BAB III PROFIL IBNU ᾹSYŪR, WAHBAH AL-ZUḤAILĪ DAN QURAISH
A. Biografi Mufassir
3. Kitab Tafsir Al-Mishbah
Kitab Tafsir Al-Mishbah merupakan salah-satu mahakarya Quraish Shihab. Kitab ini pertama kali diterbitkan di Jakarta oleh penerbit Lentera Hati pada tahun 2000. Kemudian dicetak untuk kedua kalinya pada tahun 2004 dan edisi baru cetakan pertama pada tahun 2009.149 Pada pertengahan tahun 2021 diterbitkan lagi edisi baru cetakan pertama. Setiap volume dari kitab ini memiliki ketebalan yang berbeda-beda, sama halnya jumlah surah yang dibahas di dalamnya.
Latar belakang penulisan kitab tafsir ini pada awal bermula dari keprihatinan beliau terhadap kondisi ummat islam. Beliau merasa terpanggil sebab banyak umat islam yang hanya tertarik pada naẓam- nya saja namun belum memahami pesan dari ayat Al-Qur‟ān dengan
148Wahbah Al-Zuḥaili , at-Tafsīrul-Munīr: Fil‟Aqidah wasy-Syarī‟ah wal Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Tafsir Al-Munir: Aqidah, Syari‟ah,& Manhaj, h. 198.
149Mahfudz Masduki, Tafsir Al-Mishbāḥ M. Quraish Shihab: Kajian atas Amtsal Al-Qur‟ān , h. 20.
baik dan benar. Melalui kitab tafsir ini beliau ingin memperkenalkan Al-Qur‟ān dengan menyuguhkan pesan-pesan Al-Qur‟ān yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Memang sudah banyak kitab tafsir yang ditulis oleh para mufassir terdahulu, namun melihat zaman yang terus berkembang, maka penggalian akan makna dari ayat-ayat Al- Qur‟ān itu tetap harus dilakukan.150 Al-Mishbah yang berarti lampu, pelita, lentera atau benda lain yang yang berfungsi sebagai penerang di dalam kegelapan. Pemilihan nama kitab ini diharapkan dapat memberi pencerahan dan sebagai pedoman hidup dalam mencari petunjuk bagi mereka yang mengalami kesulitan, khususnya dalam memahami pesan Al-Qur‟ān .151
Jika dilihat dari bentuk penafsirannya, maka Tafsir al-Mishbah termasuk dalam tafsir bi ar-ra‟yi karena dalam menafsirkan beliau lebih cenderung menggunakan argumentasi rasio di samping bersumberkan dari hadis-hadis dan Al-Qur‟ān itu sendiri. Adapun corak penafsirannya ialah adabi ijtimā‟ī (adab sosial kemasyarakatan). Hal ini dapat dilihat dari penjelasan-penjelasan Quraish Shihab yang sering kali dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat dengan harapan dapat menjawab dan mencarikan solusi dari masalah-masalah tersebut.152
Adapun metode yang digunakan oleh Quraish Shihab ialah dengan mengkombinasikan beberapa metode yang umumnya digunakan oleh mufassir lainnya, yakni mencakup metode tahlīli,
150Mahfudz Masduki, Tafsir Al-Mishbaḥ M. Quraish Shihab: Kajian atas Amtsal Al-Qur‟ān , h. 17-18.
151Abdul Rouf, Mozaik Tafsir Indonesia; Kajian Ensiklopedis Karya Tafsir Nusantara Dari Abdul Rauf As-Singkili hingga Muhammad Quraish Shihab, h. 343.
