• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klasifikasi Batuan Sedimen

Dalam dokumen LAPORAN RESMI ROSALINDA SIAHAAN PLUG 14 (Halaman 64-75)

BAB III BATUAN SEDIMEN

III.5. Klasifikasi Batuan Sedimen

Klasifikasi Koesoemadinata (1980)

Gambar 3. 8. Golongan batuan sedimen menurut Koesoemadinata, 1980

Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dapat digolongkan menjadi enam yaitu: detritus kasar, detritus halus, karbonat, silika, evaporit, dan batubara.

a. Detritus Kasar

Detritus kasar adalah batuan sedimen yang diendapkan dengan proses mekanis. Yang termasuk kedalam golongan ini diantaranya: breksi, konglomerat dan batupasir.

b. Detritus Halus

Pada umumnya diendapkan dilingkungan laut, dari laut dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk ke dalam golongan ini antara lain batuserpih (shale), batulanau (siltstone), batulempung (claystone) dan napal.

c. Karbonat

Pada umumnya terbentuk dari sekumpulan cangkang moluska, algae, foraminifera atau lainnya yang bercangkang kapur. Jenis batuan ini banyak sekali, tergantung material penyusunnya.

d. Silika

Batu jenis ini tersebar hanya dalam junlah sedikit dan terbatas.

Golongan batuan ini merupakan gabungan antara proses organik dan kimiawi. Contoh batuan golongan ini adalah rijang (chert), radiolaria dan diatom (diatomea)

e. Evaporit

Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup dan syarat terjadinya batuan sedimen ini harus berada pada air yang memiliki kandungan larutan kimia yang cukup pekat. yang termasuk ke dalam golongan evaporit ini adalah gipsum, batu garam, anhydrit dan lain-lain.

f. Batubara

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik, seperti tumbuhan yang telah mati dan kemudian terkubur di dalam tanah oleh suatu lapisan yang tebal diatasnya sehingga tidak terjadi pelapukan. Lingkungan pengendapan batubara biasanya di lingkungan rawa, delta dan danau.

boratorium Petrologi

Universitas Pembangunan Nasional”Veteran”Yogyakarta

Klasifikasi Batuan Sedimen Silisiklastik Folk (1974)

Gambar 3. 9. Klasifikasi Folk (1974) untuk batuan sedimen silisiklastik gravel-bearing (kiri) dan gravel-free sediments (kanan)

Dasar klasifikasi pada batuan sedimen silisiklastik ini adalah dengan berdasarkan proporsi antara tiga konstituen utama pada batuan sedimen silisiklastik, antara lain: gravel (material berukuran lebih dari 2 mm), pasir (material berukuran antara 0.0625-2 mm) dan mud (material yang lebih halus dari 0.0625 mm, lanau+lempung).

Ketiganya diletakan kedalam diagram berbentuk segitiga yang dimana nantinya akan dilihat perbandingannya.

Ketiga sudut dari segitiga dikiri memiliki presentase masing- masing 100% dari gravel, pasir, maupun mud. Sehingga didapat 14 kelas tekstur. Untuk menentukan sampel yang diamati termasuk kedalam kelas yang mana, pertama tentukan presentase dari gravel.

Lima kategori pada segitiga dikiri menampilkan presentase gravel antara lain:

>80%, 30-80%, 5-30%, 0.01-5%, dan 0% gravel. Selanjutnya menentukan rasio perbandingan antara pasir dan mud. Empat kelas terletak pada bagian bagian terbawah diagram memiliki perbandingan pasir:mud antara lain: 9:1, 1:1, 1:9. Setelah itu didapat nama sampel.

Segitiga kanan tersusun oleh sedimen yang bebas dari krikil.

Terdiri atas pasir, lanau (0.0625-0.0039 mm), dan lempung (<0.0039 mm). Ketiga sudut diatas memiliki presentase masing-masing 100%

dari pasir, lanau, maupun lempung. Segitiga ini dibagi menjadi 10

kelas tekstur. Diagram ini merupakan perluasan dari tingkatan terbawah diagram sebelumnya. Langkah untuk penentuannya sama, yang berbeda

pada presentase pasir, antara lain: >90%, 50-90%, 10-50%, dan <10%

pasir.Selanjutnya menentukan rasio perbandingan antara lanau dengan lempung. Tig akelas terbawah memiliki perbaningan lanau:lempung, 2:1 dan 1:2.

Klasifikasi Batupasir Pettijhon (1987)

Klasifikasi dari Pettijohn mengklasifikan batuan sedimen khususnya batupasir berdasar pada komponen material penyusun serta mineraloginya. Fragmen penyusun utama pasir dalam klasifikasi ada tiga komponen yaitu kuarsa (Q), feldspar (k-feldspar dan plagioklas yaitu F) dan fragmen batuan (lithic fragment L).

Gambar 3. 10. Klasifikasi Batupasir menurut Pettihjon (1987)

Langkah pembacaan dengan cara memperhatikan presentase dari dua komponen yaitu fragment dan matriks.

