• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Diskursus tentang Pernikahan dalam Islam

2. Tujuan Pernikahan

ٍل ْي ُس َرِل نا َ َ

ك ا َم َوۗ ًثَّيِ ر ُذَّو ا ًجاَوْزَا ْمُىَل اَنْل َع َجَو َكِلْتَك ْنِ م ا ًل ُس ُر اَنْل َس ْرَا ْدَلَلَو

ۗ ِ ّٰ

للّٰا ِن ْذِاِة اَّلِا ٍثَيٰاِة َيِت ْ أَّي ن ْ َ ٌباَخ ِك ٍل َجَا ِ ل ُ ا

كِل

“Sungguh Kami benar-benar telah mengutus para rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri- istri dan keturunan. Tidak mungkin bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada ketentuannya” (QS. Ar-Ra‟d [13]: 38).

Mahmud Yunus berpendapat bahwa tujuan dari adanya pernikahan ialah mengikuti perintah Allah SWT dalam memperoleh keturunan yang sah dengan mendirikan rumah tangga yang damai serta teratur.75 Sama halnya dengan Soemitaji yang mengatakan bahwa tujuan pernikahan ialah untuk memenuhi hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka menciptakan kehidupan keluarga bahagia atas dasar cinta dan kasih sayang, dan untuk memperoleh keturunan yang sah dengan mengikuti segala bentuk ketentuan yang telah diatur oleh syari‟ah.76

Adapun pendapat Imam Al-Gazāli dalam kitab Iḥyā‟ „Ulūmiddin, bahwa tujuan pernikahan diantaranya;77

a. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan b. Memenuhi hajat manusia

c. Menciptakan ketentraman dalam hidup dan berumah tangga d. Sebagai pengabdian diri kepada Allah SWT

e. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab serta menerima hak dan kewajiban

Dari pendapat diatas maka terlihat bahwa tujuan pernikahan dari para ahli tersebut sejalan antara satu sama lainnya dan tidak terdapat pertentangan di dalamnya. Allah SWT mensyari‟atkan pernikahan itu untuk mengatur manusia dengan tujuan mulia serta adanya manfaat

75Mahmud Yunus, Hukum Perkawanian dalam Islam, cet.15, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996), h.1.

76Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h.

27.

77Abu Hamid Al-Ghazāli, Iḥyā‟ „Ulūmiddin, Jilid 3, terj. Ibnu Ibrahim ba‟adillah, Ihyā‟ „Ulūmiddīn: Menghidupkan kembali ilmu-ilmu Agama, (Jakarta: Republika, 2011), h.

46.

yang besar. Allah SWT memerintah untuk memudahkan jalannya pernikahan sebab pernikahan adalah cara yang tepat untuk menghasilkan keturunan, sehingga tersebar luas penduduk bumi dengan keturunan yang benar. Berikut uraian lebih jelas terkait tujuan pernikahan.

a. Mendapatkan keturunan

Dari penjelasan di atas maka tak dipungkiri bahwa salah satu tujuan disyariatkannya pernikahan adalah untuk mendapatkan dan melangsungkan keturunan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa firman-Nya sebagai berikut:

َنْيِنَة ْم ُ

ك ِجا َو ْزَا ْنِ م ْم ُ ك َ

ل َ

ل َع َج َّو ا ًجا َو ْز َ ا ْم ُ

ك ِس فْن ُ َ ا ْن ِ م ْم ُ

ك َ ل َ

ل َع َج ُ للّٰا َو ّٰ

ْم ُو ِ ّٰ

للّٰا ِج َم ْعِنِة َو َ

ن ْيُج ِم ْؤُي ِل ِطاَب ْ لاِت ف َ َ

ا ِۗجٰتِ ي َّطلا َنِ م ْم ُ

ك ك َز َر َّو ًة َد َ ف َخ َو َ َ

ن ْو ُر ف ُ ْ كَي

"Allah menjadikan kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu- cucu, dan memberimu rezeki yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?." (QS. Al-Nahl ayat 72).