152Lufaefi, “Tafsir Al-Mishbāḥ : Tekstualitas, Rasionalitas Dan Lokalitas Tafsir Nusantara”,Substantia, Vol.21, no.1 (Aril 2019), h.32 https://jurnal.ar- raniry.ac.id/index.php/substantia/article/download/4474/pdf (4 Juni 2022).
ijmāli, muqāran, dan mauḍū‟i. Namun metode yang menonjol dalam kitab ini ialah metode tahlīli. Hal tersebut nampak dari penafsirkan Quraish Shihab yang berusaha mengungkap makna suatu ayat dari berbagai aspek dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat dalam Al- Qur‟ān.153 Dalam menafsirkan, Quraish Shihab juga merujuk pada beberapa mufassir terdahulu, diantaranya Mutawalli Al-Sya‟rawi, Sayyid Qutb, Muhammad al-Ṭāhir bin Āsyūr dan beberapa ulama lainnya. Hal ini membuktikan bahwa penafsiran beliau bukan semata- mata hasil ijtihad pribadi, namun juga mengutip dari pendapat mufassir terdahulu.154
Pada umumnya setiap mufassir memiliki sistem atau pola penulisan, demi untuk memudahkan pembaca dalam mengkaji kitabnya. Begitu juga Quraish Shihab dalam menyajikan uraian tafsirannya beliau menggunakan tartib muṣḥafi. Artinya ialah beliau menafsirkan sesuai dengan urutan ayat-ayat dalam mushaf yang dimulai dari surah al-Fātihah sampai dengan surah an-Nās.155
153Muhammad Hasdin Has, “Konstribusi Tafsir Nusantara Untuk Dunia (Analisis Metodologi Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab)”, Al-Munzir, vol.9, no.3 (Mei 2016), h. 78 https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/al-munzir/article/view/778 (5 Juni 2022).
154Abdul Rouf, Mozaik Tafsir Indonesia; Kajian Ensiklopedis Karya Tafsir Nusantara Dari Abdul Rauf As-Singkili hingga Muhammad Quraish Shihab, h. 349-350.
155Mahfudz Masduki, Tafsir Al-Mishbāḥ M. Quraish Shihab: Kajian atas Amtsal Al-Qur‟ān , h. 22.
67 BAB IV
ANALISIS PENAFSIRAN IBNU ĀSYŪR DALAM KITAB TAFSĪR AL- TAḤRĪR WA AL-TANWĪR, WAHBAH AL-ZUḤAILĪ DALAM TAFSĪR AL-MUNĪR DAN QURAISH SHIHAB DALAM TAFSIR AL-
MISHBAH DAN KONTEKSTUALISASINYA SEBAGAI RESPON DARI FENOMENA CHILDFREE
Pada bab sebelumnya, penulis telah memaparkan terkait biografi ketiga mufassir beserta kitab tafsir yang akan menjadi objek penelitian penulis. Maka pada bab ini, penulis akan menguraikan dan menganalisa penafsiran dari ketiga mufassir tersebut terkait ayat-ayat yang berkaitan dengan childfree. Setelah itu penulis akan mencoba untuk mengkonteksualisasikan ayat-ayat tersebut dengan kondisi saat ini dan mengkaitkannya dengan fenomena childfree yang menjadi fokus dalam penelitian ini.
A. Penafsiran Mufassir
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab dua bahwa fenomena childfree tidak disebutkan secara jelas dan tersurat dalam Al-Qur‟ān, maka dari itu penelitian ini berdasar pada tujuan pernikahan dan perkembangbiakan manusia serta pemberian anak yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Pada bagian ini penulis akan mengurai penafsiran QS. Al-Rūm [30]: 21, QS. Al-Nisā‟ [4]: 1, QS. Al-Nahl [16]:
72, QS. Al-Syūrā [42]: 11dan 50, dan QS. Āli-„Imrān [3]: 38 oleh Ibnu Āsyūr, Wahbah Al-Zuḥailī dan Qurasih Shihab, dilanjut dengan analisis penulis, kemudian penulis akan mengkonteksualisasikan penafsiran ketiga mufassir tersebut dengan fenomena childfree.
1. Ayat terkait Tujuan Pernikahan (QS. Al-Rūm [30]: 21)
ْم ُ كَنْيَة َ
ل َع َج َو ا َىْي َ ل ِا آٖ ْيُن ُ
ك ْس َ
تِ ل ا ًجا َو ْز َ ا ْم ُ
ك ِس فْن ُ َ ا ْن ِ م ْم ُ
ك َ ل َق َ
ل َخ ن ْ َ ا ٖٖٓهِخٰي ٰ
ا ْن ِم َو ك َّ َ
فَخَّي ٍم ْي َ لِ ل ٍجٰي ٰ
ا َ
ل َكِل ٰذ ْيِف َّ
ن ِاۗ ًثَمْح َرَّو ًةَّدَيَّم
َ ن ْو ُر
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (Jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tentram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Rūm [30]: 21).
