• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewenangan Pertanahan Pemerintah(Pusat) 67

Dalam dokumen politik hukum di bidang pertanahan (Halaman 75-87)

BAB III POLITIK HUKUM

A. Formulasi Politik Hukum Kewenangan Pertanahan 42

1. Kewenangan Pertanahan Pemerintah(Pusat) 67

Sebagaimana dinyatakan dalam sub. Bab pertama, kewenangan pertanahan menurut UUPA ada ditangan pemerintah (pusat). Berdasarkan hak menguasai negara tersebut pada Pasal 2 UUPA, maka pemerintah (pusat) berwenang mengatur dan dan menetapkan berbagai segi peruntukan dan penguasaan tanah.

Di dalam menjalankan tugasnya tersebut berdasarkan Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional, kewenangan pemerintah (pusat) tersebut dijalankan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Menurut Perpres No. 10 Tahun 2006, di dalam menjalankan tugas pengaturan dan penetapan di bidang pertanahan BPN melaksanakankan fungsi:

1) perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan.

2) perumusan kebijakan teknis di bidang pertanahan 3) koordinasi kebijakan, perncanaan dan program di

bidang pertanahan

4) pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang pertanahan.

5) penyelenggaraan survei, pengukuran dan pemetaan di bidang pertanahan.

6) pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum

7) pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah

8) pelaksanaan penatagunaan tanah, reformasi agararia, dan penataan wilayah-wilayah khusus.

9) penyiapan administrasi atas anah yang dikuasai dan /atau milik negara/daerah bekerjasama dengan Departemen Keuangan.

10) pengawasan dan pengendalian penguasaan pemilikan tanah.

11) kerjasama dengan lembaga-lembaga lain.

12) penyelenggaraan dan kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan.

13) pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan.

14) pengkajian dan penanganan masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan.

15) pengkajian dan pengembangan hukum pertanahan.

16) penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan.

17) pendidikan, latihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan.

18) pengelolaan data dan informasi di bidang pertanahan.

19) pembinaan fungsional lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bidang pertanahan.

20) pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang dan/atau badan hukum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perndang-undangan yang berlaku.

21) fungsi lain di bidang pertanahan sesuai peraturan perudang-undangan yang berlaku.

Terhadap penjalanan fungsi sebagaimana tersebut, khususnya berkaitan dengan pelayanan pertanahan dilakukan pembagian kewenangan antara pemerintah (pusat), pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Adapun perincian kewenangan pelayanan pertanahan berdasarkan PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Kewenangan Bidang Pertanahan yang masih langsung diurusi oleh pemerintah (pusat) adalah:

a. Berkaitan izin Lokasi berupa:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria ijin lokasi;

2) Pemberian ijin lokasi lintas propinsi

3) Pembatalan ijin lokasi atas usul pemerintah Propinsi dengan pertimbangan Kepala Kantor Wilayah BPN Propinsi;

4) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terhadap pelaksanaan ijin lokasi.

b. Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum, meliputi:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria ijin lokasi;

2) Pengadaan tanah untuk pembangunan lintas propinsi;

3) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terhadap Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum.

c. Penyelesaian sengketa tanah garapan, meliputi:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria Penyelesaian sengketa tanah garapan;

2) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terhadap Penyelesaian sengketa tanah garapan.

d. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan, meliputi:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk

pembangunan Penyelesaian sengketa tanah garapan;

2) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terhadap Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan.

e. Penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee, meliputi:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee;

2) Pembentukan Panitia Pertimbangan landreform nasional;

3) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terha- dap Penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee.

f. Penetapan tanah ulayat:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat;

2) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terhadap penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat.

g. Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong;

2) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terha- dap Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong.

h. Izin membuka tanah:

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria izin membuka tanah dan pengendalian pemberian izin membuka tanah;

2) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring terha- dap pelaksanaan izin membuka tanah.

i. Perencanaan dan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota.

1) Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur, dan kriteria perencanaan dan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota;

2) Pembinaan, pengendalian, dan monitoring ter- hadap perencanaan dan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota .

