• Tidak ada hasil yang ditemukan

politik hukum di bidang pertanahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "politik hukum di bidang pertanahan"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

POLITIK HUKUM

Pengertian Politik Hukum Secara Umum

Padmo Wahjono7 mendefinisikan politik hukum sebagai kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi dari hukum yang akan dibentuk. Dengan demikian, politik hukum menurut Padmo Wahjono berkaitan dengan hukum yang berlaku di masa datang (ius constituendum).9. Mahfud menyatakan politik hukum mencakup proses pembuatan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukkan sifat dan.

Politik Hukum Nasional

Perbedaan politik hukum suatu negara tertentu dengan negara lain inilah yang kemudian menimbulkan apa yang disebut dengan politik hukum nasional. Ahsin Thohari merumuskan politik hukum nasional adalah kebijakan dasar penyelenggara negara (Republik Indonesia) dalam bidang hukum yang akan, sedang, dan telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara (Republik Indonesia) yang dicita- citakan. 21 Tunggul Anshari Setia Negara, Politik Hukum Nasional Terhadap Hukum Administrasi Negara, dalam Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UII Press, Cet.

Politik Hukum Otonomi Daerah

Pada masa awal orde baru –dibawah semboyan melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekwen- kehendak melaksanakan otonomi seluas-luasnya tetap dipertahankan. Berkenaan dengan adanya amandemen Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 (pada tanggal 18 Agustus 2000) yang sebelumnya hanya satu Pasal menjadi 3 Pasal maka menimbulkan implikasi penggantian Undang-Undang No. Hal yang paling menentukan dalam Undang-Undang 32 Tahun 2004 adalah soal hubungan antar susunan pemerintahan, baik antara pemerintahan pusat, daerah provinsi, daerah kabupaten/kota, hingga drsa/kelurahan memiliki sebuah garis yang tidak mungkin terputus.

POLITIK HUKUM

Hubungan Manusia Indonesia dan Tanah

38 Istilah hak atas tanah tidak dikenal dalam Instrumen HAM, baik dalam Deklarasi Universal HAM (DUHAM) maupun di dalam Kovenan Internasional Hak-hak EKonomi, Sosial dan Budaya. 39 Tahun 1999 tentang HAM, istilah hak atas tanah disebut dalam pasal 6 (2): “Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi….”. Pada masa sebelum kemerdekaan atau pada masa kolonial Belanda tersebut perangkat hukum tanah yang tersedia masih bersifat pluralistik dan beragam konsepsi serta kebijakan yang melandasinya.

Politik Hukum Pertanahan Menurut UUD 1945

Kata dikuasai atau menguasai oleh negara di sini tidak bisa diartikan bahwa negara langsung menjadi pemilik atas semua sumber daya alam. Sebab hak milik perorangan tetaplah diakui sebagaimana digariskan di dalam Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 yang berbunyi: “setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun.” Memang untuk mengimbangi itu ada ketentuan Pasal 33 tentang hak menguasai oleh negara yang memungkinkan negara melakukan pencabutan hak atas tanah untuk kepentingan umum. Di dalam penjelasan UUD 1945 hanya diberikan penegasan, bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat, sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipakai untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat.

Politik Hukum Pertanahan Menurut UUPA

Unsur hukum publik ini diwujudkan dalam pengelolaan bumi, air dan ruang angkasa Indonesia berupa mengatur dan memimpin penguasaan dan penggunaan tanah-tanah bersama tersebut yang menurut sifatnya termasuk bidang hukum publik. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa tersebut. Dalam asas nasionalitas, bumi, air dan ruang angkasa menjadi hak bangsa Indonesia yang bersifat abadi (Pasal 1).

POLITIK HUKUM

Formulasi Politik Hukum Kewenangan Pertanahan 42

  • Kewenangan Pertanahan Pemerintah(Pusat) 67

Bentuk Kewenangan Pertanahan yang Tepat

Membicarakan bentuk kewenangan bidang pertanahan, maka tidak bisa dilepaskan dari pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. UU No 22 Tahun 1999 menetapkan dalam bentuk otonomi penuh atau penyerahan kewenangan sepenuhnya kepada pemerintahan daerah kabupaten/kota. 32 Tahun 2004 menetapkan urusan pertanahan dengan istilah pelayanan pertanahan menjadi urusan wajib pemerintahan daerah (Provinsi dan kabupaten/kota) tetapi tidak jelas apa otonomi ataukah tugas pembantuan (medebewind).