Ayat ini mencakup beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Melalui ayat ini Allah SWT memberi nasehat dan peringatan tentang sistem umum manusia yaitu tentang pernikahan, keluarga, serta keturunan. Semua ini adalah suatu sistem yang menakjubkan sebagai bentuk dari kekuasaan-Nya yang harus dijunjung tinggi oleh setiap manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.156
Bukti-bukti akan kekuasaan-Nya ialah memberi manusia hukum atau aturan dalam memiliki keturunan. Di mana keturunan ini bisa dimiliki melalui hubungan pernikahan terlebih dahulu. Allah SWT tidak menjadikan manusia dalam proses regenerasi ini layaknya tumbuhan yang cukup hanya dengan dirinya sendiri. Maka dari itu diciptakannya pasangan dari sesama jenis manusia dan tidak dari jenis yang lain sebab kebahagiaan tidak akan terwujud jika manusia berpasangan selain dari jenisnya.157
156Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 21, (Tunis:
Dar at-tunisia, 1984), h.71.
157Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 2, h.71.
Ibnu Āsyūr pada lafaẓ (ا ْيُنُ ك ْسَ
ت) dimaknai “anda dapat condong”.
Sedang Mawaddah ialah cinta dan rahmah ialah sifat yang mendorong seseorang untuk melakukan yang lebih baik.158
Adanya penciptaan perempuan untuk kemudian melengkapi laki- laki dari satu jenis yang sama adalah suatu tanda atas kuasa, rahmah dan belas kasih-Nya. Hal tersebut agar terjalinnya keharmonisan, kenyamanan, kecocokan dan kekeluargaan antar ciptaan-Nya. Allah SWT menjadikan rasa maḥabbah antara laki-laki dan perempuan agar bisa saling bersatu dan bersinergi dalam menghadapi berbagai rintangan kehidupan yang silih berganti secara bersama-sama.
Wahbah al-Zuḥailī berpendapat bahwa adakalanya seorang lelaki yang senang dan tertarik kepada seorang wanita, memberikan perhatian penuh kepadanya, menjaga dan mepertahankannya, semua itu karena adanya rasa cinta kasih dan rasa sayang karena adanya belas kasih terhadapnya karena adanya anak dan faktor-faktor lainnya.159
Penciptaan dan asal-usul manusia dari tanah, menjadikan pasangan hidup dari jenis yang satu, serta penguatan dan pengukuhan jalinan hubungan antar keduanya dengan cinta kasih dan rasa sayang adalah tanda bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT bagi orang yang memperhatikan, mencermati, merenungkan serta memikirkan
158Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 2, h.72.
159Wahbah Az-Zuḥaili, al-Tafsīr al-Munīr: Fi al-‟Aqidah wa al-Syarī‟ah wa al- Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Tafsīr Al-Munīr: Aqidah, Syari‟ah,& Manhaj, Jilid 11, h. 92.
sebab-sebab kehidupan. Wahbah al-Zuḥailī mengartikan (ا ْيُنُ ِل ك ْسَ
ت )
dengan damai, merasa senang, dan tentram bersama.160
Adapun penjelasan Quraish Shihab bahwa Ayat ini menguraikan tentang perkembangbiakan manusia serta bukti kekuasaan serta rahmat-Nya. Kata (جا َو ْزَ
أ) berarti “apa atau siapa yang menjadikan suatu yang tunggal menjadi dua dengan kehadirannya”, atau bisa diartikan pasangan, baik itu pria maupun wanita. Kata ( ْمُ
ك ِسفْنَ َ
أ)adalah bentuk jamak dari kata nafs yang berarti jenis atau diri, atau totalitas sesuatu. Adanya pernyataan bahwa pasangan manusia diciptakan dari jenisnya sendiri memberikan pesan bahwa Allah SWT tidak membolehkan manusia mengawini selain jenisnya. Untuk itu perkawinan antar lain jenis atau pelampiasan nafsu seksual dengan makhluk lain (selain manusia) tidak dibenarkan sama sekali oleh Allah SWT.161 Penegasan ini penting sebab ketenangan dan keterpautan hati tidak mungkin diperoleh dari jenis spesies yang berbeda.