َ ا ْ

لا َو ِت ٰي ٰم َّسلا ُر ِطا ف َ ِما َعْنَاْلا َنِمَّو ا ًجاَوْزَا ْمُك ِسُفْن َ

ا ْن ِ م ْم ُ ك َ

ل َ

ل َع َج ۗ ِ ض ْر ُدْي ِصَت ْ

لا ُعْي ِم َّسلا َي ُوَوۚ ٌء ْي َش ٖهِلْر ِم َ ك َسْي َ

ل ِۗهْحِف ْم ُ كُؤ َر ْ

ذَي ۚا ًجا َو ْز َ ا

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembangbiak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Syūrā [42]: 11)

Begitu juga dengan hadis nabi yang menganjurkan seorang laki-laki untuk menikahi wanita yang subur sehingga bisa melahirkan banyak keturunan.78 Berikut hadis yang diriwayatkan oleh beberapa perawi terkait anjuran untuk menikahi wanita yang subur.79

ِوا َرْةِإ ُنْة ُدَمْح َ أ َ

ان َ ث َّد َح ُنْة ُمِلَخ ْس ُم ا َنَدَب ْخ َ

أ َ

ن ْو ُرا َو ُنْة ُدْي ِزَي َ ان َ

ث َّد َح َمْي

ْن َع ِنا َذاَز َنْةا ى ِنْعَي ٍرْي ُصْنَم ْنَع َناَذاَز ِنْةِرْي ُصْنَم ِج ْخ ُ

أ ُنْةا ِدْي ِع َس للّٰا ىلص ِ ى ِب َّ َّنلا ىَلِإ ٌ

ل ُج َر َءا َج َ لا َ

ك ٍرا َس َي ِنْة ِلِل ْعَم ْن َع َة َّرُك ِنْة َثَيِوا َعُم ملسو هحلع ُدِل َحَال اَىَّنِإَو ٍلاَمَجَو ٍب َس َخ َتاَذ ًة َ -

أ َر ْما ُجْب ْص َ أ ى ِ نِإ َ

لا ل َ ف َ

َ ال َ

لا ك ا َى ُج َّوَزَح َ َ أ ف َ َ

أ -

اي ُج َّوَزَح َ لا ل َ َ

ف َثَثِلا َّثلا ُهاَح َ

أ َّم ذ ُها َىَن ُ َ

ف ُث َيِن ا َّثلا ُهاَح َ أ َّم ذ ُ ا ل ُم ُ

كِة ٌرِذا َ

ك ُم ى ِ نِإَف َدي ُ

ل َيلا َدو ُد َيلا م َم ُ

أل

80

Ahmad bin Ibrahim menyampaikan kepada kami dari Yazid bin Harun, dari Mustalim bin Sa‟ai, anak saudara perempuan Mansur bin Zahzan, dari Mansur bin Zadzan yang mengabarkan dari muawiyah bin Qurrah, dari Ma‟qil bin Yasar bahwa seorang laki-laki datang menemuai Nabi SAW, dia berkata,” Aku bertemu dengan seorang perempuan yang mempunyai paras cantik dan keturunan yang bagus, tetapi tidak dapat melahirkan anak.

Apakah aku boleh menikahinya?”Beliau menjawab,” Tidak”.

Pada hari berikutnya laki-laki tersebut datanglagi dan menanyakan hal yang sama, beliau tetap melarangnya. Pada hari berikutnya laki-laki itu menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya, kemudian beliau bersabda,” Nikahila perempuan yang

78Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, terj. Lely Shofa Imama, dkk, h. 464.

79Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh perawi lainnya, diantaranya; an-Nasa‟i dalam Sunan an-Nasa‟i, Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, dan Ahmad dalam Musnad Ahmad.

80Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‟ats as-Sijistani al-Azdī, Sunan Abu Dawud, J ilid 2 (Mesir: Dar el Hadith, 1999), Kitāb an-Nikāḥ, Bāb an-Nahy‟an Tazwīj Man Lam Yalid min an-Nisā‟, h 875.

penyayang dan bisa melahirkan. Sebab, sesungguhnya aku ingin berbangga (terhadap Nabi lain) dalam jumlah umatnya (HR.

Abu Daud No.5065).

Hadis ini mengisahkan tentang seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan suatu hal. Laki-laki itu menyampaikan kepada rasulullah SAW bahwa dia menyukai seorang perempuan yang memiliki harta yang banyak lagi terhormat. Akan tetapi perempuan tersebut tidak bisa memberikannya keturunan. Nabi Muhammad kemudian melarang menikahi wanita tersebut yang mana sudah diketahui kemandulannya (tidak bisa memiliki keturunan). Selain itu dianjurkan pula menikahi seorang yang sama-sama mencintai sehingga berpotensi untuk memiliki banyak keturunan.81

Hadis ini oleh sebagian ulama dipahami sebagai perintah serta anjuran untuk menikah dan tidak melajang, juga menjadi syarat seseorang dalam memilih pasangan (wanita) agar kelak memiliki keturunan yang banyak.82 Disebutkannya keturunan yang banyak dalam hal hadis ini maksudnya ialah anak-anak yang banyak yang baik lagi berkualitas. Hadis tersebut memberi pesan bahwa reproduksi/ regenerasi itu memiliki tujuan penting agar dikemudian hari ummat islam menjadi umat yang banyak.83

Perlu diketahui bahwa memiliki anak adalah bukan sebuah kewajiban, sebab adanya anak yang hadir dari sepasangan suami

81Ach Farid, “Hadis Tentang Memperbanyak Keturunan (Kajian Living Hadis Riwayat Abū Dāwud No Indeks 2050 Di Dusun Batulabang Pamekasan)”, (Skripsi Sarjana, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, 2021), h.6.

