhan yang selalu mengedepankan kepuasan. Sebaliknya, seseorang yang kurang motivasi akan mengabaikan segala permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran, seperti tidak menyelesaikan tugas, tidak mencatat dengan sempurna, bahkan akan bolos sekolah atau menghindari guru.

Namun penelitian ini hanya berfokus pada mendengarkan, suatu keterampilan berbahasa yang dapat digunakan untuk memusatkan perhatian dan mengolah informasi yang ada. Keterampilan mendengarkan ini sangat penting tidak hanya bagi siswa normal tetapi juga bagi siswa dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Seperti diketahui, ADHD/ADHD memiliki ciri-ciri umum yaitu perilaku terlalu aktif (hiperaktif), impulsif, dan konsentrasi rendah. Dengan adanya minat dan motivasi belajar mendengarkan ini, diharapkan dapat menarik perhatian anak ADD/ADHD itu sendiri.

Sejalan dengan pendapat tersebut Sardiman dalam Tryg (2021:21) mengatakan minat adalah keadaan yang terjadi ketika seseorang melihat ciri-ciri atau makna sementara dari suatu keadaan yang berkaitan dengan suatu keinginan atau suatu kebutuhan. Senada dengan pendapat di atas, (Gunawan, 2018) mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan atau dorongan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Data minat dan motivasi belajar mendengarkan siswa ADHD/ADHD akan dianalisis untuk mengetahui hasil yang autentik tentang minat dan motivasi belajar mendengarkan siswa ADHD yaitu AF di Kelas XII MIPA 4 MAN 2 Kota Makassar.

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir
Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan Penelitian
  • Desain Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Pengecekan Keabsahan Data

Indikator terpenting minat siswa AF dalam mempelajari keterampilan berbahasa adalah sebagai siswa dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif. Jawabannya 4 atau kategori sangat baik (SB). Sedangkan pada soal 3) OF siswa selalu. Jawaban responden sebesar 4 atau sangat baik (SB) dengan persentase 100. Pernyataan kedua, sebelum pembelajaran bahasa Indonesia dimulai, siswa AF terlihat sudah menyiapkan buku pelajaran terlebih dahulu.

Pembelajar AF terlihat mencoba membaca referensi lain jika ada materi yang kurang dipahaminya pada buku bahasa Indonesia. Rajin belajar yang mempunyai 2 pertanyaan/pernyataan yaitu (1) Siswa AF selalu mengikuti kelas bahasa Indonesia. Motivasi belajar keterampilan berbahasa pada siswa AF sebagai siswa penderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) mempunyai 5 indikator utama, yaitu: 1) rajin belajar, (2) gigih dalam kaitannya dengan soal, (3) tertarik pada jam soal yang berbeda, (4) mandiri dan (5) tabah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi yang dimiliki siswa AF ketika belajar keterampilan berbahasa juga masuk dalam kategori baik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penyajian Data dan Hasil Penelitian

Pembahasan Hasil Penelitian

Dari penilaian yang dilakukan oleh ketiga responden diatas yaitu mata pelajaran, teman sekelas dan guru bahasa Indonesia terhadap motivasi belajar keterampilan berbahasa, diketahui bahwa skala skor 4 disebut dengan kategori sangat baik (SB) mempunyai frekuensi sebesar 45 atau sekitar 33,33%, sedangkan kategori baik (B) skala nilai 3 mempunyai frekuensi 71 atau sekitar 52,59. Hal ini menunjukkan bahwa hasil analisis data motivasi keterampilan berbahasa lebih dominan pada skala nilai 3 atau disebut dengan kategori baik (B) yaitu 52,59%. Perbedaan lainnya terletak pada sudut pandang penelitian, yaitu penelitian saat ini mengacu pada minat dan motivasi siswa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dalam mempelajari keterampilan berbahasa.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bimbingan kepada konselor, guru, dan pendidik lainnya untuk lebih mewaspadai kondisi siswa ADHD agar dapat memberikan layanan untuk mengembangkan potensi anak ADHD secara individu. Kajian terhadap ketiga penelitian di atas menunjukkan bahwa belum ada keakuratan data lengkap mengenai anak ADHD yang dicatat untuk anak-anak Indonesia secara keseluruhan. Begitu pula dengan penelitian mengenai ADHD yang masih terbatas, khususnya mengenai minat dan motivasi anak ADHD dalam mempelajari keterampilan berbahasa.

AF mampu berkonsentrasi dengan baik, terbukti dari hasil penelitian penulis yang menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar keterampilan berbahasa yang diperoleh berada pada kategori baik (B). Hal ini menunjukkan bahwa AF mampu mendengar, berbicara, membaca dan menulis dengan baik yang berarti mampu berkonsentrasi dengan baik, tidak impulsif dan tidak hiperaktif yang merupakan ciri-ciri utama dari anak ADHD itu sendiri. Meski demikian, perilaku, ekspresi, dan ucapannya masih menunjukkan gejala anak ADHD, namun hal ini biasanya baru diketahui setelah adanya komunikasi langsung.