Selain itu penggunaan kata anfus misal dalam QS. Al-Nisā‟ ayat 1, mengandung makna bahwa pasangan suami istri hendaknya menjadi diri yang satu, yakni menyatu dalam perasaan dan pemikirannya,
160Wahbah Al-Zuḥaili , al-Tafsīr al-Munīr: Fi al‟Aqīdah wa al-Syarī‟ah wa al- Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Tafsir Al-Munir: Aqidah, Syari‟ah,& Manhaj, Jilid 11, h. 92.
161M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 10, Cet-5, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), h. 186.
dalam gerak dan langkahnya dan dalam hal apapun itu. Itulah mengapa pernikahan dinamai juga zawaj (keberpasangan).162
Kata (ا ْيُنُ ك ْسَ
ت) yang berarti diam atau tenang. Itulah kemudian rumah dinamai sakan, sebab rumah adalah tempat untuk memperoleh ketenangan, setelah mungkin menghadapi berbagai kesibukan di luar rumah. Melalui pernikahan maka seseorang akan mendapatkan ketenangan batin. Allah SWT menciptakan naluri seksual dalam diri setiap makhluk-Nya. Maka dari itu rasa untuk menemukan lawan jenis akan terus timbul. Kegelisahan, kekacauan pikiran serta jiwa akan terus bergejolak sampai hal tersebut terpenuhi. Oleh karenanya, Allah SWT mensyariatkan pernikahan agar kekacauan serta jiwa yang bergejolak tersebut mereda dan tenang.163
Adapun Kata (ةَّدَي َم) mengandung arti cinta dan harapan. Cinta yang dimaksud di sini ialah cinta yang nampak dalam sikap dan perlakuan seseorang terhadap orang lain. Hampir sama dengan makna kata
(ث َمْح َر) hanya saja kata ini tertuju kepada yang dirahmati atau kepada
yang lemah.164 Ulama menjadi tahap rahmat pada pasangan suami
162M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 10, h. 186.
163M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 10, h. 181.
164M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 10, h. 58.
istri lahir bersamaan dengan hadirnya seorang anak dalam kehidupan mereka atau ketika mereka telah berusia lanjut.165
Dilihat dari penafsiran ketiga mufassir maka bisa dikatakan penafsiran dari ketiganya tidak jauh berbeda. Bila dikaitkan dengan childfree, maka ketiga mufassir memang tidak menyebutkan secara spesifik bahwa tujuan dari pernikahan ialah untuk memiliki anak.
Namun pernikahan adalah cara yang bisa ditempuh dalam hal perkembangbiakan keturunan. Dari penjelasan Ibnu Āsyūr yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan dasar dari proses reproduksi manusia yakni melalui pernikahan, memberikan kesan bahwa salah- satu konsekuensi dari pernikahan ini ialah akan adanya reproduksi atau pelestarian keturunan.
Sama halnya Wahbah al-Zuḥailī yang tidak secara langsung menyebutkan anak, namun dari penjelasan beliau pada makna kata litaskunu ilaiha yang dimaknai dengan merasa senang, maka dengan adanya anak-anak keturunan yang hadir dalam sebuah keluarga sangat memungkinkan menambah rasa senang dan menjadi pengikat yang kuat bagi sepasangan suami istri tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa kecintaan seorang laki-laki terhadap perempuan bisa disebabkan karena banyak faktor. Salah-satu diantaranya yang beliau sebutkan ialah karena adanya anak. Sementara dalam penafsiran Quraish Shihab dijelaskan bahwa tahap rahmah dalam suatu pernikahan itu hadir bersamaan dengan lahirnya anak.