Mengingat adanya dasar-dasar filosofi dan politik hukum yang sudah bagus, maka pembaharuan hukum agraria harus menguatkan dan memantapkan kembali politik hukum yang mendasari dan dimuat dalam UU No. Ferry menambahkan dalam UU Pemerintahan Daerah disebutkan kewenangan pusat hanya enam bidang, yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, hukum, moneter, dan agama,. Pertemuan Ilmiah Nasional “45 Tahun UUPA” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Agraria Fakultas Hukum Trisakti78, mensikapi ketidakjelasan dalam perumusan politik hukum kewenangan di bidang pertanahan lebih condong menyatakan bahwa urusan pelayanan pertanahan yang diserahkan kepada pemerintahan daerah berdasarkan UU No.

Kedua, sebagaimana di amanahkan dalam Pasal 33 UUD 1945, tujuan pengaturan kewenangan pertanahan adalah dalam rangka sebesar-besar kemakmuran rakyat, atau dalam bahasa Happy Warsito79 Politik Hukum Agraria yang seharusnya dilaksanakan oleh Negara/Pemerintah dalam. Berdasarkan kepentingan positioning di atas, pilihan apakah kewenangan pertanahan tetap merupakan kewenangan pemerintah pusat ataukah diserahkan menjadi kewenangan pemerintahan daerah harus tetap mengacu pada kepentingan persatuan Indonesia dan diletakkan dalam rangka sebesar-besar kemakmuran rakyat. Apabila pilihan tetap dalam bentuk sentralisasi atau merupakan urusan kewenangan pemerintah pusat, maka sentralisasi kewenangan pertanahan ini seharusnya tidak mengurangi hak pemerintahan daerah dalam ikut.

Lalu apa kewenangan-kewenangan yang bisa diberikan dalam bentuk tugas pembantuan kepada pemerintahan daerah tersebut yang tepat?, dalam hal ini menurut hemat penulis kewenangan yang bisa diberikan adalah yang menyangkut teknis pelayanan dan pelaksanaan operasional kebijakan pertanahan, sedangkan untuk penetapan kebijakan pertanahan harus tetap ditangan atau menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Pendahuluan

Artinya, bahwa dengan dilakukannya perbuatan hukum tersebut, hak atas tanah yang bersangkutan berpindah kepada pihak lain. Dalam hibah wasiat hak atas tanah yang bersangkutan beralih kepada penerima wasiat pada saat pemegang haknya meninggal dunia. Peralihan hak atas tanah bisa terjadi karena pewarisan tanpa wasiat dan perbuatan hukum pemindahan hak.

Menurut Hukum Perdata jika pemegang sesuatu hak atas tanah meninggal dunia, hak tersebut karena hukum beralih kepada ahli warisnya. Berbeda dengan beralihnya hak atas tanah karena pewarisan tanpa wasiat yang terjadi karena hukum dengan meninggalnya pemegang hak, dalam perbuatan hukum pemindahan hak, hak atas tanah yang bersangkutan sengaja dialihkan kepada pihak lain. Perbuatan-perbuatan tersebut, dilakukan pada waktu pemegang haknya masih hidup dan merupakan perbuatan hukum pemindahan hak yang bersifat tunai, kecuali hibah-wasiat.

Akta yang ditangani para pihak menunjukkan secara nyata atau ”riil” perbuatan hukum jual-beli yang dilakukan. Karena perbuatan hukum yang dilakukan merupakan perbuatan hukum pemindahan hak, maka akta tersebut secara inplisit juga membuktikan, bahwa penerima hak sudah menjadi pemegang haknya yang baru. Dalam hal hibah wasiat hak atas tanah yang bersangkutan beralih kepada penerima wasiat pada saat pemberi wasiat meninggal dunia.

Karena administrasi pendaftaran tanah yang ada di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota mempunyai sifat terbuka bagi umum, maka dengan dicatatnya pemindahan hak tersebut.

Jual Beli Tanah

Dengan dibuatnya Akta Jual Beli dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah, maka sekaligus hak milik atas tanah berpindah dari penjual kepada pembeli.