2. Kewenangan Pertanahan Pemerintahan Provinsi a. Berkaitan izin Lokasi berupa:

1) Penerimaan permohonan dan pemeriksaan kelengkapan persyaratan lintas Kabupaten/Kota;

2) Kompilasi bahan koordinasi, 3) pelaksanaan rapat koordinasi, 4) pelaksanaan peninjauan lokasi, 5) penyiapan berita acara koordinasi, 6) pembuatan peta lokasi,

7) penerbitan surat keputusan izin lokasi,

8) pertimbangan dan usulan pencabutan izin dan pembatalan surat keputusan izin lokasi atas usulan kab/kota,

9) monitoring dan pembinaan perolehan tanah.

b. Berkaitan Pengadaan tanah untuk kepentingan umum berupa:

1) Pengadaan tanah untuk pembangunan lintas kabupaten/kota;

2) penetapan lokasi, 3) Pembentukan panitia, 4) pelaksanaan penyuluhan, 5) pelaksanaan inventarisasi,

6) Pembentukan tim penilai tanah (khusus propinsi DKI)

7) penerimaan hasil penaksiran nilai tanah, 8) pelaksanaan musyawarah,

9) penetapan bentuk dan besarnya ganti kerugian, 10) pelaksanaan pemberian ganti kerugian,

11) penyelesaian sengketa bentuk dan besarnya ganti kerugian

12) pelaksanaan pelepasan hak dan penyerahan tanah dihadapan kepala kantor pertanahan kabupaten Kota.

c. Penyelesaian sengketa tanah garapan:

1) Penyelesaian sengketa tanah garapan lintas kabupaten/kota.

2) Penerimaan dan pengkajian laporan pengaduan sengketa tanah garapan,

3) penelitian terhadap obyek dan subyek sengketa, pencegahan dampak sengketa tanah garapan, 4) koordinasi dengan kantor pertanahan untuk

menetapkan langkah-langkah penanganannya, 5) fasilitasi musyawarah antar pihak yang

bersengketa untuk mendapatkan kesepakatan para fihak.

d. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pemangunan, meliputi:

1) Penyelesaian masalah ganti kerugiaan dan santunan tanah untuk pembangunan,

2) Pembinaan dan pengawasan pemberian ganti kerugiaan dan santunan tanah untuk pembangunan.

e. Penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee, meliputi:

1) pembentukan panitia pertimbangan landreform propinsi,

2) Penyelesaian permasalahan penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee, 3) Pembinaan penetapan subyek dan obyek

redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee.

f. Penetapan tanah ulayat, meliputi:

1) Pembentukan panitia peneliti lintas kabupaten/kota,

2) penelitian dan kompilasi hasil penelitian,

3) pelaksanaan dengar pendapat umum dalam rangka penetapan tanah ulayat,

4) Pengusulan rancangan peraturan daerah propinsi tentang penetapan tanah ulayat,

5) penanganan masalah tanah ulayat melalui musyawarah dan mufakat.

g. Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong, meliputi:

1) Penyelesaian masalah tanah kosong,

2) Pembinaan pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong.

h. Izin membuka tanah, meliputi:

1) Penyelesaian permasalahan pemberian izin membuka tanah;

2) pengawasan dan pengendalian pemberian izin membuka tanah (tugas pembantuan)

i. Perencanaan dan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota kewenangan propinsi dalam hal perencanaan penggunaan tanah lintas kabupaten/

kota yang berbatasan.

3. Kewenangan Pertanahan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota

a. Berkaitan izin Lokasi berupa:

1) Penerimaan permohonan dan pemeriksaan kelengkapan persyaratan,

2) kompilasi bahan koordinasi, 3) pelaksanaan rapat koordinasi, 4) pelaksanaan peninjauan lokasi, 5) penyiapan berita acara koordinasi, 6) pembuatan peta lokasi,

7) penerbitan surat keputusan izin lokasi,

8) pertimbangan dan usulan pencabutan izin dan pembatalan surat keputusan izin lokasi atas usulan kab/kota,

9) monitoring dan pembinaan perolehan tanah.

b. Berkaitan Pengadaan tanah untuk kepentingan umum berupa:

1) penetapan lokasi, 2) Pembentukan panitia, 3) pelaksanaan penyuluhan, 4) pelaksanaan inventarisasi, 5) pembentukan tim penilai tanah,

6) penerimaan hasil penaksiran nilai tanah dari lembaga/tim penilai tanah,

7) pelaksanaan musyawarah,

8) penetapan bentuk dan besarnya ganti kerugian, 9) pelaksanaan pemberian ganti kerugian,

10) penyelesaian sengketa bentuk dan besarnya ganti kerugian,

11) pelaksanaan pelepasan hak dan penyerahan tanah dihadapan kepala kantor pertanahan kabupaten Kota.

c. Penyelesaian sengketa tanah garapan:

1) Penerimaan dan pengkajian laporan pengaduan sengketa tanah garapan,

2) penelitian terhadap obyek dan subyek sengketa, 3) pencegahan dampak sengketa tanah garapan, 4) koordinasi dengan kantor pertanahan untuk

menetapkan langkah-langkah penanganannya, 5) fasilitasi musyawarah antar pihak yang

bersengketa untuk mendapatkan kesepakatan para fihak.

d. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan, meliputi:

1) pembentukan tim pengawasan pengendalian, 2) penyelesaian masalah ganti kerugian dan

santunan tanah untuk pembangunan.