165M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 10, h. 188.
2. Ayat terkait keberpasangan (QS. Al-Nisā’ [4]: 1, QS. Al-Nahl [16]: 72, dan QS. Al-Syūrā [42]: 11)
ا َى َج ْو َز ا َىْن ِم َق َ
ل َخ َّو ٍة َد ِحا َّو ٍس ْ
فَّن ْن ِ م ْم ُ ك ل َ َ
ل َخ ْي ِذ َّ
لا ُم ُ
كَّةَر ا ْي لَّحا ُساَّجلا اَىُّي ُ َ آٰي ِذ َّ
لا َ ّٰ
للّٰا اي ُ
لَّحا َو ۚ ًءۤا َسِن َّو ا ًدْيِر َ ك ا ً
لا َج ِر ا َمُىْنِم َّدَةَو ن ِا ۗ َما َح ْر َّ َ
ا ْ
لا َو ٖهِة ن ْي َ ُ ل َءۤا َس َ
ت ْي
اًتْي ِك َر ْم ُ كْح َ
لَع نا َ َ ك َ للّٰا ّٰ
“wahai manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam), dan Dia menciptakan darinya pasangan (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”. (QS. Al-Nisā‟ [4]: 1).
Ayat di atas menjelaskan terkait penciptaan manusia dan pasangannya yang kemudian berketurunan sehingga terjalinnya hubungan kekeluargaan antar sesama manusia. Firman-Nya ( ا َىْن ِم َقَ
ل َخ َّو
ا َى َج ْو َز) mencakup arti bahwa ciptaan-Nya yang berasal dari asal yang
satu, muncul berbagai bentuk dan karakteristik, serta keberkahan bagi laki-laki dan perempuan dengan diciptakannya pasangan bagi mereka.
Dari sini kita mengetahui bahwa manusia berasal dari sumber yang satu. Adapun kata Zawj digunakan untuk menunjukkan pria dan wanita yang saling terikat oleh akad nikah.166
Allah SWT menciptakan manusia sebagai bentuk peringatan akan kekuasaan-Nya dalam dalam menciptakan mereka dari jiwa yang satu.
Bahwa semua manusia adalah keturunan Ādam as. lalu Allah SWT
166Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 25, h. 217.
ciptakan darinya pasangan. Dari keduanya kemudian lahir anak keturunan yang banyak, laki-laki dan perempuan. Dari keturunan tersebut tercipta ikatan keluarga yang akan mendorong manusia untuk saling mengasihi dan tolong menolong. Penengasan serta pengingat akan kesamaan asal-usul manusia menunjukkan keharusan untuk saling menghormati, saling mengasihi, tolong menolong, menghilangkan kebencian, permusuhan dan terpecah belah.167
Wahbah al-Zuḥailī menjelaskan bahwa perempuan adalah bagian laki-laki dan perempuan diciptakan dari laki-laki. Laki-laki tertarik dan sayang kepada perempuan begitu juga sebaliknya. Baik posisi perempuan tersebut sebagai seorang ibu, saudara, istri atau anak. Hal inilah yang mendorong langgengnya ikatan keharmonisan antar laki- laki dan perempuan. Adanya jenis laki-laki dan perempuan ini adalah sebagai sumber keberlangsungan eksistensi manusia.168
Adapun Quraish Shihab mengatakan bahwa walau ayat ini menjelaskan terkait kesatuan dan persatuan manusia, namun pada hakekatnya ialah untuk menjelaskan asal-usul manusia yang berasal dari satu keturunan yang sama.169 Konteks ayat ini ialah untuk menjelaskan banyak dan berkembangbiaknya manusia dari seorang ayah dan ibu (Ādam as dan Hawa). Berbeda dengan Wahbah al- Zuḥailī yang menjelaskan bahwa perempuan adalah bagian dari laki- laki, sementara Thabāthabāi dalam penafsiran Quraish Shihab
167Wahbah Az-Zuḥaili, al-Tafsīr al-Munīr: Fi al-‟Aqidah wa al-Syarī‟ah wa al- Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Tafsīr Al-Munīr: Aqidah, Syari‟ah,& Manhaj, Jilid 2, h. 560.