82M. Irfan Farraz Haecal, Hidayatul Fikra, dan Wahyudin Darmalaksana, “Analisis Fenomena Childfree di Masyarakat: Studi Takhrij dan Syarah Hadis dengan Pendekatan Hukum Islam,” Jurnal Gunung Djati Conference Series, vol. 8, (2022). h. 229.

83Huzaemah Tahido Yanggo, Hukum Keluarga dalam Islam, (Palu: Yayasan Masyarakat Indonesia Baru, 2013), h. 170.

istri merupakan suatu anugerah dan amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Syūrā [42] ayat 49-50. Namun penolakan anak (childfree) dalam kehidupan berumah tangga ini terlihat bertentangan dengan fitrah manusia.84

b. Pemenuhan hajat manusia

Tidak dipungkiri bahwa salah-satu tujuan pernikahan ialah untuk memenuhi kebutuhan biologis (seksual) antara laki-laki dan perempuan.85 Dengan disyariatkannya perkawinan maka dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang kotor lagi keji.

Dengan pernikahan maka dapat membentengi manusia dari gangguan serta bisikan setan, menyalurkan nafsu syahwat di tempat yang benar dan memelihara kemaluan.86

Islam memandang pernikahan sebagai sarana yang tepat untuk memelihara ummat muslim dari kerusakan serta menjauhkan masyarakat dari kekacauan.87 Sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

ي ِن ذ َّد َح : َ َ

لا ك ، ُش َم ْع َ َ ألا اَن َ

ث َّد َح ،ي ِب َ أ اَن َ

ث َّد َح ، ٍص ف َخ ُنْة ُر َم ُع اَن ْ َ ث َّد َح ،ىًن ِمِة ُ

ناَمْر ُع ُهَي ِل َ ل ف ،ِ َ َّ

للّٰا ِدْت َع َعَم ُجْنُك : َلاَك ،َثَمَلْلَع ْن َع ،ُمي ِوا َرْةِإ ْ

ل َو : ناَمْر ُع ُ َ

لا ل َ ف ،ا َي َ َ

ل خ َ ف ًث َجا َح َكْح َ َ ل ِإ ي ِل َّ

نِإ ِن َمْح َّرلا ِدْت َع اَة َ أ اَي : َ

لا ل َ ف َ

84M. Irfan Farraz Haecal, Hidayatul Fikra, dan Wahyudin Darmalaksana, “Analisis Fenomena Childfree di Masyarakat: Studi Takhrij dan Syarah Hadis dengan Pendekatan Hukum Islam,” Jurnal Gunung Djati Conference Series, vol. 8, (2022). h. 229.

85Jawad Haifaa A, Otentisitas Hak-hak Perempuan: Perspektif Islam atas Kesetaraan Jender, (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2002), h. 105.

86Al-Ghazali, Iḥya‟ „Ulūmiddin, terj. Ibnu Ibrahim ba‟adillah, Ihyâ‟ „Ulūmiddīn:

Menghidupkan kembali ilmu-ilmu Agama, jilid 3, (Jakarta: Republika, 2011), h. 51.

87Purnomo dan Moch. Aziz Qoharuddin, “Maqosid Nikah Menurut Imam Al- Ghozali dalam Kitab Ihya‟ Ulumuddin “, El-Faqih: JurnalPemikiran dan Hukum Islam, Vol.

7 no.1 (April 2021), h. 112.

