• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Birokrasi Pemerintahan

NEGARA DAN BIROKRASI

C. Kinerja Birokrasi Pemerintahan

Kinerja bagi sebuah organisasi merupakan indikator penting dari keberadaan organisasi tersebut, baik mdia organisasi pemerintah amupun organisasi swasta. Artinya, kinerja birokrasi sangat berpengaruh terhadap keberadaan birokrasi tersebut. Semakin baik kinerja yang dilakukan oleh birokrasi, maka semakin baik pula eksistensinya. Sebaliknya, keberadaan birokrasi kan dipertanyakan bila kinerja yang dilakukannya buruk atau tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. Penilaian kinerja birokrasi merupakan suatu kegiatan yang sangat penting karena dapat dijadikan sebagai tolok ukur penilaian tentang keberhasilan suatu organisasi dalam usaha pencapaian tujuan yang sudah dirumuskan dalam visi dan misinya (Dwiyanto, 2008).

Usaha-usaha untuk memperbaiki kinerja birokrasi akan bisa dilaksanakan dengan lebih terarah dan sistematis bila mekanisme yang dilakukan adalah dengan melakukan penilaian terhadap kinerja birokrasi. Penilaian tentang kinerja ini juga akan menjadi informasi strategis yang akan menggerakkan para pejabat penyelenggara pelayanan publik. Tekanan yang ditimbulkan oleh informasi tentang adanya penilaian kinerja akan membuat mereka berusaha melakukan perubahan-perubahan dalam organisasi untuk bisa mendapatkan penilaian kinerja yang baik (Dwiyanto, 2008).

Selain itu, hasil penilaian kinerja yang dilakukan akan dapat memberikan gambaran tentang pencapaian kinerja di organsasi dalam rangka mencapai tujuannya, sehingga bisa dilakukan upaya perbaikan atas kekurangan atau kesalahan yang masih terjadi.

Meskipun tugas pokok dan fungsi aparatur sipil negara atau para birokrat sudah terperinci secara jelas pada dokumen tertulis yang menjadi ajuan kerja mereka sehingga sebenarnya bukan hal yang sulit untuk melakukan penilaian terhadap kinerja birokrat. Faktanya, penyelenggaraan roda pemerintahan belum terbiasa melakukan penilaian terhadap kinerja birokrasi publi. Hal ini berbeda dengan organisasi bisnis yang sudah jauh lebih dulu melakukan penilaian ini.

Tuntutan akan persaingan di dunia bisnis membuat mereka dengan mudah bisa memakai indikator profi tabilitas untuk mengukur kinerja para karyawannya.

Birokrasi pemerintah sampai saat ini belum mempunyai tolok ukur yang jelas berkaitan dengan kegiatan penilaian kinerja birokratnya. Baru beberapa tahun terakhir ini mulai ada usaha penilaian kinerja pegawai yang dilakukan secara internal oleh pemerintah. Itupun informasinya tidak mudah diperoleh oleh masyarakat. Sulitnya memperoleh informasi tentang kinerja birokrasi pemerintah menunjukkan fakta bahwa kinerja belum dianggap sesuatu yang penting oleh pemerintah. Apa yang dilakukan pemerintah terhadap birokrasi sangat sering tidak ada kaitannya dengan kinerja birokrasi. Masalah anggaran misalnya, anggaran sering diberikan kepada birokrasi bukan atas dasar target hasil yang akan diberikan kepada masyarakat, tapi berdasarkan kebutuhan dari birokrasi tersebut. Contoh lain misalnya, promosi jabatan seorang aparatus sipil negara bukan karena kompetensi dan prestasi, tapi

tidak jarang karena adanya deal-deal politik dalam proses pemilihan kepala daerah. Hal ini mengakibatkan keinginan untuk mewujudkan hasil dan kinerja yang maksimal cenderung rendah aklau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali dalam kehidupan birokrasi pemerintah.

Oleh karena itu Dwiyanto (2002) menawarkan beberapa indikator yang bisa dipakai untuk mengukur kinerja birokrasi sebagai berikut:

1. Produktivitas

Konsep produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efi siensi, tetapi juga efektivitas pelayanan. Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antara input dengan output. Konsep produktivitas dirasa terlalu sempit dan kemudian General Accounting Offi ce (GAO) mencoba mengembangkan satu ukuran produktivitas yang lebih luas dengan memasukkan indikator tambahan yaitu seberapa besar pelayanan publik itu memiliki hasil yang diharapkan sebagai salah satu indikator kinerja yang penting. Jadi bukan hanya sekedar terkait dengan pencapaian target kerja.

2. Kualitas Layanan

Kinerja organisasi pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik terkait erat dengan kualitas pelayanan yang diselenggarakannya. Isu mengenai kualitas layanan cenderung semakin menjadi penting dalam menjelaskan kinerja organisasi pelayanan publik. Dalam lingkungan birokrasi pemerintah, banyak pandangan negatif yang terbentuk mengenai organisasi publik yang muncul karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kualitas layanan yang diterima dari organisasi publik tersebut. Sehingga muncul persepsi bahwa kinerja birokrasi dalam kaitannya dengan pelayanan publik buruk bila tingkat kepuasan masayarakat terhadap kualitas layanan rendah. Oleh karena itu tingkat kepuasan masyarakat dapat dijadikan salah satu indikator penilaian kinerja organisasi pemerintah.

3. Responsivitas

Responsivitas adalah kemampuan organisasi penyelenggara pelayanan publik untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda,dan prioritas pelayanan, mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat responsivitas disini menunjukkan keselarasan antara program dan kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Responsivitas merupakan salah satu indikator kinerja karena responsivitas secara langsung menggambarkan kemampuan organisasi publik dalam menjalankan misi dan tujuannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Responsivitas yang rendah menunjukkan adanya ketidakselarasan antara pelayanan dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini jelas menunjukkan ketidakmampuan organisasi dalam mewujudkan misi dan tujuan organisasi publik. Organisasi yang memiliki responsivitas rendah, biasanya akan memiliki kinerja yang jelek pula.

4. Responsibilitas

Responsibilitas adalah indikator yang mungkin saja suatu saat akan berbenturan dengan responsivitas. Hal ini karena responsibilitas mengukur apakah pelaksanaan kegiatan organisasi publik itu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar atau sesuai dengan kebijakan organisasi, baik yang eksplisit maupun implisit.

5. Akuntabilitas

Akuntabilitas publik menunjuk pada seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik tunduk pada para pejabat publik yang secara prosedural dipilih oleh rakyat.

Asumsinya adalah bahwa para pejabat politik tersebut karena keberadaannya dipilih oleh rakyat, dengan sendirinya secara ideal dia seharusnya akan selalu merepresentasikan kepentingan rakyat pada setiap pengambilan keputusan dan tindakan politiknya. Dalam konteks ini, konsep dasar akuntabilitas publik dapat digunakan untuk melihat seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik itu

konsisten dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Kinerja organisasi publik tidak hanya bisa dilihat dari ukuran internal yang dikembangkan oleh organisasi publik atau pemerintah, seperti pencapaian target. Kinerja sebaiknya juga harus dinilai dari ukuran eksternal, seperti terpenuhinya nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Suatu kegiatan organisasi publik memiliki akuntabilitas yang tinggi kalau kegiatan itu dianggap benar dan sesuai dengan nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat. Sebaliknya kegiatan organisasi akan mendapatkan penolakan dari masyarakat dan rendah akuntalitasnya bisa konten dan atau mekanismenya tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat (Kausar, 2009).