168Wahbah Az-Zuḥaili, al-Tafsīr al-Munīr: Fi al-‟Aqidah wa al-Syarī‟ah wa al- Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Tafsīr Al-Munīr: Aqidah, Syari‟ah,& Manhaj, Jilid 2, h. 564.
169M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 2, h. 397.
menyatakan bahwa perempuan (istri Ādam as) diciptakan dari jenis yang sama seperti Ādam as. Dan sama sekali tidak mendukung pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tersebut diciptakan dari tulang rusuk Ādam as. adapun redaksi yang mengatakan bahwa pasangan Ādam as. diciptakan dari tulang rusuk Ādam as. bukan berarti kedudukan perempuan-perempuan itu lebih rendah dibanding lelaki.170
Penulis menggarisbawahi pada kata ( دَة)َّ yang mengandung makna menyebarluaskan dan membagi-bagi sesuatu yang banyak, Sama halnya Ibnu Ᾱsyūr mengartikan ayat ini dengan menyebarkan dan memisahkan banyak hal. Ini berarti bahwa anak-anak cucu yang lahir dan berkembang dengan menempati banyak tempat di muka bumi ini.
Ayat ini menginformasikan bahwa populasi manusia pada awalnya bersumber dari satu pasangan, kemudian dari satu pasangan tersebut lahirlah keturunan hingga menjadi sekian banyak pasangan yang akan terus bertambah jika tidak ada yang campur tangan untuk membendung pertumbuhan itu.171
Dengan diciptakannya manusia dari keturunan yang sama kemudian dari adanya keberpasangan antar laki-laki dan perempuan sehingga melahirkan anak sebagai pelengkap keluarga memberikan pesan bahwa dengan keberpasangan ini Allah SWT menganugerahkan keturunan yang akan terus bertambah dari masa ke masa. Namun jika kemudian muncul suatu misi berkeluarga yang tidak ingin memiliki
170M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 2, h. 400.
171M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 2, h. 401.
anak, lantas siapa yang akan melanjutkan generasi berikutnya. Sebab pernikahan adalah satu-satunya cara yang dibolehkan dalam agama islam untuk menghasilkan sebuah keturunan.
Ayat yang sejalan dengan keberlangsungn manusia ini terdapat dalam QS. Al-Nahl [16] ayat 72.
ًة َد َ
ف َخ َو َنْيِنَة ْم ُ
ك ِجا َو ْزَا ْنِ م ْم ُ ك َ
ل َ
ل َع َج َّو ا ًجا َو ْز َ ا ْم ُ
ك ِس فْن ُ َ ا ْن ِ م ْم ُ
ك َ ل َ
ل َع َج ُ للّٰا َو ّٰ
َ ن ْو ُر ف ُ ْ
كَي ْم ُو ِ ّٰ
للّٰا ِج َم ْعِنِة َو َ
ن ْيُج ِم ْؤُي ِل ِطاَب ْ لاِت ف َ َ
ا ِۗجٰتِ ي َّطلا َنِ م ْم ُ
ك ك َز َر َّو َ
“Allah menjadikan kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS.
Al-Nahl [16]: 72).
Ibnu āsyūr dalam penafsirannya menjelaskan bahwa proses penciptaan keturunan dijadikan berbarengan dengan kebahagiaan antara suami dan istri, dari keduanya kemudian diciptakan keturunan dan tidak menciptakan keturunan terbentuk hanya dari satu di antara keduanya (suami dan istri). Adanya pelestarian garis keturunan ini memberikan bukti atas kesendirian Allah SWT dalam keesaan-Nya.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam QS. Al-Rūm [30] ayat 21.172 Adanya pasangan yang diciptakan dari sesama jenis manusia ini merupakan suatu kenikmatan yang diberikan Allah SWT. Jika tidak demikian maka kebahagiaan dalam berpasangan tidak akan pernah dirasakan oleh manusia. Sama halnya dengan kesendirian seseorang yang tidak bisa juga merasakan kenikmatan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebab esensi kenikmatan yang dimaksud di sini hanya dapat
172Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 14, h. 217.
dirasakan dengan keberpasangan. Allah SWT menjadikan adanya anak-anak sebagai nikmat bagi manusia dan sepasangan suami istri.