4) pelaksanaan sidang yang membahas inventarisasi subyek dan obyek redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee,

5) penetapan para penerima redistribusi tanah kelebihan maksimum dan absentee dan penerbitan SKnya.

e. Penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee, meliputi:

1) pembentukan panitia pertimbangan landreform dan sekretariat panitia,

2) pelaksanaan sidang yang membahas hasil inventarisasi untuk penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanha absentee;

3) pembuatan hasil sidang dalam berita acara;

4) penetapan tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee sebagai obyek landreform berdasarkan hasil sidang panitia;

5) penetapan para penerima redistribusi tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee berdasarkan sidang hasil panitia;

6) penerbitan surat keputusan subyek dan obyek redistribusi tanah serta ganti kerugian;

f. Penetapan tanah ulayat, meliputi:

1) Pembentukan panitia peneliti,

2) penelitian dan kompilasi hasil penelitian,

3) pelaksanaan dengar pendapat umum dalam rangka penetapan tanah ulayat,

4) pengusulan rancangan peraturan daerah tentang penetapan tanah ulayat,

5) pengusulan pemetaan dan pencatatan tanah ulayat dalam daftar tanah kepada kantor pertanahan,

6) penanganan masalah tanah ulayat melalui musyawarah dan mufakat dalam rangka penetapan tanah ulayat.

g. Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong, meliputi:

1) Melakukan inventarisasidan identifikasi tanah kosong untuk pemanfaatan tanaman pangan semusim;

2) penetapan bidang-bidang tanah sebagai tanah kosong yang dapat digunakan untuk tanaman pangan semusim berdasarkan pihak lain berdasarkan perjanjian;

3) penetapan pihak-pihak yang memerlukan tanah untuk tanaman pangan semusim dengan mengutamakan masyarakat setempat;

4) fasilitasi perjanjian kerjasama antara pemegang hak atas tanah dengan pihak yang akan memanfaatkan tanah dihadapan/diketahui oleh kepala desa/lurah dan camat setempat dengan perjanjian untuk dua kali musim tanam;

5) penanganan masalah yang timbul dalam pemanfaatan tanah kosong jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian..

h. Izin membuka tanah:

1) Penerimaan dan pemeriksaan permohonan, 2) pemeriksaan lapang dengan memperhatikan

kemampuan dan status tanah dan rencana umum tata ruang wilayah,

3) penerbitan izin membuka tanah dengan memperhatikan pertimbangan teknis dari kantor pertanahan kabupaten/kota;

4) pengawasan dan pengendalian pemberian izin membuka tanah (tugas pembantuan).

j. Perencanaan dan penggunaan tanah wilayah kabupaten/ kota, meliputi:

1) pembentukan tim koordinasi tingkat kabupaten/

kota;

2) Kompilasi data dan informasi yang terdiri dari:

a) peta pola penatagunaan tanah atau peta wilayah tanah usaha atau peta persediaan tanah dari kantor pertanahan setempat, b) rencana tata ruang wilayah,

c) rencana pembangunan yang akan menggu- nakan tanah baik rencana pemerintah, pemerintah kabupaten/kota, maupun inves- tasi swasta.

3) Analisi kelayakan letak lokasi sesuai dengan ketentuan dan kriteria teknis dari instansi terkait.

4) Penyiapan draf rencana letak kegiatan penggunaan tanah;

5) Pelaksanaan rapat koordinasi terhadap draf rencana letak kegiatan penggunaan tanah dengan instansi terkait;

6) Konsultasi publik untuk memperoleh masukan terhadap draf rencana letak kegiatan penggunaan tanah;

7) Penyusunan draf final rencana letak kegiatan penggunaan tanah;

8) Penetapan rencana letak kegiatan penggunaan tanah dalam bentuk peta dan penjelasannya dengan keputusan bupati/ walikota;

9) Sosialisasi tentang rencana letak kegiatan penggunaan tanah kepada instansi terkait;

10) Evaluasi dan penyesuaian rencana letak kegiatan penggunaan tanah berdasarkan perubahan RTRW dan perkembangan realisasi pembangu- nan.

C. Bentuk Kewenangan Pertanahan yang Tepat yang

Dalam dokumen politik hukum di bidang pertanahan (Halaman 75-87)

Dokumen terkait