Tukar Menukar Tanah

Hibah Tanah

Bedanya dengan jual beli adalah bahwa dalam hal hibah, pemilik tidak menerima apapun sebagai ganti daripada tanah yang dihibahkan itu. Sebagai perbuatan hukum yang mengakibatkan beralihnya hak milik atas tanah maka hibah diatur dalam hukum tanah.

Hibah Wasiat Tanah

Lelang Tanah

Berkenaan dengan hal di atas maka modul ini akan membahas perkembangan dan pengaturan hak Jaminan atas tanah yang dari runutannya terdiri dari lembaga Hipotheek, Creditverband, Fiduciare Eigendom Overdracht dan Hak Tanggungan. Dalam rangka mengadakan unifikasi hukum Tanah Nasional maka UUPA menyediakan lembaga hak jaminan atas tanah baru yang diberi nama Hak Tanggungan sebagai pengganti Hypotheek dan creditverband. Hak Tanggungan merupakan satu-satunya lembaga Hak Jaminan atas tanah yang ketentuannya diatur dalam hukum tertulis.

Tetapi mengenai Hak Tanggungan tersebut Undang-undang Pokok Agraria baru menetapkan obyeknya yaitu: Hak Milik, Hak Guna. Artinya secara formal maupun substansial lembaga hak jaminan atas tanah adalah Hak Tanggungan dan ketentuan-ketentuan hypotheeek dan creditverband sudah tidak berlaku lagi sebagai lembaga hukum bagi jaminan atas tanah. Apa saja yang harus dirincikan berkaitan dengan obyek hak tanggungan ditetapkan dalam Penjelasan Umum angka 3 huruf c UUHT.

Asas ini menetapkan bahwa obyek hak Tanggungan bersifat pasti, yaitu apa yang secara pasti dtetapkan dalam UUHT atau undang-undang lainnya. Apabila misalnya ada hak atas tanah tetapi hak atas tanah itu tidak ditetapkan sebagai obyek Hak tanggungan, maka tanah tersebut tidak bisa dijadikan obyek hak tanggungan. Setelah dicatat dalam buku tanah HT, maka HT tersebut oleh kepala Kantor Pertanahan menyalin adanya Hak Tanggungan dalam sertifikat Hak atas tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah Susun yang dijadikan jaminan.

Eksekusi hak tanggungan dilakukan dalam hal debitur wanprestasi (cidera janji) tidak melunasi hutangnya sebagaimana waktu yang disepakati.

POLITIK HUKUM JAMINAN ATAS TANAH 93

Hak Jaminan Atas Tanah Pada Masa

  • Jenis-Jenis Hak Jaminan Atas Tanah
  • Keistimewaan Hipotheek dan Creditverband . 96

Pada masa kolonial Belanda, selain hak-hak atas tanah yang beraneka ragam, hukum tanahpun mengenal perangkat hak jaminan atas tanah yang bersifat dualistik juga. Untuk tanah-tanah hak eigendom, hak erfpacht, dan hak opstal disediakan hypotheek sebagai lembaga hak jaminan atas tanah. Selain Hypotheek dan Credietverband sebagai hak jaminan atas tanah yang hukumnya tertulis, sejak jaman Hindia Belanda di Indonesia digunakan juga lembaga fiduciaire eigendom overdracht atau FEO sebagai hak jaminan atas tanah.

Selain berkedudukan mendahului, kreditor pemegang hak jaminan atas tanah tetap berhak menjual lelang tanah yang dijadikan jaminan dan mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut, sungguhpun tanah yang bersangkutan sudah dipindahkan haknya kepada pihak lain (droit de suite). Selain dipenuhi kedua syarat tersebut, tanah yang bersangkutan haknya harus termasuk golongan yang didaftar dan secara tegas ditunjuk oleh Undang-undang sebagai obyek lembaga hak jaminan yang bersangkutan. Obyeknya adalah benda-benda tetap, yaitu yang dapat dipakai sebagai jaminan adalah benda-benda tetap baik yang berwujud maupun yang berupa hak-hak atas tanah.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa apabila debitur cidera janji kepada kreditur, maka pemegang jaminan atas tanah berhak untuk menjual obyek yang dijadikan jaminan melalui pelelangan umum menurut peraturan hukum yang berlaku dan mengambil pelunasan tersebut. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar-Dasar Pokok Agraria yang sering disebut dengan UUPA terjadi perubahan yang cukup mendasar tentang penamaan lembaga hak jaminan atas tanah. Dengan adanya ketentuan dalam Pasal 57 sebagai Pasal Peralihan maka sejak berlakunya Undang-undang Pokok Agraria kecuali mengenai obyeknya yang sudah ditunjuk sendiri oleh Undang- undang Pokok Agraria terhadap Hak Tanggungan diberlakukan ketentuan-ketentuan hypotheek dan credietverband.