Hal ini karena anak-anak tersebut adalah anak kandung mereka dan dapat dinisbahkan kepada suami, di mana penisbatan tersebut akan berlaku selamanya. Selain itu anak-anak bisa menjadi teman bagi orang tua dalam berkegiatan serta membantu mereka di masa tua nanti.173
Di antara nikmat agung Allah SWT ialah menciptakan untuk laki- laki istri-istri untuk mewujudkan suasana keharmonisan, kasih sayang, ketentraman serta menciptakan kemaslahatan-kemaslahatan.
Andai pasangan hidup diciptakan dari jenis yang lain maka niscaya tidak akan bisa terwujud cinta kasih dan sayang tersebut. Dari hasil keberpasangan ini kemudian Allah SWT menjadikan anak-anak dan cucu-cucu.174
Ibnu Āsyūr menjelaskan bahwa kata (ةدفحلا) merupakan jamak
dari kata (دفاح), kata ini asalnya bermakna bersegera dalam berkhidmah. Kemudian digunakan dan bermakna anaknya anak (cucu). Allah SWT memberi kenikmatan pada manusia dalam wujud adanya anak-anak dari pasangan masing-masing, dan adanya cucu yang dihasilkan dari anaknya tersebut bersama pasangannya, dengan ini maka terjagalah silsilah nasab dengan sistem yang indah.175 Adanya seorang cucu bagi manusia merupakan penambah keceriaan
173Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 14, h. 218.
174Wahbah Az-Zuḥaili, al-Tafsīr al-Munīr: Fi al-‟Aqidah wa al-Syarī‟ah wa al- Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Tafsīr Al-Munīr: Aqidah, Syari‟ah,& Manhaj, Jilid 7, h. 430.
175Muhammad al-Ṭāhir Ibnu Āsyūr, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Juz 14, h. 218.
dalam sebuah keluarga. Adapun makhluk lain seperti binatang, maka kenikmatan memiiki cucu dan anak tidak akan dirasakan.
Kemudian pada kalimat ( ِجٰتِ ي َّطلا َنِ م ْمُ كَ
ك َز َر َّو) di-„athaf-kan kepada
kalimat (ا ًجا َو ْزَ ا ْمُ
ك ِسفْنُ َ
ا ْن ِ م ْمُ كَ
ل َ
ل َع َج) bermakna bahwa Allah SWT
memberi rezeki berupa kesenangan dengan nikmat adanya anggota keluarga dalam hal ini ialah anak. Sebagaimana dalam firman-Nya QS. Āli-Imrān ayat 14:
َن ِم ِة َر َطْن ل ُم َ ْ
لا ِدْي ِطا َنَلْلاَو َنْيِنَب ْ
لا َو ِءۤا َسِ نلا َن ِم ِت ٰي َى َّشلا ُّب ُخ ِسا َّنلِل َنِ يُز ِةيٰيَح ْ
لا ُعاَت َم َكِل ٰذ ۗ ِثْرَح ْ
لا َو ِما َع ْنَاْلاَو ِثَمَّي َسُمْلا ِلْيَخ ْ
لا َو ِث َّض ِف ْ
لا َو ِب َو َّذلا ُ ّٰ
للّٰا َوۗ ا َيْن ُّدلا ِب ٰ
اَم ْ
لا ُن ْس ُخ حه َدْن ِع
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik”. (QS. Āli-Imrān [3]: 14).
Begitu juga dengan Quraish Shihab yang mengatakan bahwa ayat ini berbicara tentang rezki Allah kepada manusia dalam hal ini ialah pasangan hidup dan buah dari keberpasangan itu.176 Adapun Wahbah al-Zuḥailī menyebutkan lebih luas bahwa rezeki berupa makanan,
176M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟ān, Volume 6, h. 654.