؟ ُد َى ْعَح َج ن ْ ُ

ك ا َم َك ُر ِ ك َ ذُح ،ا ًر ْ

كِة َك َج ِ و َزُن ْن َ

أ يِف ِن َمْح َّرلا ِدْت َع اَة َ أ اَي َك َ

ل اَي : َ

لا ل َ ف ، َّي َ َ ل ِإ َرا َش َ

أ ا َ ذ َو ى َ

ل ِإ ٌث َجا َح ُه َ ل َسْي َ

ل ن ْ َ أ ِ َّ

للّٰا ُد ْت َع ى َ أ َر اَّم َ

ل ف َ ُّي ِب َّنلا اَجَل َلاَك ْدَلَل ، َكِلَذ َجْلُك ْنِئَل اَم َ

أ : ُ

لي لَي َي ُو َو ِه ْح ُ َ

لِإ ُجْيَىَخْناَف ،ُثَمَلْلَع َةَءا َبلا ُم ُ

كْن ِم َعا َطَخ ْسا ِن َم ِباَت شلا َر َش ْع َم اَي :َم َّ َّ

ل َس َو ِهْح َ

لَع ُللّٰا ى َّ

ل َص

88

ٌءا َج ِو ُه َ ل ُهَّنِإ َ

ف ِم ْي َّصلاِة ِهْي َ ل َع َ

ف ْع ِطَخ ْس َي ْمَل ْنَمَو ، ْجَّوَذَتَيْلَف

Umar bin Hafsh menyampaikan kepada kami dari ayahnya, dari al-A'masy, dari Ibrahim bahwa Alqamah berkata, "Aku sedang bersama Abdullah ketika Utsman menemuinya di Mina. Utsman berkata, 'Wahai Abu Abdurrahman, aku ada perlu denganmu.

Lalu mereka berbicara empat mata. Utsman kemudian berkata, 'Wahai Abu Abdurrahman, maukah engkau menikahi seorang gadis yang akan mengingatkanmu dengan masa mudamu (saat engkau masih punya istri)?' Ternyata Abdullah tidak tertarik dengan tawaran itu, dia lalu menoleh kepadaku dan berkata, 'Wahai Alqamah!' Aku pun mendekatinya. Abdullah berkata, Jika engkau berkata demikian, maka sungguh Rasulullah telah bersabda"Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menentramkan pandangan dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya." 89 (HR.

Bukhari No. 5065).

c. Membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah Membentuk keluarga yang bahagia, tentram, dan penuh cinta serta kasih sayang, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Rūm [30] ayat 21.

88Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Jilid 3, (Mesir:

dar el-Hadith, 2004), Kitāb an-Nikāh, bāb al-targībi fī an-Nikāh, h. 359.

89Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ensiklopedia Hadis 2; Shahih Al-Bukhari 2, terj. Subhan Abdullah, dkk, (Jakarta: Almahira, 2012), h.327.

ْم ُ كَنْيَة َ

ل َع َج َو ا َىْي َ ل ِا آٖ ْيُن ُ

ك ْس َ

تِ ل ا ًجا َو ْز َ ا ْم ُ

ك ِس فْن ُ َ ا ْن ِ م ْم ُ

ك َ ل َق َ

ل َخ ن ْ َ ا ٖٖٓهِخٰي ٰ

ا ْن ِم َو

َ ن ْو ُر َّ

ك َ فَخَّي ٍم ْي َ

لِ ل ٍجٰي ٰ ا َ

ل َكِل ٰذ ْيِف َّ

ن ِاۗ ًثَمْح َرَّو ًةَّدَيَّم

"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Al-Rūm [30]: 21).

Adanya cinta dan kasih sayang diantara kedua pihak pada dasarnya tidak hanya sebatas pelayanan yang bersifat material dan biologis. Kebutuhan tersebut hanya sebagai sarana untuk mewujudkan kebutuan yang lebih mulia, yakni kebutuhan rohani dan keberkahan dari Allah SWT. Pernikahan memberikan rasa tentram pada qalbu dan pikiran. Qalbu yang tentram akan menguatkan manusia dalam beribadah kepada Allah SWT.90 d. Sebagai pengabdian diri dan peningkatan ibadah kepada Allah

SWT serta mengharap pahala atas kewajiban terhadap kebutuhan keluarga

Ada beberapa kewajiban yang akan didapatkan setelah menikah yang termasuk dalam bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Kewajiban tersebut di antaranya: memelihara keluarga, bersabar terhadap istri dan anak-anak, segala bentuk usaha yang dilakukan untuk kebahagiaan keluarga, menuntut anggota keluarga ke jalan yang lebih baik, mencari nafkah yang halal dan mendidik anak sesuai dengan ajaran yang diperintahkan oleh syari‟at islam.91

90Khoiruddin Nasution, Hukum Perkawinan 1, (Yogyakarta: Academia+Tazzafa, 2004), h.39.

91Al-Ghazali, Iḥya‟ „Ulūmiddin, terj. Ibnu Ibrahim ba‟adillah, Ihyâ‟ „Ulūmiddīn:

Menghidupkan kembali ilmu-ilmu Agama, jilid 3, (Jakarta: Republika, 2011), h. 56.