Juga diatur kemungkinan diikutsertakannya bangunan dan tanaman yang ada di atas tanah untuk dibebani hypotheek, baik bangunan yang sudah ada maupun yang masih akan dibangun atau ditanam kemudian.

Hak Jaminan Tanah Menurut UUHT

  • Pengertian Hak Tanggungan
  • Asas-Asas Hak Tanggungan
  • Obyek Hak Tanggungan
  • Proses Pembebanan Hak Tanggungan
  • Hapusnya Hak Tanggungan
  • Eksekusi Hak Tanggungan
  • Pencatatan Hapusnya Hak Tanggungan

Agar suatu bangunan bisa menjadi obyek dari hak Tanggungan, maka harus secara limitatii bangunan iti dicantumkan sebagai obyek hak Tanggungan dalam APHT. Pemberian Hak Tanggungan dituangkan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang bentuk dan isinya ditetapkan dengan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 tahun 1996. Pada prinsipnya pemberian HT wajib dihadiri dan dilakukan sendiri oleh pemberi HT sebagai pihak yang berwenang melakukan perbuatan hukum membebankan Hak Tanggungan atas obyek yang dijadikan jaminan.

Proses yang terjadi dalam pendaftaran Hak Tanggungan ini dimulai dengan pembukuan Hak tanggungan dalam Buku-Tanah HT oleh Kepala Kantor Pertanahan. Tahap ketiga ini disebut juga sebagai tahap pemenuhan asas publisitas yaitu tahap pihak lain mengetahui adanya Hak Tanggungan dengan jaminan tanah yang tertentu. Eksekusi dilakukan dengan cara obyek hak tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tatacara yang ditentukan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pencatatan Hapusnya Hak Tanggungan Pencatatan hapusnya Hak tanggungan atau Pencatatan hapusnya Hak tanggungan atau roya dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan. Kutipan risalah lelang obyek Hak Tanggungan, disertai pernyataan kreditur, bahwa pihaknya melepaskan Hak Tanggungan untuk jumlah yang melebihi hasil lelang, yang dituangkan dalam surat pernyataan di bawah tangan. Untuk Hak Tanggungan yang hapus karena dilepaskan oleh kreditur pemegangnya, pendaftaran hapusnya dilakukan berdasarkan pernyataan kreditur pemegang Hak tanggungan yang bersangkutan.

Pencatatan hapusnya Hak Tanggungan karena pembersihan melalui penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri dilakukan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri yang.

Referensi

Dokumen terkait

Maksud dari hukum internasional dan opini adalah bagaimana kebijakan luar negeri yang diperoleh oleh kedua negara ini berkaitan dengan hukum internasional dan bagaimana

Berkaitan dengan persoalan kedua di atas, hukum Islam dalam kontek sebagai hukum nasional adalah hukum berciri sendiri, yakni sebagai hukum Islam lokal se suai ijtihad

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa pembentukan produk hukum adalah lahir dari pengaruh kekuatan politik melalui proses politik dalam institusi negara yang

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa pembentukan produk hukum adalah lahir dari pengaruh kekuatan politik melalui proses politik dalam institusi negara yang

“ Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan adalah suatu proses dalam penerapan atau pelaksanaan kebijakan dengan berbagai

Tidak mempelajari suatu tertib hukum tertentu , tetapi melihat hukum itu sebagai suatu hal sendiri, lepas dari kekhususan yang berkaitan dengan waktu dan tempat. Ilmu Hukum umum

Menurut Hoefnagels kebijakan penanggulangan kejahatan ( criminal policy ) dapat dilakukan dengan memadukan upaya penerapan hukum pidana ( criminal law application ), pencegahan

Hal ini telah diatur di dalam UUD 1945 (Pasal 28 J) dan UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Perundang-undangan, begitu pula menurut doktrin hukum perundang-undangan. 99