1. Luasan segitiga pertama sampai kedua yaitu dimana terdapat kandungan matriks 0 – 15 % dinamakan arenit. Untuk klasifikasi selanjutnya, tergantung dari unsur utama penyusun batuan itu.

boratorium Petrologi

Universitas Pembangunan Nasional”Veteran”Yogyakarta

Cara pembacaannya:

boratorium Petrologi

Universitas Pembangunan Nasional”Veteran”Yogyakarta

 Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan atau litik maka namanya menjadi litarenit atau litik arenit,yaitu kandungan fragmen batuan sekitar 50 % dengan kuarsa sekitar 20 %.

 Jika batuan litik arenit tersebut banyak tercampur mineral kuarsa, maka namanya menjadi sublitik arenit.

 Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic arenite; yaitu kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 20 %.

 Jika batuan arkosic arenite tersebut banyak mengandung mineral kuarsa, maka namanya menjadi subarkose.

 Jika kandungan kuarsa sangat banyak (sekitar lebih dari 90

%), maka nama batuan itu disebut quartz arenit.

2. Luasan segitiga kedua sampai ketiga yakni terdapat kandungan matriks antara 15 % - 75, batuan yang terdapat di daerah tersebut dinamakan wacke. Pada pembacaannya sama dengan luasan segitiga pertama. Hanya saja komposisi dari matriks yang mempengaruhi dan penamaan nya memakai wacke.

3. Apabila matriks dari suatu batuan lebih dari 75% maka dapat disebut sebagai mudrock.

Pemerian Batuan Karbonat

Tabel 3. 5. Nama-nama Batuan Karbonat

Batuan Karbonat

Klastik Non Klastik

Dominasi Rombakan Karbonat

Dominasi Rombakan

Fosil

Pertumbuhan

Terumbu Kristalin

> 2 mm Kalsirudit

Batugamping Bioklastik

Batugamping Terumbu

Batugamping Kristalin 2-0.06 mm Kalkarenit

< 0.06 mm Kalsilutit

boratorium Petrologi

Universitas Pembangunan Nasional”Veteran”Yogyakarta

Klasifikasi Batuan Karbonat Folk (1962)

Gambar 3. 11. Klasifikasi batuan karbonat menurut Folk (1959)

Klasifikasi ini dibuat dengan terlebih dahulu menentukan kelimpahan allochem dengan mikrit + sparit. Selanjutnya dibuat berdasarkan kelimpahan relatif ketiga komposisi karbonat tersebut.

Klasifikasi ini menghasilkan nama bipartit yang mencerminkan jenis allochem utama dalam batu gamping dan kelimpahan relatif mikrit dan sparit. Misalnya, oosparit adalah batuan kaya-ooid yang tersementasi dengan semen kalsit yang mengandung sedikit mikrit, sedangkan oomikrit adalah batu gamping yang kaya-ooid di mana mikritnya berlimpah dan sparit yang lebih sedikit. Informasi tekstur tambahan dapat ditambahkan dengan menggunakan istilah textural maturity.

Dengan demikian, oomicrite yang dikemas menunjukkan batu gamping oolitik yang didukung oleh butir atau grain supported, dan oomicrite yang jarang adalah batuan oolitik yang didukung oleh lumpur atau mud supported.

Klasifikasi ini lebih menekankan kepada pendekatan deskriptif dan tidak mempertimbangkan masalah genetiknya. Dasar pembagiannya adalah kehadiran sparit dan mikrit. Selain itu klasifikasi ini juga melihat allochem dalam batuan yang diurut seperti intraklas, ooid, peloid, bioklast. Kehadiran sparit dan mikrit menjadi komposisi

utama dimana

jika sparitnya lebih besar daripada mikrit maka nama batuannya akan berakhiran sparit, demikian pula jika mikrit yang lebih dominan maka nama batuannya akan berakhiran mikrit. Awalan dalam penamaan batuan karbonat menurut Folk tergantung pada komposisi intraklas, jika intraklas di atas 25% maka nama batuannya menjadi intasparit atau intramikrit. Namun jika butiran ini tidak mencapai 25% maka butiran kedua menjadi pertimbangan yaitu ooid, sehingga batuan dapat berupa oosparit atau oomikrit. Pertimbangan lainnya adalah jika kandungan ooid kurang dari 25%, maka perbandingan pellet dan fosil menjadi penentu nama batuan. Terdapat tiga model perbandingan (fosil : pellet) yaitu 3:1, 1:3, dan antara 3:1 – 1:3. Jika fosil lebih besar atau 3 : 1 maka nama batuannya biosparit atau biomikrit demikian pula sebaliknya akan menjadi pelsparit atau pelmikrit. Jika perbandingan ini ada pada komposisi 3:1 – 1:3 maka menjadi biopelsparit atau biopelmikrit. Klasifikasi ini juga masih menganut paham Grabau dengan menambahkan akhiran rudit jika allochemnya mempunyai ukuran yang lebih besar dari 2 mm dengan prosentase lebih dari 10%.

Dengan demikian penamaan batuan karbonat menurut klasifikasi ini akan menjadi rudit.

Klasifikasi Batuan Karbonat Dunham (1962)

Gambar 3. 12. Klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962)

Klasifikasi Batuan Karbonat Embry dan Klovan (1971)

Gambar 3. 13. Klasifikasi batuan karbonat menurut Embry dan Klovan (1971)

boratorium Petrologi

Universitas Pembangunan Nasional”Veteran”Yogyakarta

Dalam dokumen LAPORAN RESMI ROSALINDA SIAHAAN PLUG 14 (Halaman 64-75)

Dokumen terkait