Setelah dilakukan proses penelitian, hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi minat belajar keterampilan berbahasa siswa AF lebih dominan pada angka 3 (B) atau kategori baik dengan total skor 47,40% yang dipilih oleh 9 responden dengan total skor 47,40%. 15 soal dan jumlah frekuensi 64. Sedangkan hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa motivasi belajar keterampilan berbahasa siswa berada pada angka 3 (B) atau kategori baik, dengan skor 52,59% dengan frekuensi 71 kali untuk pilih kategori ini. Berdasarkan indikator tersebut, minat belajar keterampilan berbahasa pada siswa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kelas XII MIPA 4 khususnya AF berada pada kategori baik.

Hal ini dapat dibuktikan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa motivasi belajar keterampilan berbahasa siswa berada pada kategori nomor 3 (B) dengan skor sebesar 52,59% dengan frekuensi 71 kali memilih kategori tersebut. Studi kasus konsentrasi belajar pada anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) di SDIT At-Taqwal Surabaya dan SDN V Babatan Surabaya.

Simpulan dan Saran

Simpulan

Minat belajar siswa AF terlihat pada empat indikator utama yaitu, perasaan bahagia, minat siswa, perhatian siswa, dan keterlibatan siswa. Hal ini terlihat dari skor yang lebih dominan yaitu nomor 3 (B) dengan total skor 47,40% dipilih oleh 9 responden dengan jumlah pertanyaan 15 dan jumlah frekuensi 64. Sedangkan skor dominan lainnya adalah 4 (SB) dengan total skor 41,48% dengan selisih 5,92% yang mempunyai total frekuensi 56.

Saran

Peneliti selanjutnya hendaknya dapat melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan indikator perhatian siswa terhadap minat belajar dan kemandirian siswa dalam motivasi, yang merupakan kekurangan atau persentase yang masih kurang dalam penelitian Attention Deficit Hyperactivity Dissoldered (ADHD) ini. Meningkatkan Keterampilan Menulis Paragraf Narasi Melalui Media Kartun Animasi Siswa Kelas VII SMP Unismuh Makassar. Teknologi permainan untuk pembelajaran anak ADHD: Tinjauan Pustaka.

Studi kasus anak hiperaktif dan upaya guru memusatkan perhatian siswa pada pembelajaran di MI Muhammadiyah Cepokan Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2014/2015.

Gambar

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir
Tabel 4.2. Frekuensi Jawaban Instrumen 2 (Teman Sekelas) pada Minat Belajar  Keterampilan Berbahasa Siswa Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif  (Attention Deficit Hyperactivity Disolder)
Tabel 4.2 merupakan hasil penilaian yang diberikan oleh 7 orang teman  sekelas  AF  yang  penulis  pilih  secara  acak  demi  kemurnian  jawaban  yang  diberikan oleh responden tersebut
Tabel  4.4.  Frekuensi  Hasil  Penilaian  3  Responden  terhadap  Minat  Belajar  Keterampilan Berbahasa Siswa Gangguan Pemusatan Perhatian dan  Hiperaktif (Attention Deficit Hyperactivity Disolder)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Respon yang muncul pada an.N saat pelaksanaan stimulasi senam otak menunjukkan bahwa anak semakin mau mengikuti senam otak. Hal tersebut berdasarkan dari hasil lembar

Ternyata kesulitan antara subyek dengan orang tua secara umum pada anak ADHD hampir sama yaitu (a) Susah diatur, ketika si anak disuruh diam tidak mau, lebih suka

Dimana hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa Ho diterima atau Tidak ada hubungan yang signifikan antara Pengaruh Asap (rokok, kendaraan, dan pembakaran

Teori Barkely tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Das, Cherbuin, Easteal, dan Anstey (2014) yang menjelaskan bahwa, ciri gangguan pemusatan perhatian pada anak

Terapi musik merupakan terapi efektif dan alat edukasi untuk anak dengan ADHD sehingga dapat mempengaruhi perubahan keterampilan yang penting pada gangguan belajar atau

Dimana hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa Ho diterima atau Tidak ada hubungan yang signifikan antara Pengaruh Asap (rokok, kendaraan, dan pembakaran

Dari hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata akurasi algoritme LVQ-PSO lebih baik daripada LVQ untuk klasifikasi jenis ADHD pada anak usia dini meskipun

Sains bagi anak usia dini dapat memberikan pengalaman positif bagi anak yang membantu diri anak tersebut mampu untuk mengembangkan pemahaman tentang suatu keterampilan